KEBAB BABA RAFI : KESALAHAN INVESTASI HINGGA TERLILIT HUTANG 14 MILYAR

Tidak semua orang dapat bangkit setelah melakukan kesalahan, seorang pemenang sejatilah yang dapat merubah kegagalan menjadi dasar atas manisnya kesuksesan bisnisnya


7
7 points

Kesalahan dalam pengambilan keputusan dalam berbisnis membuat Nilamsari dan suami tenggelam dalam hutang hingga mencapai Rp14Milyar. Bisnis yang terus menanjak pesat membuat pasangan muda ini mengelontorkan pundi-pundi uangnya untuk ekspansi bisnis lain yang mereka bahkan tidak kuasai dan pahami. Namun, hal tersebut tidak menjadi alasan mereka untuk putus asa. Ditengah-tengah himpitan keuangan dan manajemen yang kurang profesional, mereka berhasil memperbaiki hingga akhirnya melunasi hutang tersebut dalam kurun waktu 3 tahun dan terus mengembangkan franchisenya hingga lebih dari 1400 cabang di 8 negara hingga saat ini.AWAL MULA PENDIRIAN USAHA

Menikah diusia muda tidak menjadi penghalang bagi Nilam Sari dan suami untuk lepas dari ketergantungan terhadap bayang-bayang orang tua. Memulai usaha dari tahun 2003, mereka memulai berjualan burger dan hotdog dengan menggunakan sebuah gerobak di pinggir jalan. Berbekal modal sebesar 4 juta yang didapatkan dari pemberian orang-orang ketika pernikahan akhirnya pasangan yang bahkan tidak bisa memasak ini memulai usahanya tersebut

Usaha terseut awalnya cukup menguntungkan, walaupun kemudian sempat pailit karena tergusur oleh brand burger yang lebih terkenal di surabaya waktu itu. Terinspirasi kuliner khas timur tengah selepas perjalanan ke Qatar, mereka memulai kembali usaha tersebut, namun kali ini dengan produk yang berbeda yakni Kebab. Nama Kebab Rafi diambil dari nama anak pertama mereka. Tak dinyana, bisnis kebab sangat digandrungi oleh masyarakat. Tahun 2005, Nilam sari mulai mengembangkan usaha dengan pola franchise

SYNDROME OKB & BIAS DALAM DECISION MAKING

Kesuksesan Kebab Baba Rafi yang sangat pesat di Surabaya, menjadikan Nilam sari dan suami terus berekspansi hingga memiliki 7 kantor di Surabaya dan Jakarta. Mereka bahkan berekspansi di bisnis yang bahkan tidak mereka pahami. Ketakutan akan dicurangi anak buah membuat mereka antipati untuk merekrut karyawan yang memiliki background pengalaman dan pendidikan yang lebih tinggi. 

Melihat trend Surabaya dan jakarta akan potensi dan kemudahan bisnis kost-kostan, mereka mulai berekspansi bisnis di properti yang bahkan mereka tidak pahami. Tidak sampai disitu, bisnis di bidang investasi batubara dan akuisisi perusahaan lain mereka lakukan tanpa dasar ilmu dan pemahaman lebih lanjut hingga akhirnya mereka pailit di tahun 2008 dengan total hutang sebesar Rp14Milyar

Krisis tahun 2008 dan pilpres tahun 2009 membuat sebagian besar investor mengurungkan niatnya untuk berinvestasi, bisnis franchise dan dan supply bahan baku menjadi stagnan. Imbasnya ketika mereka bahkan tidak dapat membayar THR para pegawainya

Melihat kondisi pasar Jakarta yang memiliki potensi lebih tinggi dari Surabaya namun justru penjualan Kebab Baba Rafi menurun membuat pasangan ini memutuskan untuk memindahkan kantor dan usaha mereka ke Jakarta. 

