Mengupas Tuntas: Pakaian Bekas yang berjamur semakin “Menjamur” di Kalangan Anak Muda


3
3 points

Fenomena Thrift shop atau belanja pakaian bekas semakin digandrungi anak muda Indonesia. Pembeli bukan hanya kalangan menegah ke bawah saja, menengah ke atas pun turut mencari peruntungan berburu awul-awul ini. Penjual awul-awul memperoleh keuntungan yang sangat besar. Dalam sehari, penjual dapat menghasilkan uang hingga Rp1,5 juta, pendapatan ini diraih pada hari biasa. Jika sedang ramai, penjual mampu mengantongi hingga Rp3 juta per hari, sungguh jumlah yang fantantis. 

Pembeli pun merasa untung mendapatkan harga yang sangat murah untuk sebuah baju yang unik, apalagi jika berhasil menemukan sebuah harta karun, yaitu barang branded yang dapat dijual hingga seper empat dari harga asli. Pakaian bekas yang di ekspor ke Indonesia banyak berasal dari negara-negara yang memiliki empat musim katakan saja negara Eropa, Korea Selatan dan Amerika Serikat dimana warganya memiliki kebiasaan berbelanja baju baru setiap musim berganti. Negara-negara tersebut merupakan gudang fashion dunia. Pembeli yang berhasil mendapatkan barang branded tersebut akan ketagihan untuk kembali datang melakukan thrift shop

Besarnya peluang pasar pakaian bekas ini seakan menutup mata penjual maupun pembeli mengenai bahaya yang secara diam-diam mengancam kesehatan mereka. Tahun 2015, Kementrian Perdagangan sudah melakukan pengujian terhadap pakaian bekas impor. Hasilnya cukup mecengangkan, diantaranya dengan penemuan mikroba sebanyak 261.000 koloni dan jamur sebanyak 36.000 koloni dalam pakaian bekas. Bakteri E-coli dan jamur kapang ikut temukan dalam pengujian ini. Pemerintah kembali menegaskan aturan yang melarang pakaian bekas masuk ke Indonesia dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Perdangan (Permendag) Nomor 51/2015. Importir yang melakukan pelanggaran akan diberikan sanksi administratif. Namun, penemuan dan peraturan pemerintah tidak membuat pasar pakaian bekas sepi pengunjung seperti daerah Medan. Di tahun yang sama, omzet penjual mencapai 300% disusul dengan peningkatan omzet di daerah Bengkulu yang mencapai 100%. Penyelundupan illegal masih terus berjalan melalui pelabuhan-pelabuhan kecil sehingga bisa sampai ke tangan penjual. 

Walaupun pakaian bekas branded yang dijual lebih mahal dari pakaian yang baru, pembeli akan tetap mengambil barang tersebut agar dapat diterima dalam suatu lingkungan. Masalah yang muncul yang tidak diperhatikan oleh penjual mapun pembeli pakaian barang bekas ini adalah pakaian dari perusahaan-perusahaan garmen lokal sepi peminat. Dalam rentang bulan Januari 2018 hingga September 2019, sebanyak 188 perusahaan tekstil dan produk tekstil di provinsi Jawa Barat telah dinyatakan gulung tikar karena barang tidak bisa terjual yang mengakibatkan stok yang berada di gudang mereka menumpuk sehingga kesulitan memutar modal kerja. Artinya, kehadiran produk impoet bekas ini telah mengancam serius usaha garmen lokal. Apalagi fakta menyebutkan produk industri garmen yang memiliki skala kecil dan konveksi nasional pasarnya 100%  domestik, walaupun ada yang ekspor tetapi tidak langsung .

Penulis akan menganalisa permasalahan ini dengan melakukan 1) riset pemasaran pada produk pakaian bekas; 2) memahami perilaku anak muda sebagai konsumen fashion di Indonesia; 3) mendeskripsikan produk mengguakan konsep teori three level of product.

Apa yang menyebabkan pakaian bekas begitu populer?

Untuk menemukan jawaban dari pertanyaan di atas, penulis akan menerapkah langkah-langkah riset pemasaran (Kotler dan Armstrong, 2017). Dengan riset pemasaran ini, kita akan mengetahui penyebab pakaian bekas menjadi pilihan oleh anak-muda.

https://yonulis.com/wp-content/uploads/2019/09/m1.png

Thrift shop atau berbelaja pakaian bekas impor digunakan pembeli sebagai ajang untuk memenuhi kebutuhan dan menunjukkan identitas diri. Identitas fashion dianggap sangat penting karena dianggap membantu seseorang untuk dapat diterima dalam suatu lingkungan. Selain itu,  fashion yang berbeda dari umum menambah pandangan atau citra yang ikut berbeda pula terhadap Si Pemakai fashion tersebut.

