Konten Buruk Youtube Mengalahkan Konten Baik. Bagaimana bisa?


3
3 points

Youtube merupakan salah satu platform streaming yang paling diminati saat ini saat ini. Tak terkecuali di Negara Indonesia. Penonton televisi mulai beralih menggunakan Youtube. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian, perbandingan antara jumlah penonton televisi dengan Youtube adalah 57 persen dan 53 persen[i]. Dengan kata lain, selisih penonton dari masing-masing sarana hanya empat persen. Jumlah pengguna Youtube yang bertambah juga diikuti dengan meningkatnya jumlah content creator Indonesia. Hampir setengah content creator di dunia berasal dari Indonesia. Baik penikmat maupun creator Indonesia didominasi usia muda dengan rata-rata usia 15 sampai dengan 30 tahun[ii].  Youtube menjadi sarana mendapatkan informasi baru, sekaligus tempat mencari siaran ulang televisi yang tidak sempat ditonton oleh pengguna.

Menariknya, konten terbanyak dilihat oleh masyarakat Indonesia adalah konten hiburan yang tidak memiliki manfaat. Penonton yang begitu banyak terhadap konten ini membuat para content creator seakan-akan belomba-lomba mengupload konten serupa. Katakan saja video prank yang dilakukan oleh Youtuber SAAIHALILINTAR dengan judul “Beli 3000 TELOR Untuk BALES PRANK BANG ATTA HALILINTAR **diamarah-marah**” mencapai total viewers sepuluh juta. 

Secara keseluruhan video ini menceritakan pembalasan prank oleh Youtuber Saai Halilintar kepada kakaknya yang bernama Atta Halilintar. Video murni berisi hiburan dengan isi video dari proses pembelian telur di supermarket hingga meletakkan telur tersebut di kamar tidur Atta Halilintar. Video prank ini terus berkelanjutan diantara kedua Youtuber tersebut. Konten saling balas-membalas prank ini memiliki banyak peminat dengan rentang penonton lima sampai sepuluh juta penonton per video. Tentu bukan jumlah yang sedikit.

Selain video prank, konten receh tak kalah sepi peminat. Youtuber gaming dengan nama Erphan1140 tidak jarang menggugah video membahas meme yang beredar di internet. Judul salah satu video konten receh Erphan1140 adalah “DHUARRR !!!! MHEMEW !!!!” mencapai 2,5 juta penonton dalam waktu kurang dari satu bulan. Berikut video tersebut:

Konten hiburan yang cenderung tidak bermanfaat disajikan oleh kedua Youtuber di atas tidak sepi peminat. Justru konten baik yang memiliki nilai manfaat lebih cenderung sepi peminat. Penikmat Youtube Indonesia sendiri didominasi usia muda dengan rata-rata usia 15 sampai dengan 30 tahun[iii]. Usia ini dikategorikan sebagai generasi milenial. Dari data dibawah ini, genre terbesar dipegang oleh konten vlog dan prank. Dengan kata lain, generasi milenial lebih menyukai konten yang bersifat menghibur daripada yang berifat edukasi. 

Sumber : Tirto.id

Fenomena ini tentu dapat menjadi masalah. Konten tidak baik ini dapat ditiru oleh generasi milenial. Masalah ini dapat ditelusuri lebih lanjut dengan penelitian pemasaran. Penelitian pemasaran dapat membantu untuk mengetahui alasan dibalik milenial yang lebih menyukai konten hiburan yang tidak berfaedah dibandingkan dengan konten baik yang memiliki lebih banyak manfaat. Hal ini dapat membantu content creator yang menilai minat milenial adalam menonton konten, sehingga konten yang mereka buat dapat dilihat oleh milenial lebih banyak. Tahapan-tahapan dalam riset pemasaran adalah sebagai berikut:

1. Mendefinisikan permasalahan dan tujuan penelitian.

Langkah pertama didalam penelitian pemasaran adalah mendefinisikan permasalahan dan tujuan penelitian. Untuk kasus ini, masalah utama adalah konten yang kurang mendidik lebih populer dibandingkan konten yang mendidik. Tujuan dari penelitian pemasaran untuk kasus ini adalah mengetahui alasan konten-konten yang tidak mendidik menjadi populer dan membantu content creator bermutu untuk menjadi populer. 

