MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP MANUSIA DI TENGAH KONTROVERSI REKAYASA GENETIKA


9
9 points

Sudah menjadi sifat dasar manusia yang selalu ingin menjadi yang terbaik dan mencapai kesempurnaan. Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi menjadi sebuah solusi dalam hal pengembangan gen manusia. Bioteknologi pun berkembang sangat pesat mulai dari pertengahan abad ke-20. Adapun hasil dari perpaduan ilmu Biologi dan Teknologi adalah Rekayasa Genetika. Rekayasa Genetika adalah manipulasi langsung gen suatu organisme. Hal ini merupakan satu set teknologi yang digunakan untuk mengubah susunan genetika dari sel, termasuk transfer gen-gen yang berada dan melintasi batas-batas spesies untuk menghasilkan organisme yang meningkat. Penerapan rekayasa genetika pada kehidupan manusia bertujuan untuk memodifikasi sel-sel manusia yang telah rusak atau sakit contohnya pada penderita kanker. 

Perkembangan rekayasa genetika seolah menjawab kebutuhan tersebut, hadir suatu teknologi yang dikenal dengan CRISPR. CRISPR merupakan singkatan dari "Clusters of Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats." CRISPR, secara sederhana merupakan bioteknologi, memanfaatkan DNA yang hidup dalam sel untuk memanipulasi dan merekayasa gen.

SEJARAH TERCIPTANYA CRISPR

Asal-usul awal pemahaman soal CRISPR dimulai sejak 1987. Saat itu, para ilmuwan Jepang tengah meneliti bakteri E.coli dan menemukan keanehan. Ada pengulangan di struktur DNA di bakteri tersebut. Mereka lantas menamai penemuan ini sebagai “Clustered Regularly Short Reds Palindromic Repeats.” Penelitian tidak berhenti di situ, pada 2007 ilmuwan kembali melakukan penelitian bakteri Streptococcus yang digunakan untuk membuat yoghurt, CRISPR ditemukan. 

Dalam perkembangannya CRISPR menjadi alat rekayasa genetika tercanggih dalam sejarah biologi molekuler. Teknologi ini memiliki kemampuan untuk merekayasa berbagai macam genetika dan menjadi angin segar bagi dunia biomedis internasional. Mengutip MIT Technology Review, dalam publikasinya, bahwa terdapat tiga tahapan menyunting gen menggunakan CRISPR. Pertama, ilmuwan harus mengetahui letak bagian DNA yang akan diganti. Tahap kedua adalah mengirimkan Cas9, merupakan protein yang dihasilkan CRISPR, untuk mencari letaknya. Terakhir, selepas ditemukan, Cas9 memotong bagian DNA itu dan menyambung bagian yang terpotong dengan pengulangan DNA.

CRISPR-Cas9 sebagai salah satu bentuk dari rekayasa genetika telah diteliti  di beberapa negara di belahan dunia sejak tahun 2012. Di tahun 2019 Vertex Pharmaceuticals and CRISPR Therapeutics melakukan uji coba CRISPR terhadap 1 pasien dengan penyakit Thalasemia dan 1 pasien pengidap sickle cell disease dan hasilnya menunjukkan bahwa CRISPR-Cas9 dapat digunakan untuk menyembuhkan dan berpotensi untuk menyembuhkan penyakit genetika yang kronis. Proses uji coba dilakukan dengan mengambil bone narrow stem cell dari pasien kemudian melakukan perubahan terhadap stem cell tersebut dan memperbaiki mutasi genetika yang menyebabkan penyakit untuk kemudian memasukkan kembali stem cell yang telah diperbaiki ke dalam tubuh pasien.

PRO  KONTRA PENERAPAN CRISPR PADA MANUSIA

Dalam praktiknya, CRISPR menuai berbagai pro dan kontra. Salah satunya adalah kasus yang melibatkan Josiah Zayner, seorang doktor biofisika molekuler yang mempraktikan CRISPR. Josiah Zayner dalam beberapa tahun terakhir ini terkenal karena mengkampanyekan cara mengedit gen sendiri dan pernah diselidiki oleh Departemen Urusan Konsumen California (DCA). Ia dituduh menjalankan praktik kedokteran tanpa izin. Zayner memodifikasi sel-sel di tubuhnya dan mempublikasikan hal tersebut melalui channel video di youtube. Semenjak tahun 2016, Zayner, melalui perusahaan bernama Open Discovery Institute (ODIN) yang bermarkas di Oakland, California, menjual peralatan pengeditan DNA berbasis CRISPR secara online, lengkap dengan panduannya. Di toko online yang dikelola Zayner, orang bisa membeli alat biohacking seharga 20 sampai 1.849 dolar. Sampai dengan tahun 2018 perusahaannya telah meraup lebih dari 500.000 dolar dari hasil mengajari puluhan ribu orang cara menggunakan CRISPR.

