The Pad Man: Ketika Inovasi Muncul di antara Kaki Perempuan


14
14 points

Pad Man adalah film drama-komedi dari India yang disutradarai dan ditulis oleh R. Balki. Film ini terinspirasi dari kehidupan Arunachalam Muruganantham, seorang aktivis sosial dari Coimbatore, Tamil Nadu yang memperkenalkan pembalut wanita berbiaya rendah. Kisah ini didasarkan pada cerita pendek The Sanitary Man of Sacred Land dalam buku The Legend of Lakshmi Prasad.

Film ini bercerita tentang pasangan Lakshmikant Chauhan (Akshay Kumar) dan Gayatri (Radhika Apte). Lakhsmi merasa iba ketika melihat istrinya yang sedang diasingkan dan menggunakan kain kotor sebagai pengganti pembalut. Merasa khawatir, Lakshmi membelikan pembalut berharga mahal untuk Gayatri. Gayatri marah karena merasa pembalut itu terlalu mahal. Akhirnya, Lakhsmi memutuskan untuk membuat sendiri pembalut untuk istinya yang terdiri dari kapas, kain, dan lem. Produknya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini menyulut amarah Gayatri. Lakhsmi tidak menyerah dan melakukan beberapa kali percobaan pembuatan pembalut dengan biaya rendah. Kegagalan berulang dan label “cabul” yang diperoleh Lakhsmi membuatnya harus meninggalkan desa. Hal ini tidak meredamkan semangat Lakhsmi untuk mebuat pembalut yang murah.

Singkat cerita, Lakhsmi pergi ke perguruan tinggi untuk mengembangkan ide pembalut murahnya itu. Di sana dia bertemu dengan seorang profesor yang memperkenalkannya kepada internet. Dari ilmu yang diperoleh dari internet, Lakhsmi terus mengembangkan produknya itu. Di tengah proses, Lakhsmi bertemu dengan Pari Walia (Sonam Kapoor), yang akhirnya menjadi partnernya. Di tengah cerita, Pari mengundang Lakhsmi untuk menjadi peserta dalam pameran inovasi di IIT-Delhi. Penemuan Lakhsmi diakui sebagai ‘Inovasi yang Mengubah Hidup Tahun Ini’. Akhir cerita, Lakhsmi memeroleh ketenaran dan kekayaan dan rujuk kembali dengan Gayatri. Pari yang diam-diam jatuh cinta kepada Lakhsmi, memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Lakhsmi dan Gayatri.

Dari film berdurasi 2 jam ini, siapa sangka kita dapat mempelajari langkah-langkah pengembangan produk yang dilakukan oleh Lakshmikant dalam membuat pembalut murah. Apa saja langkah-langkah tersebut? Mari kita “contek” Product Development menurut Philip Kotler dan Armstrong yang terdiri dari delapan tahap :


1. Penciptaan ide

Pengembangan produk selalu dimulai dengan penciptaan sebuah ide (Idea Generation). Lakshmikant mendapatkan ide untuk menciptakan pembalut murah dari sumber internal. Ia memetik pikiran dari istrinya yang selalu menggunakan kain kotor setiap datang bulan. Kain yang digunakan sebagai pembalut sangat kotor karena setelah dicuci sebut harus dijemur dengan kondisi tertutup kain sari.

Selain itu, terdapat tradisi bagi perempuan sedang datang bulan harus tidur di luar rumah. Kedua hal ini sangat membebani pikiran Lakshmikant. Ia tidak ingin istrinya agar tidak jatuh sakit dengan terus-menerus menggunakan kain kotor tersebut

Ketika Lakshmikant berusaha membelikan pembalut di pasaran, istrinya sangat marah dan memintanya untuk mengembalikan pembalut tersebut karena dianggap memiliki harga yang mahal. Lakshmikant semakin bersemangat untuk membuat sesuatu yang dapat menggantikan pembalut.

2. Penyaringan Ide

Proses penyaringan ide diperoleh dengan melihat penggunakan pembalut pasaran yang dapat menyerap darah dengan baik. Hal ini dibuktikan dari penggunaan pembalut pasaran yang tidak sengaja ia gunakan sebagai penutup luka temannya yang mengalami kecelakaan kerja. Lakshmikant mulai menyaring ide untuk membuat pembalut sendiri untuk istrinya.

