Tas Eceng Gondok : Kearifan Lokal yang Mendunia

Menembus pasar Amerika Serikat, Jepang, Hingga Eropa


1
1 point

Eceng gondok merupakan tanaman gulma yang dapat ditemukan di kali, sungai, waduk, dan danau. Tanaman yang dapat tumbuh subur pada genangan air yang tercemar limbah, karena kemampuanya untuk mengikat logam berat. Di Indonesia eceng gondok sangat tumbuh subur dikarenakan banyak lokasi yang sudah tercemar limbah tersebut, tanaman tersebut juga berdampak ekologis yang cukup buruk terutama di perairan dangkal seperti di banyak wilayah di Indonesia. 

Contohnya Sungai di Indonesia yang kondisinya tercemar dan kritis mencapai 82 persen dari 550  sungai yang tersebar di seluruh Indonesia. Tingginya tingkat pencemaran membuat airnya tidak layak untuk dikonsumsi. Direktur Forest and Freshwater dari World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Irwan Gunawan dalam diskusi “Bersama Menjaga Air Sumber Kehidupan” dalam memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret 2019 mengatakan, “Dari lebih 550 sungai itu, 52 sungai strategis di Indonesia dalam keadaan tercemar, diantaranya Sungai Ciliwung di DKI Jakarta dan Sungai Citarum di Jawa Barat,”[1].

Alasan tersebut menyebabkan dibutuhkan alternatif lain untuk mengatasi tanaman tersebut dengan mengalihfungsikan sebagai sumber bahan baku industri kerajinan. Oleh karena itu, eceng gondok bukan hanya dilihat sebagai sampah organik saja melainkan, dapat dinilai sebagai tanaman ekonomis bila dapat diproses menjadi suatu barang jadi atau kerajinan.

Hasil penelitian Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Sumatera Utara di Danau Toba (2003) melaporkan bahwa satu batang eceng gondok dalam waktu 52 hari mampu berkembang seluas 1 ha, atau dalam waktu 1 tahun mampu menutup area seluas 7 ha. Heyne (1987) menyatakan bahwa dalam waktu 6 bulan pertumbuhan eceng gondok pada areal 1 ha dapat mencapai bobot basah sebesar 125 ton[2].

Kapasitas produksi pengolahan eceng gondok menjadi bahan baku kasar membutuhkan tenaga 2 orang, waktu kerja 7 jam perhari, dengan bahan baku eceng gondok yang diolah sebanyak 280 kilogram tangkai eceng gondok basah atau 8 kilogram eceng gondok kering perhari. Keuntungan yang diperoleh dengan kapasitas produksi tersebut sebesar Rp 16.400,- (sekitar 50%) perhari[3]

Saat ini fesyen, Kerajinan serta kuliner merupakan andalan ekspor ekonomi kreatif Indonesia. Data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menunjukkan bahwa ekspor fesyen Indonesia pada 2013 mencapai Rp 76,79 triliun, tumbuh 9 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah ini merupakan paling tinggi dibandingkan dengan sub sektor ekonomi kreatif lainnya[]. Kemenperin mencatat, nilai ekspor dari produk kriya nasional pada tahun 2017 mencapai USD 776 juta, naik dibandingkan tahun 2016 sebesar USD 747 juta.Sedangkan, jumlah industri kerajinan di Indonesia lebih dari 700 ribu unit usaha dengan menyerap tenaga kerja 1,32 juta orang[4].

Fesyen yang berada di angka 76.9 triliun Rupiah dan kerajinan yang berada di angka 21.7 triliun Rupiah merupakan potensi besar dimana perpaduan antara produk eceng gondok yang akan dijadikan produk tas eceng gondok. Potensi tersebut justru akan dapat mendobrak pasar untuk produk fesyen yang berasal dari eceng gondok untuk dapat mendobrak pasar internasional.

Untuk industri konveksi, Amerika Serikat merupakan pasar konveksi merupakan pasar utama , Data BPS mencatat nilai ekspor ke AS pada tahun 2019 mencapai 52,87 triliun rupiah[5].