Walaupun menuai sukses serta meraup keuntungan, bisnis yang dijalankan oleh Zayner bertentangan dengan prinsip etika dan hukum. Sebuah bisnis berkewajiban untuk memaksimalkan dampak positif dan meminimalisir dampak negatif terhadap masyarakat. Bisnis yang dijalankan Zayner belum terbukti secara ilmiah sehingga berpotensi memberikan dampak negatif kepada konsumen. Bisnis tersebut juga merupakan aktivitas melanggar hukum karena menjual produk yang belum mendapat izin edar dari FDA (Food and Drugs Association).

Masalah etika yang muncul dari kasus Zayner tersebut adalah karena dalam perkembangannya rekayasa genetika tidak hanya digunakan terhadap manusia namun juga diaplikasikan terhadap embrio atau yang biasa lebih dikenal dengan germline. Rekayasa genetika terhadap germline dianggap tidak etis dan di beberapa negara dianggap melanggar hukum. Isu terkait rekayasa genetika terhadap embrio menjadi marak diperbincangkan ketika di tahun 2018 peneliti asal Tiongkok, Jian-kui HE, mempublikasikan hasil penelitiannya melalui sebuah video youtube yang isinya menyatakan bahwa ia telah melakukan rekayasa genetika terhadap dua embrio di China dalam upaya melindungi bayi tersebut dari HIV. Publikasi He diluncurkan 3 hari sebelum diadakannya Second International Summit on Human Genome Editing di Hong Kong. 

Etika dan Ilmu Pengetahuan selalu beriringan dan berkaitan langsung dengan keputusan moral yang harus diambil dalam industri kesehatan ini. Tabel 1 dibawah merangkum resiko buruk dan keuntungan dari teknologi rekayasa genetika CRISPR.

Berbagai usaha telah dilakukan baik oleh World Health Organization (WHO) sebagai organisasi kesehatan dunia serta beberapa negara untuk mengatur praktik rekayasa genetika terhadap embrio. Di bulan Juli 2018 WHO mengeluarkan pernyataan himbauan kepada pembuat kebijakan di seluruh dunia untuk tidak memperbolehkan dilakukannya rekayasa terhadap sel telur, sperma, atau embrio (germline). Di tahun yang sama WHO juga membuat tim panel ahli untuk mengembangkan global standard serta mengawasi rekayasa genetika terhadap manusia.  Di Tiongkok sendiri, sejak tahun 2003, kementerian kesehatan Tiongkok telah mengeluarkan peraturan bahwa manipulasi gen terhadap human gametes, zygotes, dan embrio untuk tujuan reproduktif tidak diperbolehkan. 

Dalam industri kesehatan terkini, CRISPR menghadirkan solusi bagi pihak yang membutuhkan rekayasa genetika. Apakah ada pelanggaran etika yang dilakukan oleh perusahaan tersebut? Hal ini hanya bisa dijawab oleh setiap pengguna atau calon pengguna rekayasa genetik, tetapi setidaknya dasar pengambilan keputusan moral haruslah berevolusi sejalan dengan kemajuan teknologi rekayasa genetika sehingga akan mendorong pihak legislator (semisal WHO atau kementerian kesehatan) untuk dapat membuat aturan-aturan yang jelas dalam penerapan rekayasa genetika demi tujuan kesehatan dan kemajuan manusia.

CRISPR SERTA POTENSI PENERAPAN PADA DUNIA MEDIS DI INDONESIA

CRISPR sebagai cabang penemuan baru dari ilmu Bioteknologi tentang rekayasa genetika tentunya dapat menjadi bisnis yang inovatif di masa mendatang ditengah kebutuhan akan kesehatan semakin tinggi. CRISPR dipercaya dapat menyembuhkan kanker, Thalasemia serta berbagai masalah kesehatan lainya. Di Indonesia, kanker merupakan salah satu pembunuh terbanyak untuk golongan penyakit mematikan.  Kepala Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Aru Sudoyo mengatakan, jumlah penderita penyakit kanker di Indonesia terus meningkat. Salah satu penyebabnya akibat kondisi lingkungan yang terus menghasilkan bahan karsinogen. Mengutip Rumusan Rakornas 2019 YKI menyebutkan, angka kejadian penyakit kanker di Indonesia sebanyak 1.362 per 1 juta penduduk. Kejadian kanker tertinggi di Indonesia untuk laki-laki adalah kanker paru sebesar 194 per 1 juta penduduk dengan kematian 109 per 1 juta penduduk. Melihat fakta di atas kedepannya Kebutuhan akan CRISPR berpotensi diterapkan di Indonesia sebagai alternatif pengobatan.

Namun rintangan etika akan menjadi masalah di Indonesia adalah ketika penerapan CRISPR di aplikasikan pada pengeditan Embrio untuk menghasilkan varietas unggul seorang manusia. Pengeditan embrio tentunya dapat melakukan edit pada faktor gen seperti faktor bawaan penyakit contohnya riwayat jantung, riwayat diabetes dan lain-lain. Batasan pada segi etika ini tertera Pada Buku Business Foundations A Changing World karya O.C. Ferrell jika sebuah inovasi baru akan diimplementasikan terhadap bisnis, terdapat Ethical and Legal Barrier yang menjadi rintangan yang harus diselesaikan. Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi norma dan nilai etika tentunya akan melarang pengeditan genom.

