Pentingnya Decision Making, Creativity, and Entrepreneurship di dalam sebuah Perusahaan.

Pada artikel ini dijelaskan pentingnya pengambilan keputusan, kreativitas, dan juga entrepreneurship.


11
11 points

Nature of Decision Making

Decision Making adalah proses yang melibatkan seorang manajer untuk menanggapi kesempatan dan ancaman dengan menganalisa opsi-opsi yang tersedia dan menyusun sebuah keputusan untuk tujuan organisasi dan juga tindakan-tindakan yang akan diambil. Ada dua cara untuk mengambil sebuah keputusan, yaitu Programmed dan juga Non-Programmed Decision Making.

  • Programmed Decision Making

      Sebuah pengambilan keputusan yang rutin diambil dan sudah hampir otomatis. Pengambilan keputusan yang terprogram ini sudah dilakukan banyak kali sebelumnya dan telah dibuatkan pedoman-pedoman untuk pengambilan keputusan ini.

Contoh : Pembelian inventaris kantor seperti pensil, pulpen, kertas, dan lainnya.

  • Non-Programmed Decision Making

Sebuah pengambilan keputusan yang dilakukan pada saat mendapatkan kesempatan yang luar biasa dan tidak dapat diprediksi dan juga sebagai pengambilan keputusan saat dihadapkan dengan ancaman-ancaman bisnis. Pengambilan keputusan ini didasarkan oleh intuisi dan juga penilaian yang didasarkan oleh informasi, pilihan informasi, dan juga evaluasi dari pilihan alternatif tersebut.

The Classical Model 

 Classical Model adalah sebuah pendekatan menggunakan perspektif dalam mengambil keputusan, berdasarkan asumsi yang diidentifikasi oleh pembuat keputusan dan mengevaluasi semua kemungkinan untuk mendapatkan optimum decision. Keputusan yang paling optimal adalah keputusan yang paling sesuai, di mana manajer percaya bahwa keputusan yang diambil merupakan keputusan yang diinginkan oleh organisasi. Secara garis besar, classical model mengasumsikan manajer dengan mudah bisa membuat daftar preferensi mereka untuk tiap alternatif dan mengurutkannya untuk membuat keputusan yang paling maksimal atau yang paling sesuai dan diinginkan oleh organisasi. 

The Administrative Model 

Model administratif adalah adalah sebuah pendekatan pengambilan keputusan yang menjelaskan alasan mengapa pengambilan keputusan berisiko dan secara inheren adalah tidak pasti. Model ini menggambarkan manajer mengambil keputusan pada kondisi yang sulit, jarang terjadi, atau tidak terstruktur sehingga keputusan yang diambil adalah non-programmed decision making. Terdapat 3 konsep pada model administratif, yaitu;

  • Bounded Rationality (rasional yang terbatas)

Kemampuan manusia dalam membuat keputusan dibatasi oleh kemampuan kognitif. Keterbatasan pengetahuan dapat menghambat kemampuan pembuat keputusan dalam menentukan keputusan yang optimal.

  • Incomplete Information (informasi yang tidak lengkap)

Informasi tidak lengkap karena berbagai alternatif pengambilan keputusan tidak diketahui dalam kebanyakan situasi dan konsekuensi yang terkait dengan alternatif yang diketahui tidak pasti.

  • Satisficing

Seorang pengambil keputusan memilih alternatif solusi pertama yang bisa memberikan kepuasan, walaupun keputusan yang jauh lebih baik akan muncul nantinya. 

Steps in Decision Making Process

March and Simon telah mengembangkan basis dalam langkah-langkah pengambilan keputusan dan masalah yang mungkin manajer hadapi setiap langkahnya. Berikut 6 tahap dalam proses pengambilan keputusan.

Step 1 Recognize the need for a decision

Langkah pertama dalam pengambilan keputusan yaitu memahami terlebih dahulu kebutuhan dari keputusan tersebut. Menurut Scott McNearly sebuah keputusan harus dibuat secara cepat. Sering kali terdapat hal-hal yang secara tiba-tiba yang mendorong manajer harus membuat keputusan, hal tersebut menjadi semakin jelas ketika terdapat perubahan drastis yang ada di lingkungan organisasi baik itu perubahan yang memberikan peluang maupun ancaman.

