Jeneponto Daging Premium Desa Gunung Sinalu: Wagyu Beef a la Sulawesi Selatan

Sebuah solusi untuk keluar dari status desa tertinggal dengan produksi kualitas daging terdepan


11
11 points

Kabupaten Jeneponto menjadi daerah urutan pertama di Sulawesi Selatan karena memiliki desa tertinggal, hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kematian Ibu dan gizi buruk mencapai 71 kasus. Rendahnya angka harapan hidup 65,15, dan pendapatan yang dibawah standar. Kabupaten Jeneponto. Jeneponto terdiri dari 11 kecamatan, 31 kelurahan, dan 82 desa. Kabupaten Jeneponto memiliki luas wilayah 706,52 km2 dan jumlah penduduk sebesar 409.693 jiwa dengan sebaran penduduk 580 jiwa/km2. Berdasarkan parameter Indeks Desa Membangun Tahun 2015 yang diterbitkan oleh Kementerian  Desa Pembangunan Tertinggal dan Transmigrasi, terdapat ada empat desa tersebut dikategorikan desa tertinggal. Empat Desa di Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan, yaitu Desa Lebang Manai, Desa Lebang Manai Utara di Kecamatan Rumbia serta Desa Gunung Silanu dan Desa Marayoka Kecamatan Bangkala. Keempat desa tersebut dapat dijadikan fokus pengembangan pertanian dan peternakan untuk meningkatkan kesejahteraan Kabupaten Jeneponto.

Dilihat dari kondisi geografisnya desa-desa Kabupaten Jeneponto yang potensial berada pada kisaran ketinggian 800-1.000 mdpl, kondisi tersebut sangat strategis untuk pengembangan ekonomi masyarakat di bidang pertanian tanaman pangan dan hortikultura serta berbagai hewan ternak lainnya. Merupakan hal yang tepat jika kini 80% lebih masyarakat Kabupaten Jeneponto bekerja di bidang pertanian.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari hasil diskusi dengan masyarakat, penduduk yang bekerja di bidang pertanian sebagian besar dan hampir seluruhnya  menggarap lahan pertanian sendiri dan bukan sebagai petani penggarap. Selain itu sebagian besar dari petani tersebut memiliki hewan ternak berupa kambing, sapi kuda dan ayam buras. Hal tersebut selama ini mampu membangun ketahanan ekonomi  masyarakat dengan baik. Bahkan pada dua desa (Desa Gunung Silanu dan Desa Lebang Manai Utara) populasi ternak sapi pada masing-masing desa lebih dari 300 ekor dan sangat potensial untuk semakin dikembangkan[1].

Populasi ternak besar di kabupaten Jeneponto adalah sapi, kerbau, dan kuda. Pada tahun 2017, populasi ternak besar mengalami perubahan yaitu sapi meningkat 32.246 ekor, kuda bertambah menjadi 86.366 ekor, dan kerbau bertambah menjadi 3.937 ekor.

Sumber: Dinas Pertanian, Bidang Peternakan, Kabupaten Jeneponto.2017

Sapi-sapi yang dihasilkan di Desa Jeneponto, adalah sapi pedaging yang dapat dimanfaatkan dagingnya sebagai makanan. Ternak sapi potong menjadi salah satu sumber daya penghasil makanan berupa daging yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan penting artinya di dalam kehidupan masyarakat. Ternak sapi bisa menghasilkan berbagai macam produk, terutama sebagai bahan pangan berupa daging, di samping hasil lainya seperti pupuk kandang, kulit, tulang, dan lain sebagainya. Dengan adanya pengarahan kepada para peternak sapi, para peternak dapat menghasilkan sapi-sapi pedaging dengan kualitas tinggi, yang dapat mewakili baik Wilayah maupun Negara untuk bersaing dengan daging-daging sapi Mancanegara.

Selain pertanian dan peternakan yang merupakan potensi dari desa-desa tersebut, secara sosio cultural masyarakat juga mempunyai potensi berupa ikatan kekerabatan yang masih kuat. Masih berkembangnya kearifan lokal seperti gotong royong  juga sangat mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat. Data memperkuat kami untuk membuat ide gila adalah membuat Desa Gunung Silanu menjadi tempat yang berpotensi peternakan sapi potong terbaik dan berkualitas di Kecamatan Jeneponto.

