HOP HOP, SEMANGAT…!

Dengan sistem waralaba setelah 18 tahun berdiri, gerai Hop Hop belum tembus angka 100. Lain hal nya dengan Chatime yang dalam 8 tahun memiliki gerai hingga 300.


4
1 share, 4 points

Bisnis kuliner merupakan bisnis yang tidak akan pernah surut karena berhubungan erat dengan kebutuhan primer seluruh manusia. Berbagai jenis baru outlet makanan maupun minuman bermunculan seiring dengan menjamurnya pusat perbelanjaan dan kemudahan transportasi melalui platform digital. Pusat perbelanjaan (termasuk mall) bukan lagi hanya menjadi tempat untuk membeli kebutuhan sehari-hari, namun menjadi gaya hidup saat weekend (tidak menutup kemungkinan juga pada weekday) untuk berkumpul mencari hiburan bersama teman, keluarga maupun rekan sejawat.

Gambar 1. Ramainya Grand Indonesia Mall saat Weekend[1]

Keberadaan masyarakat di pusat perbelanjaan tentu juga memunculkan pasar untuk adanya akomodasi makan dan terutama minum. Telah banyak kita jumpai berbagai jenis gerai minuman, sebut saja jenis minuman Bubble Drink, yang sedang menjamur saat ini dengan berbagai macam merk. Terdapat berbagai macam merk Bubble Drink yang sering dijumpai di pusat perbelanjaan, diantaranya : Hop Hop, Chatime, Koi, Share Tea, Calais, dan lain-lain.

Bubble Drink juga tengah booming di beberapa Negara Asia Tenggara. Rata-rata, setiap orang di Asia Tenggara minum sebanyak 4 gelas bubble drink setiap bulan melalui pemesanan di GrabFood[2]. Konsumen di Thailand menjadi konsumen dengan rata-rata konsumsi bubble drink tertinggi dengan jumlah 6 gelas bubble drink per orang setiap bulannya, 2 gelas lebih banyak jika dibandingkan dengan angka rata-rata konsumsi bubble drink para konsumen se-Asia Tenggara. Peringkat tertinggi kedua adalah konsumen di Filipina di mana setiap orang rata-rata minum sebanyak 5 gelas setiap bulannya. Berikut grafiknya :

Gambar 2. Konsumsi rata-rata Bubble Drink Setiap Harinya

Selain para penggemar berat bubble drink, penikmat baru yang sedang tumbuh di kawasan Asia Tenggara juga turut berkontribusi terhadap pertumbuhan konsumsi ini. Jumlah pecinta bubble drink di GrabFood meningkat hingga lebih dari 12 % pada tahun 2018 dan masih terus mengalami peningkatan:

Gambar 3. Peningkatan Konsumsi Bubble Drink di GrabFood

Dari berbagai situs rekomendasi seperti Qraved, Tripzilla, dan Detik Food, Chatime merupakan salah satu Bubble Drink yang paling popular karena paling sering disebut. Selain itu, GRAB juga menyebut Chatime sebagai merchant paling favorit, bersama dengan Coco Fresh Tea & Juice, Macao Imperial Tea, Ochaya, Koi Tea, Café Amazon, The Alley, iTEA, Gong Cha, dan Serenitea.

Per 6 November 2019,Chatime, yang merupakan produk dari La Kaffa asal Taiwan, telah memiliki lebih dari 308 outlet[3]. Disamping memiliki ± 68 varian, Chatime juga seringkali muncul sebagai salah satu merchant yang selalu mengadakan promo cashback. Hal tersebut menjadi salah satu daya tarik Chatime. Kepopuleran Chatime sendiri terwujud karena sistem bisnis franchise / waralaba dibawah PT. Food Beverages, yang memungkinkan Chatime tersebar di berbagai penjuru dibantu dengan modal para mitra / franchisee.


Gambar 4. Beberapa Varian Chatime 

Chatime didirikan di Taiwan pada Tahun 2003, perusahaan teh yang bertujuan untuk menjadi yang paling dicintai dan dihormati di dunia. Untuk mencapai tujuan perusahaan Chatime berkomitmen untuk melayani konsumen, pelanggan, dengan teh berkualitas tinggi secara konsisten dan layanan pelanggan yang luar biasa di toko moderen. Perusahaan ini menggunakan mesin tea dan kopi yang berkualitas tinggi (dengan teknologi canggih) untuk membuat secara konsisten tea segar. 