Penyaringan ide merupakan proses menemukan ide yang paling baik dan membuang ide buruk secepat mungkin. Lakshmikant menemukan ide dengan lihat model pembalut yang tersedia di pasaran. Setelah ia bedah pembalut pasaran tersebut, ia berasumsi bahwa komponen utama yang dibutuhkan untuk membuat sebuah pembalut yaitu kapas, kain dan lem. 

Ia pun berusaha mendapatkan ketiga bahan tersebut untuk membuat versi nyata dari konsep awal pembalut murah yang ia sudah pikirkan 

Dengan berbekal ilmu dan bahan seadanya, ia berhasil membentuk pembalut buatannya dengan meniru pembalut yang dijual pasaran.

3. Pengembangan dan pengujian konsep

Lakshmikant yang berhasil membuat konsep awal produk, dengan langsung membuat secara nyata pembalut tersebut, ia berikan kepada istrinya. Disini proses citra produk terjadi yaitu cara istrinya memandang pembalut yang ia buat. Artinya, istri Lakshmikant  sebagai konsumen yang menguji kelayakan konsep pembalut yang ia buat. Pengembangan konsep pembalut terjadi dua kali.

Konsep awal pembalut hanya terdiri dari kapas, kain dan lem. Produk dengan konsep ini tidak berfungsi dengan baik, sehingga istrinya pun kembali menggunakan kain. Lakshmikant membetuk konsep kedua dengan merubah konsep awal pembalut dengan menambahkan “sesuatu” agar menahan kebocoran pada pembalut yang ia buat. Ia pun memberi plastik pada satu sisi kain. Lagi-lagi, pembalut yang ia buat menyebabkan istrinya harus kembali menyuci kain sari karena tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Ia pun kembali menambahkan plastik pada sisi atas dan bawah kain, tetapi pembalut dengan penambahkan plastik pada kedua sisi ini istrinya tidak mau menggunakan pembalut yang ia buat. Padahal ia sangat membutuhkan umpan balik untuk mengetahui perkembangan konsep yang ia buat.Ia pun menawarkan kepada saudara-saudara perempuannya dan mahasiswa kedokteran sebagai bentuk pengujian tehadap konsep dengan mengharapkan umpan balik, tetapi strategi ini tidak juga membuahkan hasil. 

Tidak kehilangan akal, Lakshmikant menguji secara mandiri pembalut yang ia buat. Ternyata memang benar pembalut yang ia buat masih tidak berfungsi baik. Ia pun menanggung malu karena celananya yang ikut berlumuran darah akibat eksperimen yang ia buat.

4. Pengembangan produk

Setelah melakukan pengujian dengan konsep yang dibuat dan mengalami kegagalan berkali-kali, ia pun berusaha melakukan research and development secara mandiri untuk mencari solusi dari kebocoran pembalut yang ia buat. Dengan begitu, konsep produk yang ia buat dapat diwujudnya sebagai produk nyata yang dapat digunakan dengan baik.

Langkah 1: Lakshmikant mencari perbedaan kapas dan kain antara pembalut buatannya dengan pembalut yang dijual pasaran.

Lakshmikant yang mengunjungi cotton research centre mengetahui bahwa kapas yang ia gunakan adalah kapas biasa, sedangkan pada pembalut pasaran menggunakan cellulose fiber.

Cellulose fiber memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menyerap dan memiliki kelebihan untuk tetap kering ketika terkena cairan. Setelah memperoleh informasi cellulose fiber, Ia pun memesan sample dari perusahaan Amerika.

Langkah 2: Lakshmikant mencari informasi cara membuat pembalut yang benar.

Ketika Cellulose fiber sudah ditangan, permasalahan selanjutnya adalah bagaimana cara memproduksi pembalut yang benar. Walaupun dengan cemoohan dari dosen tersebut, ia mengetahui bagian-bagian yang dibutuhkan untuk membuat pembalut yaitu pulverisation, compression, interlusion dan sterilization yang ia bandingkan dengan perilaku sehari-hari istrinya saat di rumah.

Langkah 3: Lakshmikant menentukan lokasi produksi sebagai tempat mesin yang ia buat.

Bagian-bagian yang dibutuhkan untuk membuat pembalut sudah ia dapatkan. Ia pun mengubah mesin besar dan mahal mejadi mesin yang sederhana. Ia pun membeli sebuah gubuk kecil sebagai tempat awal membuat mesin sederhana yang akan ia buat. Proses pulverization ia sederhanakan menjadi blender berukuran sedang sebagai penggiling lembaran cellulose fiber.

