Mencari Solusi Bagi Express Group Untuk Bertahan di Era Industri 4.0

Serbuan taksi berbasis online (dalam jaringan atau disingkat daring) menjadi fenomena baru dalam bisnis transportasi dan alternatif moda transportasi khususnya di Ja


0

Serbuan Taksi Berbasis Online (Daring) Menggerus Pangsa Pasar Taksi Konvensional

Serbuan taksi berbasis online (dalam jaringan atau disingkat daring) menjadi fenomena baru dalam bisnis transportasi dan alternatif moda transportasi khususnya di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. Sampai tahun 2014 setiap orang yang membicarakan moda layanan transportasi darat berupa taksi, mereka akan langsung merujuk pada sebuah layanan transportasi yang menggunakan kendaraan berupa mobil, yang biasanya didominasi oleh jenis sedan, dan memiliki warna dan lambang tertentu. 

Sektor transportasi ini memiliki basis konsumen tersendiri terutama bagi kalangan yang mencari pilihan moda transportasi yang lebih aman dan nyaman dibandingkan dengan moda lainnya seperti bis dan angkutan kota. Beberapa perusahaan penyedia layanan taksi terkenal seperti Express Taxi dan Blue Bird, yang sudah bertahun-tahun beroperasi di Indonesia khususnya di ibukota Jakarta, menikmati pangsa pasar di layanan transportasi darat ini bersama beberapa penyedia layanan lainnya yang relatif lebih kecil. Dimulai di tahun 1970-an, layanan taksi yang memanfaatkan penggunaan argo-meter dan membebankan tarif kepada penggunanya berdasarkan jarak tempuh telah menjadi bagian dari perjalanan sistem transportasi di Indonesia. Selama lebih kurang 40 tahun, sektor ini terus berkembang dan menarik berbagai perusahaan dalam skala kecil dan besar untuk menikmati manisnya keuntungan di bisnis tersebut.

Akan tetapi kemunculan taksi berbasis online, yang menawarkan layanan untuk berpindah tempat dari satu titik ke titik lainnya sesuai permintaan konsumen dan dengan harga yang relatif lebih murah, telah mengubah struktur pasar dan peta persaingan layanan transportasi di segmen ini. Dua pemain besar di segmen ini, yaitu Express Taxi dibawah Rajawali Group dan Blue Bird di bawah kendali Blue Bird Group, yang sebelumnya menguasai lebih dari 50% pasar dihadapkan pada kenyataan bahwa kehadiran taksi berbasis online atau orang sering menyebutnya taksi online telah banyak mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Hal ini dapat dilihat dari penurunan kinerja perusahaan yang tercermin dengan menurunnya pendapatan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir dan secara langsung juga mempengaruhi keuntungan kedua perusahaan yang telah lama menikmati manisnya bisnis di segmen ini. Dari data yang ada terlihat sejak kemunculan taksi online di tahun 2015, kinerja perusahaan yang sebelumnya menunjukan peningkatan langsung berubah 180 derajat, dah bahkan hal yang lebih parah dialami oleh perusahaan taksi Express yang mengalami kerugian akibat besarnya beban pendapatan operasi.

Gambar 1. Kinerja Perusahaan Taksi di Tengah Gempuran Taksi Online

Sementara itu di sisi lain, dari hasil survei yang dilakukan oleh berbagai pihak terhadap sektor ini menunjukan bagaimana potensi perkembangan taksi online di Indonesia telah menunjukan dampak yang signifikan terhadap perubahan struktur bisnis di sektor pelayanan jasa taksi. Bahkan bisnis ini diperkirakan akan semakin meningkat pesat di tahun-tahun mendatang seiring dengan peningkatan layanan internet dan perkembangan infrastuktur teknologi informasi di Indonesia. Dengan berdasarkan data tersebut hampir dipastikan bahwa di tahun mendatang, akan terjadi perubahan yang signifikan terkait model bisnis dari layanan taksi ini dari yang sebelumnya mengandalkan jumlah armada menjadi bisnis yang bertumpu pada penguasaan teknologi informasi

