Disruptive Innovation dalam mengatasi sengkarut sampah di DKI Jakarta

Sampah merupakan permasalahan utama yang mendera dunia saat ini karena dapat berdampak besar terhadap kelangsungan ekosistem dan kondisi dunia dimasa depan.


4
4 points

Permasalahan Utama Kota Besar: Sampah (Critical Thinking)

Sampah merupakan permasalahan utama yang mendera dunia saat ini karena dapat berdampak besar terhadap kelangsungan ekosistem dan kondisi dunia dimasa depan. Semakin banyak penduduk dalam suatu wilayah, maka sampah yang dihasilkan akan semakin besar sehingga dibutuhkan ruang yang cukup besar dalam pengelolaan sampah, baik sampah organik maupun non organik. Sampah yang tidak diolah dengan baik dapat sangat membahayakan bagi lingkungan, maupun bagi kesehatan manusia. Berbagai bencana alam seperti halnya banjir, tanah longsor, bahkan berbagai penyakit pun dapat disebabkan oleh sampah yang menggunung hingga membusuk dan pada akhirnya, sampah tersebut akan mengendap dalam jangka waktu sangat lama dalam tanah dan baru dapat terdegredasi puluhan bahkan ratusan tahun mendatang.

Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2008, pengertian sampah merupakan sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat. Pengelolaan sampah dimaksudkan adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah(1)

Berdasarkan sifat fisika dan kimianya, sampah dibedakan menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan non-hayati, baik berupa produk sintetik maupun hasil proses teknologi pengolahan bahan tambang atau sumber daya alam dan tidak dapat diuraikan oleh alam, contohnya: botol plastik, tas plastik, kaleng. Sampah Organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah, dan daun (2).

 Berdasarkan bentuknya sampah dibedakan dalam beberapa hal (3)

a. Sampah padat

Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair dan dapat juga berupa sampah buangan hasil rumah tangga.

b.   Sampah cair

Sampah cair adalah bahan cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan kembali dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.

Berdasarkan kemampuan diurai oleh alam (biodegradability), maka dapat dibagi lagi menjadi(3)

1) Biodegradable

Sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi baik aerob (menggunakan udara/terbuka) atau anaerob (tidak menggunakan udara/tertutup), seperti sampah dapur, sisa sisa hewan, sampah pertanian dan perkebunan.

2). Non-biodegradable

Sampah yang tidak bisa diuraikan oleh proses biologi, yang dapat dibagi lagi menjadi:

(a) Recyclable

Sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali karena memiliki nilai secara ekonomi seperti plastik, kertas, pakaian dan lain-lain.

(b) Non-recyclable

Sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak dapat diolah atau diubah kembali seperti tetra packs(kemasan pengganti kaleng), carbon paper, thermo coal dan lain-lain.

Berdasarkan data dari World Bank yang dipublikasikan pada tahun 2018, terdapat korelasi positif antara jumlah pendapatan dengan jumlah sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga. Indonesia yang tergolong sebagai negara Lower-Middle Income mencatat angka rata-rata jumlah sampah per kapita yang dihasilkan pada tahun 2016 adalah sebesar 0,53. Kemudian pada tahun 2030, jumlah sampah per kapita yang dihasilkan di Indonesia akan meningkat menjadi 0,63. Jumlah sampah per kapita diproyeksikan akan terus meningkat sebanyak 0,16 poin pada tahun 2050 menjadi 0,79 per kapita.