Proses compression dibentuk seperti alat press dengan bolongan kecil dibagian bawah wadah, interlusiondibentuk menjadi gulungan kecil agar pinggiran pembalut halus dan nyaman digunakan, ia menguji kenyamanan ia dengan menyentuhkan pinggiran pembalut ke wajahnya, dan sterilization ia bentuk sebuah kotak penyinaran UV untuk mematikan kuman ataupun bakteri pada pembalut yang ia buat.

Langkah 4: Lakshmikant meminjam uang sebagai modal pembuatan mesin.

Lakshmikant merancang produk baru yang memiliki fungsi fitur yang dibutuhkan dan memiliki karakteristik yang diinginkan. Tahap ini membutuhkan biaya yang besar, Lakshmikant meminjam uang sebesar 90,000 Rupee untuk melakukan investasi barang-barang yang dibutuhkan untuk membentuk mesin pembuat pembalut.

Pengembangan produk tidak berhenti sampai disitu. Lakshmikant mencari konsumen  pertama untuk mengetahui apakah produk nyata baru miliknya sudah berfungsi baik atau belum. Dalam film, secara tidak sengaja Lakshmikant bertemu dengan penyanyi yang sedang membutuhkan pembalut tersebut. Dari penyayi yang ternyata lulusan MBA itu, ia mendapatkan feedback bahwa produknya sudah berfungsi dengan baik danlebih baik jika pembalut memiliki perekat di satu sisi.

5. Pengujian Pasar

Pembalut yang sudah berfungsi dengan baik, lantas membuat Lakshmikant melakukan pengujian pasar secara sederhana. Pengujian pasar yang dilakukan menggunakan pengujian pasar standar dimana Lakshmikant memberikan secara cuma-cuma kepada penduduk desa yang menyambutnya. Penyambutan ini di peroleh Lakshmikant karena berhasil mendapatkan penghargaan oleh Wakil Presiden. Penyambutan yang begitu meriah langsung berbanding terbalik ketika Lakshmikant memberikan produk inovasinya ke masyarakat desa. 

Penolakan yang ia terima karena menganggap produk yang ia buat termasuk produk yang memalukan. Lakshmikant sempat putus asa dengan penolakan yang diterima yang mengansumsikan pembalutnya tidak akan laku di pasaran.

6. Pengembangan Strategi Pemasaran

Penolakan oleh masyarakat membuat Lakshmikant memberi tahu kepada Pari,konsumen pertama seorang penyanyi yang memiliki title MBA, bahwa pembalutnya tidak akan laku dipasaran. Pari pun datang dan turut membantu memasarkan pembalut murah Lakshmikant. Dengan kata lain, di dunia nyata seorang pengusaha harus bekerja sama dengan orang lain yang memiliki ilmu lebih dalam dalam hal membentuk stategi pemasaran. Berikut perkembangan strategi pemasaran yang dilakukan Lakshmikant:

Kesalahan strategi pemasaran yang dilakukan Lakshmikant adalah pembalut yang seharusnya dipasarkan oleh seorang perempuan ia lakukan sendiri, akibatnya ia di cap sebagai laki-laki yang aneh.

Berhasil merekrut salah satu satu penduduk lokal yang dipekerjakan membantu dalam proses pemasaran secara door to door ke setiap rumah penduduk, perekrutan pekerja pabrik pembalut milik Lakshmikant semakin bertambah dan berkembang.

7. Komersialisasi

Pengenalan produk pembalut yang baik dan murah dengan strategi pemasaran yang tepat membuat pembalut buatan Lakshmikant diminati oleh masyarakat lokal. Perkenalan mesin ia lakukan bersama Pari dari rumah ke rumah dan desa ke desa. Selain memakmurkan perempuan desa di temat tersebut, Lakshmikant mampu mengubah kebiasaan perempuan menggunakan kain kotor setiap datang bulan. Tidak hanya itu, perempuan pun dapat beraktifitas bebas. 

Lakshmikant membuat hak cipta mesin yang ia buat. Mesin tersebut dapat dipesan oleh perempuan desa dengan cara mengangsur pinjaman ke bank.

Mesin yang ia buat juga dikirimkan ke berbagai belahan dunia yang memiliki masalah pada kemiskinan sehingga memberikan solusi sebagai mesin yang menyediakan pembalut murah dan higienis.

Jika produk milik Lakshmikant dianalisis menggunakan teori product life cycle...

