GENERASI LANGGAS VS MEDIA LAWAS: Generasi Music on Demand dan Jatuh Bangunnya Radio Konvensional

“So I listen to the radio, remember how we used to go, all the songs we used to know...” – Radio, The Corrs (1999)


76
2 shares, 76 points

Siapa yang ikut menyanyikan kutipan lirik tersebut saat membaca judul di atas?

Bagi yang ikut menyanyikan lirik lagu tersebut pasti dulunya sering duduk nongkrong di depan radio sambil mendengarkan ada yang kirim-kirim lagu atau mungkin menunggu ada yang kirim salam lewat radio. Lagu tersebut sempat bertengger di tangga lagu Top 20 di Ireland, New Zealand dan UK pada tahun 1999-2000 dan tentu saja banyak dinyanyikan oleh muda-mudi di Indonesia juga di tahun tersebut itu.  Ya, lagu Radio dari The Corrs, diputar di radio dan hampir setiap radio di Indonesia memutar lagu tersebut pada masanya. Lalu bagaimana dengan nasib radio di Indonesia saat ini? 

Disini, akan saya coba bahas nasib radio Indonesia di tengah terpaan perkembangan teknologi aplikasi musik streaming atau music on demand.

Istilah teknologi sudah sangat tidak asing lagi untuk didengar karena sudah menjadi bagian dari keseharian manusia, teknologi sendiri sudah meluas dan tidak hanya menjadi sekedar alat, tapi juga sudah menjadi suatu cara, proses dan konsep yang dapat mempermudah keseharian hidup manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teknologi memiliki arti: [1] metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan; [2] keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yg diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia (1).

Beberapa jenis teknologi yang mengalami perkembangan sangat pesat dan memberikan manfaat yang banyak pada kehidupan manusia adalah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi banyak mempermudah dan mempercepat alur penyampaian informasi dan komunikasi dengan biaya yang relatif lebih murah. Misalnya saja dulu, apabila ingin berkomunikasi dengan keluarga, kita berkirim surat, seiring berkembangnya teknologi mulailah muncul telepon rumah, lalu ke mobile phone hingga sekarang dengan perkembangan internet. Sudah banyak aplikasi dalam mobile dan smart phone yang mempermudah proses komunikasi dengan jaringan internet seperti Whatsapp Chat yang berkembang fiturnya menjadi Whatsapp Call dan Whatsapp Video Call hingga ke Group Call, bahkan generasi millennials mulai banyak yang berkomunikasi via sosial media seperti Instagram, Facebook messenger dan sebagainya. Perkembangan industri smart phone dan internet pun terlihat dengan jumlah penetrasi pengguna internet dan sosial media yang mencapai setengah dari jumlah populasi, bahkan untuk penetrasi mobile melebihi total populasi yang ada, dalam arti satu orang per populasi di Indonesia memiliki kemungkinan untuk punya lebih dari satu smart phone atau lebih dari satu nomor mobile.

Data: Mobile Subscriptions dan Internet Users Indonesia

Source: WeAreSocial Hootsuite. (2019). Digital 2019 Indonesia.

Jika dilihat dari profil pengguna sosial media sendiri, banyak berkisar antara umur 18-34 tahun dan hampir terbagi rata antara pengguna pria dan perempuan. Banyaknya jumlah pengguna internet dan sosial media di kalangan muda ini, membuat Indonesia menjadi salah satu pangsa pasar terbesar untuk pengembangan teknologi. Pasalnya perkembangan teknologi ini sudah menjadi bagian penting dari keseharian hidup dengan membukakan banyak akses informasi dan komunikasi terutama bagi para kaum muda untuk beradaptasi sesuai dengan perkembangan zaman.

Data: Social Media Audience Profile Indonesia.

Source: WeAreSocial Hootsuite. (2019). Digital 2019 Indonesia.

Generasi langgas atau generasi millennials merupakan generasi muda kelahiran pada sekitar tahun 1980-2000. Generasi langgas yang dikenal juga sebagai generasi millenials adalah generasi bebas. Langgas diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang berarti tidak terikat kepada sesuatu atau kepada seseorang; bebas (2). Istilah ini diperkenalkan oleh OMG Consulting dan dituangkan dalam buku berjudul Generasi Langgas Millenials Indonesia karya Yoris Sebastian yang berkolaborasi dengan Dilla Amran dan Youth Lab. Dalam bukunya, Yoris menjelaskan, jika tahun 2015 jumlah millenials di Indonesia ada 84 juta orang berdasarkan data dari Bappenas. Sedangkan jumlah penduduk di Indonesia saat ini mencapai 265 juta dan jumlah generasi langgas sendiri terus bertambah hingga kurang lebih 106 juta di tahun 2019 ini. Jadi kalau di persentasikan, millenials ada sekitar 40% dari penduduk Indonesia. Dengan banyaknya jumlah dari usia generasi langgas yang masuk dalam usia produktif pun konsumtif ini tentu saja membuat generasi ini banyak menjadi target bagi para pelaku bisnis mulai dari lokal hingga global.

Generasi langgas ini sendiri memiliki karakteristik yang berbeda dalam menyikapi banyak hal dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya, karena hampir seluruh aspek kehidupan mereka didukung oleh era digitalisasi, perkembangan teknologi komunikasi serta keterbukaan informasi yang pesat dan kebebasan untuk memilih. Dikatakan sebagai generasi yang berbeda karena secara cepat generasi ini beradaptasi, bahkan bisa dikatakan generasi inilah yang memberikan definisi dalam pesatnya perkembangan teknologi tersebut. Contoh saja dalam hal mencari hiburan, hidup di era digitalisasi membuat generasi langgas ini banyak dan bisa mencari hiburan secara instan dan virtual. Generasi ini berkembang pesat baik secara global maupun di Indonesia, mereka memiliki karakteristik yang unik, yang membuat industri teknologi harus berkembang lebih cepat untuk mengimbangi mereka. Beberapa karakteristik unik mereka, misalnya:

1. The Now Generation

Sesuai dengan istilahnya, maunya serba instan dan serba cepat tapi efisien dan efektif baik dalam pola hidup, cara mencari informasi, cara mencari hiburan dan sebagainya. 

