Kerajaan E-Wallet Indonesia, Apa Kabar Nasib Sang Pionir, Jenius?

Kamu pilih mana? Jenius atau OVO?


64
5 shares, 64 points

Internet of Things (IoT), Big Data, 3D printer dan Artificial Intelligence (AI) tentu saja sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Bentuk-bentuk dari inovasi revolusi 4.0 diatas sudah memberikan banyak perubahan dalam kehidupan kita sehari-hari baik dari segi perekonomian dan juga gaya hidup secara signifikan. Hal tersebut mencakup sistem cyber-fisik, internet of things (IoT), komputasi awan, dan komputasi kognitif. (1)

Salah satu hal terbesar didalam Revolusi Industri 4.0 adalah Internet of Things (IoT), yaitu kemampuan dalam menyambungkan dan memudahkan proses komunikasi antara mesin, perangkat, sensor, dan manusia melalui jaringan internet. Misal saja, sebelumnya kita biasa mentransfer uang melalui ATM atau bank, saat ini transfer uang dimana saja dan kapan saja dalam aplikasi di smartphone. Hanya dengan aplikasi dan modal internet, kita dapat mengontrol aktivitas keuangan, melakukan transaksi dan pembayaran kapanpun dan dimanapun.

“BTPN: The Transformers”

BTPN merupakan bank universal yang saat ini memiliki bisnis perbankan lengkap dan melayani nasabah dengan segmen yang cukup luas, mulai dari segmen ritel hingga ke korporasi. Pada awalnya bank yang sudah berusia 61 tahun ini beroperasi secara sederhana dengan hanya berfokus pada satu unit bisnis yakni pensiunan. Hal ini bisa dianggap sebagai anomali jika dilihat secara struktur masyarakat Indonesia yang banyak memiliki populasi milenial atau kaum muda yang pada akhirnya menimbulkan masalah bagi bank yang mayoritas nasabahnya berasal dari nasabah usia pensiunan. Pasca akuisisi dan merger,  BTPN pun bertransformasi dan mulai melakukan inovasi – inovasi yang tidak hanya berfokus pada pembiayaan, tapi juga pada bisnis simpanan dan sistem pembayaran. BTPN mulai melakukan diversifikasi produk perbankan yang lebih menargetkan ke masyarakat secara luas, salah satunya melalui digital perbankan.

Dengan mengandalkan teknologi pada platform digital, BTPN pun meluncurkan BTPN Wow dan Jenius di tahun 2016 yang menjadi pionir dalam aplikasi modern perbankan digital. Berbeda dengan BTPN Wow yang mengincar mass market, Jenius justru lebih menyasar pada segmen konsumtif yang banyak datang dari kalangan milenial. Melalui aplikasi jenius nasabah bisa membuka rekening, menabung, membuka deposito, transfer hingga berbelanja secara online hanya melalui smartphone. Sebagai pionir di bidang perbankan digital pun Bank BTPN berusaha untuk tetap konsisten dengan melanjutkan inovasi untuk memperbesar skala model bisnis BTPN Jenius sebagai platform untuk melayani segmen nasabah yang lebih luas. “Kita akan terus mengembangkan bisnis pensiunan, bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah, bisnis pendanaan, perbankan digital melalui BTPN Wow! dan Jenius, serta bisnis korporasi yang sebelumnya dimiliki SMBCI,” jelas Ongki (1).

“JENIUS, The First Knight!”

Demi mendapatkan pangsa pasar perbankan yang lebih luas, BTPN pun bermanuver untuk membuat produknya lebih relevan ke kalangan milenial dengan meluncurkan Jenius di Agustus 2016. Jenius merupakan salah satu produk dari Bank Tabungan Pensiunan Nasional atau BTPN yang memiliki slogan Experience Banking Reinvented dimana pada tahun tersebut belum terdapat kompetisi sejenis di dunia perbankan Indonesia. Kejeniusan Jenius pada masa ini adalah dengan bertindak sebagai pionir dan juga edukator dengan memberikan pengalaman unik yang berbeda tentang bagaimana mempermudah  proses transaksi perbankan terutama di kalangan muda. Pada aplikasi ini Jenius ingin agar pengguna layanan perbankan dapat dengan mudah, cerdas, dan aman dalam melakukan pengelolaan keuangan dengan pemanfaatan fitur perbankan dalam satu aplikasi (2).

