Miliki Potensi, Lombonga Siap Tinggalkan Titel Desa Tertinggal

Sebagai desa yang memiliki potensi alam menarik, Desa Lombonga justru termasuk dalam kategori desa tertinggal. Melalui BUMDes berbagai upaya pun siap dilakukan.


9
9 points

Sumber gambar: Nusantaranews.co

Indonesia merupakan sebuah negara yang terdiri dari begitu banyak Pulau. Mulai dari Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Bali, Pulau Lombok, Pulau Sulawesi dan pulau-pulau lainnya. Wilaya Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau juga terbagi menjadi 34 provinsi. Masing-masing daerah provinsi terbagi menjadi kabupaten, kecamatan, dan desa. Perkembangan dari masing-masing desa di Indonesia tidaklah sama, ada yang masuk ke dalam kategori desa tertinggal dan juga desa berkembang.

Sebuah desa dikategorikan sebagai desa tertinggal ketika belum dapat memenuhi keseluruhan aspek, seperti: aspek ekonomi yang meliputi kemiskinan dan pengeluaran serta pendapatan perkapita, aspek sumber daya manusia yang mencakup beberapa hal seperti angka harapan hidup, aspek fiskal dari desa tersebut, aspek pendidikan dan kesehatan serta aspek dari infrastruktur untuk membantu akses dari desa ke daerah-daerah atau kota-kota lain.

Menurut data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia (kemendesa.go.id) suatu daerah dapat masuk ke dalam kategori desa tertinggal jika pendapatan perkapita daerah tersebut di bawah $2 per hari. Pengembangan desa tertinggal menjadi desa berkembang dapat dilakukan dengan beberapa hal, contohnya dengan mengembangkan kegiatan ekonomi melalui perkebunan, peternakan dan lain-lain. Selain itu desa atau daerah yang memiliki keindahan alam yang menarik dapat meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pariwisata.

Dari begitu banyaknya desa tertinggal di Indonesia, ada sebuah desa yang menarik perhatian penulis yaitu sebuah desa di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah yang bernama Desa Lombonga. Desa Lombonga merupakan desa yang tertinggal, namun desa ini memiliki beberapa potensi wisata karena keindahan alamnya yaitu pantai. Sayangnya, Desa Lombanga belum terjamah oleh banyak warga Indonesia bahkan warga Sulawesi sendiri. 

               

                   (Sumber: Doc Pribadi)                                                  (Sumber: Doc Pribadi)

Informasi mengenai wilayah Desa Lombonga pun masih sangat terbatas, sehingga sulit bagi para wisatawan mengakses informasi terkait desa tersebut. Akses dari desa menuju pantai-pantai yang indah juga belum diketahui oleh banyak wisatawan dikarenakan informasi yang sangat minim. Selain itu, tour and travel di Desa Lombonga juga belum banyak, sehingga belum terdapat day trip menuju pantai karena masih minimnya permintaan. Penginapan di pesisir pantai juga masih belum tersedia, sebab pengembangan wisata belum ada. Hal ini dikarenakan para investor belum berani melakukan investasi yang cukup untuk membuat penginapan di sekitaran pantai. 

Agar potensi Desa Lombonga dapat dimanfaatkan, dan titel desa tertinggal bisa berganti menjadi desa berkembang, dapat dilakukan dengan mengembangkan potensi alam pantai di Desa Lombonga. Melalui keindahan pantai Desa Lombonga yang masih asri dan bersih karena belum begitu banyak dikunjungi oleh wisatawan dapat menjadi poin menguntungkan dalam mengembangkan pariwisata ini. Selain itu, akses jalan Desa Lombonga juga sudah cukup baik dan layak untuk dilewati kendaraan karena sudah beraspal. Maka dari itu diperlukan berbagai pertimbangan, seperti saran, untuk menjadikan Desa Lombonga sebagai salah satu tujuan wisata pantai yang terletak di Kecamatan Donggala, Sulawesi Tengah. Ketika Desa Lombonga sudah dapat mengembangkan potensi pariwisatanya, harapannya Desa Lombonga akan bebas dari kategori desa tertinggal. 

