Jogja Tambah Macet, Trans Jogja Malah Merugi

Meningkatnya kemacetan di Kota Yogyakarta tidak mampu meningkatkan penghasilan Trans Jogja. Perusahaan kian merugi dengan maraknya penyedia jasa transportasi online.


0

Akibat peningkatan jumlah kendaraan di jalanan, Kota Yogyakarta menempati peringkat ke-4 kota termacet se-Indonesia pada tahun 2018. Dilansir Krjogja.com, pengendara kendaraan bermotor di Kota Yogyakarta menghabiskan 45 jam waktu terjebak macet dalam satu tahun, bertambah 3% dari tahun 2017. Sayangnya, pertumbuhan tingkat kemacetan di jalanan Kota Yogyakarta ini tidak berkorelasi positif dengan kesehatan finansial entitas penyedia jasa transportasi umum Trans Jogja. Hal ini tercermin dari adanya penurunan pendapatan perusahaan per tahunnya. Sejak tahun 2016, Pendapatan tahunan Trans Jogja mengalami penurunan sebanyak 3 miliar rupiah pertahunnya. Kondisi ini semakin diperparah dengan maraknya transportasi online, seperti dilansir Tribunnews.com.

Hal ini ditanggapi dengan serius oleh Dinas Perhubungan DIY. Melalui laman online Harianjogja.com, Zuhrif Hudaya, Ketua Komisi C DPRD DIY, menyatakan tentang pembahasan mekanisme pengelolaan Trans Jogja. Pemerintah DIY akan mengucurkan dana sejumlah 112 miliar rupiah dalam Kebijakan Umum Anggaran Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) untuk mendukung peningkatan pelayanan Trans Jogja. Selain itu, Dinas Perhubungan DIY juga akan bekerja sama dengan PT Anindya Mitra Internasional (AMI) sebagai calon pengelola Trans Jogja yang baru. 

Artikel ini mencoba untuk melakukan analisis terhadap kondisi Trans Jogja menggunakan framework Integrated Marketing Mix, The Brand-New Customer Path, dan SWOT Analysis berdasarkan permasalahan tersebut. Selain Trans Jogja, analisis melaui framework tersebut juga akan dilakukan terhadap Grab. Ditengah banyaknya regulasi baru yang mengatur transportasi online, seperti penetapan tarif minimum dan regulasi perekrutan mitra (driver) baru (PM NO. 12 TAHUN 2019), Grab masih bisa bertahan bahkan mampu menjadi market leader yang memiliki market share sebesar 62%, seperti dilansir laman Cnnindonesia.com. Artikel ini mencoba untuk memberikan perencanaan atas alternatif solusi dengan membandingkan produk yang didukung pemerintah namun kurang laris, yaitu Trans Jogja, dengan produk yang banyak diregulasi pemerintah tetapi tetap laris di pasar, yaitu Grab.


failing to plan is planning to fail

– Alan Lakein –


Integrated Marketing Mix

Framework Integrated Marketing Mix terdiri dari empat komponen: priceplacepromotion, dan product. Framework ini mencoba untuk menguraikan variabel-variabel pemasaran yang digunakan perusahaan untuk meningkatkan penjualan. 

Dari aspek harga (price), berdasarkan tabel di atas, Trans Jogja sekilas memiliki keunggulan dari Grab. Pasalnya, Trans Jogja menjual layanannya dengan harga sekali jalan, yang berarti penumpang hanya perlu membayar satu kali saja untuk dapat menggunakan 17 trayek yang berbeda.  Namun, hal ini perlu diperhatikan lebih jauh lagi. Harga tiket sekali jalan yang ditawarkan Trans Jogja merupakan harga yang harus dikeluarkan oleh penumpang untuk berpindah dari satu halte ke halte lainnya, bukan dari titik asal penumpang menuju ke titik tuju penumpang. Hal ini memunculkan kemungkinan adanya biaya tambahan yang perlu dikeluarkan oleh penumpang untuk menuju ke titik spesifik yang ingin dituju, yang memungkinkan harga yang lebih tinggi untuk layanan Trans Jogja ketimbang layanan Grab.

Dari segi tempat (place), Grab jelas lebih unggul ketimbang Trans Jogja. Hal ini disebabkan karena adanya jaringan mitra Grab. Dengan koneksi dengan mitra Grab, Grab mampu untuk melakukan layanan antar-jemput ke titik spesifik yang ditentukan sendiri oleh penumpang.  Sedangkan layanan antar-jemput yang dimiliki oleh Trans Jogja hanya dapat diakses melalui halte resmi Trans Jogja yang terletak di 78 titik yang dilewati 17 rute trayek armada bus yang tersebar di Provinsi DIY. Jangkauan titik antar-jemput ini menjadi poin terlemah Trans Jogja terhadap Grab yang perlu untuk segera dibenahi.