Sumber: What A Waste 2.0, 2018, World Bank

Jauh hari sebelumnya, Indonesia telah merespon problematika sampah ini dengan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017. Diproyeksikan pada 2025, jumlah sampah yang dihasilkan Rumah Tangga dan Sejenis Sampah Rumah Tangga adalah sebesar 70,8 Juta Ton. Oleh karena itu, dalam pasal 2, pasal 5 dan Lampiran 1 Perpres Nomor 97 Tahun 2017, ditetapkan target pengurangan dan penanganan sampah rumah tangga (dalam juta ton) sampai dengan tahun 2025 sebagai berikut:

Sumber: Statistik Lingkungan Hidup Indonesia, 2018, BPS

Data estimasi produksi sampah per hari yang dibentuk oleh Dinas Kebersihan Kota Indonesia yang dirangkum oleh BPS, menunjukkan bahwa hampir seluruh kota di Indonesia belum 100% mengangkut sampah yang dihasilkan secara harian oleh masyarakat. 5 besar kota penghasil sampah di Indonesia adalah sebagai berikut:

Sumber: Statistik Lingkungan Hidup Indonesia, 2019, BPS, Hal.209. (diolah sendiri)

Jakarta sebagai kota kedua terbanyak dalam menghasilkan sampah, mengangkut sampahnya menuju ke TPST Bantargebang sebagai tempat pembuangan akhir sampah. Sementara itu pembuangan sampah di TPST Bantargebang meninggalkan polemik tersendiri, setiap harinya ada sekitar 6.500 hingga 7000 ton sampah dari DKI Jakarta yang menambah ketinggian di bukit Bantargebang(4).

Maka dari itu pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas Kebersihan Provinsi  DKI Jakarta berupaya untuk menangani permasalahan sampah tersebut dengan membangun alternatif fasilitas pengolahan sampah di dalam kota. Fasilitas pengolahan sebagaimana dimaksud yaitu Intermediate Treatment Facility (ITF)(5). ITF sendiri mampu mengolah sekitar 2.200 ton sampah setiap harinya atau lebih dari 25% volume sampah di Jakarta. Cara kerja teknologi ini adalah melalui proses incineration, sampah diolah dengan cara dibakar pada suhu tinggi, kemudian sampah-sampah tersebut dimasukkan kedalam sebuah ruang (chamber) dan diaduk agar panas yang diberikan merata secara keseluruhan. Suhu yang digunakan sangatlah tinggi, yakni sekitar 2.200 Fahrenheit atau kurang lebih 1.200 derajat Celcius. Sisa pembakaran menghasilkan fly ash dan bottom ash, debu hasil pembakaran diperkirakan berkisar 200 ton yang nantinya akan dibuang ke landfill khusus residu. Tentu saja jumlah tersebut sedikit dibandingkan dengan kurang lebih 2.000 ton sampah yang di musnahkan. Untuk gas pembakaran, ITF memiliki sistem pollution control sehingga gas tersebut aman dan tidak mencemari ketika lepas ke udara bebas. Salah satu fitur lain dari ITF ini adalah kemampuannya untuk menghasilkan listrik dari 2.200 ton sampah yang diolah setiap hari, fasilitas tersebut dapat menciptakan sekitar 35 megawatt listrik(6).Sesuai dengan Masterplan Pengelolaan Sampah Provinsi DKI Jakarta tahun 2012-2023, fasilitas tersebut akan dibangun di 4 lokasi berbeda di DKI Jakarta, antara lain di Sunter, Marunda, Cakung dan Duri Kosambi, sehingga apabila fasilitas ini dibangun, maka akan dapat mengurangi ketergantungan dengan TPST Bantargebang.

Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta

Kesenjangan Kemampuan Pengelolaan Sampah di DKI Jakarta (Analytical Thinking)

Berdasarkan data diatas setiap harinya DKI Jakarta menghasilkan sampah sebanyak 6.500 – 7.000 ton. Sedangkan kemampuan ITF untuk mengolah sampah di TPST Bantargebang untuk mengolah sampah hanya sebesar 2.200 ton/hari, sehingga setiap hari rata-rata masih ada 4.550 ton sampah yang tidak terolah per harinya yang jika tidak dikelola dengan baik maka akan dapat menyebabkan timbulnya masalah baru di lokasi tersebut, bahkan akan menyebabkan overload, sehinngga TPST Bantargebang akan over capacity sebelum fasilitas di Sunter, Marunda, Cakung dan Duri Kesambi selesai di bangun sesuai dengan roadmap MasterplanJika hal tersebut terjadi maka akan menimbulkan malapetaka dalam penanggulangan sampah di DKI Jakarta. 

