BRAIN DRAIN DAN BRAIN GAIN DI INDONESIA : SAMA-SAMA DILEMA

Tulisan ini akan membahas fenomena Brain Drain dan Brain Grain yang masing-masing mengambil 1 (satu) contoh sektor untuk masing-masing fenomena.


0

Tulisan ini akan membahas fenomena Brain Drain dan Brain Grain yang masing-masing mengambil 1 (satu) contoh sektor untuk masing-masing fenomena.

Sebagai pengantar, akan diterangkan secara singkat yang dimaksud dengan Brain Drain dan Brain Gain.

Brain Drain adalah Adalah suatu kesenjangan (di berbagai aspek kehidupan) yang sangat mencolok yang terjadi disuatu negara seperti halnya Indonesia dibanding dengan negara-negara dikawasan lainnya yang menjadi pemicu atau penyebab terjadinya migrasi warganya ke negara-negara yang dianggap akan dapat merubah “nasib” hidupnya [[1]]. Atau dalam hal ini, Brain Drain dapat juga dimaknai perpindahan atau degredasi secara kuantitas SDM nya. Sehingga dalam tulisan ini, akan dibahas gambaran Brain Drain tersebut di Sektor Pertanian.

Sedangkan Brain Gain, bermakna meraih kekuatan ilmuan-ilmuan negeri sendiri yang tersebar di seluruh pelosok bumi dengan cara membangun jaringan yang menghubungkan mereka dan menyatukan pemahaman untuk membangun negeri sendiri [[2]]. Fenomena Brain Gain juga dapat terjadi jika terdapat banyak talent baru disebuah komunitas yang berpotensi untuk memajukan komunitas tersebut. Salah satu contoh yang paling mencolok saat ini adalah pertambahan tenaga kerja asing di Sektor Konstruksi. Dalam tulisan dibawah ini, akan dibahas pula fenomena Brain Gain di sektor tersebut.

SEKELUMIT MENGENAI BRAIN DRAIN DI SEKTOR PERTANIAN

Indonesia adalah Negara agraris yang memiliki kekayaan alam serta komoditas pertanian yang melimpah. Dilansir dari situs resmi Kementerian Pertanian Republik Indonesia, selama 4 (empat) tahun terakhir, kinerja Kementerian Pertanian (Kementan) dinilai cemerlang yang ditandai dengan berbagai prestasi seperti penghargaan pengadaan barang terbaik, penghargaan penjaga ketahanan pangan, penghargaan pengarusutamaan gender, penghargaan pengelolaan arsip terbaik dan penghargaan manajemen kepegawaian terbaik. Selain itu, Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian tumbuh signifikan. Akumulasi tambahan nilai PDB sektor ini selama 2013-2017, mencapai Rp1.375 Triliun dan nilai PDB Sektor Pertanian tahun 2018 naik 47% dibandingkan dengan tahun 2013 [[3]].

Dibalik pencapaian gemilang tersebut, terdapat problematika lain terkait sumber daya manusia nya. Ya, bukan rahasia umum bahwa sektor pertanian kurang diminati oleh sumber daya produktif. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian juga terus mengalami penurunan dari 39,68 juta pada Februari 2017, menjadi 38,70 juta pada Februari 2018. Dan jumlah tersebut turun kembali menjadi 38,11 juta pada Februari 2019 [[4]]. Berikut tabel perbandingan dengan sektor lain :

