Untuk Kebahagiaan Terbesar: Dilemma Pengujian Hewan

Dilema Etika Perusahaan pada Animal Testing


3
3 points

Untuk Kebahagiaan Terbesar: Dilemma Pengujian Hewan

Anandyanto, A., Budiono, G., Nikawa, M., Noerrahman, M., Padriano, M., Singgih, S., Weidemann, K. (Group 5)

Atas dasar upaya tanpa akhir dalam perluasan pengetahuan tentang organisme hidup dan segala kebutuhannya, termasuk dirinya sendiri, manusia menjadikan hewan untuk kepentingan eksperimen. Hewan sudah menjadi bahan percobaan sejak abad sebelum masehi, misalnya Erasistratus dari Yunani yang melakukan penelitian terhadap hewan untuk melihat fungsi limpa dan empedu pada hewan, hal ini disebabkan karena pada saat itu hukum Romawi tidak mengizinkan dilakukan pembedahan terhadap tubuh manusia, sehingga pembedahan terpaksa dilakukan pada hewan. Prosedur tersebut pertama kali dilakukan pada abad ke-12, oleh Ibnu Zuhr (latin: Avenzoar), seorang dokter Arab dari Andalusia melakukan prosedur pembedahan pada kambing sebelum melakukanya pada manusia. Puncak sejarah pengujian hewan terjadi pada abad ke-19, tahun 1933, dimana pada masa itu terjadi sebuah insiden seorang wanita kehilangan fungsi penglihatan dikarenakan penggunaan sebuah produk kecantikan maskara, kejadian tersebut memaksa pemerintah AS untuk mengkaji kembali Undang-Undang Federal tentang makanan dan kosmetik. Pemerintah AS mengatur Undang-Undang Federal pada tahun 1938 tentang kewajiban perusahaan untuk melakukan pengujian produk pada hewan sebelum menjualnya pada manusia. Dengan adanya regulasi tersebut, penggunaan hewan untuk penelitian menjadi lumrah untuk dilakukan untuk keperluan kemanusiaan.

Pengujian hewan umumnya dilakukan dengan dua tipe metode pengujian, yaitu Draize dan LD50. Draize dilakukan dengan meneteskan setetes substansi yang diteliti pada mata hewan untuk pengamatan reaksi dan pencatatan hasil. Sedangkan uji LD50 merupakan sebuah prosedur pengujian dimana sekelompok hewan diberi makanan dengan kandungan zat tertentu yang sedang diuji, hasil pengamatan tidak jarang membuat separuh dari kelompok hewan tersebut mati, untuk tujuan pengamatan dan pencatatan hasil. Kedua prosedur tersebut masih digunakan hingga saat ini.

Etika dan moral dalam pengujian hewan masih hangat diperdebatkan di kalangan masyarakat. Pengertian etika secara etimologi sendiri merupakan sebuah studi tentang konsep nilai benar dan salah. Dalam hal ini, pengujian hewan dapat ditinjau dari berbagai perspektif, pertama common good dan yang kedua animal welfare. Common good merujuk pada keutamaan kepentingan banyak orang dibandingkan dengan kepentingan individu untuk tujuan penciptaan kebahagiaan terbanyak (utilitarianism). Keutamaan kemanusiaan melalui pengujian terhadap hewan dalam dunia farmasi telah melahirkan berbagai inovasi dalam bidang kesehatan, dengan demikian sisi negatif pengujian pada hewan dapat dimaklumi untuk kepentingan dunia medis. Sedangkan animal welfare melihat permasalahan mendasar dalam pengujian hewan, dimana kunci utama dari permasalahan tersebut merupakan keterbatasan interaksi antara hewan dan manusia. Hewan tidak dapat memberikan persetujuan maupun penolakan atas perlakuan yang diterima, sehingga perspektif ini melihat terjadinya pendevaluasian eksistensi dan penyangkalan hak untuk hidup bebas. 

