Moving FOR(war)D

Ford is ready to battle in a war of marketing secretly


0

Ford merupakan salah satu merk kendaraan bermotor yang sudah tenar di seluruh dunia. Perusahaan Ford Motor Company didirikan oleh Henry Ford di Detroit, Michigan 116 tahun silam. Ford merupakan salah satu pionir produsen kendaraan massal. Sebagai perusahaan yang memiliki jargon “satu mobil di setiap garasi”, Ford merentangkan sayapnya ke Indonesia pada tahun 1989 melalui Indonesia Republic Motor Company. Kala itu, Ford memiliki beberapa varian mobil yang beredar di Indonesia seperti Telstar, TX-3, TX-5, dan Cortina. IRMC hanya sebatas importir saja. Pada 12 Juli 2000, didirikan PT Ford Motor Indonesia (FMI) yang menjadi Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Ford pertama di Indonesia. 

Mulai tahun 2001, FMI mulai mendistribusikan mobil ke seluruh penjuru Indonesia. Mereka membutuhkan waktu yang relatif cepat untuk menggebrak pasar Indonesia. Tahun 2002, Ford Ranger mulai diluncurkan. Varian ini merupakan salah satu flagship yang diminati konsumen. Peluncuran ini bersamaan dengan pembukaan dealer 3S (Sales, Service, Sparepart) di Jakarta Selatan, merupakan yang pertama di Indonesia. Dalam rentang tahun 2003 hingga 2015, Ford Indonesia terus meluncurkan inovasi-inovasi baru seperti Everest, Ranger, Focus, dan Fiesta. Meski volume penjualan tidak sebesar produk Jepang, Ford tetap memiliki pangsa pasar tersendiri. Peminat mobil Amerika di Indonesia sangat antusias dengan kehadiran mereka. Banyaknya jenis mobil membuat merek ini cukup laris di pasaran. Hingga September 2015, Ford Indonesia memiliki 47 diler di seluruh Indonesia. 

Pada tahun 2014, FMII mencatat penjualan yang cukup tinggi, sebesar 12.008. Jumlah ini menurun di tahun berikutnya menjadi 4.986. Pada 2016, tercatat hanya ada 484 unit yang terjual. Di kuartal kedua tahun 2016, Ford Indonesia memutuskan untuk menghentikan operasinya. Hal ini diungkapkan oleh Bagus Susanto selaku direktur operasi di laman resmi mereka. Hal ini mengejutkan pemerhati otomotif di Tanah Air. Meski begitu, dukungan pelayanan dan garansi masih menjadi komitmen dari Ford. Dilansir dari Business Insider, Ford juga angkat kaki di Jepang. Hal ini diduga karena kedua negara tidak menguntungkan. Selain itu, tidak ada pabrik perakitan atau manufaktur lokal. Hal ini dapat meningkatkan biaya distribusi Ford. Pegawai yang sudah ada juga dihentikan hubungan kerjanya. Pada tahun sebelumnya, pesaingnya di pasar Amerika, General Motors, juga menghentikan operasinya di Indonesia. Penyebab tidak lakunya Ford di Indonesia adalah persaingan dengan produsen mobil Jepang seperti Toyota dan Honda. Dengan harga yang lebih murah, kualitas tinggi, sarana distribusi yang tersebar di seluruh negara, serta layanan purna jual yang baik membuat produsen mobil Jepang dapat memegang pasar Indonesia.

Dealer Ford di Indonesia juga meminta FMI untuk membeli kembali unit di showroom mereka. "Kami menuntut buyback, artinya Ford membeli kembali unit yang ada di dealer saat ini. Kami sudah sampaikan karena pengumuman itu kami menderita kerugian, orang tidak mau beli mobil, bahkan ada yang kembalikan. Kami bilang ya (FMI) ambil kembali dong,” ucap Andee, Presiden Direktur Auto Kencana Group usai konferensi pers di Jakarta, Senin (27/6/2016). Terdapat 130 unit Ford di diler yang dikelola Andee, sehingga ia menuntut agar FMI melakukan buyback dengan harga yang sama dengan harga pembelian mereka.

VALUE DISCIPLINES

Value disciplines merupakan suatu klasifikasi strategi pemasaran kompetitif baru yang dibuat oleh Michael treacy dan Fred Wiersema yang merupakan konsultan pemasaran. Value disciplines terdiri dari tiga strategi. Dengan mengejar salah satu dari ketiga strategi ini perusahaan dapat meraih posisi pemimpin dengan menghantarkan nilai pelanggan yang lebih unggul. Ketiga strategi tersebut adalah kesempurnaan operasional, keintiman pelanggan, dan kepemimpinan produk.

Pertama, Kesempurnaan operasional merupakan strategi dimana perusahaan memberikan nilai unggul dengan memimpin industri dalam hal harga dan kenyamanan dengan cara seperti mengurangi biaya produksi atau menciptakan sistem penghantar nilai yang ramping dan efisien. Strategi ini juga berfokus pada pelanggan.

Kedua, Keintiman pelanggan adalah strategi dimana perusahaan memberikan nilai unggul dengan mensegmentasikan pasarnya dengan tepat dan menghantarkan produk atau jasanya agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan pelanggan sasaran. Strategi ini dapat digunakan untuk mengetahui kebutuhan khusus pelanggan melalui hubungan erat dengan pelanggan

Terakhir, Kepemimpinan produk merupakan strategi dimana perusahaan memberikan nilai unggul dengan menawarkan aliran produk atau jasa canggih yang berkesinambungan. Strategi ini berusaha untuk menonjolkan produknya sendiri dan membuat produk pesaing menjadi ketinggalan zaman.