(Source: https://magazine.job-like.com/mengenal-aplikasi-jenius-btpn/)

Beberapa fitur perbankan unggulan yang ditawarkan oleh aplikasi Jenius misalnya saja fitur $CashTag. Dengan fitur ini nasabah dapat melakukan transfer dana dengan nama pemilik rekening tanpa perlu memasukkan nomor rekening penerima secara langsung.  Selain itu ada fitur yang disebut dengan Moneymoji yang memungkinkan nasabah untuk mentransfer dana dengan lebih seru yaitu dengan menambahkan emoji dan animasi. Emoji dan animasi ini juga akan ter-update menyesuaikan dengan momen, seperti hari raya atau hari libur. Fitur lainnya adalah PAY ME, dimana fitur ini dapat memberitahukan ke rekan apabila memiliki hutang pembayaran yang harus diberikan ke nasabah pengguna. Jenius sendiri juga memberikan layanan berupa kartu virtual online  m-card, e-card, dan x-card yang kesemuanya dapat diatur dalam aplikasi pada menu card center.

M-card sendiri berfungsi seperti pada umumnya kartu debit pada umumnya dengan keunggulan yang sudah tergabung dengan Visa PayWave sehingga transaksi di merchant bisa lebih cepat. e-card,kartu ini digunakan untuk melakukan pembayaran online yang biasanya membutuhkan kartu kredit. Sedangkan x-card yang berfungsi sebagai kartu debit tambahan, dimana saldo pada kartu ini bisa di top-up melalui aplikasi Jenius. 

Jenius dilengkapi dengan berbagai fitur yang dapat membantu proses transaksi lebih cepat, memaksimalkan tabungan dengan bunga lebih optimal, serta mengatur keuangan dengan kartu debit tambahan untuk alokasi dana dan limit budget. Fitur-fitur tersebut untuk lebih jelasnya dapat dilihat di tautan berikut:

Di luar fitur-fitur tersebut Jenius juga menggratiskan biaya kartu, administrasi, biaya pembuatan akun, penutupan akun, biaya pinalti dan juga biaya tarik di ATM selain BTPN dan transfer ke bank lain dengan kuota 25 kali transaksi.

Di samping keunggulan di atas, tentu saja ada beberapa hal yang dianggap sebagai kekurangan, misalnya saja tidak banyak masyarakat yang memiliki atau berniat memiliki rekening di bank penaungnya, yaitu BTPN, sedangkan untuk memanfaatkan beragam fitur di aplikasi Jenius, tentu saja harus memiliki rekening di BTPN.

“OVO: The Rise of Mobile Wallet”

Jenius memang merupakan pionir di bidang digitalisasi perbankan, tetapi menjadi pionir saja tidaklah cukup untuk bertarung di dunia digital yang begitu cepat dan menuntut banyak inovasi serta penyesuaian dengan target pasar. Terutama, di saat banyak pemain-pemain baru di bidang dompet digital yang notabene merupakan bagian dari bentuk digitalisasi perbankan semakin banyak berdatangan ke pangsa pasar Indonesia, sebut saja nama-nama yang sudah tidak asing lagi di masyarakat Indonesia, terutama untuk kaum milenial seperti GoPay, OVO, LinkAja (sebelumnya TCash) dan Dana.