2. Technology Savvy dan Digital Savvy

Dengan kemajuan teknologi, memungkinkan generasi ini melakukan segala sesuatu serba cepat, misal mau tahu akan suatu hal tinggal mencari di mesin pencari Google, mau membuat portfolio kerja tinggal mengunduh template yang ada di internet, mau saling berbagi data atau dokumen tinggal berbagi di cloud. Mereka juga banyak mencari informasi melalui internet dan jejaring sosial. Menurut survei Nielsen, sebanyak 97% remaja menyatakan mereka mengakses internet melalui perangkat mobile seperti smart phone atau tablet. Aktivitas yang paling banyak dilakukan oleh mereka dengan internet ini adalah berinteraksi melalui media sosial, menjelajah internet, menonton video atau film, dan mendengarkan musik. Millennials berkembang dan mulai mengukuhkan interaksi sosial dalam kehidupan mereka bersamaan dengan lonjakan perkembangan teknologi yang pesat, sehingga tidak salah jika millennials mendapatkan julukan tech savvy (3). 

3. The Experience Seeking Youngsters 

Kepemilikan akan suatu barang sudah tidak lagi menjadi pilihan utama bagi millennials. Untuk generasi ini, mereka lebih mengutamakan experience, lebih baik mencari uang untuk travelling, hangout, mencari teman dan komunitas sebanyak-banyaknya untuk berbagi dibandingkan untuk membeli kendaraan, rumah dan sebagainya. Hal ini terlihat dari minimnya kepemilikkan mereka akan suatu barang, mau nonton dibandingkan membeli DVD dan alatnya, lebih baik menonton di Netflix. Jika generasi sebelumnya harus membeli VCD atau DVD film kesukaan untuk dinikmati, kini Gen Z bisa memanfaatkan layanan pengaliran film dan video seperti Youtube, Netflix, iFlix, dan lainnya. Hal ini terlihat dari jumlah akses konten video melalui platform digital yang meningkat pesat (4). Mau pergi-pergi dibanding harus beli kendaraan, bisa menggunakan Grab atau Gojek dan seterusnya.

4. Simplify and Customize Everything

Untuk generasi langgas, setiap informasi dan tren dapat diadopsi dan diterjemahkan kembali sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal ini yang membuat tumbuhnya tren DIY atau Do It Yourself yang dibantu dengan konten-konten yang diberikan oleh media digital seperti Youtube. Banyaknya tutorial cara menggunakan make up, mengolah makanan bahkan hingga ke pembuatan playlist personal di aplikasi musik. Dan tentu saja kesemuanya harus dikemas secara simple, semua bisa diakses dan digunakan dalam satu alat.

Source: Hype Abis Campaign Proposal. (2018).

Tentu saja, masih banyak karakteristik lainnya yang membedakan generasi langgas ini dengan generasi-generasi sebelumnya. Yang terpenting, generasi langgas ini banyak merubah wajah industri teknologi di Indonesia dengan karakteristik-karakteristik unik mereka. 

Dengan gaya hidup dan gaya konsumsi yang berbeda, generasi langgas memiliki ekspektasi yang berbeda dan yang lebih dari teknologi-teknologi yang sudah ada sebelumnya. Di satu sisi, perkembangan teknologi yang ada membuat generasi ini menjadi generasi yang berbeda karena merubah pola konsumsi teknologi, konsumsi hiburan dan konsumsi lainnya dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Hal inipun dipertegas oleh Presiden RI, Pak Jokowi dalam kunjungannya ke JCC beberapa waktu lalu “Perubahan bukan hanya pola konsumsi tapi juga pola kerja. Ini akan berubah semuanya dan pola produksi akan ada perubahan. Hati-hati pengusaha, ini peluang bukan ancaman,” tutup Jokowi (5). Di sisi lain membuat banyak industri teknologi baru bermunculan, mereka membuat tantangan baru, meningkatkan level kompetisi dan memberikan pengalaman yang berbeda dari teknologi-teknologi sebelumnya. Industri teknologi baru ini merubah wajah teknologi secara pesat, merubah pola hidup, pola kerja dan selera konsumennya, serta yang terpenting membuat industri teknologi yang sudah ada yang masih memberikan tawaran konvensional dan belum bisa beradaptasi, perlahan mulai mengalami kelesuan.

Sebut saja industri media entertainment atau hiburan yang dikeluarkan oleh Sony, yaitu Walkman dan Discman. Walkman merupakan revolusi bagi tren perangkat musik portable, pemutar kaset ini lahir kurang lebih hamper 40 tahun lalu. Di saat tape dan radio masih berjaya, namun memiliki keterbatasan karena ukurannya yang besar dan berat sehingga sulit untuk dibawa sambal beraktivitas. Walkman, sebagai perangkat musik portable dianggap sebagai sebuah gebrakan pada masanya. Dengan konsep penggunaan earphone dan memiliki sumber daya dari baterai, perangkat musik ini bisa dibawa-bawa oleh konsumen sambil beraktivitas dimana saja dan kapan saja. Erapun kembali berganti, dikala CD mulai bertebaran dan merajai pasar, Sony membuat Discman dengan menggunakan CD sebagai sumber musiknya. Memiliki konsep yang sama dengan Walkman, Discman mulai dipasarkan pada tahun 1984 (6). Kehadiran Walkman dan Discman membuat Sony menjadi perusahaan dalam daftar teratas pemain utama di pasar musik portabel. Akan tetapi kejayaan ini pun tidak berlangsung terlalu lama, kehadiran iPod dan musik digital pada tahun 2000-an, membuat penjualan Walkman mulai lesu. Hal ini juga dibarengi dengan berkurang hingga bangkrutnya toko-toko yang menjual kaset dan CD seperti Aquarius Mahakam dan Disc Tarra. Kini di usianya ke-40, Sony masih berusaha untuk mengikuti perkembangan zaman dengan merilis Walkman yang mendukung format digital, akan tetapi tetap tidak bisa mengembalikan masa kejayaannya. Hal ini terjadi karena mereka tetap tergerus dengan perkembangan teknologi pemutar musik lain yang menuntut semuanya lebih simple dan bisa diakses langsung dari smart phone.

