Rakuten, Raksasa Jepang yang Tumbang di Indonesia

Pada Maret 2016, perusahaan dengan julukan Japan's Amazon ini resmi menutup layanan marketplace mereka di tiga negara sekaligus, salah satunya Indonesia


2
2 points

Akhir – akhir ini kita sering mendengar istilah “startup”, istilah yang sering disematkan pada sebuah perusahaan baru yang belum lama beroperasi dan masih dalam tahap berkembang. Start-up seolah menjadi primadona dalam dunia bisnis saat ini, tidak hanya di Indonesia, namun juga di seluruh dunia. Popularitas itu ada karena sejumlah perusahaan startup mampu berkembang menjadi sangat besar dan bahkan mampu mengubah dinamika dunia bisnis dalam proses pengembangannya. Jumlah startup di Indonesia pun terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018, menurut laporan Indonesia Digital Creative Industry Society, jumlah perusahaan startup mencapai 992 perusahaan. Meski menjamur, ternyata hanya sebagian kecil yang bisa bertahan, hingga menyabet gelar unicorn dan decacorn, dan sisanya dinyatakan “gulung tikar”. 

CB Insight melalui tirto.id menganalisa bahwa 9 dari 10 startup mengalami kegagalan karena beberapa faktor. Menurut laporannya, sebagian besar start-up gagal karena mereka tidak dapat melayani apa yang dibutuhkan oleh pasar. Sebanyak 42 persen dari 101 tulisan dari para founder perusahaan start-up menyatakan hal tersebut. Sementara itu, 29 persen menyebutkan bahwa banyak dari perusahaan start-up kehabisan dana. Sisanya bervariasi, mulai dari tim yang tidak tepat, produk yang buruk, tersingkir oleh pesaing yang lain, hingga gagal melakukan pivot. Dalam kasus start-up di Indonesia, analisis dari laporan CB Insights itu terbukti. Banyak perusahaan start-up yang gagal di Indonesia memiliki konsep bisnis yang terfokus pada “menyelesaikan masalah yang menarik untuk diselesaikan,” bukan memfokuskan pada apa yang dibutuhkan oleh pasar. Hingga Februari 2018, berikut lima alasan yang paling sering ditemui adalah: 

  1. Pasar tidak membutuhkan produk yang diciptakan startup (42%)
  2. Kehabisan uang sebagai ongkos operasional (29%)
  3. Tim yang buruk (23%)
  4. Kalah bersaing (19%)
  5. Masalah harga jual layanan / produk yang tidak tepat (18%)

sumber : tirto.id

Kegagalan juga dialami oleh salah satu startup milik Jepang yang berusaha mengadu nasibnya di Indonesia, yaitu Rakuten. Rakuten sendiri adalah sebuah perusahaan internet dan perdagangan elektronik Jepang yang berpusat di Tokyo, Jepang. Sejak tahun 2011, Rakuten yang berarti optimisme dalam bahasa Jepang, membuka peruntungannya di Indonesia dengan menggandeng MNC Group. Rakuten mengusung konsep bisnis B2B2C (Business to Business to Customer), yang berarti mall dalam dunia maya, dimana Rakuten menggabungkan berbagai merchant dalam toko dunia mayanya. Tidak hanya menggaet merchant dalam negeri namun juga luar negeri atau merk global seperti Yamaha, Panasonic, Pocari Sweat dll. Pelanggan juga diberi kemudahan transaksi dengan online payment internet banking, ATM, hingga cash on delivery (COD) begitu barang sampai di tujuan.

Namun naas Rakuten mengumumkan bahwa mereka menutup layanan marketplace mereka di tiga negara sekaligus, yakni Singapura, Malaysia, dan Indonesia pada Maret 2016. Channel News Asia mengabarkan, hengkangnya Rakuten dari tiga negara terpenting di Asia Tenggara adalah imbas dari pergeseran yang terjadi di bisnis online, dari yang sebelumnya mengadopsi model business-to-business-to-customer (B2B2C), kini menjadi customer-to-customer (C2C) dengan fokus di mobile commerce (m-commerce). Sementara itu, Japan Times melaporkan Rakuten kesulitan menghadapi kompetisi bisnis online yang sangat ketat di kawasan ASEAN. Tekanan dari pemain asing dan lokal sangat besar, agresif. Investasi ratusan juta dolar tak berhenti mengalir ke kas startup. Rakuten sendiri kesulitan menghadapi kompetitor besar seperti Lazada dari Jerman.