Step 2 Generate alternatives

Setelah memahami kebutuhan dalam proses pengambilan keputusan, Manajer harus membuat beberapa alternatif keputusan untuk mengantisipasi peluang atau ancaman. Manajemen expert belajar dari kegagalan untuk menghasilkan dan mempertimbangkan alternatif yang berbeda sebagai salah satu alasan mengapa manajer terkadang juga membuat keputusan buruk.

Step 3 Asses alternatives

Ketika manajer sudah mendapatkan beberapa keputusan-keputusan alternatif, Manajer harus mengevaluasi keuntungan dan kelemahan dari setiap alternatif yang ada. Kunci dari penilaian yang baik yaitu pada penetapan peluang atau ancaman dan kemudian menentukan kriteria yang penting dalam pengambilan keputusan. Pada dasarnya manajer menggunakan 4 kriteria untuk mengevaluasi pro dan kontra dari setiap alternatif keputusan:

·          Legalitas : Manajer harus memastikan bahwa tindakan yang akan diambil tidak akan melanggar hukum domestik maupun internasional serta tidak melanggar regulasi yang ada

·          Etika :  Manajer harus memastikan keputusan yang akan diambil tidak melanggar etika dan merugikan pemangku kepentingan lainnya

·         Kelayakan Ekonomi: Manajer harus memutuskan dari alternatif yang ada mana yang paling layak untuk diambil. Pada aspek ini manajer biasanya akan melakukan analisis cost-benefit dari alternatif yang ada untuk mencari mana yang memberikan net financial payoff.

·          Kepraktisan: Manajer sebaiknya memastikan apakah perusahaan memiliki kemampuan dan sumber daya yang memadai untuk mengimplementasi keputusan. Keputusan yang diambil manajer tidak seharusnya menjadi ancaman bagi pencapaian-pencapaian perusahaan. Meskipun manajer menemukan bahwa salah satu alternatif secara ekonomi lebih menguntungkan namun alternatif tersebut justru akan mengancam proyek-proyek penting lainnya maka hal tersebut bisa dikatakan keputusan yang tidak praktis bagi manajer.

Step 4 Choose among alternatives

Ketika beberapa alternatif solusi sudah dievaluasi secara hati-hati, tahap selanjutnya adalah merangking alternatif keputusan menggunakan kriteria yang sudah didiskusikan sebelumnya dan membuat keputusan. Dalam proses perangkingan alternatif keputusan, manajer harus memastikan semua informasi tersedia agar masalah-masalah yang mungkin muncul bisa diatasi.

Step 5 Implement the chosen alternatives

Setelah keputusan dan alternatif dibuat proses selanjutnya yaitu tahap implementasi yang di dalamnya banyak keputusan yang berkaitan harus dibuat. Meskipun kebutuhan untuk membuat keputusan yang berkaitan dalam pengimplementasian terlihat jelas dan mudah, banyak manajer mengambil keputusan dan gagal dalam proses implementasi. Hal tersebut dikarenakan tahap implementasi berbeda dengan mengambil keputusan. Untuk memastikan sebuah keputusan terimplementasi dengan baik, top manajer harus menugaskan manajer level menengah sebagai seseorang yang bertanggung jawab dalam mem follow-up keputusan. Selain itu top level manajemen perlu memastikan bahwa manajer menengah memiliki  sumber daya yang mencukupi untuk mencapai target yang sudah ditetapkan. Pada tahap ini manajer menengah perlu diberikan penghargaan ketika berhasil dalam mengimplementasikan keputusan, namun jika gagal manajer menengah juga perlu diberikan sanksi.

Step 6 Learn from feedback

Tahap terakhir dalam proses pengambilan keputusan yaitu tahap evaluasi. Manajer yang baik selalu melakukan analisis retrospektif dalam rangka untuk belajar kesuksesan ataupun kegagalan sebelumnya. Hal ini perlu dilakukan oleh para manajer agar para manajer bisa selalu mengevaluasi setiap keputusan yang pernah diambil dan tidak membuat kesalahan yang sama lagi. Oleh karena itu terdapat prosedur yang bisa dipelajari dengan beberapa tahap berikut.

