Tawarkan Pengalaman Baru, Spotify Rogoh Kocek Penggunanya

Saat ini, streaming platform membawakan musik secara mudah kepada para pendengar setianya. Lalu, bagaimanakah dengan cost-nya?


3
3 points

Dalam suatu media penyiaran, naik turunnya eksistensi sudah lazim terjadi. Semakin ketatnya persaingan di dunia penyiaran menuntut seluruh media penyiaran bekerja ekstra untuk mempertahankan keberadaannya. Salah satu bentuk dari media penyiaran adalah radio. Radio merupakan media massa elektronik tertua dan sangat luwes. Dikatakan sangat luwes, karena Radio dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan dunia dengan mengembangkan hubungan saling menguntungkan dan melengkapi dengan media lain (Ardianto, 2007: 123).

Radio adalah sarana alat pemancar siaran atau sebagai media penyampaian komunikasi secara audio. Radio merupakan media yang memiliki jangkauan selektif terhadap segmen pasar tertentu, kebudayaan radio telah mengakar pada masyarakat luas, masyarakat bawah pun telah terbiasa ditemani oleh radio pada setiap kesempatan. Perkembangan industri radio di Indonesia dimulai ketika masyarakat mengenal radio sebagai media bagi khalayak umum sekitar tahun 1922, kemudian menjadi kegemaran di Indonesia pada tahun-tahun perdana siarannya yaitu antara tahun 1950 hingga 1970. Sedangkan radio modern di Indonesia dapat dikatakan mulai berkembang pada tahun 1980-an. Kemudian, dari tahun ke tahun jumlah stasiun radio di Indonesia pun terus bertambah.

Pertumbuhan lembaga penyiaran Radio di Indonesia terus mengalami kenaikan, yaitu sekitar 1.288 stasiun pada tahun 2009 dan meningkat menjadi 1.986 stasiun pada tahun 2013. Bisa dikatakan pertumbuhan lembaga penyiaran radio ini mencapai rata-rata 10% per tahunnya. Pertumbuhan jumlah radio yang signifikan ternyata tidak berbanding lurus dengan peningkatan jumlah pendengar radio, lama waktu mendengarkan radio, serta alokasi iklan radio. Hal ini dipaparkan oleh Ketua Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Bali Komang Agus Satuhedi saat menyampaikan makalah dalam Forum Dialog dengan Tema “Tata Cara dan Persyaratan Perpanjangan izin Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Jasa Penyiaran Radio di Indonesia yang diselenggarakan oleh Kominfo, Selasa (1/3/2016) di Mercure Hotels Kuta Bali. 

“Data Radio Reach atau jumlah pendengar radio di antara populasi penduduk di satu kota tidak mengalami pertumbuhan tetap dari tahun ke tahun, bahkan beberapa diantaranya mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa persaingan stasiun radio untuk merebut pendengar semakin ketat karena jumlah pendengar yang diperebutkan cenderung tidak bertambah,” ungkapnya. 

Pada masa kini, Radio telah menjadikan musik sebagai konten utama mereka. Alasannya, saat ini banyak orang yang mendengarkan radio hanya untuk mendengarkan musik secara gratis. Tren mendengarkan musik terus bergeser seiring dengan waktu, mulai dari vinyl, CD, download, hingga online streaming. Saat ini, streaming platform dan perangkat seluler dapat membawa musik kepada pendengar sepanjang hari, apapun aktivitas mereka, audio merupakan pendamping yang setia.

Spotify sendiri merupakan salah satu media streaming musik yang memiliki layanan musik streaming, podcast, dan video komersial yang menyediakan hak digital manajemen yang dilindungi konten dari label rekaman dan perusahaan media. Perusahaan asal Swedia, Spotify AB meluncurkan Spotify pada September 2008. Perusahaan ini didirikan oleh Daniel Ek, mantan CTO Stardoll, dan Martin Lorentzon, co-pendiri TradeDoubler dan Maria Giovani Anggasta Santosa. Nama perusahaan Spotify tersebut berasal dari pendirinya yaitu Daniel Ek yang berpikir sebuah etimologi terkait portmanteau dari “spot” dan “identify”. Kemudian pada Juni 2015 Spotify tercatat memiliki lebih dari 75 juta pengguna aktif, termasuk sekitar 20 juta pengguna berbayar atau premium. Jumlah pelanggan premium mencapai 30 juta pada Maret 2016. Spotify Ltd beroperasi sebagai perusahaan induk, yang berkantor pusat di London, sementara Spotify AB menangani Research and Development di Stockholm.

Sekarang ini, media spotify dapat diakses melalui berbagai platform mulai dari Android, iOS, Windows, Chrome, Blackberry OS, Web OS, bahkan platform seperti Playstation dan Xbox One.  Dengan media ini, musik dapat diakses atau dicari oleh artis, album, genre, playlist, atau label rekaman. Spotify beroperasi di bawah model bisnis freemium, dengan dua streaming musik tingkatan: Spotify Gratis (160kbit/s) dan Spotify Premium (hingga 320kbit/s). Berlangganan Premium dapat menghapus iklan, meningkatkan kualitas audio dan memungkinkan pengguna untuk men-download musik untuk mendengarkan secara offline. 

