Geliat Kompetisi Ekspor Kopi Indonesia vs Vietnam : Ketika “Guru” dikalahkan oleh “Murid”

Sekitar tahun 1980, Vietnam datang ke Indonesia untuk belajar pembudidayaan tanaman kopi. Saat ini, sektor kopi Indonesia malah jauh tertinggal dari Vietnam


0

Kopi merupakan komoditas yang paling banyak diperdagangkan di dunia setelah minyak bumi dan gas. Kopi memiliki peran yang krusial pada perekonomian negara penghasilnya. Terdapat dua jenis spesies kopi yang paling banyak diperdagangkan di seluruh dunia dan berperan penting dalam perekonomian yaitu Arabika dan Robusta.(1)

Gambar 1. Perbandingan Kopi Arabika dan Robusta

Robusta merupakan jenis kopi yang lebih tahan iklim panas, sehingga bisa ditanam di dataran yang lebih rendah, berbeda dengan kopi Arabika yang menuntut dataran yang lebih tinggi, suhu di lokasi penanaman pun sebaiknya berkisar antara 14-24 derajat Celsius. Dari segi bentuk, biji kopi jenis robusta lebih bulat dan arabika cenderung lebih lonjong. Pada struktur bijinya keduanya juga terdapat perbedaan, sehingga proses roasting yang digunakan tidak sama. Karena dapat ditanam di daerah yang punya ketinggian rendah, penanaman kopi jenis robusta lebih gampang ditemui dibanding arabika. Tak hanya itu, tanaman kopi robusta juga lebih cepat berkembang dan memproduksi buah, tak seperti arabika yang membutuhkan beberapa tahun untuk matang serta memerlukan lahan yang lebih besar. Kandungan kafein kopi Arabica juga lebih rendah, yakni 08 – 1,4 %, sehingga tidak terlalu pahit namun memiliki tingkat keasaman yang lebih tinggi. Kebanyakan kopi Arabica memiliki aroma yang wangi seperti buah-buahan atau bunga bungaan. Beberapa disertai aroma kacangkacangan. Rasanya pun lebih halus dan penuh. Tak heran harganya juga jauh lebih mahal dibanding jenis kopi lain. (2)

Gambar 2. Perbandingan Kopi Arabika dan Robusta

I. SEJARAH & PETA PRODUKSI KOPI INDONESIA

Sejarah kopi di Indonesia bermula pada tahun 1696. Pada saat itu, Belanda atas nama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) mendarat di Jawa membawa kopi dari Malabar, India. Kopi yang pertama kali dibawa itu merupakan jenis arabika.

Belanda berusaha membudidayakan tanaman kopi tersebut di Batavia, tapi gagal karena gempa dan banjir. Mereka tidak menyerah dan mendatangkan kembali bibit-bibit baru. Perkembangan budidaya yang cepat membuat Belanda membuka ladang-ladang baru di Sumatera, Sulawesi, Bali, Timor, dan pulau-pulau lainnya di Hindia Belanda yang saat ini dikenal sebagai Indonesia.

Pada tahun 1700-an, kopi menjadi komoditas andalan VOC. Penjualan biji kopi dari Hindia Belanda (Indonesia) meledak hingga melebihi ekspor dari Mocha, Yaman ke beberapa negara di Eropa. Belanda pun memonopoli pasar kopi dunia pada waktu itu.

Tahun 1876, hama Karat Daun menyerang hampir seluruh perkebunan kopi di Indonesia. Belanda kemudian mendatangkan jenis kopi lain, yaitu liberika. Namun, nasibnya sama, habis diserang karat daun. Pada tahun 1900, mereka mendatangkan jenis kopi robusta yang lebih mudah perawatannya serta lebih tahan terhadap hama. Produksinya yang sangat tinggi membuat Indonesia sempat menjadi ladang pengekspor terbesar di dunia. (3)

Gambar 3. Sejarah Kopi Indonesia

Sumber: https://www.acehimage.com/harumnya-kopi-indonesia/index.html

Sentra produksi kopi robusta di Indonesia adalah Provinsi Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Adapun sentra produksi kopi arabika di tahun yang sama terdapat di Provinsi Sumatera Utara, Aceh, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, dan Jawa Barat. (4)

Gambar 4. Peta Sentra Kopi Indonesia (Sumber : indonesiabaik.id)

Perkebunan kopi yang tersebar di penjuru Indonesia membuat Indonesia memiliki banyak jenis speciality coffee (baik Robusta maupun Arabica) dengan karakteristiknya masing-masing yang berbeda di tiap daerah. Indonesia diberkati dengan letak geografisnya yang sangat cocok difungsikan sebagai lahan perkebunan kopi. Letak Indonesia sangat ideal bagi iklim mikro untuk pertumbuhan dan produksi kopi. 

