Film Lokal dan Fenomena “Rumput Tetangga lebih Hijau daripada Rumput Sendiri”


3
3 points

“Rumput Tetangga lebih Hijau daripada Rumput Sendiri” adalah salah satu dari sekian banyak peribahasa yang populer. Peribahasa ini memiliki arti “apa yang dimiliki oleh orang lain, terlihat lebih indah dari apa yang kita miliki”. Di dunia film, bioskop-bioskop lebih memilih untuk menayangkan film impor, tercatat pada tahun 2010 ketika diproduksi 70 judul film Indonesia, film impor yang beredar di bioskop mencapai 3 kali lipatnya sebanyak 249 judul. 

Pada tulisan kali ini, kami akan mencoba menelisik penyebab kurang diminatinya film Indonesia di tanah sendiri, serta mengapa orang pada akhirnya lebih memilih untuk menonton film impor. Dalam telisik ini, kami memilih satu film Indonesia berjudul A Copy of My Mind karya Joko Anwar untuk dibandingkan dengan Crazy Rich Asians karya John M. Chu. Meskipun berbeda tahun rilis, kedua film ini sama-sama berkutat di drama percintaan.  A Copy of My Mind berhasil meraih penghargaan di Toronto International Film Festival dan dipenuhi penonton saat penayangan di Kanada.

 

Sebelum menelisik lebih jauh, mari kita kenali masing-masing dari film ini.

  1. A Copy of My Mind

Film ini mengisahkan tentang Sari, seorang pekerja salon kecantikan dan Alex, seorang penerjemah film-film bajakan yang saling jatuh cinta ditengah masa eleksi di Indonesia. Film yang tayang pada tahun 2015 ini menampilkan banyak detail gerak-gerik dan percakapan penuh arti yang disampaikan secara tersirat. Melalui film ini, Joko Anwar mampu menimbulkan perasaan yang campur aduk di hati penontonnya. Dimulai dengan kekaguman akan cinta sederhana antara dua tokoh utama, kesederhanaan hobi keduanya pada film yang justru menjadi peran penting dalam kisah romansa keduanya, serta plot twist ketegangan politik yang harus mereka hadapi. 


  1. Crazy Rich Asians



Film ini mengisahkan tentang Rachel Chu, seorang profesor di bidang ekonomi dan kekasihnya Nick Young. Suatu hari, Nick mengajak Rachel untuk ikut pulang ke kampung halamannya di Singapura guna mengunjungi pesta pernikahan teman lamanya. Saat itulah, Rachel baru menyadari bahwa Nick berasal dari keluarga kaya raya dan menjadi incaran banyak wanita. Percintaan mereka semakin rumit ketika ibu dari Nick (Michelle Yeoh) tidak setuju pada hubungan mereka. Rachel, dibantu temannya Peik Lin (Awkwafina) pun berusaha memahami dan menyesuaikan diri dengan keluarga Nick.


A COPY OF MY MIND vs CRAZY RICH ASIANS

Dalam melakukan perbandingan, kami mencoba menelaah kedua film ini menggunakan konsep marketing mix yang dikemukakan oleh (Kotler dan Armstrong, 2017).

  1. Product

Jika dilihat sebagai produk, A Copy of My Mind dan Crazy Rich Asians secara garis besar memiliki kesamaan karena ceritanya yang berpusat pada drama percintaan. Namun, Crazy Rich Asians unggul dari segi visual. Mulai dari tone gambar yang cerah, penggunaan warna-warna yang meriah, serta beberapa sisipan animasi yang digunakan untuk memperjelas adegan.

Salah satu adegan yang menggunakan animasi dalam film Crazy Rich Asians

A Copy of My Mind lebih berusaha untuk jujur dan apa adanya. Tiap adegannya adalah representasi jujur dari kehidupan sehari-hari. Keseluruhan film diambil dengan kamera handheld (dipegang oleh tangan, tidak menggunakan stand atau tripod) sehingga gambar yang dihasilkan terasa goyang. Bahkan, untuk menggambarkan orang yang sedang berkirim pesan melalui handphone, film ini memilih untuk melakukan shot close-up pada layar handphone ketimbang menambahkan animasi seperti pada Crazy Rich Asians.


