Uji Coba Kosmetik Pada Hewan: Etis? Bagi Siapa?


2
2 points

Perusahaan yang beretika itu seharusnya tidak mengorbankan makhluk hidup untuk keperluan bisnisnya. Lagi pula pilihan alternatifnya pun sudah ada. Jadi tidak ada alasan untuk menggunakan hewan lagi.” Ratu Maulia Ommaya – The Body Shop Indonesia[1]

sumber: Pixabay, Pexels.com

PETA memperkirakan bahwa sekitar 100 juta hewan mati oleh pengujian kosmetik dan obat-obatan setiap tahunnya.[2] Jumlah ini tidak terbatas pada spesies tertentu. Dari anjing, kucing, kelinci, ikan, tikus, monyet dan hewan-hewan lainnya harus mengalami pengujian senyawa tertentu yang seringnya berujung dengan kematian. Pengujian yang dilakukan di berbagai laboratorium ini melibatkan aplikasi zat ke kulit hewan yang telah dicukur atau diteteskan ke dalam mata. Tujuan dari uji coba ini sangat beragam, misalnya menguji kemungkinan iritasi kulit, kepedihan zat tersebut jika terkena mata, atau reaksi alergi pada tubuh.

Apa yang terjadi pada hewan-hewan ini setelah mengalami rangkaian uji coba tersebut? Mereka menderita luka, bisa jadi luka bakar, mengalami kelumpuhan, mengalami trauma dan stres, dan tentunya tidak sedikit yang mati begitu saja. Ketika hewan-hewan tersebut memasuki masa batas daya uji coba, mereka akan langsung dimatikan dengan cara disuntik atau diberi gas (gassing).[3] Belum lagi uji coba yang melibatkan mutasi genetika yang memperpendek usia hewan. Hal tersebut cukup membuktikan bahwa banyak sekali perusahaan kosmetik dan juga obat-obatan yang masih memandang hewan laboratorium sebagai sekedar komoditas sekali pakai. 

Pada kenyataannya, terkait dengan industri kosmetik dan obat-obatan, sekitar 80 persen negara di dunia masih memperbolehkan metode uji coba pada hewan.[4] Itu artinya, baru 20 persen negara di dunia yang telah melarang metode uji coba ini. Beberapa diantaranya adalah negara-negara Uni Eropa dan Skandinavia, kemudian Selandia Baru, Korea Selatan, dan Turki.[5] Lalu, apakah industri kosmetik dan obat-obatan akan bergerak menuju inovasi produk yang lebih baik (tidak melibatkan penyiksaan hewan laboratorium)? Yuk, pelajari dulu pro dan kontranya.

Namun, apakah uji coba pada hewan itu sendiri layak untuk dilakukan? Dan, apakah hasil uji coba tersebut dapat tervalidasi 100 persen? Banyak sekali pro dan kontra yang muncul akibat metode animal testing yang dilakukan oleh produsen kosmetik dan obat-obatan. Golongan masyarakat yang pro terhadap metode ini beralasan bahwa uji coba pada hewan telah dilakukan selama puluhan tahun, dimana hasil uji coba tersebut terbukti dapat memberikan kontribusi positif dalam usaha pengobatan dan penyembuhan penyakit yang sebelumnya belum ditemukan obatnya. Selain kemiripan beberapa pola genetik, fisik, dan kebutuhan senyawa tertentu dari hewan yang akan diuji, kebijakan produk kecantikan dan perawatan tubuh di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Cina, Australia, dan Kanada masih mewajibkan sampel produk-produk tersebut untuk dilakukan uji coba pada hewan.[6] Hal ini terkait dengan keamanan produk yang harus disetujui negara sebelum diedarkan ke pasar. 

