Foodpanda Indonesia dan Kegagalannya Dalam Peneterasi Pasar Indonesia

Pengalaman bisnis di berbagai negara besar di dunia tidak menjadi jaminan kesuksesan di industri digital yang berubah dengan sangat cepat.


2
2 points

Foto: Foodpanda.sg

Foodpanda Indonesia menutup platform layanan pengantaran makanan on-demand mereka seperti yang diberitakan oleh thejakartapost.com pada tanggal 3 Oktober 2016 Foodpanda Indonesia resmi mengumumkan penutupan layanan pengantaran makanan mereka[1]. Foodpanda Indonesia gagal untuk meluncurkan layanan pengantaran makanan mereka meskipun sudah 4 tahun beroperasi di Indonesia. Padahal Foodpanda adalah platform multinasional yang berpusat di Jerman dan pada website-nya mengatakan bahwa mereka telah sukses beroperasi di 15 negara termasuk di Kawasan Asia Tenggara[2].

Ada beberapa masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh Foodpanda Indonesia. Dikumpulkan dari Tirto.id sumber masalah-masalah tersebut adalah:

  1. Foodpanda tidak menyesuaikan bisnisnya dengan kondisi lokal[3]
  2. Foodpanda tidak memiliki ekspektasi perkembangan kompetisi di bisnisnya[4]
  3. Foodpanda tidak berhasil untuk mendapatkan market share yang signifikan di Indonesia[5]

Peristiwa tutupnya Foodpanda Indonesia jadi perbincangan yang menarik karena sebuah perusahaan yang bisa berkembang pesat di beberapa negara besar namun gagal saat meluncurkan produknya di negara berkembang seperti Indonesia. Untuk mengetahui mengapa Foodpanda mengalami penutupan pada artikel ini akan dibahas analisa SWOT dan Porter’s 5 Forces untuk mendeskripsikan kondisi Foodpanda Indonesia sebelum penutupan.

Analisa SWOT

Strengths

Weaknesses

Layanan Foodpanda dapat diakses melalui situs mereka dan juga melalui aplikasi smartphone.[6]

Foodpanda memiliki pengalaman beroperasi di beberapa negara di Eropa dan Asia.[7]

Foodpanda memiliki modal usaha yang cukup besar mengingat induk perusahaan mereka beroperasi di berbagai negara. [8]

Foodpanda Indonesia menggunakan Global Strategy dimana mereka tidak menyesuaikan strategi mereka untuk kondisi lokal di Indonesia

Kurangnya promosi untuk memenetrasi pangsa pasar di Indonesia

Hanya beroperasi di Jakarta dan tidak di kota besar lainnya.

Opportunities

Threats

Nilai pasar ekonomi internet di Asia Tenggara yang sebesar $200 Miliar[9]

Meningkatnya penggunaan perangkat mobile dan transaksi non-cash di Indonesia[10]

Kondisi industri yang sangat kompetitif terutama dari kompetitor lokal yang lebih mengetahui kondisi pasar di Indonesia

PORTER’s 5 FORCES

Level of rivalry in an industry

Ada beberapa pesaing Foodpanda di Indonesia seperti Go-Jek dan Grab. Kompetitor Foodpanda meskipun baru masuk ke industri food delivery memiliki market share yang sangat besar di industri transportasi online. Kompetitor seperti Go-Jek dan Grab juga memiliki pengalaman beroperasi di Indonesia dan strategi mereka lebih berfokus pada kondisi pasar di Indonesia. Go-Jek yang merupakan perusahaan dari Indonesia sangat memahami kondisi ekonomi di Indonesia dan dapat menyesuaikan layanan mereka dengan apa yang diminta oleh konsumen di Indonesia.

Sebenarnya kompetisi di Industri on-demand food delivery tidak memiliki banyak pemain namun Foodpanda tidak memperhitungkan kualitas dari kompetitor yang justru memiliki competitiveadvantage yang lebih banyak dari Foodpanda. Kekalahan Foodpanda dalam merebut pangsa pasar dari kompetitor adalah penyebab utama penutupan Foodpanda Indonesia.

Sebagai contoh Foodpanda memberikan batas minimal pembelian sebesar Rp 50,000 sementara Go-Jek dan Grab tidak memberikan batas minimal[11]. Batas minimal Foodpanda bisa dibilang terlalu tinggi karena di Jakarta sekalipun membeli makanan di bawah Rp 50,000 bukanlah hal yang mustahil. Untuk mencapai batas minimal dibutuhkan 2 orang untuk memesan makanan sementara masih banyak pengguna individu di industri on-demand food delivery yang hanya membeli makanan di bawah Rp 50,000. 

Potensial for new entrants 

Industri berbasis teknologi seperti Foodpanda memiliki potensi new entrants yang sangat kecil. Banyak hambatan untuk masuk ke industri ini seperti modal kapital awal yang sangat besar. Bukan hanya modal kapital, untuk memasuki industri ini diperlukan modal pengetahuan yang tinggi. Untuk mengelola sebuah layanan berbasis teknologi memerlukan sumber daya manusia yang sangat terlatih dan tentunya tidaklah mudah dan tentunya tidak murah untuk mencari karyawan dengan kemampuan yang terspesialisasi. 