Orang bercakap melalui handphone pada A Copy of My Mind

Karena unggul dari segi pendanaan (Rp418,950,000,000 untuk Crazy Rich Asians dan ± Rp250.000.000 untuk A Copy of My Mind), Crazy Rich Asians mampu menayangkan gambar-gambar apik yang memanjakan mata









Dari segi cerita, Crazy Rich Asians memiliki premis sederhana dan plot yang mudah diikuti. Cerita mengenai kisah cinta dua orang dari latar belakang berbeda bukan lagi sesuatu yang baru bagi penonton Indonesia, sisipan referensi kultur orang Asia sepanjang film juga terasa menyenangkan untuk dilihat. Tidak banyak pesan tersirat yang ada di film ini, mayoritas pesan disampaikan langsung melalui dialog, seperti ketika Nick Young mengatakan alasan dia tetap hidup sederhana adalah karena semua harta yang Ia miliki berasal dari orangtuanya; atau ketika Astrid Leong mengatakan pada suaminya bahwa bukan tugas seorang wanita untuk membuat suaminya merasa jantan. Sedangkan, A Copy of My Mind lebih banyak menuturkan pesannya melalui visual, tanpa dialog atau narasi secara langsung. Misalnya bagaimana perjuangan Sari yang harus bangun pagi setiap hari, berdesakan di dalam bus, bekerja hingga sore, tetapi tetap hidup dalam kemiskinan; atau betapa tidak pentingnya keberadaan kaum marjinal, sehingga ketika Alex diculik, tidak ada siapapun yang mencarinya selain Sari. 

2.  Price

Dari segi harga, kedua film ini sama. Keduanya dapat disaksikan di layar bioskop dengan harga tiket yang sama, yaitu pada kisaran 20.000 hingga 60.000.

3. Promotion

        1.  Crazy Rich Asians

Pada akhir masa promosinya, Crazy Rich Asians berhasil mengantongi keuntungan yang hampir menyentuh angka $180 juta dollar. Hal ini tentunya tidak lepas dari strategi promosi yang dilakukan oleh Warner Bros. Selain tema dan konsep unggul yang diangkat dalam film itu sendiri, strategi dan media promosi yang digunakan dapat dibilang sangatlah masif. Mulai dari komersial TV sampai penggelaran acara dengan mengundang influencer Asian-American di dunia. 

Seperti yang kita ketahui, Crazy Rich Asians merupakan film yang diangkat dari novel karya Kevin Kwan. Sebelum difilmkan, produser dari Crazy Rich Asians melakukan analisis terhadap para pembaca dari novel Crazy Rich Asians. Dari hasil analisis, mereka menemukan bahwa pembaca novel Crazy Rich Asians rata-rata merupakan white female yang berumur sekitar 20-30 tahun. Dari sinilah produser memutuskan bahwa adaptasi film mampu membuat ketertarikan di masyarakat luas dengan segmentasi pasar yaitu komunitas Asian-American. 

Untuk menciptakan word of mouth advertisement maka sebuah konsumen harus menilai skor NPS (Net Promoter Score) antara angka 9-10. Dan untuk membuat konsumen memberikan skor 9-10, maka sebuah produk haruslah ‘sangat bagus’. Oleh karena itu, produser menyadari bahwa membuat film yang ‘sangat bagus’ untuk komunitas minoritas lebih bernilai daripada membuat film ‘cukup bagus’ untuk kelompok mayoritas. Dan hal inilah yang dilakukan mereka dengan membuat film Crazy Rich Asians yang mengambil tema kelompok minoritas di Amerika dan Singapura. 

Salah satu strategi yang dilakukan untuk mempromosikan Crazy Rich Asians adalah dengan pembuatan website yang berisi mengenai informasi-informasi penting seputar Crazy Rich Asians. 



Saat kita membuka website Crazy Rich Asians, maka kita akan langsung disuguhkan dengan trailer film Crazy Rich Asians. Dalam website tersebut, konsumen juga bisa mendapatkan informasi mengenai akun media sosial Crazy Rich Asians lainnya, sinopsis cerita, tanggal rilis, dan lain-lain.

Selain itu, penggunaan media sosial juga dimanfaatkan dengan maksimal oleh Warner Bros. dalam mengiklankan Crazy Rich Asians. Mulai dari Facebook hingga Twitter, semua dimanfaatkannya untuk menarik perhatian para pengguna media sosial tersebut pada Crazy Rich Asians. 