Dari perspektif promosi (promotion), kedua entitas menggunakan media yang hampir serupa. Trans Jogja dan Grab sama-sama menggunakan media cetak: koran dan baliho, serta platform media sosial: Twitter dan Instagram. Perbedaan terletak pada mobile app yang dimiliki oleh Grab. Mobile app ini menambah keunggulan Grab dari aspek promosi. Melalui aplikasi berbasis smartphone ini, Grab mampu melakukan promosi personal yang terkostumisasi. Didukung dengan database informasi pribadi pelanggan, Grab mampu memberikan promosi spesifik yang sesuai berdasarkan data historis perilaku konsumen.

Dari segi produk (product), kedua perusahaan memiliki spesifikasi dan keunggulannya masing-masing. Layanan bus milik Trans Jogja mampu menampung penumpang sampai 34 orang. Armada bus juga dilengkapi dengan 20 unit kursi, hand holder, dan AC yang memastikan kenyamanan penumpang. Layanan Trans Jogja mengantar penumpang dari satu halte ke halte yang lain sesuai trayek yang telah ditentukan oleh pihak Trans Jogja sesuai jadwal jemput yang telah ditentukan. Jadwal ini memunculkan infleksibilitas penumpang karena penumpang perlu menyesuaikan diri dengan jadwal keberangkatan bus. Dampaknya, terdapat kemungkinan timbulnya waktu tunggu bagi penumpang. Sebaliknya, Grab mampu memberikan layanan antar-jemput secara tepat waktu sesuai dengan keinginan penumpangnya. Grab memiliki dua lini produk dalam lingkup transportasi umum: GrabRide dan GrabCar. Layanan GrabRide menyediakan jasa antar-jemput menggunakan motor mitra Grab yang berkapasitas 1 orang penumpang. Layanan GrabCar menyediakan jasa antar-jemput menggunakan mobil dengan kapasitas 1-4 orang penumpang. Semua layanan dari Grab memungkinkan penumpang untuk menentukan sendiri titik jemput dan titik antar dengan jarak maksimal 70 km. Berbeda dengan Trans Jogja, layanan antar-jemput milik Grab bersifat personal.


The Brand-New Customer Path

Memasuki era yang disruptif seperti sekarang ini, perusahaan dipandang perlu melakukan pembaharuan dalam mengartikulasikan jalur pelanggan (customer path). Kotler et al. (2016) dalam bukunya “Marketing 4.0” mengusulkan sebuah kerangka baru untuk memahami jalur pelanggan, yang merupakan pengembangan dari adoption process dalam framework Buyer Decision Process . Dalam buku tersebut, jalur pelanggan dijelaskan memiliki lima komponen yang terdiri dari 5 fase: aware, appeal, ask, act dan advocate. Kelima fase tersebut harus dapat menjadi suatu rangkaian perjalanan pelanggan yang utuh dan saling terintegrasi agar dapat memberikan dampak yang signifikan pada perusahaan.

Pada fase pertama, yaitu fase sadar/mengetahui (aware), pelanggan umumnya secara pasif terekspos dengan berbagai merek atau perusahaan dari berbagai media seperti komunikasi pemasaran, getok tular, ataupun pengalaman yang lalu. Tahapan ini merupakan tahapan terdepan sebelum kemudian pelanggan menggunakan produk ataupun jasa yang ditawarkan oleh perusahaan.

Dari banyaknya merek atau perusahaan yang terekspos, pelanggan kemudian mengeliminasi berbagai opsi dan hanya tertarik pada sejumlah merek atau perusahaan. Fase ini kemudian disebut dengan fase tertarik (appeal). Memasuki industri dengan persaingan yang semakin kompetitif, daya tarik merek (brand appeal) harus bergerak linier dengan persaingan yang ketat karena perusahaan tidak bisa memenangkan persaingan di pasar bila tidak memiliki daya tarik yang kuat.

Setelah pelanggan merasa tertarik, pelanggan pasti akan mencari tahu lebih lanjut terkait merek atau perusahaan yang mereka sukai sehingga fase ini disebut fase bertanya (ask). Dalam fase ini, pelanggan bersedia melakukan berbagai hal hanya untuk mencari tahu lebih lanjut terkait merek atau perusahaan yang ada seperti contohnya bertanya kepada teman, mencari di internet, bertanya pada pusat layanan, dan berbagai cara lainnya. Untuk dapat memastikan bahwa suatu perusahaan dapat memenuhi kebutuhan informasi pelanggan, perusahaan setidaknya membutuhkan beberapa kanal komunikasi yang setidaknya populer di kalangan pelanggan.