Padahal, berbagai alternatif untuk menggantikan animal testing ini telah banyak dikembangkan. Lebih dari 30 alternatif metode baru dari in vitro (uji coba menggunakan sel dan jaringan dalam tubuh manusia), in silico (teknik model komputer), dan human-patient simulators telah dapat diakses di berbagai negara di dunia.[7] Pada kenyataannya, ada banyak keterbatasan yang dimiliki metode uji coba pada hewan. Kosmetik ataupun obat-obatan yang sudah lolos pengujian terhadap binatang belum tentu 100 persen aman untuk dikonsumsi atau digunakan oleh manusia. Pada beberapa penelitian, zat-zat yang berhasil lolos uji pada animal testing, memberikan efek yang berbeda pada manusia. Di Amerika Serikat, hanya sekitar kurang dari 10 persen dari penemuan sains berbasis uji coba hewan selama 20 tahun terakhir yang dapat melanjutkan ke uji coba praktik klinis.[8]  

Semirip apa pun, manusia dan hewan memiliki perbedaan fisiologis, anatomi, maupun genetik. Sehingga tentunya wajar jika reaksi yang didapatkan dari suatu zat kimia akan berbeda antara manusia dan hewan. Belum lagi metode animal testing cenderung mahal dan memakan waktu lama (timconsuming). Dibandingkan dengan metode alternatif-alternatif baru, uji coba pada hewan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mengingat alokasi dana untuk perawatan medis, tempat tinggal, dan konsumsi para hewan.

Lalu, mengapa uji coba pada hewan masih dilakukan? Pertama, hasil tes pada hewan tersebut dapat dijadikan bukti perusahaaan jikalau adanya gugatan komplain konsumen terhadap produk perusahaan tersebut.[9] Kedua, masih minimnya perhatian para pengambil keputusan (politisi, petinggi perusahaan, dan ilmuwan) memandang isu uji coba pada hewan sebagai isu yang mendesak sehingga perlu dicari penyelesaiannya.[10] Ketiga, terkait dengan tarik ulur kebijakan (terkait isu uji coba hewan) di banyak negara yang masih menjadi perdebatan. Mau tidak mau, agar produk dapat mendapatkan persetujuan aman dan dapat dipasarkan, uji coba pada hewan harus dilakukan.[11]

Perusahaan kosmetik dapat menghentikan pengujian hewan dengan segera dan masih bisa menghasilkan produk kecantikan baru, aman dan menarik tanpa adanya kekejaman terhadap hewan. Terlebih lagi, perusahaan kosmetik dapat menjadikan isu ini sebagai batu loncatan untuk saling berinovasi memasarkan produk-produknya. Perusahan kosmetik global seperti L’Oreal, Oriflame, The Body Shop, Wet n Wild, NYX, NARS, dan e.l.f kini tidak lagi melakukan uji coba pada hewan. Sikap tersebut dikampanyekan dalam berbagai media promosi visual di berbagai media masing-masing merk. Dari sisi bisnis, sikap tersebut sangat mempengaruhi etika berbisnis terutama dengan moralitas tindakan manusia. Tidak hanya itu, tingkat penjualan terkait produk kosmetik dengan label vegan, no animal testing, dan cruelty-free naik cukup signifikan. 

Di Inggris, penjualan produk kosmetik dan kecantikan dengan label-label tersebut tumbuh sekitar 38 persen pada tahun 2018.[12] Dilansir dari The Body Shop Inggris, lebih dari 3 juta produk kosmetik dan kecantikan berbasis vegan telah terjual pada tahun 2018.[13] Di Indonesia sendiri, kampanye no animal testing dan cruelty-free juga telah diinisiasi oleh The Body Shop Indonesia. Th Body Shop Indonesia kini telah menggunakan teknologi penciptaan kulit sintetik atau episkin untuk menguji coba seluruh produknya.[14]

Apakah hal ini dipicu dari sisi perusahaan atau produsennya saja? Tentu tidak. ‘Brands can no longer ignore the 8.3 million people who want end to animal testing’.[15] Masyarakat dunia kini semakin mengerti dan menyadari pentingnya memilih produk kosmetik yang tidak menggunakan hewan sebagai media uji cobanya. 

sumber: Singkham, Pexels.com

Menurut Ferrel dalam bukunya ia menyebutkan “bahwa seorang manajer harus mempertimbangkan hubungan antara perusahaan dengan stakeholder, yaitu pemilik, pegawai, konsumen, pemerintah, masyarakat, dan aktivis lingkungan hidup.”[16]

Namun pada praktiknya seorang manajer akan sulit untuk memenuhi kehendak semua stakeholders. Terkadang seorang manajer akan menghadapi sebuah dilema di mana dia harus memilih stakeholders mana yang akan tidak setuju dengan keputusan yang telah dibuat. Kembali ke dalam kasus uji coba pada hewan, apa pun keputusan yang dibuat tidak bisa memenuhi kehendak seluruh stakeholders

Untuk perusahaan yang melakukan animal testing mereka dapat kehilangan konsumen. Khususnya untuk konsumen yang peduli dengan gerakan perlindungan hewan. Sementara jika perusahaan tidak melakukan animal testing, perusahaan akan menghadapi pemilik yang merasa perusahaan akan kehilangan pangsa pasar dan juga pemerintah jika pemerintahan tersebut memiliki kebijakan yang ketat supaya produk-produk yang beredar teruji aman untuk digunakan oleh manusia. 

