Ford Kurang Peka

Iklan tidak melulu soal: dengan menggunakan produk kami, masalah anda dapat teratasi. Iklan bisa saja hanya berusaha menunjukkan pesan: kami berada di mana-mana.


1
1 point

Awal Mula Ford Indonesia

Ford mulai menapaki pasar Indonesia pada tahun 1989 dengan diwakilkan oleh Indonesia Republic Motor Company (IRMC). Kala itu, Ford memiliki beberapa varian mobil yang beredar di Indonesia seperti Telstar, TX-3, TX-5, dan Cortina. IRMC hanya sebatas importir saja. Pada 12 Juli 2000, didirikan PT Ford Motor Indonesia (FMI) yang menjadi Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Ford pertama di Indonesia. 

Mulai tahun 2001, FMI mulai mendistribusikan mobil ke seluruh penjuru Indonesia. Mereka membutuhkan waktu yang relatif cepat untuk menggebrak pasar Indonesia. Tahun 2002, Ford Ranger mulai diluncurkan. Varian ini merupakan salah satu flagship yang diminati konsumen. Peluncuran ini bersamaan dengan pembukaan diler 3S (Sales, Service, Sparepart) di Jakarta Selatan, merupakan yang pertama di Indonesia. Dalam rentang tahun 2003 hingga 2015, Ford Indonesia terus meluncurkan inovasi-inovasi baru seperti Everest, Ranger, Focus, dan Fiesta. Meski volume penjualan tidak sebesar produk Jepang, Ford tetap memiliki pangsa pasar tersendiri. Peminat mobil Amerika di Indonesia sangat antusias dengan kehadiran mereka. Banyaknya jenis mobil membuat merek ini cukup laris di pasaran. Hingga September 2015, Ford Indonesia memiliki 47 diler di seluruh Indonesia. 

Pada tahun 2014, FMiI mencatat penjualan yang cukup tinggi, sebesar 12.008. Jumlah ini menurun di tahun berikutnya menjadi 4.986. Pada 2016, tercatat hanya ada 484 unit yang terjual. 

Di kuartal kedua tahun 2016, Ford Indonesia memutuskan untuk mengentikan operasinya. Hal ini diungkapkan oleh Bagus Susanto selaku direktur operasi di laman resmi mereka. Hal ini mengejutkan pemerhati otomotif di Tanah Air. Meski begitu, dukungan pelayanan dan garansi masih menjadi komitmen dari Ford. Dilansir dari Business Insider, Ford juga angkat kaki di Jepang. Hal ini diduga karena kedua negara tidak menguntungkan. Pegawai yang sudah ada juga dihentikan hubungan kerjanya. Pada tahun sebelumnya, General Motors juga menghentikan operasinya di Indonesia. GM merupakan perusahaan yang juga menaungi Ford. 

Selain Ford, Mazda Motor Indonesia juga melakukan langkah serupa pada Februari 2017. Perbedaannya, Mazda menyerahkan kegiatannya pada PT Eurokars. Mazda pernah memiliki sejarah panjang bersama Ford. Pada tahun 1969, Ford memulai kerjasama dengan Mazda secara joint venture dalam produk transmisi otomatis. Sepuluh tahun kemudian, Ford membeli saham Mazda sebesar 24,5%. Mereka bersama-sama saling memproduksi kendaraan. Hal ini dilakukan untuk menguatkan rantai nilai keduanya. Sebagai contoh, model Laser dan Escort milik ford menjadi dasar produksi Mazda Familia.

Ketika terjadi krisis moneter di Asia tahun 1996, Mazda kesulitan dalam menjalankan bisnisnya. Ford meningkatkan jumlah kepemilikannya di Mazda menjadi 33% atau sepertiga dari seluruh saham yang ada. 

