Puyo Pudding: Dessert Manis Dari Pembelajaran Yang Pahit

Dalam dunia bisnis kepercayaan menjadi barang yang paling mahal dan Puyo membayar pelajaran tersebut dengan harga yang tinggi.


2
2 points

Seorang vlogger bernama Rico Huang mewawancarai dua orang entrepreneur kakak beradik yaitu Adrian Agus dan Eugene Patricia yang sudah jatuh bangun di dunia bisnis makanan penutup Indonesia. Mereka merupakan Founder booth dessert yang cukup populer di kalangan anak muda kota-kota besar di Indonesia bernama Puyo. Puyo sendiri merupakan silky dessert berupa puding dengan tekstur yang sangat lembut seperti kembang tahu namun hanya mengandung 120 cal yang berarti cukup rendah kalori untuk dikategorikan sebagai makanan penutup.

Puyo: Silkiest Pudding You Will Ever Taste

Brand Puyo sudah berdiri sejak tahun 2013, tiga bulan pertama mereka hanya memulai berjualan secara online dan offline mengikuti permintaan pasar yang masih minim. Walaupun begitu langkah awal ini nantinya menjadi titik tumpu bagaimana Puyo bisa berekspansi membuka gerai grab and go di mall-mall kota besar di Indonesia. Modal awal dari berjualan bazaar ke bazaar ditambah dengan animo masyarakat yang baik, akhirnya mereka berhasil untuk bisa mendapat persetujuan membuka gerai di mall. Mereka membukaa booth pertama Puyo di Alam Sutera Living World, sekarang Puyo sudah memiliki 40 cabang, berada di Jabodetabek dan Bandung hingga memiliki lebih dari 200 pegawai.

Awal mula puding Puyo ini muncul karena kedua orang tua Founder mempunyai hobby memasak dan bereksperimen dengan makanan puding. Dari inspirasi ini kedua kakak adik berpikir untuk bisa membuat puding dengan tekstur yang lebih lembut, memiliki variasi rasa yang banyak, dan tentunya sehat rendah kalori

Bermodalkan dari orangtua sebesar lima juta rupiah, Adrian dan Eugene mencoba membeli bahan dan bereksperimen selama tiga bulan untuk bisa menghasilkan puding yang sesuai dengan selera pasar. Awalnya Puyo memiliki lima variasi rasa yaitu bubble gum, taro, peach, vanilla, dan chocolate. Sekarang Puyo sudah memiliki 20 variasi rasa tetapi hanya ada 11 variasi rasa yang selalu menjadi favorit pasar.

Sumber: Instagram Puyo Desserts

Dibalik kesuksesan Puyo bukan berarti kedua pengusaha ini tidak pernah mengalami kegagalan. Saat pertama kali mengikuti bazar acara musik di suatu kampus Puyo hanya bisa terjual 25% sehingga 75% produknya harus dibawa pulang. Yang paling menjadi pelajaran terberat adalah ketika mereka akan membuka outlet ke-4, Adrian dan Eugene mengalami penipuan financial sebesar 80 juta rupiah. Dari sini mereka belajar bahwa tidak selamanya nature bisnis selalu baik dan kedepannya mereka semakin berhati-hati dalam berinvestasi. Hasil dari pelajaran ini membuat Puyo bisa berkembang menjadi puding favorit di masyarakat Indonesia Kedua pengusaha bervisi menjadi lokal brand agar masyarakat Indonesia dapat mencintai produk lokal yang tidak kalah dengan brand internasional.

Decision Making

Proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Adrian dan Eugene pada saat mendirikan Puyo merupakan keputusan yang dilakukan in response to opportunities, dimana Adrian dan Eugene melihat adanya peluang/kesempatan dimana ayah mereka senang melakukan eksperimen terhadap makanan dan juga rasa keingintahuan masyarakat Indonesia terhadap sesuatu yang unik dengan cara memberi nama Silky Dessert sebagai produk yang mereka jual walaupun pada kenyataannya dessert yang mereka jual merupakan makanan yang sudah sangat umum di Indonesia yaitu pudding. Adrian dan Eugene juga melakukan non-programmed decision making dimana sepasang kakak beradik tersebut belum pernah memiliki pengalaman membuka usaha/bisnis dan tidak terbayang akan membuka usaha/bisnis bersama sama.