Gambar 1. Persentase Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama

Jika kita lihat, hanya sektor pertanian yang konsisten mengalami penurunan. Sektor lainnya masih terdapat fluktuasi atau bahkan terus meningkat. Mengapa terjadi penurunan personal pada sektor pertanian Indonesia? Memang, di Negara maju seperti Amerika, Belanda, personal pertanian hanya sebesar 10% dari total penduduk. Hal itu karena di Negara maju tersebut, telah tercapai sistem efisiensi tenaga kerja dan teknologi, serta sistem pertanian yang terpusat dan mudah dikontrol. Apakah Indonesia telah mencapai hal tersebut sehingga penurunan personal pertanian bukan problematika? Jawabannya tidak. Karena walaupun dalam 4 (empat) tahun terakhir Kementan telah melakukan kinerja yang gemilang, bukan berarti telah seluruhnya menjamin seluruh sistem pertanian terpusat dan mudah dikontrol seperti di Negara maju. Terdapat permasalahan laten di bidang pertanian Indonesia, yaitu kesejahteraan petani yang tidak pernah membaik karena belum tercapainya produktivitas potensi untuk sebagian besar komoditas, rantai tata niaga masih belum efisien dan berkeadilan, serta fluktuasi harga ditingkat produsen dan konsumen masih tinggi [[5]]. 

Mari kita tinjau data berikut :

Gambar 2. Rata-rata upah buruh menurut lapangan pekerjaan dan jenis kelamin [6]

Terlihat bahwa, rata-rata upah kerja sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, merupakan yang paling rendah. Padahal pada gambar 1, persentase penduduk bekerja di sektor pertanian merupakan yang paling besar, mencapai ± 30%. Sehingga kesimpulan yang dapat diambil terhadap penurunan personal di bidang pertanian selama 3 tahun terakhir, bukan karena kemajuan pertanian Indonesia, namun karena kesejahteraan yang kurang.

Dari segi lulusan sekolah tinggi, juga terdapat beberapa opini lain mengapa sektor pertanian Indonesia kurang diminati, bahkan dari Sarjana Pertaniannya sendiri yang lebih memilih menerapkan ilmu nya di luar negeri [[7]], yaitu :

  1. Menjadi seorang lulusan Pertanian memang tidak sementereng lulusan IT, Teknik, Kimia yang memang sedang banyak dicari pada zaman teknologi ini. Sementara kalau di luar negeri kemungkinan memadukan ilmu yang berbeda cukup besar.
  2. Negara Indonesia sebagai negara agraris justru sedang berusaha mengubah citranya menjadi negara yang diakui dalam bidang teknologi dan bisnis juga. Tak heran jika banyak lahan lahan pertanian yang dialihfungsikan menjadi lokasi industri atau pusat bisnis.
  3. Lulusan pertanian memang sudah seharusnya berkutat dengan tanah. Namun pekerjaan tersebut dipandang kurang bergengsi oleh sebagian kalangan. Tak heran jika para petani pun tidak ingin menyekolahkan anaknya di sekolah pertanian.
  4. Penelitian atau uji coba pengembangan pertanian kurang mendapat apresiasi dari pemerintah. Sementara modal sendiri tidak dimiliki. Berbeda dengan negara maju yang mau mengapresiasi karya anak bangsanya sehingga perpaduan kecanggihan teknologi mampu memajukan pertanian mereka juga.
  5. Sarjana pertanian yang bekerja pada perusahaan besar setara Sinar Mas, memiliki keterbatasan karir hingga setara level Manager dengan range gaji Rp 10 – 20 juta. Sementara negara lain menawarkan kemungkinan besar untuk berkarier dan mendapatkan uang lebih. Apalagi jika sampai mampu melakukan inovasi baru dalam pekerjaannya.

Tidak ditemukan data spesifik mengenai jumlah sarjana pertanian yang bekerja di sektor selain pertanian, namun berdasarkan data statistik ketenagakerjaan sektor pertanian tahun 2017-2018 diperoleh data mengenai tingkat pendidikan pekerja di sektor pertanian yang masih didominasi oleh lulusan Sekolah Dasar dengan 37,53%. Komposisi SDM terbesar kedua didominasi oleh pekerja yang tidak tamat sekolah dasar dengan 24,23% dan tidak tamat sekolah sebesar 7,19 persen. Lulusan sekolah menengah atas dengan 16,83 persen, sedangkan lulusan perguruan tinggi yang ada di tingkatan DI-DIII serta sarjana hanya sebesar 0,45 persen dan 1,02 persen.

