Fast Food lokal ala McD : Sebut Saja “Richeese Factory”

Lapar? Bingung mau makan apa? Cari yang tempatnya asyik buat nongkrong? Atau malah mager keluar rumah?


0

Pertanyaan tersulit abad ke 21

Makanan cepat saji atau juga dikenal dengan fast food bisa menjadi pilihan utama bagi mereka yang tinggal di sekitar kota demi mengejar kenyamanan dan efisiensi waktu dalam urusan makan.

Mengapa fast food menjadi pilihan utama?

1.  Praktis dan higienis

Sebagian masyarakat perkotaan yang memiliki aktivitas cukup tinggi banyak mengeluh tidak sempat memasak di rumah sehingga cenderung memilih restoran fast food karena dianggap lebih praktis juga higienis sebab makanan dibungkus dengan packaging yang rapi. Selain itu, restoran fast food menawarkan beragam menu promo menarik yang pastinya sangat menggiurkan. Rumah makan fast food di Indonesia yang murah dan terjangkau banyak ditemukan di perkotaan. Hal ini tentunya bukan tanpa sebab, hidup perkotaan yang menginginkan segala sesuatunya disajikan atau instan, tak terkecuali dalam hal makanan. Hal itu menjadi penyebab pendukung mengapa restoran fast food  diterima bahkan banyak digemari oleh orang yang di perkotaan.

2.  Fasilitas yang tidak kalah dengan kafe kekinian

Macam pelayanan dan fasilitas yang lengkap kian menunjang kehadiran fisik restoran fast food ini, contohnya ruangan yang luas dan nyaman, tempat yang menyejukkan, koneksi Wi-Fi gratis, juga tawaran-tawaran menarik yang membuat orang tak jarang kembali lagi ke restoran fast food. Biasanya, orang berkunjung di restoran fast food tidak sekadar untuk makan, namun juga untuk chit chat dengan teman atau keluarga, kerja atau belajar kelompok bagi kalangan pelajar, perayaan ulang tahun atau hanya nongkrong dengan memanfaatkan fasilitas Wi-Fi gratis sambil menikmati makanan yang disajikan.

3. Layanan pesan-antar (delivery)

Bosan keluar rumah untuk beli makanan? Kemudahan yang disiapkan oleh restoran fast food yaitu pelayanan delivery untuk pemesanan yang diantar ke alamat yang diinginkan. Konsumen dapat pesan makanan secara cepat melewati telepon bebas pulsa, memesan secara online atau melewati aplikasi handphone. Berbagai variasi kemudahan itu tentu semakin membahagiakan pemesan sebab mereka tak perlu repot-repot keluar rumah atau terjebak macet di jalan.

Bisnis makanan dapat dikatakan sebagai “bisnis abadi” sebab dari dulu sampai hari ini bisnis kuliner baik makanan dan minuman tidak akan pernah sepi oleh pembeli apalagi untuk bisnis makanan cepat saji. Jika kita amati, banyak restoran fast food internasional yang tersebar di Indonesia berasal dari negeri Paman Sam. Bervariasi restoran fast food itu memiliki hidangan andalan yang merupakan ciri khas yang beda dengan resto lain. Misalkan, restoran A&W yang memiliki keunggulan dengan minuman Root Beer, Pizza Hut yang memiliki aneka macam pizza dengan pilihan rasa yang lezat juga bahan saji yang super lengkap.

Restoran siap saji atau fast food restaurant adalah restoran yang menyediakan makanan dengan cepat begitu makanan dipesan. Makanan yang disajikan disiapkan untuk dapat segera disantap. Bisa dengan cara dipanaskan, sehingga tidak membutuhkan proses yang rumit. Biasanya produknya berupa sandwich, burger, pizza, fried chicken, french fries, chicken nuggets, fish and chips, atau untuk dessert ragam pilihannya menunya adalah ice cream, waffle dan sejenisnya.

Sejumlah nama besar restoran cepat saji di dunia sudah puluhan tahun masuk ke Indonesia. Keberadaan mereka telah membentuk gaya hidup tersendiri. Di tengah cepatnya perkembangan zaman, mereka tetap eksis berkibar. Didukung dengan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia[1], banyaknya jumlah penduduk Indonesia menjadikan negara Indonesia sebagai pasar yang potensial untuk industri bisnis restoran cepat saji ini.