Begitu pula dengan pengambilan keputusan yang mereka lakukan ketika mengalami kerugian sebesar 80 juta rupiah dimana, Adrian dan Eugene menjadi korban penipuan ketika mereka ingin memperbesar kapasitas produksi dan juga penyimpanan produk mereka dengan mendirikan cold storage di sebuah ruko. Adrian dan Eugene hanya mengambil keputusan in response to opportunities dan juga non-programmed decision making karena Adrian dan Eugene dapat melihat kesempatan untuk mengembangkan kapasitas produksi dan juga penyimpanan dan ini merupakan keputusan pertama mereka terhadap pengembangan kapasitas produksi dan juga penyimpanan dari Puyo Silky Dessert.

Dari setiap keputusan yang diambil oleh Puyo, kita dapat menganalisis dengan menggunakan teori cognitive biases. Yang pertama adalah prior Hypothesis Bias. Teori ini menjelaskan bahwa keputusan yang diambil adalah hasil dari keyakinan si pembuat keputusan itu sendiri bahkan ketika ada bukti bahwa keyakinan mereka salah dan mengabaikan segala informasi yang berlawanan dengan keyakinan si pembuat keputusan. Puyo mengikuti bazar musik sekolah dengan keyakinan mereka bahwa produk mereka akan laku sesuai dengan target. Tapi kenyataannya, hanya 25% dari produk Puyo yang terjual. Masalah yang kedua terjadi saat Puyo mengalami kerugian karena ditipu sebesar 80 juta rupiah saat membuka gerai ke-4 nya. Teori Representative bias dapat disangkutkan dengan masalah ini, dimana pengambil keputusan menggeneralisasi secara tidak tepat dari pengalaman buruk yang mereka alami sebelumnya. Disaat kejadian buruk itu melanda Puyo, awalnya mereka merasa tertekan dan takut untuk mengembangkan Puyo lagi. Teori Escalating Commitment juga dapat dikaitkan dengan keputusan pihak Puyo untuk tetap melanjutkan membuat gerai ke-4 mereka walaupun sudah tertipu 80 juta. Karena Puyo juga yakin bahwa saat mereka membuka gerai ke-4 tersebut, itu akan mengembangkan usaha mereka menjadi lebih besar, jadi mereka mengambil resiko untuk menuangkan lebih banyak modal walaupun sudah tertipu.

Dari kisah bagaimana puyo akhirnya bangkit, akan ada beberapa langkah yang mungkin dapat membantu Adrian dan eugene dalam mengambil keputusan sehingga tidak mudah terjatuh dalam mengembangkan bisnis mereka. Salah satu cara yang mungkin dapat dipertimbangkan dalam mengambil keputusan yang baik adalah dengan memperbaiki kualitas kelompok dan individu itu sendiri yang berada di dalam perusahaan dalam mengambil keputusan. Hal yang dapat dilakukan bisa memakai strategi devil’s advocacy atau dialectical inquiry. Devil’s advocacy merupakan strategi perusahaan dengan membentuk suatu kelompok yang akan mengkritisi dan memberikan saran terbaik kepada perusahaan ini secara objektif dari segi sudut pandang yang berbeda. Misalkan dari segi produksi banyak produk puyo yang cacat dan akhirnya dibuang begiu saja. Manager kalian harus membetuk suatu tim khusus untuk melihat apakah hal yang mereka perbuat dapat dipertanggungjawabkan atau tidak agar bisnis dapat berkembang dengan baik dan membuat serta mengevaluasi keputusan alternative dari situasi yang dihadapi. Melalui cara ini, pengambil keputusan akan menyadari bahaya dari groupthink. Di sisi lain, dialectical inquiry merupakan strategi perusahaan dalam menganalisis keputusan, alternative keputusan, potensi serta nilai perusahaan tersebut. Jika menyinggung situasi puyo di saat saat kejatuhannya, menejer dapat membentuk dua kelompok yang dapat mengevaluasi keputusan alternative dengan hasil rembuk masing – masing kelompok dan memaparkan bagaimana opportunity dan pengambilan keputusan alternative yang mana sangat erat hubungannya. Selain itu, memilih solusi alternative yang lebih baik di banding tidakan yangdi adopsi oleh perusahaan atau organisasi.


Like it? Share with your friends!

2
2 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
4
Genius
Love Love
4
Love
OMG OMG
3
OMG
Win Win
1
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format