Online Healthcare, Sebuah Solusi Berbalut Polemik


0

Memasuki tahun 2020, Revolusi industri 4.0 semakin terasa di berbagai sektor. Salah satu yang terlihat signifikan dalam Revolusi Industri 4.0 adalah pemanfaatan kemajuan teknologi dalam jaringan (daring) yang tidak hanya mempermudah konsumen namun juga pihak penyedia layanan itu sendiri. Layanan daring tersebut terlebih lagi ditunjang dengan kepraktisan terhadap akses yang dapat dicapai hanya melalui aplikasi di telepon seluler. Bahkan saat ini para konsumen dapat membeli kebutuhan sehari-harinya dengan memanfaatkan aplikasi-aplikasi yang tersedia di telepon seluler.

Melihat perubahan tersebut, akhirnya pelaku industri mulai melakukan penyesuaian agar dapat mengikuti perubahan kondisi industri yang awalnya menggunakan metode konvensional, saat ini mulai melakukan adaptasi ke arah industri yang terintegrasi dengan teknologi. Terlihat berbagai industri menyediakan berbagai macam aplikasi seperti transportasi online, jual beli online, hingga sektor jasa bimbingan belajar pun mulai memanfaatkan kemajuan teknologi agar semakin mudah mencapai pasar yang ditargetkan.

Dengan alasan itu, akhirnya para pelaku industri pada era ini tidak hanya berfokus pada persaingan harga yang ditawarkan, namun juga inovasi-inovasi lain yang mampu memberikan sesuatu yang dibutuhkan pasar. Sehingga dengan tingginya minat pasar atas inovasi yang pelaku industri berikan, tentunya akan memperbesar peluang untuk menarik minat para investor untuk dapat memberikan pemasukan dana.

Salah satu bidang industri yang sangat dibutuhkan oleh pasar yaitu bidang kesehatan dikarenakan kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar dan penting manusia. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa bidang kesehatan pun tidak lepas dari revolusi industri 4.0 yang melakukan inovasi dengan menyediakan layanan kesehatan melalui aplikasi yang dapat diakses melalui daring. Hal itu dilakukan antara lain dengan alasan kepraktisan, kemudahan akses, hingga efisiensi.

Mengapa layanan kesehatan perlu beralih ke online?

Perkembangan teknologi di revolusi industri 4.0 memberikan kesempatan potensial untuk perkembangan pelaku sektor start up berbasis digital. Mengutip data yang dikumpulkan Lembaga Riset Emarketer, pengguna smartphone di Indonesia pada tahun 2019 mencapai  angka 92 juta orang. Jumlah tersebut tergolong besar karena merupakan negara pengguna smartphone terbanyak nomor 4 dunia setelah China, India dan Amerika

Data pengguna smartphone di Indonesia

Dikutip dari pemaparan tim BEKRAF pada acara BEKUP (BEKRAF For Pre-Start Up) yang dilangsungkan di Yogyakarta pada Agustus 2019, menurut M. Neil El Himam, Direktur Fasilitas Infrastruktur TIK BEKRAF, Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi pasar digital yang besar dikarenakan terdapat pengguna internet sebanyak 150 juta pengguna. Hal ini akan memberikan peluang yang besar bagi para pelaku industri untuk dapat mengembangkan bisnisnya melalui daring sehingga diharapkan pelaku industri di Indonesia dapat berkembang dan membantu mengembangkan kondisi perekonomian Indonesia. Namun hal ini tentunya dibutuhkan dukungan dari pemerintah agar infrastruktur yang mendukung pertumbuhan internet dapat dioptimalkan di seluruh wilayah Indonesia agar industri digital dapat berkembang.

Peluang besar tersebut diaplikasikan dalam bentuk inovasi di berbagai bidang, salah satunya bidang kesehatan. Keterbatasan waktu, kurangnya akses, serta kebutuhan kesehatan yang harus selalu dipenuhi menjadi faktor yang melaterbekangi hadirnya beberapa start up berbasis digital yang menyediakan jasa layanan kesehatan. 