Untuk menyelidiki tren yang selalu berubah ini, Spotify meminta TNS, sebuah perusahaan riset pasar global, untuk membandingkan jangkauan radio tradisional dengan streaming musik. Dengan ukuran sampel lebih dari 1.000 responden di Indonesia dan dibandingkan dengan lebih dari 15 jaringan radio, data dari TNS menemukan bahwa orang Indonesia kini mendengarkan musik lewat streaming jauh lebih banyak daripada sebelumnya. Mereka menghabiskan rata-rata 162 menit per hari di aplikasi Spotify dan telah melakukan streaming setidaknya 4 miliar lagu sejak diluncurkan pada tahun 2016. 

Berdasarkan studi dari TNS, Spotify dipandang sebagai sebuah platform pelengkap ke stasiun radio dikarenakan aplikasi streaming memberikan jangkauan rata-rata tambahan yang unik sebesar 19,5% untuk pendengar berusia antara 25-64 tahun. Ketika melihat data lebih lanjut, hasil menunjukan bahwa Spotify memberikan peningkatan incremental sebesar 25,8% pada mereka yang berusia antara 15-24 tahun. Hal ini menunjukan bahwa streaming musik merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia saat ini.

Beberapa poin-poin penting dari studi The New Audio:

  • Pengguna Spotify adalah orang yang peka terhadap teknologi, dan lebih cenderung untuk membuat keputusan pembelian yang lebih tepat berdasarkan review dan tanggapan secara online.
  • Pendengar Spotify melakukan streaming musik sepanjang hari, sementara pendengar radio mendengarkan radio pada waktu menempuh perjalanan, membuat Spotify berjalan seiring dengan radio tradisional.
  • Pengguna Spotify 10% cenderung berbelanja online untuk peralatan elektronik, pakaian, headphones, speaker, konsol game, dan online game.

“Kami sangat antusias untuk melihat bagaimana pendengar musik beralih ke Spotify untuk konsumsi musik mereka. Karena setiap orang memiliki selera dan preferensi musik yang berbeda, musik yang didengarkan oleh pengguna kami dapat menghubungkan tentang siapa mereka, bagaimana perasaan mereka, di mana mereka berada, dan apa yang telah mereka alami. Mengingat bahwa orang-orang terlibat dengan Spotify sepanjang hari, kami memiliki kemampuan untuk menemukan wawasan yang lebih dalam yang menguntungkan pengiklan, “kata Sea Yen, Ong, Vice President of Sales untuk Spotify Asia.

Ong menambahkan: “Ini adalah tren yang akan membantu pemasar dan pengiklan agar targetnya lebih terfokus namun benar-benar detail mengenai dimana, kapan, dan bagaimana audiens Anda mendengarkan. Seperti yang ditunjukan oleh studi TNS ini, kami dapat berbagi wawasan tentang khalayak unik yang nantinya akan melengkapi jangkauan stasiun radio tradisional.”

Berikut salah satu bukti keunggulan Spotify dibandingkan dengan platform media audio lainnya.



Gambar 1. Paket Berlangganan Spotify Premium

Dilansir dari laman web resmi spotify yakni https://www.spotify.com/id, ada dua alternatif yang dapat dipilih oleh pengguna untuk mengakses Spotify, yaitu secara free atau gratis dan premium atau berbayar. Beragam pilihan paket premium yang ditawarkan kepada pengguna untuk menikmati aplikasi ini memiliki berbagai macam kelebihan. Spotify yang terus menerus melakukan improvement pada produknya memang mematok harga yang terbilang cukup murah mengingat banyaknya pesaing yang amat potensial dalam pasar seperti halnya JOOX, Deezer, Apple Music atau iTunes, dan lain sebagainya. Akan tetapi, penawaran tersebut bersifat sementara atau periodik sehingga akan ada waktu saat pelanggan harus memperpanjang masa berlangganannya agar dapat terus menikmati layanan premium Spotify ini.

Pada dasarnya biaya yang dibutuhkan untuk menikmati layanan aplikasi Spotify secara bebas dan leluasa ini relatif mahal jika dibandingkan dengan media radio yang bersifat tetap dan berjangka panjang. Seperti halnya media radio yang kerap kali dapat diakses secara otomatis pada device smartphone atau bahkan secara online seperti gambar berikut.

Gambar 2. Radio Online Streaming

Berbanding terbalik dengan Spotify yang menawarkan kemudahan dan experience baru bagi konsumennya. Radio konvensional yang mulanya merupakan perangkat keras audio yang digunakan sebagai media hiburan dan penyiaran, hanya untuk sekedar mendengarkan musik atau siaran perlu adanya media radio. Namun dewasa ini, kita tidak perlu mengeluarkan biaya untuk memiliki radio karena adanya platform radio online yang menawarkan akses radio secara online dengan biaya nol rupiah.