Masalah yang dialami oleh Masyarakat Desa Silanu

Potensi yang dimiliki masyarakat Desa Gunung Silanu memang besar namun demikian masyarakat masih mempunyai masalah yang dihadapi dan menghambat pengembangan potensi daerah diantaranya:

  1. Sebagian besar petani tidak mempunyai modal awal untuk investasi pertanian.
  2. Petani terpaksa menjual hasil panen dengan sistem ijon.
  3. Masyarakat masih mengandalkan alat-alat pertanian serta sistem pertanian yang tradisional sehingga hasil panen tidak optimal.
  4. Ketersediaan air yang masih tergantung pada musim, padahal potensi sumberdaya alam seperti air terjun dan mata air tersedia dan sangat memungkinkan untuk dibuat sarana pengairan.
  5. Belum ada toko pertanian di desa.
  6. Belum ada keinginan petani melakukan sistem peternakan modern, bahkan kendang-kandang sapi/kuda berada di kolong-kolong rumah penduduk, bersatu dengan tempat tinggal mereka.

Permasalahan ini bisa diatasi dengan mengolah potensi utama desa yaitu pengembangan peternakan sapi potong, sistem sociopreneurship yang melibatkan kerjasama seluruh lapisan masyarakat dan memasang patokan kualitas produksi komoditas utama yaitu daging potong yang berstandar dunia.

Jeneponto Beef Dengan Strategi Wagyu Beef

Wagyu Beef merupakan komoditi yang digadang-gadang akan menjadi “kiblat”dari industri makanan dan minuman khususnya sektor olahan daging steak dan smokehouse. Wagyu sendiri berasal dari bahasa jepang Wa yang artinya Jepang dan Gyu  yang artinya daging.

Sapi Wagyu pada awalnya merupakan persilangan sapi asli Jepang dengan peranakan sapi impor yang dimulai di tahun 1868. Sapi Wagyu sendiri awalnya merupakan sapi yang memang ditujukan untuk tujuan bercocok tanam karena ketahanan fisik mereka yang memiliki sel lemak antar otot lebih banyak yang biasa disebut “marbling” yang mana menjadi sumber penyedia energi yang lebih dibandingkan dengan sapi lain pada umumnya. Sapi yang bisa dikategorikan sebagai sapi Wagyu memiliki ciri bertanduk dan berwarna hitam ataupun merah[2].

ntuk meningkatkan kualitas daging sapi Jeneponto peternak perlu memahami standar kualitas daging dunia. Kualitas daging dapat ditinjau dari profil sebaran lemak di antara serat daging (marbling) dan warnanya. Profil marbling yang padat akan menghasilkan daging yang kaya akan tekstur dan rasa sehingga kualitasnya lebih tinggi dibandingkan daging dengan profil marbling yang jarang. Sedangkan untuk warna, daging dengan warna merah cerah seperti buah ceri memiliki kualitas yang lebih tinggi daripada yang gelap maupun memiliki warna yang pudar. Warna daging dipengaruhi oleh tingkat kesegarannya, meski demikian daging yang dibekukan belum tentu berkualitas buruk hanya karena perubahan warna yang menjadi lebih gelap dan pudar. Daging yang berkualitas rendah ditandai dengan bau, tekstur yang lengket, dan berlendir. Terdapat empat klasifikasi kualitas daging sapi yang diterapkan oleh Premier Proteins (perusahan industri daging yang menerapkan kualitas tinggi dari Japan Beef Marbling Score dan USDA). Klasifikasi tersebut dapat ditilik dari gambar berikut:

Sumber: https://premierproteins.com/beef/attachment/understanding-the-grades-2/
 

Kolaborasi bersama menciptakan Jeneponto Beef

Melihat potensi dari desa Jeneponto yang masih memiliki banyak kekayaan alam, khususnya peternakan sapi mereka, pemerintah provinsi Sulawesi Selatan dapat membantu desa Jeneponto untuk mendorong pembentukan model sociopreneurship bersama perusahaan industri daging yang telah berkembang di Indonesia.