2. Mengembangkan rencana penelitian.

Dari konsep ini, pengembangan rencana penelitian untuk konten youtube adalah dengan menganalisis konten video yang populer dan trending di masyarakat dan membandingkannya dengan konten video yang tidak populer. Analisis dilakukan dengan melihat beberapa elemen yang terdapat pada konten viral dan konten tidak viral.

3. Implementasi rencana penelitian.

Pertama, analisis konten yang viral.  Analisis kali ini menggunakan konten dari SAAIHHALILINTAR dan Erphan1140.

Elemen dalam konten

Saai

Halilintar

Erphan1140

Keterangan

Bahasa tidak baku

Kedua video tersebut menggunakan kata-kata yang tidak baku. Bahkan, Erphan1140 sempat berucap kata tidak baku saat mengomentari meme yang beredar, seperti:

-“apa ini anjing” menit 5:40

-“Ternyata gitu dong, anjing” menit 6:32

-“anjir, bitch” menit 7:10

-“parah sih, goblog..” menit 10:13

-“bangsat” menit 7:37

Clickbait menarik

Pada video saaihalilintar, clickbait berupa foto telur yang diletakkan di lantai kamar tidur Atta Halilintar

Clickbait Erphan1140 berupa meme disandingkan dengan foto dirinya yang menirukan meme tersebut

Illustrasi gambar bergerak

Erphan1140 banyak melakukan animasi gambar bergerak pada videonya lebih dari dua puluh kali. Seperti video yang diputar pada menit 1:09

Saaihalilintar lebih banyak menggunakan animasi bergerak untuk tombol subscribe divideonya.

Nada presenter tidak monoton

Masing-masing presenter memiliki nada khas. Saai halilintar memiliki nada yang terburu-buru dan spontan. Erphan1140 memiliki nada yang naik turun dan terkadang melengking saat mengomentari meme tersebut, sehingg penonton tidak bosan menonton. 

Membeli sesuatu secara banyak

Saihalilintar membeli barang secara banyak, yaitu memilih 2900 telur.

Judul konten menarik

Kedua video memiliki judul yang menarik dan membuat penasaran untuk dilihat.

Interaksi dengan penonton

Saaihalilintar menggunakan kata mengajak penonton “jangan lupa subscribe gengs” atau “sasquad, what’s poppin” atau “kita harus…”

Ada orang terkenal 

Saaihalilintar memasukkan orang terkenal dalam video pranknya yaitu Atta Halilintar yang memiliki pengikut 18 juta.

Pergerakan kamera tidak monoton

Baik Saaihalilintar mapun Erphan1140, pergerakan kamera pada video mereka tidak monoton. 

Kamera Saai mengikuti gerakan presenter ke kanan dan kekiri. Pada menit ke 2:20 misalnya, kamera seakan-akan melompati waktu.

Erphan1140 menggunakan efek kamera zoom tiap menit di dalam videonya.

Kegiatan di luar ruangan 

Saaihalilintar mengajak penonton melihat proses prank dari memberi telur hingga meletakkan di dalam kamar tidur Atta Halilintar. Video ini mengangkat konten konten yang seperti vlog.

Karakter presenter kuat

Erphan1140 memiliki karakter yang lucu seperti mengeluarkan ekpresi yang tidak biasa. Contoh ekspresi ini dapat dilihat di menit 0:46

Kata-kata penegasan muncul

Ephan1140 lebih dari lima belas kali menuliskan kata-kata yang ia ucapkan di dalam video.

Kedua, analisis konten yang baik dan mendidik tetapi kurang viral. Analisis konten baik menggunakan konten dari Hujan Tanda Tanya dan Kok Bisa?

Pemilihan dua kanal Youtube ini berdasarkan jumlah view dan tipe konten yang dihasilkan. Kanal Youtube Hujan Tanda Tanya memiliki sekitar 262 ribu subscribers sedangkan kanal Kok Bisa? memiliki subscribers 1,6 juta. Kedua kanal youtube ini menghasilkan konten edukatif yang dapat memberikan wawasan baru bagi para penonton. Perbedaan dari dua kanal youtube ini ialah dari cara pemberian dan pembawaan konten. Isi konten di kanal Hujan Tanda Tanya dibungkus dengan gaya model talkshow yang mendatangkan narasumber sedangkan isi konten di kanal Kok Bisa? berisi animasi dan dubbing suara.

