Menguak Fenomena Redupnya Film Lokal Berkualitas di Negara Sendiri


4
4 points

Hiburan dapat berwujud dalam berbagai macam dan cara. Salah satu wujud hiburan adalah menonton film. Masyarakat indonesia diperkenalkan hiburan berupa menoton film sejak tahun 1929[i]. Kala itu film yang dipertontonkan berupa dokumenter pembangunan di Belanda dan Afrika Selatan. Beberapa tahun berikutnya, film terus berkembang. Di tahun 1950-an, para pengusaha mulai membaca peluang ini dan berlomba-lomba memproduksi film, tidak terkecuali Indonesia yang ikut membuat perusahaan film sendiri. Hingga sampai saat ini, film yang beredar di masyarakat merupakan hasil produksi dalam negeri dan film luar negeri dengan genre yang semakin beragam.

Masalah muncul ketika kehadiran film-film luar negeri ini jauh lebih banyak penonton dibandingkan film indonesia. Hal tersebut dikarenakan minat masyarakat Indonesia terhadap film Indonesia yang rendah. Jika kita mundur ke data tahun 2016, film asing mampu meraih sebanyak 64,86 juta penonton sedangkan film Indonesia hanya mampu meraih 35,73 juta penonton[ii]. Kejadian yang sama terjadi kembali di tahun 2017 dan 2018, film asing dapat meraih satu hingga dua kali lipat dari jumlah penonton Indonesia.

sumber : Pusbangfilm

Kehadiran film-film luar negeri  seakan mengancam film Indonesia. Dari data di atas dapat diambil kesimpulan, masyarakat Indonesia cenderung lebih menyukai film impor daripada film dalam negeri. Padahal film Indonesia tidak sedikit yang menyabet beberapa penghargaan luar negeri. Film Indonesia yang berjudul “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” contohnya. Film ini berhasil menyabet tiga penghargaan internasional diantaranya Sitges Film Festival, Tokyo FILMeX, dan Asian Film Award. Akan tetapi, penghargaan yang bergengsi ini tidak menaikkan jumlah penonton di Indonesia. Dari satu bulan penayangan di bioskop, film ini hanya ditonton 120 ribu orang[iii]. Di tahun yang sama dengan film ini, “Jumanji : Welcome to the Jungle”, yang merupakan film produksi Amerika, berhasil meraih pendapatan sebesar Rp118 miliar dalam waktu dua pekan saja[iv]. Pendapatan yang begitu besar dan cepat diraih membuat distibutor film Jumanji yaitu Sony mencatat Indonesia sebagai negara dengan penonton terbanyak dan terlaris dari beberapa negara yang lain. 

Keadaan yang sungguh berbanding terbalik dengan kondisi film Indonesia ini dapat dianalisisa dengan melihat pasar dan perilaku konsumen dalam membeli film, sehingga diketahui penyebab dibalik kecenderungan masyarakat Indonesia yang lebih memilih film luar negeri dibanding film Indonesia. Oleh karena itu, penulis akan membandingkan film “Marlina Si Pembunuh Empat Babak” dan “Jumanji : Welcome to the Jungle” dikeempat elemen Marketing Stimuli. Marketing Stimuli merupakan langkah awal dalam menganalisis pemilihan  film yang hadir di Indonesia.

Marketing stimuli untuk pemilihan film di Indonesia  dianalisis menggunakan unsur-unsur yang terdapat  pada bagan dibawah ini.

sumber :  CS Canada International Business and Management[v]

The Enviroment

Marketing Mix

“Marlina Si Pembunuh Empat Babak”

“Jumanji : Welcome to the Jungle”

Product

  • Film ini bergenre drama dan thriller
  • Pemain utama adalah Marsha Timothy.
  • Syuting film di Sumba 
  • Sutradara : Mouly Surya
  • Produser : Rama Adi, Fauzan Zidni
  • Distributor : Icarus Film, Kimstim Film

  • Film ini bergenre Action, Adventure dan Comedy.
  • Pemain utama adalah Dwayne Johnson
  • Syuting film di Hawaii ,serta menggunakan teknologi CGI
  • Sutradara : Jake Kasdan
  • Produser : Matt Tolmach, William Teitler.
  • Distributor : Sony Pictures Entertaiment.

