Marketing, Penyelamatku!


1
1 point

Dear readers, kali ini aku akan share gimana terbantunya aku saat aku punya banyak masalah dan Marketing menjadi penyelamatku. Secara berurutan, curhatanku kali ini berisi masalahku yang terselesaikan dengan bantuan materi Developing New Products and Managing the Product Life Cycle; Direct, Online, Social Media, and Mobile Marketing; dan Creating Competitive Advantage. 

Aku Kehabisan Uang 🙁

Hari itu aku merasa bener-bener sedih. Nggak paham lagi, kenapa hidupku begini? Sudah cukup aku pusing dengan kuliah, jangan kehabisan uang juga dong! Uh, aku lelah betulan dengan kuliah. Apa yang harus aku lakukan agar tetap punya uang di tanggal tua begini?

Untungnya temanku si A datang membawa bantuan. aku menceritakan segala keluh kesahku mengenai betapa aku membutuhkan uang sedangkan aku tidak memilikinya dan tidak tau cara mendapatkannya. Menurut A, sebaiknya aku melakukan usaha berupa pengembangan produk atau jasa baru yang dapat kujual dan dengan begitu aku bisa memperoleh uang. Katanya bila produk baru ini berhasil maka aku akan meraup keuntungan yang sangat besar.

Dia membantuku mengumpulkan ide untuk memecahkan masalah kehabisan uangku. Berikut adalah list ide yang kami punya:

1.   Menjadi tukang pijat

2.   Menyediakan jasa peminjaman charger

3.   Menjual daun dalam kemasan

Aku dan A menyeleksi ide-ide tersebut. Dia mengatakan bahwa banyak temannya yang membutuhkan tukang pijat karena kelelahan akibat terlalu bersemangat berkuliah. Modalnya hanya sedikit dan tidak perlu banyak peralatan. Selain itu memijat orang mudah dilakukan. Tapi aku berpendapat bahwa menjadi tukang pijat dapat membahayakan orang lain karena aku tidak punya keahlian memijat. Bisa-bisa aku mematahkan tulang pelangganku.

Ide kedua kami sepertinya menarik. A mengatakan bahwa ia sering lupa membawa charger ponselnya. Maka saat ia tidak sempat pulang ke kost untuk mengambilnya, ia harus merelakan ponselnya mati. Ia jadi sulit dihubungi karena tidak juga mendapatkan pinjaman charger. Aku merasa ide ini cukup baik mengingat kebutuhan orang-orang yang seperti ini. Jasa ini bisa jadi sangat dibutuhkan orang-orang sibuk seperti A dan teman-temanku. 

Meskipun terlihat meyakinkan aku ingin mencoba menelaah lagi ide terakhir kami. Produk ini sangat unik karena tidak ada yang pernah menjual daun dalam kemasan. Menurutku ide ini brilian dan patut untuk dicoba. Mengingat belum ada yang mengemasnya sehingga dapat dibawa ke mana-mana. Selain itu A juga menambahkan bahwa modal untuk mengembangkan produk ini tidak mahal, apalagi di belakang kost-ku terdapat pohon yang unik. Tapi belum banyak orang yang membutuhkan produk ini.

Kami memutuskan untuk mencoba mengembangkan jasa sewa charger ponsel. Maka kami mulai menyusun konsep produk kami. Kami membuat list apa kelebihan dan kekurangan produk ini. Kami juga mencoba memvalidasi pasar mengenai ide ini.

Kami pun merencanakan bagaimana akan memasarkan jasa peminjaman charger ini. Kepada siapa akan dipasarkan, proporsi nilainya, dan target penjualan jasa telah kami tentukan sejak dini. Selain itu kami juga menentukan harga dan cara mendistribusikan produk serta memikirkan anggaran pemasaran ini. Kemudian kami membuat proyeksi mengenai penjualan dan strategi marketing mix untuk jasa peminjaman chareger di masa depan.

A menyarankan untuk membuat breakdown mengenai biaya-biaya yang dikeluarkan. Mulai dari proses pengadaan jasa, pemasaran hingga pemberian jasa pada pelanggan. Apakah sudah sesuai dan dapat dipenuhi juga sudah masuk akal dengan target penjualan serta keuntungan kami.

