Cultured Meat : Produk Daging Budidaya sebagai Alternatif Pangan

Your Food Feels Good, Daging Budidaya sebagai Alternatif Pangan


2
2 points

Permasalahan ketersediaan pangan, energi, dan obat-obatan menjadi isu krusial sehubungan dengan kaitannya langsung dengan kebutuhan pokok manusia. Konversi lahan pertanian, rusaknya biodiversitas, serta perubahan iklim menjadi ancaman tersendiri bagi ketersediaan pangan. Selain itu, seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang akan mencapai sekitar 9,5 miliar pada tahun 2050, menjadi faktor yang akan dihadapkan oleh dunia terkait dengan kebutuhan pangan yang semakin besar. Di sisi lain, dengan semakin canggihnya perkembangan dalam bioteknologi akan mendorong para ilmuwan untuk menciptakan produk pangan dengan rekayasa genetika yang memiliki ketahanan yang tinggi terhadap serangan hama, patogen, herbisida, serta memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik. Penjualan komersial pangan dengan rekayasa genetika sebagian besar difokuskan terutama pada produk hortikultura komersial yang banyak diminati oleh petani, seperti kedelai, jagung, kanola, dan kapas. Pada tahun 1994, pertama kali dimulai dengan memasarkan tomat Flavr Savr oleh Calgene, yaitu tomat dengan penundaan kematangan untuk tomat yang tidak berhasil di pasaran.

Perkembangan Teknologi In Vitro

Perkembangan bioteknologi dari hewan sendiri telah sukses dilakukan pada sejak tahun 1990-an. Saat itu ilmuwan berhasil memproduksi sejumlah kecil jaringan yang pada prinsipnya dapat dimasak dan dimakan. Sampel daging laboratorium yang pertama kali dapat dimakan diciptakan oleh NSR/Touro Applied BioScience Research Consortium. Pada tahun 2002, mereka menumbuhkan sel-sel ikan mas menjadi daging laboratorium yang menyerupai fillet ikan. Pada tahun 2004, Muncul organisasi nirlaba pertama di dunia yang didedikasikan untuk mendukung penelitian daging laboratorium. Kemudian jaringan ini meluas hingga pada tahun 2013, Mark Post, seorang profesor di Maastricht University, merupakan orang pertama yang menunjukkan konsep “cultured meat” dengan menciptakan patty burger pertama yang ditanam langsung dari sel. Sejak saat itu, beberapa prototipe daging tersebut telah mendapat perhatian media. Impian untuk dapat membuat dan mengkonsumsi daging berdasarkan “celluler agriculture”, tanpa peternakan, telah mendapatkan dukungan di antara aktivis hak-hak hewan dan para pemain di industri ini dengan tujuan untuk memasarkan daging sapi, unggas, atau daging ikan dengan harga terjangkau pada tahun 2020 atau 2022.

                         Daging budidaya yang segera akan dipasarkan (sumber: shutterstock)

Cultured Meat adalah daging yang diproduksi oleh kultur sel hewan in vitro, bukan dari hewan yang disembelih. Daging diproduksi menggunakan banyak teknik rekayasa jaringan yang sama secara tradisional digunakan dalam pengobatan regeneratif. Sekilas, cultured meat dapat menjawab masalah akan produksi daging. Menurut data the United Nations Food and Agriculture Organisation (FAO), produksi daging konvensional berkontribusi besar dalam emisi gas rumah kaca (18%) dan penggunaan lahan (30%), serta konsumsi air (8%) dan energi global. FAO juga memperkirakan bahwa konsumsi daging akan berlipat ganda pada tahun 2050, sementara produksi daging sudah mendekati puncaknya. Produksi sapi dinilai tidak efisien, yakni untuk menghasilkan 15 gram daging membutuhkan 100 gram protein nabati. Beberapa potensi keuntungan produksi cultured meat, termasuk meminimalisir risiko penyakit menular yang ditularkan dari hewan ke manusia, merekayasa profil nutrisi yang lebih sehat, produksi lebih cepat, pengurangan penggunaan lahan, dan bahkan kemungkinan penyediaan daging untuk misi eksplorasi ruang angkasa manusia.

Tantangan dan Permasalahan Produksi Cultured Meat 

Meskipun banyak manfaat yang diterima bila memproduksi cultured meat, hingga saat ini, kegiatan penelitian cultured meat masih terbatas dan belum dikomersialisasikan, meskipun Mosa Meat telah mulai membangun pabrik pertama untuk memproduksi cultured meat, namun biaya produksi yang tinggi, neophobia dan technophobia publik, dan pemahaman yang tidak lengkap tentang manfaat kesehatan, membatasi kelayakan komersialnya. 