Telah terdapat beberapa perusahaan di Indonesia yang sudah menjalani bisnis di industri makanan dan minuman dengan baik dan sudah mendapatkan kepercayaan konsumen. Beberapa diantaranya adalah PT Indoguna Utama, PT Cisarua Mountain Dairy, dan PT Santosa Agrindo (Santori). Ketiga perusahaan ini memiliki fokus produksi yang berbeda-beda. PT Indoguna Utama berfokus pada produksi daging sapi kualitas terbaik seperti Greater Omaha untuk daging sapi USA, Greenlea untuk daging sapi New Zealand, Hunter Valley untuk daging sapi Australia, dan masih ada beberapa merek daging sapi lainnya; PT Cisarua Mountain Dairy berfokus pada pembudidayaan sapi perah, sapi potong dan wisata produksi on farm; sedangkan PT Santosa Agrindo (Santori) berfokus pada operator sapi potong dan merupakan yang terbesar di Indonesia. Perusahaan ini dibangun sejak 1993 dan kini memiliki tiga unit pemotongan sapi gemuk di Lampung dan Jawa Timur. Santori memiliki produk unggulan berupa Tokuzen Wagyu Beef dan  Santori Prime Quality beef[3].

Dengan menghubungkan setidaknya tiga perusahaan tersebut untuk berkolaborasi dengan masyarakat Jeneponto bukan tidak mungkin Jeneponto Beef dapat diwujudkan. Program joint venture dapat dilakukan misalnya dengan skema berikut: PT Indoguna Utama, Santori dan PT Cisarua Mountain Dairy untuk melakukan penyuluhan, dan pelatihan sumber daya manusia tentang industri daging dan membantu pemasarannya, seperti bagaimana menciptakan lingkungan yang aman dan juga nyaman untuk seekor sapi agar sapi-sapi tersebut dapat menghasilkan daging, susu, ataupun produk hasil olahan sapi lainnya yang berkualitas tinggi. Kemudian membantu penyusunan rencana pengembangan lokasi wisata layaknya Cimory on the Valley yang menonjolkan sapi pedaging sebagai unit sales production mereka. Dengan demikian kita mengharapkan langkah tersebut dapat menjadi salah satu jalan bagi desa Jeneponto untuk menjadi desa mandiri yang dapat menarik pengunjung kelas nasional atau bahkan internasional sehingga desa Jeneponto dapat berkembang dan meninggalkan status sebagai salah satu desa tertinggal di Indonesia. Selain melakukan joint venture dengan PT. Cisarua Mountain Dairy, pemerintah provinsi Sulawesi Selatan dapat membantu desa Jeneponto untuk dapat mendirikan kerjasama koperasi dengan mendatangkan beberapa peternak sapi Wagyu yang berasal dari Jepang, Korea, ataupun Australia dengan harapan Indonesia dapat mengembang biakan peranakan sapi baru sekelas sapi wagyu milik Jepang yang bisa membuat Indonesia tidak kalah saing dalam persaingan kualitas daging sapi dengan daging sapi wagyu dari perfektur Kobe di Jepang ataupun daging sapi angus yang berasal dari Australia.

Peran Wirausaha Sosial Dalam Menangani Desa Tertinggal

Merujuk pada permasalahan di atas, hal ini kemudian mendorong berbagai elemen masyarakat untuk berperan aktif membantu pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan pembangunan pertanian, kemiskinan, dan kesejahteraan petani. Peranan itu hadir dalam berbagai bentuk praktik dan gerakan dalam menyelesaikan permasalahan sosial secara mandiri, memenuhi kebutuhannya dengan berbagai upayanya sendiri dan menciptakan perubahan sosial masyarakat.

Seorang wirausaha sosial dapat melihat masalah sebagai peluang untuk membentuk sebuah model bisnis yang bermanfaat bagi pemberdayaan masyarakat sekitar. Hasil yang ingin dicapai bukan hanya keuntungan materi atau kepuasan konsumen, melainkan bagaimana gagasan yang diajukan dapat memberikan dampak baik dan turut membangun masyarakat. Wirausaha sosial juga dapat berperan dalam perekonomian di suatu desa dengan meningkatkan pendapatan masyarakat, meningkatkan produktivitas nasional, dan mengombinasikan faktor-faktor produksi.

Usaha ternak sapi potong di Kabupaten Jeneponto sebagian besar masih dikelola oleh masyarakat secara tradisional. Rendahnya pengetahuan dan wawasan peternak serta kurangnya motivasi untuk mengembangkan pengetahuan dan usahanya sangat berpengaruh. Perlunya mengadakan program penyuluhan dan pelatihan dalam membantu petani peternak di Desa Silanu untuk membangun badan usaha kelas internasional yang mandiri.