Aku dan A mulai membuat konsep dan alur pemberian jasa ini hingga beberapa kali percobaan untuk memastikan kualitas dan porsi yang kami inginkan. Dalam proses ini kami harus mengalami beberapa kali kegagalan. Tapi kami tidak menyerah dan terus berusaha.

A memiliki kenalan untuk menjadi penjajal pertama jasa yang kami punya sehingga setelah kami berhasil memastikan bahwa jasa ini siap dijual dan digunakan, A langsung menawarkan kepada temannya ini. Kami bahagia sekali menerima testimony dan feedback positif dari teman A. selain itu kami mulai mencoba memasarkannya pada teman-teman dekat kami.

Bahagianya aku saat jasa kami terjual laku dan aku mulai meraup keuntungan. Aku dan A terus memperluas cakupan layanan kami hingga target pasar kami terpenuhi dan mengomersialisasikannya dengan gencar. Yay! Masalahku sedikit demi sedikit terselesaikan!


(video)

Bagaimana Aku Mendapatkan Kembali Teman - Temanku.

Hari itu aku termenung sendiri di bangku. Aku merenungi keadaanku yang tengah sendiri dan tanpa teman sejak beberapa minggu ini. Huh sedihnya. Teman-temanku memilih untuk berteman dengan Z dibanding denganku. Aku bingung. Sampai akhirnya ada seseorang bernama N datang dan menanyakan apa aku baik-baik saja. Katanya aku terlihat sangat sedih.

Aku menceritakan apa yang terjadi. N mengaku pernah merasakan hal yang sama dan ia memiliki cara untuk mengatasinya. Aku sangat excited dan ingin segera mendengar ceritanya.

Kata N, aku harus mengenali Z sebagai rivalku dalam hal ini. Dia menjadi magnet bagi teman-temanku dan aku menjadi sendirian. Z merupakan teman di jurusanku. Kami sebenarnya saling mengenal hanya saja dia lebih terkenal dan kami tidak dekat.

N menanyakan bagaimana Z ini. Z merupakan seseorang yang baik dan berpenampilan menarik. Ia selalu menggunakan baju-baju berkelas. Ia memiliki banyak buku untuk diceritakan kepada teman-temannya karena itulah keahliannya, membaca buku. Teman-teman selalu tertarik dengan buku-bukunya namun Z bukan seseorang yang ahli dalam menceritakan apa yang telah ia baca. Dia selalu mengaku bisa walau kenyataannya aku punya kemampuan menceritakan yang lebih baik. Namun teman-teman tidak mempermasalahkan itu karena banyak buku yang telah Z baca dan mereka ingin mendengar ceritanya.

Menurut N, Z adalah rival yang mampu aku hadapi. Aku punya kemampuan yang tidak dimiliki Z.  Z adalah rival yang baik dan kuat. Aku jadi percaya bahwa aku bisa mendapatkan teman-temanku kembali. 

N mengatakan padaku supaya aku memiliki strategi agar kemampuanku lebih dikenal oleh banyak orang sehingga banyak yang akan berteman denganku.

Aku memiliki diferensiasi dibanding dengan Z. Sangat bisa dikatakan bahwa aku juga punya keunggulan. Lalu aku harus menerapkan value disciplines untuk dapat menyampaikan kemampuanku nantinya. N menekankan hal ini karena ini sangat penting. 

N mengatakan, bila ia menyimpulkan dari ceritaku. Aku dapat menjadi pesaing yang cukup menantang bagi Z. Sehingga aku bisa saja melakukan serangan dengan menjunjukkan kemampuanku yang juga ku tambah dengan banyak referensi buku seperti Z lalu mendapatkan kembali teman-temanku.

Benar saja, kemudian aku mendapati teman-temanku kembali bersama ku dan aku tidak lagi sendirian. 


(video)

Getting Pacar ^^

Sekarang aku baru sadar kalo banyak temen yang udah taken. Yah jumlahnya sih tidak sebanyak yang masih jomblo, tapi tetep aja, banyak yang berusaha nyari jodoh. Sedangkan aku, masih terlena di zona nyaman dan terlalu menikmati kejombloan sampe lupa kalo nanti aku juga harus nikah. Di sisi lain, umur segini (20 tahunan) memang sudah waktunya untuk mulai memikirkan masalah jodoh, karena aku juga tidak mau nikah pas umur agak tua. Jadi, aku harus dapet pacar pas kuliah, sehingga nanti pas udah kerja tinggal nikah.