Sebelum akhirnya hengkang dari Indonesia, seringkali Rakuten mengalami perjalanan yang tidak mulus. Pada Agustus 2013, Rakuten secara resmi memutuskan untuk mengakhiri kerjasama joint venture dengan MNC untuk Rakuten Indonesia (PT Rakuten-MNC), setelah menandatangani perjanjian kerjasama tahun 2010 lalu dengan 51% untuk Rakuten Jepang dan 49% untuk MNC. Ini merupakan kali kedua Rakuten Jepang mengakhiri kerjasama joint venture setelah sebelumnya melakukan hal sama di Cina. Sekretaris korporasi MNC Group, Syafril Nasution mengatakan kerja sama tersebut berhenti karena perbedaan bisnis model dan visi perusahaan. Namun karena banyak perbedaan prinsip, kedua perusahaan besar tersebut memilih untuk mengambil jalan masing-masing. Selepas dari MNC Group, Rakuten lalu membentuk perusahaan Rakuten Indonesia.

Survei yang dilakukan oleh Rakuten pada tahun 2013 menunjukkan bahwa 84% orang Indonesia pernah mengalami ketidakpuasan saat berbelanja online dalam 12 bulan terakhir. Rakuten memaparkan hasil penelitian tentang perilaku konsumsi melalui situs belanja online. Dalam laporan Rakuten Smart Shopping Survey, 25 persen dari 2.000 konsumen di Indonesia, Taiwan, Thailand, dan Malaysia mengaku pernah berbelanja online tanpa penyesalan. Meski demikian, 48 persen dari jumlah responden mengungkapkan bahwa mereka tidak puas berbelanja melalui dunia maya karena tidak sedikit produk yang didapatkannya berbeda dengan yang terpampang di etalase situs. Rakuten juga mendapati kurang dari seperempat pebelanja online yang betul-betul menuntaskan proses belanja lewat internet. Mayoritas memilih hanya berselancar dan mencari produk online, tapi sering akhirnya batal membeli lantaran tak jelas apakah penjual atau produknya dapat dipercaya, begitu juga saat mendapati harganya terlalu mahal. Sementara konsumen akan selalu menjadikan harga sebagai faktor sebelum memutuskan untuk berbelanja.

Rupanya hal ini juga terjadi pada Rakuten sendiri, ditemukan beberapa review customer yang kecewa dengan pelayanan Rakuten Indonesia yang tidak profesional. Berikut salah satu yang di-posting dalam suara pembaca news.detik.com : 

“…Tanggal 16 Mei 2014, saya mendapatkan konfirmasi dari JNE bahwa 2 unit handphone senilai Rp 6,55 juta yang saya beli di Rakuten hilang pada saat pengantaran. 

Rakuten menyatakan bahwa transaksi tersebut batal dan secara sepihak menghapus super poin yang saya peroleh atas order tersebut. Dan Rakuten tidak mau mengembalikan uang yang sudah saya bayarkan walaupun transaksi tersebut batal dan saya diharuskan menunggu uang klaim dari JNE.

Ketika ada satu order saya dibatalkan secara sepihak oleh penjual di Rakuten, membutuhkan waktu dua bulan untuk mengembalikan dana pembatalan tersebut ke kartu kredit saya, itu pun setelah berkali-kali saya telepon. 

Saya merasa sangat kecewa dengan pelayanan seperti ini, semoga dengan ditayangkannya surat pembaca ini, Rakuten dapat memperbaiki layanannya dan menanggapi keluhan saya. Terimakasih.”

Adapun pernyataan lainnya yang diungkapan Rakuten secara resmi bahwa penutupan perusahaannya di Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya karena visi perusahaan di tahun 2020 yang merupakan sebuah target pencapaian yang ingin didapatkan oleh Rakuten dalam hal operasional perusahaan baik yang ada di pusat maupun di beberapa negara lain. Dalam target tersebut, Rakuten ingin mencapai pendapatan sebesar 1700 miliar Yen atau setara dengan Rp 203 triliun. Sedangkan untuk pendapatan operasional non GAAP, Rakuten memasang target sebesar 300 miliar Yen atau sama dengan Rp 35 triliun. Hubungan antara penutupan layanan Rakuten di kawasan Asia Tenggara dengan Visi 2020 tersebut adalah, pada dasarnya Rakuten ingin memaksimalkan pasar yang lebih potensial dan menutup layanan di negara dengan kontribusi laba yang kurang menjanjikan. Seperti diketahui saat ini di Jepang Rakuten masih menjadi salah satu ecommerce raksasa yang menguasai mayoritas pasar belanja online negeri Sakura. Bersama dengan target pasar di kawasan Asia Timur dan Amerika Serikat, Rakuten ingin lebih memaksimalkan potensi yang ada di negara tersebut. Dalam pernyataan resmi yang tertulis di situs Rakuten.co.id, pihak pengembang menyatakan permintaan maaf kepada seluruh pengguna Rakuten Indonesia, termasuk pembeli maupun merchant yang telah mendukung Rakuten selama ini. Selain itu Rakuten juga menyebutkan adanya kemungkinan layanan baru yang akan dirilis di kemudian hari.