Industri kosmetik adalah sebuah contoh yang sering diungkit di dalam pembahasan pengujian hewan. Penggunaan label seperti ‘clean’, ‘organic’ dan ‘natural’ yang sangat bebas dan tidak teregulasi menjadi masalah utama di dalam industri kosmetik, hal ini membuat produk-produk tersebut menjadi ambigu, apakah produk tersebut baik untuk manusia dan lingkungan. Produk yang dihasilkan tanpa pengujian terhadap hewan umumnya memegang label ‘cruelty-free’. Ada beberapa contoh perusahaan yang tidak menggunakan hewan sebagai bahan uji coba untuk produknya, seperti salah satunya yaitu produk Dove[1], Dove tidak melakukan uji coba pada hewan atau animal testing. Selama lebih dari 30 tahun telah menggunakan sejumlah pendekatan alternatif non-hewan untuk menguji keamanan bahan-bahan dan produk-produk yang dijual. Dove telah menetapkan kebijakan pelarangan terhadap semua uji coba pada hewan, di mana pun di seluruh dunia. Dan sekarang, produk-produk Dove akan memiliki logo cruelty-free (bebas uji coba pada hewan) dari PETA, yang akan dicantumkan secara bertahap pada seluruh kemasan produk secara progresif mulai tahun 2020. Label cruelty free tersebut untuk meyakinkan dan memberikan informasi kepada konsumen bahwa tidak akan, melakukan uji coba pada hewan. Perusahaan induk dove yaitu Unilever telah mengumumkan dukungannya terhadap seruan untuk menerapkan secara global larangan uji coba pada hewan–animal testing ban, serupa dengan larangan yang telah berlaku di Uni Eropa.

Salah satu contoh bisnis korporat ritel yang menggunakan ‘cruelty-free’ sebagai strategi penjualan mereka adalah Lush, sebuah perusahaan kosmetik Inggris. Lush mengutarakan filosofi korporat mereka sebagai “Lush do not test on animals, do not use materials that contain animal derivatives that are unsuitable for vegetarians and only buy raw materials from companies. We believe that animal testing is not acceptable.” Salah satu kampanye yang agresif dari Lush untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pengujian hewan dilakukan melalui sebuah pertunjukan dimana seorang seniman mengurung dirinya di publik dan membiarkan individu dari tim pertunjukan melakukan tes-tes yang dilakukan kepada hewan ketika produk diuji kepada dirinya, dapat dilihat pada video berikut:  

Hal ini tentunya menimbulkan pro kontra pada publik, masyarakat bertanya-tanya apakah ini hanya strategi pemasaran atau Lush benar-benar melaksanakan filosofinya sendiri. Hal ini kemudian dapat dievaluasi berdasarkan fakta, menurut informasi perusahaan, untuk mengganti prosedur pengujian produk pada hewan sebelum diedarkan pada masyarakat Lush menguji terlebih dahulu produknya pada seseorang yang bersedia menjadi sukarelawan.[2]

Lebih lanjut, label ‘cruelty free’ – standar keamanan terhadap hewan tinggi, yang diusung oleh Lush dalam promosi produk pada faktanya masih dipertanyakan. Label tersebut bukanlah sebuah label yang diregulasi oleh pemerintah maupun badan penyetara standar independen. Maksud dari label tersebut masih ambigu, seperti dijelaskan oleh National Center for Biotechnology Information[3] di Amerika Serikat; sebuah badan studi dan standarisasi bioteknologi pemerintah di AS, menyatakan bahwa tiada definisi legal label ‘cruelty free’. Bisnis dan entitas yang menyatakan bahwa produk produksinya berlabel ‘cruelty free’ bisa secara tidak langsung masih berinteraksi dengan pengujian hewan, misalnya dalam kaitannya membeli bahan baku dari perusahaan lain yang menguji produk tersebut ke hewan.