Menurut (Kotler dan Armstrong, 2017), siklus hidup produk atau product life cycle adalah jalannya (naik-turun) untung dan rugi sebuah produk selama masa hidupnya (sebelum produk tersebut hilang dari pasar).

 Terdapat lima tahapan dalam siklus hidup sebuah produk Menurut Kotler:

1. Tahap product development yang merupakan Periode saat sebuah produk baru dikembangkan, dan biaya investasi awal mulai muncul.  

2. Tahap Perkenalan (introduction) adalah periode pertumbuhan penjualan yang lambat saat produk itu diperkenalkan ke public.

3 Tahap Pertumbuhan (growth) adalah periode penerimaan pasar yang cepat dan peningkatan laba yang besar.

4.Tahap Kedewasaan (maturity) adalah periode penurunan penjualan karena produk tersebut telah diterima oleh sebagian besar pembeli. Laba akan stabil atau menurun karena persaingan meningkat. 

5.Tahap Penurunan (decline) adalah periode saat penjualan menunjukan arah yang menurun dan laba yang menipis.

Sebelum masuk analisis siklus hidup produk pembalut dalam Film The Pad Man, kita perlu tahu asal muasal kisah film ini dibuat. Film ini diangkat dari perjuangan seorang pria bernama Arunachalam Muruganantham. Perjalanan bisnis pembalut Arunachalam Muruganantham bisa dikategorikan melewati Fase Product development, Introduction dan Growth. Penjelasan dibawah akan mendasari bagaimana pembagian perjalan bisnis secara nyata Arunachalam Muruganantham dari sudut pandang Marketing. 

Fase Product Development

Ketika Arunachalam Muruganantham atau biasa dipanggil Muruga melihat istrinya menggunakan kain yang sudah berumur untuk dijadikan sebagai pembalut. Prototipe pertama yang ia buat terbuat dari rol kapas yang di potong menjadi beberapa bagian dengan ukuran yang sama dengan yang dijual di toko, dan dibalut dengan lapisan kain tipis disekitarnya. Dia memberikan prototipe itu ke istrinya namun feedback yang didapat ialah bahwa prototipe tersebut tidak berguna dan istrinya lebih memilih untuk menggunakan kain lama lagi. Lalu ia mulai mencoba membuat prototipe dengan menggunakan bahan yang berbeda. Seperti yang diketahui, untuk mencoba penggunaan prototipe tersebut juga bergantung kepada siklus menstruasi istrinya. Oleh karena itu terdapat jarak antar waktu yang dibutuhkan untuk pengetesan prototipe tersebut. Muruga meminta bantuan dari volunteer di sekolah medis terdekat dan beberapa murid setuju untuk mencobanya namun mereka mau untuk memberi feedback yang benar dan sesuai dengan apa yang mereka rasakan. 

Muruga akhirnya mencoba menggunakan prototipe nya sendiri dengan mengakali nya menggunakan darah kambing. Dia membuat rahim imitasi dengan menggunakan kandung kemih buatan yang ia pasang dipinggangnya. Lalu ia memasang sebuah selang dari rahim buatanya ke pembalut yang ia gunakan. Dengan menekan kandung kemihnya ia mensimulasikan bagaimana terjadinya siklus menstruasi. Diceritakan bahwa ketika masa percobaan prototipe oleh Muruga, istrinya menanggung malu yang sangat besar karena dianggap bahwa Muruga mengurusi permasalahan wanita yang dimana seharusnya dia tidak ikut campur. Muruga dianggap seorang yang sakit parah ataupun seorang pervert. Istrinya meninggalkannya dan ikut dengan ibunya. 

Muruga tahu bahwa hanya sekitar 10 sampai 20 persen wanita di india memiliki akses kepada produk menstrual yang higienis. Ia sadar bahwa dia melakukan ini bukan hanya untuk istrinya. 

Diperlukan sekitar 2 tahun hingga Muruga bisa mendapatkan bahan yang tepat dan sekitar 4 tahun untuk dia mengerti cara pembuatannya. Hasil yang ia dapat adalah sebuah mesin yang mudah untuk digunakan dan dapat memproduksi pembalut secara murah. Untuk memudahkan proses pembuatan pembalut tersebut, Muruga membeli mesin dari luar negeri dengan banderol sekitar US$500,000. Namun mesin yang dijual oleh Muruga hanya berkisar di harga US$950. Muruga berhasil membuat sebuah perubahan di India dimana ia membantu semua wanita yang tidak memiliki akses terhadap pembalut yang higienis dan dengan mesin dari Muruga, mereka bisa membuat pembalut sendiri di harga yang sangat murah. 