Specialty coffee paling terkenal yang berasal dari Indonesia adalah kopi luwak, yakni biji kopi yang telah melewati proses fermentasi melalui sistem pencernaan hewan luwak. Kopi ini langka karena harus mencari kotoran luwak yang telah memakan kopi matang. Kelangkaan dan keistimewaan kopi ini menyebabkan harga kopi luwak mencapai US$100 per 450 gram. Selain kopi luwak, Indonesia memiliki specialty coffee lainnya. Berdasarkan daerahnya, jenis specialty coffee Indonesia antara lain :

1. Kopi Sumatera

Kopi Sumatera adalah salah satu kopi paling terkenal di dunia. Hampir 80% ekspor kopi Indonesia dari sumatera. Beberapa ahli kopi mengatakan kopi Sumatera memiliki cita rasa unik karena dengan karakteristik dengan aroma rempah dan juga earthy. Kopi Sumatera memiliki tekstur halus dan berbau tajam. 

2. Kopi Sulawesi

Rasa yang kuat dan kadar asam yang tinggi menjadikan kopi Toraja diminati pasar yang memang menyukai kopi dengan keasaman tinggi. Kopi Toraja memiliki bentuk biji yang lebih kecil dan lebih mengkilap dan licin pada kulit bijinya.

3. Kopi Aceh Gayo

Kopi Gayo menghasilkan sebagian besar jenis kopi Arabika terbaik. Cita rasa kopi Gayo sendiri terasa lebih pahit dengan tingkat keasaman rendah. Aromanya yang sangat tajam menjadikan jenis kopi ini disukai. 

4. Kopi Kintamani Bali

Kopi ini memiliki cita rasa buah-buahan yang asam dan segar. Kopi jenis ini menggunakan sistem ‘tumpang sari’ bersama dengan jenis tanaman lain. Itu kenapa biji kopinya meresap rasa buah-buahan seperti jeruk.

5. Kopi Papua Wamena

Kopi Papua Wamena memiliki tingkat keasaman yang rendah. Yang membuat kopi ini berkualitas tinggi adalah para petani menanam kopi ini secara organik karena tidak menggunakan bahan-bahan kimia yang tentu bisa memengaruhi kopi yang akan dihasilkan.

6. Kopi Flores Bajawa

Kopi Flores Bajawa biasanya melalui proses giling basah. Kopi ini memiliki sedikit aroma fruity dan sedikit bau tembakau pada after taste-nya.

7. Kopi Jawa

Kopi Jawa memiliki keasaman yang rendah. Kopi Jawa yang paling terkenal adalah Jampit dan Blawan. Produksi Kopi Jawa Arabika dipusatkan di tengah Pegunungan Ijen, di bagian ujung timur Pulau Jawa, dengan ketinggian pegunungan 1.400 meter. (5)

Setelah Brazil, Vietnam, dan Kolumbia, Indonesia menjadi negara penghasil kopi keempat terbesar di dunia. Volume produksi kopi Indonesia berkisar 630 ribu ton per tahun dengan komposisi kopi robusta (72,84%) dan arabika (27,16%).

Gambar 5. Infografis Kopi Indonesia

(Sumber: https://www.pkpberdikari.id/infografis/biji-kopi-indonesia-nomor-4-dunia/)


II. KIPRAH INTERNASIONAL KOPI INDONESIA


Gambar 6. Negara Pengekspor Kopi Terbesar Dunia

Sumber: https://twitter.com/gnfi/status/958716706012254208


Saat ini Indonesia menempati peringkat keempat dunia sebagai negara pengekspor kopi dengan volume ekspor sebesar 666.000 Ton. Nilai ekspor Indonesia saat ini kalah jauh jika dibandingkan dengan Vietnam, yang mencapai 1.367.000 Ton. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat bahwa pada tahun 1986, kopi Vietnam belum cukup diperhitungkan. Produktivitas Vietnam saat itu hanya menempati urutan 10 ke bawah. Empat posisi teratas ditempati Brasil, Kolombia, Indonesia, dan India.Ketika itu, Vietnam memutuskan belajar kopi dari Indonesia. Seolah belum puas mempelajari kopi di Indonesia, pada 1984 perwakilan Vietnam kembali datang. Indonesia pun masih dengan senang hati mengantarkan mereka ke Lampung. Setelah itu baru Indonesia menyadari bahwa sudah kecolongan, hingga akhirnya Vietnam melaju dengan produknya seperti saat ini. (6