Selain digunakan untuk mengunggah berita terbaru mengenai Crazy Rich Asians, platform-platform tersebut juga digunakan sebagai media untuk melakukan campaign, kompetisi, dan pengumuman pemenang dari kompetisi tersebut. Kompetisi-kompetisi inilah yang juga menjadi highlight dari Crazy Rich Asians karena hasil dari para pemenang kompetisi tersebut sangatlah estetik dan menjadi bagian dari kesungguhan dalam menggambarkan kemewahan dari film Crazy Rich Asians. Seperti gaun-gaun mewah yang menarik perhatian para penonton, sampai gaya rambut para aktor. 

Selain media sosial, Warner Bros. juga secara signifikan mulai melakukan showing up advertisement di Youtube, baik sebagai banner maupun pre roll advertisement, dan juga iklan di TV. Debut pertama iklan Crazy Rich Asians menggunakan video singkat mengenai gambaran film yang dikemas dalam durasi 30 detik oleh Fandango. 



Dalam pembuatannya, Crazy Rich Asians juga mengadakan kerjasama dengan beberapa partner yang juga memainkan peran penting dalam pemasaran Crazy Rich Asians, diantaranya:

  • Visit Singapore, karena sebagian besar latar tempat dan gambaran gaya hidup merupakan adopsi dari Singapura.

  • The Knot, berhubungan dengan tema pernikahan yang juga merupakan highlight dari film ini karena menampilkan banyak karya serta ide-ide yang unik. 

  • Peach & Lily, untuk membuat kesan film bertema beauty-kit untuk menarik konsumen terutama konsumen Korea. 

  • Live, Love, Polish, yang memberikan banyak gambaran mengenai nail polish yang menawan untuk menambahkan unsur mewah dalam film.

  • Bag, Borrow or Steal, yang menawarkan hadiah sepasang tiket film secara random. 

Crazy Rich Asians memanfaatkan banyak Asian-American influencer dalam mempromosikan filmnya. Produser The Joy Luck Club, Janet Yang, bintang Kpop, Eric Nam, co-founder Twitch, Eric Lim dan digital entrepreneur sekaligus mantan eksekutif Youtube, Bing Chen turut ikut andil dalam mempromosikan film Crazy Rich Asians. Pada L.A. screening pun Crazy Rich Asians mengundang 1.200 seniman, artis sosial media, dan tastemaker Asian-American pada bulan April, 4 bulan sebelum jadwal rilis Crazy Rich Asians, jadwal screening tercepat yang pernah diadakan oleh studio film. Pada tanggal yang sama pula Warner Bros. merilis trailer penuh dari Crazy Rich Asians. 

           2.  A Copy of My Mind

A Copy of My Mind mulai tayang di Indonesia pada 11 Februari 2016, padahal film tersebut sebenarnya sudah rilis pertama kali pada 2015. Perbedaaan waktu rilis yang cukup lama tersebut bukanlah tanpa alasan. Menurut Joko Anwar, selaku sutradara, lamanya waktu penayangan di Indonesia dimaksudkan untuk membangun awareness yang lebih tinggi. Selain itu, Joko juga mengungkapkan bahwa pihaknya memang kekurangan dana untuk melakukan promosi besar-besaran di berbagai media. Hal tersebut memang senada dengan fakta yang kami temukan. Tidak ada promosi yang berarti yang dilakukan oleh Joko Anwar dan tim untuk mendongkrak kepopuleran film garapannya, A Copy of My Mind, di Indonesia. Sangat berbeda bila dibandingkan dengan Crazy Rich Asians yang menggunakan segala sumber daya yang ada untuk memaksimalkan promosinya.

Sebagian besar promosi film yang memenangkan tiga Piala Citra ini hanya dilakukan melalui media sosial pribadi para kru, pemain, dan rekanan yang diundang ke gala premiere A Copy of My Mind dengan mengunggah poster dan link trailer. Terlihat kontras bila dibandingkan dengan Crazy Rich Asians yang memiliki official account pada beberapa media sosial. 

