MEMBANGKITKAN KEJAYAAN TANAMAN KARET, SAATNYA MELENGSERKAN KARET THAILAND

Dibandingkan dengan negara-negara kompetitor penghasil karet yang lain, Indonesia memiliki level produktivitas per hektar yang rendah


13
13 points

Karet, dikenal karena kualitas elastisnya, merupakan sebuah komoditi yang digunakan di banyak produk dan peralatan di seluruh dunia (mulai dari produk-produk industri sampai rumah tangga). Ada dua tipe karet yang dikenal luas, karet alam dan karet sintetis. Karet alam dibuat dari getah (lateks) dari pohon karet, sementara tipe sintetis dibuat dari minyak mentah. 

Kedua tipe ini dapat saling menggantikan dan karenanya mempengaruhi permintaan masing-masing komoditi; ketika harga minyak mentah naik, permintaan untuk karet alam akan meningkat. Namun ketika gangguan suplai karet alam membuat harganya naik, maka pasar cenderung beralih ke karet sintetis. 

Memerlukan waktu tujuh tahun untuk sebatang pohon karet mencapai usia produksinya. Setelah itu, pohon karet tersebut dapat berproduksi sampai berumur 25 tahun. Karena siklus yang panjang dari pohon ini, penyesuaian suplai jangka pendek tidak bisa dilakukan.

Pohon karet memerlukan suhu tinggi yang konstan (26-32 derajat Celsius) dan lingkungan yang lembab supaya dapat berproduksi maksimal. Kondisi-kondisi ini ada di Asia Tenggara tempat sebagian besar karet dunia diproduksi. (1)

Indonesia adalah salah satu produsen dan eksportir karet alam terbesar di dunia. Sekitar 70 persen dari produksi karet global berasal dari Thailand, Indonesia dan Malaysia.

3 besar Negara penghasil Karet Alam terbesar di dunia tahun 2017 (2)

Data diolah dari https://www.kamusdata.com/daftar-20-negara-penghasil-karet-alam-terbesar-di-dunia-2017/ 

Bahan baku industri ini adalah karet alam atau biasanya disebut Bahan Olahan Karet Rakyat (BOKAR). Karet alam disadap dari pohon karet yang hanya tumbuh di daerah tropis seperti di Indonesia, Malaysia dan Thailand. Mengingat sebagian besar bokar diproduksi (disadap) oleh petani, kualitas dari bokar sangat bervariasi, baik antara satu petani dengan petani lainnya, antara daerah satu dengan daerah lainnya. Kualitas bokar sangat menentukan kualitas produk akhir yaitu SIR (Standar Indonesia Rubber). Tingkat mutu bokar ditentukan dari Kadar Kering Karet (KKK) dan tingkat kebersihannya. Bokar yang memiliki tingkat kekeringan tinggi dan kebersihan yang maksimal akan menghasilkan produk akhir berkualitas tinggi.

Untuk meningkatkan mutu bokar, pemerintah Indonesia menetapkan SNI–Bokar No. 06–2047–2002 tanggal 17 Oktober 2002 tentang kriteria bokar bersih, yaitu:

  1. Tidak ada penambahan bahan kontaminasi.
  2. Dibekukan dengan asam format/asam semut atau bahan lain yang dianjurkan dengan dosis yang tepat.
  3. Segera digiling dalam keadaan segar.
  4. Disimpan di tempat yang teduh dan terlindung.
  5. Tidak direndam dalam air

Produksi dan Ekspor Karet Indonesia

Sebagai produsen karet terbesar kedua di dunia, jumlah suplai karet Indonesia penting untuk pasar global. Sekitar 85 persen dari produksi karet Indonesia diekspor ke luar negeri. Hampir setengah dari karet yang diekspor ini dikirimkan ke negara-negara Asia lain, diikuti oleh Amerika Utara dan Eropa. Lima negara yang paling banyak mengimpor karet dari Indonesia adalah Amerika Serikat (yang berkonsumsi hampir 22 percent dari total ekspor Indonesia), Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Jepang, Singapura, dan Brazil.