Description: Related imageGambar 2. Potensi Pasat Taksi Online

Konflik yang terjadi antara taksi konvensional dan taksi online pun tidak bisa terhindari, baik konflik terselubung antar perusahaan, dimana operator taksi konvensional menuduh para penyedia aplikasi sebagai perusahaan fiktif yang melanggar aturan angkutan umum dan begitu juga dengan pihak perusahaan aplikasi yang tidak mau dituding melanggar aturan dengan berdalih bahwa mereka adalah perusahaan teknologi penyedia aplikasi. Selain itu di tingkat operasional berbagai macam konflik sosial antara para pengemudi taksi konvensional yang menganggap bahwa keberadaan taksi online adalah sesuatu yang ilegal dengan pengemudi taksi online kerap terjadi di berbagai daerah. Meskipun pada akhirnya pemerintah turun tangan menangani hal ini, akan tetapi berbagai macam kecemburuan dengan alasan tidak adanya rasa ketidakadilan masih tetap mengemuka dalam persaingan di bisnis ini. 

Dampak Perkembangan Industri 4.0 pada Sektor Transportasi dan Logistik

Istilah indutri 4.0 (sering disingkat sebagai I4.0 atau I4) pertama kali dicetuskan pada tahun 2011 sebagai bagian dari proyek teknologi tinggi di Jerman untuk mendorong komputerisasi di sektor manufaktur dan kemudian gagasan ini diperkenalkan secara formal pada acara Hanover Trade Fair di tahun yang sama. Karakteristik utama pada industi 4.0 adalah kemudahan suatu sistem manufaktur untuk melakukan kostumisasi (costumization) dari produknya dalam kondisi yang sangat fleksible pada sebuah produksi masal. Gagasan ini meyakini bahwa suatu sistem yang pada generasi sebelumnya (industri 3.0) sudah terautomatisasi dapat berkembang lebih jauh sehingga sistem tersebut dapat melakukan optimalisasi, mengubah konfigurasi, dan mendiagnostik proses produksinya secara mandiri dalam mendukung tugas para pekerja yang semakin kompleks.

Secara umum revolusi industri 4.0 tersebut memiliki empat prinsip yang dapat membantu setiap perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengimplementasikan skenario industri 4.0

  • Interkoneksi, yaitu kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk terhubung secara langsung dan berinteraksi (berkomunikasi) melalui media Internet
  • Transparansi Informasi, yaitu kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data sensor
  • Bantuan Teknis, yaitu kemampuan sistem bantuan untuk membantu manusia mengumpulkan data dan membuat visualisasi agar dapat membuat keputusan yang bijak. Kedua, kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu manusia melakukan berbagai tugas yang berat, tidak menyenangkan, atau tidak aman bagi manusia
  • Keputusan Mandiri, kemampuan sistem siber-fisik untuk membuat keputusan dan melakukan tugas semandiri mungkin

Secara sederhana di era I4.0 ini setiap fasilitas produksi yang sudah terautomatiasi akan saling terhubung dengan manusia dan perangkat pendukung lainnya tidak hanya untuk melakukan pekerjaan yang kompleks akan tetapi mampu mengidentifikasi setiap parameter dalam proses produksi serta dapat menghasilkan keputusan mandiri melalui pengolahan data yang diperoleh selama sistem dijalankan.

Dampak dari perkembangan I4.0 tersebut saat ini sudah banyak dirasakan oleh berbagai sektor industri dan juga konsumen sebagai pengguna barang dan jasa. Meskipun berbagai pro dan kontra terkait perkembangan I4.0 ini masih menjadi perbincangan hal yang menarik dari perkembangan I4.0 ini adalah adanya kecenderungan sebuah sistem untuk melakukan desentralisasi keputusan pada tingkatan lebih rendah untuk mencapai tingkat automatisasi yang lebih maju dengan bantuan sistem siber fisik yang akan memonitor setiap proses dalam rangkaian proeses produksi.