Di Indonesia sendiri, saat ini terdapat beberapa aplikasi yang menyediakan jasa layanan kesehatan seperti Halodoc, Alodokter, KlikDokter, dsb. Aplikasi ini memberikan keuntungan kemudahan bagi para pasien untuk dapat langsung berkonsultasi dengan dokter, baik dokter umum maupun spesialis melalui akses chatting, melakukan pembelian obat dan  membuat reservasi rumah sakit , klinik dan lab. 

Inovasi layanan kesehatan berbasis aplikasi digital ini disambut cukup baik oleh penggunanya. Founder & chairman Center for healthcare policy and reform studies (chapters) Indonesia, Luthfi Mardiansyah mencatatkan bahwa sebesar 84,4 % pengguna pelayanan aplikasi kesehatan berbasis digital merasa puas karena praktis, nyaman, dan harga lebih murah jika dibandingkan berobat ke rumah sakit atau klinik. Sedangkan 15,6 % pengguna layanan kesehatan digital merasa tidak puas . (dikutip dari merdeka.com, 2019)

Bertambahnya jumlah start up jasa pelayanan kesehatan berbasis digital juga dikarenakan nilai pasar kesehatan yang semakin meningkat setiap tahunnya, sehingga diharapkan berpotensi memberikan keuntungan yang semakin meningkat. 

Bahkan Menurut Vinod Khosla, Founder Khosla Ventures, 80% tindakan dokter akan dilakukan oleh teknologi dan fungsi dokter tersisa 20%. (dikutip dari parama-indonesia, 2016)

ProfilStart up Aplikasi jasa layanan kesehatan di IndonesiaSumber : Data pribadi (2020)

Dari tabel tersebut, Halodoc merupakan aplikasi penyedia jasa layanan kesehatan yang paling banyak diunduh pengguna smartphone di Indonesia. 

Aplikasi Halodoc sendiri termasuk dalam golongan series B untuk tingkat pendanaan start up yang berarti start up sudah berusia sekitar 2-4 tahun, keuangan perusahaannya akan diaudit oleh auditor publik sebelum dana masuk oleh investor untuk mengetahui kondisi riil kas perusahaan, dan ada kemungkinan investor akan menaruh CFO eksternal untuk memonitor kesehatan cashflow start up.

Perkembangan pengunjung Halodoc sendiri meningkat sejak pertama kali diluncurkan sebagaimana terlihat dalam grafik berikut

 Sumber : craft.co/halodoc

Inovasi teknologi aplikasi penyedia jasa layanan kesehatan ini dapat memberikan kemudahan akses, efisiensi, serta tarif yang relatif terjangkau jika dibandingkan mendatangi dokter di klinik atau rumah sakit yang akan memakan waktu serta biaya yang relatif lebih mahal. Sebagai perbandingan, sesi konsultasi dengan dokter di aplikasi Halodoc sendiri berkisar dari harga Rp 25.000 hingga Rp 100.000. Apabila dibandingkan dengan melakukan konsultasi dengan dokter di Rumah Sakit atau klinik, tentu harga konsultasi dengan dokter yang ditawarkan aplikasi Halodoc lebih terjangkau.

Sumber : Aplikasi Halodoc

Sebuah kemudahan berbalut kontroversi

Kehadiran aplikasi digital penyedia jasa layanan kesehatan ini di satu sisi memberikan kemudahan bagi para penggunanya juga memiliki beberapa polemik. Prosedur yang sangat praktis dimana pasien hanya memberikan keterangan mengenai penyakit yang dideritanya ataupun mengirimkan foto gejala yang dialami melalui percakapan daring dengan aplikasi tersebut tanpa adanya obervasi secara fisik seperti yang dilakukan jika melakukan konsultasi dengan dokter secara konvensional. Setelah melakukan konsultasi dengan dokter melalui percakapan daring tersebut, maka dokter akan memberikan diagnosisnya serta memberikan resep untuk mengobati penyakit yang diderita pasien terkait.