Dari penjelasan di atas, penulis akan menganalisa lebih detail mengenai elemen-elemen yang terdapat pada pakaian import bekas yang kemudian akan dibandingkan dengan pakaian lokal. Berikut elemen-elemen tersebut :

  1. Model menarik/terlihat berbeda
  2. Warna Cerah
  3. Bahan unik
  4. Lokasi mendapatkan pakaian
  5. Prestige dari merekpakaian
  6. Kelayakan pakai

Perbandingan ini menggunakan analisa dari berbagai media yang dipakai dan dijual masyarakat. 

1. Pakaian Import

Fashion negara-negara pemilik empat musim dengan negara tropis memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Jika salah satu pakaian dari empat musim tersebut digunakan di Indonesia, yang notabene adalah negara tropis terkenal panas sepanjang tahun, tentu akan terlihat berbeda dengan yang umum dikenakan. 

Masyarakat yang merasakan empat musim di negaranya akan mengganti pakaian sesuai dengan musim yang berlangsung. Pakaian saat musim panas tentu tidak akan dipakai pada saat musim dingin tiba. Berikut secara umum pakaian yang digunakan di masing-masing musim yang berbeda :

Musim Panas

Musim Dingin

Musim Semi

Musim Gugur

Dari gambar-gambar tersebut terlihat perbedaan cara berpakaian, Musim panas cenderung menggunakan warna yang cerah dengan model agak terbuka, sedangkan disaat musim dingin menggunak pakian yang berlapis-lapis

Menggunakan brand pakaian terkenal dan mewah, Si Pemakai juga akan dianggap berbeda, ditambah lagi fakta yang menyebutkan Indonesia menempati urutan ketiga dalam hal mengonsumsi barang mewah diantara negara-negara asia.Barang yang mewah tersebut harus merogoh kocek dalam-dalam jika membeli dalam kondisi baru. Namun, hal ini dapat teratasi dengan mencari barang branded tersebut di pasar pakaian bekas import.

Anak-anak muda justru berlomba-lomba untuk berpakaian semakin unik untuk menciptakan dan menjelaskan ketertarikan diri terhadap gaya dan trend yang ada. Berpakaian unik dan antimainstream ini sudah diterapkan oleh artis-artis papan atas dunia. Mari kita lihat bagaimana salah satu Model, Gigi Hadid, dalam berpakaian.

Jika kedua foto di atas masih dianggap fashion yang normal, coba lihat fashion yang dikenakan salah satu artis papan atas Korea Selatan, G-dragon, di bawah ini.

                          

G-Dragon terkenal sebagai role model  fashion pria korea selatan. Ia berani memadupadankan pakaian wanita seperti pada gambar pertama menggunakan jaket putih merek Chanel yang mana pakaian tersebut diperuntukkan untuk wanita. Kemudian gambar berikutnya merupakan fashion yang ia kenakan di bandara, cukup membuat heboh netizen lantaran menggunakan celana pendek yang mana tidak lazim digunakan ketika berada di bandara. Baik Gigi hadid maupun G-dragon terlihat memiliki gaya dan citra fashion-nya terlihat sangat berbeda, bukan? Hal ini yang kemudian dicontoh oleh masyarakat untuk berani berbeda dengan umum atau menciptakan gaya tersendiri.

2. Pakaian Lokal 

Seperti yang sudah disinggung di atas, Masyarakat Indonesia yang hanya mengalami dua musim saja: musim kemarau dan musim hujan sehingga masyarakatnya pun tidak memiliki banyak perbedaan dalam berpakaian antar musim. Pakaian yang dibeli dapat terus digunakan baik saat musim kemarau maupun hujan. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama muslim, tetap menggunakan jilbab dan pakaian yang agak panjang saat bepergian baik itu musim kemarau maupun musim hujan.

Image result for pakaian lokalImage result for pakaian lokal

Kecenderungan untuk membeli pakaian baru terjadi saat mendekati hari-hari besar saja seperti Hari Raya atau Natal. Selain itu, pasar terlihat normal. 

