Lisa, Oh Lisa (Sebuah Kisah tentang Steve Jobs dan Mimpi-mimpinya).

Terlepas dari namanya yang mirip kembang desa; Lisa adalah salah satu produk legendaris Apple yang... gagal. Kira-kira kenapa, ya?


3
3 points

   Apakah salah satu produk elektronik yang Anda gunakan berlogo buah apel? Jika ya, pasti Anda sudah familiar dengan perusahaan ini. Logo tersebut merupakan logo dari Apple Inc yang merupakan perusahaan teknologi multinasional yang merancang, mengembangkan, dan menjual barang elektronik konsumen, perangkat lunak computer, dan layanan daring. Saat ini Apple Inc sudah menjadi salah satu perusahaan raksasa elektronik di dunia bersanding dengan Samsung Electronics, dengan berbagai produknya, seperti AppleMac untuk jenis laptop atau komputer, telepon pintar iPhone, tablet iPad, jam pintar Apple Watch, dan masih banyak lagi. Kesuksesannya saat ini tidak lepas dari campur tangan Steve Paul Jobs atau yang lebih populer dengan nama Steve Jobs, Steve Wozniak, dan Ronald Wayne sebagai pendiri dari Apple Computer yang kemudian berubah menjadi Apple Inc. Untuk membawa Apple mencapai titik ini, Steve Jobs dan rekan-rekannya telah melalui jalan panjang yang penuh dengan drama dan masalah-masalah pelik yang hampir membuat Apple diambang kematian.

   Semua perjalanan panjang yang berbuah sukses tersebut, mengilhami rilisnya film berjudul Jobs pada tahun 2013. Film ini mengisahkan awal didirikannya sebuah usaha yang menjual produk perangkat komputer yang diberi nama Apple Computer. Diceritakan dalam film bahwa Wozniak merupakan seorang yang ahli elektronik dan sekaligus teman baik Jobs. Saat itu dia sedang berusaha untuk mengembangkan sebuah perangkat yang dapat menampilkan interface dari apa yang sedang kita kerjakan dalam sebuah layar televisi. Jobs yang merupakan seorang ambisius pada bidang yang sama, menangkap sebuah peluang besar dari perangkat kembangan teman baiknya tersebut. Dengan bermodalkan keberanian, Jobs mendorong Wozniak untuk mempresentasikan karyanya dalam sebuah forum di depan para investor dan mulai dari titik tersebutlah perjalanan berliku Apple Computer dimulai.

     Berikut adalah cuplikan film Jobs: 

   Lika-liku tersebut dimulai dengan sulitnya Apple Computer menemukan investor besar yang mau mendanai produk keduanya yaitu Apple II. Namun, tak berselang lama, Jobs akhirnya menemukan investor tunggal untuk Apple Computer. Setelah menyatakan resmi berdiri pada tahun 1977, perkembangan Apple Computer mulai terlihat dari tingkat penjualan Apple II. Hingga pada akhirnya Apple Computer menjadi perusahaan besar dengan mempekerjakan banyak perancang computer. Pada tahun-tahun selanjutnya, Apple Computer mulai mengembangkan generasi komputer terbaru yang diberi nama Lisa. Perangkat Lisa dikembangkan di dalam tim yang dinaungi langsung oleh Jobs. Lisa dirancang sebagai komputer pribadi yang memberikan desain interface yang canggih, menggunakan teknologi dan komponen-komponen terbaik. Gairah Jobs terhadap kesempurnaan Lisa rupanya menjadi boomerang bagi dirinya. Lisa ditolak oleh sebagian besar dewan pemegang saham karena dianggap memiliki kos yang sangat besar yang mengakibatkan harga jual Lisa juga menjadi sangat tinggi, yaitu $10,000 per unit. Pada saat itu tentu saja, harga $10,000 untuk sebuah perangkat komputer merupakan harga yang fantastis, mengakibatkan Lisa tidak akan laku dipasaran dan perusahaan akan merugi jika tetap memproduksinya. Pada tahun 1984, Jobs diminta untuk menghentikan proyek Lisa dan diminta untuk mengambil alih proyek Macintosh. Dengan berat hati, Jobs memenuhi tuntutan tersebut dan mulai menggarap produk Macintosh bersama tim barunya. Macintosh besutan Jobs bersama tim dianggap berhasil dan akhirnya mendapatkan persetujuan dari dewan untuk diluncurkan ke pasar. 