Teknik pembuatan cultured meat menggunakan kultur sel dalam industri farmasi menggunakan bahan plastik sekali pakai untuk mengurangi risiko kontaminasi, namun demikian penggunaan limbah plastik sekali pakai menimbulkan masalah baru seperti pencemaran lingkungan. Beberapa bahan kultur terbuat dari stainless steel dan dengan demikian dapat disterilkan dengan uap atau dicuci dengan deterjen, tetapi perawatan ini juga memiliki biaya lingkungan. 

         

                                          Skema Produksi Cultured Meat (sumber: fcrn.org.uk)

Penelitian lain menunjukkan bahwa hewan memiliki sistem kekebalan yang secara alami melindunginya terhadap infeksi bakteri dan lainnya. Namun untuk daging dari kultur sel di lingkungan yang kaya nutrisi membutuhkan tingkat sterilisasi yang tinggi karena bakteri berkembang biak jauh lebih cepat daripada sel hewan. Selain itu, manusia juga tidak boleh lupa bahwa ternak memenuhi banyak fungsi selain hanya produksi daging, antara lain berkontribusi pada daur ulang limbah tanaman dalam jumlah besar yang tidak dapat dikonsumsi oleh manusia dan menghasilkan pupuk. Ini berarti bahwa sangat kompleks untuk mengevaluasi biaya lingkungan jangka panjang dari transisi dari daging konvensional ke cultured meat. 

Sebelum pemanfaatan cultured meat, saat ini kota-kota didunia menghasilkan sampah 1.3 miliar ton per tahun, jumlah ini akan bertambah menjadi 2.2 milyar ton pada tahun 2015, selama lebih dari tahun 2025. menjadikan Cultured meat akan menimbulkan masalah baru terhadap lingkungan hidup.

           

            Jumlah Sampah Plastik  per negara dalam Million Metric Tons (sumber: Jambeck, 2015)  

Sikap Etis dan Persepsi Konsumen

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penerimaan orang terhadap produksi cultured meat yang akan dikomersialkan dan menimbulkan pertanyaan etis atau tidak terhadap produk tersebut. Etis sendiri didefinisikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan moral atau prinsip-prinsip moralitas dan juga berkaitan dengan sesuatu yang benar ataupun salah dalam melakukan sesuatu. Dalam kerangka kerja pengambilan keputusan etis, biasanya menyertakan persyaratan tradisional untuk profitabilitas dan legalitas serta persyaratan lain yang dituntut oleh pemangku kepentingan, sebagai contoh belum banyak yang memahami mengenai perbedaan pengertian makanan “alami” versus makanan “tidak alami” serta dampaknya bagi tubuh manusia bila dikonsumsi. Pertanyaan mengenai keetisan selanjutnya adalah apa yang akan terjadi kepada nasib peternak dan hewan ternaknya apabila produksi dari cultured meat lebih disukai daripada daging konvensional yang benar-benar dihasilkan dari hewan hidup. Kemungkinan yang terjadi adalah hal ini akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan peternak serta pengurangan jumlah lahan peternakan dan hewan ternak akibat produksi cultured meat secara masif. 

Bagi produsen cultured meat tentu akan lebih memperhatikan mengenai biaya relatif daging yang dibudidayakan terhadap daging konvensional. Pertimbangan antara profit yang dihasilkan untuk produksi harus lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan. Semakin tingginya teknologi yang digunakan maka biaya produksi akan semakin tinggi dan berpengaruh pada harga jual dari daging yang dihasilkan. Bila demikian, maka tujuan pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan akan sulit tercapai karena masyarakat menengah ke bawah tidak mampu untuk membelinya. Beberapa tipe konsumen juga memperhatikan mengenai persamaan rasa antara daging yang diproduksi secara konvensional dan daging yang dibudidayakan. Peraturan mengenai kesehatan dan keselamatan bagi konsumen pangan seperti cultured meat pun perlu diatur lebih seksama, jangan sampai konsumen yang menanggung kerugian akibat penelitian yang belum sempurna terhadap suatu produk.