Pakaian Import Bekas

Pakaian Lokal Baru 

Desain menarik/terlihat berbeda

Ya, jumlah banyak

Ya, jumlah sedikit

Warna Cerah

Ya

Ya

Bahan Unik

Bahan unik yang tidak ada di Indonesia sepert produksi bahan jaket berbulu domba

Bahan beraneka ragam, kain khas lokal seperti tenun

Lokasi mendapatkan pakaian

On the spot, online melalui reseller

On the spot

Prestige dari merek pakaian

Ya, apabila pakaian berasal dari brand luar negeri yang terkenal, misal celana Levis

Ya, tetapi prestige tidak setinggi brand luar negeri. Brand lokal, biasa terkenal dikalangan lokal saja. Hanya beberapa yang bisa tembus Internasional.

Kelayakan Pakai

Ada yang layak

Ada yang tidak layak

Sangat Layak

Desain menarik/terlihat berbeda & Bahan Unik

Pakaian Import memiliki model yang jauh lebih bervariasi dibandingkan produk lokal. Produk pakaian berjas panjang berbahan wol misalnya, tidak di produksi secara khusus oleh perusahaan garmen Indonesia. Ditambah lagi, harga ditawarkan secara bekas jauh lebih murah daripada membeli dalam kondisi baru.

Image result for 2madison avenue nyfw 

Sebenarnya desainer tenama Indonesis sudah merambah ke fashion yang unik, seperti model-model pakaian di atas yang berasal dari brand Danjyo Hiyoji (sebelah kiri) dan 2madison Avenue (sebelah kanan)

Warna Cerah

Baik produk import maupun lokal menyediakan warna-warna yang cerah. Tidak sedikit juga warna pakaian bersifat netral atau tidak mencolok sehingga masih pantas jika digunakan sehari-hari. Warna produk lokal justru terlihat lebih cerah atau tidak kusam karena masih baru.

Lokasi mendapatkan pakaian

Pakaian import bekas dapat ditemukan secara langsung di Pasar-pasar yang tersebar di kota-kota besar Indonesia. Di Jakarta, pakaian import bekas dapat ditemukan di Pasar Senen dan Pasar Rumput. Pakaian lokal pun dapat ditemukan di gerainya langsung ataupun melalui reseller raksasa seperti Matahari dan Ramayana.

Tidak sedikit pembeli yang memburu pakaian bekas yang masih bagus dan layak untuk dijual. Lihat saja pencarian di Instagram dengan kata “Thrift Shop”, akan muncul berpuluh-puluh akun yang menjual pakaian bekas. Pakaian lokal baru pun menjual produknya melalui website mandiri.

Prestige dari merek pakaian & kelayakan pakai

Produk lokal memiliki kekalahan dalam hal nilai prestige dibandingkan produk import bekas ini. Saya akan membutikan pernyataan saya ini dengan sebuah pertanyaan, Jika Anda diberi kesempatan memilih Jeansdengan harga yang sama pilih merek Levis atau Lea?

Tentu akan memilih merek Levis, ada gengsi yang dirasakan ketika menggunakan jeans merk terkenal tersebut. Bagaimana dengan Lea? Sebuah produk jeans asli lokal yang justru berjaya di negeri orang, masih kalah nilai prestige-nya dengan produk merek Levis.

Padahal untuk dalam hal kelayakan pakai dengan harga yang sama produk Levis bekas dengan produk Lea yang baru, justru produk Levis lebih tidak layak karena sudah digunakan oleh orang lain. Mengingat lagi dengan penemuan bakteri E.Coli pada pakaian bekas, sangat menggelikan ketika harus membayangkan jeans tersebut masih mau digunakan karena masalah prestige.

Penulis juga melakukan analisis untuk melihat  terbentuknya nilai/value untuk memilih pakaian ala anak muda nan modern.  Produk pakaian bekas akan dianalisis dengan Segmentation dan Targeting yang kemudian dapat diketahui Differentitantion dan Positioning yang dilakukan pada produk. 

Produk Pakaian Bekas Import

Produk Baru Lokal

Segmenting

Orang yang ingin tetap berpakian trendy, menarik, berbeda dari umum dan menunjukkan identitas fashion.

Orang yang ingin tetap berpakaian menarik, sopan, dan tidak jauh berbeda dengan umum.

Targeting

Anak-anak muda yang memiliki budget terbatas mapun yang memiliki budget lebih untuk memenuhi keinginan fashion dan menaikkan gengsi ketika memakai pakaian tersebut.

Anak-anak muda maupun dewasa yang ingin berpakaian biasa digunakan sehari-hari. Tidak terlalu memperhatikan nilai prestige dari pakaian tersebut. Asal pantas dan nyaman akan dibeli.