   Dalam kepemimpinannya sendiri, digambarkan Jobs merupakan seorang yang sangat tegas, keras kepala, egois, disiplin, tempramental, tapi memiliki etos kerja yang tinggi. Jobs pernah memecat pegawai terbaiknya di bidang desain karena dia menganggap bahwa pendapat pegawai tersebut tidak sesuai dengan misi perusahaan yang sudah ia bangun. Pembawaannya yang tegas menjadikan Jobs dianggap sebagai manusia yang tidak “memiliki hati”. Teman dekat Jobs yang tidak lain juga sebagai pendiri Apple Inc., Wozniak, bahkan menganggap bahwa Jobs mulai berubah dan terlalu ambisius pada pencapaian Apple Inc.

   Berdasarkan film Jobs, kami akan coba untuk membandingkan kesesuaian proses pengembangan produk Lisa dengan teori proses pengembangan produk yang dikemukakan oleh (Kotler dan Armstrong, 2017). Proses pengembangan produk atau product development process adalah serangkaian prosedur yang pada umumnya dilalui ketika mengembangkan sebuah produk.


   Idealnya, proses ini bersifat sistematis dan didasarkan atas permintaan konsumen (customer-driven). Namun, pada kenyataannya, tidak semua perusahaan melewati semua tahapan-tahapan tersebut. Tahapan-tahapan yang disebut oleh (Kotler dan Armstrong, 2017) adalah:

1. Idea Generation

   Tahap ini adalah tahap ketika sebuah produk masih dalam bentuk ide. Ide bisa datang dari dalam perusahaan (internal idea sources) dan dapat pula datang dari luar perusahaan, seperti dari konsumen, dan produk kompetitor (external idea sources)

2. Idea Screening

   Tahap ini adalah tahap pemilihan ide. Dalam tahap idea generation seringkali muncul lebih dari satu ide, melalui tahapan ini, perusahaan akan memilih mana ide yang terbaik.

3. Concept and development testing

   Tahap ini adalah tahap ketika perusahaan mulai mengembangkan konsep dari produk. Pada tahap ini juga produk dievaluasi atas kekurangan-kekurangannya.

4. Marketing strategy development

   Pada tahap ini, perusahaan mengembangkan strategi pemasaran yang akan digunakan untuk memasarkan produk ini.

5. Business analysis

   Pada tahap ini dilakukan reviu atas proyeksi penjualan, biaya, dan keuntungan yang akan dihasilkan oleh produk ini untuk mengetahui apakah faktor-faktor tersebut sesuai dengan keinginan perusahaan; apakah suatu produk menguntungkan.

6. Product development

   Pada tahap ini, produk mulai dikembangkan.

7. Test marketing

   Pada tahap ini, konsep produk yang sudah jadi beserta konsep pemarannya akan dites menggunakan skenario pasar yang nyata. Tahap ini berguna untuk mengetahui apakah produk tersebut akan benar-benar laku di pasaran dengan fitur dan strategi pemasaran yang sedemikian rupa.

8. Commercialization

   Pada tahap ini, produk sudah benar-benar dilepas di pasar.

  

PROSES PENGEMBANGAN PRODUK DARI LISA

   Untuk kasus Lisa, proses pengembangan produk sudah sesuai dengan tahap-tahap di atas, kecuali untuk bagian idea screening, concept and development testing, marketing strategy development, business analysis, dan test marketing yang tidak dilakukan atau dilakukan dengan tidak maksimal. Mari kita lihat satu persatu masing-masing dari poin tersebut.

1. Idea screening

   Setelah muncul ide untuk membuat Lisa (yang menurut film adalah berasal dari internal sources, sedangkan menurut data yang kami peroleh (1) Lisa terinspirasi dari Xerox), Steve Jobs kemudian melakukan idea screening. Dalam film Jobs, adegan idea screening ini menampilkan Steve Jobs yang sedang mempresentasikan Lisa kepada tim programmer-nya. Pada adegan ini, Steve Jobs sudah diperingatkan oleh salah satu dari programmer-nya bahwa Lisa akan rumit untuk diwujudkan, tetapi Steve Jobs menepis peringatan tersebut dan mengatakan bahwa mereka harus berani mengambil risiko. Di satu sisi hal ini benar, karena dalam proses pengembangan produk akan selalu muncul risiko yang harus dihadapi. Namun, peringatan ini tidak seharusnya dihiraukan sepenuhnya. Menurut kami, peringatan ini adalah red flag atau pertanda bahwa ide pembuatan Lisa ini memiliki sisi lemah. 