Hal tersebut memberikan kekhawatiran apabila observasi yang dilakukan hanya melalui percakapan daring itu kurang menyeluruh sehingga berpotensi menimbulkan kekeliruan dalam diagnosis dokter karena kurang akuratnya informasi dari pasien.

Jika dibandingkan dengan ketentuan dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia Pasal 12 mengenai kewajiban umum dokter yang berbunyi

Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter wajib memperhatikankeseluruhan aspek pelayanan kesehatan (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif ), baik fisik maupun psiko-sosial-kultural pasiennya sertaberusaha menjadi pendidik dan pengabdi sejati masyarakat.

dengan cakupan pasal, sebagai berikut

(1) Setiap dokter wajib memandang seorang klien/pasien sebagai manusia utuh/holistik berwujud kesatuan bio-psiko-sosio-kultural-spiritual dan bertindak dalam pelayanan kesehatan menyeluruh/komprehensif untuk mendukung terwujudnya derajat kesehatan individu dan masyarakat yang optimal dengan cara melakukan intervensi medik terhadap berbagai faktor yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat ”

Dapat diambil kesimpulan walaupun dalam Kode Etik Kedokteran tersebut dokter tidak diwajibkan melakukan pertemuan tatap muka dengan pasiennya, namun dokter harus memperhatikan manusia secara holistik berwujud satu kesatuan, baik unsur jasmani, spiritual, mental, dan sosial yang dimiliki pasien. Tentunya apabila dilakukan konsultasi tatap muka antara dokter dengan pasiennya, maka unsur-unsur pasien yang disebutkan sebelumnya dapat diketahui dengan lebih optimal oleh dokter sehingga diharapkan diagnosis yang diberikan dokter tepat.

Sumber : Data Pribadi (2019)

Polemik lain yang mungkin akan muncul adalah mengenai pemberian resep. Pada aplikasi HaloDoc, setelah dokter memberikan diagnosisnya kepada pasien, pasien akan menerima resep obat dokter yang dapat dibeli di apotek terdekat yang diantarkan melalui pihak ojek online. Konsekuensi dari prosedur tersebut akhirnya pasien tidak mendapatkan edukasi secara merinci tentang penggunaan obat secara tepat melalui apoteker. Selain itu akhirnya pembelian obat tersebut dapat dilakukan secara berulang melalui aplikasi tanpa memerlukan resep dokter. Sehingga dapat dikatakan perdagangan obat yang mewajibkan resep dokter, dapat diperjualbelikan dengan bebas. Hal ini tentunya dikhawatirkan berpotensi menimbulkan penyalahgunaan obat.

Sumber : Data Pribadi (2020)
Padahal jika dibandingkan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 35/Menkes/SK/VIII/2015 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek , Pasal 1 (2) dinyatakan bahwa

“Standar Pelayanan Kefarmasian adalah tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian”

dengan penjabaran lebih lanjut salah satu aspek yang termasuk dalam Standar Pelayanan Kefarmasian adalah Pelayanan Informasi Obat (PIO)

Kegiatan Pelayanan Informasi Obat di Apotek meliputi:
1.menjawab pertanyaan baik lisan maupun tulisan;
2.membuat dan menyebarkan buletin/brosur/leaflet, pemberdayaan masyarakat (penyuluhan);
3.memberikan informasi dan edukasi kepada pasien;
4.memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa farmasi yang sedang praktik profesi;
5.melakukan penelitian penggunaan Obat;
6.membuat atau menyampaikan makalah dalam forum ilmiah;
7.melakukan program jaminan mutu.