(Source: https://www.ovo.id/)

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI), OVO merupakan dompet digital dengan nilai transaksi terbesar di Indonesia, dimana OVO memiliki pangsa pasar sebesar 37% dari total transaksi di kategori perbankan ini (4). Awalnya, aplikasi yang berada di bawah naungan Lippo Group bagian digital ini memulai servisnya di tahun 2016, dimana OVO menawarkan tiga servis utama, yaitu pembayaran, pengumpulan loyalty points dan juga servis financial. Baru pada bulan September tahun 2017, OVO mendapatkan izin dari OJK untuk beroperasi sebagai sebuah perusahaan fintech dan menjadi pesaing yang disegani di dunia dompet digital. 

OVO menyadari perencanaan yang baik adalah kunci untuk menjadi pemain yang kuat. Dibandingkan meluncurkan produk yang setengah jadi, lebih baik OVO mengintegrasikan kebutuhan pasar yang paling relevan dan menuangkannya dalam satu aplikasi. Untuk itu, dalam memformulasikan strategi pada level korporasi, bisnis hingga ke penetapan tujuan fungsional, dimana OVO memutuskan untuk mengkonsentrasikan pada satu bidang industri, yaitu dompet digital. OVO menyadari dompet digital merupakan enabler dari banyak bisnis, baik yang bersifat online maupun offline. Selain itu dari segi pasar, bagaimana OVO bisa selalu memiliki fungsi di keseharian target pasarnya, mulai dari pagi hingga malam hari. 

Untuk mewujudkan ambisinya dalam menjadi pemain utama, OVO kemudian membuatkan business-level plan yang kuat, yaitu dengan menguasai 5 pilar utama dari dunia dompet digital, dimana ke-5 pilar ini merupakan pilar dompet digital dengan aktvitias tertinggi karena mengrefleksikan kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan oleh konsumen muda Indonesia, yaitu ride hailing atau mobility, food, offline, e-tailing dan recharges (5). 

Tentunya sebagai bagian dari perusahaan Lippo Group, OVO mempunyai kelebihan di bidang offline dan food. Lippo Malls yang merupakan anak dari perusahaan Lippo Group memiliki lebih dari 50 mal di seluruh Indonesia dengan anchor tenant yang berasal hampir dari 600 perusahaan dan jumlah penyewa di atas 15.000. Tidak hanya itu, sistem pembayaran OVO-pun bisa diterima di lebih dari 500.000 merchants, hampir dua kali lipat di atas pemain terbesar kedua, GoPay, yang berkolaborasi dengan kurang lebih 300,000 merchants (6). 

Walaupun telah menguasai bidang retail, OVO menyadari untuk dapat benar-benar menguasai pasar dompet digital, OVO juga harus bermain di pilar-pilar lainnya. OVO kembali memperkuat keberadaannya di bidang ride-hailing dan juga e-tailing, dengan bekerjasama dengan 2 unicorn terbesar di Indonesia, yaitu Grab dan Tokopedia. Untuk mengenal lebih jauh mengenai OVO bisa dilihat di video berikut:

Dalam memperkuat strategi bisnisnya, OVO juga melakukan functional-level plan, dimana para manajer melakukan penetapan tujuan untuk membantu tim internal mereka dalam implementasinya. Salah satu hal yang dapat dilakukan disini adalah bagaimana OVO memiliki sejumlah tim yang berfokus dalam mengimplementasikan strategi bisnis terutama untuk meningkatkan jumlah transaksi OVO di Grab, baik untuk bisnis vertikal ride hailing, food dan lainnya.

