Pentingnya Etika dalam Solusi Animal Testing

Etika didalam penggunaan hewan di dalam percobaan di laboratorium adalah hal yang harus diperhatikan oleh semua pihak


2
2 points

Banyak pro dan kontra yang terjadi mengenai uji coba terhadap hewan dalam riset untuk pengembangan produk kosmetik maupun obat-obatan. Ada pihak yang tidak setuju sehingga mereka mengeluarkan produk dengan tagline: “no animal testing”, dan ada juga yang masih menggunakan animal testing pada praktek penelitiannya. Menurut peta.org, ada beberapa perusahaan kosmetik internasional yang masih menggunakan pengetesan produk kepada hewan untuk beberapa produk kosmetik-nya. Beberapa brand diantaranya seperti Avon, Benefit, Clinique, Estee Lauder, Makeup Forever, Maybelline, OPI dan Victoria’s Secret yang sudah tidak asing bagi pengguna kosmetik.

Masih digunakannya metode animal testing saat ini bukanlah karena tanpa adanya alasan yang jelas. Ada beberapa pertimbangan yang membuat para peneliti tetap menggunakan metode pengetesan pada hewan. Menurut Dr. Diah Iskandriati selaku peneliti senior dan biosafety officer di Pusat Studi Satwa Primata-Institut Pertanian Bogor (PSSP-IPB), penelitian dengan tes pada hewan masih sangat perlu dan juga penting untuk digunakan untuk sebagian besar produk vaksin dan pengobatan. Hewan yang digunakan juga tidak sembarangan dipilih namun harus memiliki kemiripan dengan manusia, contoh dalam immune system yang mirip atau menyerupai manusia dan tidak bisa digantikan dengan alternatif lain. Contoh beberapa vaksin yang dicari dengan menggunakan metode penelitian pada hewan adalah vaksin untuk AIDS, malaria, demam berdarah dan lain-lain. 

Prosedur dalam melakukan pengetesan produk kosmetik maupun produk obat kesehatan pada hewan tidaklah dilakukan dengan sembarangan tanpa adanya aturan yang jelas. Namun melalui kaidah yang telah ada dalam pengambilan keputusan sehingga dapat melakukan pengetesan kepada hewan. Para peneliti juga memiliki etika saat melakukan pengujian pada hewan percobaan, yang disebut Etika Penelitian Eksperimental Dengan Hewan Percobaan. Menurut Santoso (2011), sejak tahun 1980, ada konsep 3R yang digunakan, yaitu Replacement, Reduction, Refinement. Konsep ini memaparkan kerangka kerja dan pembenaran etika dalam menggunakan hewan sebagai objek eksperimen untuk kebutuhan penelitian.

Dalam dunia bisnis penggunaan hewan sebagai objek uji coba produk merupakan hal yang sudah dilakukan sejak lama, praktek ini digunakan demi mengembangkan produk-produk baik produk yang berkaitan dengan kosmetik maupun produk yang berkaitan dengan obat-obatan. Manfaat dari animal testing bagi perusahaan maupun institusi yaitu sebagai sarana untuk mencoba dan menyempurnakan produk yang dibuat agar nantinya meminimalisir efek-efek yang tidak diinginkan. Meskipun dalam prakteknya mereka dituntut untuk mematuhi kode etik yang ada. Kode Etik Bisnis sendiri merupakan prinsip-prinsip dan standar yang digunakan perusahaan untuk menentukan benar dan salah dalam melakukan bisnis (Ferrell, Hirt, dan Ferrell, 2016:36). Sudut pandang Etika Bisnis sendiri antar individu maupun perusahaan bisa sangat berbeda-beda, maka dari itu perlu adanya penyamaan sudut pandang etika di dalam sebuah perusahaan maupun etika bisnis yang nantinya akan memberikan banyak manfaat positif dari pada negatif.

Pada kasus uji coba hewan sebagai sarana penelitian tentu saja menjadi pro-kontra bagi tiap individu. Namun jika dilihat sisi positifnya uji coba pada hewan membantu para peneliti dan perusahaan dalam mengembangkan produknya jauh sebelum produk itu diedarkan dan dikonsumsi oleh para konsumen. Harapannya dengan mengorbankan jumlah yang sedikit akan memberikan kebaikan ataupun manfaat yang lebih luas bagi seluruh manusia di masa yang akan datang. Penggunaan hewan sebagai objek penelitian di Indonesia sendiri sudah diatur dalam undang-undang. Sehingga penggunaan hewan sebagai objek penelitian merupakan kegiatan yang tidak melawan hukum asalkan mengikuti peraturan yang berlaku baik secara Nasional maupun Internasional.

