Museum Nasional Indonesia dan Museum Nasional Korea: Persamaan di Atas Perbedaan


7
7 points

Museum Nasional Indonesia Dan Museum Nasional Korea: Persamaan Diatas Perbedaan

Sisi Sejarah Dibalik Berdirinya Museum

  • Museum Nasional Indonesia

            Museum Nasional Indonesia yang terletak di Jalan Medan Merdeka Barat No. 12, DKI Jakarta ini menyimpan sejuta cerita sejarah tentang bagaimana kemudian museum tersebut dapat berdiri hari ini. Dimulai dari abad ke 18 saat kolonialisasi Belanda masih berlangsung, cikal bakal dari pendirian museum ini adalah sebenarnya ditujukan untuk perkumpulan ilmiah Belanda berbasis seni dan ilmu pengetahuan khususnya di bidang biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah. Memasuki masa singkat kepemerintahan Inggris di pulau Jawa, Sir Thomas Stamford Raffles sebagai gubernur pada masa itu memberikan perintah pembangungan gedung baru untuk melanjutkan berbagai penelitian dan menyimpan peninggalan berbagai benda historis di era sebelumnya. Gedung tersebut dinamakan LiterarySociety. Pada tahun 1862, pemerintah Hindia Belanda kembali memindahkan perkumpulan tersebut ke area yang lebih besar (dan gedung yang baru) ke lokasi yang sekarang disebut dengan Jalan Medan Merdeka Barat No. 12. Museum ini pun resmi dibuka untuk umum pada tahun 1868 sampai dengan sekarang. 

Sumber: jakartatraveller.com[1]

            Di kalangan masyarakat Indonesia, Museum Nasional ini lebih dikenal sebagai ‘Museum Gajah’ karena di halaman bagian depan museum terdapat sebuah patunggajah perunggu yang merupakan cinderamata dari Raja Chulalongkorn Thailand saat berkunjung ke Museum Nasional Indonesia pada tahun 1871. Hingga dengan saat ini, Museum Nasional Indonesia menyimpan lebih dari 160.000 benda-benda dengan nilai historis. Dari koleksi prasejarah, arkeologi klasik berbasis era kepercayaan agama Hindu dan Budha, hingga benda-benda etnografi dari berbagai jangkauan waktu. Kini, Museum Nasional Indonesia tidak hanya dibuka sebagai destinasi wisata di Kota Jakarta. Museum ini juga dibuka untuk lokasi pameran, area konferensi, laboratorium, dan perpustakaan daerah.[2]

  • The National Museum of Korea

            Dimulai saat Jepang mengalami kekalahan telak  di Perang Dunia II dan Korea berhasil mendapatkan kemerdekaannya kembali, Korea mengambil alih kantor utama Joseon (dari kepemerintahan Jepang) dan menjadikannya sebagai cikal bakal Museum Nasional. Area tersebut digunakan untuk tempat penyimpanan benda prasejarah dan koleksi kebudayaan dari waktu ke waktu. Baru pada tahun 1955, museum tersebut resmi dibuka untuk umum oleh Presiden Syngman Rhee. Pada tahun 1972, Museum Nasional Korea dipugar dan dipindahkan ke lokasi baru yang terletak di Gyeongbokgung Palace. Namun Pemerintah Korea memutuskan untuk kembali memindahkan lokasi museum ini dari Gyeongbokgung Palace ke kota Seoul pada tahun 1996.  

Sumber: Museums of the World[3]

            Berada dibawah otoritas Cultural Heritage Administration, berbagai pameran seperti “Korean Painting from 1850 to 1950“, “The Beauty of Korea: Traditional Costumes, Ornaments, and Cloth Wrappings“, hingga “Buddhist Sculpture of the Three Kingdoms Period” rutin diadakan dari waktu ke waktu untuk membangun profil kultur dari Museum Nasional Korea. Saat ini, Museum Nasional Korea tidak hanya mengusung kebudayaan khas dari Korea saja. Museum ini juga membuka kesempatan bagi para pekerja seni modern internasional untuk berkolaborasi mengadakan pameran-pameran kekinian. Misalnya “The Glory of Persia” pada tahun 2008, “Egypt, the Great Civilization: Pharaohs and Mummies” pada tahun 2009, dan “Gods, Heroes and Mortals: Art and Life in Ancient Greece” pada tahun 2010.[4]