Kemajuan Kebab Baba Rafi yang sangat pesat tanpa didukung sumberdaya pengelolaan yang baik membuat usaha tersebut carut marut. Keuntungan besar selama ini seakan tidak terlihat karena pengelolaan yang sangat buruk. Proses bisnis yang selama ini hanya dihandle oleh Nilamsari dan suami akhirnya membuat keputusan bisnis yang diambil menjadi bias. Hampir setiap keputusan bisnis yang diambil hanya berdasarkan asumsi dan pemikiran mereka tanpa melakukan langkah-langkah yang tepat dalam mengambil keputusan

Tahun 2009 menjadi titik balik Nilamsari, mereka memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan memindahkan kantor pusat Kebab Baba Rafi ke Jakarta. Disinilah menjadi titik balik usaha mereka, perlahan dan pasti usaha mereka menemui titik balik hingga akhirnya dapat melunaskan hutang hingga Rp14Milyar dalam waktu 3 tahun

Infografis perjalanan bisnis Kebab Baba Rafi 

Di Indonesia per Desember 2018 , total terdapat sebanyak 2.000 merk waralaba dengan total pekerja lebih dari 5juta orang dengan total transaksi mencapai Rp150 Trilyun3. Saat ini penyebaran bisnis waralaba masih belum merata dengan 60% waralaba umumnya masih terkonsentrasi di kota besar dan sisanya didaerah. Tahun 2019 ini diprediksi pertumbuhan waralaba mencapai 5% dibandingkan tahun sebelumnya4. Namun dengan pertumbuhan waralaba yang cukup signifikan, masih banyak waralaba yang mengalami kebangkrutan yang dikarenakan kesalahan dalam pengelolaan sehingga walaupun pertumbuhan cukup tinggi namun diimbangi dengan bergugurannya waralaba yang lainnya5



6 Steps In Decision Making

Kita dapat memetik pelajaran berharga tentang pentingnya pengambilan keputusan yang tepat dalam berbisnis. Pengambilan keputusan yang tepat adalah proses membuat pilihan dengan mengidentifikasi keputusan, mengumpulkan informasi, dan menilai resolusi alternatif. 

Menggunakan proses pengambilan keputusan selangkah demi selangkah dapat membantu kita untuk membuat keputusan yang lebih baik dan bijaksana dalam mengatur informasi yang relevan dan menentukan alternatif. Pendekatan ini memungkinkan Nilamsari memilih alternatif yang paling menguntungkan sehingga terhindar dari membuat keputusan yang tidak efektif dan merugikan baik dari sisi financial, ethical, legal maupun practical


Cognitive Bias in Decision Making

Nilam sari dan suami membuat kesalahan dalam mengambil keputusan bisnis berulang-ulang kali. Hal ini disebut juga dengan systematic error, dimana seseorang membuat kesalahan yang sama secara terus-menerus dan menghasilkan keputusan bisnis yang buruk. Di dalam pengambilan keputusan bisnis yang didasari oleh informasi yang tidak jelas, ketidakpastian dan secara terburu-buru akan menghasilkan Cognitive biases dalam mengambil keputusan.  

Menurut psychologists Daniel Kahneman dan Amos Tversky Terdapat 4 Cognitive Bias in Decision Making, antara lain:

  1. Prior Hypothesis Bias
  2. Representativeness Bias 
  3. Illusion of control
  4. Escalating Commitment



Dalam hal ini, Nilam sari mengalami 2 Bias yakni Representative Bias dan Illusion of Control

Representativeness bias, yakni sebuah bias kognitif yang dihasilkan dari kecenderungan untuk mengeneralisasi secara tidak tepat dari sejumlah kecil sample, sehingga menganggap keseluruhan bisnis yang akan digeluti akan menguntungkan. 

Asumsi banyak orang terkait kemudahan bisnis kost-kostan membuat Nilam sari tergiur tanpa mempertimbangkan feasibility study yang mendalam seperti aspek lokasi, monitoring penghuni, dan jumlah investasi yang tertanam, dll.

Hal yang sama berlaku ketika Nilam mencoba untuk ekspansi ke bisnis Batubara yang dikenal dengan “emas baru”. Selama tahun 2000-an, “boom komoditas” menjadikan industri batubara sangat menguntungkan karena harga batubara yang sangat tinggi1. Oleh karena itu, banyak perusahaan dan keluarga kaya memutuskan untuk berinvestasi di pertambangan batubara. Sebagai OKB (Orang Kaya Baru), hal ini jelas menarik minat Nilam sari untuk menginvestasikan sejumlah uangnya dibisnis ini tanpa melihat dan mempelajari lebih dalam tentang investasi batubara tersebut. Hingga akhirnya harga komoditas tersebut anjlok dan Nilamsari mengalami kerugian yang cukup dalam

Sedangkan Illusion of Control adalah sumber bias kognitif yang dihasilkan dari kecenderungan untuk melebih-lebihkan kemampuan seseorang untuk mengendalikan sebuah kegiatan atau event. 

kekhawatiran untuk meng-hire karyawan yang lebih berpengalaman karena takut dicurangi membuat bisnis Kebab Baba Rafi dikelola secara “one man show” yakni oleh Nilam Sari dan Suami. Mereka akhirnya begitu percaya diri akan kemampuan mereka dalam menghandle bisnis Kebab Baba Rafi yang mengusung pola franchise ini tanpa bantuan dari karyawan yang memiliki pengalaman dan kemampuan untuk membantu mereka untuk menghandle bisnis ini. 

