The Greatest Showman: Bukan The Greatest Marketing-Man

Kecerdikan P.T. Barnum dalam menampilkan sirkus yang berbeda dari biasanya, menjadi malapetaka atau kesuksesan yang luar biasa?


3
3 points

Sinopsis Film

The Greatest Showman merupakan sebuah film yang bergenre drama musikal yang ditayangkan di bioskop pada tahun 2017. Film ini menampilkan kisah nyata dari pelopor sirkus P.T. Barnum yang berlatar pada akhir 1800-an, dimana P.T Barnum (Hugh Jackman) adalah orang yang bertahan hidup di jalanan yang kemudian membangun sebuah sirkus dengan mengangkat derajat orang-orang yang memiliki fisik yang 'aneh' untuk menjadi bagian dari sirkus pertunjukannya. Barnum juga seorang ayah dan suami yang penuh kasih sayang dengan berjuta mimpi untuk membahagiakan keluarganya. Film ini ditulis oleh Jenny Bicks dan Bill Condon dan dibintangi oleh Hugh Jackman, Zac Efron, Michelle Williams, Rebecca Ferguson dan Zendaya. 

Sebelum film The Greatest Showman setidaknya pernah ada beberapa film yang menceritakan dirinya, seperti The Mighty Barnum (1934) yang diperankan Wallace Beery, Kemudian juga dalam film Jules Verne's Rocket to the Moon (1967), dan Serial Tv dengan judul yang sama dengan namanya, Barnum (1986). Kini, The Greatest Showman (2017) menjadi film terbaru yang menceritakan tokoh tersebut dalam genre drama-musikal.

Suatu hari, P.T. Barnum dipecat dari perusahaannya karena mengalami kerugian. Ia pun kemudian mampu bangkit dengan berpura-pura memiliki kapal dan sertifikat dari kapal-kapal itu dijadikan jaminan untuk pinjaman ke Bank yang kemudian digunakan untuk membeli museum yang berisi boneka yang eksotis tentang sejarah purba dan sejarah Amerika. Bisnis museum yang dimilikinya tidak mengalami perkembangan, jumlah pengunjung yang datang sangat sedikit.

Ide bisnis baru justru muncul dari kedua putrinya, mereka menyarankan untuk membuat pertunjukan yang fantastis, tidak hanya menampilkan boneka-boneka. Kemudian, dari ide itulah, Barnum mulai merekrut orang-orang 'aneh', Ada orang kecil Tom Thumb, seorang wanita berjenggot, manusia berbulu seperti anjing, orang dengan tubuh yang sangat tinggi, orang yang super gemuk, seorang yang ahli dalam berakrobat, seniman trapeze dan orang-orang 'aneh' lainnya. Setelah semua berkumpul, Barnum pun berhasil membuat sebuah pertunjukan sirkus yang memukau para penonton.

Barnum akhirnya berhasil membuat sirkus dan memenuhi mimpi yang pernah dijanjikan kepada istrinya semasa masih kecil. Ia mampu membelikan sebuah rumah megah untuk keluarganya dan salah satu putrinya yang ingin kursus balet juga terpenuhi. Namun dari semua itu muncul masalah-masalah dan intrik yang terjadi. Mulai dari protes oleh masyarakat, foto skandal yang mengancam keutuhan keluarganya, hingga tergoda bisnis lain yang membuatnya tidak fokus dalam menjalankan pertunjukkan sirkusnya. 

Walaupun film The Greatest Showman terinspirasi dari kisah hidup P.T. Barnum namun yang digambarkan dalam film tidak sepenuhnya benar-benar terjadi di masa lalu. Naskah yang ditulis membuatnya bisa berbentuk sebagai sebuah tontonan drama yang diharapkan bisa menarik penonton tanpa harus terikat penuh oleh sejarah yang bisa membuat filmnya terlalu datar atau melodramatis. 

Realitanya, P.T. Barnum tidak semanis seperti apa yang digambarkan dalam film. Modal yang digunakan untuk mendirikan museum saja didapatkan dari hasil menipu. Untuk menarik perhatian pengunjung museum, Barnum merekrut orang-orang berkebutuhan khusus dan menyebar berita bohong tentang itu, ia pun merekrut orang-orang untuk menyebarkan berita bohong yang berbeda-beda. Orang-orang yang berkebutuhan khusus benar-benar dimanfaatkan sekadar sebagai objek untuk mendatangkan keuntungan. Sangat bertolak belakang dengan kisah di film, ketika sosok Barnum digambarkan penuh cinta kasih dan peduli akan kesetaraan orang-orang berkebutuhan khusus tersebut.