Gambar 3. Statistik ketenagakerjaan sektor pertanian tahun 2017-2018 (Setjen Pertanian)

Presiden Jokowi juga pernah mengutarakan kegelisahan tentang masa depan dunia pertanian Indonesia saat menghadiri Sidang Terbuka Dies Natalis Institut Pertanian Bogor ke-54 pada 06 September 2017 [[8]].

Menurutnya, saat ini sarjana pertanian di Indonesia justru banyak yang kerja di bank. Presiden khawatir sektor pertanian dalam negeri akan terbengkalai jika semua sarjana pertanian bekerja di sektor non-pertanian. Dan tentunya pernyataan ini dibalas melalui beberapa artikel dengan argumen yang pada intinya sama dengan pembahasan diatas.

Fenomena Brain Drain di Sektor Pertanian ini berkebalikan dengan Sektor Konstruksi.

BRAIN GAIN TENAGA KERJA ASING DI SEKTOR KONSTRUKSI

Kementerian Ketenagakerjaan telah menetapkan sebanyak 2.196 jabatan bisa diduduki oleh para pekerja asing yang bekerja di Indonesia. Jumlahnya bertambah dari beberapa peraturan sebelumnya. Jumlah jabatan itu mencakup 18 sektor usaha yang ada di Indonesia mulai dari konstruksi, manufaktur, pendidikan dan lainnya. Ketentuan itu diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 229 Tahun 2019 tentang Jabatan Tertentu yang Dapat Diduduki oleh Tenaga Kerja Asing. Peraturan yang ditandatangan 27 Agustus 2019 itu adalah penyempurnaan dari beberapa peraturan sebelumnya yang pernah terbit. Permenaker ini turunan dari Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing [[9]].

Di bidang konstruksi, pada Permenaker yang baru terdapat 181 posisi yang dibolehkan untuk pekerja asing. Sebelumnya dalam Permenaker No KEP 247/MEN/X/2011, jumlah jabatan yang boleh diduduki pekerja asing hanya 68 jenis jabatan. Dirjen Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Syarif Burhanuddin mengatakan, dalam Permenaker terbaru ini, dalam bidang konstruksi jabatan pekerja asing umumnya ditujukan untuk jabatan tenaga ahli. Misalnya, ahli teknik waduk, ahli teknik jembatan, ahli teknik gorong-gorong, ahli terowongan, ahli teknik pemeliharaan gedung, ahli teknik irigasi, dan lainnya [[10]].

Persoalan tenaga asing asing (TKA), memang sensitif, selain persoalan jabatan-jabatan yang boleh diduduki oleh pekerja asing, masalah jumlah juga jadi isu yang setiap tahun jadi perdebatan. Sejak 2014-2018, jumlah TKA di Indonesia telah tumbuh sebesar 38,6%. Di periode yang sama realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) hanya tumbuh di angka 17%. Pada Desember 2018, tercatat sebanyak lebih dari 95 ribu TKA bekerja di Indonesia.

Gambar 4. Jumlah Tenaga Kerja Asing di Indonesia

Jika dilihat berdasarkan negara asalnya, jumlah TKA terbanyak disumbang oleh China di tahun 2017. Jumlahnya mencapai 24.804 TKA atau setara dengan hampir 3% dari total TKA di Indonesia pada 2018.

Gambar 5. Jumlah Tenaga Kerja Asing Berdasarkan Asalnya

Regulasi ini juga mendatangkan protes dari KSPI (Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia). KSPI menolak perluasan jenis pekerjaan yang boleh diisi oleh Tenaga Kerja Asing (TKA). Asosiasi menganggap kebijakan ini berpotensi mengancam keberadaan tenaga kerja lokal [[11]]. 

