TEWASNYA BLU-JEK DI ERA BOOMINGNYA BISNIS TRANSPORTASI BERBASIS APLIKASI


0

Ojek adalah suatu moda transportasi yang menjawab kebutuhan masyarakat akan moda transportasi yang tepat dalam kehidupan sehari-hari di perkotaan. Dengan menggunakan sepeda motor tentunya jalan – jalan sempit serta kemacetan di tengah kota dapat dilewati dengan mudah. Namun dibalik hal tersebut, ojek memiliki kelemahan yaitu:

  • Harga yang relatif lebih mahal dibanding moda transportasi umum lain seperti angkot dan bus kota

  • Tidak adanya standar harga tertentu, harga bebas ditentukan oleh pengemudi.

  • Beresiko tinggi karena sepeda motor rentan dengan kecelakaan lalu lintas, dan juga resiko tindak kriminal.

Untuk menjawab hal tersebut muncullah startup transportasi online berbasis kendaraan roda dua untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan moda transportasi yang praktis, murah, dan mudah didapatkan.

Gambar 1 : Ojek vs Gojek

Sumber: www.poligrabs.co

Siapa yang tak kenal dengan Grab dan Go-Jek? Dalam beberapa tahun terakhir, keduanya jadi startup yang dominan di pasar berbagi tumpangan (ride-hailing). Bahkan keduanya kini sudah berstatus decacorn. Pada awal kemunculan Grab dan Go-Jek, banyak bermunculan startup – startup serupa yang menawarkan pelayanan yang seperti Blu-Jek, LadyJek, bahkan penyedia layanan transportasi internasional sekelas Uber pun pernah ikut meramaikan persaingan. 

Gambar 2: Nasib Ojek Online Bermodal Cekak

Sumber: www.tirto.id

Salah satu start up yang saat itu berpotensi besar menyaingi gojek adalah Blu-jek.  Muncul pada akhir 2015 perusahaan yang didirikan oleh Michael Manuhutu dan Garret Kartono ini dikenal dengan warna jaketnya yang khas berwarna biru, serta logo kompas GPS, banyak yang mengatakan mereka sebagai sebagai kompetitor kuat Gojek. Berkantor di Jakarta, mereka menjadi salah satu startup transportasi online yang berhasil memiliki armada dengan jumlah yang cukup besar. Blu-jek memiliki 4 layanan utama yaitu blu-rider (transport), blu-pick (kurir), blu-shop (belanja), blu-menu (makanan). Dengan mengambil nama depan “Blu” banyak yang pengguna yang berpikir ini adalah anak usaha baru perusahaan transportasi Blue Bird. Tapi nyatanya tidak. “Blu berasal dari kata blusukan, sementara Jek ya berarti ojek,” kata Garrett Kartono.

Source : Youtube

Ada 2 hal yang membuat Blu-jek cukup disenangi oleh masyarakat saat itu. Yang pertama adalah jumlah driver yang mencapai +/- 1000 orang, yang kedua adalah tarif yang cukup bersaing dengan gojek, grab, serta uber dan dengan brand image blu-jek yang identik dengan taksi blue bird, blu-jek menjadi mudah untuk menjadi viral di masyarakat. Namun hal tersebut tidak cukup untuk membuat blu-jek dapat bertahan dalam persaingan transportasi online, blu-jek dapat tetap berakhir sebagai start up yang tumbang sebelum berkembang. Ada beberapa hal penting yang membuat tumbangnya blu-jek, hal-hal tersebut adalah :

  • Minimnya fitur : Dengan modal para market leader yang jauh lebih besar, maka sangatlah sulit bagi blu-jek untuk mengimbangi perkembangan dan penambahan fitur baru di aplikasi nya.

  • Kekurangan armada yang operasional : dengan jumlah armada yang jauh lebih sedikit dibanding para market leader membuat blu-jek semakin kewalahan dalam bersaing. Konsumen jauh lebih cepat mendapatkan driver dengan aplikasi lain dibanding blu-jek.

  • Kepercayaan konsumen : dengan branding dan promosi besar-besaran dari gojek & grab, maka kepercayaan masyarakat terhadap kedua perusahaan tersebut semakin meningkat sehingga blu-jek mulai ditinggalkan pelanggan.

  • Kestabilan aplikasi : aplikasi para market leader yang jauh lebih stabil dibanding blu-jek

  • Kehabisan modal : Karena modal yang terbatas dan kurangnya minat investor untuk berinvestasi di blu-jek pada akhirnya tidak dapat menyelamatkan perusahaan dari kehancuran.


