Minyak Bumi, Primadona Devisa Indonesia Di Masa Lalu

Minyak Bumi Indonesia


0

Minyak Bumi Sebagai Sumber Energi Primer Saat Ini

Sampai saat ini produk turunan dari hasil destilasi atau penyulingan minyak bumi adalah salah satu produk yang paling dekat dengan kehidupan kita. Setiap orang tentunya sangat mengenal minyak tanah, bensin, solar, dan berbagai bahan bakar lainnya yang berasal dari minyak bumi. Sejak dulu minyak bumi digunakan sebagai salah satu sumber energi primer bagi masyarakat Indonesia dan juga penduduk dunia pada umumnya. Seiring dengan pertumbuhan populasi dunia yang begitu cepat, yang dikenal juga dengan era baby boomers dalam beberapa dekade terakhir, kebutuhan akan energi juga mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Terlebih lagi beberapa negara berkembang yang sedang mengalami laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi seperti di India dan China, mereka membutuhkan pasokan energi lebih banyak dibanding negara lainnya untuk menggerakan mesin-mesin penggerak roda perekonomian mereka agar ekonomi yang sedang  berlari kencang bisa terus melanjutkan tren positifnya dan tidak kehilangan momentum. Selain itu pertumbuhan pasar energi dunia semakin dipacu juga oleh perubahan pola konsumsi dari konsumen, terutama penduduk dengan tingkat pendapatan menengah (Middle Class Income).

Tidak bisa dipungkiri bahwa sampai saat ini kebutuhan energi di indonesia dan umumnya di seluruh dunia masih bergantung pada produk turunan hasil penyulingan minyak bumi. Dari data yang dikeluarkan oleh beberapa sumber memperlihatkan bahwa lebih dari 30% kebutuhan energi dunia berasal dari dari hasil pengolahan minyak bumi. Sebagian besar energi yang berasal dari minyak bumi digunakan oleh sektor transportasi yang sebagian besar berfungsi untuk mendukung para komuter untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, ataupun mendukung distribusi produk yang dihasilkan agar sampai kepada pengguna akhir. Di Indonesia sendiri menurut data dari Pusdatin, minyak bumi dan produk turunannya masih mendominasi pasar energi dengan porsi hampir mencapai 40% dari keseluruhan sumber energi yang ada, dengan sebagian kecil saja yang digunakan dalam sektor pembangkit listrik.

Gambar 2. Data Penggunaan Energi di Indonesia Berdasarkan Sumber Energinya

Memenuhi Kebutuhan Energi di Tengah Ancaman Perubahan Iklim

Di tengah permintaan yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan energi, saat ini dunia juga dihadapkan kepada sebuah polemik terkait penggunaan energi, terutama yang berasal dari bahan bakar fosil. Berbagai pihak menuding bahwa ancaman lingkungan terbesar berupa peningkatan temperatur bumi dan perubahan iklim banyak disebabkan oleh penggunaan energi yang berasal dari bahan bakar fosil. Beberapa ahli berpendapat bahwa ancaman perubahan iklim ini memiliki dampak yang lebih besar dari perang maupun perang ekonomi yang mungkin terjadi. Dalam definisi secara umum, energi fosil adalah semua bentuk energi yang berasal dari proses pembakaran bahan bakar yang berasal dari sisa-sisa mahluk hidup yang terkubur selama jutaan tahun. Yang termasuk dalam kategori ini diantaranya adalah Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Batubara.

Salah satu unsur penting yang dianggap sebagai penyebab utama perubahan pola iklim dan pemanasan global adalah Karbondioksida. Elemen ini adalah unsur penting yang dilepaskan oleh bahan bakar fosil pada saat menghasilkan energi, dan menurut penelitian unsur ini menjadi penyebab utama Gas Rumah Kaca yang menyebabkan terjadinya pemanasan global. Berdasarkan data yang dihasilkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (Environment Protection Agency) Karbondioksida yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil mendominasi Gas Rumah Kaca yang menyelimuti atmosfir bumi.

Gambar 2. Gas Rumah Kaca (Green House Gas) sebagai penyebab Perubahan Iklim Global
Peningkatan jejak gas rumah kaca tersebut berimplikasi langsung terhadap peningkatan temperatur bumi, karena gas ini mengurangi hambatan spectrum UV dari matahari untuk menembus atmosfir dan sampai ke permukaan bumi. Meningkatnya intensitas spectrum UV inilah yang kemudian menjadi penyebab meningkatnya temperatur bumi dan mengubah pola iklim di lapisan atmsfir. Dari data terlihat bahwa paparan Karbondioksida di atmosfer meningkat secara signifikan dari mulai pertengahan abad ke-20. Pada masa ini dunia industri mengalami perkembangan yang sangat pesat untuk menghasilkan berbagai produk dalam memenuhi kebutuhan manusia. Dari grafik terlihat peningkatan tersebut terjadi terus menerus hingga awal abad ke-21 seiring dengan ekonomi yang terus membaik dan peningkatan populasi di beberapa negara Asia yang cukup signifikan.