Price

Harga tiket film berkisar antara Rp30.000-Rp50.000 tergantung hari.

Tiket dapat dibeli online mapun offline di bioskop.

Pada pemutaran pertama, film ini memberikan freepass di area bioskop.

Harga tiket film berkisar antara Rp30.000-Rp50.000 tergantung hari.

Tiket dapat dibeli online mapun offline di bioskop.

Promotion

Promosi film yang dilakukan dengan cara : poster, video musik lazuardi (pengisi soundtrack film ini), gala premiere, kliping berita, media sosial (menggunakan akun Cineasurya dan aktor-aktris ), merchandise, dsb.

Promosi film ini : Gala premiere, medial sosial (akun film dan akun pemain), poster, dan website 

www.jumanjimovie.com

Sony bekerja sama dengan VRX Networks untuk memberikan pengalaman VR.

Place

Pertama kali rilis di Indonesia film ini hadir di bioskop besar maupun kecil di kota-kota besar.

Film ini juga tayang di Negara lain seperti Amerika Serikat, Kanada, Perancis, Thailand, China, Malaysia dan Brunei.

Film ini tayang di Indonesia Jepang, Brazil, Italia, Rusia, Eropa dan beberapa Negara lain.

Product (Produk)

Film “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” mengisahkan pembunuhan oleh seorang janda bernama Marlina didasari balas dendam kepada orang-orang yang telah merampok rumah dan melecehkan dirinya. Adegan pembunuhan dan pemerkosaan ditampilkan dengan vulgar. Kevulgaran tersebut salah satunya ditunjukkan di adegan Marlina menenteng kepala Markus (tokoh perampok dan pemerkosa Marlina). Selain itu, jalan cerita film ini termasuk kompleks dengan segala permasalahan yang ada sehingga cocok genre merupakan gabungan antara drama dengan thriller. Marsya Timohthy sangat piawai dalam memerankan dan menjiwai tokoh Marlina yang dingin dan tanpa ekspresi. Kepiawaian ini dibuktikan dari kemenangan dirinya sebagai Best Actress pada Sitges Film Festival 2017[vi]

Latar tempat film yang berupa padang rumput terlihat indah di mata penonton tidak lepas dari keahlian Sang Sutrada, Mouly Surya. Meraih kemenangan difilm sebelumnya, Mouly Surya kembali menorehkannya kembali di film Marlina. Dikategorikan sebagai film festival, film Marlina bekerjasama dengan perusahaan distributor KimStim dan Icarus. Kedua distributor film memiliki kesamaan ciri yaitu  mendistribusi film-film dokumenter maupun film festival. 

Berbanding jauh dengan Film Marlina, Film “Jumanji : Welcome to the Jungle” memiliki unsur memacu jantung dan menguras gelak tawa penonton. Adegan tokoh Bethany yang dimakan kudanil raksasa misalnya. 

Teknologi CGI yang disungguhkan kepada penonton sangat menarik karena terlihat nyata. Penggunaan teknologi CGI di dalam film tidak murah, setidaknya perlu mengeluarkan dana $70ribu hingga $100ribu per efek visual[vii]. Selain teknologi CGI, keempat pemeran utama memiliki daya tarik yang kuat karena para aktor dan aktris yang dipilih merupakan pemain yang sudah lama berkecimpung di dunia perfilman Hollywood. 

Kekuatan lain dari film ini adalah pendistribusiannya dilakukan oleh Sony Pictures Entertaiment. Sony terkenal sebagai produser  dan distributor besar dari film-film box office. Jika anda menyukai film Spider-Man, Skyfall, atau Karate Kid, Sony yang memproduksi film tersebut dengan nama perusahaan Columbia Pictures, salah satu perusahaan Sony. Tidak hanya di industri film, Sony juga memiliki industri game sehingga tidak heran ketika film Jumanji ini memiliki game sendiri.

sumber : movieweb.com

Price (Harga)

Baik film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak maupun Jumanji : Welcome to the Jungle memiliki rentang harga yang sama yaitu Harga tiket film berkisar antara Rp30.000−Rp50.000 tergantung hari. Tiket dapat dibeli online di aplikasi penjualan tiket bioskop seperti tix.id dan offline di bioskop. Film Marlina pemutaran pertamanya di bioskop memberikan freepass kepada pengunjung di area bioskop untuk menambah jumlah penonton. Pemberian freepass tidak dilakukan oleh film Jumanji.

