JNE : Entrepreneurship dan Nasionalisme

Djohari Zein pendiri dari JNE memiliki visi untuk mendirikan perusahaan logistik yang menjadi milik bangsa Indonesia


0

——

Rico Huang: "Crazy Rich Jakarta, Punya 23.000 Karyawan 1 Juta Paket Setiap Hari Dari Modal 25jt"

sumber video: Rico Huang dipublikasikan di Youtube.com

Artikel ini akan membahas sebuah video yang dibuat dan dipublikasikan oleh Rico Huang pada channel Youtubenya. Artikel ini akan membahas proses pengambilan keputusan seorang entrepreneur yang menyebabkan jatuh bangunnya suatu perusahaan. Kali ini sosok entrepreneur yang akan dibahas adalah Djohari Zein co-founder dari JNE.

Sinopsis

Di video oleh Rico Huang yang diunggah di Youtube, kali ini wawancara dilakukan untuk Djohari Zein co-founder dari JNE. Dengan judul “Crazy Rich Jakarta, Punya 23,000 Karyawan 1 Juta Paket Setiap Hari Dari Modal 25 Juta” video ini mewawancarai sosok Djohari Zein tentang perjalanan hidupnya dari masa kecil sampai beliau menjadi seorang pengusaha yang sukses. Video ini terbagi menjadi 3 bagian penting yaitu masa kecil Djohari Zein, Kisah awal mula Djohari Zein membangun bisnis, dan terakhir apa yang harus dia jalankan untuk menghadapi bisnis masa kini.

Masa Kecil Djohari Zein

Djohari mengatakan bahwa jiwa entrepreneur yang dimilikinya dimulai sejak kecil karena beliau terinspirasi sosok Kakek yang merupakan seorang penjual kue. Kakek Djohari Zein yang semula bekerja sebagai pembuat kue berhasil mendirikan toko kue sendiri. Hal ini yang menjadi inspirasi untuk menjadi seorang pengusaha. Pada saat SMP Djohari Zein menggunakan mesin ketik milik ayahnya untuk membuat majalah dan menjualnya ke teman-temannya. Dari penjualan majalah ini saat Djohari Zein duduk di bangku SMA beliau menjadi pengurus majalah dinding di sekolahnya. 

Namun saat menjalankan perkuliahan di perguruan tinggi beliau tidak bisa menjalankan bisnis karena jadwal yang sibuk dan beliau fokus untuk mencari pekerjaan. Setelah Lulus kuliah beliau mendapat pekerjaan di bidang perhotelan selama 5 tahun. Kemudian beliau mengundurkan diri dari pekerjaannya dan pindah untuk bekerja di perusahaan logistik.

Dari Indonesia untuk Indonesia

Pada saat perusahaan logistik pertamanya diakuisisi oleh perusahaan asing Djohari Zein memutuskan untuk mendirikan perusahaan logistik sendiri. Perusahaan itu terpaksa dijual karena cashflow perusahaan yang bermasalah. Pada saat itu Djohari Zein harus melepas kepemilikannya dan perusahaan tersebut diambil alih oleh investor asing.

Masa Kejayaan JNE

Belajar dari kegagalannya Djohari Zein mulai untuk mengembangkan system dan teknologi yang tidak kalah hebat dengan perusahaan logistik asing. Dengan pengalaman yang dimilikinya beliau memutuskan untuk fokus pada quality service dan pengembangan sumber daya manusia di perusahaannya. Keputusan yang dibuat inilah yang memicu kesuksesan JNE sebagai perusahaan logistik Indonesia yang dapat bersaing dengan kompetitor baik dalam maupun luar negeri. Beliau juga dapat membuktikan dan mewujudkan visinya untuk membuat sebuah perusahaan logistik yang dikuasai oleh orang Indonesia.