Museum Nasional Sebagai Destinasi Wisata

            Meskipun sama-sama didirikan dengan nilai historis sebagai pengusung pembentukan museum, namun pada implementasinya, Museum Nasional Indonesia dan Museum Nasional Korea memiliki konsep manajemen museum yang sangat berbeda. Museum Nasional Indonesia cenderung mengambil sudut kultur dan budaya lokal khas Indonesia. Jika dilihat dari kegiatan di masing-masing akun Instagram sebagai media pemasaran kontemporer, Museum Nasional Indonesia pada akunnya di @museum_nasional_indonesia banyak sekali menggelar pagelaran berbasis budaya lokal, misalnya teater kolosal, kaligrafi hanacaraka, tari tradisional, dan belajar menggunakan gamelan.Walaupun sebenarnya banyak juga kolaborasi dengan pekerja seni dari luar negeri, namun ada dasarnya kegiatan museum yang erat kaitannya dengan budaya lokal cenderung lebih dominan. Sedangkan Museum Nasional Korea telah merubah branding dari Museum Nasional biasa menjadi National Museum of Modern and Contemporary Art (MMCA), dimana tidak hanya pameran reguler biasa yang dijalankan namun juga berbagai aktivitas seni kontemporer juga turut diadakan. Dapat dilihat pada akun Instagram MMCA, @mmcakorea, pameran seni yang diadakan cenderung lebih modern dan kekinian.

                                          Sumber: Instagram @museum_nasional_indonesia[5]

                     Sumber: Instagram @mmcakorea [6]

Hal ini bisa jadi disebabkan salah satunya oleh perbedaan pengelola museum-museum itu sendiri. Museum Nasional Indonesia dikelola oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan dibawah Kemendikbud. Sedangkan, Museum Nasional Korea dikelola oleh Cultural Heritage Administration yang fokus untuk mengembangkan potensi museum sebagai pusat kebudayaan sekaligus pusat seni kontemporer. 

  • Opini PengunjungBerjualan Museum? Bagaimana Cara Menjadikan Museum Sebagai Tempat Belajar dan Hiburan?

Dilansir dari TripAdvisor, Museum Nasional Korea memiliki rating yang lebih tinggi dibandingkan dengan Museum Nasional Indonesia. Berdasarkan the Art Newspaper, Museum Nasional Korea masuk sebagai destinasi museum paling sering di kunjungi di Asia dan menduduki posisi ke 10 sebagai destinasi museum yang paling sering dikunjungi di dunia.[7]

Museum Nasional Indonesia

Museum Nasional Korea

Sumber: TripAdvisor[8]

Dari opini pengunjung di atas maka dapat disimpulkan bahwa Museum Nasional Indonesia perlu memperbaiki beberapa hal agar dapat bersaing dengan Museum Nasional Korea. Dari segi koleksi sejarah museum nasional dari Indonesia dan Korea tidak berbeda jauh. Karena kedua negara memiliki sejarah masing-masing jadi untuk membandingkan ‘siapa yang lebih baik?’ adalah hal yang mustahil. Hal yang bisa dibandingkan dari kedua tempat tersebut adalah bagaimana kedua museum tersebut mengoperasikan sebuah museum sebagai sebuah bisnis pariwisata yang dapat menarik pengunjung. 

Jika museum didefinisikan sebagai objek wisata maka melakukan pendefinisian produk sangat penting. Museum sebagai objek pariwisata menjual sebuah ‘pengalaman’ berkunjung ke sebuah museum. Produk dari museum yang merupakan sebuah pengalaman membuat museum sebagai bisnis penyedia jasa. Setelah produk yang akan dijual telah diketahui masalah berikutnya adalah bagaimana produk tersebut dibuat.

Untuk membuat sebuah pengalaman maka pengoperasian Gedung museum harus diperhatikan oleh pengelola museum. Pengoperasian museum akan berpusat pada proses pengalaman pengunjung museum dari ia berangkat ke museum sampai ia pulang dari museum tersebut. Untuk mencari masalah dan hal-hal yang perlu diperbaiki oleh Museum Nasional Indonesia maka perlu dibuat perbandingan antara Museum Nasional Indonesia dan museum Nasional Korea. Ada dua hal penting yang akan dibandingkan di artikel ini. Pertama dari sisi design Gedung museum dan kedua dari sisi pengoperasian museum.

