Pernah Menjadi Brand Fashion Ternama di Indonesia, Kini Forever 21 Gulung Tikar

'From Something to Nothing' Forever 21 mengalami kebangkrutan setelah sempat mengalami peningkatan penjualan yang pesat pada tahun 2015


0

Forever 21 adalah perusahaan fashion yang berasal dari Amerika Serikat didirikan oleh pasangan suami istri asal Korea yang bernama Do Won Chang dan Jin Sook Chang pada tanggal 16 April 1984. Perusahaan yang berdiri selama 36 tahun ini menyatakan kebangkrutannya pada tanggal 29 September 2019.

Forever 21 awalnya bernama Fashion 21 hanya menjual fashion dan aksesoris untuk wanita saja. Namun seiring bertambahnya pelanggan, perusahaan ini berganti nama menjadi Forever 21. Setiap 6 bulan sekali, Forever 21 membuka pasar baru dan memperluas basis pelanggan perusahaan.

Pada tahun 2015 bisnis perusahaan berkembang dengan pesat, penjualan perusahaan memuncak dengan omset sebesar US $ 4,4 miliar. Forever 21 berambisi menjadi perusahaan yang mempunyai omset US $ 8 miliar pada 2017 dan membuka 600 toko baru. Sayangnya, tindakan agresif tersebut membuat perusahaan menjadi bangkrut.

Berikut analisis perusahaan dari segi microenvironment :

  • Lingkungan Perusahaan

Awalnya, toko pertama Forever 21 yang terletak Los Angeles hanya populer di kalangan orang Korea Selatan – Amerika. Perusahaan ini mengincar pembeli yang ingin tampil trendi, sehingga mereka membuka toko baru setiap enam bulan sekali untuk memperluas basis pelanggan perusahaan. Pada tahun 1995, Forever 21 pertama kali membuka toko baru di luar California, dan enam tahun kemudian toko Forever 21 yang berada di Kanada menjadi toko pertama perusahaan di kelas internasional. Pada tahun 2015 Forever 21 mengalami perkembangan penjualan yang sangat pesat dengan omset US $ 4 miliar dan mereka ingin menambah omset menjadi US $ 8 miliar dengan membuka 600 cabang toko baru, tindakan ini membuat mereka bangkrut.

  • Lingkungan Pemasok

Forever 21 awalnya bermodalkan simpanan senilai US $ 11.000, pasangan suami istri itu membuka toko pakaian pertama kali pada tahun 1984. Forever 21 memanfaatkan barang obralan yang dibeli borongan dari produsen dengan harga diskon. Pada tahun pertama, Forever 21 meraup nilai penjualan sebesar US $ 700.000.

  • Lingkungan Pemasaran

Prinsip kesuksesan Forever 21 saat itu sangat sederhana, yakni menumbuhkan banyak pembeli dengan cara menjual pakaian yang trendi dan berharga murah. Forever 21 adalah salah satu perusahaan fashion yang pertama melakukannya dan mereka yang tercepat. Hasilnya, Forever 21 menjadi salah satu toko fashion terbesar di mall – mall Amerika. Tokonya tersebar di 480 lokasi.

  • Lingkungan Pesaing

Forever 21 dilihat unik karena hanya menjual beberapa produk tertentu untuk waktu yang terbatas ( limited edition ). Ketika Forever 21 fokus untuk tumbuh lebih besar, fashion yang dimiliki Forever 21 menjadi kekurangan karakter, sehingga mulai kehilangan pelanggan. Pada saat yang sama, produk fashion H&M dan Zara mulai berkembang dikalangan pelanggan.

  • Lingkungan Umum

Kemunculan e – commerce juga menjadi salah satu faktor yang membuat Forever 21 tidak mampu bertahan. Menurut survey, generasi milenial membeli outfit mereka secara online. Hal ini membuat penjualan Forever 21 turun sebesar 25% pada tahun 2018 sedangkan H&M mengalami kenaikan penjualan sebesar 10%. Hal ini berdampak kepada kebangkrutan dan pada tanggal 29 September 2019 Forever 21 secara resmi mengumumkan kebangkrutannya.

Sedangkan untuk berikut adalah analisis perusahaan dari segi macroenvironment :

  • Cultural Environment

Lingkungan budaya yang ada di Indonesia memang sudah terdampak globalisasi. Namun, globalisasi yang terjadi tidak seutuhnya sama persis dengan globalisasi yang berkiblatkan western – oriented. Sedangkan, salah satu faktor lingkungan budaya adalah religion. Tidak bisa dipungkiri, Indonesia adalah negara dengan persentase penduduk muslim terbesar sedunia. Ditambah dengan maraknya tren hijab yang semakin menggaung. Namun, Forever 21 belum bisa positioning terhadap market di Indonesia ini. Sedangkan, Uniqlo sudah aware dengan tren hijab dan lingkungan budaya yang ada di Indonesia dengan menyediakan produk hijab. Faktor preferensi konsumen Indonesia yang berbeda dengan spesifikasi produk Forever 21 yang bernuansa high – end serta western – oriented berbeda dengan kondisi rata – rata populasi market di Indonesia yang massive. Perbedaan mendasar ini terdapat dalam budaya barat yang hampir setiap weekend mengikuti party. Maka dari itu, produk Forever 21 juga bernuansa terlihat lebih banyak terbuka jika dilihat dari pandangan orang timur. Berbeda dengan budaya Indonesia yang masih ada unsur ketimuran dan frekuensi mengikuti party tidak sesering budaya barat.

  • Demographic Trends

Keterkaitan pemilihan tema produk dalam brand Forever 21 juga berpengaruh besar terhadap brand. Sedangkan, trend terus berkembang sehingga produk Forever 21 juga hanya bisa eksis tidak lebih dari 2 tahun karena trend yang selalu berubah. Berbeda dengan produk Uniqlo yang masih bisa bertahan karena memiliki konsep casual yang bisa dipakai sampai kapanpun. Pada dasarnya tema kasual tidak terikat pada waktu karena merupakan basic dari fashion dan bisa dipadupadankan dengan tema fashion yang lain. Hal ini yang membuat Forever 21 harus berdarah – darah untuk sustain di market Indonesia.

  • Technological Environment

Perkembangan teknologi terasa dengan massivenya sales produk fashion secara offline. Dalam International Conference on Education For Economics, Business, and Finance ( ICEEBF ) 2016 Jurnal yang berjudul Customer Preference and the Affecting Factors in Fashion Shopping Media Using Young People Perspective in Indonesia menghasilkan data bahwa 81,9 % pemuda ( 16 – 25 tahun ) lebih memilih berbelanja online daripada offline. Tentu sarana online membuktikan merupakan media yang seharusnya efektif untuk menarik konsumen. Namun, Forever 21 belum mengeksplor lebih jauh lagi terkait ini. Disaat neuromarketing sudah diterapkan diberbagai sektor consumer. Forever 21 belum mengimplementasikannya. Self – centered consumer analysis yang menjadi salah satu digital tools dalam digital marketing juga tidak terasa dalam kasus Forever 21.

Sumber :

  1. https://www.google.co.id/amp/s/amp.tirto.id/kisah-forever-21-yang-tidak-bisa-bertahan-selamanya-ei96
  2. https://www.google.co.id/amp/s/m.bisnis.com/amp/read/20191001/12/1154100/dulu-populer-kini-bangkrut-ada-apa-dengan-forever-21 

Penulis ( Squadron Supreme ) :

  1. Muhammad Alief A
  2. Anita Michella
  3. M. Firdaus Ar Ridho


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
3
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format