Decision Making Seorang Djohari Zein Dalam Industri Logistik

Dalam membesarkan mimpinya hingga JNE bisa menjadi perusahaan besar dan terus berkembang, Djohari Zein mengalami banyak sekali jatuh bangun. Pertama, saat Djohari Zein harus menjual saham kepemilikan WorldPak (cikal bakal JNE) sebesar 60 persen kepada perusahaan kurir dan logistik asing Singapura Pronto. Keputusan tersebut harus diambil karena perusahaan mengalami kesulitan untuk menutupi putaran cashflow dan terlalu fokus pada target pemasaran dan operasional. Meskipun Djohari Zein telah berusaha menyelamatkan perusahaan dengan meminjam uang kepada orang tuanya, ternyata modal tersebut masih tidak cukup untuk menyelesaikan permasalahan cashflow yang WorldPak hadapi. Kedua, saat WorldPak tidak lagi searah dengan visi dan misinya untuk membangun perusahaan logistik lokal yang menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Tahun 1989, Pronto memaksa Djohari Zein untuk menjual seluruh saham yang dimilikinya. Mimpinya bersama WorldPak pun kandas. 

Sumber: www.jne.co.id[1]

Ketiga, bahkan ketika Djohari Zein bangkit dan siap merintis bisnis di bidang delivery service dan logistik ini lagi, ada satu tantangan besar yang ia hadapi. Tantangan tersebut adalah perubahan zaman dan perkembangan teknologi. Berkembangnya bisnis e-commerce dan hadirnya para pemain baru di bisnis delivery service sangat mempengaruhi keberlanjutan hidup JNE. Mampukah JNE bertahan? Apa pengaruh proses pengambilan keputusan oleh Johari Zein pada JNE? Berikut beberapa momentum kebangkitan bisnis Djohari Zein hingga JNE mampu berdiri hingga saat ini. 

Momen kebangkitan itu Djohari Zein alami ketika pemilik TIKI, Soeprapto Suparno, menawarkannya untuk membentuk perusahaan baru bernama PT TIKI JNE. Target utamanya adalah untuk merambah ke potensi pasar yang lebih besar dan menciptakan produk inovasi. Kedua, untuk berkompetisi dengan kemajuan teknologi dan perkembangan zaman, JNE yang akhirnya memisahkan diri dari TIKI kemudian menciptakan berbagai produk inovasi baru seperti Paxel dan Pesona. 

Sumber: www.paxel.co[2]

Sumber: www.pesonanusantara.co.id[3]

Jika di analisa dengan teori pengambilan keputusan the nature of managerial decision making, di dalam merespons kesempatan, Djohari Zein merefleksikan pemikiran yang oportunis dan realistis. Ini juga berlaku ketika beliau dihadapkan pada ancaman atau tantangan. Beliau sangat mengerti kapan harus berkoalisi dan kapan harus memisahkan diri dan berjalan sendiri demi kepentingan visi misi perusahaan. Terkait dengan proses pengambilan keputusan, bersama dengan elite perusahaan, beliau menerapkan 4 nilai perusahaan utama, yaitu jujur, disiplin, tanggung jawab, dan visioner.[4] Ini menjadi basis programmed decision yang harus dipahami oleh para pengambil keputusan di JNE. Terkait dengan non-programmed decision, teori penggunaan intuisi dan reasoned judgment juga sangat relevan pada kasus ini. Untuk modelnya, Djohari Zein menerapkan teori classical model of decision making. Keputusan yang diambil didasarkan pada berbagai informasi, alternatif pilihan keputusan, dan konsekuensi di masa depan bagi keberlanjutan hidup perusahaan. Secara singkat perbandingan jatuh bangun yang Djohari Zein alami dapat dipahami melalui tabel berikut. 

Jatuh

Bangun

  1. 60 persen saham WorldPak harus dilepas pada Pronto, sebuah perusahaan logistik asal Singapura, untuk menyelesaikan permasalahan cashflow yang terjadi -> Decision in response to threat based on reasoned judgement.
  2. Johari Zein diminta untuk melepaskan seluruh saham kepemilikan WorldPak kepada Pronto -> Decision in response to threat based on non-programmed decision.
  3. PT JNE yang harus menghadapi kompetisi di ranah nasional terkait dengan perkembangan e-commerce -> Decision in response to threat based on non-programmed decision. 

1. Bermitra dengan pemilik PT TIKI, Soeprapto Suparno, Johari Zein berhasil membesarkan PT TIKI JNE -> Decision in response to opportunity.