Source: https://beritagar.id/lomba/infografik-2017/galeri/streaming-era-baru-musik-digital

Chris Robley dalam tulisannya diymusician.cdbaby.com mengatakan, generasi millennials ingin menyaksikan kegiatan sehari-hari musisi favorit mereka, mereka ingin merasa terlibat dalam segala penciptaan, branding dan proses pembuatan karya, mereka memerlukan interaksi yang sering dalam media sosial serta tidak ingin berjarak dengan musisi favorit mereka (7). Sifat generasi langgas yang tidak mau ketinggalan zaman atau dikenal dengan FOMO (Fear of Missing Out) membuat mereka ingin terlibat dan mendapatkan experience langsung dengan apa yang mereka sukai. Dalam hal ini musik untuk millennials bukan lagi sekedar hiburan satu arah yang cukup didengarkan saja oleh mereka, tapi musik sudah menjadi kebutuhan sehari-hari dan masuk dalam banyak aspek aktivitias millennials Bukan hanya itu, interaksi dengan musik atau musisi pun menjadi suatu kebutuhan bagi millennials, dimana dengan akses digital mereka bisa melakukan interaksi dan memiliki pengalaman langsung dengan musik tersebut.

Kelesuan dari perubahan bentuk teknologi yang termakan zaman pun tidak hanya terjadi dalam industri pemutar musik, tapi juga hampir di beberapa lini industri media hiburan lain seperti peralihan dari nonton film di televisi lalu ke VCD atau DVD ke Video on Demand atau OTT (Over The Top) channel seperti Netflix, HOOQ dan Iflix. Dari mendengarkan radio ke kaset, kaset ke CD, CD ke pemutar digital dan sekarang ke aplikasi musik streaming. Keberadaan dan perkembangan generasi langgas sangat berimplikasi terhadap perkembangan teknologi di industri media hiburan, dimana generasi ini sangat peduli dengan experience dan engagement yang bisa diberikan dari media yang mereka miliki.

Radio merupakan salah satu bentuk penyiaran media massa konvensional yang cukup bertahan dengan format siaran dan bisnisnya. Radio sendiri merupakan media penyiaran elektronik tertua, sekaligus menjadi bagian penting dari sejarah dan keluarga di Indonesia. Pada masa penjajahan, tepatnya tanggal 1 April 1933 stasiun radio siaran pertama Indonesia milik sendiri didirikan. Dengan adanya media seperti radio dan televisi, masyarakat pada saat itu bisa mendapatkan informasi secara cepat dan aktual. Pada era Orde Baru, siaran radio sepenuhnya diselenggarakan melalui Radio Republik Indonesia atau RRI, sedangkan di masa reformasi peran radio mulai beragam (8). Tak hanya sebagai media penyampai informasi, namun juga sarana hiburan untuk memutar lagu-lagu hits dari dalam dan luar negeri. Bahkan radio sempat dianggap sebagai salah satu media yang bisa memberikan bonding dan engagement kepada pendengarnya. Pada masanya, pendengar duduk menunggu di depan radio hanya untuk mendengarkan lagu yang sudah di request atau mengirimkan salam lewat penyiar dan lagu yang diminta.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, masa depan media radio pun mulai dipertanyakan. Secara data yang dihimpun KPI sampai dengan bulan November 2016, ada 3056 radio swasta yang telah memiliki Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP). Akan tetapi pada kenyataannya, di tahun 2019 ini sudah banyak radio-radio kecil yang berjatuhan dan diakuisisi oleh perusahaan radio yang lebih besar, bahkan perusahaan radio yang besar pun masing mengalami penurunan laba. Misalkan saja PT Mahaka Radio Integra Tbk atau MARI yang merupakan pengelola stasiun radio Gen FM dan Jak FM mencatatkan penurunan laba bersih sebesar Rp14,076 miliar per Juni 2019, turun 20,6% dari Juni 2018. Kenaikan beban umum dan administrasi lebih besar dibandingkan pertumbuhan penjualan dan pendapatan usaha MARI. Perseroan juga mencatat rugi selisih kurs sebesar Rp10,132 juta per Juni 2019 (9). 

Berbagai usaha sebenarnya sudah dilakukan dari para pengelola stasiun radio saat ini seperti masuk dalam ranah sosial media, komunitas, event, podcast dan beriklan, tapi sepertinya radio tetap memiliki tantangan untuk bersaing dengan pengaruh globalisasi dan digitalisasi. Layaknya manusia, produk ataupun jasa akan mengalami fase-fase dalam hidupnya. Jika diibaratkan dalam fase kehidupan, radio sendiri sepertinya mengalami jatuh bangun dalam beberapa tahun terakhir ini. Sebagai contoh dalam life cycle dari suatu produk atau jasa, saat ini radio sudah berada di fase decline atau sudah mengalami penurunan. Beberapa perbandingan di bawah bahkan menunjukkan fase dimana produk atau jasa tersebut sudah tidak lagi di pasaran:

Konsumen merupakan faktor utama yang menentukan jatuh bangunnya siaran sebuah radio. Informasi dan hiburan merupakan dua kebutuhan dasar konsumen yang menentukan apakah radio masih menarik untuk dikonsumsi atau tidak. Dengan banyaknya konsumen muda yang memiliki kecenderungan untuk mencari media yang secara audio dan visual lebih menarik, bisa memberikan experience dan engagement maka hal ini menjadi sebuah tantangan besar bagi radio karena hal-hal tersebut bisa diberikan oleh media televisi dan internet (Youtube, Netflix, dsb).  Hal ini menyebabkan penetrasi radio kian menurun hingga ke angka 7% dan tingkat konsumsi audio di online streaming meningkat secara signifikan dari tahun 2017.