Differentiating

Pakaian dibagi bedasarkan musim, negara, dan model pakaian.

Pakaian dibagi bedasarkan   model pakaian. Model yang dikenakan untuk sehari-hari berbeda dengan yang akan dipakai saat hari raya.

Positioning

Pakaian import memiliki kesan yang berbeda dengan umum karena model yang lebih beraneka ragam sesuai musim.

Kesan unik dan mahal karena bermerk desainer ternama dunia,

Pakaian lokal cenderung biasa dan tidak jauh dari kata“”bermain aman”  karena bisa digunakan tiap musim. 

Segmenting

Produk pakaian bekas import pada awalnya menyasar segmen masyarakat menegah ke bawah karena harga yang sangat murah untuk kategori pakaian yang masih layak pakai. Namun dengan berjalannya waktu, mulai terjadi perpindahan segmen ini ke anak muda. Anak muda jaman now yang mengharuskan berpakaian yang fashionable sebagai penunjuk indentitas diri. Selain itu, berpakaian kental kaitannya dengan mencari relasi. 

Untuk masuk ke lingkungan tertentu, mau tidak mau harus mengikuti cara berpakaian orang di lingkungan tersebut agar terlihat sama. Beberapa anak muda seakan berbondong-bondong memamerkan pakaian bekas yang telah dibeli dalam masing-masing akun Youtube mereka. 

Role Model Instagram bernama Ben Sihombing dengan pengikut sebanyak 26,5 ribu secara gamblang ikut menunjukkan tempat favorit melakukan Thrift shop dengan judul “THRIFTING di Kebayoran dapet Banyak Barang Branded?? | #THRIFTGANG Ep.3” pada akun USS Feed. 

Tidak jauh berbeda dengan produk pakaian bekas import, dibandingkan dengan rentang harga yang sama-sama murah, produk lokal cenderung menyediakan produk yang biasa-biasa saja beperti bahan kaos. Namun, tetap dibeli karena baju tersebut sudah memenuhi nilai sopan dan nyaman. Berikut salah satu hasil belanja oleh salah satu pembeli di Pasar Tanah Abang.

Targeting

Target produk pakaian bekas ini adalah orang yang ingin tetap fashionable dan tetap trendy dengan harga miring. Orang kalangan ke bawah bisa membeli pakaian bekas yang masih layak pakai, yang kemudian trend ini ikut bergeser ke kalangan menengah ke atas yang mencari pakaian branded. Harga barang branded ini pun dapat dikatakan tidak murah. Pakaian barang bekas namun memeiliki merek terkenal akan dihargai sama seperti membeli pakaian baru. Asal pakaian tersebut berasal dari brand ternama, bekas pun akan tetap dibeli. Baik barang tersebut dipakai atau sekedar dikoleksi saja, nilai gengsi tetap yang dicari.   Sedangkan targer produk lokal adalah pakaian umum yang dapat digunakan sehari hari. Lagi-lagi, asal pantas dan nyaman akan dibeli.

Differentiating

Differensiasi produk pakian bekas dibagai bedasarkan musim, negara, dan jenis pakaian. Mari lihat video dibawah ini.

Dari video tersebut terlihat dengan jelas model yang tersedia pada toko itu adalah model korea yang khas memiliki ukuran kecil dan desain yang manis. Jika sudah melihat video mengenai Ben Sihombing di atas , terlihat differetiating bedasarkan musim dimana ada pakaian jaket-jaket di gantung. Sedangkan pakaian lokal hanya bedasarkan model pakaian. Model yang dikenakan untuk sehari-hari berbeda dengan yang akan dipakai saat hari raya.

Positioning

Perusahaan garmen lokal hanya sedikit yang menyediakan produk yang berkualiats baik (terlihat mahal), desain yang menarik dan harga yang murah. Harga yang masih bisa diraih oleh anak muda memiliki model yang biasa-biasa saja selain itu ditambah lagi tidak ada nilai prestisge yang tinggi dari brand lokal tersebut. Nilai-nilai ini sudah ada di pakaian import bekas yaitu dengan model yang beraneka raga, dari brand ternama, dan harganya murah !

Seberapa penting nilai Prestige ini di mata anak muda Indonesia?