1.      Bandingkan hasil dari keputusan dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya

2.      Cari tahu mengapa ekspektasi atau harapan dari keputusan tidak sesuai harapan

3.      Buat pedoman agar kedepannya membantu dalam pengambilan keputusan di masa yang akan datang.

Cognitive Biases and Decision Making

Pada tahun 1970an Daniel Kahneman dan almarhum Amos Tversky berpendapat bahwa decision makers pada saat itu tunduk pada rasio terikat dan cenderung heuristic. Kahneman dan Tversky berpendapat bahwa aturan praktis seringkali berguna karena mereka membantu pengambil keputusan memahami informasi yang kompleks, tidak pasti, dan ambigu.tetapi bagaimanapun juga hal tersebut juga menyebabkan kesalahan systematic dalam cara pembuat keputusan memproses informasi tentang alternatif dan membuat keputusan. Ada 4 sumber bias yang dapat mempengaruhi manajer dalam mengambil keputusan :

1.    PRIOR HYPOTHESIS BIAS

Seseorang Decision makers  yang memiliki keyakinan kuat mengenai hubungan antara 2 variabel cenderung membuat keputusan berdasarkan kepercayaan itu bahkan ketika disajikan dengan bukti bahwa keyakinan mereka salah. Selain itu, para pengambil keputusan cenderung mencari dan menggunakan informasi yang konsisten dengan keyakinan mereka sebelumnya dan mengabaikan informasi yang bertentangan dengan keyakinan tersebut.

2.    REPRESENTATIVE BIAS

Suatu bias kognitif yang dihasilkan dari kecenderungan untuk menggeneralisasi secara tidak tepat dari sampel kecil atau dari peristiwa atau episode tunggal yang jelas.

Sebagai contoh Pertimbangkan kasus manajer toko buku di Amerika Serikat Tenggara yang memutuskan untuk bermitra dengan sekolah independen lokal untuk “Hari Buku”: Siswa dan orang tua dari sekolah akan didorong untuk membeli buku di toko buku sebagai penggalangan dana untuk sekolah , dan toko buku akan membagikan sebagian kecil hasil dari penjualan ini dengan sekolah. Setelah sedikit perencanaan, Hari Buku menghasilkan penjualan dan publisitas yang kurang bagus untuk toko. Ketika sekolah umum dan independen lainnya mendekati manajer dengan proposal serupa untuk penggalangan dana dan Hari Buku, manajer menolak berdasarkan pengalaman buruk awalnya. Akibatnya, dia kehilangan peluang untuk memperluas penjualan dan mendapatkan iklan dari mulut ke mulut dan publisitas untuk tokonya; pengalaman buruk awalnya adalah hasil dari penjadwalan yang tidak disengaja di sekolah, di mana lacrosse key game dijadwalkan pada hari yang sama dengan Hari Buku.

3.    ILLUSION OF CONTROL

Suatu bias kognitif yang dihasilkan dari kecenderungan untuk melebih-lebihkan kemampuan seseorang untuk dapat mengendalikan segala aktivitas dan acara. Setelah berhasil mencapai puncak organisasi, mereka cenderung memiliki perasaan yang berlebihan tentang nilai mereka sendiri dan terlalu percaya diri tentang kemampuan mereka untuk berhasil dan untuk mengendalikan peristiwa. Ilusi control menyebabkan seorang manajer melebih-lebihkan peluang suatu perusahaan hasil, yang menguntungkan dan mengakibatkan pengambilan keputusan yang tidak sesuai 

Sebagai contoh ambisi seorang manajer untuk melakukan merger dua perusahaan yang berbeda hampir secara menyeluruh, manager tersebut percaya diri bahwa ia dapat menggabungkan dua perusahaan berbeda tersebut menjadi suatu perusahaan yang memiliki keuntungan dan kesuksesan yang lebih daripada sekarang, akan tetapi pada kenyataannya sebaliknya.