Gambar 3. Grafik Peningkatan Jejak Karbon (sumber: Environment Protection Agency)

Melihat fakta yang terjadi, dimana peningkatan ekonomi yang berimplikasi terhadap peningkatan kualitas hidup manusia, secara langsung menimbulkan peningkatan jumlah gas rumah kaca yang menjadi penyebab langsung pemanasan global membuat, menjadi sebuah dilema bagi seluruh pemangku kepentingan untuk menentukan arah kebijakan industri energi. Dari sisi perusahaan migas sebagai bagian penting dari industri energi yang secara langsung terlibat dalam pemenuhan kebutuhan energi tersebut, kondisi ini menjadi sebuah tantangan yang harus segera diselesaikan untuk menciptakan keberlanjutan industri migas dan ekonomi secara keseluruhan. Di satu sisi perusahaan migas dituntut untuk menghasilkan lebih banyak energi sementara di sisi lain sumber energi tersebut tidak boleh berkontribusi dalam meningkatkan jejak karbon di atmosfir. 

Di tengah kondisi tersebut beberapa studi terkait peta energi dunia di masa mendatang memperlihatkan adanya peningkatan permintaan akan energi seiring dengan peningkatan jumlah populasi dunia dan harapan kondisi ekonomi yang terus membaik. Akan tetapi peningkatan permintaan energi tersebut tidak secara langsung meningkatkan permintaan energi yang berasal dari minyak bumi. Di tahun-tahun mendatang permintaan minyak diperkirakan akan stagnan dan tidak akan berubah secara signifikan sementara permintaan terhadap sumber energi lain tersu meningkat. Kondisi ini tentu saja bukan sebuah kabar yang menggembirakan bagi pelaku bisnis di bidang ini karena di tengah peningkatan suplai yang signifikan seiring dengan perkembangan teknologi di bidang shale oil permintaan akan minyak cenderung stagnan. Sebuah ironi yang terjadi ketika teknologi baru di bidang eksploitasi minyak berkembanga pesat justru permintaan pasar akan minyak cenderung stagnan. Hal ini akan membentuk kesetimbangan baru bagi terbentuknya harga akibat suplai berlebih.

Gambar 4. Proyeksi Kebutuhan Energi Dunia (sumber: BP Energy Outlook 2019)

Tantangan Perusahaan Migas Di Tengah Regulasi Lingkungan Yang Semakin Ketat

Di era globalisasi di mana sebuah organisasi bisnis sangat dipengaruhi oleh lingkungan bisnis yang secara akan mempengaruhi keputusan bisnis dan aksi korporasi sebuah perusahaan. Setiap pelaku bisnis dituntut untuk lebih memperhatikan memperhatikan suara pemangku kepentingan dibandingkan suara dari pemilik perusahaan itu sendiri. Para pemangku kepentingan seperti pemerintah memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan industri migas saat ini. Negara-negara maju yang sejak awal menjadi pelopor bagi usaha penyelamatan lingkungan semakin mendapat dukungan dari negara-negara berkembang untuk mengurangi dampak buruk penggunaan energi fosil

Seperti yang sudah dialami oleh industri otomotif yang terdampak langsung oleh beberapa regulasi lingkungan terkait emisi gas buang, Industri migas juga banyak dihadapkan dengan berbagai regulasi yang menuntut setiap perusahaan migas untuk menciptakan produk yang menjamin keberlanjutan lingkungan selain tentunya industri migas itu sendiri. Ketika industri otomotif dihadapkan pada aturan terkait emisi, berbagai cara dilakukan agar mereka bisa memenuhi ketentuan tersebut agar tidak memberikan hambatan ekonomi dan politik bagi mereka untuk menembus pasar di negara tersebut. Dengan adanya tantangan tersebut industri migas juga dituntut untuk lebih menyadari posisinya dan bisa terus menerus berinovasi untuk dapat memenuhi ekspektasi para pemangku kepentingan.

Energi Fosil di Tengah Perkembangan Teknologi Energi Alternatif dan Teknologi Kendaraan Elektrik

Selain tantangan dari regulator dalam hal ini pemerintah, serta pemangku kepentingan terbesar yang dinamakan kekuatan sosiokultural masyarakat dunia yang sudah mulai tersadar dengan ancaman terbesar yang berpotensi menimpa kehidupan manusia di abad ini, para pelaku bisnis di sektor energi juga menemui tantangan dari kompetitor baru yang masuk ke pasar energi secara agresif. Regulasi di beberapa negara yang mendorong perkembangan energi alternatif selain energi fosil, telah mendorong beberapa penemuan di sektor industri energi alternatif yang siap menantang perusahaan energi konvensional dalam memenuhi kebutuhan energi dunia.