Mempunyai produk yang tepat tentunya merupakan hal yang penting untuk suatu perusahaan. Tetapi, seperti yang diucapkan oleh Lawrence Bossidy, mantan CEO dari Allied Signal, “I am convinced that nothing we do is more important than hiring and developing people. At the end of the day, you bet on people not on strategies.” OVO sadar bahwa mempekerjakan orang yang tepat dan di posisi atau divisi yang tepat sangat penting untuk jalannya perusahaan. Melihat target pangsa pasar OVO yang menyasar ke milenial, tentu saja lebih tepat untuk mempekerjakan milenial seiring dengan tujuan untuk memenangkan pasar milenial. Selain itu, OVO juga menciptakan struktur organisasi yang mengintegrasikan antara sumber daya manusia dan lingkungan kerja yang adaptif yang sejalan dengan strategi bisnis perusahaan sambil memanfaatkan perkembangan sistem teknologi. Hal ini dirasa perlu dilakukan oleh para manajer di OVO untuk membangun  momentum, memfasilitasi perubahan-perubahan yang ada, agar perusahaan dapat mencapai tujuan bisnisnya dengan cara yang efektif. 

“Jenius: The First Knight has Fallen” 

Sekali lagi, menjadi salah satu yang pertama di pasar atau menjadi pionir bukan berarti akan menjadi nomor satu di pasar. Terutama apabila pangsa pasar bergerak sangat cepat dengan segala kebutuhan yang serba instan dan banyak pemain-pemain lain yang bergerak lebih agresif untuk beradaptasi dan mendapatkan penetrasi market yang tinggi. Hal inilah yang terjadi dengan Jenius. Layanan mobile payment semakin populer seiring meningkatnya pemakaian smartphone hingga 70% dalam lima tahun terakhir di Indonesia. Terlebih, semakin banyak pilihan aplikasi e-wallet tanpa kartu untuk bertransaksi. Berdasarkan data dari Bank Indonesia, sudah ada 38 e-wallet yang mendapatkan lisensi resmi (7). 

Berselang tiga tahun sejak peluncurannya, Jenius tidak mampu untuk mendapatkan posisi teratas dalam hal aplikasi finansial. Data menunjukan keagresifan OVO telah menghasilkan 58% market share dari total transaksi dompet digital di Indonesia, posisi kedua diduduki oleh GoPay dengan 23% market share sedangkan peringkat ketiga diikuti oleh DANA sebesar 6%.  Tigabelas percent sisanya diisi oleh pemain lain seperti LinkAja, Flazz, Brizzi dan Mandiri e-Money. Data yang sama dari Snapcart menunjukkan bahwa 63% responden memilih OVO untuk transaksi di retail, 28% memilih GoPay dan 7% memilih Dana. Posisi OVO lebih kuat lagi di e-tailing, dimana 70% responden memilih OVO, dan posisi GoPay mundur di 18%, sedangkan Dana berada di angka 11% (8).

Tidak hanya dalam market share, secara awareness, Jenius juga hanya berhasil menempati urutan ke - 12 di antara pengguna e-wallet.

(Source: Snapcart: E-Wallet Payment Tracking Q1 2019)

Dalam pencarian di kategori financial, performa dari aplikasi Jenius pun tidak terlihat cukup baik jika dibandingkan dengan kompetitornya OVO dan pemain yang terbilang cukup baru, Dana. Dengan jumlah pendownload yang cukup mencapai milyaran, Jenius hanya memiliki 39.575 pengguna aktif harian yang membuat penetrasi pengguna aplikasi hanya sekitar 0.06% dari total download.

(Source: SimilarWeb, Jan-Nov 2019, Play Store Data)

Jika dilihat lebih jauh lagi, pengguna Jenius pun masih didominasi oleh laki-laki dengan usia terbanyak di 25-34 tahun. Hal ini menjadi pekerjaan besar bagi Jenius untuk meningkatkan penetrasi di kalangan perempuan dan usia 25 tahun kebawah.

(Source: SimilarWeb, Jan-Nov 2019, Play Store Data)

Jika dilihat dari data-data diatas beberapa hal yang menyebabkan kurangnya penetrasi pengguna Jenius diantaranya adalah kurangnya presence dan juga awareness Jenius di pilar-pilar utama pendukung dompet digital. 