Selain dari media sosial, film ini secara tidak langsung mendapatkan ‘promosi gratis’ dengan memenangkan berbagai festival film baik didalam, maupun luar negeri. Namun, Joko mengaku memang pihaknya tidak begitu memusingkan pasar untuk filmnya ini dan tidak menargetkan jumlah penonton di negeri sendiri. Hal tersebut menjadi respon atas pasar Indonesia yang sangat dinamis dan susah ditebak. Sampai penayangan terakhirnya, A Copy of My Mind berhasil menarik sekitar 39.000 penonton Indonesia.

 

4.  Place

Tempat penayangan untuk kedua film jumlahnya sangat berbeda. Crazy Rich Asians mampu menembus lebih dari 20 negara termasuk Indonesia, sedangkan film karya Joko Anwar tersebut baru membuka penayangan di beberapa negara tertentu.


A Copy of My Mind

Crazy Rich Asians

Italy 3 September 2015 (Venice Film Festival)

Canada 16 September 2015 (Toronto International Film Festival)

South Korea 2 October 2015 (Busan International Film Festival)

Netherlands 2 February 2016 (International Film Festival Rotterdam)

Indonesia 11 Februari 2016 (Cinema XXI)

USA 3 June 2016 (Seattle International Film Festival)

Australia 13 June 2016 (Sydney Film) Festival)

Poland 18 November 2016 (Five Flavours Film Festival)7

USA 7 August 2018 (Los Angeles, California) (premiere)

Canada 15 August 2018

Italy 15 August 2018

USA 15 August 2018

Lebanon 16 August 2018

Netherlands 16 August 2018

South Africa 17 August 2018

Malaysia 22 August 2018

Philippines 22 August 2018

Singapore 22 August 2018

Germany 23 August 2018

Hong Kong 23 August 2018

Israel 23 August 2018

Romania 24 August 2018

Taiwan 24 August 2018

Australia 30 August 2018

New Zealand 30 August 2018

Cambodia 31 August 2018

Lithuania 31 August 2018

Poland 31 August 2018

Indonesia 11 September 2018

UK 14 September 2018

Ireland 14 September 2018

Vietnam 14 September 2018

Peru 20 September 2018

Finland 21 September 2018

Mexico 21 September 2018

Sweden 21 September 2018

Belgium 26 September 2018

Japan 28 September 2018

Czech Republic 4 October 2018

Estonia 19 October 2018

Argentina 23 October 2018

Argentina 25 October 2018

Brazil 25 October 2018

South Korea 25 October 2018

France 7 November 2018

China 30 November 2018

Norway 14 December 2018

Hungary 19 December 2018

Portugal 9 January 2019

Spain 19 January 20198


Kenapa Crazy Rich Asians lebih ramai di pasar Indonesia?

Melalui artikel ini, kami berusaha mencari tahu apa penyebab Crazy Rich Asians lebih disukai di Indonesia ketimbang A Copy of My Mind. Setelah dibedah sesuai dengan marketing mix, kami akan kembali menggunakan konsep yang dikemukakan oleh (Kotler dan Armstrong, 2017) yaitu dari segi karakteristik yang mempengaruhi perilaku konsumen di Indonesia memilih film. 

Dalam menganalisis karakteristik, kami berpedoman pada piramida penduduk untuk melihat kalangan usia dengan proporsi terbanyak.

Berdasar piramida tersebut, proporsi penduduk Indonesia paling banyak datang dari Generasi Z dan Y  (Milenial). Namun, mempertimbangkan kapabilitas dari masing-masing demografi tersebut, kami memilih untuk fokus pada generasi Y dan X. Pemilihan ini dilakukan karena generasi Y dan X sudah memiliki kapabilitas, baik dari segi kebebasan untuk mengambil keputusannya sendiri dalam memilih film dan kapabilitas finansial untuk membeli tiket. Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi penonton di Indonesia dalam membeli tiket:



Generasi Y

Generasi X

Cultural



Budaya

Mereka menyukai tantangan dan hal-hal yang baru, jadi mereka akan cenderung untuk menonton film yang baru rilis di bioskop

Mereka dikenal sebagai generasi yang cerdas dan mandiri, jadi mereka akan cenderung untuk memilih film yang akan mereka tonton jika ada suatu hal yang mereka cari di film tersebut.