Sudut pandang ini mungkin terkesan kuno dan tidak membuka diri dengan metode-metode alternatif yang ada seperti metode Kultur Sel, Simulasi Komputer, maupun percobaan langsung pada manusia. Akan tetapi ketika akan menggunakan alternatif baru biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit, selain itu juga akan membutuhkan biaya lebih. Penggunaan metode alternatif juga tidak selalu akurat dan bisa diterapkan di setiap percobaan produk. Adapun kekurangan dari metode kultur sel adalah besarnya biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk menggunakan metode tersebut, dengan menggunakan metode kultur sel tersebut biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan tingkat akurasi keberhasilannya. Sehingga metode ini cenderung tidak menguntungkan. Sedangkan metode Simulasi Komputer mempunyai kelebihan biaya yang murah akan tetapi memiliki tingkat akurasi yang sangat kecil serta tidak semua vaksin atau obat bisa disimulasikan. Metode menggunakan percobaan langsung pada manusia juga dinilai tidak sesuai karena percobaan pada manusia melanggar hak asasi manusia serta dalam pengumpulan sampel tidaklah mudah. Metode ini justru membutuhkan banyak sampel yang terlibat serta resiko korban apabila percobaan yang dilakukan tidak sesuai yang diharapkan.

Penggunaan hewan untuk uji coba kosmetik pada dasarnya diperbolehkan asal dengan aturan yang berlaku akan tetapi seperti yang dikemukakan oleh William Russel dan Reax Burch pada tahun 1958 yaitu himbauan untuk 3Rs ‘Reduction, Replacement, and Refinement’. Reduction mengurangi jumlah hewan yang digunakan secara langsung dalam uji coba dan mengkolaborasikan dengan teknologi yang sudah ada, Replacement  yaitu mengganti hewan menjadi teknologi atau hal yang lain dalam hal ini untuk kasus kasus tertentu. Refinement yaitu penggunaan teknologi in vivo untuk mengurangi rasa sakit dan rasa stress pada hewan yang digunakan untuk uji coba. Adapun menurut Clark  kata reduction dalam hal ini lebih relevan apabila diganti dengan kata reproduceable atau dapat digunakan kembali.

Dalam hal ini penggunaan hewan untuk uji coba tidak menjadi masalah karena beberapa hewan seperti simpanse contohnya memiliki 99% DNA yang sama dengan manusia dan juga pada organ vital seperti Jantung, ginjal, Paru-Paru dan organ esensial lain nya memiliki kesamaan dengan manusia. Begitupun dengan tikus yang memiliki kesamaan DNA dengan manusia hingga 98% sehingga berdampak langsung dengan hasil akurasi penelitian apabila digunakan oleh manusia. Tikus digunakan selain memiliki kemiripan DNA reproduksi tikus juga sangat tinggi dan di beberapa negara tikus dianggap sebagai hama oleh manusia sehingga dinilai dapat memberikan manfaat apabila digunakan untuk uji coba obat atau kosmetik.

Walaupun animal testing tetap digunakan untuk kepentingan manusia seperti yang disebutkan di awal seperti vaksin untuk AIDS, malaria, demam berdarah, dan lainnya. Tapi tetaplah harus ada dasar hukum atau undang-undang yang mengatur batasan untuk penggunaan hewan sebagai bahan percobaan. Penggunaan hewan coba memang merupakan sebuah dilema, di satu sisi ketika praktik ini ditiadakan maka akan menghambat proses pengetahuan tentang penyakit dan kesehatan. Namun di sisi lain, praktik ini berseberangan dengan nilai moral manusia. Maka dari itu, dibutuhkan panduan yang tepat dalam melaksanakan animal testing.  Langkah awal adalah dengan memastikan jika penggunaan hewan coba semata-mata hanya untuk penelitian. Selanjutnya, hewan coba yang digunakan juga harus diperlakukan secara manusiawi. 

Apabila sebuah perusahaan akan melakukan uji coba (animal testing), perusahaan tersebut juga harus mengikuti peraturan perundangan-undangan nasional dan internasional terkait penggunaan hewan coba. Untuk internasional terdapat Deklarasi Helsinki “Ethical Principles for Medical Research Involving Human Subjects” butir 11 dan 12. Sedangkan di Indonesia, dasar hukum atau undang-undang yang mengatur tentang kesejahteraan hewan ditulis dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Pasal 66 Ayat (1) disebutkan bahwa hewan pun juga harus mendapatkan kesejahteraan yang berkaitan dengan penangkapan dan penangan; penempatan dan pengandangan; pemeliharaan dan perawatan; pengangkutan; pemotongan dan pembunuhan; dan perlakuan terhadap hewan yang harus dihindari dari tindakan penganiayaan dan penyalahgunaan. Hal tersebut disebutkan di Pasal 66 Ayat (3) bahwa ketentuan yang berkaitan dengan penyelenggaraan kesejahteraan hewan diberlakukan bagi semua jenis hewan bertulang belakang dan sebagian dari hewan yang tidak bertulang belakang yang dapat merasa sakit.