“Jenius: Revenge of the Fallen”

Dalam interviewnya dengan katadata.co.id, Harianto Gunawan selaku Direktur of Enterprise Payment OVO, mengatakan bahwa pada saat ini mayoritas penduduk Indonesia masih menggunakan tunai pada saat bertransaksi, dan layanan pembayaran secara digital di Indonesia masih di bawah 10%. Hal ini menunjukkan potensi bisnis yang sangat besar. Harianto melanjutkan bahwa kenyamanan dan kepercayaan adalah dua hal utama yang membuat konsumen mau menggunakan layanan dompet digital (9). Walaupun dompet digital masih memiliki potensi pasar yang sangat luas, apakah level tipe dan perencanaan dari Jenius dalam bermain di kategori tersebut sudah tepat? Tentunya hal ini tidak dapat langsung dijawab semudah itu.

Top-level manajemen Jenius dapat meninjau ulang baik corporate-level plan, business-level plan dan juga functional-level plan serta mulai menentukan tujuan yang ingin dicapai dari setiap plan. Seperti apa tujuan atau goal yang ingin dicapai baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, apa saja strategi yang harus dipikirkan untuk mencapai tujuan-tujuan itu dan yang terpenting adalah bagaimana mengimplementasikan semua tujuan dan strategi yang telah direncanakan di setiap level dapat tercapai dengan baik.  Salah satu yang dapat dilihat dalam menentukan strategi manajemen dari perusahaan adalah dengan menggunakan Porter’s Five Forces, yaitu sebuah alat untuk memahami posisi kekuatan perusahaan untuk menghadapi persaingan bisnis.

Jika ditinjau lebih jauh dari Porter’s Five Forces, Jenius masih memiliki banyak potensi bisnis, seperti:

  1. Level of Rivalry in an Industry

Pada dasarnya tujuan bisnis dari perusahaan adalah untuk meraup profit sebesarnya dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk keberlangsungan perusahaan. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan adalah dengan memperkuat posisi produk (market share) dan awareness brand di tengah kompetisi yang ada. Semakin kuat market share  dan awareness dari perusahaan dibandingkan dengan kompetitornya, maka semakin besar potensi bisnis yang bisa dikembangkan.

Saat ini industri finansial, khususnya dompet digital mempunyai dua pemain besar, yaitu OVO dan GoPay. Sedangkan pemain ketiga dipegang oleh Dana, yang kemudian diikuti oleh pemain-pemain lainnya seperti: LinkAja, Flazz, Brizzi dan Mandiri e-Money. Potensi yang dapat dilakukan oleh Jenius, dibandingkan bersaing dengan kedua raksasa dompet digital ini, justru adalah dengan menggandeng para pemain dompet digital untuk berkonsolidasi agar Jenius dapat hadir di kelima pilar yang sudah dimiliki oleh OVO dan GoPay. Pada akhirnya, setiap dompet digital pun juga memerlukan keberadaan bank untuk mengisi saldo di e-wallet tersebut.

  1. Potensial for New Entrants

Hal lain yang perlu dipertimbangkan kembali adalah seberapa mudah kompetitor atau calon kompetitor untuk masuk ke industri finansial ini. Pada dasarnya industri finansial tentunya memberikan profit yang cukup tinggi, tetapi yang perlu diperhitungkan adalah, apabila pemain baru ingin bermain di industri ini investasi modal dan teknologi yang diperlukan sangat tinggi. Belum lagi pengurusan merk dagang, loyalitas pelanggan terhadap produk dan barang yang sudah ada, serta regulasi yang ketat dari pemerintah untuk kategori finansial memberikan keuntungan khusus bagi Jenius.

Data terbaru dari Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) yang dikeluarkan pada tanggal 19 Desember 2019 menunjukkan pada saat ini ada sekitar 61 penyedia dompet digital di Indonesia (9). Hal ini menunjukkan betapa seksinya kategori dompet digital, terutama apabila dilihat dari jumlah transaksi yang menggunakan dompet digital masih di bawah 10%, dibanding dengan transaksi tunai yang menguasai lebih dari 90% transaksi di Indonesia. Walaupun jumlah pemain ada di angka 61, tetapi konsumen hanya mengenal pemain yang besar-besar saja. Oleh karena itu, Jenius harus menempatkan dirinya sebagai salah satu pemain besar juga, salah satunya dengan cara masuk ke dalam 5 pilar yang dimasuki oleh para pemain e-wallet.