Masalahnya, gimana cara nyarinya? berhubung aku agak malu-malu kalo mau kenalan sama cewe, jadi aku harus pake cara lain. Minta tolong temen buat ngenalin ke cewe? Ah, aku udah beberapa kali nyoba, dan hasilnya tidak pernah berlanjut ke lebih dari sekedar kenalan doang.

Sampai suatu ketika, saat aku buka IG, aku ngeliat kalo feeds IG miliknya enak dilihat, karena foto-foto yang ada sudah diedit sedemikian rupa sehingga enak dipandang. Caption yang ada di tiap fotonya pun bagus dan membuat kita senyum-senyum sendiri dan berpikir “kok dia bisa ya kepikiran kata-kata kayak gitu.”

Kemudian aku tersadar, bahwa cinta bisa datang dari mana saja. Bahkan dari dunia online sekalipun. Oleh karena itu, aku pun mulai mengikuti cara tersebut sebagai upaya “mempromosikan diri” di dunia maya, alias placing ads dan promotion online kalau bahasa marketingnya. Hanya yang dipromosikan adalah diri sendiri, bukan barang.

1.      Harus punya akun sosmed.

Berhubung cara ini dapat digolongkan sebagai online marketing, maka kita harus memiliki akun media sosial terlebih dahulu. Media sosial yang terkenal antara lain adalah Instagram, Twitter, Facebook, atau bahkan Tinder. Dengan ratusan juta pengguna, meningkatkan peluang untuk ada yang nyantol.

2.      Buat postingan yang menarik

Selanjutnya, postingan yang menarik juga diperlukan untuk menarik perhatian khalayak, terutama orang-orang di follower. Jika postnya menarik, maka banyak orang yang melihat, memberi komentar, atau like. Dengan meningkatnya perhatian pada postingan di sosmed, akan ada beberapa orang yang mau ngajak kenalan.

3.      Jangan digembok

Kalau mau postingan dilihat banyak orang, akun kita jangan digembok. Jika digembok, hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihat postingan kita.

4.      Konsisten dalam posting

Penggunaan caption yang khas atau filter foto yang mirip dapat memberikan ciri khas dalam postingan di sosmed.

Namun tiba-tiba aku teringat seorang teman yang dapat bercakap-cakap via chatting menggunakan ponsel dengan sama baiknya dengan berbicara langsung. Bahkan dia pun memiliki beberapa teman chat. Ia menyebut upayanya memiliki teman chatting ini sebagai mobile marketing, karena bisa dilakukan lewat ponsel. Lalu saat aku menanyakan cara untuk mendapatkan teman chat, ia memberikan beberapa tips:

1.      Usahakan pembicaraan tetap mengalir

Selalu temukan topik yang kira-kira menarik untuk dibahas lewat chat. Tujuannya adalah agar kegiatan chat bisa berjalan secara kontinyu dan tetap menarik. Bila perlu, bisa menambahkan elemen pelengkap seperti foto, emoticon, atau sticker agar chat bisa lebih hidup daripada hanya sekedar bertukar kata dan tawa.

2.      Fast-respon

Sebisa mungkin, aku harus membalas chatnya dengan cepat. Tujuannya adalah agar obrolan terus hidup dan tidak membuat teman chat harus menunggu balasan kita cukup lama.

Ia juga mengatakan, chat dapat membuat seseorang merasa nyaman dengan teman chatnya, karena sifatnya yang personal dan cenderung lebih intens. Ditambah lagi, banyak aplikasi chat yang ini juga menyediakan fasilitas VoIP dalam wujud free call, sehingga obrolan dapat terasa lebih personal dan lebih dekat.



Nah, begitulah beberapa masalahku yang ternyata dapat terselesaikan dengan menerapkan teori Marketing yang bahkan tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku sangat beruntung karena dapat mengerti Marketing dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hariku.


Referensi: Kotler, P. and Armstrong, G. (2018), Principles of Marketing, 17th ed. Harlow, UK: Pearson Education Ltd.


Kontributor: Ega Yudhadibroto, Firdausya Aghnia Ch., Farras Hidayatullah, Mahestya Tasya R A, dan Panji Saputro Hadi.



Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
1
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format