Perbandingan Desain Gedung

Dalam membandingkan desain Gedung museum maka 2 poin perbandingan yang akan dibahas. Yaitu: Aksesibilitas dan Layout Museum.

  • Aksesibilitas

Museum Nasional Jakarta pada situsnya tidak memberikan arahan untuk mencapai lokasi museum. Museum Jakarta hanya memberi peta lokasi dan menunjukkan alamat Museum Nasional Indonesia[9]. Sementara untuk Museum Nasional Korea mereka sangat jelas dalam memberi petunjuk aksesibilitas museum. Di situs Museum Nasional Korea ada bagian khusus yang menjelaskan jam pengoperasian museum, cara mencapai lokasi menggunakan berbagai transportasi, dan juga ada peta museum.[10]Sudah sangat tampak bahwa Museum Nasional Korea sangat mengantisipasi pengunjung dari dalam negeri maupun luar negeri. Museum Nasional Indonesia hanya memberikan informasi yang sangat minim untuk pengunjung yang ingin pergi ke Museum. Informasi tersebut akan membuat calon pengunjung kesulitan untuk mencapai lokasi Museum Nasional Indonesia.

Sumber: Museumnasional.or.id[11]

  • Layout dan Kapasitas Museum

Museum Nasional Indonesia

Museum Nasional Korea

Sumber: Maps.google.com

Museum Nasional Indonesia bertempat di Gedung bersejarah peninggalan dari jaman kolonial Belanda. Tidak banyak hal yang dapat diubah pada museum ini karena Gedung tersebut termasuk peninggalan sejarah yang harus dijaga keasliannya. Museum Nasional Indonesia terdapat dua Gedung yaitu:

1.      Gedung Gajah

2.      Gedung Arca 

Di dalam Museum Nasional Indonesia terdapat 150 ribu koleksi dari seluruh Indonesia.[12] Jumlah koleksi ini adalah yang paling banyak di Indonesia. Koleksi yang sangat banyak ini menjadi salah satu nilai jual Museum Nasional Indonesia.

Museum Nasional Korea adalah sebuah Gedung kontemporer yang memang didesain sebagai objek wisata museum terbesar di Korea. Dari segi luas museum, museum terbesar di Korea ini kurang lebih empat kali lebih luas dari Museum Nasional Indonesia. Untuk jumlah koleksi yang ditampilkan, Museum Nasional Korea menampilkan lebih dari 12.000 koleksi di Gedung ekshibisi mereka.[13]Museum Nasional Korea dengan Gedung yang lebih luas menampilkan koleksi yang lebih sedikit daripada Museum Nasional Indonesia. Namun Museum ini lebih dapat menarik banyak pengunjung. Faktor Gedung yang lebih kecil membuat museum nasional Indonesia memiliki layout Gedung yang lebih sempit.

Perbandingan Operasi Museum

  • Jam Operasi

Museum Nasional Indonesia

Museum Nasional Korea

Sumber:Maps.Google.com

Sumber:Tripadvisor.com

Jam beroperasi di Museum Nasional Korea adalah setiap hari dari pukul 9 pagi hingga pukul 6 Sore, sementara pada hari Sabtu dan Rabu beroperasi hingga pukul 9 malam. Di Museum Nasional Indonesia jam beroperasi adalah pukul 8 pagi hingga pukul 4 sore, pada hari sabtu dan minggu hingga pukul 5 sore dan tutup pada hari Senin. Jam beroperasi di Museum Nasional Korea di sesuaikan menurut aktivitas pengunjung. Yang bahkan pada hari tertentu bisa beroperasi sampai malam hari. Di Indonesia jadwal harian tidak berbeda namun Museum Nasional Indonesia memiliki satu hari tutup dan pada hari sibuk hanya memberi waktu ekstra 1 jam. Hal ini menunjukkan bahwa Museum Nasional Indonesia tidak dapat memaksimalkan penggunaan Gedung sebagai objek wisata. Mungkin ini menunjukkan kalau Museum Nasional Indonesia memang kekurangan sumber daya untuk beroperasi lebih lama.