4.    ESCALATING COMMITMENT

Suatu bias kognitif yang memiliki kecenderungan untuk menambahkan sumber daya untuk suatu proyek yang dimana hasil menunjukan proyek tersebut telah gagal. Manajer memutuskan untuk meningkatkan investasi waktu dan uang mereka dalam tindakan dan bahkan mengabaikan bukti bahwa itu ilegal, tidak etis, tidak ekonomis, atau tidak praktis. Seringkali keputusan yang lebih tepat adalah memotong kerugian mereka dan lari.

Sebagai contoh seorang pemilik perusahaan dalam bidang landscape, di amerika yang bernama Mark Gracin. Pada awalnya usaha landscape tersebut memberikan keuntungan untuk dirinya, sehingga ia termotivasi untuk dapat memperluas pemasaran mereka melalui berbagai cara antara lain dengan cara mempekerjakan desainer landscape, mengiklankan pada surat kabar lokal, bahkan memberikan proposal untuk pengerjaan landscape secara gratis pada customer. Akan tetapi dari semua yang ia lakukan ternyata tidak membuahkan hasil, dengan hasil negatif yang didapatkan tersebut Mark Gracin pun termotivasi lebih, ia menginvestasikan uangnya lebih untuk menyewa sebuah kantor kecil, bahkan beriklan di salah satu televisi lokal akan tetapi tetap tidak membuahkan hasil, dari sini terlihat bahwa Mark Gracin lebih memilih untuk menggunakan uangnya untuk investasi yang sudah terbukti tidak berhasil.

Beware of your biases

Bagaimana para manajer dapat menghindari efek negatif dari bias kognitif dan meningkatkan kemampuan mereka dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah? Manajer harus menyadari bias dan dampaknya, dan mereka harus mengidentifikasi gaya pribadi mereka sendiri dalam mengambil keputusan. Salah satu cara yang berguna bagi manajer untuk menganalisis gaya pengambilan keputusan mereka adalah dengan meninjau dua keputusan yaitu satu keputusan baik dan satu keputusan buruk.

Pakar pemecahan masalah merekomendasikan agar manajer memulai dengan menentukan berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk setiap langkah pengambilan keputusan, seperti mengumpulkan informasi untuk mengidentifikasi pro dan kontra dari alternatif atau memberi peringkat pada alternatif, untuk memastikan mereka menghabiskan waktu yang cukup untuk setiap langkah. langkah.

Teknik lain yang direkomendasikan untuk memeriksa gaya pengambilan keputusan adalah bagi manajer untuk membuat daftar kriteria yang biasanya mereka gunakan untuk menilai dan mengevaluasi alternatif — heuristik (aturan praktis) yang biasanya mereka gunakan, bias pribadi mereka, dan sebagainya — dan kemudian secara kritis mengevaluasi kesesuaian. faktor-faktor yang berbeda ini.

Banyak manajer individu cenderung mengalami kesulitan mengidentifikasi bias mereka sendiri, sehingga sering disarankan bagi manajer untuk memeriksa asumsi mereka sendiri dengan bekerja dengan manajer lain untuk membantu mengungkap kelemahan dalam gaya pengambilan keputusan mereka. Dalam konteks ini, masalah pengambilan keputusan kelompok menjadi penting.

GROUP DECISION MAKING

Keuntungan group decision 

-Kualitas keputusan lebih baik, karena setiap anggota dapat saling mengisi dan mengevaluasi ide yang lebih baik.

-Meningkatkan kemampuan karyawan untuk saling memahami dan menerima ide masing-masing karyawan.