Description: Image result for revolusi industriGambar 3. Revolusi Industri

Gambar di atas menjelaskan bagaimana I4.0 merupakan penyempurnaan terhadap perkembangan industri generasi sebelumnya melalui peningkatan penggunakan teknologi siber. Dalam I4.0 hal lain yang menjadi perhatian adalah kemampuan dari sistem yang dalam mengumpulkan dan mengolah data selama rangkaian proses terjadi, yang didorong oleh

  • Digitalisasi dan Integrasi rantai nilai secara vertical dan horizaontal
  • Digitalisasi dari produk barang dan jasa yang ditawarkan
  • Model bisnis digital dan akses terhadap kebutuhan konsumen

Ketiga hal tersebut di atas telah memunculkan sebuah sistem yang mampu mengorganisasi sebuah rantai suplai dan rantai nilai serta dapat merespon setiap perubahan yang terjadi dalam proses mengirimkan setiap hal yang dibutuhkan oleh konsumennya.

Dalam sektor transportasi berbagai macam penerapan teknologi untuk melakukan automatisasi telah banyak dilakukan. Di negara-negara maju bahkan penerapan teknologi berbasis internet banyak dilakukan untuk  mempercepat proses transaksi di berbagai moda transportasi sehingga meningkatkan efisiensi waktu baik dari sisi pelanggan maupun operator jasa transportasi. Untuk Indonesia sendiri transformasi dalam pelayanan terhadap konsumen telah banyak dilakukan, salah satu contoh yang paling berhasil adalah penerapa metode non-tunai pada moda transportasi darat seperti Kerete Api jarak jauh maupun kerete api jarak pendek (commuter line). 

Untuk sektor transportasi jarak dekat khususnya taksi, penerapan teknologi dalam seluruh aspek pelayanan belum sepenuhnya mendapat perhatian dan terkesan dilakukan tidak menyeluruh sehingga penerapan teknologi tersebut belum memberikan nilai tambah bagi pelanggan maupun bagi operator taksi sendiri.

Perbandingan Model Bisnis Taksi Konvensional dan Taksi Online

Model bisnis dari kedua jenis pemyedia layanan taksi tersebut memang terkesan sulit dibandingkan, dikarenakan keduanya memiliki berbagai perbedaan yang sangat mendasar. Selain tidak adanya brand yang menempel di setiap taksi online yang melayani penumpang beberara perbedaan lainnya diantaranya adalah

  • Taksi konvensional merupakan taksi yang dioperasikan oleh perusahaan yang memiliki ijin operasi sehingga terikat oleh peraturan pemerintah mengenai transportasi umum sementara taksi online diperasikan oleh individu yang bermitra dengan penyedia aplikasi
  • Taksi konvensional memiliki armada taksi yang merupakan kendaraan berijin berpelat kuning untuk melaksanakan kegiatan angkutan umum, sementara taksi online adalah kendaraan pribadi
  • Taksi konvensional sebagian besar masih memanfaatkan pool atau pangkalan dalam memperoleh pelanggan sementara taksi online memanfaatkan sepenuhnya teknologi dalam mendapatkan pelanggan

Terlepas dari hal lain seperti peraturan pemerintah maupun bentuk perusahaannya, dengan membandingkan kedua hal tersebut memang dapat dilihat beberapa keunggulan taksi online dibandingkan taksi konvensional

  • Sistem organisasi yang saling terhubung antara sumber daya secara vertikal dimana dengan menggunakan proses digitalisasi setiap sumber daya, dalam hal ini kendaraan sebagai alat transportasi, pengemudi sebagai operator, sistem pemesanan sebagai alat untuk merencanakan dan memonitor proses dapat bekerja secara terstruktur untuk memberikan pelayanan yang lebih efisien kepada pelanggan.
  • Selain itu secara horizontal penggunaan teknologi ini juga telah selangkah lebih maju dalam memperoleh informasi dari konsumen terkait tingkat kepuasan terhadap layanan taksi, serta secara tidak langsung memberikan masukan terhadap sistem terkait kondisi pasar yang ada di suatu tempat ataupun dalam waktu tertentu melalui pengelolaan data digital dari aktifitas pelayanan tersebut.