2. Concept and development testing 

   Tahapan ini juga tidak dilakukan dengan baik. Produk final Lisa menuai banyak kritik mengenai performanya yang tidak begitu baik dan sistem operasinya yang terlalu rumit. Seharusnya masalah teknis tersebut bisa diatasi di tahap ini (sebelum sampai ke pasar) bila concept and development testing dilakukan dengan optimal. Namun, sayangnya Lisa tetap keluar sebagai produk dengan performa yang tidak sempurna.

3. Marketing strategy development

   Tahapan ini juga kurang diperhatikan karena tidak ada karakteristik Lisa yang bisa ditonjolkan oleh Steve Jobs. Dengan harganya yang mencapai US$10.000 per unit, Lisa sukses menjadi sebuah produk yang kemahalan. Lisa kalah oleh pesaingnya, IBM XT, yang meskipun tidak lebih canggih dibanding Lisa, tetapi sudah banyak digunakan oleh kantor-kantor di Amerika Serikat sejak tahun 1980. Pada saat itu, IBM XT dibandrol dengan harga dua kali lipat lebih rendah dibandingkan Lisa. Sebagai komputer pribadi yang ditargetkan untuk pebisnis, Lisa justru tidak cost-efficient. Sebagai respon atas hal ini, Steve Jobs tidak terima dan justru membuat iklan sepanjang delapan halaman yang dimuat oleh Wall Street Journal (2). Iklan ini menjelaskan secara rinci fitur-fitur yang dimiliki Lisa, tanpa adanya penekanan urgensi. Iklan ini gagal menyampaikan kenapa seorang konsumen harus memilih Lisa dibanding kompetitornya. Berikut adalah cuplikan iklan tersebut.

4.  Business analysis

   Tahap ini tidak dilakukan dengan baik karena diceritakan dalam film Jobs, bahwa biaya produksi Lisa sudah melebihi anggaran. Dalam salah satu dialog, disebut bahwa pengembangan Lisa telah mengakibatkan kerugian hingga jutaan dolar bagi Apple. 

   Padahal, tujuan utama dari tahap business analysis adalah mempertimbangkan apakah suatu proyek akan menguntungkan. Namun, dalam kasus Lisa, Steve Jobs menghiraukan faktor tersebut dan terus jor-joran mengembangkan Lisa yang pada akhirnya menjadi terlalu mahal untuk konsumen. 

5. Test marketing

   Terakhir adalah test marketing, tahap ini juga lagi-lagi tidak dilakukan dengan baik. Masalah utama dari Lisa sebagai produk adalah ia tidak memiliki target pasar yang jelas. Lisa didedikasikan untuk kebutuhan bisnis, tetapi tidak cost-efficient (karena harganya yang terlalu mahal dan fungsinya yang masih bisa digantikan oleh IBM XT dengan harga dua kali lipat lebih murah). Lisa terlalu mahal untuk pengguna rumahan dan sistem operasi yang disematkan pada Lisa dinilai terlalu rumit. Lisa bukan solusi dari masalah apapun, Lisa tidak hadir dari keresahan konsumen, Lisa lahir murni dari keinginan Steve Jobs untuk menciptakan komputer pribadi yang lebih canggih. Lisa diluncurkan tanpa melakukan tes pasar, sehingga ia gagal menemukan titik urgensinya sebagai produk. Pertanyaan “kenapa saya harus membeli Lisa?” gagal dijawab. 

   Setelah membahas mengenai kesesuaian proses pengembangan produk Lisa dengan teori mengenai proses pengembangan produk yang dikemukakan oleh (Kotler dan Armstrong, 2017), serta dampak-dampak yang ditimbulkan pada performa Lisa di pasar, pembahasan kami selanjutnya akan menyentuh siklus hidup produk dari Lisa. 

   Menurut (Kotler dan Armstrong, 2017), siklus hidup produk atau product life cycle adalah jalannya (naik-turun) untung dan rugi sebuah produk selama masa hidupnya (sebelum produk tersebut hilang dari pasar). Berikut adalah gambaran dari siklus hidup produk yang dikemukakan secara lengkap oleh (Kotler dan Armstrong, 2017).