Industri makanan dan minuman cepat saji melihat tahun ini masih menjadi tahun yang menjanjikan. Selain ekspansif pada gerai-gerai baru yang akan dibuka, menu baru juga jadi strategi para peritel hidangan siap saji itu agar selalu dilirik peminatnya. Bisnis restoran cepat saji pada tahun 2019 diyakini tumbuh 15%, ditopang oleh sentimen membaiknya pendapatan masyarakat serta meningkatnya tren bersantap di luar rumah. Wakil Ketua Umum Bidang Restoran Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Sudrajat mengatakan, restoran siap saji merupakan salah satu subsektor industri kuliner dengan kinerja cukup stabil. “Restoran siap saji tumbuh stabil dan akan semakin baik. Mereka selalu tumbuh di kisaran 10% hingga 15% [setiap tahunnya],” ujarnya. Dia menjelaskan, kinerja bisnis restoran siap saji ditunjang oleh perbaikan konsumsi masyarakat sebagaimana tercermin dalam Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang selalu meningkat setiap tahun. Berdasarkan survei Bank Indonesia, IKK mencapai 110 poin pada 2016 dan terus naik ke level 123,5 pada awal tahun ini. [2]

Survey membuktikan…

Selain poin-poin di atas, ternyata rasa menjadi faktor utama masyarakat Indonesia membeli makanan cepat saji. Menurut survei W&S Market Research, kaya rasa dan penyajian yang baik mendapat poin 60 persen terhadap 400 konsumen yang disurvei. Alasan kedua berkaitan dengan kredibilitas merek yang diyakini masih berperanan penting terhadap perilaku konsumen Indonesia. Sedangkan pertimbangan harga, berada di urutan ketiga saat konsumen ingin membeli makanan.[3]

Mari kita menuju ke permasalahan dari penulisan ini :

Waralaba Lokal yang Tidak Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Duh, kenapa ya kita tidak cinta produk lokal?

Waralaba fast food merupakan salah satu cara berdagang cepat saji yang kini telah cukup populer untuk dilakukan para pengusaha baru maupun pengusaha lama di bidang perdagangan makanan. Beberapa tahun terakhir ini, beberapa merek fast food yang memiliki cukup banyak penggemar pun telah berubah menjadi sebuah perusahaan waralaba, dimana setiap orang yang berminat untuk turut menjadi penjual jenis makanan cepat saji tersebut juga dapat bergabung dan menjadi bagian di dalamnya.

Salah satu fakta menarik yang telah cukup terkenal dari usaha waralaba jenis makanan cepat saji adalah mengenai keuntungan besar yang akan didapatkan. Berbeda dengan membuka usaha warung makan baru yang belum memiliki nama dan membutuhkan waktu cukup lama untuk mendapatkan keuntungan besar, maka dengan memilih untuk menjadi pengusaha waralaba makanan cepat saji tentunya akan memperoleh keuntungan cukup besar dalam waktu yang cukup singkat.

Tak hanya dari segi keuntungan saja, namun kemudahan untuk mendapatkan pelanggan dari perusahaan waralaba makanan cepat saji pun menjadi faktor menarik lainnya, Biasanya, makanan cepat saji yang dijadikan sebagai salah satu bisnis waralaba telah dikenal oleh masyarakat. Dari segi promosi juga tak perlu terlalu gencar karena masyarakat luas pun akan lebih mudah mengenal perusahaan waralaba tersebut.

Siapa sih yang tidak tahu McDonald’s? Because everybody say “I’m Lovin’ It”

Source: https://mcdonalds.co.id/

Logo berbentuk huruf M dan memiliki warna kuning ini sangat tidak asing pada masyarakat di Indonesia. Rasa? Merek? Harga? Sudah pasti sesuai dengan mayoritas masyarakat di Indonesia. Restoran McDonald’s pertama di Indonesia terletak di Sarinah, Jakarta dan dibuka pada 21 Februari 1989. Berbeda dari kebanyakan restoran McDonald’s di luar negeri, McDonald’s juga menjual ayam goreng dan nasi di restoran-restorannya di Indonesia. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia yang memang sudah mengenal ikatan batin panjang dengan ayam, termasuk ayam goreng tepung, sehingga resto cepat saji dengan menu utama ayam dengan mudah disukai.