Fase Introduction

Membutuhkan waktu sekitar 18 bulan bagi muruga untuk membuat 250 mesin yang ia bagiikan ke daerah termiskin dan tertinggal di India bagian utara yaitu Bihar, Madhya Pradesh, Rajasthan dan Uttar Pradesh. Sekarang produk dari Muruga sudah dijual ke pasaran. Para wanita bisa membeli mesin dan memproduksi pembalut mereka sendiri dan menjual surplus dari produk yang dihasilkan. Muruga membuka sangat banyak lapangan pekerjaan

(Produk yang dihasilkan menggunakan mesin buatan Muruga)
(mesin buatan muruga mampu membuka lapangan kerja bagi wanita)
Mayoritas pembeli mesin Muruga ialah NGO dan juga kelompok wanita yang ingin membantu wanita lain. Mesin Manual berharga disekitar 75,000 rupee ($723). Setiap mesin dapat memproduksi produk yang bisa digunakan oleh 3000 wanita dan dapat mempekerjakan 10 wanita. Mereka bisa memproduksisekitar 200-250 pembalu tper hari yang dijual di harga 2.5 rupee ($0.025). para wanita memilih sendiri nama brand nya untuk produk pembalut tersebut sehingga tidak ada brand yang menguasai pasar. Motto mereka ialah, “by the women, for the women, and to the women”. 

(pengenalan produk pembalut kepada wanita yang tinggal di daerah pelosok India)

Fase Maturity

Pemerintah buat program sebar pembalut ke daerah miskin, tapi tidak kerja sama dengan Muruga. Tujuan dari Muruga ialah untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi 1 juta wanita di India, namun kenapa tidak membuka 10 juta lapangan pekerjaan di seluruh dunia. Sekarang ia sudah menjual 1,300 mesin ke 27 provinsi di India dan mulai mengeskpor ke berbagai negara berkembang di seluruh dunia. 

Dikabarkan bahwa Muruga sudah memperluas bisnis di 106 negara di seluruh dunia termasuk Kenya, Nigeria, Mauritus, Filipina dan Bangladesh. Dengan perluasan bisnis ini, Muruga dapat membantu masyarakat di luar sana dalam mendapatkan akses terhadap pembalut higienis yang murah dan juga membuka lapangan pekerjaan bagi orang banyak. 

Dari analisis yang telah dilakukan, Lakshmikant telah melalui tujuh tahap utama di dalam pengembangan produk baru; penciptaan ide, penyaringan ide, pengembangan dan pengujian konsep, pengembangan produk, pengujian pasar, pengembangan strategi pemasaran, dan komersialisasi. Akan tetapi, dari langkah-langkah tersebut Lakshmikant meninggalkan satu langkah yaitu analisis bisnis. Analisis bisnis dilakukan untuk melihat lebih lanjut pengaruh yang saling berkaitan terhadap penjualan, biaya, dan estimasi laba dari produk dan memastikan tercapainya tujuan perusahaan. Analisis bisnis sangat dibutuhkan untuk menganalisis faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi berjalannya suatu perusahaan. Jika perusahaan tidak melakukan analisis bisnis maka perusahaan tidak bisa mengetahui kelebihan dan kelemahan yang berpotensi untuk memaksimalkan strategi pemasaran di pasar. Selain itu perusahaan tidak bisa membedakan antara peluang/kesempatan untuk mengembangkan produk lebih luas dan ancaman yang timbul dari perusahaan pesaing atau dari kondisi internal perusahaan yang menjadi kelemahan.

Perusahaan Lakshmikant dapat melakukan analisis bisnis dengan cara mengidentifikasi kemampuan perusahaan yang mampu memproduksi produk pembalutnya dengan kos/biaya yang murah. Selanjutnya perusahaan Lakshmikant memiliki pelanggan yang sangat potensial di desanya yang belum tersentuh oleh perusahaan pesaing dan memiliki minat/ketertarikan yang besar terhadap produk pembalutnya yang murah dan higienis. Selain itu perusahaan Lakshmikant yang menggunakan alat ciptaannya sendiri untuk memproduksi produk pembalutnya dapat memanfaatkan dengan menjual/mengekspor alat tersebut ke berbagai negara untuk menambah pemasukan/income perusahaan.