Pelajaran yang dapat diambil dari Museum Nasional Korea adalah:

Kemudahan Akses

Museum Nasional Indonesia harus lebih berusaha dalam memberikan informasi akses menuju museum. Informasi akses dapat ditambahkan pada situs mereka untuk memudahkan pengunjung. Informasi yang perlu ditambahkan adalah:

  1. Jadwal beroperasi museum
  2. Instruksi akses ke museum menggunakan transportasi publik 
  3. Peta denah ekshibisi museum

Kemudian Museum Nasional Indonesia juga dapat menjemput langsung pengunjung dengan bekerja sama dengan hotel-hotel yang ada di sekitar museum. Hotel-hotel yang tersebar di area museum dapat dijadikan pickup-point untuk menjemput pengunjung secara langsung. Museum Nasional Indonesia yang terletak di Jakarta Pusat menjadi lokasi yang cukup strategis karena banyak sekali hotel yang tersedia di area tersebut.

Memaksimalkan Kapasitas Museum dengan penggunaan teknologi

Museum Nasional Indonesia dalam melakukan proses desain museum sangat terbatas karena status Gedung bersejarah yang digunakan tidak dapat diubah. Namun tidak mustahil untuk meningkatkan efisiensi Gedung dengan bantuan teknologi. Kunci dari meningkatkan kualitas pengalaman berkunjung adalah dengan meningkatkan interaksi pengunjung dengan ekshibisi yang dipertunjukkan di museum. Tanpa adanya interaksi pengunjung museum akan merasa bosan dan kurang tertarik. Pengalaman yang akan dirasakan adalah pengalaman yang negatif, sedangkan untuk menjual pengalaman ke pengunjung perasaan yang seharusnya dihasilkan adalah perasaan gembira atau positif. 

Penggunaan teknologi di sini dapat menambah interaksi pengunjung sekaligus juga menjadi daya tarik lebih untuk mengubah pengalaman yang membosankan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Teknologi yang dapat digunakan adalah menggunakan teknologi virtual reality atau “VR”. Hal ini sudah dicoba di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Korea. Dengan VR pengunjung museum dapat menjelajah waktu dan merasakan langsung sejarah Indonesia yang disimulasikan di dunia maya. Teknologi ini dapat menggabungkan elemen edukasi dan entertainment menjadi satu, sekaligus juga dapat meningkat interaksi pengunjung dengan objek ekshibisi.[14] Tidak hanya membuat museum lebih menarik dengan teknologi VR stigma museum yang kuno dan membosankan dapat dihilangkan.

Ferdiansyah

Joseph Suryo Baskoro

Kapitania Widya Imaniar

Khalifah Nurjannah

Mutiara Cahyaningrum

Sucha Dina Amalia

Umar Abdul Aziz

[1] Wisata Jakarta-Museum Nasional Indonesia, Jakarta Traveller, viewed on 12 September 2019, .

[2] Museum Nasional Indonesia Website, viewed on 12 September 2019,.

[3] Museum of The World Website, viewed on 12 September, .

[4] Museum Nasional Indonesia Website, viewed on 12 September 2019,.

[5] Instagram of Museum Nasional Indonesia, @museum_nasional_indonesia, viewed on 12 September 2019,.

[6] Instagram of MMCA Korea, @mmcakorea, viewed on 12 September 2019, .

[7] National Museum of Korea Website, viewed on 12 September 2019, .

[8] TripAdvisor, viewed on 12 September 2019, and  .

[9]Museum Nasional Indonesia Website, viewed on 12 September 2019, .

[10] National Museum of Korea Website, viewed on 12 September 2019,.

[11]Ibid.

[12] D. Susantio,‘Museum Nasional, Dikenal sebagai Gedung Jodoh, Gedung Arca, dan Gedung Gajah’, 25 April 2017, viewed on 12 September 2019, <https://www.kompasiana.com/djuliantosusantio/58fe85929fafbd3b515dc5fc/museum-nasional-dikenal-sebagai-gedung-jodoh-gedung-arca-dan-gedung-gajah?page=all>

[13] National Museum of Korea Website, viewed on 12 September 2019,

[14]A. Murphy,‘Technology in Museums – introducing new ways to see the cultural world’, 30 January 2018, viewed on 12 September 2019, < https://advisor.museumsandheritage.com/features/technology-museums-introducing-new-ways-see-cultural-world/>

Museums Test New Technology, Interactive Exhibits

National Museum Zurich - The Interactive Books of the Exhibition 'Ideas of Switzerland'

360-Degree Theater Lets You Experience VR Without A Headset


Like it? Share with your friends!

7
7 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
7
Love
OMG OMG
1
OMG
Win Win
4
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format