Keterlambatan Management Taxi Express Merespon Perubahan Di Era Disrupsi

Transportasi berbasis jaringan di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia memulai perjalannanya di awal tahun 2010 dan ekspansinya mulai dilakukan secara masif di sekitar tahun 2015 pada saat aplikasi Go-Jek pertama kali diluncurkan oleh perusahaan start-up teknologi berlabel PT. Aplikasi Karya Anak Bangsa. Sampai sekarang kehadiran transportasi berbasis online tersebut sudah dapat dirasakan kehadirannya sampai ke pelosok nusantara dan bahkan telah menguasai sebagian besar jalanan di kota-kota besar Indonesia. Khusus untuk segmen layanan taksi, beberapa hal yang menjadi pertimbangan konsumen beralih ke layanan taksi online sebagai alternatif moda transportasi terutama dikarenakan perbedaan tarif yang sangat signifikan. Untuk menempuh jarak yang sama konsumen yang menggunakan taksi online hanya perlu membayar separuhnya dari tarif yang dikenakan oleh taksi konvensional. Selain itu, pertimbangan efisiensi waktu dalam melakukan pemesanan juga menjadi faktor yang sangat mempengaruhi perubahan pola konsumen dalam memilih transportasi. Dan faktor terakhir yang tidak kalah popular adalah terkait kapasitas kendaraan online yang dapat memuat lebih banyak penumpang dibandingkan taksi konvensional.

Gambar 4. Tipe dan Tingkatan Perencanaan

Dengan kondisi tersebut di atas, perusahaan taksi konvensional telah menyadari posisi mereka dalam struktur pasar yang baru terbentuk akibat adanya pelaku pasar baru yang memanfaatkan teknologi serta lebih mengetahui kebutuhan konsumennya. Akan tetapi hal ini tidak serta merta membuat setiap perusahaan melakukan perubahan besar terhadap strategi mereka untuk dapat memenangkan persaingan dalam kondisi tersebut sehingga dapat kita lihat hasilnya bahwa perusahaan taksi, terutama yang berskala kecil langsung berguguran dikarenakan tidak mampu mennghasilkan peningkatan pendapatan sementara beban atas pendapatan semakin besar. Untuk dua perusahaan taksi berskala besar seperti yang telah disebutkan di atas terdapat perbedaan strategi yang sangat mencolok sehingga dari sisi kinerja Blue Bird relatif lebih bisa bertahan dibandingkan pesaingnya dari kelompok yang sama yaitu Express Group.

Jika kita perhatikan respon yang diberikan oleh Express Group terhadap kondisi ini, dimana mereka tetap bertahan dengan strategi awal yaitu menjadi taksi konvensional yang hanya melayani penumpang dari satu tempat ke tempat lain, membuat kinerja perusahaan semakin hari semakin memburuk dan puncaknya adalah ketika mereka mengalami kerugian di periode tahun 2017. Berbeda dengan Blue Bird yang merespon perubahan pasar dengan melakukan diferensiasi terhadap produknya untuk mempertahankan para pelanggan yang loyal terhadap pelayanan Blue Bird. Dengan memperkuat moto pelayanan “ANDAL” mereka menawarkan kepada pelanggan setianya pelayanan taksi yang Aman, Nyaman, Mudah, dan Personalize. Mereka percaya bahwa pelayanan yang berbeda dari kebanyakan taksi online akan membuat mereka tidak mudah ditinggalkan oleh pelanggannya.

Melihat dari perspektif ini di mana setiap perusahaan selalu memiliki strategi bisnis di setiap tingkatan, Express Group sangat tertinggal dengan para kompetitornya. Di saat perusahaan lain memiliki visi untuk tetap bertahan dalam pasar yang baru Express Group belum memiliki visi dan misi untuk diterjemahkan oleh management di level bawah dalam menghadapi persaingan ini.