  1. Power of Large Suppliers

Dalam kategori industri finansial supplier dapat dilihat lebih sebagai merchant - merchant raksasa yang menguasai ke-5 pilar di industri teknologi digital yaitu ride hailing atau mobility, food, offline, e-tailing dan recharges. Jika LinkAja dapat masuk sebagai salah satu model pembayaran di aplikasi GoPay, bukan tidak mungkin kedepannya Jenius juga bekerjasama dengan Grab, GoJek, Anterin dan aplikasi ride hailing, online food dan e-commerce lainnya sebagai opsi pembayaran. Yang perlu dilihat disini adalah banyaknya jumlah transaksi yang dihasilkan dari pilar-pilar tersebut, mengingat pilar tersebut sudah menjadi bagian dari keseharian anak milenial yang serba instan.

(source: https://www.statista.com/outlook/296/120/digital-payments/indonesia)

  1. Power of Large Customers

Analisa ini melihat pada kekuatan konsumen dalam melakukan daya tawar. Di industri ini, konsumen sangat memiliki banyak opsi dan opsi tersebut sangat dipengaruhi oleh promo-promo yang dilakukan oleh masing-masing e-wallet. Loyalitas pengguna dapat dikatakan cukup rendah disini:

(Source: Snapcart: E-Wallet Payment Tracking Q1 2019)

Jenius disini justru memiliki  potensi yang sangat besar karena Jenius pada dasarnya memberikan servis finansial layaknya bank dalam sebuah aplikasi, bukan tidak mungkin kalau kedepannya, Jenius dapat merambah ke dalam bentuk e-wallet. Jadi semua yang dibutuhkan oleh konsumen yaitu kemudahan bank dan transaksi dompet digital dalam satu aplikasi.

  1. Threat of Substitute Products

Hal lain yang harus diperhatikan Jenius adalah adanya potensi produk pengganti baik dari kompetisi langsung maupun tidak langsung yang dianggap oleh konsumen bisa menggantikan penggunaan produk yang sekarang. Misal saja, dulu Jenius dianggap pionir karena membuka kemudahan akses dalam transaksi perbankan melalui smartphone, tapi pada realitanya mobile e-wallet bisa melihat potensi lain bahwa transaksi finansial bisa dilakukan di luar sistem perbankan, bahkan transaksi-transaksi ini menjadi transaksi rutin harian yang jumlahnya jauh diatas transaksi di dunia perbankan. Walaupun e-wallet awalnya bukan merupakan kompetisi langsung, pada kenyataannya jumlah transaksi e-wallet pada akhirnya mengganggu jumlah transaksi keuangan yang ada di perbankan - perusahaan semacam OVO dan GoPay bisa melihat potensi bisnis jauh lebih ke depan.

Tentunya uang tunai tetap menjadi kompetisi utama untuk produk di dunia digitalisasi finansial, tapi Jenius harus bisa memperhitungkan tren dan pergerakan dari produk-produk kompetitor yang  dapat menjadi threat yang kuat untuk Jenius.

Berdasarkan point-point dari Porter’s Five Forces diatas, bisa dilihat bahwa kategori dompet digital masih mempunyai potensi yang sangat besar di market Indonesia. Oleh karena itu, akan sangat penting bagi Jenius untuk mendiversifikasi produknya dan merambah ke kategori finansial berupa dompet digital sebagai Corporate-level strategy yang dapat diaplikasikan. Dengan mengembangkan produk-produknya, Jenius akan memiliki fitur yang lebih komplit yang memungkinkan Jenius menjadi aplikasi yang sesuai dengan gaya hidup dari target marketnya. Diversifikasi ini dapat secara langsung membuat Jenius lebih kompetitif  di market sebagai PIONIR TERINTEGRASI antara DUNIA PERBANKAN dan DOMPET DIGITAL. 