   Terdapat lima tahapan dalam siklus hidup sebuah produk secara umum:

  1. Fase product development yang merupakan fase awal saat sebuah produk baru dikembangkan, produk belum terjual (revenue 0) dan biaya investasi awal mulai muncul dan dapat dihitung secara riil; 

  2. Fase introduction adalah fase ketika sebuah produk diluncurkan ke pasar, pada fase ini sebuah produk baru mulai menghasilkan pendapatan meskipun tidak signifikan;

  3. Fase growth adalah fase ketika penjualan sebuah produk mengalami peningkatan secara pesat;

  4. Fase maturity adalah fase ketika pertumbuhan tingkat penjualan suatu produk mulai melambat, produk sudah berhasil diterima dengan baik oleh pasar dan peningkatan jumlah penjualan tidak lagi dapat terjadi; 

  5. Fase decline adalah fase ketika tingkat penjualan produk menurun.

   SIKLUS HIDUP PRODUK LISA

   Meskipun terdapat lima fase dalam konsep baku siklus hidup produk, pada kenyataannya tidak semua produk akan mengalami kelima fase tersebut secara berurutan. Seperti pada kasus Lisa, berdasarkan tayangan pada film Jobs dan hasil sintesis kami dari berbagai sumber  (1) (3) (4) berikut adalah siklus hidup produk dari Lisa.


   Lisa mengalami siklus hidup produk yang menyedihkan. Lisa hanya mengalami tiga fase dalam siklus hidup produknya, yaitu product development pada tahun 1978 ketika proyek Lisa mulai dikembangkan oleh Apple, fase introduction pada tahun 1983 ketika Lisa diluncurkan ke pasaran, dan puncak dari fase decline saat Lisa ditarik dari pasaran di tahun 1985, setelah penjualannya terus menurun dan hanya mencapai total penjualan 100.000 unit sejak tahun 1983.

   Apa yang terjadi dengan Lisa? Setelah digadang sebagai komputer pribadi dengan antarmuka grafis pertama oleh Apple, setelah dipasarkan sebagai produk yang inovatif pada masanya, Lisa justru hanya bertahan selama tiga tahun. Kami akan berusaha untuk membahas jatuhnya Lisa pada setiap fase siklus hidup produknya menggunakan konsep marketing mix. 

   Menurut (Kotler dan Armstrong, 2017), marketing mix adalah serangkaian alat pemasaran taktis: product, price, place, dan promotion, yang dibaurkan sedemikian rupa oleh perusahaan untuk menciptakan respon yang diinginkan dari pasar. Menggunakan konsep tersebut, kami akan mencoba membahas jatuhnya Lisa dan apa yang seharusnya dilakukan oleh Lisa.

1. Fase product development

   Pada fase ini, fokus utama adalah dari sisi product dan price karena produk belum diluncurkan, sehingga sisi promosi dan place belum dapat dibahas. Dari sisi produk, Lisa sebenarnya revolusioner karena merupakan komputer pribadi pertama yang menggunakan antarmuka grafis dan hadir dengan spesifikasi perangkat keras yang lebih tinggi dibandingkan kompetitor-kompetitor lain yang ada di pasar. Namun, hal tersebut harus dibayar dengan harga jualnya yang tinggi, yaitu US$10.000 atau setara dengan US$25.000 saat ini (4). Sayangnya, harga yang mahal tersebut ternyata tidak menjadi jaminan bahwa Lisa memberikan performa yang lebih baik. Lisa kalah dengan IBM XT (produk kompetitor) yang saat itu memiliki memori penyimpanan sebesar 10MB (Lisa hanya 5MB) dengan harganya yang dua kali lipat lebih murah daripada Lisa. IBM XT juga sudah mengalami penerimaan pasar dan mulai digunakan oleh beberapa kantor di Amerika Serikat sejak tahun 1980. Perintah yang terlalu kompleks juga disematkan pada sistem operasi Lisa, sehingga performa Lisa terasa lambat, terutama ketika men-scroll dokumen. Seharusnya, hal ini sudah dapat disadari oleh Steve Jobs dan timnya pada saat mereka mengembangkan Lisa. Berdasarkan apa yang ditayangkan pada film, Lisa hanya merupakan manifestasi dari ego Steve Jobs yang ingin mengungguli kompetitor tanpa memikirkan apakah produk yang diciptakannya ini mampu hidup di pasaran. Yang bisa dilakukan, adalah melakukan penyesuaian pada spesifikasi Lisa supaya dapat dijual dengan harga yang lebih murah. Karena pada kenyataannya, Macintosh, yang diluncurkan setelah Lisa berhasil laku di pasaran dengan spesifikasi yang mirip dengan Lisa (dalam film, Macintosh disebut memiliki prosesor yang sama dengan Lisa), tetapi dengan fungsi yang lebih mudah dan harga yang lebih murah (4). Menurut kami, Macintosh seharusnya adalah Lisa, bila Steve Jobs melakukan pertimbangan yang lebih matang pada fase product development ini. 