Tentu saja kedua data tersebut sektor kerajinan dan fesyen mendapat potensi untuk  produk tas eceng gondok tersebut dapat menembus pasar internasional sehingga dapat memasuki pasar Amerika serikat dengan cepat. salah satunya produk tas dengan brand “Gendhis” yang dimulai oleh Ferry Yuliani pun berusaha mengeksplornya. Melalui label Gendhis Bag, ia membuat tas dari bahan eceng gondok. Tak disangka, tas produksi Ferry disukai bahkan diekspor hingga ke luar negeri[6].

Tinjauan Teoritis

Developing Strategies – Multinational strategy vs Global strategy

Multinational Strategy

Global Strategy

Sebuah konsep strategi yang digunakan oleh perusahaan multinasional yang meliputi menyesuaikan produknya, promosi, dan lingkup distribusinya berdasarkan dari latar belakang budaya, teknologi, karakteristik kedaerahan, dan perbedaan secara ideologi nasional.

Strategi yang digunakan oleh perusahaan multinasional dalam melakukan standardisasi produk sampai dengan aspek promosi dan distribusinya diterapkan dalam lingkup global (Entitas tunggal)

Sebuah konsep strategi yang digunakan oleh perusahaan multinasional yang meliputi menyesuaikan produknya, promosi, dan lingkup distribusinya berdasarkan dari latar belakang budaya, teknologi, karakteristik kedaerahan, dan perbedaan secara ideologi nasional.Strategi yang digunakan oleh perusahaan multinasional dalam melakukan standarisasi produk sampai dengan aspek promosi dan distribusinya diterapkan dalam lingkup global (Entitas tunggal)[7]

Sebagai praktisi bisnis sudah sepatutnya kita memahami konsep strategi multinasional dan strategi global. Sebelum menentukan strategi apa yang sesuai untuk bisnis yang akan kita lakukan , Tentunya diperlukan analisa yang berhubungan dengan potensi dan masalah apa saja yang muncul terkait dengan situasi industri pasar saat ini. Contoh cerita yang menarik dan cukup inspiratif kita ambil dari keberhasilan produk asli karya dalam negeri ekspor tas berbahan eceng gondok. Potensi industri tas di Indonesia dapat dikatakan pasar menggiurkan. Mengapa dikatakan menggiurkan? Dilihat dari aspek bahan baku kita tahu di Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumber daya alamnya oleh karena itu bahan baku untuk membuat tas sangat mudah ditemukan. Begitu juga peminat atau konsumen pecinta tas dari bahan baku alami  di Amerika sangat diminati dari keberagaman usia tua maupun muda. Hal itu dapat kita lihat dari banyaknya movement /komunitas pecinta lingkungan di negara Amerika. Eceng gondok yang tadinya bersifat hama/gulma dapat disulap menjadi produk tas yang berestetika dan memiliki nilai jual  yang tidak hanya di dalam negeri bahkan kancah mancanegara oleh Ferry Yuliani pencetus bisnis tas berbahan eceng gondok yang berdomisili di Jogja.

Think globally and act locally, Ungkapan yang sederhana namun sangat bermakna. Jika dikaitkan dengan bisnis tas berbahan aceng gondok ungkapan ini memiliki pengertian menerapkan konsep global strategy dalam melakukan standarisasi kualias produknya supaya dapat bersaing dan menunjukkan eksistensinya di kancah industri tas internasional. Selain itu juga menerapkan konsep multinational strategy dalam penyesuaian produk hingga cara  pemasarannya yang tetap merepresentatifkan keberagaman budaya Indonesia dan juga nilai-nilai ketimuran. 

Solusi

Salah satu produk hasil pengolahan Eceng Gondok adalah produk fashion yaitu Tas Wanita. Menjinjing tas bagi kaum hawa jika bepergian keluar rumah seakan sudah menjadi suatu keharusan. Dompet, HP samapai perlengkapan kosmetik yang tidak boleh tertinggal membutuhkan Tas sebagai wadahnya. Selain itu Tas juga berfungsi sebagai ajang bergaya ketika bersosialisasi dengan teman sejawat ataupun rekan kerja. Sehingga bentuk dan bahan tas kerap dinilai. Oleh karena itu para wanita kerap mencari tas yang unik namun tetap cantik, tas berbahan alami seperti Eceng Gondok tentu menjadi pilihan yang pas .