McDonald’s Indonesia menargetkan membuka sebanyak 10-15 restoran per tahun di berbagai lokasi di Indonesia. Pada tahun 2017 tercatat total gerai McDonalds di seluruh Indonesia mencapai 180 gerai. Di Indonesia, pemegang franchise restoran tersebut adalah Grup Rekso. Selain namanya yang besar tentunya banyak kegiatan menarik yang dilakukan untuk tetap mempertahankan eksistensinya. Di tahun 2018, McDonald’s Indonesia menggelar National Breakfast Day 2018. Kampanye tersebut dilakukan untuk mengingatkan mengenai pentingnya sarapan. Dalam kampanye ini, McDonalds membagikan 1.000 potong muffin secara gratis setiap pagi kepada 1.000 pembeli pertama di berbagai gerai McDonalds.[4]

Bagaimana dengan Produk Lokal?

Source: traveloka.com

Salah satu restoran cepat saji asal Indonesia adalah Richeese Factory yang didirikan oleh PT. Richeese Kuliner Indonesia. PT. Richeese Kuliner Indonesia adalah salah satu anak perusahaan dari Nabati Grup yang berdiri sejak tahun 2011. Pada tanggal 8 Februari 2011, PT. Richeese Kuliner Indonesia memulai pembukaan outlet pertamanya di mall Paris Van Java (PVJ) Bandung. Produk unggulan yang ditawarkan adalah ayam goreng yang dibaluri oleh saus barbeque dicampur dengan saus pedas berlevel 0-5 dan disajikan dengan saus keju celup. Seperti sudah diketahui Richeese Factory merupakan anak dari Kaldu Sari Nabati yang sudah terlebih dahulu terkenal dengan makanan ringan yang berbahan dasar keju. Tercatat pada tahun 2019 Richeese Factory telah memiliki 150 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia.

Richeese Factory juga turut meramaikan industry franchise food & beverage Indonesia pada tahun 2017 dengan menawarkan peluang waralaba bagi para pencari bisnis. Bertepatan dengan ajang Internasional Franchise License & Business Concept Expo & Conference (IFRA 2017) di Jakarta Convention Center, resto cepat saji yang terkenal dengan ayam saus kejunya ini, secara resmi merilis konsep franchise mereka kepada khalayak ramai.[5]

Richeese Factory vs. McDonald’s

Jika kita bandingkan, awal McDonald berdiri yaitu dengan strong selling point produk burger yang mereka pasarkan di Amerika Serikat. Kemudian Richeese Factory hadir dengan produk ayam berbalur keju dengan keju sebagai top of mind masyarakat Indonesia yang familiar dengan brand sebelumnya, Richeese Nabati

McDonald sejak lama melebarkan bisnis di negara lain dengan melakukan inovasi produk yang disesuaikan dengan karateristik negara yang mereka jadikan tujuan ekspansi. Sebagai contoh, mereka tidak menjual nasi ataupun ayam di negara asal mereka. Tetapi ketika masuk ke Indonesia, mereka menjual nasi dan ayam, hal ini merupakan faktor penyesuaian produk lokal. Di Thailand, mereka menyesuaikan produknya dengan dengan mengeluarkan varian green tea.

Richeese Factory telah unggul dalam rasa pedas dan keju yang menjadi specialty mereka. Namun mengapa tetap kalah di kandang sendiri? Hal ini lah yang kemudian menjadi pertanyaan mengapa waralaba lokal tidak menjadi tuan rumah di negara sendiri. Jika mereka sudah menjadi pemain utama pada pasar resto cepat saji di rumah sendiri, seharusnya Richeese Factory telah siap melebarkan sayap dan bersaing di negara lain.

Menariknya, ketika waralaba lokal memiliki keunggulan rasa pedas dan keju. McDonald pun tidak mau kalah saing, mereka mengeluarkan produk spicy chicken pada tahun 2018. Ya, lagi-lagi McD dengan cepat membaca demand pasar terhadap cita rasa lidah orang Indonesia yang tidak bisa lepas dari rasa pedas.

Source: blog.andyka.id

Berdasarkan data Top Brand Indonesia, selama dua tahun berturut-turut McD berada pada posisi ke-2 dan Richeese Factory berada pada posisi ke-5 untuk restaurant cepat saji di Indonesia.

Source: topbrand-award.com

Jika dilihat dari persebaran gerainya, McDonald’s tidak hanya membukai gerai di kota-kota besar namun juga menjangkau kota-kota kecil di Indonesia. Lalu, bagaimana dengan Richeese Factory?

Source: https://mcdonalds.co.id/location

Source:https://www.richeesefactory.com/id/outlet

Dilihat dari lokasi gerai, Richeese Factory juga telah tersebar di beberapa kota di Indonesia. Namun mengapa belum bisa menjadi tuan rumah?