Power of large suppliers 

Dari model bisnisFoodpanda pada bagian Porter’s five forces ini mungkin lebih cocok jika peran suppliers diganti dengan peran mitra, baik itu mitra restoran atau mitra pengantar. Foodpanda dikatakan memiliki mitra restoran dan mitra pengantar yang cukup besar. Berhubungan dengan kondisi kompetisi, hal yang menjadi masalah bagi Foodpanda adalah mitra pengantar. Dengan adanya kompetitor seperti Go-jek dan Grab membuat mitra pengantar memiliki kekuatan yang cukup besar terhadap Foodpanda. Dengan kompetisi mitra pengantar dapat beralih menjadi mitra Go-jek atau Grab yang memiliki basis pengguna yang lebih besar dari Foodpanda.

Threat of substitute products 

Produk substitusi Foodpanda adalah sistem pengantaran internal restoran. Pada praktiknya model pengantaran internal di Indonesia tidaklah bagus. Hanya franchise fast-food multi nasional yang memiliki sistem pengantaran internal. Contohnya adalah McDonald, Pizza Hut, dan KFC. Namun kondisinya sekarang konsumen lebih memilih untuk menggunakan layanan pengantaran pihak ketiga seperti Go-jek atau Grab karena biasanya pengantaran internal fastfood sangat buruk untuk masalah ketersediaan dan masalah jangkauan pengiriman

Power of large customers 

Dengan market size yang sangat besar dan kemudahan akses informasi konsumen memiliki kekuatan yang sangat besar. Sebuah contoh di Malaysia ada gerakan untuk memboikot Foodpanda Malaysia yang bermula dari polemik skema upah mitra dan sebuah komentar dari seorang eksekutif Foodpanda yang menurut konsumen Malaysia sangat arogan dan merendahkan mitra Foodpanda[12]. Kejadian ini membuktikan bahwa di kondisi modern konsumen memiliki kekuatan yang sangat besar karena merekalah yang menentukan perusahaan mana yang akan hidup dan mana yang akan mati.

Corporate Strategy Foodpanda

Jika Foodpanda ingin melakukan pivot dalam bisnisnya. Ada beberapa saran yang dapat dilakukan Foodpanda dalam level strategi korporasi pertama adalah diversifikasi dan kedua adalah mengubah orientasi Global Strategi menjadi starategi multi-domestic.

Diversifikasi

Para Kompetitor seperti Go-Jek dan Grab bermula pada industritransportasi online. Mereka baru masuk ke industri pengantaran makanan setelah mereka memiliki banyak pengguna di aplikasi transportasi online mereka. Foodpanda sebenarnya juga dapat masuk ke industri transportasi seperti Gojek atau Grab. Strategi ini dapat digunakan untuk menarik lebih banyak pengguna di aplikasi mereka.

Multi-Domestic Startegy

Menggunakan global strategi di industri yang berhubungan dengan makanan adalah blunder terbesar Foodpanda. Makanan pada dasarnya adalah bagian dari budaya suatu negara. Karena bagian suatu dari budaya industri makanan setiap negara tentunya memiliki karakter yang unik di setiap negara. Dengan menyesuaikan strateginya ke kondisi pasar di Indonesia Foodpanda mungkin dapat bertahan seperti Grab yang merupakan perusahaan asal Malaysia. Tidak seperti Foodpanda, Grab dapat menyesuaikan diri ke kondisi pasar di Indonesia.

GOFOOD by GoJek layanan on-demand food-delivery yang mendominasi pasar Indonesia

Di Indonesia sendiri, Foodpanda menghadapi persaingan yang sangat kompetitif dari Gojek dengan fitur GoFood dan menyusul Grab dengan GrabFood. Mulai beroperasi di Indonesia di tahun 2012, Foodpanda harus berbesar hati menutup dan menarik diri dari Indonesia di tahun 2016.[13] Tidak sampai 5 tahun Foodpanda ada di Indonesia. Apa yang salah? Padahal, Asia Tenggara adalah pasar internet terbesar ke-4 di dunia. Pada tahun 2025, nilai pasar Asia Tenggara diperkirakan akan berkembang sekitar 16 kali lipat dengan kisaran 88 miliar dollar dimana 52 persen dari pasar e-commerce tersebut adalah Indonesia dengan nilai pasar sebesar 46 miliar dollar.[14] Apalagi, Foodpanda bukanlah start-up kecil. Foodpanda disokong oleh Rocket Internet, sebuah perusahaan internet besar asal Jerman, yang sudah sukses menghadirkan Foodpanda di 500 kota di seluruh dunia.[15]