Hal ini kemudian menyebabkan menagement di level fungsional seperti management operasional dan keuangan mengambil kebijakan masing-masing tanpa mengacu pada sebuah tujuan bisnis perusahaan. Hal yang dapat dilihat dari management operasional adalah mereka membiarkan operasional taksi Express untuk bersaing tanpa senjata yang memadai dengan operasional taksi online yang dipersenjatai dengan teknologi. Pada akhirnya hal ini memunculkan konflik antar pengemudi yang membuat citra taksi konvensional khususnya taksi Express menjadi semakin menurun dan tidak diminati oleh pelanggan. Kemudian untuk management keuangan beberapa kebijakan yang diambil terkait menutupi pembiayaan operasional menggunakan utang jangka panjang telah menyebabkan kinerja finansial mereka semakin memburuk di tahun-tahun berikutnya.

Sementara itu besarnya beban atas pendapatan yang diakibatkan oleh biaya perawatan kendaraan yang tinggi serta biaya untuk mengoperasikan pool kendaraan menjadi isu lain dalam mempertahankan kinerja perusahaan. Meskipun dalam perjalanannya baik Express Group maupun Blue Bird Group telah menutup operasional beberapa pool kendaraan dan mengurangi jumlah armada, salah satu hal yang membedakan langkah kedua perusahaan ini adalah bagaimana Blue Bird mengambil langkah untuk mengganti armada taksinya yang selama ini didominasi oleh jenis sedan yang berbiaya mahal dan menggantinya dengan kendaraan jenis Low MPV (Multipurpose Van) yang berbiaya rendah dan lebih disukai oleh beberapa segmen pasar.

Perencanaan yang Kurang Terarah Dalam Menghadapi Persaingan

Selain mempersiapkan strategi dalam menghadapi persaingan, perencanaan yang matang agar setiap unit dalam sistem produksi dapat menghasilkan output yang maksimal perlu diperhatikan. Dalam menghadapi persaingan dengan bisnis aplikasi yang sudah memanfaatkan teknologi digital dengan sangat masif, beberapa perusahaan telah dipaksa untuk mengadopsinya dalam rangka mempertahankan keberlangsungan bisnis sebuah perusahaan. Dalam bidang manufaktur yang merupakan pelopor setiap revolusi industri, pemanfaatan teknologi dalam proses produksi dari mulai perencanaan produksi, pemeriksaan bahan mentah, sampai proses produksi di pabrik dan pengecekan produk akhir telah banyak memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada.

Dalam kasus taksi Express, digitalisasi yang dilakukan perusahaan masih terbatas pada pembuatan laman web yang memuat beberapa informasi layanan yang ditawarkan serta proses pengumpulan data konsumen yang melakukan pemesanan secara online (melalui telepon). Kekurangan dari sistem digitalisasi ini adalah tidak memberikan nilai tambah bagi pengguna jasa yang ingin memperoleh layanan secara cepat, seperti kita ketahui pada proses pemesanan online melalui telepon dibatasi oleh jumlah jalur telepon itu sendiri. Selain itu kehadiran laman web dari taksi express tidak memberikan nilai tambah bagi para pelanggan yang ingin mengajukan keluhan, saran, kritik dan lainnya. Sementara itu dari aspek proses produksi, sistem digitalisasi yang digunakan tidak memberikan peningkatan efisiensi dan efektifitas layanan.

Gambar 5. Tiga langkah Perencanaan

Dalam merencanakan sebuah misi tertentu perlu adanya tahapan-tahapan untuk menghasilkan output dari sebuah misi atau tujuan yang telah dipilih. Dalam perkembangannya taksi konvensional menyadari pentingnya digitalisasi pada sebuah proses produksi yang menghasilkan produk barang maupun jasa. Dalam setiap tujuan yang ditetapkan sebuah organisasi atau dalam hal ini management perlu menentukan kondisi dan situasi di mana mereka berada. Dalam hal perubahan persaingan di transportasi darat khususnya layanan taksi, kondisi atau tren yang terjadi saat ini adalah kebutuhan pelanggan akan pelayanan yang aman dan nyaman serta dapat meningkatkan efektifitas mereka dalam melakukan aktivitas perpindahan tempat dari satu titik ke titik lainnya. Hal ini sangat mungkin tercapai dengan integritas semua faktor produksi melalui penggunaan teknologi berbasis internet, sehingga menghasilkan output yang optimal. Selain itu langkah terakhir untuk dapat mencapai hasil terbaik adalah mengetahui kebutuhan sumber daya yang mencukupi baik dari segi jumlah maupun kemampuan untuk menjalankan setiap langkah kerja dalam mencapai tujuan tersebut.