Social 



Kelompok dan Jaringan sosial

Mereka memilih film berdasarkan rekomendasi dari seluruh teman mereka baik yang ada di kelompok mereka atau di sosial media mereka

Mereka memilih film berdasarkan rekomendasi dari teman mereka dan ajakan dari teman mereka

Keluarga

Mereka cenderung untuk memilih film yang akan mereka tonton berdasarkan keinginan mereka sendiri, baik yang sudah berkeluarga maupun belum

Mereka memilih film berdasarkan jenis film yang pantas ditonton untuk dirinya beserta keluarganya

Peran dan Status

Mereka berperan sebagai pembuat keputusan dan mengambil keputusan untuk menonton film yang mereka inginkan

Mereka berperan sebagai pengambil keputusan berdasarkan jenis film yang pantas untuk ditonton

Personal



Usia dan Siklus Kehidupan

Usia mereka lebih muda ketimbang Generasi X, jadi mereka akan memutuskan untuk menonton film apa saja yang ingin mereka tonton

Usia mereka lebih tua daripada Generasi Milenial, jadi mereka akan memikirkan value yang didapatkan ketika menonton film

Pekerjaan

Mereka lebih cenderung sedikit jam kerjanya, jadi mereka memiliki banyak waktu untuk menonton film yang mereka inginkan

Mereka cenderung memiliki pekerjaan yang jam kerjanya banyak, jadi mereka tidak memiliki banyak waktu untuk menonton film

Situasi Ekonomi

Mereka memiliki jumlah uang yang tidak banyak, jadi mereka lebih memilih untuk tidak menonton film dalam jumlah yang banyak

Mereka memiliki jumlah uang yang banyak, jadi mereka bisa bebas memilih untuk menonton film yang mereka mau

Gaya Hidup

Mereka cenderung untuk berhemat karena jumlah uang mereka tidak banyak untuk hiburan

Mereka cenderung konsumtif karena mereka memiliki uang yang banyak untuk hiburan

Kepribadian dan Konsep Diri

Mereka lebih memilih untuk menonton film yang mereka anggap sangat unik dan menarik

Mereka memilih menonton film yang pantas untuk ditonton memiliki value yang bagus

Psychological



Motivasi 

Motivasi mereka bisa datang dari pihak internal dan eksternal ketika ingin menonton film karena mereka memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap perfilman

Motivasi mereka kebanyakan datang dari pihak eksternal ketika ingin menonton film karena mereka akan menonton film apabila mereka mendapat rekomendasi dari kerabat mereka

Persepsi 

Sebagian besar mereka memandang bahwa menonton film merupakan suatu hiburan dan suatu kegiatan yang trendy dan up to date

Sebagian besar mereka memandang bahwa menonton film merupakan suatu hiburan di sela-sela kesibukan mereka

Kepercayaan dan sikap

Sebagian besar dari mereka merasa bahwa menonton film bisa mengikuti trend dan menjadi hiburan

Sebagian besar dari mereka merasa bahwa menonton film hanya untuk hiburan

Proses pembelian tiket, bila dilihat menggunakan teori pemasaran termasuk ke dalam kegiatan pembelian yang melibatkan pengambilan keputusan yang tidak sederhana. Artinya, pembelian sebuah tiket bukan merupakan kebiasaan atau habituasi. Sesuai dengan penjabaran di atas, banyak faktor yang dilibatkan dalam proses pembelian tiket. 

Oleh karena itu, kami berusaha untuk memberikan solusi pada sineas Indonesia mengenai sejauh mana mereka dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan konsumen untuk membeli tiket. Hal ini dimaksudkan supaya tidak hanya dapat menghasilkan film-film yang berkualitas dari segi plot, tetapi juga bonafide dari segi keuntungan.

Dari rangkaian proses tersebut, tahapan yang menurut kami paling mungkin untuk dipengaruhi adalah tahap need recognition dan information search. Kenapa? Yang pertama, evaluation of alternatives, purchase decision, dan postpurchase behaviour dalam dunia perfilman adalah tahap yang unik bagi setiap penonton film. Penonton bisa memiliki berbagai macam alasan dan judgement-nya sendiri terhadap suatu film. Misalnya untuk postpurchase behaviour, bagaimana sineas bisa memastikan pengalaman memuaskan akan didapat oleh setiap penonton? Hal ini kami rasa tidak mungkin karena kepuasan seseorang dalam menonton film juga melibatkan selera, dan selera adalah ranah yang abstrak. Oleh karena itu, kami berfokus hanya pada tahap need recognition dan information search. 