Sepak Terjang Rakuten

  • Mei 2008 – Mulai beroperasi di Taiwan
  • Oktober 2009 – Mengambil alih e-commerce asal Thailand, Tarad
  • Oktober 2010 – Meluncurkan e-commerce Lekutian di Cina bersama Baidu
  • Juni 2011 – Meluncurkan Rakuten Belanja di Indonesia
  • April 2012 – Menutup Lekutian
  • Mei 2012 – Membuka marketplace di Malaysia
  • Maret 2013 – Rakuten Belanja goyah
  • April 2013 – Rakuten Belanja masih beroperasi
  • Agustus 2013 – Rakuten resmi ‘bercerai’ dengan MNC
  • Desember 2013 – Mendirikan marketplace di Singapura
  • Maret 2016 – Menutup layanan marketplace mereka di Singapura, Malaysia, dan Indonesia

Hengkangnya Rakuten dari Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya bisa jadi dikarenakan perusahaan tidak mengenali lingkungan bisnisnya, tantangan apa yang dihadapi, siapa yang dilawan, dan kekuatan apa yang dipunya oleh Rakuten, ditambah lagi Rakuten sendiri berasal dari Jepang perlu tahu benar bagaimana pasar maupun industri bisnis dari masing-masing negara tujuan ekspansinya. Menurut Fredi Rangkuti analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunity), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Proses pengambilan keputusan strategi selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian, perencanaan strategi harus menganalisa faktor-faktor strategi perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang saat ini.

 SWOT Analysis

 

Strengths

Weaknesses

Di negara asalnya, Jepang, Rakuten memiliki reputasi yang baik dengan julukan “The Amazon of Japan”

Rakuten memiliki pengalaman ekspansi global sejak tahun 2005 ke berbagai negara Eropa, Amerika dan Asia

Buruknya manajemen operasional yang mengakibatkan pelayanan kurang memuaskan

Kurang adaptif terhadap lingkungan bisnis Indonesia, salah satunya pembubaran joint venture yang dilakukan dengan MNC Group dan strategi-strategi yang tidak tepat

Opportunities

Threats

Indonesia merupakan salah satu pasar e-commerce terbesar di ASEAN. Menurut data Bank Indonesia, 2017, nilai transaksi e-commerce pada tahun 2011 sebesar US$ 1 Miliar dan dengan lonjakan pada tahun 2014 sebesar US$ 2.6 Miliar

Berdasarkan DBS Insight, adanya persepsi negatif masyarakat Indonesia terhadap e-commerce pada saat itu, seperti asumsi pembayaran tidak aman, produk tidak sesuai gambaran dan tidak mengerti cara berbelanja online

Persaingan industri e-commerce yang sangat kompetitif, baik dari pesaing lokal maupun sesama perusahaan ekspansi

Porter’s Five Forces

Level of rivalry in an industry

Dunia persaingan e-commerce di Indonesia sangat kompetitif, jika melihat urutan e-commerce terbesar berdasarkan jumlah pengunjung, berdasarkan data iPrice tahun 2018, peringkat dua teratas berasal dari startup dalam negeri yaitu Tokopedia dan Bukalapak. Berdasarkan tahun peluncurannya, kedua e-commerce lokal ini telah lebih dahulu dibandingkan dengan Rakuten, Tokopedia pada tahun 2009 dan Bukalapak pada tahun 2010. Sedangkan urutan ketiga dan keempat ditempati oleh e-commerce global Shopee dan Lazada. Berbeda nasib dengan Rakuten, Shopee dan Lazada berhasil melekat di hati pengguna e-commerce di Indonesia.