Gambar 7. Negara Tujuan Ekspor Kopi Indonesia (Sumber : bps.go.id)

Negara tujuan ekspor kopi Indonesia berubah dari waktu ke waktu. Pada tahun 2005, Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Jerman merupakan tujuan dari setengah ekspor kopi Indonesia. Dewasa ini, jumlah ekspor ke ketiga negara tersebut mencapai kurang dari sepertiga. Sebagian alasan yang melatarbelakanginya adalah peraturan keselamatan pangan yang lebih ketat di Uni Eropa (UE) dan Jepang, yang telah membatasi ekspor Indonesia ke kawasan tersebut sejak 2009.Di Jerman, misalnya, peraturan ini berkontribusi terhadap penurunan tingkat impor hingga sebesar 30 juta kg dalam satu dekade terakhir.(7)

Gambar 8.  Tabel Pergerseran Destinasi Ekspor Indonesia (8)


Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang ekspor kopi adalah PT. Indokom Citra Persada.Perusahaan ini terlibat secara langsung dalam mengoordinasikan praktekpenanaman kopi terbaik di antara kelompok-kelompok petani kopi melalui Coffee Research Institute, melakukan proses pencucian dan pengeringan biji kopi, penggilingan basah dan kering untuk menghasilkan kualitas biji kopi Arabika dan Robusta komersial, premium dan khusus untuk diekspor ke negara tujuan di seluruh dunia.

PT. Indokom Citra Persada didirikan oleh Saimi Saleh pada tahun 1995, berlokasi di Bandar Lampung, menyediakan berbagai macam kopi yang mayoritas adalah Kopi Robusta dari Lampung dan Sumatera Selatan. Pada tahun 1997, PT. Indokom Citra Persada mendirikan Kantor Cabang di Sidoarjo, Jawa Timur, yang memproses pengeringan dan pencucian kopi yang sebagian besar berasal dari daerah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Gayo (Aceh), Mandheling Sumatra (tanah Batak), Bali, Flores, Toraja, Sulawesi, dan Papua. Pada tahun 2012, Kantor Cabang lainnya didirikan di Binjai, Deli Serdang, Medan, Sumatera Utara. Kemudian pada 2008, PT. REDJODADI menjadi bagian dari INDOKOM GROUP, yang berlokasi di Semarang dengan perkebunan milik sendiri bernama “TUK BANDUNG” di Temanggung, Jawa Tengah dengan luas sekitar 138 Ha. Dengan tujuan semakin dekat dengan sumber produk kopi, PT. Indokom Citra Persada  telah memiliki perusahaan afiliasi yang berlokasi di Flores, Makasar dan Jawa Barat.

Keluarga besar Saimi telah “menggoreng” kopi sejak beberapa generasi. Tapi ia mulai meneguhkan masa depannya dibidang ini sejak tahun 1986 saat Saimi banting setir menjadi “penjual” biji kopi. Sebuah keputusan yang mengubah jalan hidupnya hingga sekarang. Sekarang Indokom Citra Persada adalah salah satu perusahaan eksportir kopi terbesar di Indonesia yang membawahi sekian anak perusahaan.

Salah satu anak perusahaan PT. Indokom Citra Persada adalah PT. Sabani International yang juga bergerak di bidang eksportir kopi yang area kerjanya meliputi Aceh/Gayo, Medan, Koerinci, Lampung, Solok, Toraja, Semarang, Surabaya, Bali, Flores, Sulawesi dan Papua.(9)


III. AGRESIVITAS SEKTOR KOPI VIETNAM

Berawal dari hanya memproduksi kurang dari 2 juta kantong kopi per tahun di awal tahun 1990an, Vietnam kini telah menjadi raksasa kopi dunia. Vietnam saat ini adalah penghasil kopi terbesar kedua di dunia setelah Brazil. Menjadi pertanyaan menarik kemudian adalah bagaimana Vietnam mampu secara konsisten terus meningkatkan produktivitasnya baik dalam produksi maupun volume ekspor. 

Salah satu perusahaan eksportir kopi terbesar asal Vietnam adalah Trung Nguyen Coffee Corporation.

Trung Nguyen Coffee Corporation, didirikan oleh Dang Le Nguyen Vu pada tahun 1996 di Buon Ma Thuot, Vietnam, saat ini merupakan brand domestik terbesar di Vietnam dalam bidang produksi, pemrosesan, dan distribusi kopi. Trung Nguyen Coffee saat ini telah diimpor lebih dari 60 negara di seluruh dunia.