2. Fase introduction

   Aspek yang bisa dikulik dari fase ini adalah aspek produk dan promosi. Dari segi produk, seperti yang kami katakan sebelumnya, Lisa adalah manifestasi dari ego Steve Jobs untuk menciptakan produk yang lebih inovatif dibandingkan produk kompetitor. Lisa memang lebih inovatif, tetapi Lisa dibuat tidak berdasarkan demand pasar. Kasus ini (produk yang diciptakan tanpa adanya survei pasar) sebenarnya bukan hal baru bila melihat pola perilaku Steve Jobs sebelumnya ketika hendak meluncurkan Apple II, komputer pribadi Apple yang diluncurkan sebelum Lisa. Apple II adalah sebuah inovasi, sama seperti Lisa. Namun, Apple II pada saat itu juga diluncurkan dengan kondisi pasar yang tidak paham apa sebenarnya Apple II ini. Diperlihatkan pada film Jobs adegan seorang calon investor yang bingung ketika Steve Jobs menjelaskan apa itu Apple II.  

   Sayangnya, hal ini tidak terjadi pada Lisa. Lisa memang produk inovatif, tetapi pada saat itu komputer pribadi bukan merupakan produk baru lagi. Lisa dihadapkan pada pesaingnya, IBM XT yang memiliki kapasitas penyimpanan lebih besar dengan harga lebih murah. Tidak terima dengan hal ini, Steve Jobs kemudian membuat iklan sepanjang delapan halaman di Wall Street Journal, seperti yang sudah dibahas pada poin analisis proses pengembangan produk. 

   Melalui iklan itu, Steve Jobs tidak berusaha menceritakan apapun, Steve Jobs tidak berusaha memecahkan masalah apapun, Ia hanya sibuk menjelaskan panjang-lebar fitur-fitur yang ada pada Lisa. Iklan Lisa tidak hadir sebagai solusi dari sebuah masalah, tetapi hanya sebagai daftar panjang dari kehebatan-kehebatan Lisa sebagai produk yang inovatif… yang sayangnya tidak menemukan pembeli sebanyak yang diekspektasikan. Kembali ke sisi produk pada fase product development, gagalnya Lisa harusnya dapat dicegah bila sejak awal pengembangannya, Steve Jobs menyadari bahwa sebenarnya Lisa tidak memiliki target pasar yang jelas. Lisa gagal memenuhi tugasnya sebagai komputer pribadi untuk bisnis, karena harganya yang terlalu mahal dan fungsinya yang tidak sempurna. Dari segi promosi, seharusnya Steve Jobs tidak hanya berfokus pada daftar panjang fitur yang diemban Lisa. Tidak ada gimik kuat yang dilekatkan pada Lisa, Lisa hanya dipamerkan sebagai komputer dengan fitur canggih sepanjang delapan halaman. Hal ini berbeda dengan promosi yang dilakukan untuk Apple II, produk pendahulunya.

   Pada iklan tersebut, Steve Jobs fokus pada gimik simplicity atau kesederhanaan yang ada pada Apple II. Apple II adalah komputer pribadi pertama yang monitornya menyatu dengan CPU, hal ini membuat Apple II menjadi lebih sederhana dan ringkas dibandingkan komputer pada umumnya. Pada saat itu, Apple II juga tidak memiliki pasar yang jelas, tetapi Steve Jobs berhasil memunculkan image kuat yang melekat pada Apple II, yaitu kesederhanaan atau simplicity. Pada Lisa, image ini tidak ditonjolkan dengan kuat. Berikut adalah market share dari Lisa yang hanya menempati posisi 2%.


3. Fase decline

   Sebenarnya Apple sudah melakukan langkah yang tepat pada fase ini. Ketika penjualan Lisa menurun dan terbukti tidak sesuai ekspektasi - ditambah dengan diluncurkannya Macintosh yang membuat Lisa semakin tenggelam eksistensinya - Apple melakukan rebranding terhadap Lisa dengan memasarkannya sebagai varian dari Macintosh, yaitu Macintosh XL. Macintosh XL pada saat itu akhirnya memiliki kapasitas penyimpanan sebesar 10MB, dan dijual dengan harga 40% lebih murah dari sebelumnya; US$4.000 dari sebelumnya US$10.000. Dilansir dari (Infoworld, 1985) bahwa penjualan Lisa (yang dipasarkan sebagai Macintosh XL) pada saat itu meningkat tiga kali lipat. Namun, CEO John Sculley mengatakan bahwa Apple tidak lagi memiliki dana untuk meneruskan produksi atas permintaan baru dari Lisa. Lisa terpaksa ditarik dari pasar. 