FOKUS PADA TUJUAN PENGOBATAN

Sebagai usaha untuk menghindari adanya pertentangan bisnis dengan isu etika dan legal, maka tentunya pengembangan CRISPR di Indonesia harus terfokus terhadap penggunaan CRISPR untuk tujuan pengobatan.

CRISPR telah terbukti sukses dalam mengobati beberapa penyakit. Di masa yang akan datang CRISPR sebaiknya difokuskan untuk mengubah sel somatik karena CRISPR bisa berdampak besar pada penderita kelainan genetika seperti thalasemia, dan cystic fibrosis atau penderita penyakit yang disebabkan mutasi sel seperti kanker.

Penggunaan CRISPR untuk mengubah sel somatik hanya berdampak pada sel tersebut. Perubahan tersebut tidak bisa diwariskan. Sebaliknya, rekayasa sel germline dapat diwariskan. Hal ini menyebabkan masalah tentang persetujuan; keturunan seseorang yang selnya direkayasa dengan CRISPR ikut terdampak, namun mereka tidak bisa memberikan persetujuan karena mereka belum lahir ketika keputusan itu dibuat.

Rekayasa sel germline dapat digunakan untuk merancang manusia atau makhluk hidup lain sesuai dengan keinginan kita. Inilah masalah yang biasa didebatkan orang. Walaupun rekayasa genetika memiliki manfaat untuk menyembuhkan penyakit yang saat ini tidak bisa disembuhkan, teknologi ini juga bisa digunakan untuk merekayasa sifat seperti kecantikan atau kecerdasan.

FOKUS TERHADAP LEGALITAS PRODUK

Bisa dilihat dari prinsip dasar etik dan peraturan perundang-undangan rekayasa genetika, Pemerintah Indonesia baru mengatur regulasi dan kebijakan tentang rekayasa genetika terhadap pangan dan keanekaragaman hayati bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup saja, namun dalam hal rekayasa genetika terhadap manusia belum diatur secara detail seperti apa batasan yang diijinkan dalam melakukan rekayasa genetika di negara Indonesia.

Penerapan Bisnis yang bergerak di bidang rekayasa genetika hendaknya menginisiasi legalisasi produk rekayasa genetika ke lembaga-lembaga yang kompeten di bidang tersebut seperti kementerian kesehatan, BPOM, dan Ikatan Dokter Indonesia. Usaha mendapatkan legalitas produk akan mendorong adanya penelitian yang lebih teruji dan melindungi konsumen dari dampak buruk yang mungkin ditimbulkan dari praktik rekayasa genetika. Adapun peraturan yang mendukung serta menjadi referensi  adalah Peraturan Menteri Kesehatan tahun 2017 tentang pedoman penilaian teknologi kesehatan.

SOSIALISASI DAN EDUKASI TERKAIT DENGAN CRISPR

Dengan banyaknya kontroversi terkait dengan CRISPR, bisnis selayaknya melakukan penelitian yang teruji dan mempublikasikan hasil penelitian tersebut kepada masyarakat untuk meningkatkan akseptasi atas produk yang akan dipasarkan dan menghindari kontroversi berkepanjangan. Sosialisasi serta edukasi sangatlah perlu terutama di Indonesia mengingat tingkat minimnya pengetahuan mengenai kesehatan dari masyarakat.

ASPEK KEUANGAN 

Setelah mendapatkan izin legalitas, melalui penelitian yang teruji, serta sosialisasi produk kepada masyarakat, bisnis CRISPR hendaknya memberikan hasil kepada para investornya. Dalam jangka panjang bisnis CRISPR diharapkan bisa memberikan keuntungan melalui produk/jasa yang berkualitas, strategi pemasaran yang baik, penerapan harga yang sesuai, serta strategi distribusi yang baik. Dengan strategi tersebut diharapkan bisnis CRISPR menjadi bisnis yang berkelanjutan dan senantiasa memberikan dampak positif ke khalayak luas.

Referensi
https://www.forbes.com/sites/leahrosenbaum/2019/11/19/human-crispr-trials-promising/#612ed03c2daa
https://www.who.int/ethics/topics/human-genome-editing/en/
https://science.sciencemag.org/content/366/6467/777.full
https://www.nature.com/articles/d41586-019-00942-z
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6331330/
https://www.livescience.com/58790-crispr-explained.html
https://www.broadinstitute.org/what-broad/areas-focus/project-spotlight/questions-and-answers-about-crispr
https://www.britannica.com/science/gene-editing
https://ghr.nlm.nih.gov/primer/genomicresearch/genomeediting
https://youtu.be/1viRt8jV-vk

Disusun Oleh :

Peak Performers

James Evan  Tumbuan

Sely Nikita Cyntya Dewi

Tri Wibowo Adi Putra

Sonny Yudhistira

John Sarjono


Like it? Share with your friends!

9
9 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
1
Genius
Love Love
2
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
1
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format