CEO Dang Le Nguyen Vu (Wikipedia)

Trung Nguyen terlibat secara langsung dalam integrasi vertikal bisnis kopi. Dimulai dari pemrosesan, pengemasan, pengembangan produk, ekspor, pengoperasian kafe, hingga kepemilikan beberapa lahan dan bahkan memiliki institusi pelatihan untuk pekerja di bisnis hospitality.

Trung  Nguyen pada awalnya hanya berbisnis dalam ekspor biji kopi mentah. Kemudian mereka melihat peluang, bahwa negara-negara di Eropa menghasilkan banyak uang melalui branding atas produk yang tidak dapat diproduksi di negara mereka sendiri. Inilah yang menyebabkan pada akhirnya perusahaan memproduksi  branded  coffee pertama di Vietnam. Terlibat secara langsung dalam proses integrasi vertikal membuat Trung Nguyen dapat menambahkan nilai lebih pada produknya. Dibandingkan dengan hanya menjual biji kopi yang belum disangrai pada pasar global yang harganya tidak menentu (seperti yang terjadi pada kasus produsen kopi tradisional di Vietnam). Sebagai hasilnya, para UKM dapat memiliki kontrol yang lebih besar terhadap proses produksi, produk dan harga.

Sebagai tambahan untuk menciptakan ekosistem produk yang didukung oleh creative branding dan strategi pemasaran, perusahaan mengimplementasikan standar kualitas dalam proses produksinya. Untuk menjaga kualitas, perusahaan berinvestasi baik pada lahan serta fasilitas manufaktur dan mengandalkan verfikasi dan sertifikasi pada industri agrikultur yang diakui secara internasional.

Trung Nguyen juga berinvestasi pada jaringan lahan kopi dengan mengimpor dan menginstal sistem irigasi berteknologi tinggi dan penggunaan pupuk serta meningkatkan ketrampilan para petani dan membantu mereka mengurangi penggunaan pestisida.(10)

Berikut ini adalah beberapa faktor yang turut berkontribusi terhadap kemampuan Vietnam dalam mempertahankan pangsa pasarnya secara internasional, diantaranya terkait perkembangan luas lahan, jumlah produksi dan kebijakan pemerintah Vietnam dalam produksi dan industri kopi.

  • Luas Lahan Produksi Kopi

Luas area tanam kopi di  Vietnam terus bertambah. Perluasan tersebut dikarenakan harga kopi yang baik, sehingga memotivasi petani kopi untuk meningkatkan luas lahan yang digunakan. MenurutGeneral Statistics Office (GSO) (2015),area produksi kopi di Vietnam telah meningkat 15,66% selama 5 tahun terakhir hingga mencapai 641,7 ribu hektar di tahun 2014.

  • Jumlah Produksi Kopi

Seiring dengan peningkatan luas area tanam kopi, produksi kopi di Vietnam juga mengalami peningkatan. Produksi kopi Vietnam pada tahun 2014 sebesar 1395,6 ribu ton. Angka ini 5,20% lebih tinggi dari tahun sebelumnya karena adanya peningkatan hasil dan peningkatan investasi dalam produksi. Perluasan lahan penanaman kopi terus berkembang karena harga kopi yang menjanjikan. Sekitar 7% dari total luas yang ada (diperkirakan 40.000 ha) adalah kopi arabika.

Gambar 9. Tabel Perbandingan Pertumbuhan Area Lahan dan Produksi Kopi di Vietnam

  • Kebijakan Pemerintah Vietnam 

Berdasarkan pada laporan Vietnam Coffee Annual (Mei 2015) yang dikeluarkan oleh United States Department of Agriculture (USDA) Foreign Agricultural Services, pemerintah Vietnam sedang mengembangkan kebijakan dan programprogram yang mendorong pembangunan berkelanjutan di sektor produksi pertanian pada umumnya, dan sektor kopi pada khususnya. Pemerintah telah menetapkan mode Public-Private Partnership (PPP) sebagai salah satu solusi utama untuk melaksanakan sustainable agricultural development. Sektor kopi Vietnam juga telah terlibat dalam sustainable production. Produksi kopi bersertifikat sustainable coffee juga telah meningkat di kalangan produsen kopi, petani, dan traders.(11)


IV. MENYINGKAP PERMASALAHAN EKSPOR KOPI INDONESIA


Upaya meningkatkan volume ekspor kopi Indonesia memiliki permasalahan yang cukup kompleks, mulai dari hulu hingga ke hilir. Di bawah ini adalah penjabaran dari permasalahan dalam ekspor kopi Indonesia.