Meski label produk menimbulkan pro kontra pada kalangan masyarakat, kampanye oleh Lush memperkuat argumen kontra pengujian hewan: "penderitaan hewan demi kenyamanan hidup manusia". Banyak artikel ilmiah membahas tentang etika pengujian hewan menyetujui bahwa pengujian hewan dapat dilakukan jika manfaat dari pengujian tersebut benar-benar berdampak positif terhadap kehidupan manusia[4]. Umumnya, dampak terhadap hewan seringkali dianggap tidak bermakna demi kesejahteraan manusia. Namun, kajian baru telah menunjukkan bahwa hewan dapat merasakan sakit dengan intensitas jauh lebih tinggi dari yang diestimasikan, banyak opini mempertimbangkan kembali bagaimana hewan pengujian harus diperlakukan[5]. Hewan dapat merasakan penderitaan, kesakitan akibat prosedur-prosedur yang invasif dan kehilangan perilaku alami. Seberapa jauh manusia berhak mengekspos hewan ke dalam kondisi dan resiko tersebut masih menjadi topik hangat pakar etika dunia. Saat ini, metode pengujian alternatif seperti kulit manusia buatan ‘EpiDerm’ dan ThinCert (artifcial human skin)[6] dapat menggantikan hewan di industri kosmetik[7]. Produk ini sendiri dibuat dengan menggunakan sel lapisan kulit manusia yang disimpan di dalam tabung reaksi. Hasil pengujian menggunakan metode ini memberikan hasil yang lebih signifikan dan dapat menghindari penggunaan kulit hewan sebagai objek pengujian[8]. Akan tetapi teknologi tersebut hanya merupakan salah satu solusi dari sekian banyak pengujian yang dilakukan pada hewan mengingat bahwa kulit adalah salah satu organ dari sekian banyak organ manusia. Tingkat efisiensi dan efektivitas penggunaan hewan dalam pengujian tetap dapat diandalkan, hal ini dikarenakan reaksi hewan terhadap zat kimia dan substansi yang diuji dapat memberikan hasil pengamatan yang jauh berbeda dibanding reaksi yang ditunjukkan oleh manusia. 

Sejatinya, masalah besar di dalam pengujian hewan bukanlah ketika percobaan dilakukan, melainkan ketika sebelum dan sesudahnya. Pertanyaan terbesar terletak pada perlakuan terhadap hewan-hewan tersebut yang tidak diberitakan. Pembahasan terkait pengujian hewan berlangsung bertumpu pada saat pengujian dilakukan namun, proses yang berlangsung tidak berhenti maupun dimulai dari titik tersebut. Pengujian hewan merupakan sebuah proses yang panjang. Proses dimulai dengan pengembangbiakan hewan tes (test lab animals), perjualbelian hewan, penjagaan atau pemeliharaan hewan sebelum dan sesudah pengujian dan pengkondisian hewan di laboratorium. Para pakar filosofi etika dan moral banyak membahas hal-hal yang terjadi sebelum dan sesudah pengujian, bukan hanya di fase pengujian. Studi dari Humane Society International[9] menunjukkan bahwa sebelum pengujian terjadi, masih banyak hewan yang dikenakan proses-proses yang tidak sepatutnya, seperti paksaan pemberian makanan atau bahkan hingga tidak sama sekali diberi makanan atau minuman, juga pengekangan fisik yang terlalu lama. Berbagai prosedur pengujian juga dapat memberikan dampak jangka panjang, seperti tes obat untuk luka bakar atau luka dalam, dimana hewan akan dibiarkan mengalami cedera atau luka secara berkelanjutan untuk melihat efek dari obat-obatan tersebut.

Pengujian terhadap hewan merupakan sebuah dilema besar dalam dunia bisnis. Hal ini terutama terkait pada produk-produk yang berinteraksi langsung dengan badan manusia, dimana produk tersebut perlu dipastikan aman ketika dikonsumsi atau dipakai seperti obat-obatan, kosmetik, dan produk lainnya. Namun, hingga kini metode alternatif komplit untuk pengujian hewan masih berumur dini. Pertanyaan seperti seberapa banyak hewan yang perlu menderita demi kesehatan manusia atau haruskah kita membiarkan manusia menderita dengan penyakit dimana obat dapat diperoleh melalui pengujian terhadap hewan selalu mengelabui pandangan. Industri berdiri di antara dua hujung tombak, tidak bisa menjual atau memproduksi sesuatu yang berbahaya untuk manusia.