Negara Tujuan Ekspor Karet Indonesia

Sumber: https://misterexportir.com/negara-utama-tujuan-ekspor-karet-indonesia/

Konsumsi karet domestik di Indonesia kebanyakan diserap oleh industri-industri manufaktur Indonesia (terutama sektor otomotif). Mengingat industri manufaktur industri susah berkembang dengan signifikan, konsumsi karet di pasar domestik hanya tumbuh dengan sedikit saja.

Dibandingkan dengan negara-negara kompetitor penghasil karet yang lain, Indonesia memiliki level produktivitas per hektar yang rendah. Hal ini ikut disebabkan oleh fakta bahwa usia pohon-pohon karet di Indonesia umumnya sudah tua dikombinasikan dengan kemampian investasi yang rendah dari para petani kecil, sehingga mengurangi hasil panen. Sementara Thailand memproduksi 1.800 kilogram (kg) karet per hektar per tahun, Indonesia hanya berhasil memproduksi 1.080 kg/ha. Baik Vietnam (1.720 kg/ha) maupun Malaysia (1.510 kg/ha) memiliki produktivitas karet yang lebih tinggi.

Industri hilir karet Indonesia masih belum banyak dikembangkan. Saat ini, negara ini tergantung pada impor produk-produk karet olahan karena kurangnya fasilitas pengolahan-pengolahan domestik dan kurangnya industri manufaktur yang berkembang baik. Rendahnya konsumsi karet domestik menjadi penyebab mengapa Indonesia mengekspor sekitar 85 persen dari hasil produksi karetnya. Kendati begitu, di beberapa tahun terakhir tampak ada perubahan (walaupun lambat) karena jumlah ekspor sedikit menurun akibat meningkatnya konsumsi domestik. Sekitar setengah dari karet alam yang diserap secara domestik digunakan oleh industri manufaktur ban, diikuti oleh sarung tangan karet, benang karet, alas kaki, ban vulkanisir, sarung tangan medis dan alat-alat lain.

Luas Perkebunan Karet

Ditinjau dari luas lahan pada 2017, Indonesia di peringkat pertama dengan luas area 3,66 juta hektare. Thailand kedua dengan luas 3,14 juta hektare dan Malaysia di posisi ketiga dengan cakupan 1.081.889 ha. Vietnam berada di peringkat 7 dunia dengan luas lahan 653.213 ha.

Melihat perbandingan luas lahan ini, produktivitas karet Indonesia masih bisa ditingkatkan karena Indonesia yang memiliki lahan paling luas di dunia. Dengan lahan seluas itu, setidaknya produktivitas karet Indonesia dapat menyamai Thailand

"Sayangnya komoditas karet Indonesia memiliki beberapa permasalahan. Permasalahan yang pertama adalah produktivitas," papar Arief Nugraha, peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS)


Karet Thailand

Thailand merupakan produsen utama karet dunia. Berdasarkan laporan Thailand Board of Investment, produksi karet Negeri Gajah Putih menyumbang hampir 36 persen dari keseluruhan produksi karet dunia pada 2017. Data Thai Rubber Association menunjukkan produksi karet Negeri Gajah Putih mencapai 4,84 juta ton pada tahun lalu. (4)

Data FAO 2017 menunjukkan, Thailand sebagai penghasil karet terbesar dunia memiliki produksi karet sebesar 4.600.000 ton dan diikuti oleh Indonesia yang berada di peringkat kedua dengan produksi sebesar 3.629.544 ton. Sementara itu Vietnam berada di urutan ketiga dengan 1.094.519 ton.