  • Rendahnya Daya Saing

Daya saing merupakan salah satu kriteria yang menentukan keberhasilan  suatu negara di dalam perdagangan internasional. Penguasaan pasar oleh suatu negara dapat menjadi ukuran kemampuan bersaing suatu negara untuk komoditi tertentu.(12).

Menurut Gareth Jones dan Jennifer George dalam buku Contemporary Management, pada chapter  1 disebutkan bahwa salah satu tantangan yang harus dilakukan sebuah perusahaan atau organisasi untuk dapat menjadi leader dalam sebuah lingkungan bisnis adalah membangun Competitive Advantage (Keunggulan Bersaing). Terdapat 4 fondasi dalam membangun Competitive Advantage, yaitu efisiensi, kualitas, inovasi, dan keresponsifan terhadap customer. 


EFFICIENCY

Hambatan utama pada daya saing sektor kopi Indonesia adalah tidak efisiennya struktur supply chain. Pada prakteknya di Indonesia, terdapat hingga 10 individu atau perusahaan yang terlibat dalam rantai pasokan kopi, sedangkan di negara penghasil kopi lainnya seprti Vietnam hanya terdapat dua hingga tiga perusahan saja. Hal ini merupakan sebuah permasalahan karena setiap langkah tambahan yang muncul diantara panen biji kopi hingga dikonsumsi memiliki potensi untuk mengurangi kualitas akhir kopi tersebut. Pada beberapa kasus, kualitas biji kopi memburuk (akibat kontaminasi api, debu, atau pestisida) yang mengakibatkan biji kopi tersebut ditolak di pasar ekspor dan harus dijual di dalam negeri. Agar dapat memanfaatkan peluang pasar di masa depan, Indonesia harus dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang mengakibatkan kemerosotan di rantai pasokannya.(13)

Gambar 10. Rantai Pasok Kopi Indonesia

QUALITY

Jika dibandingkan, kualitas kopi Indonesia saat ini masih jauh dibandingkan Vietnam. Meskipun Indonesia merupakan salah satunegara eksportir terbesar tetapi Indonesia belum memiliki keunggulan komparatif. 

Gambar 11. Kualifikasi Kualitas Kopi

Rendahnya mutu produksi kopi Indonesia terutama disebabkan oleh pengelolaan kebun, panen dan penanganan pasca panen yang kurang memadai karena hampir seluruh kopi robusta diproduksi oleh perkebunan rakyat. Salah satu penyebab dari rendahnya kualitas ekspor kopi di Indonesia karena 90% kopi yang diekspor ke luar yaitu berupa green coffee (kopi hijau).Sebagian besar, yakni 95% perkebunan kopi, merupakan lahan perkebunan rakyat, dengan rata-rata kepemilikan lahan kurang dari 1 ha. Petani kopi menghadapi permasalahan pengolahan pascapanen. Petani seringkali tidak tahu bagaimana cara mengolah kopi yang berkualitas, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah kopinya tersebut. (14)

Gambar 12. Perbandingan Status Pengusahaan Produksi Kopi (Sumber : bps.go.id)

Sebagian besar petani kopi Indonesia merupakan petani kecil dengan keahlian terbatas yang membuat kebanyakan kopi Indonesia dipanen saat kopi masih hijau. Seringkali kopi Indonesia tidak mencapai kadar air yang dianjurkan (12,5%), sehingga banyak kopi yang berjamur dan pecah akibat penggunaan alat pengupas yang kurang baik.

Selain itu, hanya sebagian kecil kopi yang diproduksi berdasarkan standar sustainability (keberlanjutan). Padahal, salah satu pangsa pasar kopi terbesar yaitu Uni Eropa merupakan pasar global terbesar untuk kopi berbasis sustainability. Uni Eropa juga mensyaratkan traceability atau pelacakan produk kopi mulai dari sumber awal hingga tersedia di meja konsumen. Hal ini berdampak bagi produsen kopi Indonesiadan kerap kali menjadi hambatan terhadap rantai nilai (value chain) kopi dalam negeri. (15)