Usaha atau bisnis yang luar biasa sukses tak terlepas dari bagaimana kemampuan dalam mengelola perusahaan yang dijalankan. Hal ini termasuk kedalam kemampuan manajemen yang merupakan hal terpenting bagi pelaku usaha atau pebisnis. Pengertian manajemen  yaitu sebagai suatu proses perencanaan, sistem organisasi,  pengendalian dan pemanfaatan semua sumber daya untuk mencapai target yang telah di terapkan.[6]

Fungsi manajer sebagai seorang planner adalah mengidentifikasi dan memilih tujuan dan tindakan yang sesuai untuk suatu organisasi. Sedangkan sebuah strategi adalah sekelompok keputusan tentang tujuan apa yang harus dikejar, tindakan apa yang harus diambil, dan bagaimana menggunakan sumber daya untuk mencapai tujuan. Tujuan dari suatu perusahaan dapat tercermin dari mission statement, yaitu sebuah deklarasi mengenai tujuan organisasi yang mengidentifikasi produk dan serta sasaran pelanggan dan menentukan apa yang membedakan suatu organisasi dari para pesaingnya.

Visi McDonald’s

Menjadi restoran cepat saji dengan pelayanan terbaik di dunia. Untuk mencapai visi ini, McDonald’s selalu menjamin mutu produk-produknya, memberikan pelayanan yang memuaskan, menawarkan kebersihan dan keamanan produk pangan serta nilai-nilai tambah lainnya. Bagi McDonald’s, senyum setiap pelanggan adalah hal terpenting.

Misi McDonald’s

  1. Menjadi perusahaan terbaik bagi semua karyawan kami di setiap komunitas di seluruh dunia.
  2. Menghadirkan pelayanan dengan sistem operasional yang unggul bagi setiap konsumen kami di setiap restoran cabang McDonald’s.
  3. Terus mengalami perkembangan ke arah yang menguntungkan sebagai sebuah brand, serta terus mengembangkan sistem operasional McDonald’s ke arah yang lebih baik lagi lewat inovasi dan teknologi.

Analisa Strength & Weakness

Strength

  1. McDonald’s mempunyai a strong global presence dan pemimpin pasar (market leader) baik secara domestik, maupun internasional.
  2. Kesuksesan dalam periklanannya, seperti adanya kata “I’m Loving It” dalam setiap pemasarannya
  3. Gerai/outlet yang bersih dan adanya tempat bermain untuk anak-anak mempunyai daya tarik tersendiri.
  4. Jam operasi selama 24 jam, sangat membantu untuk para konsumen.
  5. Mendapat lebih banyak pelanggan saat off peak jam. McDonald’s menyasar pelanggan yang membutuhkan makanan cepat saji sebagai sarapannya dengan mengeluarkan McMuffin dan menyajikan camilan dengan menggunakan nama Mc Café hal ini pula yang meningkatkan pemasukan tanpa mengenal waktu.
  6. Kekuatan Happy Meal sehingga melakukan penjualan yang besar untuk makanan anak-anak di industri makanan cepat saji
  7. Keunggulan pada efisiensi. Sebut saja layanan drive through sebagai layanan yang memudahkan pengendara mobil dapat membeli makanan tanpa harus memasuki resto, cukup memesan melalui jendela mobil mereka dan makanan cepat saji pun di dapatkan.
  8. Pemasaran yang dilakukan McDonald’s mampu mengalahkan pesaing lain sehingga konsumen mengetahui informasi lebih cepat terkait produk mereka baik itu varian baru maupun promo.

Weakness

  1. Harga yang kurang kompetitif, sehingga dapat mengurangi kemampuan perusahaan untuk meningkatkan pendapatan.
  2. Ayam bukanlah menu utama McDonald’s secara global, sehingga dari segi kualitas burger lebih baik daripada menu ayam

Visi Richeese Factory

Menjadi pilihan pertama pelanggan menikmati menu makanan keju dengan harga terjangkau dan pelayanan terbaik

Misi Richeese Factory

Menjadi pilihan pertama pelanggan menikmati menu makanan keju dengan harga terjangkau dan pelayanan terbaik

Analisa Strength & Weakness

Strength

  1. Tampilan produk yang lebih menarik disertai dengan ciri khasnya, keju celup dan minuman berwarna pink, Pink Lava
  2. Keselarasan dengan citra merek yang kuat dari brand sebelumnya, Richeese Nabati

Weakness

  1. Variasi produk yang sedikit
  2. Kurang sering dalam melakukan variasi produk
  3. Kurang gencar dalam melakukan promosi
  4. Belum ada tagline atau slogan yang khas
  5. Sistem operasional yang masih tertinggal oleh kompetitor (Drive-Thru, 24 jam, layanan otomatis dengan memesan menggunakan mesin)

Sedangkan untuk analisa opportunities dan threat keduanya memiliki banyak persamaan karena bergerak pada bidang yang sama dan produk yang serupa.