Selain itu, Produsen cultured meat juga harus memahami sikap dan demografi yang mempengaruhi persepsi konsumen terhadap produk cultured meat. misalnya, dalam kepercayaan agama Islam akan timbul banyak pertanyaan terhadap produk cultured meat apakah produk tersebut halal atau tidak? apakah proses dalam memproduksi cultured meat sesuai dengan prinsip-prinsip dalam ajaran islam yang mempercayai bahwa untuk mengkonsumsi makanan yang bersumber dari hewan perlu dilakukan dengan tata cara dan ritual tertentu sebelum makanan tersebut dapat dikonsumsi? Padahal sebagai agama terbesar ke-2 yang dianut oleh penduduk dunia yakni 24%, berpotensi sebagai target pasar yang baik dan sangat menguntungkan. 

Penelitian empiris lain yang dilakukan oleh Wilks M, Phillips berdasarkan suatu survei online untuk partisipan di Amerika Serikat oleh Wilks M, Phillips menemukan bahwa, rata-rata, peserta laki-laki, liberal, dan vegetarian memandang daging yang dibudidayakan lebih baik daripada peserta perempuan, konservatif, dan pemakan daging. Survei juga menunjukkan bahwa sementara vegetarian dan peserta vegan lebih cenderung melihat daging yang dibudidayakan bermanfaat, namun mereka cenderung tidak ingin mencobanya daripada peserta yang memakan daging.

Solusi Pemanfaatan Cultured Meat

Pengembangan dan aplikasi teknologi dan rekayasa proses pangan ini perlu dilakukan dengan misi untuk peningkatan status kesehatan dan gizi populasi penduduk. Pengembangan dan aplikasi teknologi dan proses rekayasa pangan yang tepat akan menghasilkan produk pangan yang diperlukan masyarakat untuk menjadi sehat, mengurangi masyarakat yang sakit atau setidaknya terhindar dari penyakit, dan meningkatkan masyarakat agar lebih lebih produktif. Hal ini memerlukan sosialisasi dan edukasi yang tepat dan masif melalui iklan dan media untuk mendapatkan respon positif dari Publik  

Cultured Meat merupakan produk teknologi tinggi yang memiliki risiko besar secara ekologis dan moral sehingga keamanan dari seluruh pangan yang berbasis rekayasa genetik tersebut harus terjamin. Pemerintah telah mengatur melalui Undang Undang Republik Indonesia No 18 Tahun 2012 tentang Pangan, pasal 77 ayat 2, bahwa “setiap orang yang melakukan kegiatan atau proses produksi pangan dilarang menggunakan bahan baku, bahan tambahan pangan, dan/atau bahan lain yang dihasilkan dari Rekayasa Genetik Pangan yang belum mendapatkan persetujuan Keamanan Pangan sebelum diedarkan”.

                         

               Dasar Hukum atas Pengaturan Pangan Produk Rekayasa Genetika (sumber: BPOM)

Atas dasar Undang-undang tentang Pangan tersebut, seluruh pangan produk rekayasa genetik wajib memeriksakan keamanan sebelum diedarkan dan hanya yang telah dinyatakan “AMAN” untuk dikonsumsi dan dijual yang dapat dipasarkan, kemudian dipersyaratkan pula bahwa terdapat label wajib yang mencantumkan tulisan “Pangan Produk Rekayasa Genetik” atau informasi yang jelas agar konsumen mengetahui dengan baik mengenai produk yang dikonsumsinya. Pengkajian Keamanan Pangan di Indonesia mengacu pada Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Nomor HK.03.1.23.03.12.1563 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengkajian Keamanan Pangan Produk Rekayasa Genetik.

Untuk memastikan agar cultured meat tersebut selalu terjamin keamanannya, perlu dilakukan pengawasan yang ketat. Di Indonesesia sendiri Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merupakan instansi yang berperan penting untuk melakukan pengawasan baik yang bersifat pre-market maupun post market. Pengawasan pre-market yaitu Pangan Olahan yang dibuat di dalam negeri atau yang diimpor untuk diperdagangkan dalam kemasan eceran, wajib memiliki izin edar. Sementara pengawasan post market dilakukan dengan melakukan pengambilan contoh pangan yang beredar dan/atau melakukan pengujian dan tindak lanjut hasil pengujian contoh produk pangan. Jika terbukti ada pelanggaran, BPOM dapat mengenakan sanksi, baik pidana maupun admisinistratif.

Selain itu, Produk pangan yang beredar di Indonesia selayaknya perlu mendapatkan sertifikasi “Halal” yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia, mengingat penduduk mayoritas Indonesia adalah beragama Islam. Sertifikasi halal tersebut akan menjadi acuan bagi konsumen di Indonesia khususnya penduduk yang beragama muslim untuk dapat dikonsumsi dan menciptkan kepercayaan yang positif untuk menargetkan Indonesia sebagai pasar yang berpotensi dalam memasarkan produk pangan khususnya cultured meat.       