Pariwisata memang merupakan salah satu cara untuk mengangkat perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan potensi-potensi yang dimiliki dari suatu desa atau daerah. Seperti halnya Desa Lombonga memiliki potensi-potensi wisata yang harapannya bisa dikembangkan untuk pengembangan desa tersebut. Dalam proses memanfaatkan potensi dan pengembangan, masyarakat sekitar merupakan bagian penting dari proses itu sendiri. Masyarakat sekitar selain menjadi tuan rumah juga sebagai agen perubahan bagi desa mereka sendiri. Maka dari itu pengembangan desa dilakukan oleh masyarakat dan untuk masyarakat.

Dilihat dari potensi yang dimiliki, Desa Lombonga memiliki potensi untuk mengembangkan pesisir pantai yang dimiliki sebagai tujuan wisata. Sebelum mengembangkan potensinya terdapat 3 aspek yang perlu diperhatikan terlebih dahulu yaitu 3A Atraksi, Aksesibilitas, dan Amenitas. 

Atraksi Wisata merupakan suatu hal yang dapat menarik wisatawan untuk datang seperti Pertunjukkan, Pemandangan, maupun kegiatan-kegiatan yang baik itu melibatkan wisatawan secara langsung maupun tidak. Desa Lombonga memiliki potensi yang nantinya bisa dikembangkan sebagai Atraksi Wisata seperti pesisir pantai, kegiatan snorkeling, dan observasi bintang. Lokasi desa yang berada di pesisir pantai menjadikan Desa Lombonga memiliki daya tarik wisata berupa pemandangan dan aktivitas bahari. Selain itu Desa Lombonga juga memiliki keindahan laut yang tidak kalah indahnya terutama untuk menunjang kegiatan wisata. Bermacam-macam biota laut dan terumbu karang melengkapi keindahan bawah laut di Desa Lombonga.

Selain Atraksi, terdapat aspek yang tidak kalah pentingnya yaitu aspek Aksesibilitas. Aspek ini memengaruhi mudah tidaknya wisatawan mencapai tempat wisata yang dituju. Untuk menuju desa, wisatawan bisa menggunakan kendaraan pribadi yang jarak tempuh dari bandara ke tujuan wisata berkisar dua jam tiga puluh menit. Jalan yang dilalui merupakan jalan provinsi sehingga jalan tersebut sudah sangat layak untuk dilalui.

Amenitas merupakan fasilitas-fasilitas pendukung kegiatan wisata seperti toilet, restoran, dan penginapan. Dalam aspek ini, Desa Lombonga belum menjadi daerah tujuan wisata maka fasilitas-fasilitas penunjang untuk wisata belum ada. Oleh karena itu kedepannya jika desa ini dikembangkan, fasilitas-fasilitas tersebut perlu untuk dikembangkan juga.

Dalam proses pengembangannya, Desa Lombonga memerlukan bentuk usaha yang sesuai mengikuti peraturan yang ada. Bentuk usaha yang bisa digunakan yaitu BUMDes, sebab BUMDes merupakan lembaga usaha desa yang dikelola oleh masyarakat dan pemerintah desa itu sendiri yang bertujuan untuk memperkuat ekonomi desa setempat. BUMDes merupakan pilar kegiatan ekonomi di desa yang mempunyai beberapa peran yaitu sebagai lembaga sosial (social institution) dan lembaga komersial (commercial institution). BUMDes berperan sebagai lembaga sosial tujuan untuk berpihak pada kepentingan masyarakat melalui kontribusinya dalam penyediaan pelayanan sosial. Sedangkan sebagai lembaga komersial bertujuan mencari keuntungan melalui sumber daya lokal kepada pasar.

Adapun perbedaan BUMDes dengan lembaga komersial lainnya antara lain permodalan untuk operasional awal diperoleh dari kerjasama antara dua belah pihak yaitu pemerintah desa dan masyarakat. Adapun pembagian permodalannya yaitu 51 % diperoleh dari dana desa dan 49% lainnya diperoleh dari masyarakat. Untuk operasional hariannya, BUMDes menggunakan falsafah bisnis yang berakar dari budaya lokal. Keuntungan yang diperoleh pun digunakan untuk meningkatkan fasilitas, kesejahteraan anggota pemodal, dan juga masyarakat melalui kebijakan desa. 