Namun, Menteri Ketenagakerjaan, M. Hanif Dhakiri mengatakan, Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di Indonesia masih terkendali dan tergolong sangat kecil dibandingkan jumlah penduduk Indonesia sebesar 263 juta jiwa. Ada ketentuan atau persyaratan tersebut sebagai bentuk pengendalian pemerintah terhadap penggunaan TKA di Indonesia. “Mereka yang masuk ke Indonesia, harus punya izin kerja dan izin tinggal. Mereka juga harus punya syarat pendidikan, harus penuhi kompetensi, harus duduk di jabatan tertentu, bekerja di lokasi tertentu dan bekerja dalam lokasi tertentu,” lanjut Hanif.Hanif menambahkan, persyaratan lain bagi TKA yang ingin bekerja di Indonesia yakni harus membayar pajak senilai USD 100 dolar setiap orang per bulannya [[12]].

Memang, tujuan Pemerintah dalam regulasi terbaru ini adalah untuk memenuhi kompetensi yang diperlukan dalam suatu sektor, karena beberapa kompetensi tidak ditekuni oleh masyarakat Indonesia. Namun di satu sisi, kompetensi merupakan hal yang bisa dikembangkan jika SDM Indonesia diberikan kesempatan.

FENOMENA BRAIN DRAIN DAN BRAIN GAIN DARI SUDUT MANAJEMEN BISNIS

Concept 1 : THE DYNAMICS OF BUSINESS AND ECONOMICS

Menurut OC Ferrel, Geoffrey A. Hirt, dan Linda Ferrel, dalam bukunya Business Foundation, A Changing World, untuk menghasilkan profit dibutuhkan :

  • Management Skills
  • Marketing Expertise
  • Financial Resources
  • Abiding by the Law
  • Adapting to Change
  • Acting Ethically

Profit adalah sebuah goal laten dalam suatu kegiatan yang dilakukan dalam sebuah sektor. Tujuan dari profit tersebut adalah sustainability atau keberlangsungan kegiatan tersebut. Dalam sektor pertanian misalnya, Indonesia sebagai Negara agraris seharusnya bertumpu pada sektor ini untuk pertumbuhan ekonominya. Goal yang diinginkan adalah profit yang nantinya akan menunjang keberlangsungan dan kesejahteraan di sektor ini, sehingga meningkatkan PDB Indonesia secara kontinu. 

Kebutuhan untuk menghasilkan profit, berdasarkan kutipan buku diatas, kembali lagi ke kualitas SDM nya. 

Gambar 6. Gambaran Dunia Bisnis

Bahwa bisnis selalu berhubungan dengan manajemen, pemasaran, dan keuangan. Jika sektor pertanian di manage siklus nya dengan baik secara terpusat, maka akan menambah nilai bisnis yang baik dan akan memajukan sektor tersebut. Hal ini akan berdampak kesejahteraan sektor dan justru akan ada Brain Gain di Sektor ini. Hal yang sama diaplikasikan untuk sektor konstruksi, tentu tidak akan diperlukan TKA untuk mengisi kompetensi yang dibutuhkan.

Concept 2 : MANAGING HUMAN RESOURCES

Menurut OC Ferrel, Geoffrey A. Hirt, dan Linda Ferrel, dalam bukunya Business Foundation, A Changing World, untuk mengembangkan tenaga kerja diperlukan hal-hal sebagai berikut :

  • Orientation, agar para pekerja familiar dengan lingkungan sekitar, job desk, dll.
  • Training and Development : Training, Mentoring, Directing, Motivating, dan Development
  • Assessing Performance, dilakukan oleh manager/atasan langsung yang bertujuan untuk mengevaluasi pekerja, ukuran dalam menentukan apresiasi, memberikan kenyamanan lingkungan kerja melalui feedback yang diberikan, dll.
  • Turnover, terjadi ketika pegawai keluar atau digantikan
  • Promotion
  • Transfer / mutasi
  • Separations, pembatasan terkait term/condition untuk para pekerja.