Gambar 13. Regulasi Produk Kopi Uni Eropa 

INNOVATION

Terlepas dari luasnya kebun kopi di Indonesia yang mencapai 163 hektar, Indonesia belum memiliki sekolah kopi yang dapat menciptakan cupper (pencicip), barista, roaster, atau keahlian profesi yang berkaitan dengan kopi. Padahal keahlian ini sangat penting dalam meningkatkan atau mempertahankan kualitas kopi. Selain mencetak profesional kopi yang andal, pemerintah juga harus membantu membuka peluang bagi para penggiat atau pelaku industri ini bisa menciptakan inovasi baru untuk mengangkat nilai kopi Indonesia lebih tinggi dan dapat bersaingdi pasar internasional. Salah satunya, sebagai contoh, soal izin yang sering menyulitkan para pengusaha perakit mesin pengolah kopi (mesin esspresso, mesin roasting/sanggrai, mesin penggilingbubuk kopi). “Permohonan saya pada pemerintah agar men-support produk-produk lokal ini dari segi izin import dan ijin industrinya. Kadang izinnya ada gap antara ijin PIRT dan ijin industri. Yang ditengah tidak ada. Itu juga bisa dibantu,” ujar Franky, mewakili penggiat kopi dari kubu produksi mesin kopi.(16)


RESPONSIVENESS TO CUSTOMER

Penyesuaian jenis kopi dengan permintaan pasar sangat diperlukan. Pengembangan industri kopi Indonesia hendaknya tidak hanya tertumpu pada pengembangan kopi jenis robusta. Tingginya harga kopi arabika di pasar dunia serta luasnya lahan yang sesuai sebagai syarat tumbuhnya kopi arabika di Indonesia mestinya menjadi alasan yang kuat bagi pemerintah untuk merangsang perkembangan industri kopi arabika di masa yang akan datang. Untuk memperbesar luas areal yang menghasilkan jenis kopi arabika dibutuhkan investasi pemerintah pada perkebunan besar milik negara. Potensi pengembangan kopi arabika dapat dilakukan di luar Sumatera dan Jawa. Wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Irian Jaya merupakan wilayah produksi yang kondusif bagi syarat tumbuh kopi arabika.

Jika dibandingkan, Vietnam telah memiliki master plan untuk pengembangan sektor produksi pertanian hingga tahun 2020 dengan visi untuk tahun 2030. Dalam rencana ini, target yang ditetapkan untuk tahun 2020 adalah sekitar 500 ribu ha lahan dialokasikan, dimana lahan tanam untuk arabika seluas 60 ribu ha, dengan area utama di Dataran Tinggi Tengah, Tenggara, dan Tengah Utara Coast. (17)

  • Rendahnya Produktivitas Lahan

Produktivitas perkebunan yang buruk adalah penyebab utama kopi Indonesia tidak dapat meningkat. Berdasarkan data statistik Indonesia, produktivitas rata-rata  petani kopi Indonesia tidak meningkat sejak tahun 2005, yaitu sebanyak 570 kilogram per hektar.Kemudian petani kopi Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan produksi hingga sebanyak 800 kilogram per hektar. Bagaimanapun, produksi petani Indonesia yang lebih produktif ini masih kalah dibandingkan produksi petani Vietnam yang dapat menghasilkan kopi sebanyak 2.400 kilogram per hektar.

Gambar 14. Perbandingan produktivitas kopi di Vietnam dan Indonesia (Robusta)(18)

Salah satu faktor penyebab rendahnya level produktivitas lahan di Indonesia adalah faktor lingkungan. Faktor cuaca berisiko terhadap produksi kopi sebuah negara. Terlepas dari faktor lingkungan, alasan lain yang juga penting adalah terbatasnya pengetahuan dan penerapan praktek pertanian yang baik oleh petani. Secara spesifik, terbatasnya penggunaan pupuk, ditambah dengan buruknya material bahan tanam, serta kurangnya investasi untuk pergantian tanaman yang sudah usang berkontribusi terhadap penurunan hasil panen lahan kopi di Indonesia. (19)

  • Kurangnya Dukungan Pemerintah

Sebagai negara penghasil kopi keempat terbesar di dunia, Indonesia seharusnya bisa menempatkan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan. Namun saat ini, kopi berada di nomor empat komoditas ekspor agrobisnis di Indonesia, di belakang minyak kelapa sawit (49,2% dari ekspor agrobisnis Indonesia), ikan dan udang (8,5%), serta kakao dan hasil olahan kakao (4,2%).

Gambar 15. Analisis Rantai Nilai global ekspor kopi

Selain itu, Indonesia tidak mempunyai instansi/lembaga kopi nasional untuk mengkoordinasikan pembangunan sektoral. Hal ini mengakibatkan lingkungan kelembagaan yang terpecah belah. Saat ini ada tiga organisasi utama yang terlibat dalam pembangunan industri kopi di tingkat nasional di Indonesia: (i) Kementerian Pertanian; (ii) Asosiasi Eksporter Kopi Indonesia (AEKI); dan (iii) Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (ICCRI).