Promotion (promosi)

Promosi film Marlina yang dilakukan dengan berbagai cara mulai dari pembuatan poster , video musik lazuardi (pengisi soundtrack film ini), mengadakan gala premiere yang mengundang 1200 orang yang terdiri dari aktor aktris, pembuat film, dan mitra produksi[viii]Promosi media sosial menggunakan aplikasi Instargram dengan akun Cineasurya dan pemain-pemain film, merchandise, dsb. 

Sama halnya yang dilakukan film Marlina dalam melakukan promosi film, hanya saja film Jumanji memiliki beberapa langkah lebih maju. Seperti promosi pada media sosial contohnya, film ini memiliki nama akun media sosial sosial sendiri yang terpisah dari akun produksi dengan nama “jumanjimovie”. 

Akun tersebut penuh dengan cuplikan-cuplikan yang diambil dari film. Film jumanji juga memiliki website sendiri dengan nama www.jumanjimovie.com. Di dalam website ini, terdapat pengenaan tokoh sekaligus mempromosikan kelanjutan dari film jumanji 2017 yaitu “Jumanji : The Next Level” yang akan tayang diakhir tahun 2019. Belum selesai sampai disitu, Sony kembali menawarkan pengalaman memainkan Jumanji dengan Virtual Reality[ix]. Ini bentuk kerja sama antara Sony dengan VRX Networks. 

Place 

Penanyangan film Marlina hadir di bioskop besar maupun kecil di kota-kota besar Indonesia. Distibutor film juga menayangkan di Negara lain seperti Amerika Serikat, Kanada, Perancis, Thailand, China, Malaysia dan Brunei. Begitu pula dengan film Jumanji, film ini tayang di berbagai negara dengan cakupan yang lebih luas. Selain Indonesia, film ini juga hadir di Jepang, Brazil, Italia, Rusia, Eropa dan masih banyak lagi.

The Buyer Black Box

Setelah menganalisis lingkungan pasar, langkah selanjutnya mementukan Black Box dari pembeli. Black Box ini dapat dianalisis mengggunakan karakteristik dari pembeli dan proses pembelian yang dipilih.

Karakteristik Pembeli Film

Karakteristik pembeli film di Indonesia yang lebih memilih film luar negeri  ditelaah dengan keempat kategori di atas yaitu budaya, sosial, personal dan psikologi.

Gen Y (Millenials) Gen Z
Cultrural
Budaya flexibility, optimist, now-focused stability, realist, future focus
Social
Grup leave and read others opinion rely on others opinion
Keluarga family oriented, atentive, children-friendly vacation parents partner, active decision makers, family-friendly vacation
Role danstatus Orang tua Anak
Personal
Umur 25tahun – 40 tahun 10tahun – 25 tahun
Pekerjaan kantoran, content writer, kewirausahaan, ekonomi digital pelajar, youtuber, ahli statistik, translator, start up
Situasi ekonomi bekerja, produktif sebagian pengangguran, sebagian bekerja
Gaya hidup konsumtif, cashless fashionable, traveler, shopping, cashless
Kepribadian team orientation, keterbukaan, transparansi sosial tinggi, multi tasking, peduli lingkungan

Dari segi budaya, generasi y lebih menyukai hal-hal yang sifatnya fleksibel. Sebaliknya, generasi z lebih menyukasi sesuatu yang sifatnya stabil dan tidak berubah-ubah. Selain itu, generasi y lebih berfokus pada kepentingan yang memiliki periode masa kini sedangkan generasi z berfokus kepada kepentingan dan masalah yang akan timbul di masa mendatang.