Pada dua fase yang sebelumnya, fase sadar dan tertarik, konsumen hanya bergantung pada keputusan individual, sekarang fakta itu berubah. Konsumen membutuhkan orang lain secara sosial untuk dapat memastikan bahwa jalur pelanggannya. Fase ini dikenal dengan fase bertindak (act), dimana pelanggan akan melakukan pembelian produk atau jasa perusahaan. Perusahaan juga harus bisa menyeimbangkan tingkat rasa ingin tahu dari pelanggannya. Di satu sisi, apabila pelanggan tidak banyak bertanya, hal ini dapat mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki daya tarik yang lemah. Namun di sisi lain, rasa ingin tahu yang tinggi juga dapat menyebabkan distorsi pada pesan utama yang ingin disampaikan/ditanyakan oleh pelanggan.

Fase terakhir, namun yang juga sangat penting bagi perusahaan, merupakan fase menganjurkan (advocate). Setelah beberapa kali menggunakan produk atau jasa dari suatu perusahaan tertentu, umumnya pelanggan akan merasa lebih nyaman dan menjadi lebih setia dengan perusahaan yang dapat dibuktikan dengan pembelian kembali dan getok tular pada teman-temannya. Dalam fase ini, pelanggan umumnya akan menyarankan suatu produk atau jasa dari perusahaan tertentu kepada lingkungan sekitar mereka.

Trans Jogja berhasil menarik perhatian masyarakat luas dengan fungsi operasionalnya sebagai bus yang menyediakan jasa layanan antar-jemput dari dari titik halte penjemputan ke titik halte tujuan antar. Di samping itu, lingkup kegiatan operasionalnya yang masif (se-DIY) juga membuat Trans Jogja semakin dikenal oleh masyarakat. Sayangnya, lingkup operasional yang masif itu tidak membuat masyarakat Kota Yogyakarta tertarik dengan jasa yang ditawarkan oleh Trans Jogja. Dilansir oleh Gridoto.com, masyarakat Kota Yogyakarta menganggap bahwa produk layanan dari Trans Jogja kurang menarik karena kurang bersahabat bagi pengguna baru (new user).  Akibat minimnya ketertarikan masyarakat terhadap produk layanan dari Trans Jogja, tidak banyak masyarakat yang bertanya, menggunakan, apalagi menyarankan produk layanan dari Trans Jogja kepada lingkungan sosialnya.

Di sisi lain, Grab sebagai decacorn pertama di Indonesia, tentu tanpa diragukan lagi sudah menuai banyak perhatian dari masyarakat luas tidak terkecuali masyarakat Kota Yogyakarta. Selain karena berhasil menjadi decacorn pertama di Indonesia, layanan antar-jemput milik Grab berbasis on demand, baik dari segi tempat maupun segi waktu, sehingga berhasil membuat masyarakat tertarik untuk menggunakan produk layanan dari perusahaan ini. Pelayanannya yang responsif menjadi dorongan kuat bagi ketertarikan pengguna. Pada fase bertanya, penumpang potensial dapat bertanya kepada pengguna lama (old user) ataupun mencari informasi yang berkaitan dengan Grab melalui platform media sosial Grab dan mobile app milik Grab. Di luar dari pelayanannya yang dinilai responsif, Grab juga memberikan insentif moneter, melalui mobile app-nya, berupa cashback yang sangat ampuh dalam membuat konsumen bereaksi seperti membeli atau menyarankannya kepada teman terdekat. Dilansir oleh Girdoto.com, pengguna layanan antar-jemput dari Grab bersedia untuk menyarankan penggunaan produk dari Grab kepada lingkungan sosialnya. 


SWOT Analysis

Dari framework Integrated Marketing Mix dan The Brand-New Customer Path di atas, kita dapat mengetahui faktor-faktor perusahaan, baik dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal), yang dimiliki oleh produk Trans Jogja dan juga Grab. Komponen-komponen internal: kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness), dan komponen eksternal: ancaman (threat) yang dimiliki oleh Trans Jogja akan dianalisis menggunakan framework SWOT (Strength-Weakness-Opportunity-Threat). Framework SWOT ini berusaha untuk menghasilkan alternatif-alternatif strategi baru perusahaan dengan mempertemukan komponen-komponen internal dan komponen-komponen eksternal perusahaan

Dari tabel analisis SWOT di atas, dapat dimpulkan tiga strategi baru untuk meningkatkan daya saing perusahaan, yaitu:

1. Meningkatkan jumlah armada bus

Salah satu kelemahan dari produk Trans Jogja yang mendapat sorotan dari publik adalah adanya waktu tunggu penjemputan oleh armada bus. Kelemahan ini sekaligus menjadi keunggulan kompetitif bagi Grab. Grab mampu menyediakan jasa antar-jemput penumpang secara on demand berdasarkan waktu jemput yang ditentukan oleh penumpangnya. Oleh karena itu, penting bagi Trans Jogja untuk dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan waktu tunggu penjemputan agar mampu untuk bersaing dengan Grab. 

Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengurangi waktu tunggu penjemputan oleh armada bus adalah dengan cara meningkatkan jumlah armada yang beredar pada suatu waktu dalam suatu trayek. Penambahan armada bus ini akan mengurangi jarak waktu (lead time) antara satu armada dengan armada bus lainnya. Penambahan armada ini diharapkan membuat Trans Jogja mampu untuk bersaing dengan Grab dan penyedia jasa transportasi online lainnya berdasarkan aspek waktu tunggu.

2. Menambah titik halte antar-jemput

Kelemahan lain yang dimiliki oleh produk Trans Jogja adalah minimnya titik antar-jemput. Tidak seperti Grab yang mampu memberikan layanan antar-jemput secara on demand, layanan antar-jemput Trans Jogja hanya dapat diakses di 78 titik halte yang berada di 17 trayek di Provinsi DIY. Keterbatasan titik antar-jemput inilah yang menjadi keluhan bagi penumpang dan penumpang potensial dari Trans Jogja.

Selain untuk meningkatkan daya saing Trans Jogja terhadap Grab dan penyedia jasa transportasi online lainnya, penambahan halte di titik-titik baru membuka peluang bagi Trans Jogja untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan. Pasalnya, terdapat banyak titik-titik antar-jemput yang belum terjangkau oleh transportasi umum, baik konvensional maupun online, mampu untuk memperbesar market perusahaan.

3. Pembuatan aplikasi berbasis smartphone

Grab memiliki hal yang tidak dipunyai oleh Trans Jogja: mobile app. Melalui mobile app, Grab dapat melakukan personal promotion. Selain itu, mobile app mengarah kepada pembentukan strategi dan pengambilan kebijakan perusahaan yang lebih baik. Hal ini disebabkan karena Grab memiliki dukungan dari data historis penumpangnya yang berhasil diperoleh dari mobile app-nya. Hal ini mengarah kepada produktivitas dan efisiensi kebijakan perusahaan. Nantinya, kedua hal ini akan mengarah kepada peningkatan profitabilitas perusahaan.

Selain untuk melakukan personal promotion dan analisis pasar menggunakan data historis penumpang, mobile app miliki Trans Jogja akan menimbulkan manfaat lain. Mobile app ini memampukan pihak Trans Jogja untuk melakukan penyebaran informasi secara real time kepada penumpang dan penumpang potensialnya, termasuk tentang jadwal penjemputan. Adanya penyebaran informasi mengenai jadwal penjemputan ini diharapkan mampu mereduksi dampak negatif dari adanya waktu tunggu penjemputan oleh armada bus yang ada.

Terntunya, sebelum diterapkan, perlu dilakukan studi kelayakan dan pembentukan skala prioritas terhadap alternatif-alternatif solusi yang mungkin untuk dilakukan oleh pihak Trans Jogja. 


References

Argadea, D. (2017, Desember 7). Masyarakat Pilih Transportasi Online, Omzet Bus Trans Jogja Anjlok. Retrieved from Gridoto.com: https://www.gridoto.com/read/221006663/masyarakat-pilih-transportasi-online-omzet-bus-trans-jogja-anjlok#!%2F

Azmi, S. A. (2018, Juni 27). Jogja Makin Macet, Penumpang Trans Jogja Merosot. Retrieved from HarianJogja.com: https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2018/06/27/510/924659/jogja-makin-macet-penumpang-trans-jogja-merosot

CNN Indonesia. (2019, Juli 16). https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2018/06/27/510/924659/jogja-makin-macet-penumpang-trans-jogja-merosot. Retrieved from CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190715190631-185-412344/grab-kuasai-pasar-ojol-indonesia-grabfood-kalah-dari-gofood

Philip Kotler, e. a. (2016). Marketing 4.0: Moving from Traditional to Digital.

Widiyanto, D. (2018, Februari 26). Yogya Masuk 10 Kota Termacet di Indonesia. Retrieved from KRJogja.com: https://krjogja.com/web/news/read/58925/Yogya_Masuk_10_Kota_Termacet_di_Indonesia


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
muhammadhario

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format