Strategi Shopee dalam penetrasi ke Indonesia dikatakan berhasil karena adanya riset mengenai pola konsumsi Indonesia. Berdasarkan program yang dijalankan, konsep yang paling diminati adalah gratis ongkir. Selain itu, pembeli Indonesia juga menyukai periode kampanye yang bagus, yaitu satu periode di mana mereka bisa memiliki banyak aktivitas dalam platform. Untuk menyikapi hal tersebut, Shopee menggarap Kampanye 10.10. Tren online shopping di Indonesia juga sedikit berbeda dengan di negara lain. Di Indonesia periode online shopping melalui desktop tidak terlalu lama, dan langsung beralih pada mobile apps. Maka dari itu, Shopee langsung memfokuskan diri pada mobile shopping sejak awal. Dari rangkaian strategi yang dijalankan, Shopee berhasil membangun brand awareness dan engagement user dengan masyarakat Indonesia.

Threat of new entry

Industri berbasis teknologi seperti Rakuten memiliki High Thread of New Entrants. Saat ini Indonesia memang menjadi pangsa pasar terbesar di Asia Tenggara bagi pemain e-Commerce. Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 269 juta jiwa dan tingginya penggunaan smart phone saat ini dan diproyeksi akan terus meningkat. Sebelumnya, laporan State of Internet dari Akamai menyatakan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan adopsi digital tertinggi di dunia, mengalahkan India dan China. Hal ini menjadi peluang besar bagi pemimpin pasar di Indonesia untuk turut memiliki posisi strategis di industri e-Commerce dalam skala regional.

Walaupun dalam sejarah mencatat banyaknya bermunculan startup ecommerce baik dari dalam negeri maupun luar negeri namun ternyata tidak banyak yang bertahan lama dalam pasar Indonesia.

sumber : iprice.co.id

Bargaining Power of Supplier

Ditinjau dari business model Rakuten, pada pembahasan Porter’s Five Forces kali ini peran suppliers diganti dengan peran mitra. Mitra yang dimaksud dapat berarti merchant dan mitra logistik. Dengan kondisi di Indonesia dapat dikatakan Low Supplier’ Power, dimana Rakuten memiliki banyak mitra merchant baik dari lokal, usaha mikro bisnis maupun merek-merek global seperti Panasonic. Sedangkan pada saat itu untuk mitra logistik sendiri terdapat Pos Indonesia, TIKI dan JNE. Dalam kompetisi ini, hal yang perlu diperhatikan oleh Rakuten adalah koordinasi dari para mitra baik dari merchant mengenai bagaimana kesesuaian produk yang dijual terhadap foto atau keterangan yang ditampilkan dan bagaimana mitra logistik dapat memberi jaminan atau garansi agar pengiriman produk berjalan lancar dan tepat waktu kepada customer.

Threat of substitute products

Potensi subtitusi terbesar pada bisnis e-commerce adalah toko ritel, dimana experience yang didapatkan oleh customer seperti mencoba dan merasakan langsung tidak dapat dialami melalui toko online, dalam hal ini produk yang memiliki tingkat persaingan tinggi dengan toko ritel adalah fashion dan elektronik. Ancaman substitusi lainnya juga datang dari media sosial seperti Instagram dan Facebook, dimana peran keduanya saat ini tidak hanya sebagai jejaring sosial namun sebagai account untuk menjajakan barang dagangan.

Bargaining Power of Customer

Kemudahan akses informasi konsumen memiliki kekuatan yang sangat besar. Konsumen semakin dengan mudah untuk membandingkan harga antar satu e-commerce dengan e-commerce yang lain, belum lagi ditambah dengan “perang” promo yang ditawarkan demi menggaet konsumen. Pada hal ini konsumen memiliki banyak pilihan untuk membeli produk yang sama di situs e-commerce yang lain.

Solution 

Top E-Commerce berdasarkan Ranking PlayStore Kuartal I 2017-Kuartal II 2019

Sumber : iPrice, 2019, melalui databoks.katadata.co.id

Shopee Jadi E-Commerce Paling Top dari Masa ke Masa

Rakuten dapat menilik keberhasilan startup lain yaitu shopee yang juga ikut mengadu nasibnya di Indonesia. Dibandingkan dengan Rakuten, strategi Shopee dalam bisnis e-commerce tidak perlu diragukan lagi. Pasalnya, dari hasil riset Snapcart soal e-commerce di Indonesia, terkuak bahwa Shopee merupakan e-commerce paling populer. Kesuksesan tersebut tentu bukan tanpa sebab. Beragam strategi Shopee gunakan untuk bisa memikat user, baik sebagai pembeli maupun penjual.

