Kisah Legenda: Indoeskrim Nusantara

Iklan "Kisah Legenda:Indoeskrim Nusantara" yang merajalela gagal merajai pasar Indonesia.


0

Sejarah Singkat Es Krim

Es krim menjadi salah satu makanan yang paling favorit bagi masyarakat Indonesia. Rasanya yang manis, lembut, dan menyegarkan sangat cocok menjadi hidangan penyegar tubuh setelah seharian beraktivitas. Terlebih Indonesia yang memiliki iklim tropis, membuat es krim banyak dicari untuk menghilangkan rasa panas dan dahaga.

Pertama kali es krim di perkenalkan di China pada tahun 3000 SM. Dan mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas pada abad ke-17 oleh Marco Polo di Italia. Dahulu sebelum adanya kulkas sebagai media pendingin, masyarakat membuat es krim dengan meletakkan krim susu manis ke dalam panci yang telah didinginkan. Lambat laun penyebaran es krim pun semakin meluas. Yang dulunya hanya dikenal oleh masyarakat Eropa, namun kini es krim sudah dapat dinikmati di seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia.

Pasar Es Krim di Indonesia

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini, pasar es krim di Indonesia semakin bergejolak. Pada awalnya pasar es krim di Indonesia hanya dikuasai oleh Wall’s, Campina, Indoeskrim, dan Diamond. Namun kini banyak pemain industry es krim yang mulai menjamah pasar Indonesia dalam pemasaran produknya. Sebut saja seperti Aice, Joyday, Glico, dan Nestle.  Salah satu hal yang membuat mereka tertarik untuk masuk ke pasar Indonesia adalah karena faktor demografis yang menunjukkan fakta bahwa setengah penduduk Indonesia saat ini memiliki usia dibawah 40 tahun. Usia tersebut merupakan usia kebanyakan orang menyukai es krim.

Masuknya pemain baru ke dalam industry es krim di Indonesia tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para lakon lama industry tersebut. Terlebih para pemain baru mempunyai varian rasa es krim yang lebih bervariasi dan kekinian dari pada yang dimiliki oleh para pemain lama. 

Sumber : fimela.com

Contohnya seperti Indoeskrim, es krim keluaran Indofood in sudah mulai ditinggalkan oleh para pecinta makanan dingin nan lembut ini. Padahal dilihat dari segi harga yang ditawarkan, Indoeskrim menawarkan produknya dengan harga yang murah disbanding dengan pesaingnya seperti Wall’s. Banyak juga promo-promo yang ditawarkan oleh produk ini untuk semakin manarik minat konsumen untuk membelinya, namun tetap saja peminatnya terus berkurang.

Sumber  Pinteret.com

Berbeda halnya dengan salah satu pesaing Indoeskrim yakni Wall’s.  Merek Es Krim ini memang sudah merajai pasar es krim di Indonesia sejak bertahun-tahun yang lalu. Produk nya pun memiliki banyak variasi. Bahkan Wall’s juga mengeluarkan produk es krim ekslusifnya yang sempat booming sekitar tujuh tahun yang lalu. Wall’s mengeluarkan seri Magnum sebagai produk es krim yang ekslusif. Magnum memiliki harga yang relative lebih mahal dibanding dengan es krim sejenisnya. Dengan klaim menggunakan bahan-bahan terbaik dan ekslusif membuat harga satu es krim Wall’s Magnum menjadi mahal. Karena harganya yang mahal itulah, menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen untuk mencobanya. Dan nyatanya hingga saat ini Wall’s Magnum dapat bertahan meskipun dengan harga yang tergolong mahal.

Apakah budaya barat sudah mengakar kuat dalam diri anak muda? Belum Tentu.

Target pasar Indoeskrim ditujukan kepada seluruh kalangan masyarakat. Harganya sengaja dipatok terjangkau untuk dapat meraup target dari demografi dan kelas sosial manapun. Pendekatan iklan yang sangat familiar dan merupakan tontonan sehari-hari masyarakat menjadi jurus andalan Indoeskrim. Sinetron laga lawas yang sering dijumpai di layar kaca menjadi inspirasi marketing Indoeskrim. Konsep berciri khas Indonesia ini sengaja mencampurkan plot-twist antara cerita gaya rakyat yang disangkut-pautkan dengan kehidupan masa kini. Alhasil iklan Indoeskrim kerap menjadi buah bibir seru di kalangan anak-anak muda untuk bahan guyon yang memberikan dampak positif ke perusahaan. Saking menariknya iklan ini, marketing Indoeskrim dinilai sukses besar memperkenalkan produk es krim yang masih asing di telinga masyarakat. Namun, tetap saja, iklannya yang viral belum mampu mendongkrak penjualan es krim yang sepadan. Malahan kini, Indoeskrim sudah jarang terdengar namanya.