Dalam kasus Taksi Express, terlihat management belum menyiapkan perangkat yang memadai untuk menjalankan setiap tujuan yang telah dipilih. Ini terlihat dari langkah mereka yang tetap memfokuskan diri di bisnis layanan jasa tanpa didukung oleh sistem yang dapat meningkatkan pelayan jasa tersebut. Hal ini sangat bertentangan dengan langkah Blue Bird yang sangat memperhatikan pelayanan prima kepada pelanggannya dengan menyiapkan pengemudi yang tidak hanya cakap dalam mengendarai kendaraan akan tetapi memiliki nilai lebih dalam memberikan pelayanan jasa. Selain itu langkah Blue Bird dalam meremajakan armadanya menggunakan kendaraan MPV yang baru menunjukan komitmen mereka dalam menawarkan diferensiasi produknya.

Hal lain yang menjadi fokus perhatian management di era revolusi industri I4.0 adalah penguasaan teknologi informasi. Meskipun dalam perjalanannya perusahaan transportasi tersebut mulai memanfaatkan teknologi dalam meningkatkan pelayanannya akan tetapi terdapat dua perbedaan yang mencolok antara Blue Bird Group dan Express Group. Ketika Blue Bird banyak melakukan investasi di bidang Teknologi Informasi, Express Group tidak terlihat menyiapkan sumber daya yang relevan dalam mendukung persaingan bisnis yang sudah banyak melibatkan teknologi tersebut. Pemanfaatan teknologi oleh Express Group terkesan hanya setengah-setengah dengan tidak menjadikan Teknologi sebagai tulang punggung perusahaan dalam menghadapai persaingan dengan pelayanan taksi berbasis aplikasi.

Kegagalan Membangun Organisasi yang Bertumpu pada Pemanfaatan Teknologi Informasi

Dalam menghadapi serbuan taksi online di era baru persaingan sektor transportasi darat, yang telah memaksa perusahaan-perusahaan transportasi membuka mata terhadap penggunaan teknologi. Hal inipun juga dirasakan oleh dua perusahaan taksi terbesar di Indonesia yang menjalin kerjasama strategis dengan penyedia aplikasi terbesar yaitu Gojek dan Uber. Ketika Blue Bird menjadikan Gojek sebagai mitra strategisnya, langkah inipun dilakukan oleh Express Group dengan menjalin kerjasama dengan Uber. 

Sementara Blue Bird menikmati langkah strategisnya dengan Uber melalui peningkatan kinerja keuangan perusahaan, hal ini tidak terjadi pada Express Group. Salah satu hal yang membedakan simbiosis antara perusahaan taksi dan perusahaan penyedia aplikasi adalah dikarenakan Express Group hanya menjadikan aplikasi Uber sebagai sarana untuk menjangkau pelanggannya. Hal ini tidak memberikan dampak yang signifikan karena para pengguna layanan taksi tetap mencari alternatif moda transportasi yang lebih murah sehingga taksi konvensional hanya dijadikan sebagai alternatif terakhir untuk para penggunanya.

Hal lain yang menjadi hambatan bagi Express Group dalam menghadapi persaingan adalah karena pemanfaatan teknologi untuk bisnis taksi mereka yang masih terbatas. Di saat prusahaan teknologi berhasil mengintegrasikan seluruh faktor produksinya sementara perusahaan taksi Express masih menggunakannya sebagai perangkat untuk menjangkau pelanggannya. Dalam menghadapi persaingan di I4.0 perusahaan taksi Express perlu meningkatkan penguasaan teknologinya untuk menjamin semua faktor-faktor yang terlibat dalam proses produksi menghasilkan output yang optimal.