Hujan Tanda Tanya : Apakah Musik Lo-Fi Cocok untuk Belajar?

Video ini berisikan dua orang host dan satu narasumber yang menjelaskan tentang apa itu musik Lo-FI dan cara musik tersebut dalam membantu dan mempermudah proses belajar. Narasumber dalam video ini seorang music maker yang bernama Gusti. Konten ini bersisi pembahasan mengenai pengertian music Lo-Fi hingga tiga alasan musik ini cocok digunakan untuk menemasi belajar. Penonton juga dijelaskan cara membuat beats dan penggunaannya sesuai dengan genre ini. Video ini memiliki banyak interaksi antara host dan narasumber yang memungkinkan adanya hal-hal lucu muncul. Pembawaan dari host yang santai dan narasumber yang baik menjadi kunci dari video yang baik. Sayangnya, konten yang berisi informasi menarik ini termasuk sepi peminat. Walau sudah empat hari di upload, konten ini hanya mampu meraih 8,5 ribu penonton saja.

Kok Bisa: Dari Mana Bulan Kita Berasal?

Video ini berisikan mengenai penjelasan tentang asal muasal Bulan. Konten ini menjelaskan asal muasal bulan bedasarkan tiga teori yang beredar. Penonton dijelasakan pula bahwa bulan masih memiliki banyak misteri yang belum bisa diteliti dan diketahui oleh manusia dan diharapkan di masa depan manusia bisa memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjelajahi bulan dan bahkan tinggal di bulan. Secara keseluruhan video ini cukup menarik dan berisi banyak animasi sehingga para penonton akan mudah mengerti mengenai topik yang dibawakan. Video yang sudah di upload sejak 1 bulan yang lalu ini, hanya mampu meraih penonton sebanyak 355 ribu saja.

Elemen yang terdapat pada kedua video tersebut sebagai berikut :

Elemen dalam Konten

Hujan Tanda Tanya

Kok Bisa?

Keterangan

Bahasa komunikatif

Kedua video ini menggunakan Bahasa komunikatif, santai, dan mudah dipahami dari semua kalangan usia.

Judul menarik

Judul menarik, cukup untuk membuat penonton ingin melihat video tersebut

Ilustrasi dan animasi gambar menarik

Ilustrasi dan animasi gambar sangat bervariasi sehingga penonton mudah mengerti bahasan video.

Nada presenter tidak monoton

Materi disampaikan dengan tidak monoton dan diselingi dengan gurauan sehingga membuat penonton tidak bosan.

Interaksi dengan penonton

Pada kanal youtube “Kok Bisa?” terdapat interaksi antara presenter dengan penonton sedangkan kanal youtube “Hujan Tanda Tanya” tidak terdapat interaksi antara presenter dengan penonton.

Konten mendidik

Kedua video tersebut merupakan konten video yang mendidik karena terdapat pelajaran yang bisa diambil seperti pada video kanal “Hujan Tanda Tanya” bahwa mendengarkan music Lo-FI dapat membantu konsentrasi untuk belajar sedangkan pada video kanal “Kok Bisa?” membuat penonton mengetahui asal mula munculnya bulan.

Ada narasumber

Pada video kanal “Hujan Tanda Tanya” terdapat satu narasumber yang memberikan informasi mengenai musik Lo-Fi sedangkan pada video kanal “Kok Bisa?” tidak terdapat narasumber karena video berupa animasi dan monolog tanpa ada figure manusia.

Audio menarik

Kedua video memiliki audio yang menarik yang membuat penonton mudah memahami materi yang disampaikan.

Kata-kata penegasan muncul

Pada video kanal “Hujan Tanda Tanya” terdapat kata-kata penegasan yang sering muncul yang dapat membuat penonton mengetahui pesan yang disampaikan sedangkan pada video kanal “Kok Bisa?” tidak menggunakan kata-kata penegasan.