Regulasi Yang Mengatur Ojek Online


Pada saat awal munculnya layanan ojek online, belum ada payung hukum yang jelas yang mengatur bisnis ini. Ketika bisnis transportasi online mulai marak, pemerintah merasa resah karena tidak adanya payung hukum yang jelas. Lahirlah Surat Pemberitahuan Nomor UM.3012/1/21/Phb/2015 yang diteken Menteri Perhubungan Ignasius Jonan pada tanggal 9 November 2015. Melalui surat tersebut, Menhub Jonan melarang beroperasinya ojek maupun taksi berbasis aplikasi online. Argumentasi Jonan bersandar pada tidak tercantumnya ojek sebagai jenis transportasi umum yang diatur dalam undang-undang. 


Aturan itu mengacu pada Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan, Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Di Jalan Dengan Kendaraan Umum, Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 69 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Angkutan Barang. 


Niat Menhub Jonan menegakkan aturan ternyata mendapat protes dari masyarakat. Setelah media sosial bergejolak, Menhub memutuskan untuk mencabut Surat Pemberitahuan tersebut. HIngga pada akhirnya dikeluarkanlah Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019 tentang Perlindungan Keselamatan Pengguna Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat. Mengenai hukum yang mengatur kerjasama antara perusahaan ojek online dengan mitra ( pengemudinya ) masih belum dipayungi melalui Undang - Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Hal ini dikarenakan oleh status pengemudi ojek online yang bukan  merupakan karyawan namun adalah mitra perusahaan. Oleh karena hal tersebut pengemudi ojek online tidak mendapatkan fasilitas - fasilitas yang didapatkan oleh pekerja ( karyawan).


Gambar: Hubungan Pengojek & Perusahaan Aplikasi Ojek 

Sumber: www.hukumonline.com 

Analisis SWOT


Salah satu Management Tools yang sering digunakan dalam melakukan evaluasi adalah analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats)

Menurut Philip Kotler, pengertian analisis SWOT adalah evaluasi terhadap semua kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman, yang terdapat pada individu atau organisasi.

Menurut Pearce dan Robinson, pengertian analisis SWOT adalah bagian dari proses manajemen strategis perusahaan yang bertujuan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan utama perusahaan.

Kelemahan dan kekuatan utama tersebut dibandingkan dengan peluang dan ancaman ekstern sebagai landasan untuk menghasilkan berbagai alternatif strategi.


Secara garis besar terdapat 2 faktor utama yang mempengaruhi analisa SWOT, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Berikut penjelasan singkatnya:

1. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam suatu perusahaan, yaitu kekuatan dan kelemahan dari perusahaan itu sendiri. Adapun beberapa hal yang merupakan bagian dari faktor internal adalah;

·         Sumber daya keuangan yang memadai

·         Sumber daya manusia yang kompeten

·         Properti teknologi terkini

·         Kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan

·         Kemampuan pemasaran yang baik

·         Kemampuan distribusi yang baik

·         Dan lain-lain

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah semua faktor yang berasal dari luar perusahaan (ancaman dan peluang) dan berpengaruh terhadap performa perusahaan tersebut. Adapun beberapa hal yang merupakan bagian faktor eksternal adalah;

·         Tren bisnis

·         Budaya masyarakat

·         Sosial politik dan ideologi

·         Kondisi perekonomian suatu negara

·         Peraturan dan kebijakan pemerintah

·         Perkembangan teknologi

·         Dan lain-lain



Analisis SWOT Blu-Jek


Strengths (S)

1.  Brand image terkorelasi dengan Blue Bird sehingga mudah masuk ke pasar dan diingat oleh konsumen.

2.  Pelopor layanan pembayaran non-tunai dengan menggunakan e-cash.

3.  Data pengemudi disertai foto, nama dan plat kendaraan untuk menjamin keamanan dan privasi konsumen.

4.  Merekrut pengemudi ojek pangkalan sebagai pengemudi untuk meminimalisir benturan/penolakan di lokasi tertentu.

 

Weaknesses (W)

1.  Jumlah mitra yang masih terbatas (+/-1000 armada) sehingga meningkatkan waktu tunggu konsumen.

2.  Butuh modal besar untuk terus bersaing harga dengan kompetitor utama Gojek dan Grab.

3.  Kurang promosi kepada konsumen agar tertarik dengan pembayaran e-cash.

4.  Minimnya fitur jasa lain selain transportasi yang ditawarkan kepada konsumen.

 

Opportunities (O)

1.  Kebutuhan masyarakat perkotaan terhadap pelayanan jasa transportasi kendaraan roda-dua semakin tinggi seiring meningkatnya kemacetan.