Analisa Opportunities & Threat untuk McDonald’s dan Richeese Factory

Opportunities

  1. Menciptakan produk baru, terus berkembang dengan menggunakan teknologi untuk mempengaruhi strategi pendapatan.
  2. Mengembangkan secara terus menerus pangsa pasar terutama untuk generasi muda maupun kelompok yang telah berumur.
  3. Makanan yang praktis dan siap saji untuk masyarakat didukung dengan adanya minat masyarakat terhadap makanan siap saji

Threat

  1. Industri makanan cepat saji merupakan sektor yang sangat kompetitif sehingga persaingan juga semakin ketat.
  2. Adanya tekanan dari beberapa pihak mengenai makanan cepat saji dengan masalah obesitas.
  3. Bagi konsumen yang sadar akan gizi, makanan cepat saji merupakan makanan yang kurang sehat.
  4. Selera masyarakat yang cepat berubah dapat menyebabkan kemunduran apabila tidak melakukan inovasi-inovasi baru

Jika dilihat dari visi dan misi tentu Richeese Factory memiliki ruang gerak yang lebih sedikit dikarenakan keterbatasan dalam spesialis keju, serta tidak adanya misi untuk terus berkembang dalam menerapkan inovasi maupun teknologi. Maka dari sisi manajemen diperlukan adanya pengembangan dalam visi & misi untuk dapat bersaing dengan sesama waralaba lokal maupun waralaba asing. Penyusunan kembali value dan tujuan dari perusahaan juga dapat menentukan strategi-strategi baru nantinya. Dari langkah best practice yang telah sukses dilakukan oleh McDonald’s maka Richeese Factory dapat menerapkan strategi – strategi :

Strategi Strength – Opportunity

Bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan lokal lainnya sebagai suatu inovasi produk baru, contohnya seperti untuk minuman pendamping produk makanan yang dihasilkan sehingga kepuasan konsumen atau pelanggan meningkat.

Strategi Weakness – Opportunity

Meningkatan iklan di semua media dan promo terutama dalam media online, jejaring sosial dan televisi untuk mempromosikan dan melakukan penjualan online, dan mengincar seluruh segmentasi pasar baik dari anak-anak hingga dewasa. Memberikan harga promo seperti paket “goceng” atau paket hemat dan paket murah lainnya untuk menyaingi perusahaan makanan cepat saji lain dengan cara memberikan harga yang terjangkau (low cost).

Strategi Strength – Threat

Menciptakan suatu diferensiasi dari kompetitornya baik dari segi harga, kualitas, pelayanan, fasilitas, manajemen, promosi, teknologi dan lainnya agar tidak tersaingi dan memiliki inovasi dan keunikan tersendiri dimata pelanggan atau masyarakat. Saat ini Richeese Factory sudah memiliki diferensiasi produk, namun apabila tidak berkembang maka konsumen dapat bosan dengan varian menu yang tidak beragam.

Strategi Weakness – Threat

Meningkatkan menciptakan inovasi baru, kualitas pelayanan, distribusi kongsinyasi produk dan mempunyai sekaligus juga menciptakan berbagai macam produk baru, lalu menggunakan iklan di semua media dan promo. Membuka layanan 24 jam dan layanan Drive-Thru serta menerapkan teknologi pada sistem operasional.