       

Data: Indonesia, Media Consumption 2018.

Source: WARCC Data Global Web Index. (2019). Media Consumption Overview: Indonesia.

Tak hanya penetrasi radio, bahkan bagi para millennials yang masih mengkonsumsi radio pun, tingkat waktu yang dihabiskan dalam mendengarkan radio pun mengalami penurunan yang cukup jauh. Jika 8 tahun yang lalu rata-rata waktu yang dihabiskan untuk mendengarkan radio adalah sekitar 1.9 jam per hari, di 2015 sendiri rata-rata hanya 1.2 jam/ hari dan per kuartal I tahun 2019 hanya sekitar 0.9 jam per hari. Millenials ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengakses online Youtube, streaming musik dan streaming radio.

Data: Millenials Streaming Activity.

Source: WARCC Data Global Web Index. (2019). Media Consumption Overview: Indonesia.

Data yang ditunjukkan masih sebatas data dari sisi konsumennya, dimana stasiun radio menghasilkan keuntungan dari banyaknya pendengarnya, dalam arti, semakin banyak pendengarnya maka semakin banyak pengiklan yang menaruh iklannya di stasiun radio dan sosial media radio tersebut. Dari data di atas saja tingkat penetrasi dan juga penggunaan media radio menurun, bagaimana dengan sisi pengiklan yang menaruh iklannya di radio? Pengiklan pun melihat tren yang sama dengan penurunan dari listenership radio. Secara pengeluaran budget, terlihat penurunan dari budget yang dikeluarkan untuk beriklan di radio, bahkan hanya dalam rentang satu tahun, penurunan yang terjadi sampai dengan -27%.

Data: Media Budget Spending Trend 2016 – 2019.

Source: Roy Morgan Single Source Q1 2014-Q1 2019.

Baik dari segi konsumen dan juga pengiklan, radio dilihat tidak terlalu menarik dan mengikuti perkembangan era sehingga mulai ditinggalkan. Radio pernah mengalami masa berjayanya bagi para konsumen dari generasi sebelumnya, akan tetapi radio juga harus beradaptasi dengan target konsumen yang eksis sekarang yaitu para generasi langgas atau millennials. Generasi ini menginginkan platform media yang serba instan, personal (customized), bisa memberikan engagement dan experience tertentu. Generasi ini sudah merubah definisi dan fungsi dari industri radio era yang dulu memutar musik-musik hits untuk didengarkan, karena musik-musik hits itu bisa didengarkan dengan lebih personal lewat platform media lainnya. 

Jika bisa disimpulkan, bukan musiknya yang ditinggalkan oleh generasi langgas, tapi media untuk mendengarkan musiknya yang kembali berubah di generasi ini, radio tidak lag menjadi platform media yang relevan untuk digunakan. Karena generasi ini sangat terbuka terhadap teknologi dan internet membuat akses terhadap berbagi genre musik makin beragam mulai dari R&B, hip hop, lagu era 90-an, K-Pop atau lagu-lagu yang sesuai dengan suasana hati. Kecenderungan generasi ini yang memiliki rentang perhatian pendek terhadap semua hal termasuk musik, membuat mereka selalu mencoba mencari musik-musik yang baru. Hal inilah yang membuat mereka memilih untuk mendengarkan musik dengan lebih praktis melalui smartphone lewat layanan layanan streaming radio dan streaming musik dan bukan melalui media radio konvensional. Kehadiran aplikasi streaming musik atau music on demand seperti Joox dan Spotify memudahkan milenialls dalam mencari dan menikmati lagu-lagu favorit kapan saja dan dimana saja, tanpa harus memenuhi kapasitas memori smart phone mereka.

Platform atau aplikasi streaming musik online saat ini banyak digandrungi oleh para millenials yang sepertinya tidak pernah bisa lepas dari musik. Setidaknya pasti ada saja salah satu aplikasi pemutar musik legal yang diunduh di mobile phone, tablet atau perangkat desktop, baik itu Joox, Spotify ataupun keduanya. Survey yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), menunjukan bahwa 35,5% dari populasi pengguna internet di Indonesia, atau sekitar 46,9 juta orang Indonesia mendengarkan musik secara online (10). Secara profil pengguna pun antara Joox dan Spotify juga mengambil target market yang hampir sama.

Data: Demographic Profile Spotify and Joox.

Source: Spotify ID Media Kit 2019 dan Joox Sales Kit 2019.

Bila ditelusuri kembali, Spotify masuk lebih dulu ke Indonesia di tahun 2016 dibandingkan dengan kompetitornya Joox. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyambut baik beroperasinya layanan streaming musik asal Swedia, Spotify. Dalam sambutan singkatnya ia menyampaikan selamat datang kepada Spotify yang akhirnya beroperasi di Indonesia (11). Aplikasi asal Swedia yang diluncurkan kurang lebih pada tahun 2008 ini tentunya menawarkan akses musik ke lebih dari 30 juta lagu secara legal kapanpun dan dimanapun dengan berbagai playlist dan rekomendasi playlist yang dibaca dari algoritma Spotify melalui preferensi musik yang pernah didengarkan oleh pengguna. Dengan target market yang sama ke millenials, Joox merupakan aplikasi yang diluncurkan oleh Tencent pada tahun 2015. Nama Joox sendiri berasal dari kata Jukebox atau mesin pemutar lagu otomatis walaupun pada kenyataannya Joox tak hanya berfungsi sebagai aplikasi untuk streaming musik, tapi juga untuk mendengarkan radio. 