Gambar 3. Value-Based Pricing vs Cost-Based Pricing



Media Radio

Spotify

Cost Based Pricing

v

x

Value Based Pricing

v

v

Competitor Based Pricing

x

v


Apabila dianalisis menggunakan teori penetapan harga dalam pemasaran, maka kami menyumpulkan:

  • Radio 

Radio dapat dikatakan masuk ke dalam kategori Cost-Based Pricing. Hal ini dikarenakan, awal kemunculan radio pada era 1920-an merupakan angin segar bagi jagad teknologi informasi. Kehadiran radio pada kala itu merupakan sebuah temuan baru yang tentunya menggegerkan masyarakat, sehingga perlu adanya proses meyakinkan pembeli atas value atau nilai dari produk itu sendiri (Convince Buyers of Products Value). Terlebih lagi, radio pada masa itu belum memiliki kompetitor yang berarti bahkan menjadi satu-satunya alternatif yang ada, sehingga akan baik-baik saja apabila media radio menerapkan Mark up Costing yaitu menambahkan sejumlah keuntungan yang diinginkan dari kos produksi. Namun dewasa ini radio dituntut untuk beradaptasi dengan lingkungan yang dinamis atau berubah-ubah. Oleh karena itu, radio pun menerapkan Value-Based pricing guna mempertahankan posisinya dalam pasar dengan mengetahui perkembangan yang terjadi di tengah masyarakat sehingga mampu menangkap customer value.

  • Spotify 

Muncul di tahun 2008 sebagai alternatif baru yang menarik perhatian seluruh masyarakat tidak membuat Spotify memasuki pasar semudah Radio. Hal ini dikarenakan munculnya berbagai kompetitor yang juga menawarkan pengalaman baru, kemudahan, bahkan eksklusivitas. Hal ini membuat Spotify menerapkan Value-Based Pricing untuk mengetahui apa yang sebenarnya konsumen inginkan dan butuhkan berdasarkan customer value. Kemudian, barulah Spotify menetapkan harga dengan perhitungan Target Costing untuk menentukan tingkat harga yang tepat, yaitu sesuai dengan kemampuan konsumen namun juga memenuhi value yang diinginkan. Baru kemudian yang terakhir adalah menentukan cost dan design product yang sesuai dengan target harga yang telah ditentukan.


Solusi

Setelah analisis diatas, langkah apa yang dapat ditempuh radio konvensional untuk memikat dan menjaring konsumen lebih banyak? Menurut kami hal mendasar yang perlu diubah adalah mengubah penetapan harga Cost Based Pricing menjadi Value Based Pricing. Ditengah beredarnya banyak media streaming, mempertimbangkan untuk memberi value lebih menjadi rumus pasti untuk menggaet konsumen. 

1. Membangun portal premium radio platform

Bukan hanya sekedar menyuguhkan musik berbentuk audio, ini yang perlu disajikan radio platform dalam rangka menaikkan customer value. Masyarakat jaman now, sebutan untuk generasi milenial dan generasi Z, sangat menyukai kegiatan yang interaktif dan berbentuk visual. Membuat segmen acara seperti ‘Ngobam: ngobrol bareng musisi’ yang dimiliki youtuber Gofar Hilman dan ‘live perform with artist’ yang dimiliki akun youtube Sound From The Corner dengan mengambil konsep berbayar untuk mengakses segmen acara tersebut bisa menjadi alternatif.


Memang sangat menyimpang dari hakikat radio itu sendiri, namun industri music streaming telah berkembang, siapa yang kreatif dialah yang akan merajai.



2. Bekerjasama dengan distributor platform musik digital

Selama ini untuk mendistribusikan karya melalui radio platform terbilang tidak mudah. Musisi harus menyerahkan demo lagu yang selanjutnya akan diseleksi oleh tim music producer disetiap radio platform, jadi karya lagu yang di submit belum tentu akan dimuat. Distrokid hadir menjadi jawaban pasti bagi musisi yang memiliki karya tapi tidak memiliki akses untuk masuk ke salah satu radi platform. Distrokid merupakan salah satu distributor platform musik digital yang digunakan banyak musisi mendistribusikan karya nya di platform musik digital.

Menambah daftar stores ‘radio platform’ pada salah satu distributor platform musik digital dapat menaikkan daftar lagu yang dimiliki radio platform. Selain menyuguhkan audio musik, radio platform bisa memuat karya visual dan press release di setiap lagu/album dari musisi terkait. Hal ini dalam rangka meningkatkan customer value agar nantinya customer bisa mendapat informasi lebih banyak dari musisi terkait.


Like it? Share with your friends!

3
3 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
2
Love
OMG OMG
2
OMG
Win Win
2
Win
BountyHunter

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format