Untuk membuat analisa secara sederhana, permasalahan pengelolaan sampah di TPST Bantargebang dapat dirumuskan sebagai berikut:

  • Hasil minimum sampah per hari = (A) 
  • Hasil maksimum sampah per hari = (B)
  • Ratarata supply sampah per hari = (Ẋ)  
  • Daya tampung olah sampah per hari = (C)
  • Rata-rata jumlah Sampah yang tidak terolah = (α)

Berdasarkan analisa sederhana tersebut maka dapat disimpulkan bahwa terdapat permasalahan dalam pengelolaan sampah di DKI Jakarta, permasalahan tersebut adalah adanya GAP antara rata-rata supply sampah yang masuk ke TPST Bantargebang dengan kemampuan pengelolaan sampah yang dilakukan pada fasilitas ITF TPST Bantargebang.

Untuk meminimalisir GAP tersebut maka dibutuhkan Upaya pengelolaan (management) sampah yang baik, sehingga diharapkan dapat mengurangi GAP antara Supply sampah yang masuk ke TPST Bantargebang dengan kemampuan pengelolaan sampah yang dilakukan pada ITF, Berdasarkan data di atas upaya yang dapat dilakukan adalah dengan cara :

  1. Mengelola/ maintain supply sampah yang masuk ke Bantargebang sehingga jumlah sampah yang masuk dapat dikurangi.
  2. Meningkatkan kapasitas produksi yang ada di ITF Bantargebang dan percepatan realisasi masterplan Pembangunan Fasilitas ITF di 4 Lokasi di DKI Jakarta, sehingga dapat mengimbangi supply sampah yang masuk, sehingga diharapkan tidak ada gap sampah yang menumpuk

Dari 2 upaya tersebut diatas maka dilakukan pemodelan analisis yang diharapkan paling efektif untuk dapat mengurangi permasalahan sampah di DKI Jakarta dengan menggunakan analisis SWOT. Sebagai berikut:


Maintaining Supply

Strengths

Weaknesses

1. Biaya lebih murah

1. Tidak bisa dilaksanakan sendiri, butuh multistakeholder

2. Sosialisasi tidak terlalu memberikan dampak

Opportunities

Threats

1.Kecenderungan masyarakat menjadi ramah lingkungan

1. Produksi Sampah cenderung meningkat seiring dengan peningkatan Pendapatan per Kapita

2. Bisa menjadi ajang CSR Perusahaan

3. Perbaikan Prilaku masyarakat

Peningkatan Kapasitas Produksi ITF

Strengths

Weaknesses

1. Permasalahan Lebih cepat ditangani

1. Butuh Biaya Besar untuk pengadaan fasilitas ITF(budget constraints)

Opportunities

Threats

1. Pengelolaan lebih modern

1. Penambahan Anggaran Pengadaan belum tentu disetujui oleh stake holder

Berdasarkan hasil analisis tersebut maka upaya yang sebaiknya dilakukan oleh manajemen pengelola di TPST Bantargebang dalam waktu yang dapat dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat adalah dengan mengupayakan untuk mengelola dan maintaining supply sampah yang masuk ke TPST Bantargebang. Selain itu, Maintaining Supply dianggap lebih murah dalam pelaksanaannya karena pengelolaan TPST Bantargebang berdasarkan APBD yang terbatas bukan sebagai lembaga profit. Sehingga proses pengadaan akan memakan waktu yang lama dan akan sulit untuk dilaksanakan. 