Krisis keuangan dunia pada 2008 memaksa Ford untuk menjual sahamnya di Mazda sebanyak 20% Hal ini membuat Ford kehilangan kendali atas perusahaan sejak 1996. 6,8% saham tersebut dibeli kembali oleh Mazda dan sisanya oleh rekan bisnis lain. Pada 18 November 2010, Ford mengurangi kembali kepemilikannya menjadi 3%. Hal ini diduga karena Ford ingin mengejar performa di pasar China. GM, aliansi Ford, memiliki kepentingan di China, begitu pula Mazda. Karenanya, Ford memperkirakan hal ini menimbulkan tensi politik yang melambatkan langkah mereka. Untuk mengendurkannya, Ford memutuskan untuk menjual saham Mazda. 

Tahun 2015, akibat dilusi saham, kepemilikan Ford merosot menjadi 2% saja. Mereka pun memutuskan untuk menjual seluruh saham yang tersisa. Meskipun kerjasama mereka berakhir, BusinessWeek melansir aliansi ini sangat berhasil dengan penghematan sebesar 90 juta dollar bagi Mazda per tahunnya. 

Apa yang Salah?

Pada awalnya Ford sudah merasa pesimis masuk pasar Indonesia, hal itu dikarenakan tidak ada manufaktur lokal dan juga karena tidak memiliki pabrik perakitan di Indonesia. Harga yang ditawarkan untuk produk Ford juga bisa dibilang mahal bila dibanding dengan produk-produk yang dikeluarkan oleh pabrikan Jepang, padahal mayoritas penduduk Indonesia menginginkan produk yang murah dan memiliki fungsi yang lebih. Selain harganya yang lebih mahal, suku cadang dari produk Ford juga lebih susah dan harganya lebih mahal. Hal itu dikarenakan Ford sendiri adalah perusahaan yang bersifat global sehingga mereka membuat desain yang sama yang dipasarkan di berbagai negara sehingga mobil dan suku cadang harus diimpor terlebih dahulu. Hal itu yang membuat harga Ford lebih mahal dan membuat kurang diminati oleh pasar Indonesia karena pasar Indonesia sendiri berbeda dengan pasar global. Misalnya dalam hal posisi setir global berada di kiri sedangkan di Indonesia berada di kanan. Hal tersebut juga membuat harga dari produk semakin tinggi.

Awal krisis Ford terjadi saat Mazda memilih untuk berhenti bekerja sama dengan alasan efisiensi. Sejak saat itu, penjualan produk dari Ford semakin mengalami penurunan. Sampai-sampai  jajaran karyawan dan top manajemen FMI (Ford Motor Indonesia) , agen pemegang merek Ford di Indonesia, dirumahkan. Namun dealer resmi Ford, salah satunya yaitu PT Kreasi Auto Kencana, yang berada di Jakarta Selatan, masih beroperasi. Akan tetapi, mereka harus menghubungi FMC di Thailand dan India untuk memasok suku cadang asli produk dari Ford.

Penutupan Ford ini bukan tanpa alasan, ada beberapa hal yang membuatnya tidak lagi melanjutkan operasinya. Salah satunya adalah Ford tidak bisa memenuhi keinginan pasar di Indonesia. Mobil-mobil produksi Ford rata-rata didesain untuk memenuhi pasar Amerika dan Eropa.

Menurut data yang dimiliki oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indoesia (Gaikindo), penjualan mobil di Indonesia rata-rata didominasi oleh mobil tipe low Multi Purpose Vehicle (MVP) dan Low Cost Green Car (LCGC). Dua tipe ini sangat diminati oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesa yang suka berpergian dengan keluarga besar membuat mobil bertipe MVP cocok untuk pasar Indonesia. Lalu LCGC diminati oleh sabagian besar masyarakat Indonesia khususnya untuk masyarakat kelas menengah karena harganya termasuk murah dan juga irit.

Dari dua tipe mobil ini, tidak ada mobil Ford dari tipe tersebut yang dijual di Indonesia bahkan di pasar Asia sekalipun. Padahal, sebenarnya Ford sudah memproduksi mobil bertipe MPV dengan tipe C-Max, S-Max, Galaxy dan Tourneo. Sayangnya mobil-mobil tersebut hanya dijual untuk pasar Eropa.