Sumber: Akun Instagram @instajeneponto_

Seperti yang pernah dilakukan oleh salah satu  kewirausahaan sosial yang bergerak pada bidang pertanian di Yogyakarta adalah Agradaya yang berdiri pada tahun 2014. Agradaya diinisiasi oleh dua pasangan muda yaitu Andhika Mahardika dan Asri Saraswati. Mereka menerapkan praktik wirausaha sosial / socialpreneur. Tujuan dalam mendirikan Agradaya adalah mengembangkan sumber daya desa di sektor pangan dan pertanian. Agradaya melakukan pemberdayaan terhadap petani guna meningkatkan penghasilan petani yang dalam jangka panjang akan meningkatkan kesejahteraan petani.di Yogyakarta memiliki visi, misi dan nilai-nilai organisasi yang menjadi pedoman bagi social enterprise untuk melaksanakan kegiatannya. Penentuan ketiga nilai tersebut harus memprioritaskan kebermanfaatan bagi masyarakat. Praktik kewirausahaan Agradaya memiliki tujuan mengembangkan sumber daya desa di sektor pangan dan pertanian. Agradaya memberikan edukasi dan pelatihan secara langsung kepada petani. Edukasi pertanian alami diharapkan dapat meningkatan hasil pertanian. Pada edukasi dan pelatihannya, Agradaya bekerjasama dengan pihak mitra yang lebih memahami mengenai masalah pertanian alami.

Model social entrepreneurship yang diadaptasi oleh Agradaya adalah model bisnis sosial. Model kewirausahaan ini mengkombinasikan antara bentuk bisnis profit dan nonprofit. Fokus dari model bisnis ini adalah mengolah sinergi dari transfer kemampuan, pengetahuan, dan praktiknya dalam bisnis sehingga berdampak secara umum. Model kewirausahaan ini mengidentifikasi partisipasi dan struktur kelembagaan yang menawarkan solusi inovatif. Pada Agradaya yang dilakukan adalah menjalankan usaha bersama dengan masyarakat dengan profit bagi hasil (profit sharing). Profit sharing dilakukan dengan memberikan hasil selisih penjualan petani kepada Agradaya. Profit sharing yang dilakukan bukan hanya melihat pendapatan meningkat, tapi lebih kepada perubahan yang terjadi[4].

Dari Desa Gunung Silanu untuk Jeneponto Beef di Masa Mendatang

Sumber: Tim kreatif Miracle Worker

 Tujuan pembangunan subsektor peternakan adalah mengoptimalkan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya manusia (SDM) peternakan secara berkesinambungan, meningkatkan pendapatan peternak, meningkatkan produksi bahan pangan asal sapi, menciptakan rasa aman bagi masyarakat veteriner serta meningkatkan kualitas SDM peternakan. Melihat potensi SDA dan SDM di bidang peternakan belum dimanfaatkan secara maksimal. Oleh karena itu perlu peran wirausaha sosial dalam menyelesaikan permasalahan sosial dengan kegiatan kewirausahaan.  Ide gila kami adalah mendorong Desa Silanu, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto menjadi penghasil Jeneponto Beef yang berkualitas dan juga menjadi tempat ternak sapi potong terbaik. Dengan menawarkan kerjasama untuk meningkatkan pendapatan petani dengan melakukan pengolahan produk hasil peternakan sapi potong. Semua dimulai dari proses awal yaitu, memberikan edukasi dan pelatihan peternakan sapi potong menjadi berkualitas.

Sumber

[1] http://samarinda.lan.go.id/2017/10/21/menggali-potensi-inovasi-pada-desa-desa-tertinggal-di-kabupaten-jeneponto/

[2] https://www.bbc.com/news/uk-scotland-scotland-business-23482356

[3] https://m.detik.com/food/berita-boga/d-2157720/inilah-sepak-terjang-pt-indoguna-utama-di-industri-makanan-impor

[4] Jurnal Studi Pemuda Volume 7 Nomor 2 tahun 2018


Like it? Share with your friends!

11
11 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
6
Love
OMG OMG
3
OMG
Win Win
7
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format