Setelah melakukan perbandingan kedua produk dari elemen-elemen yang ada, kita ingin mengetahui lebih jauh dibalik alasan nilai prestige sebagai pertimbangan masyarakat modern terutama anak muda dalam memilih pakaian. Dengan begitu, kita perlu menggunakan konsep selanjutnya untuk mengetahui karakterikstik anak muda di Indonesia memilih baju.

Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pembeli pakaian bekas import di Indonesia :


Anak Muda 

Cultural


Budaya

Anak muda sangat menyukai hal-hal yang baru atau berbeda sehingga mereka akan cenderung untuk memilih pakaian yang unik. Dengan begitu keinginan untuk eksis menjadi bagain dari sutau lingkungan dapat terpenuhi seperti mengikuti trend menjadi hal yang penting untuk menambah relasi.

Social 


Kelompok dan Jaringan sosial

Mencari pakaian berdasarkan saran dari kelompoknya.

Keluarga

Walaupun keluarganya memiliki style yang berbeda dengan dirinya, ia tetap memilih untuk tetap berbeda untuk bisa bergabung ke kelompok di luar keluarga.

Peran dan Status

Anak muda memilih secara mandiri pakaian apa yang ingin mereka beli ataupun gunakan sesuai yang mereka inginkan.

Personal


Usia dan Siklus Kehidupan

Rentang usia 18-35 tahun dapat dikategorikan sebagai generasi X dan Y

Pekerjaan

Gnerasi Xdan Y memiliki pekerjaan unik yaitu banyak sebagai influencer, dimana pekerjaan mereka bersifat dinamis dan fleksibel. Pekerjaan ini membtuhkan menjaring relasi yang banyak. 

Situasi Ekonomi

uang terbatas sehingga untuk memenuhi kebutuhan pakai yang menarik juga harus memliki budget yang rendah. 

Gaya Hidup

Konsumtif tetapi untuk berhemat ia memilih menggunakan produk pakain bekas branded untuk tetap berbaur dengan lingkungan sosialnya.

Kepribadian dan Konsep Diri

Pakaian unik, fashionable, menunjukkan identitas diri. Branded

Psychological


Motivasi 

Datang dari lingkungan tempat ia bergaul dengan yang lain, agar tetap duanggap setara.

Persepsi 

Menganggap diri lebih keren dan berkelas dengan menggunakan pakaian merek ternama. 

Kepercayaan dan sikap

Dengan menggunakan brand bermerk akan dipercaya sebagai orang yang mampu dan lebih percaya diri untuk menyatu dengan lingkungan.

Mengapa produk bekas penuh penyakit itu jauh lebih laku?

Mari kita perkuat analis dengan teori berikutnya : Three Level of Product

Kebutuhan paling dasar atau inti dari membeli sebuah pakaian adalah alat penutup atau pelindung tubuh. Faktor berikutnya yaitu Actual Product dan Augmented Product akan menetukan bagaimana kosumen akan memilih.

1. Design

Desain produk import sama atau sejenis dengan produk lokal seperti kemeja, long dress celana panjang, tetapi ada pula yang berbeda seperti pakaian tebal yang digunakan orang luar negeri saat musim dingin tiba, yang tidak jarang ditemukan karena perusahaan garmen Indonesia jarang memproduksi pakaian yang tebal seperti ini. Tampilan produknya pun lebih berani (atau terbuka) karena anutan budaya barat yang mengutamakan kebebasan.

Desain produk lokal sebenarnya tidak kalah menarik dengan produk luar negeri. Produk lebih banyak bervariasi ke pakaian yang bisa digunakan pada musim dan situasi kapan saja.

2. Kualitas 

Baik produk import maupun produk lokal memiliki kualitas yang bergantung pada harga. Semakin mahal harganya maka produk tersebut memiliki kualitas yang jau lebih baik dari harga yang murah. Kualitas dapat dilihat dari kualitas jahitan, kesulitan dalan membuat produk maupun bahan.

Lain kata bila produk import tersebut sudah bekas digunakan, kondisi tidak bisa 100% prima karena sudah pernah digunakan orang lain. Entah itu noda atau sobekan kecil, calon pembeli pun harus jeli melihat produk import bekas ini.

3. Merek 

Merek terkenal yang biasa kita dengar seperti Fendi Puma, Adidas dan Tomy Hilfiger adalah merek luar negeri. Dalam kondisi baru harga produk ini bisa merogih kocek hingga berjuta-juta sehingga Si Pemakai dari brand ternama diapandang sebagai orang yang “berada” yang secara otomatis ikut menaikkan gengsi dan percaya diri Si Pemakai. Nyatanya orang tidak begitu memperhatikan apakah pakaian yang kita gunakan baru atau bekas melainkan brand apa yang digunakan. Oleh karena itu, walaupun produk bekas, Brand yang menaytu pada pakaian tersebut tetap menaikkan gengsi Si Pemakai. 