Dari uraian-uraian diatas, dengan menimbang faktor-faktor seperti pesaing dan pelanggan di Indonesia, Ford lebih baik menggunakan Strategi Kesempurnaan operasional. Hal ini dikarenakan permasalahan Ford sebelumnya yang tidak dapat mengetahui keinginan dan kebutuhan pelanggan di Indonesia. Dengan menggunakan strategi ini Ford dapat memenuhi keinginan pelanggan di Indonesia yang menyukai mobil yang cocok untuk dipakai oleh keluarga dengan jumlah yang banyak serta tingkat harga yang masih dapat dijangkau dengan penghasilan penduduk Indonesia yang rata-rata kelas menengah.

STRATEGI MENGHADAPI PESAING

Agak sulit menjadi pioner suatu inovasi baru di negeri yang berjarak sangat jauh dari perusahaan asalnya. Upaya ford menyusup ke dalam pasar Indonesia pernah dilakukan, hanya saja banyak kesalahan target dan riset pasar yang Ford lakukan. Kegagalan itu berujung dengan mundurnya Ford dari pasar otomotif Indonesia. Mulanya, Ford salah membaca arah needs & wants calon konsumen. Ford terlalu menyamakan keinginan pasar konsumen dengan masyarakat Eropa, padahal kebutuhannya sangat jauh berbeda, dari segi fasilitas, desain, dll.

Berbeda dengan mobil-mobil keluaran Asia seperti Honda, Suzuki, Kia, dll. yang mampu menggantikan mobil Eropa yang sempat merebak di pasar Indonesia, seperti Volkswagen (VW). Sekitar tahun 80an, selera pasar Indonesia mulai melirik mobil-mobil keluaran Asia yang jauh lebih terjangkau, irit, dan ramah untuk keluarga. Perusahaan otomotif Asia memprediksi pasar dengan tepat sasaran sehingga mampu bertahan puluhan tahun menjadi penguasa di negeri ini.

Strategi melalui market challenger dengan tetap kukuh pendirian atas bentuk dan kualitas produk tanpa membawa penyesuaian apapun demi ciri khas Ford akan sulit memenangkan hati pelanggan Indonesia. Sangat jarang masyarakat Indonesia yang membeli produk baru keluaran Ford. Biasanya pasar yang sangat spesifik melirik mobil-mobil klasiknya, dan beberapa sisanya baru membeli produk baru.

Agar tidak mengulangi kesalahan dua kali, Ford disinyalir lebih cocok menerapkan strategi market follower. Ford harus belajar banyak dari saingannya. Daripada melakukan riset dan pengembangan untuk membaca arahan pasar yang terlampau berbeda dengan yang biasa mereka hadapi, membuang-buang waktu dan tenaga, serta tidak memiliki hasil yang menjanjikan, lebih baik Ford memanfaatkan informasi yang sudah tersedia di depan mata dengan mempelajari saingannya yang telah sukses menguasai pasar (market leader). Ada beberapa kriteria khusus yang dapat dipelajari dan dipahami untuk mengadaptasi produk Ford agar lebih cocok dengan selera Indonesia seperti jumlah kursi yang cocok, mesin, hingga rentan harga yang masih dapat dijangkau dengan penghasilan penduduk Indonesia. Ford perlu menggaris bawahi beberapa poin, menerapkannya di produk Ford, mencatat keperluan apa yang perlu dibuat semirip mungkin dengan produk market leader, kemudian barulah menggarap bagian competitive advantage. Perbedaan atau diferensiasi produk tetap menjadi poin penting agar terhindar dari pembalasan oleh inisiator atau market leader. Selain itu, hal tersebut bisa mempermudah penargetan pasar yang lebih spesifik dan menambah poin plus kepada produk Ford. Sebagai contohnya, Ford dapat meniru jumlah kursi, tinggi mobil ideal, desain kursi yang nyaman bagi pengendara kemudi kanan, menyesuaikan harga dan bahan, namun tetap mempertahankan desain klasik yang biasanya menjadi daya tarik Ford.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwasanya Ford dapat melakukan perbaikan konsep pada mobil keluarannya.  Dengan kata lain,  Ford dapat melakukan modifikasi kembali untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan pada produk yang mereka keluarkan.  Modifikasi ini bisa dalam bentuk penyesuaian konsep yang berkiblat pada mobil-mobil keluaran perusahaan lain yang lebih laku dipasaran.  Diatas kami juga sudah memberikan saran,  supaya Ford bisa menggunakan market follower sebagai strategi untuk lebih mengembangkan produknya agar lebih diminati oleh konsumen.  Ford juga dapat menambah variasi produknya ke target pasar yang lebih luas dan beragam. Karena selama ini Ford cenderung minim inovasi dalam produknya sehingga masyarakat jadi enggan untuk membeli produk keluaran Ford tersebut. 

Penulis : 

Rendy Okta V,  Vika Asri A,  Nurul Chasanah C, M. Hafidz Ramadhan, Aditya Prasetya


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
wehunthead

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format