-Lebih efektif dalam menetapkan tujuan, mengidentifikasi alternatif karena lebih banyak sudut pandang

Group decision akan memiliki performa yang baik apabila:

  • Setiap anggota memiliki kemampuan dan pengetahuan yang relevan dengan isu yang dibahas
  • Adanya pembagian kerja

Kerugian group discussion

  • Pengambilan keputusan lebih lama
  • Terdapat bias dalam pengambilan keputusan yang disebabkan karena groupthink

The Pearls of Groupthink

Groupthink adalah pola pengambilan keputusan yang salah dan bias yang terjadi dalam kelompok. Keputusan kelompok ini datang dari beberapa individu berpengaruh namun berhasil mempengaruhi kelompok menjadi keputusan kelompok. Groupthink mempengaruhi kelompok dengan tidak mempedulikan pendapat-pendapat yang bertentangan di luar kelompok. Pada dasarnya kelompok yang terkena sindrom ini adalah kelompok yang anggotanya memiliki latar belakang sama, terasing dari pendapat-pendapat luar, dan tidak ada aturan yang jelas tentang proses pengambilan keputusan.

Maka terdapat dua teknik yang dikenal untuk menetralkan groupthink dan bias kognitif:

Devil’s Advocate and Dialectic Inquiry

Advokasi Iblis adalah sebuah teknik untuk meningkatkan kualitas keputusan kelompok, memperkenalkan konflik ke dalam proses pengambilan keputusan. Atau sebuah analisis kritis terhadap alternatif untuk memastikan kekuatan dan kelemahan ide sebelum diterapkan. Biasanya satu anggota kelompok pembuat keputusan memainkan peran advokat iblis. Pengacara iblis mengkritik dan menantang cara kelompok itu mengevaluasi alternatif dan memilih salah satu dari yang lain. Tujuan advokasi iblis adalah untuk mengidentifikasi semua alasan yang mungkin membuat alternatif yang disukai tidak dapat diterima. Dengan cara ini, para pembuat keputusan dapat dibuat sadar akan kemungkinan bahaya dari tindakan yang direkomendasikan.

Dialectic Analysis

Penyelidikan ini memiliki prosedur yaitu dua kelompok manajer ditugaskan untuk suatu masalah, dan masing-masing kelompok bertanggung jawab untuk mengevaluasi alternatif dan memilih salah satunya. Lalu, manajer puncak mendengar masing-masing kelompok mempresentasikan alternatif pilihannya, dan kemudian masing-masing kelompok mengkritik posisi pihak lain. Selama debat, manajer puncak menantang posisi kedua kelompok untuk mengungkap potensi masalah dan bahaya yang terkait dengan solusi mereka. Tujuannya untuk menemukan tindakan alternatif yang lebih baik bagi organisasi untuk diadopsi. Dalam praktiknya, advokasi iblis mungkin lebih mudah diterapkan karena melibatkan lebih sedikit waktu dan upaya manajerial daripada penyelidikan dialektik.

Diversity Among Decision Makers

Cara lain untuk meningkatkan pengambilan keputusan kelompok adalah dengan adanya keragaman dalam anggota kelompok. Mulai dari gender, latar belakang etnis, nasional, dan fungsional memperluas berbagai pengalaman hidup dan pendapat yang dapat diambil. Selain itu, kelompok yang beragam biasanya jarang terkena groupthink karena anggota kelompok sudah berbeda satu sama lain sehingga kurang tunduk pada tekanan keseragaman.

Organizational Learning yaitu proses dimana manajer harus merangsang keinginan dan kemampuan staf atau karyawan untuk mengetahui cara manage organisasi dan tugasnya.

Learning Organization yaitu sebuah organisasi, yang mana manajer dapat memaksimalkan setiap individu atau kelompok untuk dapat berpikir dan berperilaku kreatif.

Creativity yaitu kemampuan decisions maker untuk menemukan ide-ide baru untuk mengarahkan
kepada tindakan alternatif yang lebih baik

Contoh perusahaan di Indonesia yang menerapkan Learning Organization dan Creativity

Perusahaan Unilever merupakan salah satu contoh perusahaan yang menerapkan Learning Organization dan Creativity. Penerapan Learning Organization dan Creativity di perusahaan Unilever dalam bentuk program. Program untuk menerapkan Learning Organization adalah Knowledge Club dan Share of Learning and Result (SOLAR). Knowledge Club adalah talkshow yang menghadirkan narasumber dari top management, yang mana mereka akan berbagi banyak hal mengenai keahlian khusus,pengetahuan teknis dan non teknis. Program Knowledge Club ini bertujuan untuk menjadikan sebuah pembelajaran bagi seluruh karyawan. 