Chatime pertama kalinya masuk ke Indonesia pada Februari 2011 dengan mengambil lokasi di Alam Sutera. Konsep dari Chatime adalah “Good tea good time” dimana minuman ini sesuai dengan cita rasa yang digemari mulai dari anak- anak, remaja, hingga dewasa. Chatime telah berkembang dengan cepat menjadi 100 outlet pada bulan November 2014 di kota- kota besar di Indonesia termasuk Jabodetabek, Cikarang, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Bali, Medan, Pontianak, Jambi, Palembang, Makasar, dan Manado.

Kesimpulan awal terhadap bisnis Chatime adalah, dengan sistem waralaba yang dikelola, peningkatan bisnis Chatime dinilai cukup signifikan dimana dalam 8 tahun, Chatime mampu mendirikan 308 gerai di seluruh Indonesia.

GAMBARAN SINGKAT BISNIS FRANCHISE / WARALABA[4]

Sebelum kita membahas klimaks dari artikel ini, berikut sedikit pengertian dari franchise (yang selanjutnya akan disebut waralaba) untuk me-refresh ingatan mengenai prinsip usaha dari 2 (dua) merk Bubble Drink yang akan kita bahas.

Waralaba, jika dalam bahasa Inggris biasa disebut dengan Franchising dan dalam bahasa Perancis disebut Franchise. Nah, yang dari bahasa Perancis ini yang sering digunakan, selain juga menggunakan istilah Waralaba (bahasa Indonesia).

Adapun pengertian waralaba dari Asosiasi Franchise Indonesia. Menurutnya, Waralaba adalah suatu sistem pendistribusian barang/jasa kepada pelanggan akhir dengan pengwaralaba (franchisor) yang memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.

Di dalam waralaba ada dua elemen yang perlu diketahui. Yang pertama adalah Franchisor dan yang kedua adalah Franchisee.

Franchisor adalah pemilik dari merek/usaha yang memberikan hak kepada pihak lain. Bisa badan usaha maupun perorangan. 

Franchisee adalah penerima waralaba atau yang membeli produk waralaba, bisa berupa badan usaha maupun perorangan. Franchise ini yang diberikan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau lainnya yang dimiliki oleh Franchisor.

Terdapat 2 (dua) jenis waralaba yaitu:

  1. Waralaba Luar Negeri. Waralaba ini cakupannya adalah seluruh dunia, yang mana produk/jasa ini sudah banyak diminati banyak orang dan bisa diterima di berbagai negara. Memiliki merk yang sudah ternama pula. Sebagai contoh adalah Mc. Donald, KFC, dll.
  2. Waralaba Dalam Negeri. Waralaba ini cakupannya hanya dalam negeri, ya meskipun bisa berpotensi go internasional, tapi fokusnya adalah pasar dalam negeri. Waralaba dalam negeri adalah salah satu solusi bagi yang ingin memiliki investasi dengan modal yang tidak terlalu tinggi tapi cepat dalam mendapatkan keuntungan. Saat ini sudah banyak sekali waralaba yang ada. Seperti Kebab Turki Baba Rafi, Minimarket Indomaret & Alfamart, dll.

Langkah-Langkah Mengurus Izin Franchise

Diambil dari PP No. 42 Tahun 2007 Bab V yang menjelaskan tentang cara pendaftaran waralaba, kamu perlu mengikuti langkah-langkah berikut:

Pengajuan proposal penawaran dari pihak pemberi waralaba (franchisor) kepada Menteri dengan melampirkan:

  • fotokopi proposal penawaran bisnis
  • fotokopi legalitas usaha
  • Pendaftaran perjanjian waralaba oleh penerima waralaba (franchisee) kepada Menteri dengan melampirkan:
  • fotokopi legalitas usaha
  • fotokopi perjanjian waralaba
  • fotokopi proposal penawaran waralaba
  • fotokopi KTP pemilik/pengurus perusahaan
  • Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba oleh Menteri yang berlaku untuk jangka waktu 5 tahun

Menurut Pasal 7 PP No. 42 Tahun 2007, proposal penawaran yang diajukan oleh pemberi waralaba setidaknya memuat:

  • Data identitas pemberi waralaba
  • Legalitas usaha pemberi waralaba
  • Sejarah kegiatan usahanya
  • Struktur organisasi pemberi waralaba
  • Laporan keuangan 2 tahun terakhir
  • Jumlah tempat usaha
  • Daftar penerima waralaba
  • Hak serta kewajiban pemberi waralaba dan penerima waralaba

LALU, BAGAIMANA DENGAN PEMAIN WARALABA BUBBLE DRINK ANAK BANGSA…?