Selain berpedoman pada peraturan perundang-undangan, penelitian juga harus mematuhi prinsip dasar etik penggunaan hewan coba dalam penelitian. Seperti menaati tiga pilar prinsip etik penelitian seperti respect for animal, beneficence, dan justice. Kemudian juga menggunakan konsep 3Rs yaitu replacement atau mengganti hewan dengan organ atau jaringan yang diperoleh dari rumah potong hewan atau mengganti dengan hewan yang lebih rendah ordonya atau mengganti hewan dengan kultur/jaringan atau dengan program komputer. Selanjutnya reduction yang berarti mengurangi penggunaan hewan coba dengan tetap memberikan hasil yang valid/sah dan refinement adalah dengan mengurangi stress atau rasa nyeri dengan prosedur yang benar dan orang yang terlatih, serta bila memungkinkan menggunakan metode non invasif. Ditambah dengan  pemenuhan prinsip 5F (Freedom) yang dikemukakan pada 1979 oleh Farm Animal Welfare Council di Inggris untuk menjamin kesejahteraan hidup hewan coba (animal welfare). Lima prinsip tersebut  yaitu bebas dari rasa haus, lapar dan malnutrisi; bebas dari ketidaknyamanan; bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit; bebas untuk mengekspresikan perilaku normal; dan bebas dari rasa takut dan stress.

Di sisi lain, penelitian juga harus mengikuti pedoman ARRIVE (Animals in Research: Reporting In Vivo Experiments). Pada dasarnya, pedoman ini merupakan sebuah laporan terkait hewan coba yang akan digunakan. Dalam jurnal Prinsip 3Rs dan Pedoman ARRIVE pada Studi Hewan Coba menyatakan bahwa pedoman ARRIVE terdiri atas 20 poin yang meliputi informasi esensial bagi publikasi studi yang melibatkan hewan coba. Pedoman tersebut dikembangkan untuk meningkatkan standar pelaporan dan memastikan bahwa data dari hewan percobaan dapat sepenuhnya dievaluasi dan dimanfaatkan (Yurista, Ferdian, dan Sargowo, 2016:158). Sebagai contoh jika peneliti ingin menggunakan hewan untuk bahan percobaan ada baiknya mengajukan proposal dulu kepada pihak-pihak yang terkait untuk menyetujui penelitian tersebut menggunakan hewan sebagai bahan percobaan penelitian. Oleh karena itu dengan adanya proposal tersebut maka sang peneliti dan pihak yang terkait harus siap dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi jika memang harus menggunakan hewan sebagai bahan percobaan di laboratorium untuk mengembangkan produk. 

Bisa dilihat dari prinsip dasar etik dan peraturan perundang-undangan kesehatan hewan bahwa perusahaan atau organisasi dapat menggunakan hewan coba sebagai bahan percobaan laboratorium. Namun dalam pelaksanaanya hewan coba harus mendapatkan kesejahteraannya. Melalui berbagai aturan dan pedoman yang telah diusahakan oleh pemerintah yang bekerja sama dengan para peneliti terkait kesejahteraan hewan sepertinya kurang tanpa partisipasi masyarakat umum. Untuk meningkatkan kesadaran kesejahteraan hewan, perusahaan terkait dapat mengedukasi masyarakat atau karyawannya melalui seminar atau workshop terkait animal welfare dan animal ethics. 

Daftar Pustaka

FBR ( Foundation for Biomedical Research  ) 2016. Mice and rats : the essential needs for animals in medical research. Diakses dari https://fbresearch.org/wp-content/uploads/2016/04/Mice-Rats-In-Biomedical-Research-FBR.pdf pada tanggal 22 agustus 2019

“Laman Resmi PETA” https://www.peta.org/living/personal-care-fashion/beauty-brands-that-you-thought-were-cruelty-free-but-arent/. Diakses pada 20 Agustus 2019

Listyorini, Dwi. 2001. Kultur Jaringan Hewan. Malang: FMIPA UM.

Should animal be used for scientific or commercial testing ? diakses dari  https://animal-testing.procon.org  pada tanggal 22 Agustus 2019   

Noorputeri. 21 Maret 2018. “Mengapa Uji Coba Obat-Obatan Dilakukan pada Hewan?”

https://kumparan.com/@kumparansains/mengapa-uji-coba-obat-obatan-dilakukan-pada-hewan. Diakses pada 20 Agustus 2019

Santoso, I. E. (2011)  Buku Ajar Etika Penelitian Kesehatan. Malang: UB Press

http://ditjennak.pertanian.go.id/userfiles/regulasi/85453cb4e07dc5422595300f5d9a890f.pdf. Diakses pada 20 Agustus 2019. DITJEN PKH. “UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2009 TENTANG PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN”

Ardana, Ida Bagus K. 15 Januari 2016. Etika Menggunakan Hewan Percobaan dalam Penelitian Kesehatan. Dalam makalah Pelatihan Etika Dasar Penelitian di RS Sanglah Denpasar. 

Ferrell, Hirt, dan Ferrell. 2018. Business Foundation  A Changing World, New York: McGraw-Hill Education.                  

Yurista, Salva Reverentia, Rafi A. Ferdian, dan Djanggan Sargowo. 2016. Prinsip 3Rs dan Pedoman ARRIVE pada Studi Hewan Coba. Dalan jurnal Kardiologi Indonesia, 37(3), 156-163.

Kontributor: Briyan Reynaldo D. I., Hafiz Syahreva A., Ivana Elysia S., Kartika Natasha, Maulana Rizky N., Muhammad Ali Rois, Richard Chandra C.



Like it? Share with your friends!

2
2 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
1
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format