Jenius: Organizational Structure

Tentunya setelah mempunyai strategi dan goals yang lebih terarah dan terperinci, Jenius harus mengembangkan organisasinya sesuai dengan kebutuhan bisnis dan strategi korporasi yang baru. Melihat pentingnya Jenius untuk dapat masuk di ke-5 pilar, struktur  organisasi yang tepat untuk Jenius adalah STRUKTUR DIVISIONAL . Ada tiga jenis struktur yang dapat digunakan dalam Struktur Divisional, yaitu Product, Geographic and Market Structure.

Product Structure akan menjadi pilihan yang tepat untuk Jenius karena dengan struktur ini organisasi akan dibagi berdasarkan lini produk atau lini bisnis yang spesifik. Hal ini berarti, Jenius dapat memiliki satu lini produk khusus untuk masing-masing pilar. Oleh karena itu, manager masing-masing bisnis lini akan mempunyai goal dan responsibility yang sangat jelas, dan dapat menyesuaikan kebutuhan pasar dengan cepat dan secara lebih efektif. 

Masing-masing dari struktur diatas, memiliki fungsi untuk memaksimalkan setiap divisi dan sub divisi yang ada. Dimana bisnis Jenius yang ada saat ini terus dikembangkan, sambil merambah ke-5 pilar lainnya. Di satu sisi, Jenius harus jeli untuk melihat tren yang ada di pasar sekarang, oleh karena itu diperlukan divisi yang memang fokus ke pengembangan New Business. Berikut merupakan contoh implementasi yang bisa dilakukan oleh Jenius di masing-masing divisi.

Mengingat cepatnya dunia teknologi dan digitalisasi finansial, sangat disarankan untuk mengadopsi kultur adaptif yang dapat membantu perusahaan untuk dapat berkembang secara cepat dan melakukan perubahan dengan cepat sehingga dapat mencapai tujuannya secara lebih efektif. 

Jenius: Advanced IT to Increase Performance

Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang teknologi mempunyai keuntungan yang luar biasa, dimana mereka memiliki akses data yang luas dan dalam akan konsumen mereka. Dengan menganalisa data ini, perusahaan dapat mengembangkan bisnisnya dengan berbagai cara. Hal ini sudah banyak dilakukan oleh pemain-pemain besar seperti Gojek dan Grab. Ichmeralda Rachman, Head of Marketing Indonesia - GrabFood and New Business, dalam salah satu press conference-nya menyebutkan bahwa dengan menggunakan teknologi artificial intelligence, GrabFood dapat merekomendasikan jenis-jenis makanan ataupun promo tertentu yang sesuai dengan minat masing-masing konsumennya. Tentunya, rekomendasi ini dapat dilakukan melalui analisa data dan algoritma yang mendalam dari histori penggunaan konsumen GrabFood. “Kita melihat interaksi consumer dengan aplikasi kita. Gimana sih caranya mereka interaksi, apa saja yang dipesan, kapan dipesan, kira-kira berapa yang dipesan. Dengan data-data ini, kami bisa menyarankan restoran yang tepat sesuai dengan areanya, habit-nya, history-nya, atau promo-promo yang tepat,” terang Ichmeralda (9).  

Disini, dengan data dan teknologi yang memadai, manajer dapat membuat keputusan yang lebih efektif, dapat mengontrol kegiatan perusahaan dan dapat mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan tersebut. Selain itu, dengan data yang tepat, manager dapat melakukan kontrol lebih baik dengan cara menciptakan measurable goals, mengukur performa perusahaan, membandingkan target dengan performa, dan tentunya mengevaluasi hasil kegiatan dan melakukan corrective action.