Sebut saja Hop Hop the Bubble Drink yang merupakan karya Bapak Michael Karnady, seorang Warga Negara Indonesia yang merupakan lulusan Sarjana Teknik Industri dari California State University, Fresno, Amerika Serikat. Michael Karnady mendirikan PT. Mata Air Boga Lestari sebagai perusahaan yang memproduksi Hop Hop The Bubble Drink (selanjutnya akan disebut “Hop hop”) pada tahun 2000. [5]Sempat menjadi pioneer dan booming pada masanya, dengan sistem waralaba setelah 5 tahun berdiri, pada tahun 2006 Hop hop telah mendirikan 44 gerai. Setelah sempat meningkat hingga 75 gerai pada tahun 2011, pada tahun 2019 gerai Hop hop menurun menjadi 66 gerai. Berikut grafik pertumbuhan gerai nya :

Gambar 5. Grafik pertumbuhan gerai Hop Hop dan Salah satu Gerainya di Mal Pondok Indah

Tentu hal ini adalah pertanyaan karena penurunan gerai juga menandakan adanya penurunan minat beli produk dan waralaba nya. Hal ini juga tercermin dari data survey top brand award tahun 2016 kategori minuman bubble berikut :

Gambar 6. Survei Top Brand tahun 2016[6]

Popularitas Hop Hop menurun drastis pada tahun 2016 setelah sebelumnya jauh mengungguli Chatime, kompetitor terbesarnya. Pada tahun 2016 Chatime berbalik mengungguli Hop Hop sebagai brand minuman bubble paling favorit.

Jelas terlihat bahwa Hop Hop, yang merupakan usaha  Bubble Drink dalam negeri kalah bersaing dengan Chatime yang memiliki core usaha yang sama dan juga sama-sama berprinsip usaha waralaba.

ANALISA KALAH SAING HOP HOP DARI CHATIME MELALUI PENDEKATAN MANAGEMENT

Concept 1 : THE MANAGER AS A PLANNER AND STRATEGIST (CHAPTER 8)

Menurut Gareth Jones dan Jennifer George, dalam bukunya Contemporary Management, Planning dan Strategy Planning adalah sebuah proses yang digunakan oleh manajer untuk mengidentifikasi dan memilih tujuan serta tindakan yang tepat untuk organisasi. Strategi adalah kumpulan dari keputusan-keputusan tentang tujuan yang ingin dicapai, tindakan yang akan dilakukan dan bagaimana menggunakan sumber daya untuk mencapai tujuan.

Pada The Nature of The Planning Process, ada beberapa teknik yang dapat digunakan dalam proses perencanaan :

  1. Menemukan dan menentukan posisi perusahaan saat ini
  2. Menentukan bagaimana posisi perusahaan di masa yang akan dating
  3. Memutuskan langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk bisa mencapai posisi yang diharapkan di masa yang akan datang.

[7]Ketika membuat perencanaan, perusahaan harus memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang supaya dapat memutuskan apa yang akan dilakukan pada saat ini. Semakin baik prediksinya, semakin efektif strategi-strategi yang disusun untuk mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang dan menjawab tantangan dari pesaing. Lingkungan di luar perusahaan sangat tidak menentu dan kompleks, itulah sebabnya mengapa membuat perencanaan dan strategi merupakan hal yang sulit dan sangat beresiko. Jika perusahaan salah membuat prediksi sehingga salah membuat rencana dan strategi, dapat menyebabkan menurunnya performa perusahaan. 

Tidak lama setelah resmi diluncurkannya Hop Hop, banyak brand lain yang juga mengikuti trend tersebut karena penerimaan dari masyarakat yang cukup baik. Walaupun mimpi buruk Hop Hop harus terjadi baru lama setelahnya, dimulai dari masuknya Chatime pada tahun 2011. Keberhasilan Chatime memperlihatkan bagaimana Chatime memiliki rencana bisnis yang matang dan mampu memprediksi pasar dengan baik.

Melihat dari stagnansi Hop Hop selama 18 tahun, sepertinya Hop Hop perlu mengkaji lagi rencana yang pernah dibuat untuk dapat survive maupun seperti Chatime, menjadi Top of Mind Bubble Drink. Potensi Hop Hop masih sangat besar, karena masyarakat Indonesia pernah menggemarinya, namun tertinggalkan karena adanya merk baru dengan rencana ekspansi besar-besaran. Buktinya? Coba lihat varian Hop Hop dibawah ini, menggiurkan bukan?