Program Share of Learning and Result adalah program yang dirancang oleh perusahaan, yang mana bagi siapa saja (eksternal atau internal) untuk memberikan sharing pengetahuan dan pengalaman terutama yang berkaitan dengan pekerjaan dan mendukung seseorang untuk berkarya lebih baik lagi.

Program untuk creativity adalah Enterprise Award. Enterprise Award adalah sebuah kegiatan seperti lomba, di mana para karyawan ditantang untuk membuat sebuah tim kecil, setiap tim harus memberikan masukan atau proyek baru bagi perusahaan dan proyek tersebut memberikan nilai ekonomi bagi perusahaan. Proyek tersebut akan dipresentasikan di depan para Board of Directors (BOD) dan bagi para pemenang akan diberikan sebuah penghargaan.   

Menciptakan Learning Organizational

Teori Peter Senge mengidentifikasi 5 prinsip untuk menciptakan Learning Organizational:

1.  Manajer harus memperbolehkan staff dan karyawan untuk dapat mengembangkan potensi diri. Manager juga harus memberdayakan dan memperbolehkan staff atau karyawan untuk bereksperimen, membuat dan mengeksplorasi apa yang mereka inginkan.

2.  Organisasi perlu mendorong karyawan untuk mengembangkan dan menggunakan complex mental models. Cara berpikir canggih yang menantang mereka untuk menemukan cara baru atau lebih baik dalam melakukan tugas dan untuk memperdalam pemahaman mereka tentang apa yang terlibat dalam aktivitas tertentu. Peter Senge berpendapat bahwa manajer harus mendorong karyawan untuk bereksperimen dan mengambil resiko. 

3.  Manajer harus melakukan apa saja untuk memfasilitasi kreativitas kelompok. Peter Senge berpikir bahwa pembelajaran tim lebih penting daripada pembelajaran individu dalam meningkatkan pembelajaran organisasi.

4.  Manajer harus menekankan pentingnya membangun visi bersama.

5.  Manajer harus mengenali efek dari satu tingkat pembelajaran kepada tingkat lainya. Jadi, tidak ada gunanya menciptakan tim untuk memfasilitasi pembelajaran tim, jika manajer tidak bisa mengambil langkah-langkah untuk memberikan kebebasan karyawan untuk mengembangkan rasa penguasaan pribadi.

Organizational Learning and Creativity

  • Promoting Individual Creativity
    • Karyawan adalah garda terdepan sebuah perusahaan oleh karena itu biasanya mereka enggan untuk berbicara tentang ide mereka. Oleh karena itu para manajer harus siap menghadiahi para karyawannya yang telah mengeluarkan idenya untuk perusahaan.

Contoh Perusahaan yang mengedepankan Individual Creativity: Apple, Google, Facebook

  • Promoting Group Creativity
    • Brainstorming

Sebuah kelompok yang bertujuan untuk memecahkan masalah yang ada dengan cara bertatap muka untuk menghasilkan dan mendiskusikan sebuah variasi alternatif yang luas. Terkadang pada Brainstorming terjadi yang namanya “Production Block” yaitu, hilangnya produktivitas pada sesi Brainstorming karena pada dasarnya cara ini tidak mempunyai leader atau pemimpin dalam diskusi.

Contoh: Kerja kelompok di kampus

  • Nominal Group Technique

Cara pengambilan keputusan ini dilakukan dengan cara para manajer atau individu yang terlibat dalam pengambilan keputusan menulis ide-ide dan juga solusi setelah itu dibacakan atau dipresentasikan kepada pengambil keputusan yang lain, dan pada akhirnya ide dan solusi tersebut akan diurutkan dari yang paling banyak dipilih sampai yang paling sedikit (di-ranking)

Contoh: Mengidentifikasi prioritas dari sebuah kelompok belajar

  • Delphi Technique

Cara pengambilan keputusan yang tidak harus mempertemukan pengambil keputusan satu dengan yang lainnya tetapi dengan cara ketua grup menuliskan sebuah daftar pernyataan yang berisikan masalah-masalah yang dihadapi dan juga beberapa pertanyaan untuk dijawab kepada pengambil keputusan yang lainnya. Setelah mendapatkan respond dan jawaban dari responden maka top manager akan merangkum semua respon-respon yang didapatkan dan dirangkum. Hasil dari respon tersebut akan dikirimkan kembali kepada responden dan akan menanyakan pertanyaan tambahan untuk para responden tersebut dan pada akhirnya akan mencapai sebuah kesepakatan antara satu dengan lainnya.