2. JNE memisahkan diri dari PT TIKI JNE dan mendirikan JNE Operation Sorting Center dan kantor pusat -> Decision in response to opportunity based on the classical model of decision making process. 

3. JNE berhasil mengembangkan produk inovasi seperti Pesona dan Paxel -> Decision in response to threat based on programmed decision.

Cognitive Bias dalam pembuatan keputusan

Jones dan George dalam bukunya menjelaskan ada 4 sumber dari cognitive bias[5]. Yaitu:

1. Prior Hypothesis Bias

2. Representativeness Bias

3. Illusion of Control Bias

4. Escalating Commitment

Dari daftar sumber cognitive bias di atas Djohari Zein juga terlihat memiliki bias dalam membuat sebuah keputusan untuk perusahaannya. Dari video wawancara oleh Rico Huang beliau selalu memfokuskan perusahaannya untuk belajar dari perusahaan logistik asal luar negeri. Beliau berpendapat bahwa perusahaan logistik di luar negeri memiliki sistem dan teknologi yang lebih baik dari Indonesia. Jika dibandingkan dengan sumber cognitive bias di atas beliau dapat dikatakan memiliki prior hypothesis bias dan representativeness bias. Karena pengalaman beliau bekerja dan belajar dengan perusahaan logistik asing beliau membuat hipotesis awal bahwa perusahaan asing memiliki keunggulan yang jauh dari perusahaan logistik Indonesia. Namun bias ini tidak membuat dampak negatif bagi JNE. Justru dengan adanya bias ini yang membuat beliau fokus ke R&D di perusahaan logistik miliknya. Beliau banyak belajar dari sistem dan teknologi yang digunakan oleh perusahaan asing dan mengadopsinya ke JNE. Beliau juga mengirim banyak karyawannya untuk mendapat training dan pelatihan ke luar negeri untuk menambah kemampuan yang dimiliki oleh karyawan JNE.

Groupthink

Jika melihat dari keputusan Djohari Zein untuk pengembangan sumber daya manusia dan sistem teknologi, competitive advantage yang dimiliki oleh JNE adalah sumber daya manusia yang berkualitas dan sangat ahli dalam bidang logistik. Maka proses groupthink yang mungkin cocok digunakan di JNE adalah dengan proses dialectical inquiry. Dengan dialectical inquiry JNE dapat membuat proses pembuatan keputusan di mana akan muncul banyak ide-ide atau gagasan-gagasan yang muncul. Dari ide-ide tersebut maka akan terjadi dialog dan perdebatan untuk menentukan mana ide yang cocok untuk dipakai di JNE. Hal ini berbeda dengan proses pembuatan keputusan Devil Advocacy di mana ide yang muncul hanya 1 ide saja yang nantinya akan diperdebatkan. Dialectical inquiry sangat cocok digunakan oleh JNE mengingat kualitas sumber daya manusianya yang sudah dilatih untuk menguasai ilmu logistik. Proses ini juga dapat membuat variasi dalam ide yang muncul. Karena pada video Djohari Zein menyebutkan bahwa di jaman modern sekarang situasi bisnis berubah secara cepat dan tidak terduga. Dengan banyaknya ide dan gagasan yang ditampung oleh JNE maka semakin banyak informasi yang didapatkan untuk menghadapi kondisi bisnis pada jaman ini.

---

Ferdiansyah

Joseph Suryo Baskoro

Kapitania Widya Imaniar

Khalifah Nurjannah

Mutiara Cahyaningrum

Sucha Dina Amalia

Umar Abdul Aziz

---

[1]JNE Website, viewed on 1 November 2019, <https://www.jne.co.id/id/perusahaan/profil-perusahaan/visi-dan-misi>.

[2]Paxel Website, viewed on 1 November 2019, .

[3]Pesona Website, viewed on 1 November 2019, .

[4]JNE Website, viewed on 1 November 2019, <https://www.jne.co.id/id/perusahaan/profil-perusahaan/nilai-perusahaan>.

[5]Jones, G.R., and George, J.M. Contemporary Management (New York: Mcgraw-Hill, 2020)


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format