Energi alternatif atau yang lebih dikenal dengan energi baru dan terbarukan, mulai memasuki arena pasar energi seiring dengan besarnya minat masyarakat dalam mencari energi yang lebih ramah lingkungan. Sumber energi yang saat ini sedang berkembang cukup pesat adalah energi Geothermal dan energi matahari (solar energy), dimana kedua sumber energi tersebut memperlihatkan perkembangan signifikan terutama dalam sektor pembangkit listrik. 

Kedua energi yang secara kasat mata tidak menghasilkan emisi karbon (zero emmision), menjadi primadona selain energi bayu (wind energy) dan energi hidro yang sudah banyak dikembangkan di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Dalam sebuah rilis terkait pasar energi di masa depan salah satu perusahaan besar di bidang migas mempublikasikan peran penting energi terbarukan tersebut dalam peta energi di masa depan. Terlihat bagaimana perkembangan kebutuhan energi dunia tidak mempengaruhi volume pasokan energi yang berasal dari minyak bumi. Akan tetapi melihat tren yang sama dengan yang terjadi di industri batubara, langkah beberapa perusahaan batubara dalam mempertahankan keberlanjutan mereka perlu ditiru dimana mereka berhasil menghadirkan teknologi ramah lingkungan seiring dengan proses pembelian beberapa perusahaan pembangkit yang menjadi konsumen mereka secara langsung.

Selain perkembangan teknologi di bidang pemanfaatan energi alternatif, dalam satu dekade terakhir dunia juga dikejutkan oleh perkembangan teknologi kendaraan electrik (electric vehicle) yang mampu menantang kendaraan konvensional untuk menjadi alat transportasi masa depan. Sebuah terobosan dari perusahaan teknologi Tesla, telah memacu perusahaan lain untuk turut serta dalam transformasi kendaraan masa depan, yaitu mengubah penggerak utama dari tipe konvensional yang berasal dari mesin pembakaran dalam (internal combustion engine) menjadi motor listrik. Seperti telah diketahui teknologi ini mengalami revolusi yang sangat cepat ketika motor listrik diperkenalkan dalam bentuk kendaraan hibrid yang memadukan dua tipe penggerak utama tersebut.

Gambar 5. Data Penjualan Kendaraan Listrik dan Hibrid (sumber: Bloomberg New Energy Finance)

Dengan hadirnya kendaraan listrik dan respon positif dari para pengguna dan komuter yang sangat peduli terhadap lingkungan, hal ini tidak hanya akan menggantikan jenis kendaraan konvensional saja akan tetapi secara perlahan akan menggantikan sumber energi yang digunakan. Dengan data tersebut jika kecenderungannya terus meningkat bukan tidak mungkin bahan bakar minyak (BBM) sudah tidak dibutuhkan lagi untuk menggerakan kendaraan-kendaraan tersebut. Melihat apa yang sedang terjadi respon positif di industri otomotif dapat menjadi cermin bagi industri migas untuk melihat kesempatan dengan adanya transformasi energi di bisang transportasi.

Solusi Dalam Era Disrupsi Untuk Keberlangsungan Bisnis Minyak Bumi

Dalam menghadapi tantangan global tersebut pelaku bisnis energi di Indonesia khususnya mereka yang menjadikan minyak bumi sebagai produk utamanya, memerlukan berbagai inovasi dan modifikasi dalam model bisnis yang dijalankan untuk memastikan keberlangsungan dan keberlanjutan bisnis minyak bumi disamping mendukung terciptanya lingkungan yang lebih sehat bagi masa depan generasi selanjutnya. Bercermin kepada sektor industri lain seperti sektor otomotif ataupun industri sejenis yang memiliki komoditas berbeda seperti Gas Bumi dan Batubara, pelaku bisnis di sektor Minyak Bumi memiliki kesempatan untuk tetap menjadi bagian dari transformasi energi dunia.