Berbeda dengan produk lokal yang memiliki harga yang sama-sama murah tanpa Brand, meskipun prduk tersebut baru, tetap saja tidak menaikkan gengsi setinggi produk branded bekas tadi.

4. Pengemasan dan Fitur

Lagi-lagi, baik produk import maupun produk lokal memiliki pengemasan dan fitur yang bergantung pada harga. Semakin mahal maka produk tersebut akan dikemas semakin exclusive. Produk import bekas memiliki fitur dan segi pengemasan yang sangat biasa yaitu menggunakan kantong plastik. Produk Lokal yang baru memiliki plastik bening pelindung pakaian sebelum diasukkan ke kantong plastik yang lebih besar.

Fitur tambahan yang tidak dimiliki oleh penjual produk import bekas adalah memiliki website untuk mempermudah proses pembelian, contohnya saja ConttonInk dan This is April yang memiliki website sendiri.

Setelah memahami perilaku dan produk, maka dapat disimpulkan tipe perilaku konsumen anak muda Indonesia adalah kompleks dalam membeli pakaian. Model pakaian yang akan ia beli harus melalui proses mencari informasi yaitu pakaian apa yang biasa dikenakan oleh lingkungan sosialnya dan brand apa saja yang bisa menaikkan gengsi ketika berada di lingkungan sosialnya tersebut. 

Informasi diatas sekaligus memperjelas bahwa proses keputusan untuk memilih pakaian yang akan dibeli oleh anak muda nan modern Indonesia adalah :

Anak muda membutuhkan pengakuan diri di lingkungan sosialnya (need recognition) atau dengan kata lain ingin dianggap setara. Ia mencari informasi mengenai “apa saja yang bisa saya lakukan supaya dianggap setara oleh lingkungan saya?”. Jika lingkungannya berpakaian branded, ia akan berusaha berpakaian seperti mereka dengan budget yang ia punya. Hingga pada akhirnya membentuk suatu perilaku untuk memilih membeli pakaian bekas branded daripada produk baru lokal,

Kesimpulan 

Anak muda Indonesia lebih menyukai produk import bekas karena bisa mendapatkan pakaian yang branded dengan harga yang murah sehingga menaikkan percaya diri untuk menyatu di lingkungan sosialnya. Adanya kebutuhan akan brand dan prestige pada suatu pakaian yang tidak terpenuhi oleh produk lokal . Dengan harga yang sama-sama murah, calon pembeli bisa mendapatkan pakaian dengan merk desainer ternama walaupun barang tersebut bekas.

1. Saya menyarankan perusahaan garmen lokal untuk tidak hanya fokus meningkatkan kualitas produk tetapi juga membangun brand yang kuat

Jika dilihat dari perbandingan-perbandingan yang telah di lakukan di atas, produk lokal yang murah tidak memiliki brand, logo yang dimiliki pun kurang kuat. Logo hanya berupa nama baju, bahkan banyak yang tanpa logo sama sekali. Pembeli pun dapat menaikkan gengsinya dengan menggunakan produk tersebut.

2.  Perusahaan memproduksi garmen lokal harus up to date memahami minat pasar atau calon pembeli. Dengan memahami minat konsumen, desain yang akan diproduksi pun lebih bervariasi dibandingkan sebelumnya. Perluas differentiating produk dengan memahami personality calon pembeli (anak muda) yang akan dituju. Produk pun akan lebih banyak dilirik oleh anak muda.

3. Perusahaan perlu mempertimbangkan penggunaan word-of-mouth. Kolaborasi dengan salah satu Influencer ternama bisa memperkuat metode ini. Kita tidak bisa meremehkan kekuatan Influencer. Orang akan tertarik untuk membeli karena pengaruh kuat word-of-mouth dari  seorang Influncer. 


Video yang berjudul "EXPOSURE" ini secara langsung menyampaikan benefit yang diperoleh dari bekerja sama dengan seorang Influencer bernama Karin Novilda degan 4.8 Juta pengkut Instagram. Salah satu penjual yang masuk dalam video tersebut mengatakan penjualan produknya meningkat karena menggunakan jasa Karin Novilda.


Like it? Share with your friends!

3
3 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
OVERACHIEVERS

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format