Bagaimana tidak diminati, aplikasi seperti Spotify dan Joox menawarkan fitur-fitur pintar yang bisa dipersonalisasi seperti yang diinginkan oleh para millennials dengan biaya yang tergolong cukup rendah. Berdasarkan data yang dilansir dari IPSOS Connect pada tahun 2018, Joox lebih unggul dalam hal awareness, usage (pengguna) dan juga satisfaction (tingkat kepuasan pelanggan) dibandingkan dengan aplikasi lainnya.

Data: Awareness, Usage and Satisfaction Index.

Source: Joox Sales Kit 2019.

Kedua aplikasi music on demand ini sama-sama memberikan layanan freemium. Kebanyakan fitur yang ditawarkan bisa diakses secara gratis walaupun ada pilihan untuk subscribe secara berbayar untuk mendapatkan keuntungan seperti membuat playlist sendiri atau mendengarkan lagu tanpa jeda iklan. Walaupun memiliki kesamaan, tetap ada beberapa perbedaan mendasar yang menentukan konsumen lebih memilih menggunakan aplikasi Spotify ataupun Joox, seperti:

  • User Interface. Tampilan Spotify terlihat simpel dan minimalis karena mengutamakan kemudahan dan kesederhanaan, hal ini membuatnya bekerja dengan lebih cepat dan ringan. Proses pendaftaran pun mudah, hanya perlu sign up menggunakan email atau Facebook. Sedikit berbeda dengan Spotify, tampilan Joox terlihat lebih berwarna dan atraktif, selain itu pengguna juga bisa mengganti tema yang bisa didownload secara gratis jika bosan dengan tampilannya. Namun, interface tersebut membuat kinerjanya melemah karena lebih berat.
  • Katalog atau Playlist Musik. Playlist musik Joox tidak sebanyak Spotify. Playlist tersebut bisa diakses di Genre, Mood, dan Editor’s Pick dan dengan genre lainnya. Penikmat musik lokal akan menyukai Joox karena mereka menyediakan genre seperti dangdut, pop sunda, yang termasuk dalam 20 juta lagu yang bisa diakses pengguna. Untuk urusan playlist, Spotify bisa dikatakan lebih beragam dan menggunakan nama yang unik untuk playlistnya. Misalnya, Lebih Produktif, Macet Jakarta, Mager Parah, Generasi Galau, dan lain-lain hal ini merupakan salah satu usaha Spotify untuk bisa lebih relevan dengan kondisi atau aktivitas penggunanya.
  • Kualitas Suara. Joox memiliki pengaturan kualitas suara yang bisa disesuaikan dengan preferensi pengguna. Terdapat tiga pilihan, yaitu low, medium, dan high. Tentunya semakin rendah kualitas suara, semakin sedikit pula data yang dibutuhkan. Jika kualitas high masih kurang untuk, pengguna bisa meningkatkannya lagi dengan fitur DTS dan membayar biaya tambahan sebesar Rp 15 ribu per bulan. Kualitas suara di Spotify tergolong sangat baik. Dilansir dari Tunefab, banyak yang mengatakan bahwa kualitas suara Spotify lebih baik daripada Joox. Sama seperti Joox, pengguna Spotify juga bisa mengaturnya menjadi low, medium, dan high untuk mengemat data internet.
  • Layanan Berlangganan. Joox mengenakan dua pilihan tarif untuk berlangganan. Jika ingin berlangganan selama seminggu maka harga yang harus dibayarkan adalah sebesar Rp25.000 atau Rp49.000 untuk sebulan. Joox menawarkan akses premium gratis untuk sehari dengan syarat membagikan lagu ke WeChat atau Facebook. Spotify juga menawarkan beberapa pilihan untuk berlangganan, seperti RP49.990 untuk subscribe perbulan, Rp149.970 untuk per tiga bulan, Rp299.940 untuk enam bulan dan Rp599.880 untuk setahun. Spotify juga menyediakan paket keluarga untuk berlangganan secara berkelompok.
  • Fitur lain. Joox memiliki fitur tambahan yang tidak ada di Spotify. Fitur tersebut adalah timer dan lirik lagu, pengguna bisa mengatur kapan mau menghentikan lagu yang diputar. Selain itu pengguna juga tidak perlu lagi mencari lirik lagu yang sedang diputar karena Joox menampilkannya secara otomatis. 

Dan bukan hanya itu, para millennials dapat eksis di aplikasi Joox dengan berkaraoke dan memposting video mereka berkaraoke di aplikasi. Dari video-video karaoke yang diunggah, millennials bisa mendapatkan engagement dari pengguna Joox lain melalui fitur likes di user interface Joox. Sedangkan Spotify lebih unggul dalam urusan sinkronisasi, karena dengan download Spotify di PC, pengguna bisa mengontrolnya melalui smart phone dan sebaliknya. Kabar terbaru dari Spotify sendiri juga akan mengeluarkan fitur Storyline di aplikasinya yang penggunaannya mirip dengan Instastory pada Instagram. Fitur ini nantinya dapat digunakan oleh para musisi untuk membagikan cerita dibalik lirik lagu yang mereka buat (12).

Apa itu Spotify?

Baik Joox maupun Spotify memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing bagi para penggunanya, namun secara penetrasi dan engagement pengguna di Indonesia, terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara keduanya. Dimana Joox memiliki sekitar 1.3 juta pengguna, sedangkan Spotify di angka 981.000 pengguna.

Source: Joox Sales Kit 2019.    