BUMDes juga diatur pada beberapa undang-undang antara lain UU 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah pasal 213 Ayat 3 yaitu BUMDes harus bersumber dari masyarakat dan untuk masyarakat. Walaupun tidak menutup kemungkinan BUMDes dapat mengajukan pinjaman modal kepada pihak luar, seperti dari pemerintah desa atau pihak lain. Penjelasan ini sangat penting untuk mempersiapkan pendirian BUMDes, karena implikasinya akan bersentuhan dengan Peraturan Daerah (Perda) maupun Peraturan Desa (Perdes). 

Regulasi mengenai Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) tercantum dalam Undang-Undang No. 6 tahun 2014.  Sedangkan definisi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) tercantum dalam Pasal 1 yaitu badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan desa yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan dan usaha lainya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat daerah. Dalam pasal 8 Undang-Undang No. 6 tahun 2014 BUMDES diterangkan bahwa unit usaha BUMDes dapat meliputi:

a.   Perseroan Terbatas (PT) sebagai persekutuan modal yang dibentuk berdasarkan perjanjian dan melakukan kegiatan usaha dengan modal yang sebagian besar dimiliki oleh BUMDes, sesuai dengan peraturan perundang-undangan tentang Perseroan Terbatas.

b.   Lembaga Keuangan Mikro dengan andil BUMDes sebesar enam puluh persen, sesuai dengan peraturan perundang-undangan tentang lembaga keuangan mikro.

Berdasarkan pasal 88 ayat 1 Undang-Undang No. 6 tahun 2014 dijelaskan bahwa Pendirian Badan Usaha Milik Desa ini disepakati melalui musyawarah Desa. Berdasarkan pasal 87 ayat 2 Undang-Undang No. 6 tahun 2014 dijelaskan bahwa Badan Usaha Milik Desa ini dapat dikelola dengan semangat kekeluargaan dan gotong royong. Masyarakat dan pihak desa dapat bergotong royong untuk dapat memaksimalkan potensi yang ada di dalam desanya baik potensi ekonomi, kelembagaan perekonomian, serta potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia sehingga potensi yang ada di desa dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga akan berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat di desa. 

Maka, untuk dapat mengembangkan Desa Lombonga sebagai tujuan wisata di daerah Sulawesi Tengah dibutuhkan bentuk usaha BUMDes. Keberadaan BUMDes nantinya dapat memberikan dampak positif di masyarakat Desa Lombonga. Sebagai desa yang masih masuk sebagai kategori desa tertinggal, bentuk usaha ini merupakan bentuk yang paling menguntungkan dari segi ekonomi untuk masyarakat sekitar. Sebab berbagai urusan pembangunan desa akan diupayakan oleh desa itu sendiri tanpa bergantung pada pemerintah di atasnya. Jika sebelumnya masyarakat kurang aktif dalam membangun desa, karena menggunakan sistem kekeluargaan dan gotong royong, dapat meningkatkan produktivitas masyarakat setempat. Partisipasi ini juga berdampak pada semakin berkurangnya pengangguran di daerah tersebut. Sehingga tidak hanya berkutat pada mata pencaharian nelayan, ataupun bertani tetapi juga membuka lowongan kerja lainnya. Melalui BUMDes, berbagai fasilitas untuk masyarakat nantinya juga akan tersedia dengan baik karena sifat BUMDes yang memang dari masyarakat untuk masyarakat. Ketika fasilitas sudah berjalan dengan baik, tentu akan berpengaruh pada sektor wisata setempat. Adanya aturan keuntungan dalam sektor usaha yang nantinya akan dikembalikan dan digunakan untuk kepentingan masyarakat juga menjadi salah satu alasan pentingnya BUMDes bagi Desa Lombonga.

Setelah terbentuknya BUMDes, usaha yang bisa dilakukan oleh Desa Lombonga adalah dengan mengembangkan potensi pantai dan kekayaan alam setempat menjadi salah satu tujuan wisata. Seperti halnya Desa Senggigi di daerah Lombok yang telah berhasil memanfaatkan potensi alamnya yaitu pantai sebagai tempat pariwisata. Pariwisata Desa Senggigi dalam hal ini bisa menjadi contoh untuk Desa Lombonga dalam mengembangkan beberapa fasilitas yang pendukung pariwisata di sana. 