Cultured Meat mungkin bukan solusi langsung untuk tantangan dalam sistem makanan karena biaya tinggi saat ini. Namun, perlu dicatat bahwa daging yang dibudidayakan dapat diterima oleh masyarakat dari waktu ke waktu, dengan alasan bahwa pengganti daging yang tidak konvensional lainnya, seperti Quorn telah diterima. 

                                                   Image result for quorn

                                                     Quorn (sumber: independent.co.uk)

Quorn adalah produk ‘pengganti daging’ yang berasal dari jamur, Fusarium venenatum. Sejak penemuannya hampir 50 tahun yang lalu, Quorn sekarang dimakan secara teratur dalam lebih dari seperlima dari rumah tangga di Inggris. Quorn berhasil bertransformasi dari sesuatu yang dianggap non-makanan menjadi makanan yang dapat diterima dan diinginkan. Produk yang diciptakan berbeda, seperti Quorn, biasanya menghadapi hambatan dalam pasar karena konsumen tidak memahami produk itu dan hampir tidak ada produk serupa lain yang dapat dibandingkan.

Apa yang dilakukan oleh Quorn adalah dengan membuat produknya sebagai analogi dari hampir semua jenis daging yang ada di pasaran, seperti daging sapi, ayam, babi, domba, dan bahkan juga ikan. Dengan membuat berbagai macam produk itu, konsumen sudah lebih memahami dan memiliki perbandingan dengan sesuatu produk makanan yang sudah dikenal. Makan sosis Quorn, sama dengan memakan sesuatu yang sudah mereka kenal, tetapi dengan lemak yang lebih rendah, tinggi protein dan oleh karenanya secara teori tentu lebih menyehatkan.

Quorn menawarkan kesempatan unik untuk memahami lebih jelas rekayasa budaya penerimaan “makanan”, dan untuk mengungkap hubungan kompleks yang telah berkembang antara konsumen dan apa yang mereka makan. Penerimaan Cultured Meat mungkin juga akan tergantung pada cara media membahas daging yang dibudidayakan dan peraturan pemerintah yang jelas.

           https://www.youtube.com/watch?v=kG4EO-P93Dk

DAFTAR PUSTAKA

Datar, I (January 2010). “Possibilities for an in vitro meat production system”. Innovative Food Science & Emerging Technologies. 11 (1): 13–22. doi:10.1016/j.ifset.2009.10.007. https://en.wikipedia.org/wiki/Cultured_meat

Hasan, Akhmad Muawal, 14 Juli 2018, Siapkah Anda Mengkonsumsi Daging Bikinan Lab yang Ramah Lingkungan,https://tirto.id/siapkah-anda-mengonsumsi-daging-bikinan-lab-yang-ramah-lingkungan-cN66 

Egayanti, Yusra, 10 September 2015, Pengkajian Pengamanan Pangan Produk Rekayasa Genetik, https://studylibid.com/doc/1216768/pengkajian-keamanan-pangan-produk-rekayasa-genetik

Gaydhane, M. K., Mahanta, U., Sharma, C. S., Khandelwal, M., & Ramakrishna, S. (2018). Cultured meat: state of the art and future. Biomanufacturing Reviews, 3(1), 1. https://fcrn.org.uk/research-library/cultured-meat-state-art-and-future

James, Clive (1996). “Global Review of the Field Testing and Commercialization of Transgenic Plants: 1986 to 1995” (PDF). The International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications. Diakses tanggal 17 July 2010, https://id.wikipedia.org/wiki/Pangan_rekayasa_genetika

Muraille, Eric ,  30 November 2019, ‘Cultured’ meat could create more problems than it solves, https://medicalxpress.com/news/2019-11-cultured-meat-problems.html

Ujvary, George, July 2009, QUORN: From environmental superfood to cultural superfood.

https://www.researchgate.net/publication/282314291_QUORN_From_environmental_superfood_to_cultural_superfood

Wilks M, Phillips CJC (2017) Attitudes to in vitro meat: a survey of potential consumers in the United States. PloS one 12:1–14.  https://doi.org/10.1371/journal.pone.0171904

Created by.

Wulan Suparwanti

Yogi Pratama Ramadi

Muhammad Fadillah Rahmat

Shandy Martanto

M. Rozikin Busro


Like it? Share with your friends!

2
2 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
1
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format