2.  Pola perilaku dan selera konsumen beralih dari konvensional menjadi online.

3.  Pasar yang berpotensial tumbuh dengan mengembangkan jasa terkait transportasi online.

4.  Pekerjaan pengemudi ojek online dianggap lebih menguntungkan daripada pekerjaan kantoran.

 

Threats (T)

1.  Persaingan dengan Go-Jek dan Grab yang telah menguasai pasar ditambah persaingan dengan perusahaan jasa transportasi online sejenis lainnya.

2.  Harga kompetitor lebih murah dengan memberikan diskon besar-besaran.

3.  Ancaman terhadap pengemudi transportasi online di beberapa daerah tertentu.

4.  Birokrasi peraturan pemerintah dan daerah yang cenderung berubah-ubah.








5 Force Model (Porter)


Threat of New Entrants

Hambatan masuk (entry barriers) merupakan berbagai faktor yang akan menghambat pendatang baru (potential new entrants) memasuki suatu industri di Five Forces Model. Hambatan masuk yang rendah akan mengakibatkan suatu industri mengalami penurunan profitabilitas dengan cepat karena semakin meningkatnya persaingan di antara perusahaan dalam satu industri. Sebaliknya dalam Five Forces Model hambatan masuk industri yang tinggi, diasumsikan dapat mempertahankan daya tarik industri untuk jangka waktu yang panjang.

Pada kasus blu-jek hambatan masuk ke dalam industri jasa transportasi online dikarenakan sudah ada 2 pemain besar yakni Gojek dan Grab yang terlebih dahulu menguasai pasar. Kedua perusahaan tersebut secara agresif mengembangkan layanan tidak hanya jasa transportasi kendaraan roda 2, kini meliputi kendaraan roda 4 dan kendaraan angkut (box). Mereka lantas mengembangkan turunan layanan atas kendaraan roda 2 menjadi tidak hanya antar pelanggan  melainkan antar barang, pesan makanan, jasa kebersihan, salon, tukang pijat dan lain-lain. Sejumlah program promosi dan diskon dengan menggunakan transaksi non tunai membuat konsumen loyal terhadap aplikasi tersebut. Semua itu membutuhkan modal yang sangat besar, hal itu  dilakukan dalam rangka mendapatkan jumlah pelanggan sebanyak-banyaknya.  

Istilah-istilah tersebut di atas dalam teori ini disebutkan antara lain :

– Skala Ekonomi (Economies of Scale) adalah nilai efisiensi yang menguntungkan baru bisa dicapai dalam skala yang besar sehingga sulit bagi pesaing baru jika ingin masuk dengan skala industri yang kecil.

– Diferensiasi Produk (Product Differentiation) adalah keunikan yang dimiliki baik dalam bentuk fisik produk atau positioning produk yang membedakannya dari produk pesaing yang berada dalam industri yang sama. Perlu dipertimbangkan pula oleh new entrant untuk mengantisipasi loyalitas merek dari produk yang telah ada.

– Kebutuhan Modal (Capital Requirement) adalah besarnya biaya yang dibutuhkan untuk memasuki suatu industri bisnis.

– Antisipasi Pertumbuhan (Anticipated Growth) adalah antisipas atas kemungkinan pertumbuhan industri yang dapat terjadi dengan melihat data-data pendukung yang ada. Karena, bagi pemain yang baru memasuki bisnis tersebut dapat besar sekali pengaruhnya atau malah sangat kecil. Pengaruhnya akan besar bila pertumbuhan industri kecil dan pemainnya banyak sehingga kue yang sedikit akan dibagi menjadi bagian yang lebih kecil. Semantara jika baru ada sedikit pemain dan pasarnya cukup besar maka pengaruhnya akan kecil terhadap pendatang baru.