Selain itu, dengan IT yang cukup advance, Jenius dapat melihat potensi-potensi trend yang mulai muncul di masyarakat, dan mengembangkan produk baru  untuk dapat mengambil kesempatan bermain di trend baru ini. Melda dalam press conference yang berbeda menjelaskan bahwa hal ini dilakukan oleh GrabFood, dimana GrabFood menganalisa data makanan yang sedang trending, baik di Indonesia maupun di South East Asia. Kemudian GrabFood bekerja sama dengan merchants pilihan untuk menciptakan menu baru dan khusus yang akhirnya berhasil menaikkan GMV (Gross Merchandise Value) sebanyak 50% (10). Hal yang sama dapat dilakukan oleh Jenius untuk melihat kesempatan dari trend-trend yang ada dan bekerja sama dengan partner yang tepat berdasarkan analisa yang ada, baik itu partner untuk ke-5 pilar maupun untuk opportunity di new business. 

Untuk bisa lebih berkembang, Jenius juga harus memanfaatkan peran serta pemerintah dalam Sistem Pembayaran Indonesia. Salah satu hal besar sedang dipersiapkan oleh pemerintah adalah percepatan dan juga implementasi QRIS (QR Indonesia Standard), dimana semua transaksi baik ritel domestik seperti di pasar, outlet menggunakan QR yang sama untuk setiap aplikasi. Hal ini ditujukan pemerintah untuk meningkatkan semua sektor usaha, baik di usaha mikro, kecil, menengah ataupun yang besar. 

(Source: Gubernur Bank Indonesia, Nov 2019, Tantangan Perekonomian: Respons & Arah Kebijakan)

Tentunya dengan data IT yang massive, sistem teknologi yang tepat serta integrasi dengan peraturan pemerintah, Jenius dapat melakukan inisiatif-inisiatif baru untuk mengembangkan bisnisnya.


SUMBER 

  1. https://www.maxmanroe.com/revolusi-industri-4-0.html

  2. https://www.merdeka.com/uang/resmi-beroperasi-bank-btpn-tawarkan-pelayanan-lebih-lengkap.html

  3. https://www.btpn.com/id/tentang-kami/segmen-usaha/jenius

  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Jenius_(aplikasi)

  5. https://katadata.co.id/berita/2019/09/25/ovo-jadi-dompet-digital-terbesar-di-indonesia-berkat-ekosistem-grab

  6. https://kr-asia.com/go-pay-rules-indonesias-mobility-payments-ovo-leads-offline-report

  7. https://theinsiderstories.com/ovo-led-indonesias-digital-transaction-payment/

  8. https://iprice.co.id/trend/insights/e-wallet-terbaik-di-indonesia/

  9. https://www.kapronasia.com/asia-payments-research-category/how-has-ovo-become-one-of-indonesia-s-top-digital-wallets.html

  10. https://today.line.me/id/pc/article/GrabFood+sebut+Bakal+Jadi+Nomor+Satu+di+Akhir+Tahun+Ini-Q7OoPz)

  11. https://www.hipwee.com/feature/menu-eksklusif-grabfood-signature/

  12. https://bisnis.tempo.co/read/1285538/dompet-digital-kecil-didorong-konsolidasi-dengan-gopay-ovo?page_num=1

  13. https://katadata.co.id/berita/2019/09/25/ovo-jadi-dompet-digital-terbesar-di-indonesia-berkat-ekosistem-grab

  14. https://www.techinasia.com/jenius-pioneering-digital-banking-indonesia

  15. Jones, R Gareth and George, Jennifer M. 2016. Contemporary Management. New York: Mc Graw Hill Education.

  16. Ferrel, O.C; Hirt, Geoffrey A; Ferrell, Linda. 2019. Business Foundations A Changing World. New York: McGraw Hill Education.


Like it? Share with your friends!

64
5 shares, 64 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
10
Fun
Genius Genius
50
Genius
Love Love
30
Love
OMG OMG
32
OMG
Win Win
35
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format