Berdasarkan wawancara yang dilansir dari Techcrunch di tahun 2016, Foodpanda mengakui bahwa meskipun Indonesia adalah pasar yang besar, kondisi pasar lokal yang sangat kompetitif sangat menyulitkan Foodpanda untuk masuk ke dalamnya.[16] Sumber dari Foodpanda juga menyebutkan bahwa kondisi lalu lintas Jakarta dan perbedaan infrastruktur juga menambah tantangan untuk Foodpanda dapat berkembang stabil di Indonesia. Disaat yang bersamaan, perkembangan bisnis Gojek setara dengan 550 juta dollar disokong oleh GoFood sebagai kontributor keuntungan terbesar. Dengan sekitar 200.000 mitra pengemudi aktif yang terus bertambah, Gojek terus meraup keuntungan yang semakin berkembang setiap waktunya.[17]

GoFood oleh Gojek adalah contoh sukses bagaimana bisnis ini dapat berkembang pesat sesuai dengan strategi adaptasi perusahaan karena tiga dua utama. Pertama, tidak ada nilai order minimum untuk menggunakan fitur GoFood oleh Gojek. Foodpanda memiliki nilai order minimum sebesar 50.000 rupiah. Jika nominal pemesanan kurang dari nilai order minimum, maka untuk melanjutkan pemesanan, nominal akan secara otomatis dinaikkan sampai batas minimum.[18] Kedua, dilansir dari Tirto.id, salah satu keunggulan GoFood oleh Gojek adalah kemampuan perusahaan untuk menggabungkan konten makanan (menu dan pilihan), keterlibatan (konsumen, mitra pengemudi, dan pihak Gojek), pemesanan dan transaksi pembayaran ke dalam satu platform.[19] Misalnya, konsumen dapat membayar menggunakan GoPay untuk menyelesaikan transaksi pembayaran GoFood. Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh The Jakarta Post, Catherine Hindra Sutjahyo selaku Chief Commercial Expansion memberikan informasi bahwa GoFood mengalami perkembangan yang sangat pesat di tahun 2018. Perkembangan tersebut sangat dipengaruhi oleh pola kolaborasi antara pelanggan, merchants, dan  mitra pengemudi.[20]

Kesuksesan GoFood tidak hanya karena strategi yang tepat telah dilakukan oleh perusahaan. Kepuasan pelanggan juga berpengaruh besar pada stabilnya perkembangan GoFood itu sendiri. Hampir 50 persen pelanggan baru adalah pelanggan yang direkomendasi oleh pelanggan lama yang puas akan pelayanan bisnis ini. Maka dari itu level kepuasan sangat besar kontribusinya kepada perkembangan bisnis di samping jumlah transaksi itu sendiri.[21] Salah satu isu penting yang Foodpanda dapat pelajari dari GoFood oleh Gojek, sebuah karya anak bangsa. 

Ferdiansyah

Joseph Suryo Baskoro

Kapitania Widya Imaniar

Khalifah Nurjannah

Mutiara Cahyaningrum

Sucha Dina Amalia

Umar Abdul Aziz

[1]D. Koswaraputra, Indonesia’s Foodpanda Closes Down After Being Defeated by Newcomers, 3 Oktober 2016, The Jakarta Post, viewed on 24 October 2019, <https://www.thejakartapost.com/news/2016/10/03/indonesias-Foodpanda-closes-down-after-being-defeated-by-newcomers.html>.

[2]Foodora Corporate Website, viewed on 24 October 2019, <https://www.foodora.com/about/>

[3]L. Bhaskara, Belajar dari Kegagalan Foodpanda di Indonesia, 24 Agustus 2016, Tirto.id, viewed on 24 October 2019, <https://tirto.id/belajar-dari-kegagalan-Foodpanda-di-indonesia-bDwh>.

[4]Ibid

[5]Ibid

[6]H. Bhasin, SWOT Analysis of Foodpanda, 3 September 2019, Marketing91, viewed on 24 October 2019, <https://www.marketing91.com/swot-analysis-of-Foodpanda/>

[7]Ibid

[8]Ibid

[9]Ibid

[10]Ibid

[11]Ibid.

[12]T. F. Arbar, “Menpora Tampan Malaysia Marah-marah di Twitter, Ada Apa?”, 8 October 2019, CNBC Indonesia, viewed on 24 October 2019, <https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20191008184947-33-105375/menpora-tampan-malaysia-marah-marah-di-twitter-ada-apa>

[13]Ibid.

[14]Ibid.

[15]Ibid. 

[16]J. Russell, Foodpanda is selling its Indonesia business and rethinking the rest of Southeast Asia, 19 Agustus 2019, Techcrunch, viewed on 24 October 2019, .

[17]Ibid.

[18]Ibid.

[19]Ibid. 

[20]R. Mufti, Go-Jek Sees Boom in Food Delivery Business, 8 January 2019, viewed on 24 October 2019, <https://www.thejakartapost.com/news/2019/01/08/go-jek-sees-boom-in-food-delivery-business.html>.

[21]A. Nonton, All About the Numbers, February 2018, GlobeAsia, viewed on 24 October 2019, <https://www.globeasia.com/technology/all-about-the-numbers/>.


Like it? Share with your friends!

2
2 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
2
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
1
OMG
Win Win
1
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format