Di Thailand, dominasi petani kecil mencapai 95%, di atas kepemilikan karet rakyat Indonesia sebesar 85%, akan tetapi dengan dukungan pemerintah yang besar dari segi teknologi pembibitan, pengajaran metode penanaman yang benar dan dukungan dana, petani karet di Thailand dapat menghasilkan produktivitas yang tinggi sehingga dapat mempertahankan posisi nomor satu produsen karet alam di dunia.

Sumber: https://www.kiranamegatara.com/

Tren Pasar, Tantangan & Harga Karet Alam

Baru-baru ini komoditas karet kembali menjadi perhatian pemerintah setelah pada pertengahan Maret ini Presiden Joko Widodo bertemu Menteri Luar Negeri Thailand Don Pramudwinai di Istana Merdeka untuk membahas penguatan harga karet. Termasuk juga soal instruksi Presiden Joko Widodo ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk memakai aspal campuran karet pada proyek pembangunan di Sumatera Selatan, Riau dan Jambi.

Ini tidak terlepas dari potensi komoditas karet lokal. Data FAO tahun 2017, Indonesia merupakan negara penghasil karet terbesar kedua dunia setelah Thailand. Sayangnya komoditas karet lokal punya beberapa masalah. Pertama, soal produktivitas. Pada 2017, Thailand sebagai penghasil karet terbesar dunia memiliki produksi karet 4,6 juta ton. Indonesia di peringkat kedua dengan produksi 3,63 juta ton dan Vietnam peringkat ketiga sebanyak 1,1 juta ton.

Menurut Global Business Guide Indonesia, salah satu penyebab rendahnya produktivitas karet adalah umur pohon karet yang sudah tua, lebih dari 10 tahun dan tidak produktif. Pusat Penelitian Karet menyatakan tanaman karet lokal memang butuh peremajaan dan perlu ditanam klon unggul, yaitu pembuatan bibit tanaman unggul sesuai sifat unggul indukan. Dari total keseluruhan luas lahan karet, baru 60% yang baru menggunakan tanaman klon unggul. Sementara di Thailand sudah merealisasikannya hingga 100%.

Harga karet dunia yang turun juga menjadi penyebab rendahnya produktivitas tanaman karet. Yang berdampak pada harga jual karet. Ini membuat petani karet sulit untuk membeli pupuk atau pestisida untuk mendongkrak produktivitas tanaman karet. Apalagi untuk meremajakan pohon karet. Sebab proses peremajaan pohon karet butuh waktu lima tahun untuk bisa disadap kembali.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, sejak 2010 sampai 2016, sekitar 81%-86% dari total produksi karet Indonesia untuk ekspor. Ini membuat harga karet tergantung harga internasional.

Penggerak utama untuk pasar karet global adalah kawasan Asia-Pasifik di mana permintaan akan karet alam tumbuh dengan kuat, dipimpin oleh China, konsumen karet terkemuka di dunia dan yang diperkirakan akan konsumsi hampir 40 persen dari total konsumsi karet dunia pada tahun 2021 (sebagian besar digunakan dalam industri manufaktur ban). Sementara itu, pertumbuhan yang kuat dalam konsumsi karet juga diperkirakan terjadi di Indonesia, India, Vietnam, dan Thailand karena industri otomotif yang berkembang di negara-negara ini.

Seperti kebanyakan komoditas utama lainnya, harga karet internasional telah mengalami tekanan mulai dari 2011 waktu aktivitas ekonomi global lemah (yang berdampak negatif pada industri otomotif) serta melimpahnya pasokan karet alam. Selain itu, harga minyak mentah yang rendah membuat karet sintetis sangat kompetitif, sehingga harga karet alam turun secara signifikan antara awal 2011 dan akhir 2017. Sementara itu, kemajuan dalam pengembangan ban berbasis bio juga menjadi ancaman bagi industri karet.

Grafik pertama di bawah ini menunjukkan penurunan tajam harga karet alam mulai dari awal 2011 karena melimpahnya pasokan karet, pertumbuhan ekonomi yang lamban dan persaingan yang ketat dari karet sintetis.