Akhirnya, Bisnis Kebab Baba Rafi yang berkembang pesat sempat collaps di tahun 2008-2009 karena buruknya operasional manajemen, proses bisnis yang tidak efisien dan SDM yang tidak siap karena pertumbuhan bisnis yang tinggi


WHAT IF, SHE CAN TURN BACK THE TIME AND PREVENT THE LOSS SHE HAD

Hampir seluruh keputusan yang diambil oleh perusahaan-perusahaan besar didunia diputuskan melalui group atau kelompok manager daripada individu. Hal ini untuk mencegah terjadinya bias dalam pengambilan keputusan bisnis. Groupthink adalah pola kesalahan dan bias yang terjadi pada suatu kelompok yang berusaha untuk mencapai suatu kesepakatan bisnis diantara mereka sendiri tanpa memperhitungkan apakah informasi yang didapatkan untuk menghasilkan keputusan tersebut relevan ataupun akurat. 

Ada 2 solusi untuk mengatasi pengambilan keputusan bisnis yang bias dan menghindari adanya groupthink yakni dengan menggunakan pola Devils Advocacy dan Dialecticaly Inquiry


Devil Advocacy adalah analisa pengambilan keputusan secara kritis untuk memastikan kekuatan dan kelemahan dalam pengambilan suatu keputusan. Dalam hal ini, salah satu anggota berperan sebagai “Devil’s Advocate” yang memberikan kritik dan tantangan atas keputusan yang akan diambil dengan harapan group dapat menemukan alternatif keputusan yang lebih baik. Dalam hal ini, pengambil keputusan dapat menghindari adanya kemungkinan bahaya yang dapat ditimbulkan dengan adanya keputusan yang tidak tepat

Dialectical Inquiry sebaliknya, tipe ini adalah dengan membandingkan 2 alternatif keputusan dan  masing-masing grup memberikan masukan atas alternatif keputusan yang dibuat oleh grup lainnya

Dalam kasus Kebab Baba Rafi, tipe pengambilan keputusan yang baiknya dilakukan adalah dengan menggunakan tipe Devil Advocacy. Tipe ini lebih mudah digunakan karena melibatkan lebih sedikit waktu dan upaya dari managemen daripada Dialectical Inquiry. 

Pengambilan keputusan yang bias karena mengandalkan pengaruh akan tanggapan segelintir orang akan investasi yang menguntungkan serta ketakutan mereka akan meng-hire karyawan yang lebih kompeten dapat teratasi sejak awal jika mereka benar-benar menerapkan Group Decision Making. Bagi sebagian orang kerugian 14 Milyar sangatlah besar, namun bagi pasangan Nilamsari dan Suami hal tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga dan menjadi landasan atas kemajuan usahanya saat ini hingga akhirnya mereka dapat bangkit dan mengembangkan sayap usahanya hingga ke mancanegara


`

  1. https://www.sahamok.com/grafik-harga-komoditi/batubara/
  2. https://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/komoditas/batu-bara/item236
  3. https://katadata.co.id/berita/2018/07/20/transaksi-industri-waralaba-diprediksi-tumbuh-hingga-15-tahun-ini
  4. https://peluangusaha.kontan.co.id/news/2018-pertumbuhan-industri-waralaba-10-20
  5. https://wartakota.tribunnews.com/2019/09/06/sepanjang-2018-pertumbuhan-bisnis-waralaba-capai-rp-150-triliun-tahun-ini-bisa-naik-5-persen

CONTRIBUTOR :

  1. FADEL KHALIF MUHAMMAD;
  2. TOGA PERDANA;
  3. ADITYA JOKO PAMBAYUN;
  4. RIZZA DWI NUSITA
  5. BRIGITTA TITA GILDANIA; 
  6. VELLA WANI NUZHA; 
  7. CHITRA ANNISA RAHMANINGTYAS;

Like it? Share with your friends!

7
7 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
1
Confused
Sad Sad
1
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
2
Love
OMG OMG
3
OMG
Win Win
3
Win
Goaldigger

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format