Bargaining Power of Suppliers

Dalam Five Forces Model Pemasok memiliki posisi tawar-menawar (bargaining position) yang berbeda-beda terhadap perusahaan di dalam Five Forces Model. Kemampuan pemasok untuk menentukan syarat-syarat perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak sangat dipengaruhi oleh elemen-elemen struktur industri sebagai berikut: differentiation of inputs, switching costs of supplier and firms in the industry, presence of substitute inputs, supplier concentration, importance of volume to supplier, cost relative to total purchases in the industry, impact of inputs on cost or differentiation, threat of forward integration. Dalam hal ini pemasok blu-jek adalah mitra kerja yakni para pengemudi dan mitra usaha layanan jasa lainnya. Jumlah mitra kerja dan mitra usaha berlimpah sehingga kedudukan perusahaan relatif lebih kuat dibandingkan pemasok sehingga pemasok tidak akan memberikan ancaman berarti bagi perusahaan. 

 

Bargaining Power of Buyers/Consumers

Dalam Five Forces Model pembeli memiliki posisi penting terhadap keberlangsungan hidup perusahaan karena sales revenue yang diperoleh perusahaan berasal dari penjualan produk perusahaan kepada buyer. Posisi tawar menawar pembeli terhadap perusahaan yang menjual barang dan jasa ditentukan oleh dua hal utama yakni bargaining leverage dan price sensitivity. Bargaining Leverage pembeli selanjutnya ditentukan oleh beberapa faktor sebagai berikut: buyer concentration vs firm concentration, buyer volume, buyer integrate, substitute products.

Faktor yang menjadi determinan kekuatan pembeli pada bisnis ini adalah adalah sensitivas harga yang ditentukan oleh beberapa faktor seperti: price/total purchases, product differences, brand identity, buyer profits & decision makers’ incentives. Konsumen sangat mempertimbangkan faktor harga, diskon dan promosi karena dianggap jasa yang diberikan sama.

 

Threat of Subtitute Products

Dalam Five Forces Model Persaingan terhadap produk dihasilkan perusahaan tidak hanya berasal dari perusahaan yang memproduksi produk yang sama sehingga menimbulkan persaingan langsung (direct competition), melainkan bisa juga berasal dari perusahaan yang memproduksi produk yang memiliki kesamaan fungsi dengan produk yang dihasilkan perusahaan. Produk seperti itu dinamakan produk subsitusi (substitute products).

Subtusi produk dari jasa transportasi online adalah armada konvensional seperti taxi, kendaraan umum dan ojek pangkalan. Namun sebagian besar konsumen justru ber alih dari armada konvensional ke jasa transportasi online, hanya sebagian yang masih menggunakan armada konvensional dengan pertimbangan lebih aman dan nyaman. 

 

Competitive Rivalry Within the Industry

Di dalam industri Five Forces Model sendiri, terjadi persaingan antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Menurut Porter pencetus Five Forces Model, intensitas persaingan (intensity of rivalry) antar perusahaan dalam satu industri sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: industry growth, fixed costs/value added, intermitten overcapacity, product differiencies, brand identity, switching costs, concentration & balance, informational complexity, diversity of competitors, corporate stakes, dan exit barriers. Perusahaan yang melakukan inovasi dapat menikmati profit yang besar pada saat pesaing lain belum memasuki pasar yang sama. Tetapi sebagaimana dinyatakan oleh Hermawan Kartajaya, persaingan saat ini sudah memasuki tahap wild. Hal ini ditandai dengan semakin cepatnya pesaing memperoleh akses teknologi sehingga dalam waktu yang relatif singkat mereka akan dapat menghasilkan produk yang serupa dengan produk yang dihasilkan oleh perusahaan innovator.


Dengan beratnya berkompetisi melawan Gojek dan Grab yang menggelontorkan dana besar-besaran untuk meraup pelanggan sebanyak-banyaknya walaupun dengan strategi promosi/diskon yang secara matematis tidak ekonomis atau dengan bahasa awam strategi “money burned for market share” Penulis menyarankan kepada para pengusaha yang tertarik pada bisnis jasa transportasi online agar menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke dalam bisnis ini.



Penulis: 

Dinda Dwicahyarini

Glih Adzanimurti

Tri Setiadji

Windhi Pranata



Daftar Pustaka :

1.https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4550520/ladyjek-hingga-blujek-startup-bangkrut-dilibas-grab-dan-go-jek/3

2. www.poligrabs.co

3. www.tirto.id

4. www.youtube.com

5. www.hukumonline.com 

6.https://www.maxmanroe.com/vid/bisnis/pengertian-analisis-swot.html

7.http://quickstart-indonesia.com/five-forces-model/


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
atomicblonde

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format