Lalu, harganya yang termasuk mahal di kalangan masyarakat Indonesia membuat tidak banyak orang yang dapat membeli mobil-mobil buatan Ford. Hanya kalangan tertentu dari kelas menengah keatas saja yang dapat membelinya.

Selain itu, pada tahun 2015, lemahnya perekonomian di Indonesia pada tahun tersebut membuat penjualan otomotif di Indonesia lesu. Lemahnya perekonomian di Indonesia kala itu bukan saja berdampak pada penjualan Ford, tetapi juga perusahaan otomotif Jepang yang menguasai pasar Indonesia seperti Toyata, Daihatsu, Suzuki juga Mitsubishi.

Mengundang Kembali Ford ke Indonesia

Jenderal Sun Tzu dalam pernyataannya mengenai seni perang pernah berkata, “Jika kamu mengenal musuhmu dan dirimu sendiri, kamu tidak perlu mengkhawatirkan hasil dari seratus pertempuran. Jika kamu mengenal diri sendiri, tapi tidak musuhmu, untuk setiap kemenangan kamu akan merasakan kekalahan pula. Jika kamu tidak mengenal musuhmu, juga tidak dirimu sendiri, kamu akan takluk pada setiap pertempuran.”

Kesalahan Ford ketika sedang berusaha menyusup ke dalam persaingan ketat pasar otomotif Indonesia adalah keangkuhan mereka. Ford terlalu meremehkan kompetitornya. Di saat para pesaing dari Korea dan Jepang sedang ada dalam medan pertempuran harga terendah, Ford justru merasa menang dengan kualitasnya namun gagal dalam memasang tarif yang terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Ford segera didiskualifikasi dari pertempuran ini. Untuk melakukan pemantapan dalam pasar Indonesia, yang perlu diperhatikan bukan hanya kualitas barang, tetapi kemampuan kompetitornya dalam mengambil hati konsumen. Kompetitornya tahu apa yang konsumen Indonesia butuhkan, sementara Ford masih terpaku dengan tren Eropa dan Amerika. Dalam peluang lain, Ford tidak boleh gagal membaca kelebihan dan kekurangan kompetitor seperti KIA, Suzuki, Toyota, Nissan, dan Daihatsu. Kumpulan kompetitor ini merajai pasar Asia karena berasal dari benua yang sama. Mereka paham betul bagaimana cara memangkas biaya menjadi lebih rendah dan memiliki kelebihan lebih dekat dengan pasar serta kebiasaan konsumen mereka.

Kompetitor Ford pandai meminimalkan biaya. Ford harus belajar banyak taktik untuk mengakali biaya yang harus dikeluarkan, termasuk melalui pengelolaan bahan baku yang cerdas. Ford memiliki pilihan untuk menggaet pemasok dari Indonesia. Tren masyarakat Indonesia yang tengah bangga dengan produk buatan lokal dapat dimanfaatkan. Bahan baku dari para produsen lokal memiliki kualitas yang baik juga. Ford tinggal mencari pemasok Indonesia yang memiliki kualitas terjamin dan memiliki reputasi baik di mata konsumen. Kebermanfaatan yang baik sebagai timbal balik ke Indonesia akan berbalik menjadi keuntungan bagi Ford. Semakin dekat bahan baku, pabrik, dan pasarnya, semakin rendah pula biaya yang perlu ditanggung. Alternatifnya, jika pilihan itu dirasa terlalu memicu adrenalin Ford karena banyak risiko, Ford bisa menurunkan keangkuhannya dengan standar kualitas yang lebih rendah. Ford bisa mencari bahan baku yang lebih murah tapi tetap berkualitas. Pasar Indonesia tidak menuntut produk untuk kuat, tahan banting, atau memiliki kelebihan di antara yang lain, yang penting produk cukup awet dipakai bertahun-tahun. 