Sumber: https://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/komoditas/karet/item185?

Grafik kedua menunjukkan pemulihan tajam harga karet alam pada kuartal terakhir 2017 dan awal 2018. Alasan di balik kenaikan harga ini adalah gangguan pasokan di Thailand. Banjir besar-besaran dan tersebar luas di bagian selatan Thailand, di mana sebagian besar penanaman karet nasional terjadi, memiliki dampak besar pada pasokan karet alam (baik dalam hal produksi dan distribusi). Kekeringan yang parah juga disebut sebagai alasan produksi karet yang lemah di Thailand pada waktu itu.

Harga Karet - Grafik II (data dari Bloomberg):

Sumber: https://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/komoditas/karet/item185?

Negara-negara penghasil karet terkemuka di dunia - Thailand, Indonesia dan Malaysia - juga telah sepakat untuk membatasi ekspor karet mereka melalui Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) yang disetujui dalam upaya untuk meningkatkan harga karet alam internasional. Kesepakatan pertama terjadi akhir tahun 2012. Penurunan permintaan karet Cina adalah salah satu alasan utama untuk menerapkan AETS.

Meskipun saat ini kondisi industri karet tidak terlalu kondusif dengan tren harga jual karet alam yang terus menurun, namun prospek bisnis industri karet alam dalam jangka waktu menengah masih cukup tinggi dikarenakan beberapa faktor di bawah ini.

Segi permintaan/konsumsi:

  1. Tiongkok dan India yang saat ini mengalami perlambatan ekonomi tetap akan tumbuh dengan laju pertumbuhan yang cukup tinggi. Jumlah kendaraan di kedua negara ini telah naik cukup pesat sehingga pasar pengganti ban akan tetap menjadi pendorong utama permintaan karet alam di masa mendatang.
  2. 60% pasokan karet diserap oleh industri ban global yang telah melakukan investasi pabrik ban dengan dana besar untuk membangun teknologi canggih agar dapat menghasilkan inovasi terdepan dalam industri ban. Untuk dapat menutupi biaya investasi ini, pabrik ban global harus terus beroperasi. Ban merupakan komponen bergerak utama yang diperlukan baik untuk mobil baru maupun untuk penggantian ban di mobil lama.
  3. Karakteristik karet alam yang lebih kuat (tahan lama) yang diperlukan untuk pembuatan ban mobil niaga tipe sedang/berat dan ban kualitas tinggi mengakibatkan karet alam tidak dapat digantikan oleh karet sintetis.

Segi pasokan/produksi:

  1. Produksi karet dunia masih tetap menunjukkan tren peningkatan dengan munculnya negara penghasil karet baru  seperti Vietnam, Kamboja dan Laos.
  2. Meskipun dari segi volume produksi Vietnam, Kamboja dan Laos telah meningkat secara pesat namun dari segi kualitas karet yang dihasilkan belum bisa menyamai kualitas negara-negara tradisional produsen karet alam seperti Thailand dan Indonesia.
  3. Faktor perubahan cuaca global di berbagai negara yang berdampak pada semakin tidak menentunya waktu produksi puncak, trek (gugur daun sehingga produksi turun) dan musim
    hujan (hujan lebat sehingga petani berhenti menyadap) yang mempengaruhi hasil sadapan karet sehingga pasokan menjadi lebih sulit diprediksi.