Jadi pada dasarnya hal terbaik yang bisa dilakukan oleh manajer dalam masalah ini adalah mencari titik tengah di mana keputusan yang diambil dapat memenuhi keinginan seluruh pihak. Seperti contoh yang disebutkan di atas perusahaan dapat menggunakan alternatif dari animal testing yang tidak membahayakan bagi hewan.  Dan alternatif tersebut juga memungkinkan untuk meyakinkan pemerintah bahwa produk yang dibuat oleh perusahaan teruji secara klinis aman untuk digunakan oleh manusia. 

Hal yang menarik dari kasus ini adalah bahwa sentimen dari masyarakat atau konsumen dapat mempengaruhi para direksi perusahaan dalam membuat keputusan. Dalam situasi bisnis yang global perusahaan tidak hanya memperhitungkan laba saja tetapi juga harus memperhatikan dampak perusahaan untuk lingkungan dan masyarakat.

Kesimpulan dari artikel ini adalah dalam membuat keputusan manajer akan menghadapi dilema di mana keputusan yang diambil akan mendapat sentimen negatif dari salah satu stakeholders. Karena sulit untuk memenuhi kepentingan dari setiap stakeholders manajer harus menemukan jalan tengah agar tidak mengecewakan para stakeholders. Pada dasarnya semua keputusan akan memiliki pro dan kontra tersendiri.

Ferdiansyah

Joseph Suryo Baskoro

Kapitania Widya Imaniar

Khalifah Nurjannah

Mutiara Cahyaningrum

Sucha Dina Amalia

Umar Abdul Aziz

[1]D. Susilawati, ‘Uji Coba Kosmetik tanpa Hewan Kini Bukan Barang Mahal‘, Republika, Monday, 31 July 2017, viewed on 22 August 2019, <https://www.republika.co.id/berita/humaira/sana-sini/14/03/12/gaya-hidup/trend/17/07/30/otwvr9328-uji-coba-kosmetik-tanpa-hewan-kini-bukan-barang-mahal>. 

[2]A. Cunningham, ‘Cruelty-free: The Truth About Animal Testing in the Cosmetics Industry’, IMAGE, 21 October 2018, viewed on 22 August 2019, <“>https://www.image.ie/life/animal-testing-125136>.

[3]Ibid.

[4]M. Kretzer, ‘Countries Around the World Work to Ban Cosmetics Testing on Animals‘, PETA, 16 April 2018, viewed on 22 August 2019, .

[5]Ibid.

[6]Facts and Figures on Animal Testing, Cruelty Free International, viewed on 22 August 2019, .

[7]Alternatives to Animal Testing, PETA, viewed on 22 August 2019, .

[8]Experiments on Animal Fail 90% of the Time. Why Are They Still Done?, PETA, viewed on 22 August 2019, .

[9]Why Are Animals Still Used in Research?, NAVS, viewed on 22 August 2019, .

[10]Ibid.

[11]Ibid. 

[12]E. Hammett, ‘Vegan beauty: How Conscious Consumers Are Driving Innovation in Ethical Cosmetics‘, Marketing Week, 29 May 2019, viewed on 22 August 2019, . 

[13]Ibid. 

[14]D. Susilawati, op. cit., Republika.

[15]K. Postlewhite, ‘ Brands Can No Longer Ignore The 8.3 Million People Who Want End to Animal Testing”, Ethical Corporation, 14 October 2018, viewed on 22 August 2019, <“>http://www.ethicalcorp.com/brands-can-no-longer-ignore-83-million-people-who-want-end-animal-testing>.

[16]O.C. Ferrell, G. A. Hirt, and L. Ferrell, Business Foundations: A Changing World Twelfth Edition(New York: McGraw Hill Education, 2019), 56.


Like it? Share with your friends!

2
2 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
2
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format