Jadi, pengembangan kualitas SDM dilakukan secara menyeluruh dari mulai perekrutan, pengembangan skill, evaluasi, dan kontrak kerjanya. Hal ini dapat diterapkan untuk mengurangi Brain Drain maupun pengurangan perekrutan TKA. Karena dengan ini, pemangku kepentingan dapat mengevaluasi dan bahkan memberikan kenyamanan yang diinginkan untuk mempertahankan pekerjanya sehingga bisnis di sektor tersebut dapat sustain.

Concept 3 : MANAGING OPERATIONS AND SUPPLY CHAIN

Menurut OC Ferrel, Geoffrey A. Hirt, dan Linda Ferrel, dalam bukunya Business Foundation, A Changing World, proses transformasi pada manajemen operasi dapat digambarkan sbagai berikut :

Gambar 7. Transformasi pada Manajemen Operasi

Manajemen operasi merupakan suatu rangkaian proses produksi hingga menjadi produk. Pembuatan barang dan jasa merupukan suatu proses transformasi dari sumber dayamenjadi barang dan jasa. Semakin efisien transformasi dilakukan semakin produktif pelaksanakan manajemen operasinya. &rodukti$itas menjadi ukuran utama yang digunakanuntuk mengetahui kinerja dari suatu kegiatan operasi. Produktivitas merupakan ukuran bagaimana baiknya suatu sumber daya diatur dan dimanfaatkan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Manajemen operasi pada suatu sektor yang diatur dengan baik pastinya akan menjamin proses bisnis yang diinginkan. Contoh, dalam sektor pertanian, jika dilakukan standarisasi proses tanam hingga jual di setiap hasil pertanian, tentu kualitas pertanian dapat dikontrol. Setelah dilakukan standarisasi, tentu harus dilakukan pemantauan atau evaluasi untuk mendapatkan kualitas produk yang diinginkan. Produk dengan kualitas baik tentu akan menjamin keberlangsungan bisnis yang diinginkan.

SOLUSI DILEMA MELALUI BEST PRACTICE DI NEGARA LAIN

Brain, adalah mengenai manusia. Manusia sebagai survivor handal tentunya akan selalu bersirkulasi mencari Comfortability, seperti kemajuan karir, kebebasan finansial, kesejahteraan keluarga, dan lain-lain. Kedua dilema diatas memiliki akar permasalahan yang sama, yaitu kebutuhan perhatian terhadap SDM oleh pemerintah. Di sektor pertanian, Brain Drain terjadi karena kurangnya apresiasi pemerintah terhadap personal pertanian yang ditandai dengan upah kerja sektor terendah. Sedangkan Brain Gain di sektor konstruksi, terjadi melalui pertambahan TKA karena faktor kurangnya kompetensi WNI sendiri.

Mari kita lihat Negara lain me-manage warganya sehingga menjadi Negara yang unggul atau sejahtera:

Belanda di Bidang Pertanian : More with Less

Belanda mampu menjadi negara peringkat 2 untuk negara pengekspor produk pertanian dengan nilai ekspor mencapai 72,8 miliar Euro. Produk andalannya adalah benih dan bunga. 

Gambar 8. Kebun Bunga Tulip di Keukenhof, Belanda (Courtesy : Desirhakim)

Sektor pertanian dan pangan termasuk dalam Top Sector dari prioritas ekonomi Belanda. Menurut statistik dari Kementerian Pertanian Belanda, sektor ini telah menyumbangkan 9,2% dari total GDP dan 9% penyerapan tenaga kerja di Belanda (2012) [[13]]. 