Dari segi sosial kedua generasi ini saling terkait dalam unit sosial keluarga. Generasi milenial selalu ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga dan generasi z selalu menjadi partner yang aktif bagi orang tuanya. Namun, generasi z-lah yang menjadi pengambil keputusan paling dominan dalam keluarga. Yang menjadi sorotan penting dari segi pemasaran adalah bagian dari pembentukan gagasan berdasarkan informasi eksternal dari anggota unit sosial yang lain. Walaupun generasi y tidak terlalu menghiraukan pendapat dari pihak lain, generasi z, yang merupakan pihak yang mendominasi dalam pengambilan keputusan dalam kelurga, melakukan pengambilan keputusan berdasarkan pendapat dari pihak lain.

Dari segi personal, 98.4% penonton film di bioskop di Indonesia berusia antara 10 sampai 40 tahun. Rentan usia ini dibagi menjadi 2 golongan, yaitu generasi y, atau biasa disebut generasi milenial, yang berusia 26 sampai 40 tahun dan generasi z, yang berusia 10 sampai 25 tahun. 

  • Generasi millennials menonton film untuk sarana hiburan setelah lelah bekerja. Menurut riset Movio, para millennials masih memiliki ketergantungan yang kuat untuk menonton film di bioskop dengan pembuktian bahwa para millennials masih menyisihkan pengeluaran untuk menonton film. Rata-rata mereka menonton 6,2 juta film per tahun dengan tercatat 31% sebagai penonton setia bioskop. Selain itu pada riset Annalect dijelaskan bahwa pada tahun 2014 para millennials usia 20-35 tahun merupakan kelompok umur terbesar yang berkunjung ke bioskop dengan presentase 38%. Generasi Z memiliki umur antara 10-25 tahun. Pada tingkat usia ini seorang generasi Z menonton film untuk mengikuti tren dan social-time dengan teman. Namun menurut riset Nielsen pada tahun 2017, kebiasaan menonton dari internet daripada di bioskop oleh generasi Gen Z yang berusia 16-20 tahun meningkat sebesar 47% setiap hari. Hal ini didukung oleh riset Media Post yang dijelaskan bahwa Gen Z beranggapan bahwa menonton di bioskop tak jauh beda dari pengalaman menonton di rumah. Mereka ingin sesuatu yang berbeda sehingga pengalaman menonton menjadi lebih sosial.
  • Dalam dunia pekerjaan generasi millennials merupakan orang yang seimbang antara pekerja keras dan mementingkan ‘me time’. Generasi millennials memiliki kedisiplinan yang tinggi karena sudah menjadi kebiasaan sejak remaja. Serta hidupnya banyak dipengaruhi perkembangan teknologi sehingga sebagian dari mereka tertarik untuk belajar mengenai bisnis digital. Jadi pekerjaan yang cocok untuk generasi millennials seperti kantoran,content writer, kewirausahaan, ekonomi digital, dan lain-lain. Dalam dunia pekerjaan Gen Z merupakan orang yang idealis sehingga mereka susah untuk diarahkan. Gen Z sangat bergantung pada teknologi, gadget, dan aktivitas di sosial media. Selain itu Gen Z menyukai fleksibilitas, suasana kerja yang kreatif dan menyenangkan, santai, interaksi dengan rekan kerja, dan lain-lain. Jadi pekerjaan yang cocok untuk generasi millennials seperti Pelajar, youtuber, ahli statistik, translator, start up.
  • Sebagian besar generasi millennials sudah bekerja dan mampu untuk memenuhi kebutuhan pribadinya secara mandiri. Oleh karena itu, tingkat ketergantungan dalam menonton film di bioskop cenderung lebih tinggi daripada Gen Z. Seringkali beberapa orang dari generasi millennials tidak mementingkan harga dari tiket bioskop tersebut namun lebih mementingkan pengalaman dan kepuasan yang didapatkan melalui fasilitas bioskop tersebut. Berbanding terbalik dengan generasi millennials, sebagian besar Gen Z belum mempunyai pekerjaan dan belum dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri karena sebagian besar darinya merupakan seorang pelajar. Oleh karena itu, mereka menonton film di bioskop hanya ketika ada film yang sedang tren di kalangannya. Mereka cenderung mempertimbangkan dan meminimalkan pengeluaran ketika menonton film di bioskop dengan cara apapun misalnya mereka lebih memilih untuk menonton pada saat weekdays karena harga tiketnya lebih murah.
  • Optimistic, idealis, individualis. Tumbuh besar saat era digital berkembang. Mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion dan interest, dan mudah bosan sehingga tidak bisa melakukan satu pekerjaan yang sama dalam waktu yang lama. Milenial lebih suka membelanjakan uangnya untuk kebutuhan gaya hidup seperti kuliner, bermain games, dan mendengarkan music secara streaming dibanding memiliki rumah atau kendaraan. Smartphone merupakan hal yang sangat penting bagi generasi milenial. 1 dari 5 orang yang termasuk generasi milenial menggunakan smartphone minimal 4 jam sehari, dua kali lipat lebih banyak dibanding generasi kolonial yang berada dikisaran usia 46-65 tahun.  Riset Credt Suisse menunjukan bahwa mereka lebih suka merasakan sensasi tersendiri dalam menikmati sebuah produk, sehingga travellng merupakan sesuatu yang menjadi kegemaran mereka. Dan loyalitas generasi milenial kepada suatu produk / merk sangat rendah dibanding generasi sebelumnya. Lahir saat teknologi sedang berkembang pesat, ingin segala sesuatu yang serba instan, kurang berambisi untuk sukses, sangat cepat dalam beradaptasi dengan teknologi. Merupakan generasi yang lebih optimis dan bahagia dibanding generasi sebelumnya termasuk milenial. Merupakan pembeli dari produk online, dan merupakan pelaku gig economy yakni ekonomi yang bergantung pada pekerja dengan kontrak seentara kini terus berkembang di era industry 4.0. Generasi z menyukai hidup sehat, makanan yang dikonsumsi sebisa mungkin merupakan makanan sehat. Kegemaran mereka yatu menyambngi tempat wisata. Mereka sangat terbuka terhadap perbedaan, bagi mereka identitas adalah hal terakhir yang harus dikhawatirkan missal terkait agama dan gender.