Banyaknya pengguna aplikasi music on demand ini tentu saja tidak hanya menarik perhatian para generasi langgas, tetapi juga bagi para marketer yang juga menargetkan millennials sebagai target utamanya. Prinsipnya sebuah brand harus sedekat mungkin dan berada di touch points dimana target marketnya berada, bila target mereka banyak yang menggunakan aplikasi-aplikasi semacam Spotify dan Joox ini, tentu saja brand juga mau ikut serta beriklan atau membuat engagement activity supaya semakin relevan dengan target marketnya. Seperti Joox misalnya, selain menawarkan fitur-fitur pintar kepada para pengguna, Joox juga menawarkan fitur-fitur bagi brand untuk beriklan dengan cara yang menarik seperti: Joox Display Ads (Splash Screen, Audio Ads 15”, T1 Banner), Music Content Related Ads - Branded Playlist, Performance Ads (Unskipable Ads, Download Ads, Share Lyric Cards, Karaoke Competition, Listen More and Share Playlist, Sponsored Live Streaming), Song Creation Campaign dan Joox Offline Campaign

Source: Joox Sales Kit 2019.    

Spotify sendiri juga menawarkan berbagai macam jenis fitur untuk para marketer seperti Audio Ads, Sponsored Session Video Ads, Video Take Over, Display Ads, Homepage Take Over, Leaderboard, Native Branded Profile, Sponsored Playlist, Branded Experiences hingga ke Offline event seperti Spotify on Stage.


         

Source: Spotify ID Media Kit 2019.  


Beragam fitur yang ditawarkan oleh platform music on demand Joox dan Spotify, tidak hanya berhasil menggaet kaum millennials untuk menjadi pengguna, bahkan berhasil menggaet brand – brand untuk beriklan di platform tersebut. Tentu saja hal ini semakin meningkatkan pemasukan bagi platform-platform berbasis teknologi digital dan semakin membuat media-media konvensional terseok-seok. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh pebisnis yang masih bergerak di media lawas atau konvensional seperti radio?


Radio sebenarnya merupakan bentuk media konvensional yang masih dibutuhkan, namun seiring dengan perkembangan teknologi, maka radio pun mengalami sejumlah perubahan, bukan hanya berdampak pada operasional radio, tetapi juga pada pasar, hingga meredefenisi radio itu sendiri dari segi fungsi maupun peranannya. Faktanya pilihan untuk konsumen sekarang ini semakin banyak, sehingga persaingan makin ketat, bahkan antara industri yang semula tidak bersaing menjadi bersaing. Para industri berusaha untuk memperebutkan budget, waktu dan perhatian konsumen supaya dapat mengonsumsi medianya (dan iklan yang menyertainya, tentunya). Di era yang serba on demand ini, format siaran radio bukannya tidak relevan lagi, namun ada beberapa yang perlu disesuaikan agar lebih relevan ke konsumen muda. Oleh karena itu perlu dilakukan segmentasi strategi marketing yang tepat sasaran.


Segmentasi merupakan strategi dimana suatu badan usaha atau organisasi bisa mengelompokkan target pasarnya dalam kelompok-kelompok tertentu yang memiliki kesamaan karakteristik akan kebutuhan terhadap suatu produk atau jasa tertentu. Segmentasi sendiri tentunya harus dilakukan dengan melihat berbagai aspek seperti sosial demografi, etnografi, psikografi dan analisa perilaku serta sikap konsumen dan dilakukan dengan proses penelitian yang terstruktur. Jika dilihat dari pemaparan-pemaparan sebelumnya mengenai radio dan music on demand, berikut merupakan salah satu bentuk segmentasi yang bisa dilakukan.



Di satu sisi radio masih menjadi media yang memiliki kemampuan untuk menyiarkan konten program dan peristiwa secara langsung, dengan jangkauan yang cukup luas dan dapat diakses dengan biaya yang murah. Di sisi lain, tak bisa dipungkiri bahwa radio juga memiliki banyak keterbatasan, seperti:

  • Radio sebagai media massa sesaat saja, jika konsumen tidak fokus, maka pesan yang mau disampaikan oleh radio tidak bisa diterima secara menyeluruh.
  • Radio sebagai sebuah media komunikasi yang mengandalkan audio saja.

Dengan keterbatasan tersebut, radio harus melihat kembali, siapa segmen pasar yang mau diambil sebenarnya. Kalau dilihat pun yang mengkonsumsi radio cukup luas dan masih beririsan dengan pengguna music on demand. Maka untuk memperebutkan share of ears antara media konvensional dan media digital ini, industri radio perlu memahami lebih jauh mengenai karakter atau persona serta pola konsumsi dari target konsumennya, apa yang mendukung pengguna (triggers) dan apa yang menjadi halangan (barriers) dalam menggunakan radio.



Setelah mendapatkan segmentasi dan karakter dari pengguna radio maka positioning dari radio sendiri harus diperjelas untuk mendiferensiasi strategi antara radio dan music on the demand. Strategi diperlukan oleh industri radio, dimana sebuah komitmen diperlukan untuk menjaga kualitas program, konten menyiarkan informasi dan hiburan.