Untuk meningkatkan produktifitas, sangat diperlukan untuk melakukan revitalisasi atau peremajaan pohon karet dengan penanaman pohon baru (replanting) menggunakan bibit kualitas tinggi dan memberikan dukungan penuh kepada petani-petani kecil agar dapat meningkatkan produktivitas mereka. Pelaku industri karet berharap Indonesia bisa menggantikan Thailand menjadi produsen karet alam nomor satu dunia pada tahun 2020 dengan produksi 6 juta ton. Untuk mencapai impian ini, revitalisasi perkebunan karet merupakan kunci, yakni produktivitas kebun harus bisa dinaikkan dari 800 kg/ha saat ini menjadi sekitar 1,6 ton/ha


Analisa SWOT

Dari hasil SWOT formulasi'strategi yang disusun adalah sebagai berikut :

  1. Peningkatan Produksi dan Produktivitas Tanaman Melalui Ekstensifikasi, intensifikasi, Peremajaan dan Diversifikasi Tanaman Karet Rakyat. Strategi ini merupakan strategi Strength-Opportunities (SO) yang dihasilkan dari penggunaan faktor kekuatan internal berupa dukungan kebijakan pemerintah terhadap program pengembangan perkebunan rakyat, potensi sumberdaya lahan (perluasan dan peremajaan) yang masih luas, perkebunan karet rakyat yang telah dibangun dan potensi sumberdaya petani dengan memanfaatkan adanya peluang eksternal berupa Globalisasi perdagangan, tingginya permintaan pasar/peningkatan konsumsi dan eksport karet alam, ketersediaan teknologi tepat guna dan peluang peningkatan pendapatan daerah dan masyarakat.
  2. Fasilitasi Pola Kemitraan Antara Industri pengolahan Karet dan Kayu Karet dengan Kelembagaan Petani Strategi fasilitasi. Strategi ini merupakan strategi Strength-Opportunities (SO) yang dihasilkan dari penggunaan faktor kekuatan internal berupa dukungan kebijakan pemerintah terhadap program pengembangan perkebunan rakyat, potensi sumberdaya lahan (perluasan dan peremajaan) yang masih luas, perkebunan karet rakyat yang telah dibangun, potensi sumberdaya petani.
  3. Pengembangan sumberdana Alternatif /Lembaga Keuangan Non Bank Strategi pengembangan sumberdana alternatif /lembago keuangan. Persoalan mendasar untuk meningkatkan produktivitas karet rakyat melalui peremajaan tanaman tua/rusak adalah tidak tersedianya dana khusus untuk peremajaan dengan suku bunga yang wajar sesuai dengan tingkat resiko yang dihadapi.
  4. Peningkatan Kwalitas bahan olah karet (Bokar) Petani. Strategi ini merupakan strategi Weakness-Opportunities (WO), dirumuskan untuk meminimalisasi kelemahan daerah berupa rendahnya produktivitas dan kualitas bokar, keterbatasan daya beli dan akses permodalan, rendahnya pengetahuan, keterampilan dan kesadaran petani di bidang budidaya, manajemen, pasca panen dan pengolahan hasil.
    Permasalahan rendahnya kualitas bokar yang dihasilkan petani akan berakibat pada rendahnya harga yang diterima petani (60-70 % dari harga FOB). Hal ini terjadi karena belum efisiennya sistem pemasaran bokar yang disebabkan antara lain: lokasi kebun jauh dari pabrik pengolah karet, letak kebun terpencar-pencar dan skala luasan yang relatif kecil dengan akses yang terbatas terhadap fasilitas angkutan, sehingga biaya transportasi menjadi tinggi. 
  5. Peningkatan Kualitas SDM, Pengembangan dan Pemberdayaan Kelembagaan Petani Serta Peningkatan Peranan Lembaga Penunjang. Strategi ini merupakan strategi Waekness-Opportunities (WO), dirumuskan untuk meminimalisasi kelemahan daerah berupa rendahnya produktivitas dan kualitas bokar, rendahnya pengetahuan, keterampilan dan kesadaran petani di bidang budidaya, manajemen, pasca panen dan pengolahan hasil.