   Hal ini seharusnya dapat dilakukan sejak awal. Pada kenyataannya, bila dijual dengan fitur (aspek produk) dan harga yang tepat (aspek harga), Lisa bisa laku di pasaran. Sebenarnya pada fase decline ini tidak ada yang bisa ditingkatkan, karena CEO sudah mengatakan kalau Apple tidak lagi memiliki dana untuk Lisa. Namun, dengan asumsi bahwa dana bukan masalah, Apple bisa meningkatkan promosinya terhadap Lisa (atau Macintosh XL). Menurut pencarian kami melalui Google, tidak ditemukan iklan yang spesifik mempromosikan Macintosh XL seperti promosi Apple II atau Macintosh. Padahal, terbukti sebenarnya permintaan atas Macintosh XL ada dan meningkat secara jumlah. Berikut adalah konsep iklan yang coba kami buatkan untuk Macintosh XL. Karena baik secara ukuran atau konsep Macintosh XL lebih besar dibandingkan Macintosh, kami menggunakan image besar sebagai gimik pemasaran kami.

KESIMPULAN

Kesimpulan dan saran dari pembahasan pada artikel ini adalah:

  1. Jangan tergesa-gesa dalam meluncurkan sebuah produk. Untuk sebuah produk dapat terjual, tidak cukup hanya menjadi inovatif dan memiliki segudang fitur, tetapi perhatikan juga apakah produk tersebut merupakan solusi dari masalah yang ada di masyarakat. Selalu berangkat dari masalah dan keresahan yang ada di masyarakat ketika ingin mengembangkan sebuah produk baru, jangan lupa pula untuk mengadakan survei pasar mengenai kemungkinan produk ini untuk terjual dan menghasilkan keuntungan.

  2. Lihat kemampuan pasar. Produk yang inovatif mungkin menarik, tetapi ketika produk tersebut berada pada tingkat harga yang tidak terjangkau, pembeli juga tidak akan datang. Sinkronisasi yang baik antara pemasaran, research and development, dan penjualan adalah kunci suksesnya sebuah produk. Bagaimana sebuah produk dapat menjadi solusi dari masalah yang ada sekaligus dijual pada tingkat harga yang terjangkau. 

  3. Lakukan tahap concept development and testing dengan sungguh-sungguh. Pertimbangkan apakah dengan konsep yang ada, produk dapat terwujud dengan sempurna dan jangan lupakan aspek biaya. Apakah pengembangan suatu fitur pada sebuah produk memungkinkan, tidak hanya secara teknis, tapi juga secara biaya. Kembali ke poin nomor dua, biaya produksi yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan harga jual yang terlalu tinggi. Jangan pernah lupa kalau harga suatu produk adalah salah satu pertimbangan krusial yang dilakukan oleh seseorang sebelum membelinya. 

  4. Rancang marketing strategy dengan baik. Sudah sedikit disinggung di poin nomor satu, dalam memasarkan sebuah produk, jangan lupa untuk mempresentasikan produk tersebut sebagai solusi dari masalah, buatlah cerita yang dapat menarik simpati pembeli mengenai “kenapa saya harus membeli produk ini?” karena menjabarkan fitur-fitur canggih dari sebuah produk, tidak akan cukup untuk membujuk pembeli bila produk tersebut tidak memiliki urgensi. 


 

CATATAN KAKI DAN REFERENSI

Infoworld. “Apple’s Lisa Meets a Bad End”. Infoworld. 3 Juni 1985. Halaman 21 (diakses melalui Google Play Books pada 20 Oktober 2019)

Kotler, Phillip dan Armstrong, Gary. (2017). Principles of Marketing (edisi 17). Edinburg: Pearson

----------------------------------------------------------------------------------------------

  1. https://www.mac-history.net/apple-history-2/apple-lisa/2007-10-12/apple-lisa

  2. http://www.themarketingsage.com/steve-and-lisa-a-lesson-in-failure/

  3. https://bgr.com/2016/02/18/apple-product-failures-all-time-lisa-pippin-newton

  4. https://www.inexhibit.com/case-studies/different-fate-apples-lisa-macintosh-design-matters/





Like it? Share with your friends!

3
3 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
1
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format