Kesimpulan yang dapat kita ambil...

1. Untuk menciptakan dan mengembangkan suatu produk baru memerlukan beberapa proses yang panjang dan bertahap. Jika kita menggunakan teori tahapan utama pengembangan produk baru milik Philip Kotler dan Armstrong, ada delapan tahapan yang dapat diikuti yakni; penciptaan ide, penyaringan ide, pengembangan dan pengujian konsep, pengembangan produk, pengujian pasar, pengembangan strategi pemasaran, analisis bisnis, pengembangan produk, pengujian pasar, dan komersialisasi. Di dalam film The Pad Man, Lakhsmikant hanya menggunakan tujuh tahapan dari delapan tahapan milik Armstrong. Meski kehilangan satu tahapan, Lakhsmikant tetap dapat menjadi sukses dengan produk dan inovasi yang dilakukannya. Tahapan yang hilang tersebut adalah Analisis Usaha (Business Analysis). Selain itu, tahapan yang dilakukan oleh Lakshmikant ada yang tertukar, yakni pengembangan strategi pemasaran dilakukan sebelum komersialisasi. Di dalam film, Lakshmikant menyadari kesalahan yang dilakukannya dalam memasarkan produknya, oleh karena itu ketika Pari memberikan masukan terhadap pengembangan strategi pemasaran maka berdampak kepada peningkatan penjualan/komersialisasi.

2. Strategi pemasaran perlu diperhatikan matang. Stategi pemasaran ada tiga bagian : menggambarkan pasar sasaran, positioning produk, dan tujuan penjualan, pangsa pasar, serta laba untuk beberapa tahun pertama. Dalam kasus ini Pad Man (Laskhmikant)  telah melakukan penggambaran awal pasar yang akan disasar. Ia dapat langsung menawarkan kepada perempuan yang ia temui, tetapi ia tidak merencanakan harga produk, cara medistribusikan produk dan menyusun anggaran pemasaran yang berakibat pada penolakan oleh masyarakat. Laskhmikant beruntung memiliki kenalan Pari yang membantu dia dalam menjalankan kompenen startegi pemasarn tersebut. Pengusaha perlu memperhatikan hal ini untuk menjyiapkan rencana jangka panjang dan tujuan yang akan datang perusahaan tersebut.

3. Meskipun banyak mengalami kegagalan, penolakan, bahkan cemoohan, produk yang diluncurkan oleh Lakshmikant berhasil menjadi inovasi sukses dan memiliki permintaan yang tinggi di pasaran. Hal inilah yang menjelaskan mengapa di dalam product life cycle tidak mengalami proses declining. Hal ini wajar karena produk yang diluncurkan sedang mengalami masa keemasan dimana produk tersebut sangat diminati oleh masyarakat karena harganya yang murah, praktis, dan higienis. Meski demikian, Lakshmikant perlu untuk terus melakukan inovasi dan inovasi untuk membuat produknya bisa semakin laris di pasaran dan menyesuaikan permintaan pasar. Inovasi yang dimaksud dapat berupa differensiasi produk dengan melahirkan produk yang berbeda sesuai dengan pangsa pasar yang berbeda.

Sumber

Kotler, P. and Armstrong, G. (2018), Principles of Marketing, 17th ed. Harlow, UK: Pearson Education Ltd.

(1) Glison, Dirk, “India Menstruation Man”, https://interactive.aljazeera.com/aje/shorts/india-menstruation-man/

(2) Dhillon, Amrit, “Rural Indian Inventor whose Machine Make Sanitary Pad”,  https://www.scmp.com/lifestyle/health-beauty/article/2133458/rural-indian-inventor-whose-machine-make-sanitary-pads

(3) Venema, Vibeke, “The Indian Sanitary Pad Revolutionary“, https://www.bbc.com/news/magazine-26260978

(4) George, Rose, “The Other Side to India Sanitary Pad Revolution“, https://www.theguardian.com/commentisfree/2016/may/30/idia-sanitary-pad-revolution-menstrual-man-periods-waste-problem

(5) “Real Life Story of the Inovator who inspired the Bollywood Film Pad Man“, https://yourstory.com/2017/12/padman-bollywood-real-story


Author

Amalia Wikandari

Rahmat Hidayat

Indra Bagus

Fahrian Ghiffari

Hario Wicaksono


Like it? Share with your friends!

14
14 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
7
Genius
Love Love
7
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
10
Win
OVERACHIEVERS

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format