Ford selalu terfokus dengan hasil produk yang memiliki fitur lengkap. Bagi mereka, kenyamanan pengguna nomor satu. Mereka melupakan kenyataan bahwa pelanggan Eropa dan Amerika memiliki preferensi yang berbeda dengan Asia. Fitur seperti pemanas yang biasa dipasang di mobil-mobil Eropa tidak perlu disertakan di mobil untuk pasar negara tropis. Ford bisa meningkatkan kenyamanan pelanggan Indonesia dengan membuat kursi kemudi yang lebih nyaman untuk pengguna mobil-mobil setir kanan. Kombinasi dengan pengukuran rata-rata tinggi orang Indonesia juga akan sangat membantu estimasi berapa ukuran tempat duduk yang nyaman, penempatan yang tepat, hingga ukuran tinggi mobil dan lebar pintunya.

Hanya mengantongi dan mengandalkan informasi mengenai preferensi pelanggan Indonesia saja masih kurang. Ford harus mengubah kultur kaku otomotif Eropa-Amerika dan memposisikan diri sebagai pendatang baru yang ingin berkembang dengan kultur yang baru. Pesaing yang membanjiri pasar Indonesia kebanyakan dari Jepang dan Korea. Diferensiasi produk paling mencolok terletak pada desainnya. Ford yang telah lama bercongkol dalam industri otomotif memenangkan pertempuran ini. Gaya Ford yang kebaratan memang terlihat pada desain mobilnya. Ini bisa menjadi senjata keunggulan yang bisa dijunjung oleh Ford. Pelanggan membutuhkan inovasi yang berbeda, angin segar di antara produk Jepang dan Korea yang berkutat pada desain yang tidak jauh berbeda satu sama lainnya. Ford mampu membuat suatu produk dengan desain kebaratan dan harga yang sesuai dengan kemampuan pasar di Indonesia. Konsumen menyukai sesuatu yang berguna dan terlihat eksklusif.

Masyarakat Indonesia membutuhkan mobil keluarga, bukan mobil untuk dipamerkan. Mobil yang memiliki fungsi banyak akan menjadi prioritas bagi konsumen Indonesia. Ford yang biasa menghadapi permintaan kustom dari pelanggan Eropa dan Amerika, kini justru harus mengabulkan permintaan mass-production yang datang dari pelanggan Indonesia. Mobil yang sama persis dicetak dalam jumlah besar, apabila ingin memiliki barulah oleh pelanggan akan dimodifikasi sendiri, yang mana menjadi pilihan opsional.

Ford memiliki komunitas yang telah tersegmentasi di pasarnya sendiri. Tidak banyak orang Indonesia yang tahu atau bahkan pernah melihat produk Ford. Pasarnya sudah sangat terkhusus. Namun, komunitas-komunitas ini dapat dimanfaatkan oleh Ford. Selama ini, ford lemah pada teknik pemasarannya. Pendekatan kepada pelanggan hanya dilakukan melalui website yang jarang dibuka oleh konsumen Indonesia sendiri. Iklan melalui komunitas-komunitas ini dapat menjalar cepat ke telinga masyarakat yang lain. Kepuasan komunitas Ford di Indonesia untuk memiliki mobil Ford secara mudah juga akan memberikan feedback yang baik. Iklan-iklan di televisi juga masih dinilai bermanfaat untuk sampai ke pasar menengah. Tidak semua iklan di media sosial dinilai efektif untuk mencapai konsumen, terlebih untuk produk otomotif. Salah satu media yang wajib digunakan dan sedang digandrungi perusahaan yang ingin menggaet millenials adalah youtube. Iklannya tidak perlu melulu tentang produk yang ingin dipasarkan. Justru faktanya, iklan yang paling banyak ditonton adalah iklan yang mendekati realita masyarakat atau kejadian sehari-hari. Semua dapat tertuang dalam konsep iklan web series. Iklan tidak melulu soal: dengan menggunakan produk kami, masalah anda dapat teratasi. Iklan bisa saja hanya berusaha menunjukkan pesan: kami berada di mana-mana. 