Padahal, luas Negara Belanda hanya 10% dari luas Negara Indonesia, dan memiliki hasil alam yang jauh sekali dibanding Indonesia. Kunci kesuksesan Belanda adalah Sumber Daya Manusia nya. Geografi yang serba terbatas membuat Belanda memaksimalkan penduduknya agar memiliki kualitas ciamik dan mampu berinovasi melalui riset-riset terdepan. Terbukti, salah satu perguruan tinggi di Belanda, Wageningen University, merupakan universitas terbaik di dunia untuk bidang pertanian, dan Technische Universiteit Delft, adalah “etalase” keberhasilan Belanda dalam penguasaan teknologi pengelolaan air dan teknik sipil [[14]].

Dengan penyerapan tenaga kerja yang tinggi di sektor ini, banyak ditemukan lulusan luar Belanda justru menetap dan bekerja di sektor pertanian Belanda.

Jepang : Rajanya Efisien

Teknologi yang tiada saing merupakan image Jepang yang tak diragukan. Namun siapa sangka, keberhasilan pertanian di Jepang tidak seluruhnya karena faktor kemajuan teknologinya. Justru perhatian teliti pemerintah terhadap sumber daya manusia nya yang membuat pertanian Jepang sangat maju. Sinergi antara pemerintah, Swasta, dan Universitas (peneliti) memberi andil besar dalam kesuksesannya. Pihak universitas yang membuat penelitian terbaru mengenai pertanian, siap didanai pemerintah dan swasta dengan dana yang fantastis[[15]]. Tidak heran banyak WNI yang tergiur untuk belajar dan menetap disana.

Sebagai gambaran, berikut penuturan salah satu WNI yang bekerja di salah satu perusahaan pertanian di Jepang :

Dari video tersebut, dapat kita lihat bahwa langkah seluruh tahap dari mulai tanam hingga dijual, dilakukan dengan metode yang jelas dan efisien. Sehingga pekerjaan dilakukan dengan terarah. Pemerintah juga turut campur tangan terhadap harga produk pertanian. Hasil pertanian biasanya akan dibeli oleh pemerintah sehingga pemerintah bisa mengendalikan harga yang layak.

Meski begitu, ada juga pihak swasta yang membeli hasil pertanian. Tetapi pihak swasta tidak akan membeli hasil pertanian di bawah harga pemerintah. Dengan begitu, tak ada istilah petani dirugikan karena dipermainkan tengkulak [[16]]. Kesejahteraan personal di bidang pertanian di Jepang patut diacungi jempol, sehingga tidak pernah ada istilah Brain Drain di sektor ini.

FINLANDIA : TINGKAT KEBAHAGIAAN TINGGI BAGI WARGANYA

Dalam catatan detikTravel, tahun 2018 ini Finlandia menyabet 2 'gelar' bergengsi dunia. Dalam World Happiness Report yang dikeluarkan PBB pada bulan Maret kemarin, Finlandia menempati peringkat pertama negara paling bahagia sedunia. Satunya dari Travel and Tourism Competitiveness Report 2017 yang dikeluarkan WEF (World Economic Forum), Finlandia juaranya negara paling aman sedunia. Pendidikan adalah kunci untuk kemajuan, begitu prinsip negaranya [[17]].

Warga Finlandia yang jumlahnya “hanya” 5,5 juta orang, memiliki kesejahteraan hidup yang sangat tinggi, karena pajak penghasilan yang diterapkannya tinggi, yakni 49,2% per tahun. Pajak yang dikumpulkan di Finlandia didistribusikan di seluruh negeri, untuk kegiatan pemerintahan, gereja, kota, dan Kela (lembaga yang menangani layanan sosial seperti tunjangan pengangguran, tunjangan anak, asuransi kesehatan, dan bantuan keuangan siswa) [[18]].

Gambar 9. Finlandia

Dengan tingkat korupsi paling kecil di dunia, pengaturan pajak tersebut hampir sempurna kembali lagi ke kesejahteraan warganya sendiri. Sehingga kualitas SDM baik secara kognitif maupun kebahagiannya, terukur tinggi.