Contoh: Bisnis keluarga yang akan mengekspansi bisnisnya.

Entrepreneur and Creativity

  • Entrepreneur: Seseorang yang memperhatikan peluang dan memutuskan bagaimana memobilisasi sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan produk atau layanan yang baru dan lebih baik.

Contoh: Bill Gates

  • Social Entrepreneur: Seorang individu yang mengejar inisiatif dan peluang dan memobilisasi sumber daya untuk mengatasi masalah dan kebutuhan sosial untuk meningkatkan masyarakat dan kesejahteraan melalui solusi kreatif.

Contoh: Gamal Albinsaid, ia merupakan social entrepreneur sekaligus seorang dokter yang menjadi pendiri Klinik Asuransi sampah dan Bank Sampah. Dirinya juga sudah banyak mendapat penghargaan atas inovasi dan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

  • Intrapreneur: Seorang manajer, ilmuwan atau peneliti yang bekerja di dalam organisasi dan memperhatikan peluang untuk mengembangkan produk baru atau lebih baik dan cara-cara yang lebih baik untuk membuatnya.

Contoh: Sutoto Yakobus, dimana ia merupakan seorang intrapreneur dari Ciputra Group

Entrepreneurship and New Ventures

  • Characteristics of entrepreneurs

Tentu ada beberapa karakteristik yang dimiliki orang yang berjiwa entrepreneur, seperti mereka memiliki rasa keterbukaan akan pengalaman, mereka berani  dan juga siap untuk mengambil risiko. Mereka juga merasa bertanggung jawab dan dapat melakukan atau menciptakan sesuatu yang inovatif. Seorang  entrepreneur juga memiliki keinginan pencapaian yang tinggi dan keinginan  yang kuat untuk melakukan pekerjaan yang menantang dan bertemu denganorang-orang yang memiliki kepribadian yang unggul.

  • Entrepreneurship and Management
  • Entrepreneurship adalah mobilisasi sumber daya untuk mendapatkan keuntungan dari peluang yang ada, untuk menyediakan produk atau servis yang lebih baik kepada konsumen.

Intrapreneurship and Organizational Learning

  1. Product champions
    Seorang manajer yang mengambil “kepemilikan” dari sebuah proyek dan memberikan kepemimpinan dan visi yang membawa produk dari tahap ide ke pelanggan akhir. 
  2. Skunkworks
    Sekelompok intrapreneur yang dengan sengaja dipisahkan dari operasi normal sebuah perusahaan untuk mendorong mereka memberikan keseluruhan perhatiannya untuk mengembangkan produk baru. Cara ini tentunya memberikan keuntungan kepada perusahaan serta intrapreneur karena perusahaan dan dirinya sama sama dapat berkembang dan juga membuat projek baru dalam mengembangkan usaha.
  3. Rewards for innovation
    Perusahaan-perusahaan besar yang ada di Indonesia maupun di dunia dapat berkembang menjadi perusahaan yang sukses tentu juga berkat dukungan karyawan dan intrapreneur di dalamnya. Di mana semua bekerjasama untuk mencapai tujuan perusahaan dan mengembangkan perusahaan dari waktu ke waktu.Dedikasi yang sudah dilakukan serta waktu yang sudah diberikan tentu diberikan upah berupa gaji, namun juga harus ada apresiasi yang dapat perusahaan berikan kepada karyawannya. Apresiasi yang diberikan kepada intrapreneur seperti bonus jika ada proyek yang berhasil dilakukan.

Like it? Share with your friends!

11
11 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
5
Fun
Genius Genius
5
Genius
Love Love
2
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
4
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format