Berdasarkan kisah biografi tersebut, tahapan pengembangan bisnis Barnum dapat dianalisis melalui teori-teori pemasaran, yakni implementasi proses pengembangan produk baru, product life cycle, serta Ansoff Matrix. Analisis ini bertujuan untuk mempelajari bagaimana implementasi pengembangan produk baru yang tepat serta mempelajari siklus kehidupan produk agar dapat bertahan pada suatu industri.

Implementasi Proses Pengembangan Produk Baru


Proses pengembangan produk baru terdiri dari 8 tahap: idea generation, idea screening, concept development and testing, marketing strategy development, business analysis, product development, test marketing, dan commercialization. Pada alur cerita The Greatest Showman, pengembangan Barnum & Bailey Circus dapat dianalisis melalui 8 tahap ini.

Pada tahap pertama terjadi proses Idea Generation. Dalam film terlihat bahwa Barnum menampakkan ketertarikan terhadap sirkus dan dunia pertunjukkan sejak kecil. Hal ini yang membuatnya bermimpi memiliki sebuah pertunjukkan sendiri. Selain itu, dorongan untuk memiliki pekerjaan karena terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja massal membuatnya terdesak untuk mencari sumber uang untuk keluarganya. Lagi-lagi, karena minat Barnum tersebut, Barnum dengan mudah mencetuskan ide untuk membuka gedung pertunjukkan dengan tajuk pertama Barnum’s Museum of Curiosities.

Dilanjutkan terjadinya Idea Screening. Penggunaan framework RWW diperlukan dalam pelaksanaan screening terhadap sebuah produk. Dalam film dapat terlihat bahwa Barnum sebenarnya tidak melakukan analisis terhadap apakah ide tersebut realistis atau tidak. Dengan minatnya, Barnum yakin bahwa semua orang akan dengan senang hati melihat pertunjukkan yang disuguhkannya. Sebagai wirausahawan dan pengembang bisnis, kita harus memiliki pertimbangan tersendiri, sehingga tindakan Barnum sesungguhnya merupakan tindakan yang tidak boleh dilakukan. Tetapi di lain sisi, kita bisa mencontoh keoptimisan dan idealisme Barnum untuk mewujudkan mimpinya.

Konsep-konsep yang telah dirumuskan lalu dicoba di tahap Concept development and testing. Barnum akhirnya berhasil mendirikan sebuah museum keanehan. Museum ini menaungi boneka-boneka aneh seperti boneka Napoleon Bonaparte dan boneka lilin gajah seberat 10 ton. Namun, terlihat bahwa pada awalnya museum ini tidak banyak diminati oleh pengunjung. Jumlah penjualan tiket yang rendah awalnya sempat membuat Barnum putus asa.

Dengan menggunakan data-data yang diperoleh di bagian testing, Barnum menjalani Marketing Strategy Development. Barnum menyebarkan selebaran berisi informasi mengenai museumnya. Namun, karena tidak berhasil maka Barnum berusaha mencari pertunjukkan yang baru. Dengan pikiran ini, akhirnya Barnum mencari-cari orang-orang yang memiliki keunikan bentuk fisik dan mengajaknya untuk bergabung dalam pertunjukannya. 

Lalu, pada tahap business analysis, pada awal dibentuknya Barnum's American Museum, Barnum tidak benar-benar memproyeksikan penjualan, kos, serta perkiraan profit. Barnum hanya bermodalkan pinjaman dari bank dan menggunakan modal tersebut tanpa memperhitungkan return yang dapat diperolehnya. Sehingga, penjualan awal tiket pada Barnum’s American Museum cenderung rendah. 

Barnum akhirnya melakukan tahapan selanjutnya, yakni product development. Barnum menawarkan suatu hal baru pada industri dengan menawarkan sesuatu yang ‘hidup’, bukan hanya sekedar museum benda mati. Barnum kemudian mencari orang-orang yang unik untuk tampil pada sirkus. Orang-orang ini dikumpulkan pada museumnya dan Barnum mulai melakukan test marketing. Penampilan perkumpulan orang-orang ini secara perdana berhasil menarik perhatian massa. 

Barnum pun kemudian mengambil langkah selanjutnya, yakni melakukan komersialisasi atas produk baru yang ditawarkan: Come Alive Circus. Sirkus ini pun mencapai tahap kesuksesan pada proses commercialization-nya hingga menjadi sangat populer pada masanya.

Perjalanan Karir P.T. Barnum

Product life cycle yang terjadi di P.T. Barnum memiliki tahapan-tahapan yang secara jelas digambarkan pada kurva diatas, akan tetapi setelah mengalami decline di tengah perjalanan sirkus, P.T. Barnum mengalami growth kembali dengan bantuan Phillip yang memberikan modal untuk memulai usahanya kembali, berikut penjelasannya secara lengkap.