Naiknya popularitas Indoeskrim tidak diimbangi dengan persebaran produk yang merata. Apabila diperhatikan, Indoeskrim sulit ditemukan di gerai-gerai atau pertokoan. Berbeda dengan merk es krim lain, produk es krim dari perusahaan besar ini telah menjamah hingga daerah terpencil, apalagi minimarket yang ada di setiap sudut wilayah. Indoeskrim terinspirasi dari minuman dingin tradisional khas Indonesia, seperti es doger, es campur, dll. Perusahaan asli Indonesia ini berusaha mengimplementasikannya ke dalam bentuk yang lebih modern. Sayangnya, masyarakat masih melirik merk lain jika sedang ingin makan es krim. Analogi sederhananya adalah masyarakat masih memilih untuk membeli es campur yang “asli” daripada membeli es krim rasa es campur saat sedang ingin makan es campur. Sementara itu, ketika sedang ingin makan es krim, hati masyarakat diberikan kepada produk Walls yang memiliki varian rasa lebih banyak dengan konsep yang lebih modern.

Magnum walls memang memiliki kesan eksklusif. Produk ini dibawahi oleh perusahaan multinasional besar yang memiliki banyak sekali segmentasi produk. Perusahaan ini merupakan salah satu incumbent di dunia bisnis yang sangat paham dengan apa yang mereka kerjakan. Terbukti, semua lini produknya dapat dikatakan berhasil dipresentasikan ke masyarakat. Untuk memenangkan hati masyarakat Indonesia seperti sekarang ini dibutuhkan proses yang sangat panjang melalui bagian riset dan pengembangan. Bahkan, Unilever memiliki anak perusahaan khusus untuk melakukan riset pasar dan strategi pemasaran, Unilever Enterprises Indonesia. Anak perusahaan ini fokus untuk mencari cara mengalirkan produk-produk baru ke masyarakat agar sesuai dengan keinginan dan permintaan. Harga Magnum memang terbilang cukup mahal. Dari sini, tentu bisa ditebak target pasarnya memang ditujukan kepada masyarakat menengah ke atas. Namun, inilah yang menjadi keunggulan produk ini. Magnum hanya terfokus pada satu sasaran pasar saja sehingga segala usaha dan persiapan dapat dikerahkan untuk menggarap produk ini secara serius, mulai dari kualitas, strategi marketing, penjualan, hingga kepuasan konsumen menjadi komponen penting yang digarisbawahi.

Adanya dua fenomena tersebut, membuat kami ingin mengulik lebih dalam, bagaimana hal tersebut dapat terjadi dari segi kacamata pemasaran. Untuk mengetahui lebih lanjut, mari bersama-sama kita simak penjelasan di bawah ini :

Metode Penentuan Harga 

Sumber : Blueboard.io

 Value Based Pricing dan Cost Based Pricing merupakan metode untuk menentukan harga suatu produk. Value Based Pricing menentukan harga produk sesuai dengan nilai yang diperkirakan dari suatu produk tersebut. Sedangkan Cost Based Pricing adalah metode penentuan harga suatu produk yang didasarkan pada besarnya biaya produksi suatu produk  ditambah dengan mark-up keuntungan yang diinginkan oleh produsen. 

Dari kedua produk Indoeskrim dan Wall’s Magnum dapat dilihat keduanya menggunakan metode penentuan harga yang berbeda. Indoeskrim menawarkan produknya dengan harga yang murah sesuai dengan nilai produk yang diperkirakan. Hal itu berarti dapat diketahui bahwasannya Indoeskrim menggunakan Value Based Pricing  untuk menentukan harga produknya. Berbeda halnya dengan Wall’s Magnum es krim ini dijual dengan harga yang lebih tinggi dari standar harga es krim pada umumnya. Perusahaan Wall’s cenderung mengambil mark up yang tinggi dalam menentukan harga es krim Magnum ini. Sehingga dapat disimpulkan bahwa  Wall’s Magnum ini menggunakan penentuan harga Cost Based Pricing. 