Melihat banyaknya tantangan radio saat ini, perlu adanya startegi untuk bisa terus mempertahankan eksistensi radio dan menarik para generasi langgas untuk kembali mendengarkan siaran radio. Seperti:

  1. Karena mengandalkan audio, produsen radio harus terus berinovasi yang kreatif dengan membuat program-program menarik yang bisa menggabungkan aktivitas on air, off air dan online. Bukan hanya itu, radio sendiri bisa mulai berkerjasama dengan para penyedia layanan music on demand yang ada. Misal dengan membuat program atau konten yang disesuaikan dengan tren yang berkembang agar tetap relevan dengan target audience, terutama milenialls. Misalkan saja saat ini generasi muda banyak menghabiskan waktu untuk mencari konten mengenai travelling, gaming, food dan tempat-tempat hangout, mulailah membahas konten yang relevan dan membawanya menjadi satu integrated activity dari radio dan music on demand. Kecenderungan dari generasi millennials yang suka hadir di festival-festival musik juga bisa dimanfaatkan, contoh seperti Spotify yang memiliki festival Spotify on Stage, radio bisa bekerjasama dengan cara menyiarkan langsung acara tersebut di stasiun radionya.
  2. Konten dan program radio harus memperhitungakan interaksi antara penyiar dengan target audience agar komunikasi dua arah bisa terjadi. Program interaktif tidak lagi sekedar kirim salam, tanya jawab, curhat dan request lagu. Program interaktif bisa lebih memberikan knowledge, memberikan dan menampung aspirasi kreativitas generasi muda, mengembangkan kelokalan dan ke-Indonesia-an dengan mendatangkan narasumber kekinian yang relevan dengan topik yang dibahas dan relevan dengan target audience.
  3. Konsumen muda tidak lagi membeli perangkat radio sekadar untuk mendengarkan siaran karena mereka bisa mengakses lewat internet di smart phone, laptop, tablet dan sebagainya. Oleh karena itu inovasi dalam bentuk radio online, podcast radio dapat dijadikan sebagai alternatif bagi target audience yang lebih sering mengakses lewat digital.
  4. Beberapa stasiun radio seperti Prambors, 99ers Bandung, JakFM, Elshinta dan HardRock FM sudah masuk dalam radio online. Melihat generasi muda yang sangat digital dan technology savvy bukan tidak mungkin kalau radio streaming online akan menggantikan radio konvensional. Salah satu bentuk inovasi yang dilakukan oleh pengelola radio adalah dari grup Mahaka dengan mengembangkan aplikasi berbasis digital bernama Noice. Aplikasi tersebut Sudah diunduh lebih dari 30.000 pengguna dan membuat para pendengar bisa melakukan streaming tujuh stasiun radio yang dimiliki Mahaka, seperti: Jak FM, Gen FM Jakarta, Gen FM Surabaya, Mustang FM, Hot FM, Kis FM, dan Most Radio. Selain menyajikan layanan streaming radio, para pendengar juga bisa berkirim pesan (chatting) dengan penyiar radio. "Kami akan fokus mengembangkan aplikasi ini sekaligus menjaganya agar tetap sesuai dengan model bisnis utama perusahaan," ujar Adrian (13). Yang penting adalah bagaimana radio-radio itu bisa tetap mempertahankan eksistensinya walaupun merambah ke dunia digital karena inovasi ini akan membantu dalam menambah jumlah pendengarnya dari generasi muda.
  5. Pada dasarnya, perusahaan media adalah perusahaan pembuat konten, sama halnya dengan digital, radio juga dapat memanfaatkan brand dan komunitas dengan lebih konsisten melalui keberagaman konten. Radio harus mulai membangun kerjasama yang solid dalam membuat konten lewat komunitas bahkan ke KOL (Key Opinion Leaders) dan influencers yang relevan dengan generasi langgas.
  6. Patuh pada regulasi, jika ingin dihargai maka radio sendiri juga harus menghargai para musisi dan patuh pada regulasi. Masih ada beberapa radio yang tidak membayar royalti atas hak penyiaran lagu yang dimiliki, hal ini tentu saja merugikan bagi para penggelut industri musik, di samping imbasnya pun akan terkena ke radio. Radio jadi kurang dipercaya oleh pemusik apabila mau mengenalkan musik ataupun lagu baru, padahal salah satu yang dicari oleh para millennials ini adalah lagu-lagu baru yang kekinian. Kecilnya pendapatan penggiat musik di era digital salah satunya disebabkan banyaknya pelanggaran terkait pembayaran performing rights, atau hak atas penggunaan karya musisi di media televisi, radio, atau tempat-tempat komersial. Menurut Wendi, performance rights selama ini belum maksimal dibayarkan dan dipungut oleh Lembaga Manajemen Kolektif (LMK). Padahal, banyak penggunaan karya musisi di tempat-tempat komersial atau tayangan televisi serta siaran radio. Penarikan dan distribusi royalti atas penggunaan karya musik, berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, menjadi tanggung jawab LMK. Lembaga itu adalah badan hukum nirlaba yang diberi kuasa oleh pencipta, pemegang hak cipta, dan/atau pemilik hak terkait untuk mengelola hak ekonomi mereka (14).

Tidak bisa dipungkiri bahwa budget adalah faktor utama penentu keberlangsungan industri radio, pengelola radio harus bisa meyakinkan pengiklan dan pemilik modal agar radio tetap bisa bertahan. Dari segi pengiklan, beberapa strategi juga bisa dijalankan seperti:

  1. Branding dan rebranding yang kuat dan kontinu dari radio itu sendiri menjadi nilai lebih yang bisa ditawarkan bagi para pengiklan. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan akuisisi baru dan melakukan rebranding terhadap stasiun radio yang diakuisisi. Akuisisi ini bisa menawarkan nilai lebih dalam arti, stasiun radio dapat menawarkan buying package kepada pengiklan dengan membeli spot di salah satu stasiun radio, namun bisa mendapatkan keuntungan dari grup stasiun radio lainnya.
  2. Radio masih bisa menawarkan positioningnya yang unik sebagai tempat beriklan. Variasi dari target stasiun radio memungkinkan pengiklan untuk menargetkan juga brand mereka ke spesifik target pendengar yang tentu saja harus dikemas dengan cara yang unik dan kreatif.
  3. Karena bermodalkan audio, radio dapat memanfaatkan imajinasi target konsumen, dalam hal ini biaya produksi dan waktu yang diperlukan untuk produksi iklan di radio akan lebih sedikit dibandingkan biaya produksi iklan untuk televisi maupun digital video. 
  4. Perlu diingat bahwa pengiklan sekarang semakin cerdas dalam menghitung ROI (Return on Investment) yang didapatkan dari pemasangan iklan, pihak radio sudah harus mempertimbangkan pemberian tolak ukur dan laporan yang valid dan detail dalam pembelian spot-spot iklan di radio.
  5. Pengelola indsutri radio juga bisa bekerja sama dengan para pengelola music on demand dengan peluang iklan yang terintegrasi antara music on demand dengan radio. Misalkan saja untuk pemasangan iklan di salah satu aplikasi bisa mendapatkan benefit lain di stasiun radio partner.