Pariwisata menurut Mathieson & Wall (1982) adalah kegiatan perpindahan orang untuk sementara waktu dari tempat tinggal dan tempat kerjanya menuju ke suatu destinasi dan melaksanakan kegiatan selama di destinasi dan penyiapan fasilitas-fasilitas untuk memenuhi kebutuhan mereka. Melakukan wisata bukan hanya melakukan perjalanan yang singkat, namun juga bisa dalam jangka waktu beberapa hari sehingga harus dilakukan pembangunan fasilitas yang bisa mendukung pariwisata, seperti penginapan, rumah makan, tempat penjualan souvenir, dan juga kegiatan-kegiatan yang menarik yang bisa dilakukan selama melakukan wisata. Seperti pada Desa Senggigi, sudah terdapat hotel dan penginapan yang berada di pesisir pantai. Kemudian pada Desa Lombonga bisa dilakukan hal serupa, seperti membangun sebuah homestay yang dikelola oleh perorangan (sole proprietorship) ataupun BUMDes. Sebuah penginapan atau homestay bisa menjadi pilihan wisatawan yang ingin menikmati pantai dalam jangka waktu yang cukup lama. Selain homestay, pihak BUMDes juga harus menyediakan fasilitas umum seperti toilet umum dan tempat ibadah. Jika menilik Desa Senggigi, keberadaan fasilitas umum ini sudah tidak diragukan lagi keberadaannya. Fasilitas ini menjadi salah faktor utama demi mendukung terbentuknya daerah wisata di Desa Lombonga. 

Selain homestay, toilet umum, dan tempat ibadah, pihak BUMDes juga dapat mencoba membangun kesadaran masyarakat dengan membangun fasilitas seperti tempat makan. Tempat atau warung makan ini salah satu fasilitas penting bagi sebuah tempat wisata pantai. Ketika tempat atau warung makan tidak tersedia, maka para wisatawan akan berpikir ulang untuk berkunjung ke tempat tersebut. Maka dari itu, BUMDes melalui karang tarunanya dapat menggerakkan masyarakat Desa Lombonga dengan membuka warung makan. Seperti halnya dalam wisata Senggigi di Desa Senggigi dimana melalui karang tarunanya, mereka mencetuskan “Sensasi Senggigi”. Sebuah gerakan inovasi untuk membangun pantai Senggigi, salah satunya dengan mendirikan tempat makan berkonsep “modern”. Selain menjual makanan dan minuman, konsep ini juga menyediakan beberapa fasilitas seperti peminjaman buku. Sehingga tidak hanya makan dan minuman, tetapi wisatawan juga disuguhkan sarana agar dapat menikmati keindahan pantai. 

Untuk pantai Lombonga dapat memulai mendirikan tempat makan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada seperti ikan ikan-an. Dengan mata pencaharian utama adalah nelayan, keadaan ini justru menjadi simbiosis mutualisme untuk warga masyarakat Lombonga. Sebab masyarakat Lombonga dapat lebih mudah mengoperasikan tempat makan tersebut. Kedepannya ketika sudah mulai terbentuk beberapa warung makan, BUMDes dapat bekerja sama dengan karang taruna untuk mencoba membangun “Sensasi Senggigi” kedua yaitu “Sensasi Lombonga”. Selain puas mendapatkan makanan, melalui konsep ini, wisatawan juga puas dengan suasana yang disajikan. Sehingga tidak hanya berfokus pada makanan, akan tetapi juga bagaimana menyediakan tempat makan yang nyaman. Dalam hal ini yaitu menyediakan tempat makan dimana wisatawan dapat bersantai selagi menikmati sunset atau sunrise.  

(sumber: radar lombok.co.id) 

Untuk semakin menambah daya tarik wisata pantai Lombonga, BUMDes juga dapat menggiatkan masyarakat Desa Lombonga dengan mendirikan toko souvenir. Agar pendirian ini tidak mengurangi keindahan wisata pantai maka dibutuhkan aturan dari BUMDEs, misalnya didirikan di satu tempat tertentu yang memang khusus untuk toko souvenir. Sehingga tidak hanya menambah daya tarik wisata pantai, nantinya keberadaan toko souvenir juga dapat meningkatkan perekonomian desa tersebut. Guna menarik para wisatawan, souvenir dapat berupa kekayaan alam khas Desa Lombonga seperti virgin coconut oil atau yang bisa disebut minyak kelapa murni. Pohon kelapa yang masih banyak ditemui di daerah desa Lombonga dapat menjadi sumber bahan utama untuk souvenir. Banyaknya manfaat pohon kelapa menjadi keuntungan untuk Desa Lombonga, sehingga tidak hanya virgin coconut oil, tetapi juga berbagai kerajinan tangan seperti tas, gantungan kunci, hingga mainan anak-anak. 

Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas seperti dapat membeli souvenir khas Desa Lombonga, perusahaan-perusahaan BUMDes juga dapat mendirikan hal-hal yang pada umumnya ada di sebuah pantai wisata untuk para wisatawan atau turis, yaitu snorkeling. Karena pantai di Desa Lombonga ini terdapat banyak terumbu karang alami yang belum tersentuh oleh tangan-tangan manusia. Dimana para wisatawan akan disuguhkan dengan banyaknya terumbu karang yang unik dari saat berangkat dari tepi bibir pantai sampai di tempat tujuan snorkeling. Adapun pantai lainnya yang bisa dikunjungi oleh para wisatawan atau turis yang ingin menikmati indahnya sunset di sore hari, dimana pantai dapat dicapai dengan menggunakan perahu nelayan selama lima hingga sepuluh menit untuk sampai ke pantai tersebut, bisa juga menggunakan jalur darat tetapi jalan yang dilalui tidaklah memadai untuk kendaraan-kendaraan pada umumnya.

(Sumber: Doc. Pribadi)

Dan hal lainnya yang dapat dilakukan oleh para turis atau wisatawan yang sedang berkunjung dan berniat untuk menginap di desa Lombonga dapat melakukan observasi bintang atau stargazing di malam hari, dikarenakan masih sedikitnya polusi cahaya di daerah tersebut. Hal ini cocok untuk para fotografer yang berniat untuk melakukan night photography. Oleh karena itu, hal-hal atraktif yang telah disebutkan diatas dapat dimaksimalkan oleh warga sekitar desa Lombonga dan juga BUMDes, untuk meningkatkan perputaran uang dan juga perekonomian daerah mereka. Dikarenakan dengan datangnya turis atau wisatawan pasti orang-orang tersebut juga akan membawa uang yang akan menjalankan roda bisnis atau ekonomi di daerah tersebut.

Kontributor: Kelompok Gone With The Win

(Briyan Reynaldo D. Iddo, Hafiz Syahreva A., Ivana Elysia Sinarso, Kartika Natasha DH, Maulana Riski N, Muhammad Ali Rois, Richard Chandra)

Daftar Pustaka:

Alister, Mathieson dan Goffrey Wall. 1928. Tourism: Economy, Phsycal dan Social Impact. New York:Longchamp Limited. 

Laman Resmi Kementerian Desa. 12 November 2009. Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia. Terarsip dalam https://www.kemendesa.go.id/view/detil/948/pendapatan-per-kapita-daerah-tertinggal-ditargetkan-us-2. Diakses Pada 3 September 2019. 

Laman Resmi Pemerintah Kabupaten Buleleng. 8 Agustus 2017. Memahami Dan Mengerti : Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Terarsip dalam https://bulelengkab.go.id/detail/artikel/memahami-dan-mengerti-badan-usaha-milik-desa-bumdes-45. Diakses pada 4 September 2019.

Laman Resmi Republika. 29 April 2015. Kriteria Desa Tertinggal Diperbarui. Terarsip dalam https://www.republika.co.id/berita/koran/ekonomi-koran/15/04/29/nnk0o613-kriteria-desa-tertinggal-diperbarui. Diakses Pada 3 September 2019. 

Zulfahmi. 19 Juni 2019. “Sensasi Senggigi”, Cara Pemuda Hidupkan Pariwisata Senggigi. Terarsip dalam https://radarlombok.co.id/sensasi-senggigi-cara-pemuda-hidupkan-pariwisata-senggigi.html. Diakses pada 4 September 2019.

Gambar: 

Sulaiman, Achmad. 14 oktober 2017. Telaah Peta Politik Ideologis Indonesia Mutakhir. Terarsip dalam https://nusantaranews.co/telaah-peta-politik-ideologis-indonesia-mutakhir/. Diakses pada 3 September 2019. 

Video:

https://www.youtube.com/watch?v=-aDmvpizmkk


Like it? Share with your friends!

9
9 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
8
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
6
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format