  1. Product Development

Awal Barnum memikirkan untuk membentuk dan merancang sebuah pertunjukkan adalah untuk membuktikan kepada orang tua dari istrinya, Charity. Dari awal tersebut Barnum meminta pinjaman ke bank dengan menggunakan surat kepemilikan kapal yang sebenarnya kapal tersebut telah tenggelam, Barnum mendapat pinjaman sebesar $10.000 , dan dia gunakan untuk membeli sebuah museum tua di tengah kota. Sebelum merancang sebuah sirkus, Barnum menggunakan museum tersebut sebagai tempat kunjungan untuk melihat benda-benda kuno selayaknya terdapat dalam museum biasanya, namun hal itu tidak diminati oleh warga sekitar kota tersebut, pada hari pertama buka, Barnum hanya mampu menjual 3 tiket.

  1. Introduction

Setelah melakukan product development,Barnum memikirkan untuk melakukan re-development karena museum yang dibuatnya terasa gagal dan sepi peminat, dan Barnum memiliki sebuah ide untuk membuat sirkus yang berisi orang-orang unik yang akan tampil dalam sirkus tersebut.Orang-orang yang direkrut oleh Barnum diantaranya adalah Dog Boy, 340 kg man, Irish giant, Charles, wanita berjenggot, dan masih banyak lainnya.

Setelah merekrut orang-orang unik yang Barnum temukan, maka dia membuat pentas sirkus di dalam museum tersebut, dan dia amai P.T. Barnum Circus, di awal usahanya Barnum sukses mengenalkan sirkusnya kepada warga sekitar kota tersebut, warga sekitar merasa terkesan dengan apa yang disuguhkan oleh Barnum dalam pentas tersebut.

  1. Growth

Setelah melakukan introduction dengan sukses, sirkus yang diusung oleh Barnet mengalami kemajuan yang pesat, Barnum terus merekrut orang-orang berbakat lainnya, salah satunya Phillip, seorang anak dari bangsawan yang bekerja di suatu pentas berhasil direkrut oleh Barnum dengan syarat pembagian hasil sebesar 10%. Profit demi profit didapatkan oleh Barnum dengan bertumbuhnya P.T. Barnum Circus, penjualan tiket terus meningkat seiring berjalannya waktu.

  1. Maturity

P.T. Barnum Circus terus tumbuh dengan pesat, dan di fase maturity, Barnum diundang oleh pihak Istana Inggris pada saat itu untuk bertemu puteri, dan puteri memberikan penghargaan untuk rombongan yang dibawa oleh Barnum, di kesempatan itu, Barnum bertemu dengan Jenny Lind, seorang penyanyi tersohor di  Eropa. Barnum berkenalan dengan Lind, dan sekaligus mengajaknya untuk tampil bersama Barnum di pentasnya, secara mengejutkan Lind setuju untuk tampil di pentas Barnum. Pentas yang digelar Barnum untuk Lind berlangsung meriah dan sangat sukses. Barnum berlimpah harta, dia mampu membeli rumah dikawasan elit dekat dengan orang tua Charity. Semua yang dicita-citakan oleh Barnum dan keluarga pada tahap ini telah tercapai.

  1. Decline

Kesuksesan yang diraih Barnum membuat dia lupa akan tujuan awal dengan keluarga kecilnya, sehingga Barnum menghadapi beberapa masalah. Barnum yang sudah menggadaikan rumahnya untuk biaya konser Lind kandas, hubungan Barnum dan Lind rusak, karena Lind menganggap Barnum hanya memanfaatkan dirinya, dan pada kontes musik terakhir Barnum terkejut karena Lind mencium bibirnya di hadapan penonton konser. Pada saat Barnum pulang ke kota asalnya, tempat circus yang telah ia bangun dengan jerih payahnya terbakar karena ulah penjahat kota yang menyulut api di dalam gedung pentas Barnum, seluruh bangunan tersebut ludes terbakar oleh api. Setelah itu, istri Barnum memergoki Barnum berciuman dengan Lind dengan melihat foto di halaman depan koran, akhirnya Charity pulang ke rumah orang tuanya dengan rasa kecewa terhadap Barnum. Pada saat itu P.T. Barnum mengalami kebangkrutan dan berada pada fase decline.

  1. Back to Growth

Usaha yang diusung oleh Barnum mengalami pertumbuhan kembali berkat Phillip yang memberikan modal kepada Barnum untuk membangun pentasnya kembali. Dengan modal yang diberikan oleh Philip, Barnum membangun pentasnya kembali walaupun tidak dengan cara membeli gedung, melainkan menyewa lahan untuk mendirikan tenda yang didalamnya akan diadakan pentas circus yang dibawakan oleh Barnum dan Phillip.