Batas Harga

Untuk melihat batas harga keduanya, kita dapat menilik harga dari masing-masing produk terlebih dahulu. Kita akan membandingkan varian Magnum dari Wall’s dan Max Switch dari Indoeskrim. Keduanya merupakan varian premium dari masing-masing merk. Produknya pun relatif mirip, yakni es krim vanilla yang dilapisi dengan coklat. Penulis mendapatkan harga dari situs online mall blibli.com.

Harga di atas merupakan jumlah yang harus dibayarkan untuk 5 pak es krim, dengan jumlah satuan 4 pcs per paknya. Harga aslinya yaitu Rp 180.000, yang kemudian didiskon ke Rp 129.900. Dengan menggunakan harga sebelum diskon, dapat dikatakan harga satuannya sekitar Rp 9.000. Volume dari Max Switch sebanyak 90 ml per bungkusnya. Penulis tidak mendapatkan informasi harga jual satuan di online marketplace. Apabila dijual satuan, penulis memperkirakan harganya akan menjadi Rp 10.000 per buah.

Harga dari varian Magnum Classic yaitu mulai dari Rp 15.800. Varian ini merupakan varian dasar dari Magnum Wall’s. Terdapat selisih harga Rp 6.000 dari kedua merk. Memang, Magnum Wall’s memiliki pangsa pasar yang lebih besar meskipun harganya lebih tinggi. Namun, belum tentu ini merupakan harga tertinggi yang dapat disematkan oleh Wall’s.


Dalam menentukan biaya, terdapat price ceiling dan price floor. Price ceiling merupakan harga tertinggi yang dapat diberlakukan oleh produsen. Dengan harga yang lebih tinggi, tidak akan ada permintaan dari konsumen. Di sisi lain, price floor merupakan harga terendah yang dapat disematkan pada suatu produk. Harga ini sama dengan biaya dari produk tersebut. 

Mungkin Anda pernah melihat, banyak produk baru yang didiskon besar-besaran bahkan hingga gratis untuk meraih konsumen. Dengan trik ini, apakah konsep di atas menjadi tidak ada artinya? Apa yang dilakukan produsen tersebut merupakan langkah promosi atau pengenalan produk bagi konsumen. Hal ini dilakukan agar masyarakat tertarik untuk mencoba produk tersebut. Ketika masyarakat sudah mencoba, diharapkan mereka tertarik dan mendapat value dari konsumsi tersebut. Setelah itu, dapat diberlakukan harga jual dengan konsep price ceiling dan floor. Memang, strategi ini akan memperlambat waktu untuk meraih keuntungan. Namun, produsen dapat melihatnya sebagai investasi, yang mana nantinya juga akan dijadikan komponen dalam menetapkan harga jual sesungguhnya. Terlepas dari semua itu, hal ini tidak memiliki sangkut paut dengan perbandingan kedua es krim ini.

Price floor sulit untuk diketahui masyarakat umum, mengingat biaya produk kebanyakan merupakan data privat perusahaan. Lebih sulit lagi mengetahui price ceiling. Dibutuhkan riset untuk mengetahui price ceiling yang tepat. Untuk produk yang belum diluncurkan, produsen dapat menentukan harga ini dengan melihat nature industri, strategi pemasaran, serta harga kompetitor. Hal yang paling tepat adalah memberlakukan harga yang memiliki proyeksi keuntungan tertinggi, yang berarti memiliki permintaan yang tinggi juga.

Penulis menilai Indoeskrim dan Wall’s mematok harga yang berada di antara ceiling dan floor. Dengan economic of scale yang lebih tinggi (memiliki kuota tambahan untuk ekspor), seharusnya Magnum memiliki biaya produksi yang lebih rendah dari Max Switch. Akan tetapi, Wall’s juga memiliki fasilitas dan saluran distribusi yang lebih besar, serta iklan yang lebih gencar. Dengan demikian, dapat diasumsikan biaya produk hampir sama. Penulis memperkirakan biaya produk dari Max Switch sekitar Rp 4.000 dan Magnum sekitar Rp 5.000. Dasarnya adalah dengan melihat harga produksi es krim di industri rumahan, perkiraan biaya iklan, perkiraan biaya fasilitas dan distribusi. Penulis juga tidak lupa bahwa produk keduanya menggunakan bahan premium.