Kondisi budaya masyarakat yang mulai sadar dan sensitive atas isu lingkungan juga dapat dikelola untuk membantu mengendalikan masalah sampah, sehingga diharapkan melalui hal tersebut akan secara alami menurunkan jumlah supply sampah yang diproduksi oleh DKI Jakarta. Hal berikutnya yang juga bisa menjadi peluang adalah dengan mengalihkan (outsource) sebagian supply sampah melalui program CSR Perusahaan/entitas lain,sehingga akan mengurangi biaya pengelolaan sampah oleh Pemerintah DKI Jakarta diharapkan akan membantu menurunkan supply sampah yang masuk ke TPST Bantargebang.

Program lainnya yang telah digalakkan dalam upaya membantu pengurangan jumlah sampah antara lain menggandeng industry kreatif yang mengubah sampah menjadi  barang yang bernilai, kampanye zero waste; implementasi gaya hidup masyarakat tanpa sampah serta substitusi sampah terhadap komposisi  suatu produk. Untuk mendukung program diatas, menurutketentuan UU nomor 18 tahun 2008 yang harus diterapkan sistem pemilahan sampah berdasarkan prinsip klasifikasi yang kita kenal dengan 3R yaitu mengurangi timbunan sampah (reduce), menggunakan kembali sampah  (reuse), mendaur ulang kembali (recycle). Penerapan ini cukup efektif membantu pemerintah dalam menurunkan persentase pengurangan sampah 1.7 persen dari total sampah nasional.

Sayangnya,nkontribusi masyarakat terhadap implementasi ini masih dinilai rendah sehingga mengakibatkan penumpukan sampah yang terus-menerus. Melalui instruksi gubernur Nomor 157 tahun 2016 mengenai penerapan bank sampah dalam upaya mereduksi peningkatan jumlah sampah, bersamadengan masyarakat setempat sehingga DKI Jakarta mampu memiliki bank sampah mencapai 1600 titik. Semua program  yang diupayakan pemerintah untuk menanggulangi penumpukan sampah telah dilakukan semaksimal mungkin, namun tingkat efektif dalam menjalankan program ini masih dipertanyakan  baik dari sisi kemudahan akses, mobilitas maupun fleksibilitas. Segala program telah diupayakan dengan semaksimal mungkin, namun  pondasi terpenting suatu keberhasilan program adalah kesadaran masyarakat yang  dimulai dengan membuang sampah pada tempatnya. 

Menggandeng Platform Online Untuk Menciptakan Disruptive (Problem Solving)

Salah satu cara untuk mengurangi pasokan sampah ke TPST Bantargebang adalah dengan cara kampanye untuk mendorong masyarakat sehingga mulai aktif memilah sampah rumah tangga mereka sendiri baik itu sampah yang organic maupun non-organic di Rumah. Beberapa pemerintah kota sudah mulai aktif menggalakkan program Bank Sampah namun saat ini dari total 1600 Bank sampah di Jakarta masih belum ideal untuk mencover jumlah rukun warga yang ada di Jakarta sebanyak 2.700 RW(7)

Hal berikutnya yang dapat dilakukan adalah dengan menciptakan disruptive innovation dalam pengelolaan sampah yaitu dengan mengalihkan pengelolaan sampah dengan pemodelan penggabungan platform online, yaitu dengan cara menggunakan kerjasama dengan jasa transportasi online yang memiliki jaringan mitra yang sangat luas. Dengan adanya program “GO TRASH” ini diharpakan dapat menjangkau 2.700RW yang ada di Jakarta. 

Platform transportasi online diharapkan dapat bekerja sama dengan Pemerintah DKI Jakarta tentunya dengan win-win program, dimana nantinya entitas tersebut akan mengangkut sampah yang masih memiliki nilai ekonomis seperti botol plastik dan sampah-sampah non-organik rumah tangga maupun industri lainnya dalam skala yang lebih besar untuk mereka kelola sehingga menciptakan nilai ekonomis yang menguntungkan bagi mereka.