Peran serta masyarakat, lembaga dan pemerintah tentu saja juga memegang peranan penting dalam mengantisipasi cepatnya perkembangan teknologi. Salah satunya yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan perundang-undangan yang dapat melindungi media-media konvensional seperti radio. Perubahan Undang-undang (UU) Penyiaran No.32 tahun 2002 harus segera dilakukan untuk mengantisipasi cepatnya perkembangan teknologi. Hal itu ditegaskan Komisioner KPI Pusat, Agung Suprio, ketika menjadi salah satu narasumber Seminar Komunikasi dan Media Penyiaran pada Konferensi Penyiaran Indonesia di Padang, Sumatera Barat, Selasa (25/6/2019) (15). Perkembangan teknologi harus bisa diprediksi karena akan terus berkembang, Indonesia pun memiliki banyak pakar. Oleh karena itu peran serta dari para pakar teknologi, lembaga terkait dan akamedisi sangat diperlukan dalam mengantisipasi dan mempersiapkan proses adaptasi dalam menghadapi perkembangan teknologi tersebut. Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat menggelar workshop peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di bidang penyiaran yang profesional dengan tema "Sukses Radio di Era Digital", kegiatan itu digelar sebagai upaya dalam menghadapi era digital yang serba canggih dan cepat (16). Dengan adanya proses edukasi dan workshop dari para akamedisi dan pakar, diharapkan dapat meningkatkan kualitas SDM di bidang penyiaran profesional baik dalam berkreativitas maupun inovasi.


Intinya di arus perkembangan teknologi yang sangat pesat dengan konsumen muda yang bergerak sangat cepat, media lawas dan konvensional harus terus berinovasi dan beradaptasi agar bisa tetap bertahan di tengah terpaan tersebut. Jadi, di tengah era Revolusi Industri 4.0 yang mengubah wajah media massa, media konvensional akan tetap eksis dan melakukan perubahan serta berubah. Sebab dalam media konvensional dan media digital saat ini berjalan beriringan karena banyak media konvensional yang mengubah sajian ke bentuk digital. Hanya platformnya saja yang berubah, redaksi serta isi berita tetap sama dengan yang ada dalam media konvensional. Untuk itu saya berpendapat, tanpa media konvensional dipastikan dunia kehilangan “sesuatu” yang besar dan karena itu media konvensional di masa depan masih akan tetap eksis berbarengan dengan era media digital (17).




SUMBER

  1. https://teknologi.id/insight/apa-itu-teknologi-sejarah-dan-pengertian-teknologi/
  2. Sebastian, Yoris. (2016). Generasi Langgas: Millenials Indonesia.
  3. https://kmplus.co.id/wp-content/uploads/2017/01/Artikel-4.pdf#page=1&zoom=auto,-107,743
  4. https://beritagar.id/artikel/infografik/kebiasaan-gen-z-dalam-menikmati-hiburan
  5. http://infobanknews.com/jokowi-pola-konsumsi-masyarakat-bergeser-ke-online/
  6. https://sains.me/perkembangan-pemutar-musik-portabel-dari-masa-ke-masa/
  7. https://tirto.id/memahami-selera-musik-milenial-b49a
  8. https://www.cekaja.com/info/evolusi-industri-radio-beradaptasi-dengan-digitalisasi/
  9. https://investor.id/market-and-corporate/juni-laba-mahaka-radio-integra-turun-206
  10. Irwansyah. (2018). Spotify: Aplikasi Music Streaming untuk Generasi Milenial
  11. https://www.kominfo.go.id/content/detail/7188/menkominfo-welcome-spotify-to-indonesia/0/berita_satker
  12. https://katadata.co.id/berita/2019/05/15/mirip-instastory-spotify-bakal-rilis-fitur-storyline
  13. https://investasi.kontan.co.id/news/mahaka-memintal-laba-di-bisnis-radio-digital
  14. https://ekonomi.bisnis.com/read/20190309/12/897672/hari-musik-nasional-antara-digitalisasi-dan-kedaulatan-musik-indonesia
  15. http://www.kpi.go.id/index.php/id/umum/38-dalam-negeri/35177-genjot-pertumbuhan-industri-kreatif-nasional-dengan-migrasi-penyiaran-secepatnya?detail3=5429
  16. http://www.kpi.go.id/index.php/id/umum/38-dalam-negeri/35268-cara-radio-bersaing-di-era-digital
  17. https://geotimes.co.id/opini/arah-langkah-media-konvensional-di-era-revolusi-industri-4-0/
  18. WARC Data, Global Web Index. (2019). Media Consumption Overview: Indonesia.
  19. Spotify ID Media Kit 2019
  20. Joox Indonesia Sales Kit 2019
  21. Zebua, Ferdy. (2018). Daily Social.id Online Music Streaming Surve 2018
  22. Jones, R Gareth and George, Jennifer M. 2016. Contemporary Management. New York: Mc Graw Hill Education.
  23. Ferrel, O.C; Hirt, Georffrey A; Ferrell, Linda. 2019. Business Foundations A Changing World. New York: Mc Graw Hill Education.



Like it? Share with your friends!

76
2 shares, 76 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
8
Fun
Genius Genius
34
Genius
Love Love
41
Love
OMG OMG
24
OMG
Win Win
38
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format