Gambar 7. Hop Hop Chocolate Blend

Concept 2 : ORGANIZATIONAL CONTROL AND CHANGE (CHAPTER 11)

Menurut Gareth Jones dan Jennifer George, dalam bukunya Contemporary Management, terdapat 4 langkah proses perubahan dalam suatu organisasi, yaitu :

Gambar 8. 4 Langkah Proses Perubahan Dalam Suatu Organisasi

  • Tahap 1, mengkaji perlu atau tidaknya perubahan.

Dalam Organisasi Hop Hop, perlu, karena dengan potensi yang cukup baik, Hop Hop tetap berpegang pada stagnansi nya. Jika ingin kembali bersaing dan mengalahkan kompetitornya, maka perubahan adalah keharusan.

  • Tahap 2, memutuskan perubahan yang akan dilakukan.

Hop Hop tentu perlu memiliki bayangan bagaimana dimasa depan dapat mengalahkan kompetitornya yang terutama adalah pendatang dari luar negeri. Sebagai produk anak bangsa, Hop Hop harus berkuasa di negeri sendiri.

Tentu terdapat hambatan maupun ancaman terhadap keputusan perubahan yang diambil, namun, who doesn’t?

  • Tahap 3, mengimplementasikan perubahan yang sudah diputuskan.

Bagaimana perubahan tersebut dilakukan? Apakah top-down change dimana pendekatan implementasi yang dilakukan cukup drastis yang berasal dari Level tertinggi hingga terendah atau bottom-up change dimana implementasi perubahan atas rencana yang diberlakukan Hop Hop dikerjakan bersama oleh level tertentu.

  • Tahap 4, mengevaluasi hasil.

Terhadap sebelum dan sesudah perubahan diberlakukan, harus dikaji apakah memberikan hasil  yang diinginkan. Sebagai contoh, selama 18 tahun Hop Hop terus stagnan (tidak pernah diatas 100 gerai) atas hasil berbagai kebijakan yang telah diberlakukan. Sehingga gambaran kasarnya, kebijakan yang dikeluarkan belum berhasil karena belum dapat menyaingi kompetitor. Sehingga diperlukan inovasi lainnya. 

Yang tidak kalah penting sebelum merencanakan perubahan adalah, pengkajian penerimaan perubahan tersebut di internal perusahaan. Apakah unit-unit Hop Hop menerima perubahan tersebut dan mengimplementasikannya dengan baik atau menolak keputusan yang ditetapkan sehingga mengakibatkan penurunan stagnansi atau penurunan kinerja perusahaan, seperti gambar berikut :

Gambar 9. Lewin’s Force Field Theory of Change

Penerimaan elemen internal perusahaan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Jika penerimaan tinggi terhadap paksaan perubahan yang ada, hal tersebut dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Chatime yang sudah beroperasi di beberapa negara dan sukses, tentu menjadikan elemen internalnya imun terhadap perubahan atau kebijakan baru. 

Concept 3 : USING ADVANCE INFORMATION TECHNOLOGY TO INCREASE PERFORMANCE (CHAPTER 18)

Menurut Gareth Jones dan Jennifer George, dalam bukunya Contemporary Management, Optimalisasi kinerja perusahaan juga dapat tercapai dengan menggunakan teknologi. Faktor yang mempengaruhi perlunya informasi terlihat dari gambar berikut :

Gambar 10. Faktor yang Mempengaruhi Perlunya Informasi

  • Quality  : Untuk mengambil keputusan yang tepat bagi perusahaan, harus mendapat informasi yang menyeluruh.
  • Timeliness : Info yang dicari haruslah yang terbaru agar memberikan kondisi real.
  • Completeness :  Pembuat keputusan memerlukan informasi agar dapat membuat parameter kontrol, berkoordinasi dengan pihak yang diperlukan maupun membuat keputusan yang efektif.
  • Relevance : Keputusan yang dibuat harus sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan situasi sekitar agar tepat.

Terlihat dengan adanya informasi, diharapkan perusahaan dapat mengambil strategi dan mengimplementasikannya dengan baik. Selain mengambil informasi, perusahaan juga dapat memberikan informasi yang diinginkan untuk branding perusahaannya seperti memperkenalkan / mempromosikan produk baru. Terbukti Chatime memanfaatkan teknologi informasi untuk bekerjasama dengan Dompet Digital untuk mengikuti program Cashback yang sudah sangat familiar di masyarakat sehingga menambah minat masyarakat untuk mengkonsumsi produk tersebut. Hop hop sampai saat ini kurang terdengar melakukan hal yang serupa sehingga minat masyarakat beralih ke Chatime.