Source: https://depositphotos.com/vector-images/buyers.html

Manajer di McDonald’s, misalnya, memutuskan cara terbaik untuk membagi tugas-tugas yang diperlukan untuk menyediakan makanan cepat dan murah bagi pelanggan Restoran McDonald’s. Setelah bereksperimen dengan pengaturan pekerjaan yang berbeda, Manajer McDonald’s memutuskan pembagian kerja koki dan pramusaji makanan. Manajer mengalokasikan semua tugas yang berhubungan dengan memasak makanan (menempatkan minyak di penggorengan lemak, membuka paket kentang goreng beku, meletakkan roti daging sapi panggangan, membuat salad, dan sebagainya) adalah pekerjaan koki. Sedangkan, untuk semua tugas yang berkaitan dengan memberikan makanan kepada pelanggan (seperti menyapa pelanggan, menerima pesanan, menaruh kentang goreng dan burger ke dalam tas, menambahkan garam, merica, dan serbet, dan mengambil uang) adalah tanggung jawab pramusaji makanan. Selain itu, mereka menciptakan pekerjaan lain yang berurusan dengan pelanggan, seperti pekerjaan menjaga kebersihan restoran dan pekerjaan mengawasi karyawan serta merespons hal-hal yang tidak terduga acara. Hasil dari proses desain pekerjaan adalah pembagian kerja di antara karyawan. Hal ini merupakan bukti pengalaman yang paling efisien dari seorang manajer McDonald’s.

Menetapkan pembagian kerja yang tepat di antara karyawan adalah bagian penting dari proses pengorganisasian untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Di McDonald’s, tugas-tugas yang terkait dengan koki dan pramusaji makanan dipecah menjadi pekerjaan yang berbeda karena manajer menemukan cara ini merupakan pendekatan yang paling efisien. Mengapa efisien? karena ketika masing-masing karyawan diberi tugas dengan jelas, tanggung jawab menjadi lebih terspesialisasi, karyawan menjadi lebih produktif dalam melakukan tugas-tugas pada setiap pekerjaan. (Jones, G.R & George, J.M, 2016) Dalam allocating authority, McDonald’s memiliki struktur yang sangat jelas siapa yang bertanggung jawab dalam mengelola masing-masing unit. 

Source: (Jones, G.R & George, J.M, 2016)

Beda halnya dengan Richeese Factory, suatu penelitian dengan tema pengaruh pelatihan self-efficacy belief terhadap peningkatan work engagement Crew Outlet Richeese Factory di Bandung sebelum dan setelah pelatihan, yang dipublish pada repository.maranatha.edu, mengungkapkan bahwa terdapat 7 departemen di PT. Richeese Kuliner Indonesia, yaitu departemen Operasional, Marcomm, HR, R&D, Finance&Accounting, QA/QC, SCM. Diantara ketujuh departemen tersebut, departemen operasional yang menjadi ujung tombak perusahaan. Fungsi departemen operasional adalah mengelola keseharian operasional outlet, perencanaan strategi bisnis dan sumber daya manusia untuk pencapaian target penjualan perusahaan dan target service bagi customer. Terdapat beberapa jabatan dalam departemen operasional, yaitu Operational Manager, Area Manager, Store In Charge, Floor Manager, Crew Leader, dan Crew Outlet. Berfokus pada sisi pelayanan yang menjadi core bussiness Richeese Factory, maka jabatan Crew Outlet menjadi pintu gerbang untuk melayani secara langsung paracustomer yang datang maupun via telepon. Sebanyak 80% dari total karyawan ditempati oleh jabatan Crew Outlet. Secara umum, jabatan Crew Outlet berfungsi untuk melakukan proses preparation, opening, dan closing di section kitchen, lobby, dan cashier dalam rangka melayani customer sesuai dengan standar kualitas perusahaan. Karyawan yang melakukan kontak dengan pelanggan memiliki dampak yang luar biasa pada persepsi pelanggan terhadap kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan. Oleh karena itu dibutuhkan Crew Outlet yang dapat memberikan performa yang optimal untuk melayani customer dengan prima.

Berdasarkan Richeese Factory Comment tahun 2015, didapatkan data bahwa lebih banyak komentar negatif dibandingkan dengan komentar positif. Komentar negatif berisi ketidakpuasan customer  mengenai pelayanan, seperti pelayanan yang lambat, kurang konsentrasi terhadap pesanan customer sampai harus mengulang beberapa kali pesananan, tidak meminta maaf saat melakukan kesalahan, salah menyajikan pesanan, masalah dalam delivery, lambat dalam membersihkan sisa makanan yang ada di meja, dan cara bicara kasar. 