Gambar 6. Sistem ERP (Teknologi Informasi Mengintegrasikan  Faktor-Faktor Yang terlibat dalam Proses Produksi)

Kemitraan Express Group dengan salah satu perusahaan teknologi jepang dalam waktu dekat ini diharapkan dapat mengubah model bisnis perusahaan yang selama ini dijalankan dengan pemanfaatan teknologi yang terbatas.

Berbagai Solusi Untuk Meningkatkan Efisiensi dan Efektifitas Sumber Daya di Perusahaan Taksi Express dalam Mencapai Pertumbuhan

Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa, di saat sekarang ini di mana industri berrevolusi menuju sistem prosuksi yang terintegrasi secara vertikal dan horizontal melalui media internet, Perusahaan taksi konvensional khususnya Express Group dapat menempuh beberapa langkah konkret yang mungkin akan mengubah model bisnis perusahaan secara radikal dalam menghasilkan output atau keuntungan yang maksimal.

Cara pertama yang dapat ditempuh perusahaan adalah menyiapkan perencanaan untuk mendiversifikasi bisnis perusahaan seperti yang telah dilakukan oleh Blue Bird, melalui unit-unit bisnisnya Blue Bird telah menghasilkan peluang bisnis yang menarik dalam kaitannya dengan pengalaman bisnis yang mereka miliki. Dalam hal memanfaaatkan armadanya Express Group dapat merambah pelayanan transportasi jarak menengah dan jarak jauh. Selain itu kapasitas armada yang memadai dapat mendorong perusahaan untuk merambah bisnis logistik terutama bisnis logistik yang sampai saat ini belum dapat ditangani oleh perusahaan jasa layanan antar kota ataupun jasa layanan dengan menggunakan kendaraan roda dua. Segmen bisnis logistik terutama yang membutuhkan kecepatan waktu dan dalam volume menengah sampai saat ini masih belum dipenuhi oleh jasa layanan logistik yang ada. Kekuatan armada taksi yang mereka miliki dapat meningkatkan pendapatan perusahaan dikarenakan tren perjalanan penumpang yang membawa barang dengan volume besar sangat jarang sehingga hal ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung bisnis tersebut.

Model lain yang dapat diterapkan oleh Express Group dalam meningkatkan labanya adalah dengan menekan beban atas pendapatan yang selama ini membebani perusahaan dikarenakan biaya perawatan dan operasional yang meningkat. Dalam model ini perusahaan dapat menjalin mitra dengan para pengusaha individu yang memiliki armada, sehingga mereka dapat menikmati reputasi taksi Express sebagai perusahaan taksi yang memiliki pengalaman di bidangnya. Hal ini dapat menjadikan kerjasama yang menghasilkan keuntungan dari kedua belah pihak.

Hal lain yang dapat dilakukan oleh perusahaan taksi ekspress adalah melakukan diferensiasi produk dengan mengincar segmen tertentu. Seperti halnya perusahaan penerbangan yang menawarkan pengalaman bertransportasi yang berbeda dengan yang lainnya, mereka menawarkan pengalaman terbang terutama bagi pelanggan yang memiliki anak usia balita dengan menawarkan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan tokoh-tokoh favorit mereka. Meskipun hal ini akan membutuhkan investasi yang besar, akan tetapi model bisnis yang tepat dapat menghasilkan keuntungan bagi perusahaan taksi maupun perusahaan penyedia konten. Selain itu model bisnis yang tepat dapat menghasilkan berbagai peluang lain bagi perusahaan dengan membuka kesempataan bagi para pengiklan untuk mengiklankan produk mereka pada setiap aplikasi hiburan yang ditawarkan oleh pelayanan taksi.


Sumber

https://binus.ac.id/knowledge/2019/05/mengenal-lebih-jauh-revolusi-industri-4-0/

https://swa.co.id/business-champions/brands/3-kesalahan-saat-bikin-strategi-digital

https://www.maxmanroe.com/revolusi-industri-4-0.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Industry_4.0

http://www.bluebirdgroup.com/id/berita/perlindungan-aman-untuk-pelanggan-taksi-blue-bird-group/


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Benimaolana

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format