KALAU BOLEH USUL…

Hop Hop saat ini kalah bersaing namun bukan berarti memiiki produk yang tidak bisa bersaing. Penulis pun termasuk kalangan yang menyukai Hop Hop. Sehingga pilihan strategi yang bisa diusulkan adalah sebagai berikut ;

1. Perbanyak Varian

Hop Hop sudah memiliki varian rasa yang cukup menggoda lidah, namun tetap harus mengikuti perkembangan jaman. Saat ini masyarakat sangat menggandrungi kopi, sehingga ada baiknya varian kopi ditambah dan bahkan dibuat lebih kreatif. Masyarakat juga sedang menggandrungi rasa Brown Sugar, Hop Hop telah mengakomodir trend tersebut. Selain kopi dan brown sugar, rasa Cheese juga sedang banyak diminati dan belum dimiliki Hop Hop. Tambahan varian ini diharapkan dapat menambah atau mengembalikan minat masyarakat akan Hop Hop.

Gambar 11. Hop Hop varian Brown Sugar

Berikut review Chatime varian brown sugar :

2. Hop Hop X Selebgram

Tanpa sadar, gaya hidup masyarakat banyak tepengaruh oleh trend yang diciptakan selebgram, karena konsumsi media sosial yang sangat tinggi di masa ini. Apalagi jika Hop Hop memilih selebgram yang cukup vokal dan persuasif untuk melakukan kolaborasi. Contohnya, Tasya Farasya. Seorang Beauty Blogger yang juga diklaim sebagai influencer skin care, memiliki cara berbicara yang menggebu-gebu.Mari kita lihat videonya dibawah ini. Diharapkan pemilihan talent untuk kolabrasi dengan kriteria ini juga turut mempromosikan Hop Hop.

3. Selalu Berdekatan dengan Chatime

Mencontoh Indomart dan Alfamart, atau KFC dengan McD, penguasa pasar dan kompetitor utamanya terlihat sering berdekatan bahkan tidak jarang persis bersebelahan. Hal ini turut menggambarkan persaingan yang sehat. Pasar kuliner sangat besar, sehingga dengan berdekatan justru akan menambah konsumen. Walaupun Hop Hop tetap harus mempertahankan keunikannya dibandingkan dengan Bubble Drink yang lain agar memiliki ciri yang dapat dijual. Bisa mengusung segi harga yang lebih murah, kapasitas toko yang lebih luas, pelayanan yang lebih ramah, maupun suasana yang lebih nyaman. 

4. Menggaet Dompet Digital

Berkaca dengan kompetitornya, Chatime eksis menjadi list teratas tenant yang mengikuti program cashback dari Gopay dan Ovo. Hal ini lah yang membuat Chatime semakin Booming karena konsumen dapat menikmati Chatime dengan harga yang rendah dibanding dengan harga asli nya. Apalagi teknologi Cashless Payment sedang sangat digiatkan, sehingga hampir sebagian besar masyarakat di kota-kota besar memiliki layanan tersebut di ponsel pribadinya. Hal ini sejalan dengan target market Hop Hop dan Chatime, yang perkembangan gerainya banyak terletak di kota besar atau ibukota. Berikut gambar konsentrasi pesanan Bubble Drink melalui GrabFood yang terkonsentrasi dikota besar :

Gambar 12. Sebaran Pesanan Bubble Drink melalui Grabfood Terkonsentrasi di Kota Besar

Semoga artikel ini bermanfaat.

Ditulis Oleh : Wilma Aziza /39P19174


SUMBER :

[1]https://megapolitan.kompas.com/read/2017/06/17/23240371/.midnight.sale.grand.indonesia.buka.hingga.pukul.01.00

[2] https://www.grab.com/id/press/tech-product/demam-bubble-tea-di-grabfood/ 

[3]https://www.wartaekonomi.co.id/read255201/chatime-akan-tambah-16-gerai-hingga-akhir-2019.html

[4] https://jojonomic.com/blog/franchise/

[5] Directory library.binus.ac.id

[6] www.topbrand-award.com

[7] http://rintobayu.blogspot.com/2011/11/manager-as-planner-and-strategist.html

Gareth Jones dan Jennifer George, dengan buku Contemporary Management Edisi 11




Like it? Share with your friends!

4
1 share, 4 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
1
Fun
Genius Genius
4
Genius
Love Love
1
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
4
Win
WILMA AZIZA

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format