Dapat dilihat dalam peraturan terkait bahwa apoteker harus memberikan informasi kepada konsumen secara menyeluruh termasuk informasi tentang fungsi dan cara penggunaan obat

Selain permasalahan menyangkut hubungan pasien dengan dokter, dengan semakin maraknya aplikasi yang memberikan jasa pelayanan kesehatan maka akan berpotensi meningkatkan multiplier effect yang negative mulai dari persaingan antara penyedia aplikasi layanan jasa kesehatan dengan rumah sakit dan klinik, pengaruhnya ke tenaga kerja, hingga hal-hal seperti penyalahgunaan kewenangan dokter,penyalahgunaan obat, pelecehan verbal melalui konsultasi melalui obrolan daring antara dokter dan pasien, hingga keamanan data diri pengguna aplikasi.

Selain itu, dengan semakin maraknya aplikasi penyedia jasa kesehatan yang ada, maka tentunya selain persaingan inovasi akan ada persaingan tarif antara satu aplikasi dengan aplikasi lainnya sehingga dengan semakin dipangkasnya tarif layanan kesehatan guna menarik minat pasar, dikhawatirkan kualitas layanan kesehatan yang diberikan juga tidak sesuai dengan standart.

Haruskah beralih ke online?

Apabila memperhatikan kemajuan teknologi serta kemudahan akses yang ditawarkan pada Revolusi Industri 4.0 saat ini, aplikasi penyedia jasa layanan kesehatan memang sangat membantu. Namun hal ini harus diperhatikan mengenai dampak yang berpotensi akan muncul serta jika dikaji melalui peraturan serta Kode Etik Kedokteran yang berlaku di Indonesia.

Pertama jika dikaji dari Kode Etik Kedokteran Indonesia, maka Kode Etik Kedokteran Indonesia mensyaratkan untuk dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Hal itu tercantum pada Pasal 12 (1)

Setiap dokter wajib memandang seorang klien/pasien sebagai manusia utuh/holistik berwujud kesatuan bio-psiko-sosio-kultural-spiritual dan bertindak dalam pelayanan kesehatan menyeluruh/komprehensif

yang artinya dibutuhkan pemeriksaan secara keseluruhan aspek, baik fisik, psikologis, sosial, kultur dan spiritual sebagai modal utama dalam mendiagnosa. Pada fitur chat online dengan dokter, diagnosa hanya difasilitasi dengan text, foto, call maupun videocall, dimana seluruh teknologi tersebut, belum cukup memenuhi kebutuhan informasi dasar dalam melakukan sebuah diagnosa

Kedua, jika dikaji berdasarkan PM Kemenkes Nomor 35/Menkes/SK/VIII/2015 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek , Pasal 1 (2) , dalam penggunaan aplikasi , apoteker tidak ada proses edukasi pasien. Padahal, pada PM Kemenkes diatas disebutkan adanya kewajiban apoteker dalam pemberian informasi mengenai obat dan cara penggunaan nya. 

Ketika dokter telah memberikan resep pada sesi konsultasi online, resep tersebut otomatis menjadi order bagi apotek terdekat yang memiliki stok obat tersebut, dimana pada aplikasi tidak diberikan informasi detail kepada pasien mengenai nama dan lokasi apotek. Kemudian, obat akan diambil oleh jasa ojek online, dimana mungkin apoteker memberikan edukasi mengenai obat kepada pengemudi ojek online, namun dengan keterbatasan pengetahuan atau memori, pengemudi sebagian besar tidak akan menyampaikan informasi apapun kepada pasien, hanya mengantar saja. Sehingga pasien tidak cukup mendapat informasi mengenai obat tersebut.

Meskipun begitu, potensi pasar pengguna aktif smartphone yang mencapai angka 100 juta dan pengguna internet aktif yang menembus angka 150 juta orang di tahun 2019 merupakan kesempatan yang harus dimaksimalkan oleh pemerintah dan para pelaku bisnis startup kesehatan. Angka permintaan akan kebutuhan kesehatan yang tinggi harus diimbangi dengan penyediaan layanan kesehatan yang optimal, tepat sasaran dan sesuai regulasi. 