Ilustrasi aplikasi Go Trash

Sebagai best practice ide ini sudah dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung dengan melakukan penandatanganan MOU dengan GRAB pada Desember 2018. Diharapkan melalui program “GO TRASH” ini seluruh masyarakat di DKI Jakarta akan lebih peduli untuk memilah sampah rumah tangganya. Sebagai insentif bagi warga pengguna aplikasi diharapkan entitas platform online juga memberikan margin reward kepada pengguna berupa cashback atau voucher, point dan lain sebagainya sehingga akan meningkatkan tingkat partisipasi dari masyarakat. 

Pihak Platform transportasi online tentu juga diharapkan dapat menutup biaya operasional mitranya dari pengelolaan sampah-sampah yang bernilai ekonomis dan dapat didaurulang dengan cara tersendiri, selain itu Pemerintah DKI Jakarta juga diharapkan dapat memberi dorongan dan bantuan kepada platform transportasi online tersebut dalam memasarkan dan menggunakan hasil pengelolaan sampah mereka. Pemerintah DKI Jakarta juga sebaiknya perlu membantu mempermudah perijinan dan permodalah platform tersebut sehingga dapat memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. 

Dengan menggandeng Platform transportasi online diharapkan permasalahan over supply sampah yang masuk ke TPST Bantargebang dapat diminimalisir karena menciptakan disruptive innovation yang akhirnya ikut mendorong masyarakat untuk merubah cara pengelolaan sampah dari manual menjadi online, Sedangkan pihak pemerintah DKI Jakarta tentunya dilain sisi juga akan dapat menekan biaya pengelolaan sampah dan para stakeholder yang terpengaruh secara negative akibat permasalahan sampah DKI Jakarta dapat dikurangi, selain itu juga kita tidak lagi melihat truk-truk sampah mengantri di pagi hari. At the end of the day, everyone will be happy.

DAFTAR PUSTAKA

(1) UU NO 18. 2008. https://www.bphn.go.id/data/documents/08uu018.pdf. Diakses pada 13 Agustus 2019. 

(2) Marliani. 2014. Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga (Sampah Anorganik) Sebagai Bentuk Implementasi Dari Pendidikan Lingkungan Hidup. Jurnal Formatif. 4(2): 124-132. 

(3) Hidayat, M. A. 2015. Rancang Bangun Mesin Pencacah Sampah Organik (Perawatan Dan Perbaikan). Laporan Akhir. Politeknik Negeri Sriwijaya, Surabaya. 

(4).https://kumparan.com/@kumparannews/pengelolaan-sampah-di-5-kota-besar-indonesia-1r6MzAPgXWx

(5)https://upst.dlh.jakarta.go.id/itf/index

(6)https://kumparan.com/jakarta-smart-city/efisien-mengolah-sampah-dengan-intermediate-treatment-facility-itf-1540519566294776990

(7).https://megapolitan.kompas.com/read/2019/07/31/05150001/ramai-reaksi-risma-soal-sampah-jakarta-bagaimana-sampah-dki-dan-surabaya?page=all.

(8).https://www.greeners.co/berita/pengelolaan-sampah-dki-jakarta-terapkan-program-satu-rw-satu-bank-sampah/

(9).https://www.republika.co.id/berita/nasional/lingkungan-hidup-dan-hutan/18/04/13/p74f88423-indonesia-kenalkan-bank-sampah-ke-dunia-internasional

(10).https://m.merdeka.com/peristiwa/pemkot-bekasi-ingin-buang-sampah-ke-bantargebang.html

CONTRIBUTOR :

TOGA PERDANA; CHITRA ANNISA RAHMANINGTYAS; FADEL KHALIF MUHAMMAD; ADITYA JOKO PAMBAYUN; BRIGITTA TITA GILDANIA; VELLA WANI NUZHA; RIZZA DWI NUSITA


Like it? Share with your friends!

4
4 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
4
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
4
Win
Goaldigger

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format