Analisa Boston Consulting Group

Data diolah dari https://www.bps.go.id/publication/2018/11/13/619fea6f3af291436273ff47/statistik-karet-indonesia-2017

Market Share

Dari nilai tingkat Market Share tersebut negara Jepang, China, Amerika Serikat mempunyai nilai yang tinggi diatas 10%. Dapat dikatakan bahwa pasar karet di negara tujuan tersebut memiliki tingkat pangsa pasar yang relatif tinggi. Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Direktorat Jendera Perkebunan dalam Buku Statistik Perkebunan tahun 2017, ada sebanyak 51 (lima puluh satu) negara tujuan ekspor karet Indonesia. Namun demikian hanya ada 3 (tiga) negara yang menjadi tujuan terbesar ekspor karet Indonesia yaitu Amerika Serikat, Jepang dan China dalam urutan terbesar.

Tingkat Pertumbuhan

Dari nilai tingkat pertumbuhan tersebut negara Malaysia, Australia, Spanyol, China, Perancis, Italia, Romania, Belanda, Turki, Mesir, Kanada dan Taiwan yang mempunyai nilai yang positif diatas 50%. Dapat dikatakan bahwa pasar karet di negara tujuan tersebut memiliki tingkat pertumbuhan yang relatif tinggi.

Matrix Boston Consulting Group

Matriks BCG mengasumsikan bahwa dengan pangsa pasar yang tinggi akan menghasilkan uang. Pertumbuhan pasar digunakan sebagai ukuran daya tarik pasar. Jika pasar mengalami pertumbuhan yang tinggi dari total perkembangan pasar, maka akan relatif mudah bagi suatu usaha itu untuk menambah keuntungan.

Negara tujuan ekspor karet alam dengan tingkat pangsa pasar (market share) tertinggi adalah Amerika Serikat, Jepang, dan China. Negara tujuan ekspor karet alam dengan tingkat pertumbuhan pasar (market growth) positif adalah Malaysia, Australia, Spanyol dan China.

Klasifikasi pasar ekspor karet Indonesia menggunakan Matriks BCG:

Kuadran Star, tingkat pertumbuhan pasar yang tinggi dan pangsa pasar relatif besar ke negara China;

Kuadran Cash Cow, tingkat pertumbuhannya relatif rendah, tetapi menguasai pangsa pasar yang relatif tinggi ke negara Jepang, India, Amerika dan Korea;

Kuadran Question Mark, tingkat pertumbuhan tinggi tetapi pangsa pasar relatif rendah ke negara Malaysia, Australia dan Spanyol;

Kuadran Dog, Tingkat pertumbuhan dan pangsa pasar masih rendah ke negara Jerman, Brazil dan Belgia.


Problem Solving

1. Focus on Customer

Mempertahankan pangsa pasar/hubungan yang baik dan saling menguntungkan dengan pelanggan

2. Raw Material Supply Availability

  1. Melaksanakan berbagai program kemitraan dan pembinaan untuk mengubah komposisi pemasok dengan sasaran meningkatkan porsi petani-petani kecil.
  2. Ekstensifikasi pembelian dengan meningkatkan jangkauan area pembelian.

3. Production Capacity Development

Menambah kapasitas produksi dengan meningkatkan kemampuan produksi pabrik-pabrik yang ada, membangun pabrik baru maupun melakukan akuisisi pabrik.

4. Operational Excellence

  1. Meningkatkan efisiensi proses usaha untuk mengurangi cash to cash lead time.
  2. Transformasi sistem teknologi informasi yang terintegrasi untuk seluruh proses bisnis
  3. Menerapkan prinsip ramah lingkungan dalam proses operasi 

5. Human Resource Development

Mengimplementasikan kemampuan manajemen yang terintegrasi untuk mendukung kebutuhan bisnis jangka panjang dan meningkatkan kompetensi para petani karet.

6. Permodalan

Mengoptimalkan efektivitas penggunaan dana pinjaman dan pendanaan dari perbankan.

7. Pengaturan ekspor

8. Peningkatan penggunaan karet dalam negeri 


Perkebunan Karet


Like it? Share with your friends!

13
13 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
2
Fun
Genius Genius
12
Genius
Love Love
11
Love
OMG OMG
1
OMG
Win Win
13
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format