Tidak ada lembaga pembangunan khusus untuk kopi di bawah Kementerian Pertanian, meskipun Direktorat Jenderal Perkebunan bertanggung jawab atas pembangunan kopi di tingkat petani dan telah melaksanakan berbagai proyek pembangunan petani selama bertahun-tahun. Kopi belum menjadi prioritas di Kementerian Pertanian. Sebaliknya, Kementerian Pertanian memprioritaskan tanaman pangan (seperti padi, kedelai, gula, jagung dan ternak) dan tanaman perkebunan lain seperti sawit, karet dan kakao.

Selain itu, Organisasi-organisasi petani kopi juga sangat lemah di Indonesia. Tidak adanya perwakilan petani yang kredibel di Indonesia sangat kontras dengan situasi di Amerika Latin maupun Vietnam. (20)

Agar dapat bersaing secara kompetitif dengan Vietnam, Indonesia harus melakukan perubahan yang signifikan baik dari hulu maupun hilir. Menurut Menurut Gareth Jones dan Jennifer George dalam buku Contemporary Management, pada chapter 11, terdapat dua tipe perubahan yang dapat digunakan untuk memenuhi tujuan sebuah organisasi di masa yang akan datang, yaitu evolutionary change dan revolutionary change


Pada kasus produksi dan ekspor kopi Indonesia, perubahan yang dilakukan adalah evolutionary change, dimana perubahan bersifat tidak drastis melainkan lebih kepada perbaikan secara terus menerus, adaptasi, dan penyesuaian strategi. Hal ini dikarenakan dalam produksi dan perdagangan  komoditas kopi, ada banyak pihak yang terlibat di dalam industri tersebut dan banyak faktor yang mempengaruhi.


Agar pemerintah Indonesia dan pengusaha kopi khususnya dapat menentukan strategi yang tepat guna meningkatan laju ekspor, perlu dilakukan sebuah analisa yang mendalam.

Salah satu metode yang dapat digunakan adalah dengan SWOT Analysis, yang merupakan media perencanaan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan internal organisasi (Strengths), kelemahan (Weaknesses), Kesempatan eksternal (Opportunity) dan ancaman (Threat).

STRENGTHS
WEAKNESSES
  • Kualitas biji kopi yang original dan terjaga mutunya
  • Harga kopi yang relatif terjangkau untuk ekspor
  • Bibit kopi Indonesia terkenal berkualitas
  • Area lahan kebun kopi yang luas
  • Budidaya dan penerapan teknik penanaman kopi yang belum optimal
  • Supply chain bisnis kopi yang belum baik
  • Kurangnya pengetahuan dan skill petani

OPPORTUNITIES
THREATS
  • Meningkatnya awareness dan minat masyarakat Indonesia akan kopi sehingga pasar kopi di dalam negeri semakin membesar
  • Pangsa pasar kopi internasional yang sangat besar
  • Meningkatnya tren konsumsi kopi domestik maupun internasional
  • Iklim dan demografis Indonesia mendukung pertumbuhan tanaman kopi

  • Industri kopi di negara kompetitor mengakselerasi pertumbuhan kopinya
  • Kopi yang diproduksi di Indonesia kebanyakan jenis robusta, sedangkan permintaan dunia internasional lebih banyak jenis arabica


V. SOLUSI AGAR INDONESIA DAPAT MERAJAI SEKTOR KOPI DUNIA

  • Meningkatkan produksi kopi jenis Arabica

Perusahaan produsen dan eksportir kopi Indonesia akan mendapat keuntungan dari pengalihan areal lahan yang digunakan untuk produksi Robusta saat ini ke produksi Arabica. Dalam banyak kasus, faktor iklim akan membatasi kemampuan petani untuk beralih, namun pemerintah bisa bekerja sama dengan perusahaan untuk mengeksplorasi peluang melakukannya di berbagai daerah di Indonesia di mana hal itu memungkinkan.

  • Mempromosikan Penggunaan Praktik Perkebunan yang Baik secara Luas

Pemerintah Indonesia harus terus memainkan peran kunci dalam mendukung penyebarluasan praktik perkebunan yang baik di seluruh sektor kopi. Kementerian Pertanian harus meningkatkan upaya untuk memasok input bahan bagi petani dalam produksi kopi, termasuk bibit, pupuk organik cair, dan perangkap untuk hama kopi. Lebih lanjut, pemerintah juga harus memprakarsai pelatihan untuk petani kopi.