Dikarenakan permasalahan pemasaran yang terjadi dari pihak A Copy of My Mind salah satunya datang dari permasalahan finansial, maka kami akan menyarankan beberapa alternatif promosi yang tidak memakan biaya cukup banyak. 

  1. Web

Adanya website untuk film Crazy Rich Asians meningkatkan eksistensi dari film tersebut. Sehingga masyarakat dapat dengan mudah memperoleh informasi valid mengenai film tersebut. A Copy of My Mind memiliki keunggulan yaitu telah memenangkan banyak penghargaan di luar negeri. Akan sangat disayangkan jika hal ini kurang digaung-gaungkan dari pihak film itu sendiri. Adanya website untuk A Copy of My Mind tak hanya akan meningkatkan eksistensi dari film itu sendiri, tetapi juga wahana publikasi prestasi dari film ini serta informasi-informasi lainnya yang menunjang promosi A Copy of My Mind. 

  1. Media sosial

Selanjutnya, tak dapat dipungkiri bahwa generasi milenial maupun gen z sekarang banyak menghabiskan waktunya di dunia maya, terutama media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Selain tidak memerlukan modal, media sosial juga merupakan gudangnya para influencer yang bisa dijadikan media promosi dari film ini. Di media sosial, kita juga bisa mengadakan perlombaan kecil untuk menaikan ketertarikan masyarakat terhadap film tersebut, maupun perlombaan bertema besar seperti yang dilakukan oleh Crazy Rich Asians dengan desain gaun dan lain-lain.

  1. Menguatkan Target Pasar

Seperti yang telah dilakukan oleh Crazy Rich Asians, penentuan target pasar pada komunitas kecil dengan menghadirkan konten dengan kualitas tinggi akan mendorong adanya word of mouth advertisement dari anggota komunitas tersebut yang menonton. Adanya word of mouth advertising yang baik dari komunitas tertentu akan menarik perhatian penonton yang bukan bagian dari komunitas tersebut. 

Perlu diakui, A Copy of Mind bukanlah film yang dapat diterima oleh sebagian besar orang yang lebih suka alur sederhana dengan penjelasan setiap adegan tanpa ada makna tersirat. A Copy of My Mind memiliki tempatnya sendiri bagi orang-orang penggemar film sejenis karya-karya Joko Anwar. Dikarenakan konsumen dari film ini bukanlah konsumen umum, maka akan kurang tepat jika film ini langsung ditayangkan di bioskop umum. Akan lebih baik jika film ini ditayangkan terlebih dahulu khusus bagi mereka, komunitas pecinta film dengan tema tersebut. Seperti yang dilakukan oleh Crazy Rich  Asians dengan mengadakan screening empat bulan sebelum film tersebut tayang. Screening ini diperuntukan untuk target pasar mereka, yaitu Asian-American Community. Dengan mengundang para seniman, artis, influencer Asian-American, Crazy Rich Asians berhasil menaikan pamor, hype, dan mendorong adanya word of mouth advertisement berdasarkan rasa puas target pasarnya terhadap produk mereka. Hal ini dapat dilakukan oleh pihak A Copy of My Mind.


REFERENSI

Kotler, Phillip dan Armstrong, Gary. (2017). Principles of Marketing (edisi 17). Edinburg: Pearson. 

Wibowo, Fred. 2006. Teknik Program Televisi. Pinus Book Publisher: 196. 

Prayogo, Wisnu Agung. 2009. Kebijakan Pemerintah Orde Baru pada Perfilman Indonesia tahun 1966-1979. Universitas Indonesia. 

Smith, Andreas Whittam. 1999. Why the cinema is still a vital and powerful medium. Independent UK. 

  1. BERDASARKAN TRAILER, MENURUT KALIAN MANA FILM YANG LEBIH MENARIK?

    1. A Copy of My Mind
    2. Crazy Rich Asians
    6 votes
    Share Your Result

Like it? Share with your friends!

3
3 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
1
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format