Gen Millennials

Gen Z

Psychological:

Motivation

Generasi milenial menonton film karena memang ingin menonton film (42%), secara khusus ingin melihat film (20%).

Menonton film karena mengikuti tren, merupakan social-time dengan teman

Perception

Film merupakan jenis hiburan pelepas lelah

Film merupakan hiburan wajib bersama teman

Learning

Film berhasil memberikan kesenangan sesaat dan membuat melupakan hiruk pikuk pekerjaan di kantor

Menonton film memberikan kepuasan, menjadi up to date dengan menonton film yang sedang tren, memberikan pengalaman social time yang menarik bersama teman

Beliefs and Attitudes

Film Indonesia cenderung kurang diminati dibanding film luar karena cenderung mudah ditebak jalan ceritanya

Film luar memang menarik, tetapi beberapa film Indonesia yang sedang tren (Dilan, Brontosaurus) masih diminati oleh Gen Z karena mengangkat kehidupan remaja yang relate dengan mereka.

Generasi Millenial :

Motivasi generasi milenial menonton film adalah karena mereka benar – benar ingin melihat film (40%), mereka juga ingin melihat film di bioskop karena memberikan sensasi yang berbeda jika dibanding dengan menonton di iflix maupun Netflix (20%), dan sisanya karena alasan pergi berkencan (16%), pergi dengan teman – teman (11%), dan hanya karena ingin nonton film (9%).

Kaum milenial juga menikmati film di bioskop karena beberapa alasan. Sebanyak 40% karena mereka ingin keluar di malam hari, 37% karena menikmati suasana menonton dengan sound system yang keras, 14% karena berusaha terbebas dari lelahnya kehidupan nyata, dan 10% karena mereka ingin menghabiskan waktu bersama teman dan mendiskusikan filmnya. Film juga sebagai ajang pelepas lelah dari hiruk pikuk pekerjaan di kantor. Karena sebagai ajang hiburan, Film Indonesia yang dianggap jalan cerita mudah ditebak  kurang diminati.