Pada Saat indutri otomotif, terutama yang menghasilkan kendaraan konvensial dengan energi utamanya berasal dari bahan bakar fosil, dihadapkan pada berbagai regulasi ketat terkait emisi gas buang dan efisiensi energi, mereka bereaksi cepat untuk melakukan riset dalam menciptakan kendaraan yang efisien dan meminimalkan emisi gas buang yang berbahaya bagi lingkungan melalui penemuan-penemuan dalam High Efficiency Engine dan NOX Converter Kit. Begitu pula ketika salah satu produsen mobil listrik Tesla memperkenalkan teknologi kendaraan masa depan yang dianggap sangat ramah lingkungan dan mampu bersaing dengan kendaraan konvensional dari aspek tenaga yang dihasilkan, produsen kendaraan yang dikenal dengan The Big Five langsung merespon dengan mengalihkan investasinya untuk mengembangkan teknologi yang mendukung pekembangan kendaraan listrik tersebut. Salah satu diantaranya adalah produsen Mercedez yang telah membeli salah satu perusahaan baterai untuk memproduksi baterai yang akan menjadi penyimpan energi bagi mobil listrik yang akan diproduksinya

Selain apa yang terjadi pada industri otomotif, industri batubara pun dihadapkan dengan kondisi yang serupa yaitu isu penutupan (phase out) beberapa pembangkit listrik berbahan bakar batubara dikarenakan batubara menjadi memiliki rasio terbesar dalam hal pelepasan Karbondioksida untuk setiap jumlah energi yang dihasilkan, meskipun selama beberapa dekade batubara telah menjadi sumber energi yang paling murah dibandingkan energi terbarukan serta memiliki resiko keamanan yang masih dapat diterima jika dibandingkan dengan sumber energi nuklir. Akan tetapi beberapa alasan yang menyebabkan batubara masih dipakai sebagai sumber energi di pembangkit listrik adalah karena mereka menawarkan teknologi green coal yang mampu mengurangi emisi karbon dan belum dapat tergantikan untuk membangkitkan listrik dalam skala besar.

Bercermin kepada kondisi yang pernah dialami oleh kedua industri tersebut perusahaan migas dapat meniru atau menduplikat beberapa model bisnis yang telah diadopsi oleh industri lain. Untuk dapat menjadi pemain penting dalam industri energi, tentunya perusahaan migas harus membuka diri terhadap perubahan yang ada. Mengubah portofolio bisnisnya dengan melakukan akuisisi atau merger dengan perusahaan tertutup (private company) yang bergerak di bidang energi terbarukan. Hal dapat menjadi sebuah simbiosis mutualisme dimana perusahaan energi yang sudah berpengalaman dan memiliki kondisi finansial yang sehat dapat bersinergi dengan wirausahawan muda yang inovatif untuk terus berkreasi menciptakan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. hal ini sudah dilakukan oleh beberapa perusahaan multinasional seperti Shell yang sudah berkolaborasi untuk membangun beberapa pembangkit tenaga bayu di eropa

Disamping itu untuk menciptakan keberlanjutan bisnis minyak bumi, para pelaku bisnis perlu memodifikasi model bisnisnya untuk fokus pada salah satu pasar yang memang mereka memiliki kekuatan pasar (supplier power) seiring dengan hilangnya potensi pasar di sektor transportasi secara bertahap  Sebagai pemasok utama bagi industri petrokimia, saat ini minyak bumi masih belum tergantikan  oleh produk lainnya. Untuk mencapai sinergi dengan industri petrokimia memang tidak mudah menyesuaikan spesifikasi produknya dengan kebutuhan petrokimia, akan tetapi beragam inovasi yang dilakukan dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan sebagaimana industri batubara melakukan berbagai inovasi dalam hal gasifikasi batubara untuk menghasilkan produk yang diinginkan konsumen.

Terakhir dan mungkin yang paling penting, perusahaan energi di indonesia yang masih belum bertransformasi sebagai sebuah perusahaan energi terintegrasi, perlu memikirkan opsi untuk membentuk sebuat konglomerasi yang akan mengurangi dampak biaya distribusi. Integrasi bisnis hulu minyak sampai ke hilir akan menyebabkan rantai suplai dari pemasok bahan baku, dalam hal ini perusahaan migas ke perusahaan yang ada di hilir, dalam hal ini pengolahan dan industri dasar menjadi salah satu opsi yang efektif untuk menghasilkan organisasi yang ramping (streamline operation).

Daftar Pustaka:

Britih Petroleum (BP) Plc, BP Energy Outlook 2019

Environment Protection Agency (EPA), Global Green House Gas Data

International Energy Agency, 

https://otomotif.bisnis.com/read/20171108/275/707056/tren-mobil-listrik-penjualan-terbanyak-di-eropa-norwegia-juara-kendaraan-hibrida

https://finance.detik.com/market-research/d-3410688/ada-clean-coal-technology-apa-efeknya-ke-industri-batu-bara

https://otomotif.kompas.com/read/2018/06/02/074200815/55-persen-pasar-global-adalah-mobil-listrik-di-2040


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Benimaolana

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format