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, hal yang paling banyak belum dilakukan oleh Crew Outlet Richeese Factory adalah tahap proses pemesanan, yaitu memberikan informasi tentang menu dan informasi mengenai promo. Sebanyak 67% customer memberikan keterangan bahwa ketika customer datang, Crew Cashier cenderung diam sampai customer bertanya lebih dulu soal menu dan promo. Selain itu, Crew Outlet sering kali kurang dapat menjawab pertanyaan customer dengan jelas. Pada tahap menyambut customer, sebanyak 21% customer mengatakan bahwa mereka tidak diberikan ucapan selamat datang saat masuk ke outlet. Pada tahap penawaran penjualan, sebanyak 31% customer mengatakan tidak ditawarkan menu tambahan selain menu yang sudah dipesan oleh customer. Pada tahap posting pesanan, sebanyak 7% customer mengatakan pesanan mereka tidak disebutkan kembali oleh Crew Cashier untuk mengkonfirmasi ketepatan input pesanan.[7]

Maka dapat disimpulkan. yang terjadi pada organisasional Richeese Factory adalah kurang tepatnya dalam menetapkan pembagian kerja di antara karyawan, sehingga seringkali yang terjadi adalah fatigue yang tinggi terhadap crew outlet dan menyebabkan kelalaian ataupun kecerobohan. Hal ini juga menyebabkan penurunan efektivitas serta produktivitas karyawan.

Hal-hal yang dapat dibenahi dalam internal organisasi Richeese Factory

Membuat struktur organisasi yang lebih efektif berdasarkan fungsional

Manajer berperan untuk memanfaatkan sumber daya organisasi dengan sebaik-baiknya, namun bukan berarti pekerjaan yang tumpang tindih untuk menghasilkan efisiensi yang berlebihan. Maka diperlukan restrukturisasi khususnya terhadap crew outlet, crew outlet dapat dibagi lagi sesuai fungsinya sehingga masing-masing karyawan lebih terfokus pada tanggung jawabnya dan menghindari tingkat fatigue yang tinggi. Penambahan jumlah karyawan sebagai salah satu yang dapat dilakukan.

Meningkatkan koordinasi divisi

Sebagai organisasi tumbuh, manajer harus meningkatkan integrasi dan koordinasi antara fungsi dan divisi. Empat mekanisme integrasi yang memfasilitasi ini adalah peran penghubung, gugus tugas, lintas fungsional tim, dan mengintegrasikan peran. Dalam hal ini adalah koordinasi terhadap crew outlet atau dapat melakukan supervisi langsung.

Source: https://smemagazine.asia/understanding-how-to-franchise-your-business/

Salah satu strategi yang digunakan McDonald adalah franchising. Dalam franchising atau waralaba, sebuah perusahaan (pemilik waralaba) menjual ke organisasi asing (pemegang waralaba) hak untuk menggunakan nama merek dan pengetahuan pengoperasian sebagai imbalan atas pembayaran sekaligus dan bagian dari keuntungan pemilik waralaba. Keuntungan dari waralaba adalah pemilik waralaba tidak menanggung biaya pengembangan ekspansi ke luar negeri dan menghindari banyak masalah terkait peraturan perusahaan asing. Namun, kelemahannya adalah organisasi yang memberikan franchise mungkin kehilangan kendali atas bagaimana franchisee beroperasi dan kualitas produk mungkin jatuh. Dengan cara ini pemilik waralaba, seperti McDonald, berisiko kehilangan “brand loyalty”. 

Ray Kroc, penemu McDonald’s System, Inc kemudian memikirkan bagaimana cara membuat sebuah sistem yang menyediakan makanan berkualitas tinggi secara konsisten. Dirinya ingin menyediakan burger, fries, dan minuman dengan rasa yang sama persis di setiap lokasi[8]

Kroc menemukan filosofi unik dalam pencapaian tujuan tersebut, yakni mengejar para franchisee dan supplier untuk mewujudkan visinya, sehingga dapat membangun waralaba McDonalds bersama-sama.

Slogan yang dipegang teguh oleh Kroc adalah:

 “In business for yourself, but not by yourself.” 

Filosofi ini pun didasarkan pada prinsip sederhana dari 3 kaki kursi, di mana:

  • Kaki pertama adalah pembeli waralaba (franchisee),
  • Kaki kedua adalah penyedia (supplier), dan
  • Kaki ketiga adalah karyawan (employee).

Dalam menerapkan teori organitazional control dan meningkatkan organizational effectiveness dalam jaringan waralaba, McDonald's memberikan pelatihan kelas dunia bagi setiap orang yang mendaftar sebagai owner/operator. McDonalds akan menyediakan hands-on training dan material yang dibutuhkan untuk dapat meraih sukses di dunia kuliner

Program pelatihan mencakup:

  • Pelatihan langsung di restoran selama 12-18 bulan,
  • Self-directed, part-time training selama 20 jam per minggunya,
  • Seminar, konferensi dan sesi pelatihan one-on-one,
  • Kesuksesan berdasarkan pada kompetensi, dan
  • Operator training classes oleh local training professionals.