Semoga artikel ini dapat memberikan inspirasi dan membantu untuk Indonesia yang lebih baik.

Ditulis Oleh : Wilma Aziza /39P19174


SUMBER :

[1] https://widuri.raharja.info/index.php?title=Brain_Drain

[2]https://rahadiansunandar.wordpress.com/2011/03/13/brain-gain-brain-drain-dan-brain-circulation-2/

[3] https://katadata.co.id/berita/2019/01/09/pdb-sektor-pertanian-terus-membaik

[4]Data Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2019 dari Badan Pusat Statistik

[5] https://www.cakaplah.com/artikel/serantau/2019/05/06/permasalahan-sektor-pertanian-indonesia-yang-tidak-pernah-usai/#sthash.nlumNLCo.dpbs

[6]Data Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2019 dari Badan Pusat Statistik

[7]https://www.kompasiana.com/lumangge/55202efda333113c31b67190/ketika-lulusan-pertanian-memilih-bekerja-di-luar-negeri

[8] https://www.idntimes.com/news/indonesia/rudy-bastam/respon-sindiran-jokowi-ini-kata-sarjana-pertanian-yang-bekerja-di-bank-1/full

[9] https://www.cnbcindonesia.com/news/20190908221608-4-97901/2-ribu-jabatan-bisa-diisi-pekerja-asing-ini-penjelasannya

[10] https://kumparan.com/@kumparanbisnis/tenaga-kerja-asing-boleh-masuk-bagaimana-nasib-pekerja-konstruksi-ri-1rptzb5CmmB

[11] https://www.liputan6.com/bisnis/read/4059164/kspi-tolak-perluasan-jenis-pekerjaan-untuk-tenaga-kerja-asing

[12] https://m.liputan6.com/bisnis/read/4059130/pekerja-asing-bantu-penuhi-kebutuhan-tenaga-kerja-di-sektor-konstruksi

[13] https://news.detik.com/kolom/d-2415273/pada-belanda-kita-belajar-tani-dan-pangan

[14] https://edukasi.kompas.com/read/2016/05/25/18021971/kita.perlu.belajar.dari.belanda.negeri.miskin.sumber.daya.?page=all

[15] https://erakini.com/teknologi-pertanian-jepang/

[16]https://8villages.com/full/petani/article/id/5ce369933a4bcb6c685c957f

[17]https://travel.detik.com/travel-news/d-4023618/mengapa-finlandia-jadi-negara-paling-aman-dan-bahagia

[18] https://batam.tribunnews.com/2018/08/29/inilah-5-negara-dengan-pajak-penghasilan-tertinggi-di-dunia-hanya-2-bukan-skandinavia

[19] Business Foundation, A Changing World oleh OC Ferrel, Geoffrey A. Hirt, dan Linda Ferrel

[18] Statistik ketenagakerjaan sektor pertanian tahun 2017-2018 (Setjen Pertanian)


GAMBAR

Thumbnail : Kumparan (Ladang Pertanian Lereng Sindoro)

  1. Data Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2019 dari Badan Pusat Statistik
  2. Data Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2019 dari Badan Pusat Statistik
  3. Statistik ketenagakerjaan sektor pertanian tahun 2017-2018 (Setjen Pertanian)
  4. https://www.cnbcindonesia.com/news/20190908221608-4-97901/2-ribu-jabatan-bisa-diisi-pekerja-asing-ini-penjelasannya
  5. https://www.cnbcindonesia.com/news/20190908221608-4-97901/2-ribu-jabatan-bisa-diisi-pekerja-asing-ini-penjelasannya
  6. Business Foundation, A Changing World oleh OC Ferrel, Geoffrey A. Hirt, dan Linda Ferrel
  7. Business Foundation, A Changing World oleh OC Ferrel, Geoffrey A. Hirt, dan Linda Ferrel
  8. Desir Hakim
  9. Detik Finance

Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format