Untuk generasi milenial, pemasar harus memperhatikan aspek – aspek yang terkait. Ada 4 aspek yang penting di dalam pembelajaran dan implikasinya; film memainkan peran penting dalam kehidupan milenial, trailer suatu film yang berpengaruh, menonton film di bioskop memberikan pengalaman yang lebih baik, serta media social juga berperan di dalam memberikan film.

Gen Z

Berbeda dengan generasi milenial, generasi Z menonton film sebagai hiburan wajib bersama teman. Gen Z yang di dominasi umur remaja membuat  film Indonesia yang mengangkat kehidupa remaja cukup dimintasi seperti film Dilan yang cukup viral beberapa bulan yang lalu. 

Jenis perilaku keputusan pembelian

Perilaku manusia dalam melakukan proses pengambilan keputusan dalam pembelian ditentukan oleh dua hal, yaitu tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat perbedaan antar merek produk yang sama. Keterlibatan pembeli terbentuk dari tiga komponen yang berbeda: harga, tingkat risiko, dan informasi yang tersedia. Di sisi lain, menurut Mahmoud Mohammadian dan Elham Sezavar Habibi, tingkat perbedaan dalam produk film terdiri dari enam komponen, yaitu genre, sutradara, produser, biaya, bintang film, dan nomisasi serta penghargaan yang diperoleh oleh film tersebut. 

Harga jual produk film berkisar pada Rp25.000,00 sampai Rp100.000,00. Harga ini dipresepsikan menengah oleh penikmat film di Indonesia. Dari segi tingkat risiko, pembelian tiket film tidak memiliki risiko yang signifikan terhadap keberlangsungan hidup pembelinya. Dari informasi yang tersedia, tim marketing menyediakan banyak sekali informasi mengenai film. Biasanya, penonton potensial dapat mendapatkan informasi mengenai film dari cuplikan (trailers) atau ulasan yang tersedia di situs web movie’s reviewer. Dari ketiga data tersebut dapat disimpulkan bahwa film termasuk produk yang memiliki high involvement pada perilaku pengambilan keputusan dalam pembelian. Di sisi lain, seperti yang sudah di sebutkan sebelumnya, film merupakan produk yang memiliki tingkat perbedaan yang tinggi antar mereknya. 

Berdasarkan framework di atas, penonton film dapat dikategorikan ke dalam variety-seeking buying behavior. Dalam kategori ini, pembeli akan cenderung tidak loyal dan akan berpindah-pindah dari satu merek ke merek yang lain. Pasar film akan terbagi menjadi dua kategori besar: leader dan minor. Penonton potensial akan memilih produk film dengan jadwal yang lebih banyak, produser yang populer, dan film dengan promo yang menarik. 

Proses keputusan oleh pembeli

Dari karakteristik pembeli milenial maupun gen z, disimpulkan proses pembelian film di indonesia memiliki alur seperti di atas. Pemilihan film didasari atas kebutuhan hiburan bagi gen millenial dan kebutuhan akan eksis serta social time dengan teman-teman bagi gen z. Sebelum menonton film, keduanya melakukan riset kecil seperti melihat review dari film. Pengaruh review ini sangat berpengaruh pada gen z sehingga menarahkan pada keputusan film yang dia akan beli. Keputusan yang diambil dalam memilih film menjadi sebuah perilaku. 