Indoeskrim tentu menetapkan mark up yang lebih kecil dikarenakan permintaannya juga tidak setinggi Wall’s, yaitu 2x lipat dari biaya produk. Magnum memiliki mark-up sekitar 3 x lipat. Dengan strategi penjualan dan pemasaran yang sama, tentu Max Switch harus dikurangi tingkat harganya agar memiliki permintaan yang dapat menyaingi Magnum. Penulis memperkirakan Max Switch memiliki price ceiling sebesar Rp 20.000, dan Magnum sebesar Rp 28.000.

Dari pemaparan diatas, dapat diartikan bahwasanya Max Switch memiliki permintaan yang lebih rendah daripada Magnum untuk saat ini. Oleh karena itu, Max Switch dapat menaikkan harga jualnya agar bisa menghasilkan keuntungan yang lebih. Mengingat bahwa Max Switch merupakan  produk unggulan dari Indoeskrim dan terbuat dari bahan-bahan pilihan sehingga hal itu dapat dijadikan sebagai branding atau value yang ditawarkan dalam mengiklankan produk ini. Dengan harga yang tidak terlalu murah, juga dapat membuat pelanggan menjadi yakin bahwasanya produk yang ditawarkan merupakan produk premium dengan bahan pilihan.

Jika dilihat dari harga produksi, keduanya tidak berbeda jauh mengingat keduanya sama-sama menawarkan es krim vanilla yang dilapisi dengan coklat. Sehingga bukan mustahil apabila permintaan dari Max Switch akan lebih banyak dibanding saat ini jika harganya dinaikkan sampai hampir sama dengan harga dari Magnum dengan diiringi branding yang kuat bahwasanya Max Switch merupakan produk unggulan dengan bahan-bahan pilihan dari Indoeskrim. Terlebih mengingat banyaknya pesaing yang berada di pasar Indonesia sehingga menuntut setiap produk memiliki sesuatu yang berbeda yang ditawarkan kepada konsumen. Hal itu menegaskan bahwa branding dari suatu produk harus mendapat perhatian lebih dari pihak produsen.

Apa yang bisa dipetik?

Bila dilihat dari uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa wall’s dengan es krim eksklusifnya bernama magnum mengungguli Indoeskrim dari segi diferensiasi. Diferensiasi yang dibuat oleh wall’s dengan es krimnya yang unik, berkualitas tinggi, dan ekslusif mengakibatkan pembeli tidak sensitif terhadap harga es krim tersebut. Walaupun harga es krim indoeskrim relatif lebih murah dibandingkan es krim magnum, tetapi hal tersebut tidaklah cukup untuk menyaingi wall’s dengan es krim magnumnya.

Indoeskrim dapat mengambil tindakan korektif terkait dengan strategi pemasaran atas es krimnya. Pertama, indoeskrim harus dapat mendiferensiasi produknya. Produsen harus dapat mendiferensiasikan produk saat banyak pesaingnya yang menawarkan produk yang beragam dengan nilai tambah yang berbeda-beda.

Untuk penetapan harga, langkah pertama yang harus diambil oleh produsen indoeskrim ialah memutuskan terlebih dahulu strategi pemasaran perusahaan bagi produknya. Lalu, produsen juga harus dapat memilih pasar sasaran serta positioning produknya secara tepat. Hal ini dikarenakan strategi penetapan harga sangat ditentukan oleh keputusan positioning di pasar.

Setelah itu, Indoeskrim dapat melakukan penetapan harga yang berdasarkan nilai. Penetapan harga berdasarkan nilai adalah penetapan harga yang didasarkan oleh persepsi nilai yang berasal dari pembeli dan bukan dari biaya penjual sebagai kunci penetapan harga. Untuk menggunakan penetapan harga berdasarkan nilai ini, produsen harus dapat menemukan nilai-nilai yang pembeli akan berikan untuk penawaran kompetitif yang berbeda-beda.


Penuliss : Nurul Chasanah C, Rendy Okta Vieri , Aditya Prasetya, M. Hafidz Ramadhan, Vika Asri Amanda


Referensi: 

http://www.abuelaskitchen.com/mengulas-lebih-dalam-tentang-es-krim/

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190411/9/910680/pasar-indonesia-menjanjikan-produsen-es-krim-bermunculan

http://rajapresentasi.com/2009/04/strategi-pemasaran-dan-bauran-pemasaran/





Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
wehunthead

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format