Ada kata-kata ilmiah

Pada video kanal “Kok Bisa?” terdapat kata-kata ilmiah karena video tersebut membahas fenomena ilmiah sehingga perlu menggunakan kata-kata ilmiah untuk menjelaskannya sedangkan pada video kanal “Hujan Tanda Tanya” disampaikan dengan lebih sederhana karena video membahas mengenai pengaruh musik Lo-Fi terhadap konsentrasi belajar.

4. Penarikan kesimpulan penelitian.

     Dari hasil di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan diantaranya sebagai berikut :

  • Konten tidak mendidik berhasil memenuhi genre terbesar di Youtube

 Dari seratus genre Youtube, konten yang paling diminati adalah konten Vlog. Ambil contoh Youtuber   SAAIHALILINTAR dengan judul “Beli 3000 TELOR Untuk BALES PRANK BANG ATTA HALILINTAR  **diamarah-marah**”, konten tidak mendidik ini bahkan mampu menggabungkan dua genre Youtube yang paling disukai yaitu genre vlog dan prank

  • Isi konten baik kalah menarik

Generasi milenial dikenal dengan generasi yang menyukai konten yang bersifat hiburan serta menggugah penasaran[iv]. Konten baik memiliki tujuan edukasi lebih kuat bagi masyarakat daripada hanya sekedar hiburan belaka. Hiburan yang tidak biasa seperti membeli produk secara banyak justru lebih menggugah penasaran milenial lebih banyak dibandingkan informasi umum.

  • Karakter presenter dan narasumber

Konten yang tidak baik memiliki karakter presenter yang kuat sekaligus menghibur. Karakter presenter ini tidak dimiliki oleh video dengan konten yang baik. Walaupun video dengan konten baik memiliki presenter ataupun dubbing yang mampu membawa dengan santai, presenter ataupun dubbing tidak memiliki ciri khas sebagai pembeda dengan presenter dari konten lain. Konten yang tidak baik memiliki presenter dengan karakter yang kuat, lucu, dan konsisten sehingga penonton tidak bosan untuk menonton. Begitu pula dengan narasumber yang terkait di dalam video konten baik. Narasumber belum begitu terkenal sehingga rasa ketertarikan untk menonton video menjadi berkurang.

Solusi

Pada dasarnya, kebanyakan viewers Youtube menyukai video dengan subtansi konten yang sifatnya hiburan. Kita tidak dapat mengubah fakta tentang itu. Solusi untuk meningkatkan tingkat ke-viral-an dari video yang berorientasi pendidikan adalah dengan menggunakan metode penyampaian yang bersifat menghibur: 

1. Menggunakan pembawa atau pembawaan acara yang berkarakter. Intonasi dan gaya bicara yang belebihan (lebay), gestur tubuh yang aktif, dan penampilan yang unik menjadi daya tarik tersendiri di mata viewer. Perlu untuk diperhatikan, karakter presenter harus konsisten dari satu video ke video lain. 

2. Menggunakan narasumber atau bintang tamu yang sudah terkenal. Public Figure yang terkenal mampu untuk meningkatkan user acquistion video. Hal ini berasal dari impresi awal viewer baru terhadap figur tersebut.

3. Isi konten edukatif dapat menggunakan genre vlog. Presenter dapat menjelaskan sekaligus memperlihatkan langsung (jika ada) yang berkaitan dengan informasi yang disampaikan.

Dengan begitu, konten baik  dapat lebih menarik untuk ditonton serta ikut viral dan eksis seperti konten yang tidak bermanfaat. Generasi milinenial mendapat hiburan sekaligus pengetahuan yang bermanfaat.

Sumber :

[i]https://id.techinasia.com/fakta-perkembangan-youtube-di-indonesia

[ii]https://nalar.id/punya-85-gold-creator-indonesia-punya-banyak-youtuber-subscriber-lebih-1-juta/

[iii]https://nalar.id/punya-85-gold-creator-indonesia-punya-banyak-youtuber-subscriber-lebih-1-juta/

[iv]https://www.liputan6.com/citizen6/read/3288821/ini-cara-menggaet-target-generasi-milenial-dalam-peluang-bisnis

Author :

Rahmat Hidayat 

Indra Bagus K 

Amalia Wikandari

Hario Wicaksono

Fahrian Ghiffari


Like it? Share with your friends!

3
3 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
1
OMG
Win Win
0
Win
OVERACHIEVERS

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format