Strategi yang Digunakan oleh P.T. Barnum

Ansoff Matrix ini berfungsi untuk menggambarkan alternatif strategi pengembangan perusahaan yang berfokus pada pasar dan produk baru atau pasar dan produk yang dimiliki saat ini.  Dalam Ansoff Matrix terdapat 4 cara pengembangan bisnis yaitu.

  1. Penetrasi pasar yaitu berusaha meningkatkan pangsa pasar dengan produk yang ada saat ini pada segmen pasar yang ada sekarang. Strategi ini paling tidak beresiko karena usaha peningkatan pangsa pasar menggunakan sumber daya dan teknologi yang sudah dimiliki tidak mengeluarkan banyak investasi baru untuk menambah sumber daya atau mengembangkan teknologi baru dalam melakukan penetrasi pasar.

  2. Pengembangan pasar yaitu menawarkan produk yang sudah ada pada segmen pasar yang baru. Strategi ini berusaha untuk memperluas pangsa pasarnya dengan menambah segmen pasar dan memperluas wilayah geografis pemasaran. Pengembangan pasar baru untuk suatu produk yang spesifik merupakan strategi yang tepat untuk sebuah perusahaan yang memiliki keunggulan kompetensi terhadap suatu produk tertentu.

  3. Pengembangan produk yaitu mengembangkan produk baru pada segmen pasar yang ada sekarang. Dalam strategi ini perusahaan berfokus pada menciptakan produk baru, yang ditujukan untuk pasar dalam mencapai pertumbuhan mereka.

  4. Diversifikasi yaitu pengembangan perusahaan melalui bisnis baru dengan cara mengembangkan produk baru pada segmen pasar yang baru. Strategi ini merupakan strategi yang paling berisiko karena perusahaan mencoba untuk membuat produk baru yang mungkin di luar kompetensinya untuk dijual pada pasar yang benar-benar baru pula. Namun demikian biasanya perusahaan mengambil strategi ini karena ada peluang untuk memperoleh keuntungan yang besar walaupun tentu dengan kompensasi risiko yang besar pula.

Dalam film The Greatest Showman, P.T. Barnum menerapkan strategi pengembangan produk. Telah diketahui sebelumnya bahwa Barnum telah mengikuti sirkus-sirkus sebelumnya tetapi memiliki pertunjukan yang biasa dan terkesan monoton. Lalu Barnum mencari orang-orang baru dengan ‘keunikan’ masing-masing yang belum pernah ada di sirkus bahkan tampil di depan umum sebelumnya.

Kesimpulan

Strategi pengembangan produk baru dapat diterapkan dalam film The Greatest Showman. Barnum melihat adanya peluang bahwa pertunjukan sirkus yang monoton membuat penonton bosan, sehingga ia mulai mencari orang-orang ‘unik’ yang ia percayai dapat membuat masyarakat penasaran dan tertarik membeli tiket sirkusnya. Hal ini sesuai dengan strategi pengembangan produk baru bahwa pasar yang dimaksud adalah masyarakat sudah mengenal sirkus sebelumnya, lalu produk baru yang dimaksud adalah sirkus ‘unik’ yang ia kembangkan. Begitu pula Product Life Cycle yang dapat terlihat jelas dari mulai awal Barnum merancang pertunjukan, melakukan re-development hingga hancurnya karir sirkus dan memulai kembali sirkusnya. Terdapat hal-hal yang dapat disimpulkan dalam pembahasan ini yaitu.

  1. Hal-hal yang dianggap remeh sebelumnya dapat menjadi suatu keunikan dan kemasan atau cara penyajian produk akan menentukan dimana produk itu mempunyai nilai jual.

  2. Melihat produk saingan. Dalam hal ini, sirkus-sirkus telah banyak ditemukan akan tetapi satu sirkus yang berbeda akan lebih menarik perhatian masyarakat. Menjadi berbeda atau membuat inovasi akan menarik keingintahuan yang besar pada masyarakat dan meningkatkan permintaan pasar.

  3. Melihat kemampuan pasar dan testing produk. Ketertarikan akan sebuah produk menjadi penting untuk kelangsungan produk, tetapi sebelumnya testing akan suatu produk terhadap pasar harus dilakukan agar mengetahui daya beli konsumen. Testing produk penting dilakukan dengan cara observasi terhadap produk-produk serupa dan melihat respon pasar, lalu menganalisis bagaimana pasar menanggapi jika terdapat hal baru yang dapat merubah kondisi pasar.

  4. Strategi pemasaran yang baik, akan berujung pada life cycle product yang berkepanjangan. Pemasaran yang dilakukan salah satunya harus dilakukan berdasar prinsip-prinsip etika karena kejujuran produk membuat pelanggan setia dan loyal terhadap produk tersebut.


Like it? Share with your friends!

3
3 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
2
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
1
Win
YohanesReza

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format