  • Teknik pemasaran mengikuti tren

“Di Shopee pi pi pi pi pi”

Shopee menggunakan hal-hal yang sedang viral atau tren buat jadi materi konten pemasarannya. Dengan begitu, masyarakat jadi lebih mudah ingat dengan brand-nya.

  • Menggunakan media yang tepat

Sejak awal kemunculannya, Shopee memfokuskan bisnis kepada pengguna mobile alias aplikasi ponsel. Brand ini lantas dikenal sebagai pelopor aktivitas belanja melalui ponsel. Strategi ini diterapkan berdasarkan riset dari eMarketer yang menyebutkan pengguna ponsel di Indonesia berkembang pesat dibanding negara lain di Asia Tenggara. Sesuai perkiraan, dari 200 ribu pesanan setiap harinya, 90 persen diantaranya berasal dari aplikasi ponsel.

  • Gratis ongkir

Sampai saat ini Shopee masih memberikan promo berupa gratis ongkir bagi para penggunanya. Ongkir diberikan dengan batas pembelian tertentu. Meski nominalnya tidak terlihat besar, bagi calon konsumen, ongkir gratis bisa jadi daya tarik yang memikat.

  • Jaminan harga termurah

Harga adalah faktor utama yang dijadikan pertimbangan oleh konsumen sebelum membeli sesuatu. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh Shopee untuk bisa bersaing dengan e-commerce lain, Shopee menggunakan kampanye “Garansi Harga Termurah, Uang Kembali 2x Lipat”.

  • Memiliki target pasar yang jelas

Strategi Shopee selanjutnya adalah memiliki target pasar yang jelas. Prioritas pasar Shopee adalah perempuan. Hal ini karena pengguna e-commerce di Indonesia didominasi oleh perempuan, terutama perempuan usia muda. Oleh sebab itu, Shopee berfokus kepada kebutuhan-kebutuhan perempuan, seperti produk kecantikan dan fashion perempuan. Dibanding memiliki target pasar yang luas tapi menjadi bias, akan lebih baik jika target pasar lebih terfokus.

Selain itu, melakukan pivot juga dapat digunakan sebagai jalan keluar sebuah perusahaan yang mengalami stagnan dalam bisnisnya. Pivot adalah istilah yang sering digunakan oleh pemain basket. Di dalam olahraga basket, pivot berarti mengubah arah dengan tetap berpijak pada salah satu kaki.

Istilah pivot ini juga berlaku dalam dunia startup. Jika dalam basket diharuskan merubah gerakan saat berlawanan dengan lawan, di dunia startup juga diharuskan mengubah strategi bisnis namun tetap mempertahankan visi bisnis itu sendiri. Beberapa perusahaan teknologi raksasa terbukti berhasil melakukan pivot dalam bisnisnya hingga akhirnya model bisnis barunya lebih terkenal dan banyak digunakan.

Sebagai contoh Instagram, media sosial yang banyak digunakan merupakan hasil dari pivot. Dulunya, Kevin Systrom dan Mike Krieger sebagai Co-Founder Instagram memiliki produk yang dinamakan Burbn. Nenek moyang Instagram ini menghadirkan fitur yang begitu banyak, mulai dari berbagi foto hingga check in lokasi.

Namun, Burbn gagal karena fiturnya yang tidak fokus dan terlalu banyak. Sehingga, mereka memilih untuk melakukan zoom in pivot dengan berbagai pertimbangan. Zoom in pivot merupakan salah satu metode pivot yang berfokus pada sedikit produk dan memilih mempertahankan fitur yang banyak digunakan oleh penggunanya.

Rakuten, dalam kegagalannya dapat melakukan pivot sebelum benar – benar mengambil keputusan untuk menutup layanannya di Indonesia. Ada banyak elemen yang dapat disesusaikan oleh startup ketika melakukan pivot, seperti teknologi di dalamnya, target pengguna, bentuk produk, hingga ide dasar.

Melakukan pivot bukanlah sesuatu yang memalukan bagi bisnis. Pivot justru mampu menyelamatkan suatu bisnis agar dapat beradaptasi dengan pasar dan menyelamatkan orang-orang di dalamnya.

Sumber :

Artikel ini ditulis oleh : 

  • Dewi Amelia
  • Mirza Zulkarnain
  • Rieza Sidrafil Febianti
  • Unggul Satriya Anugrah

Like it? Share with your friends!

2
2 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
2
Genius
Love Love
2
Love
OMG OMG
1
OMG
Win Win
1
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format