Solusi

  • Pemasar harus memahami personality setiap calon penonton. Misalkan film marlina pembunuh dalam empat babak, terdapat karakter yang menonjol, marlina, sosok wanita tangguh sebagai wujud emansipasi wanita di era modern. Pemasar semestinya menekankan sosok wanita kuat yang sesuai dengan zaman sekarang dimana emansipasi wanita atau kesetaraan gender digalakkan. Pemasar harus menyentuh personality seorang calon penonton wanita sehingga bisa memikat penonton dari segi personal karakter marlina
  • Pemasar harus memahami bahwa peran pemasar sangat bergantung terhadap interaksi sosial. Seperti word-of-mouth influence, setiap penonton yang merasa puas akan merekomendasikan kepada temannya. Atau buzz marketing dengan menggunakan brand ambassador/role model film yang memasarkan filmnya sehingga filmnya menjadi lebih terkenal. Atau menggunakan online social network dimana film tersebut dipasarkan dengan halus melalui komunitas-komunitas penggemar film. 
  • Pemasar bisa mengangkat masalah kepercayaan dan attitudes untuk memasarkan film tersebut. Review sangat berpengaruh pada pembentukan keputusan film. Film Jumanji menambahkan review dari salah satu pemeran utamanya yitu Dwayne Johnson. Dwayne Johnson termasuk aktor yang telah lama berkecimpung di dunia perfilman Hollywod, memanfaatkan ketenaran Sang aktor tersebut tentu menarik perhatian fans untuk untuk menonton film. Dalam arti kata lain, promosi perlu menggunakan orang-orang yang berpengaruh untuk menarik minat.       

Sumber :

[i] Prayogo, Wisnu A., 2009. Kebijakan Pemeritahan Orde Baru Terhadap Perfilman Indonesia 1966-1979.FIB UI

[ii]https://www.ayobandung.com/read/2019/04/12/49558/film-asing-mendominasi-bioskop-film-indonesia-kalah-laris diakses 13 septemner 2019 

[iii]http://www3.development.brilio.net/film/marlina-9-film-ini-raih-piala-citra-tapi-kurang-laku-di-pasaran-181212v.html diakses 13 september 2019

[iv]https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180108153026-220-267454/jumanji-welcome-to-the-jungle-raih-rp118-m-di-indonesia diakses 13 september 2019 

[v] Mohammadian, M. & Habibi, E. S., 2012. The Impact of Marketing Mix on Attracting Audiences to the Cinema. CSCanada , 5(International Business and Management), pp. 99-106.

[vi]https://www.thejakartapost.com/life/2017/10/16/marsha-timothy-wins-best-actress-at-sitges.html diakses 14 September 2019

[vii]https://tirto.id/seluk-beluk-teknologi-cgi-untuk-memoles-film-cvdY  diakses 14 September 2019

[viii] Faried M., 2018. Laporan Kuliah Kerja Profes Divisi Distribusi dan Promosi Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak di Cinesurya Jakarta. Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Surakarta. 

http://clarity.annalect.com/rs/421-OYX-019/images/Now%20Showing%20-%20Millennials%27%20Movie-Going%20Experience_Annalect_press.pdf diakses 14 September 2019

https://www.dolby.com/us/en/millennials-at-the-movies.html diakses 14 September 

“Karakter 4 Generasi, Baby Boomer, X, Y, dan Z dalam Dunia Pekerjaan”, https://www.google.com/amp/www.sipayo.com/2017/05/karakter-4-generasi-baby-boomer-x-y-dan-z-dalam-dunia-pekerjaan.html diakses 14 September 2019

“Revolusi Gaya Menonton Ala Gen Z”, https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/revolusi-gaya-menonton-ala-gen-z-ctUd diakses 14 September 2019

“Nasib Bioskop di Tangan Generasi Milenial”, https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/nasib-bioskop-di-tangan-generasi-milenial-cl8k diakses 14 September 2019

“Apa itu Generasi Milenial dan Perbedaannya dengan Generasi X dan Z “, https://www.quipper.com/id/blog/tips-trick/generasi-milenial-x-dan-z/ diakses 14 September 2019

Adam, Aulia, “Selamat Tinggal Generasi Milenial, Selamat Datang Generasi Z”,  https://tirto.id/selamat-tinggal-generasi-milenial-selamat-datang-generasi-z-cnzX diakses 14 September 2019

“Kenali Karakteristik Tiga Generasi: X,Y,Z”, https://nextleader.id/2018/05/16/kenali-karakteristik-tiga-generasi-x-y-z/ diakses 14 September 2019

Kotler, P. & Armstrong, G., 2017. Principles of Marketing. 17 ed. Edinburg: Pearson.

Author :

Rahmat Hidayat 

Indra Bagus K 

Amalia Wikandari

Hario Wicaksono


Like it? Share with your friends!

4
4 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
2
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
4
Win
OVERACHIEVERS

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format