Iklan ini merupakan contoh web series yang dirilis oleh Toyota berjudul Mengakhiri Cinta dalam Tiga Episode dan dapat ditonton di youtube secara gratis. Iklan di bawah berbentuk narasi cerita yang membuktikan bahwa tidak perlu menjelaskan tentang produk yang diiklankan.

Sumber: Youtube

Selama ini mobil yang dikeluarkan oleh ford lebih diminati oleh masyarakat yang memiliki rentang usia 30 hingga 50 tahun, dengan orientasi untuk mobil keluarga maupun untuk mobil perusahaan yang bergerak dibidang tambang dan kehutanan. Ford tidak banyak mengeluarkan mobil untuk kalangan anak muda, hanya ada mobil ford jenis fiesta yang membidik generasi muda sebagai target pasarnya. . Padahal saat ini pangsa pasar mobil untuk generasi muda sangatlah menjanjikan. Ford dapat membuat inovasi-inovasi untuk dapat mengeluarkan jenis-jenis mobil baru yang target pasarnya adalah generasi muda. Generasi muda saat ini menyukai mobil dengan bentuk yang sporty dengan performa tarikan yang kencang. Namun, yang perlu diingat adalah generasi muda tidak memiliki budget  yang besar untuk membeli sebuah mobil. Hal ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Ford. Ford yang biasanya mengeluarkan mobil untuk keluarga dengan harga yang tinggi, bisa beralih inovasi ke mobil yang lebih sporty dengan harga yang ekonomis.

Di era dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat ini, Ford juga harus senantiasa melakukan pembaharuan pada teknologi yang digunakan untuk mobil produksinya. Misalnya dengan menambahkan perangkat Global Positioning System atau yang biasa disebut dengan GPS. Penanaman GPS ini akan memudahkan pengguna untuk mencari suatu lokasi yang ia tuju. Selain itu untuk pasar di Indonesia, Ford dapat menghilangkan teknologi pemanas mobil. Tentunya dengan pengurangan teknologi tersebut dapat menekan biaya produksi dari mobil tersebut. Sehingga harga mobil Ford di Indonesia bisa lebih rendah daripada harga mobil tersebut di pasar internasional.

 Dari segi kultural,  masyarakat Indonesia sangat menyukai estetika bentuk untuk mobil pilihannya. Ford sendiri kurang serius dalam melakukan perubahan pada bentuk mobil produksinya. Masyarakat menganggap bentuk dari mobil-mobil yang dikeluarkan oleh Ford memiliki bentuk yang kurang menarik dan kurang berestetika. Hendaknya apabila Ford ingin masuk kembali ke pasar otomotif Indonesia, Ford dapat melakukan perubahan pada segi desain seperti yang diinginkan oleh masyarakat. Selain itu, Ford juga harus dapat mendesain mobilnya senyaman mungkin untuk pengguna setir kanan seperti di Indonesia. Sebab, mobil keluaran Amerika dan Eropa meletakkan alat kemudi di sebelah kiri sebab di Amerika dan Eropa mereka menyetir di sebelah kanan.

Sebuah pekerjaan rumah yang menantang bagi Ford untuk kembali mengembangkan mobil produksinya di Indonesia. Ford harus lebih mengetahui pangsa pasar Indonesia, sebelum kembali meluncurkan produknya di Indonesia. Hal tersebut dilakukan guna menyusun strategi yang tepat untuk menguasai pasar otomotif Indonesia. Untuk itu  Perusahaan Ford dapat mempekerjakan sumber daya manusia langsung dari Indonesia dalam proses pengembangan produknya. Sumber daya tersebut akan lebih mengetahui kondisi minat dari konsumen Indonesia. 


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
2
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
2
Win
wehunthead

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format