Hingga kini, dunia industri dan bisnis masih sangat erat dengan pengujian hewan demi menjamin keselamatan produk mereka terhadap konsumen. Tidak dapat dipungkiri, khususnya dalam bidang kesehatan, penghapusan total pengujian hewan akan memperlambat inovasi di bidang farmasi dan pengobatan secara drastis[10]. Namun, dalam pelaksanaannya ada prosedur yang harus dipenuhi terkait penggunaan, pemeliharaan dan penjagaan hewan ketika dilakukan pengujian maupun dalam fase sebelum dan sesudahnya. Hal ini dikarenakan hingga saat ini masih belum ada alternatif lain yang dapat menggantikan pengujian hewan secara menyeluruh dan lengkap untuk memastikan produk-produk tersebut tidak berbahaya. Secara filosofis, pengujian hewan adalah sebuah ‘necessary evil’-sesuatu yang secara etis dan moral dipandang buruk atau tidak seharusnya dilakukan namun jika ditelaah lebih dalam, hasil dari tindakan tersebut membawa hasil yang jauh lebih baik bagi kepentingan banyak manusia dibandingkan jika tindakan tersebut sama sekali tidak dilakukan. Pemilihan metode pengujian hewan perlu dilakukan dengan tujuan menghasilkan estimasi kualitas produk yang lebih aman dan baik untuk dikonsumsi maupun bersentuhan langsung dengan lebih banyak manusia, hal ini merupakan pilihan yang lebih etis dibandingkan menjual produk yang tidak dapat diestimasi tingkat keamanannya dan cenderung memiliki kemungkinan konsekuensi buruk terhadap konsumen. Sejatinya, pengujian hewan telah banyak berperan pada kehidupan manusia dalam menghasilkan produk-produk yang aman sekaligus dapat berperan baik pada hewan-hewan tertentu karena beberapa dari pengujian tersebut dapat membantu proses penyembuhan hewan observasi itu sendiri. Pengujian hewan masih perlu untuk dilakukan, dengan catatan tetap terdapat etika pengujian terhadap hewan sebagai objek pengujian yang harus dipenuhi dengan baik.

[1] "Produk Cruelty-free Dove Tanpa Animal Testing – Dove." https://www.dove.com/id/stories/about-dove/no-animal-testing.html. Accessed 21 Aug. 2019.

[2] Lush Retail, uk.lush.com (https://uk.lush.com/?option=com_content&view=article&id=6292&Itemid=74, Accessed Aug 20, 2019)

[3] "Safety Testing – Science, Medicine, and Animals – NCBI Bookshelf." https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK24645/. Accessed 21 Aug. 2019.

[4]Ferdowsian HR / Beck N, “Ethical and Scientific Considerations Regarding Animal Testing and Research”, journals.plos.org, Sep 7, 2011 (https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0024059, Accessed Aug 20, 2019)

[5] ibid.

[6] "Scientific Alternatives to Animal Testing – Advocacy for Animals." 17 Sep. 2007, http://advocacy.britannica.com/blog/advocacy/2007/09/scientific-alternatives-to-animal-testing-a-progress-report/. Accessed 21 Aug. 2019.

[7] “should animals be used for scientific or commercial testing?”, procon.org, May 9, 2019 (https://animal-testing.procon.org, Accesses Aug 21, 2019)

[8] "Alternatives to animal experimentation | The BMJ." 25 Jan. 2007, https://www.bmj.com/content/334/7586/182/article-info. Accessed 21 Aug. 2019.

[9] "Animal Testing – Humane Society …." 21 Oct. 2012, https://www.hsi.org/news-media/about/. Accessed 21 Aug. 2019.

[10] "The ethics of animal research: Talking Point on the use … – EMBO Press." https://www.embopress.org/doi/full/10.1038/sj.embor.7400993. Accessed 21 Aug. 2019.

https://www.crueltyfreekitty.com/cruelty-free-101/cruelty-free-bunny-logo/

https://amp.dw.com/en/eu-reaffirms-ban-on-animal-testing-for-cosmetics/a-16940911


Like it? Share with your friends!

3
3 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
2
Love
OMG OMG
2
OMG
Win Win
2
Win
Won Direction

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format