McDonalds juga memiliki sistem pelatihan ekstensif berupa pelatihan di Hamburger University, yang menyediakan kursus manajemen dalam 28 bahasa berbeda.

Lalu, mari kita menengok ke Richeese Factory. Dalam hal organitazional control dalam jaringan waralabanya dapat dikatakan tidak se-"canggih" McD. Richeese Factory hanya enekankan pada keuntungan dan fasilitas yang didapat dalam bisnis kuliner Richeese Factory tersebut kepada calon owner. Mendapatkan fasilitas lokasi non rekonstruksi, desain full interior dan eksterior, perlengkapan dapur yang lengkap, peralatan outlet operasional, system computer, pelatihan karyawan sesuai SOP, pasokan bahan baku, marketing dan promosi outlet baru.

McDonald's juga menerapkan standards of performance, goals, or targets against which performance is to be evaluatedField Operations &Franchising Staff Mc Donald's akan bekerja langsung dengan owner pada saat memasuki pelatihan. Merekalah yang akan membimbing para owner untuk maksimalisasi kualitas, jasa, dan kebersihan untuk mengoptimalisasi penjualan & keuntungan.Owner/operator juga akan memperoleh kesempatan untuk bertukar pikiran dan ide baik dalam perusahaan maupun antar sesama Owner/Operator dengan adanya forum nasional yang disediakan oleh:

  • McDonald’s National Leadership Council,
  • National Black McDonald’s Operator Association,
  • McDonald’s Hispanic Operator Association,
  • Women’s Operator Network,
  • McDonald’s Owner Operator Pride Network, 

Berkaca dari apa yang sudah dilakukan waralaba besar seperti McD, Richeese Factory seharusnya sudah mulai berpikir untuk lebih memaksimalkan owner yang sudah berinvestasi ke perusahaan mereka itu sendiri. Evaluasi sangat diperlukan agar mampu bersaing terutama di bidang kuliner. Kepuasan pelanggan menjadi masalah yang sering dihadapi oleh perusahaan, bahwa perusahaan belum tentu mampu memberikan kepuasan maksimal yang benar–benar diharapkan oleh pelanggan.

Kemudian dalam hubungan organizational control dan change, Owner atau operator bisa mengambil peran atau berkontribusi mengembangkan McDonald's itu sendiri, Big Mac, Filet O Fish,& Egg McMuffin Sandwiches adalah beberapa contoh variasi menu yang dikembangkan sendiri oleh Owner/Operators. Disini terlihat bahwa peran owner bukan hanya sebagai pemilik franchise saja bagi McDonalds, tapi juga ikut andil untuk melakukan pengembangan dalam hal pelayanan maupun variasi menu.

Sedangkan pada Richeese Factory hanya terpaku pada pengembangan varian keju, seharusnya mulai berani melibatkan para investor untuk ikut berperan dalam memberi masukan atau ide kepada management Richeese Factory, bisa dengan cara terobosan menu baru ataupun pembekalan terhadap SDM yang tersedia.

Dengan demikian…

Apakah waralaba lokal bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri? 

Tentu saja bisa!

Faktor Rasa, Merek dan Harga yang menjadi alasan masyarakat memilih fast food sebagai makanan mereka harus diimbangi dengan peran sistem manajemen yang baik.

Mulai dari inovasi produk, keinginan konsumen, pemasaran, kecepatan, teknologi, semua harus direncanakan dengan baik agar Richeese Factory bisa menjadi tuan rumah.


Ditulis oleh : Dewi Amelia / 39P19132

Sumber :

  1. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/04/29/jumlah-penduduk-indonesia-269-juta-jiwa-terbesar-keempat-dunia
  2. https://ekonomi.bisnis.com/read/20190211/12/887488/bisnis-restoran-cepat-saji-berpeluang-tumbuh-15-tahun-ini
  3. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/09/05/alasan-kenapa-orang-indonesia-memilih-fast-food
  4. https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/05/164050626/mcdonalds-indonesia-targetkan-15-restoran-baru-berdiri-tiap-tahun
  5. https://www.franchiseglobal.com/lebarkan-sayap-bisnis-richeese-factory-tawarkan-peluang-franchise.phtml
  6. https://www.kolomsatu.com/manajemen-bisnis.html
  7. https://repository.maranatha.edu/23398/3/1332008_Chapter1.pdf
  8. https://www.finansialku.com/waralaba-mcdonalds/

Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Dewi Amelia

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format