Apalagi di era industri 4.0, industri kesehatan di Indonesia masih menghadapi tantangan transformasi digital dan pengelolaan database. Bahkan menurut laporan kinerja Kemenkes tahun 2018, ada 210 dari 514 kabupaten/kota belum memiliki jaringan komunikasi data untuk pelaksanaan e-kesehatan dan 61% daerah tingkat II tidak melaporkan data kesehatan prioritas.

Lalu, bagaimana solusinya ?

Revolusi Industri 4.0 membuka potensi yang sangat besar bagi pertumbuhan industri digital, hingga penyediaan jasa pelayanan kesehatan berbasis aplikasi digital. Namun tentunya hal itu memiliki sisi positif dan negatif. 

Maka dari itu, untuk mengimbangi antara kemajuan teknologi, kebutuhan pelayanan kesehatan yang praktis, dengan polemik yang berpotensi akan terjadi, maka pemerintah sebagai regulator sebaiknya mulai menyusun dan membenahi regulasi yang terkait dengan layanan kesehatan dengan basis digital untuk meminimalisir hal negatif yang berpotensi muncul tersebut, maka Pemerintah sebagai regulator perlu menyiapkan dan membenahi peraturan-peraturan yang terkait dengan pelaksanaan jasa penyedia layanan kesehatan berbasis digital untuk memberikan keamanan untuk seluruh pihak yang terkait.

Jika dibandingkan dengan negara Amerika Serikat, Amerika Serikat mempunyai HIPAA (Health Insurance Portability and Accountability Act) yaitu regulasi yang mengatur standar nasional transaksi jasa kesehatan secara elektronik baik untuk penyedia jasa kesehatan maupun pengguna layanan kesehatan.

Selain itu persaingan pasar antar start up penyedia aplikasi layanan kesehatan juga harus diatur serta diawasi oleh pemerintah agar fluktuasi harga di bidang pelayanan kesehatan dapat terarah dengan tetap mengedepankan kualitas.

Di tahap pemberian resep oleh dokter, dokter diwajibkan memberikan keterangan fungsi serta penggunaan dari obat yang diresepkan. Selain itu, informasi mengenai apotek, baik nama maupun pihak yang bertanggungjawab atas pemberian obat tersebut harus diinformasikan kepada pasien. Jadi walaupun obat yang diantarkan oleh pihak transportasi online tersebut terdapat ketidakjelasan penggunaan obat, maka pasien masih dapat menghubungi pihak yang bertanggungjawab dan berwenang untuk memberkan penjelasan terkait obat yang diresepkan 

Hal lain yang perlu diatur mengenai jual beli obat yaitu BPOM sebagai instansi sebaiknya melakukan pengaturan dan pengawasan terkait peredaran serta transaksi obat melalui aplikasi layanan kesehatan berbasis digital. Selain itu BPOM juga sebaiknya mengatur harga eceran tertinggi yang terdapat di aplikasi layanan kesehatan tersebut agar persaingan harga obat-obatan baik di pasar digital maupun konvensional tetap dalam kondisi sehat.

Hal ini sesuai dengan keterangan yang disampaikan dimana Ketua Asosiasi Health Tech Indonesia (Healthtech.id), Bimantoro, akan mendorong penyusunan regulasi oleh pemerintah. Healthtech.id akan bekerjasama dengan Kemenkominfo, Kemenkes dan PD Persi (Pusat Data Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia) sehingga diharapkan para start up kesehatan bisa menciptakan inovasi teknologi layanan kesehatan secara bertanggung jawab, membberikan manfaat yang optimal dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. (dikutip dari wartaekonomi.com, 2019)

Disusun oleh :
The Brain Stromers

Zahrotul Aisyah Ulfah

Agus Tri Ardiansyah

Iqbal Maulana Akbar

Pramestyani

Yoga Citra Kurniada


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format