Gendhis Bag adalah salah satu merk Tas asli buatan Indonesia yang memproduksi Tas Wanita dengan bahan alami Eceng Gondok. Usaha yang dirintis sejak tahun 2002 oleh Ferry Yuliana di Sleman Yogyakarta tersebut telah dikenal di dalam negeri berkat strategy pemasaran yang memanfaatkan media sosial seperti Instagram, dan toko online seperti Sophee dan Tokopedia[8]. Karena keunikan produknya yang terbilang inovatif, kreasi Tas Gendhis telah menembus pasar Global. Beberapa gerai sudah dibangun di negara-negara tetangga seperti Selandia Baru dan Malaysia, serta mulai memberikan pasokan Tas ke negara maju seperti Italia, Jepang dan Amerika.

Sebagai produk yang handmade Gendhis Bag termasuk eksklusif. Setiap model hanya diproduksi 25 tas dengan rentang harga Rp.100.000 – Rp.1.000.000,- Bila dipesan khusus harga disesuaikan. Walaupun per tahun 2013 Gendhis baru mengirimkan 20% produknya ke pasar global sisanya untuk pasar lokal,  amun produk ini memiliki peluang cukup besar di pasaran global mengingat masyarakat dunia terlebih khusus negara-negara maju sangat mengapresiasi isu-isu back to nature, environmental friendly apalagi jika telah mengenal produk-produk yang mengusung isu-isu tersebut dengan kemasan yang fashionable..

Yang menjadi tantangan saat ini meskipun sudah memasuki pasar global sejak 2004, Gendhis baru sebatas sebagai pemasok untuk peritel yang menggunakan mereknya sendiri. Pasar internasional tidak mengenal Gendhis sebagai sebuah merek tas asal Indonesia. Perkembangan terakhir mengindikasikan bahwa Gendhis ingin ‘go global’ dengan mereknya sendiri, baik menggunakan “Gendhis” atau merek lain besutan Gendhis. Keinginan ini tentu bukannya tanpa tantangan dan Gendhis menyadari betul akan hal ini. Jika perusahaan akan tetap menggunakan merek “Gendhis”, maka isu yang akan muncul adalah apakah pasar dapat menerima merek tersebut atau tidak, mengingat selama ini Gendhis beredar di pasar internasional dengan ‘nebeng’ merek peritel lain.

Cara yang dapat ditawarkan apabila tetap ingin menggunakan merk Gendhis adalah mencari aliansi strategis di negara-negara besar yang dituju, misalnya pihak penyelenggara Fashion Week di pusat-pusat mode dunia yaitu Paris, Milan dan New York dengan mengadakan Peragaan Busana dan Aksesoris bertema Back to Nature atau Environmental Friendly. Selain itu penggunaan Brand Ambassador dengan mengusung pesohor Indonesia yang telah go international ataupun pesohor dunia yang memiliki perhatian lebih pada negara-negara berkembang, dapat dicoba untuk semakin mengenalkan produk asli Indonesia ini.

Sumber:

  1. https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/porsc1383/82-persen-sungai-di-indonesia-tercemar-dan-kritis
  2. http://eprints.polsri.ac.id/3319/3/3.%20BAB%20II.pdf
  3. https://media.neliti.com/media/publications/59067-ID-kajian-pengolahan-eceng-gondok-eichornia.pdf
  4. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/12/14/fesyen-andalah-ekspor-ekonomi-kreatif-indonesia
  5. https://kemenperin.go.id/artikel/19724/Menperin:-Industri-Kerajinan-Berpotensi-Sumbang-Ekspor-Besar
  6. https://wolipop.detik.com/work-and-money/d-3412339/cerita-ferry-yuliani-ekspor-tas-berbahan-eceng-gondok-hingga-ke-amerika]
  7. Business Foundations, A Changing World 11th Edition, by O. C. Ferrell, Geoffrey A. Hirt, Linda Ferrell
  8. https://m.detik.com/wolipop/work-and-money/d-3412339/cerita-ferry-yuliani-ekspor-tas-berbahan-eceng-gondok-hingga-ke-amerika

Ditulis oleh : Cherry Dewiyani Winter, Muhammad Alianur, Muhammad Iqbal Handewaputra, Wilma Aziza


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
3
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
2
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format