  • Dukungan Pemerintah Dalam Hal Sertifikasi dan Infrastruktur

Pemerintah Indonesia perlu mengatasi berbagai rintangan untuk sertifikasi. Misalnya, pemerintah Indonesia dapat menawarkan program sertifikasi organik sukarela pemerintah dengan biaya lebih rendah daripada sertifikasi organik swasta berbiaya tinggi yang ada saat ini. Pemerintah juga harus mencari pengaturan sertifikasi organik yang setara dengan pasar utama seperti UE, AS, dan Jepang.

Komitmen terhadap perbaikan infrastruktur jalan dan pelabuhan sangat penting untuk mengurai kekusutan rantai pasok yang memperpanjang waktu yang dihabiskan dalam pengiriman kopi dari kebun ke pasar akhir. Infrastruktur pelabuhan sering kali jauh dari kebun, sehingga menyulitkan banyak produsen untuk mengaksesnya. Upaya meningkatkan jumlah titik pemunggahan dan pelabuhan darat (dry port) di negara ini akan membantu memperbaiki arus barang dan memungkinkan sejumlah besar perusahaan untuk mengekspor produksinya dengan lancar.

  • Memperluas Akses Keuangan

Upaya meningkatkan akses petani terhadap fasilitas keuangan juga merupakan suatu hal yang krusial. Produktivitas rendah sektor kopi menempatkan petani, terutama petani kecil, dalam situasi paradoksal. Memperbaiki akses petani ke permodalan akan memungkinkan petani untuk membuat keputusan yang lebih baik bila menyangkut investasi di kebun mereka.

 

Ditulis oleh Mirza Zulkarnain / Kelas 39E / NIM 339P19167


DAFTAR PUSTAKA

  1. Byrareddy, V et al. (2019), “Sustainable Production of Robusta Coffee under a Changing Climate: A 10-Year Monitoring of Fertilizer Management in Coffee Farms in Vietnam and Indonesia”, Agronomy, Volume 9, No. 499.
  2. WARTA EKSPOR Kementrian Perdagangan Republik Indonesia- Edisi Februari 2018
  3. https://www.sasamecoffee.com/kopipedia/sejarah-dan-jenis-kopi/
  4. OUTLOOK KOPI Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2017
  5. WARTA EKSPOR Kementrian Perdagangan Republik Indonesia- Edisi Februari 2018
  6. https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/10/05/oekli8284-vietnam-pernah-belajar-kopi-dari-indonesia
  7. An Analysis of the Global Value Chain for Indonesian Coffee Exports By: The Conference Board of Canada – 2018 TPSA Project
  8. Rosiana, N et al. (2018), “Dynamics Of Indonesian Robusta Coffee CompetitionAmong Major Competitor Countries”, Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar, Volume 5, Nomor 1, Maret 2018
  9. https://sabani.com/about-us/
  10. www.aseanip.org
  11. KOPI INDONESIA DI PASAR JERMAN: FAKTA DAN STRATEGI Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan
  12. Astuti, M et al. (2018), “ANALISIS  DAYA SAING DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR KOPI INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL”, Jurnal Manajemen Agribisnis, Vol.6, No.1, Mei 2018.
  13. An Analysis of the Global Value Chain for Indonesian Coffee Exports By: The Conference Board of Canada – 2018 TPSA Project
  14. WARTA EKSPOR Kementrian Perdagangan Republik Indonesia- Edisi Februari 2018
  15. Market Brief Langkah Dan Strategi Ekspor Ke Uni Eropa: Produk Kopi - APINDO-EU ACTIVE Juli 2014
  16. Majalah Retas, Volume 5 November 2017. Aroma Kopi Nusantara
  17. KOPI INDONESIA DI PASAR JERMAN: FAKTA DAN STRATEGI Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan
  18. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia , 2015. MENUJU RANTAI NILAI YANG LEBIH KOMPETITIF DAN DINAMIS UNTUK KOPI INDONESIA
  19. An Analysis of the Global Value Chain for Indonesian Coffee Exports By: The Conference Board of Canada – 2018 TPSA Project
  20. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia , 2015. MENUJU RANTAI NILAI YANG LEBIH KOMPETITIF DAN DINAMIS UNTUK KOPI INDONESIA
  21. Gareth R. Jones dan Jennifer M. George dalam Contemporary Management

Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
2
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
2
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format