FILM INDONESIA VS FILM BOX OFFICE


0

INTRODUCTION

Industri perfilman kini menjadi hiburan yang sangat diminati dan menarik perhatian banyak orang di seluruh dunia, kini mulai semakin banyak bermunculan film-film yang berkualitas dengan kreativitasnya tersendiri membawakan ide dan gagasan baru. Tentunya dengan persaingan yang semakin sengit di industri perfilman ini, membuat para sineas terpacu untuk menciptakan hal-hal baru dan unik yang dikemas dengan durasi antara satu hingga dua jam. Tentu cukup sulit dalam mengemas suatu film dengan ide dan gagasan baru menjadi suatu rangkaian film yang pas. Mereka (para sineas) pasti akan selalu berusaha untuk menciptakan karya-karya terbaik mereka yang nantinya akan ditandingkan dalam ajang penghargaan bergengsi antar film-film nasional maupun dunia seperti Jogja-NETPAC Asian Film Festival Golden Hanoman Award, Venice Film Festival, Cannes Film Festival, Sundance Film Festival, Toronto International Film dan juga tentunya Academy Awards atau Piala Oscar.

Nama-nama sineas seperti Marissa Anita, Gunawan Maryanto, Rukman Rosadi, dan Yosep Anggi Noen tentunya sudah terkenal di industri perfilman Indonesia. Tokoh – tokoh sineas pastinya sudah tidak asing lagi didengar oleh masyarakat Indonesia karena dengan beragam karya film mereka yang berhasil mendapatkan prestasi diranah nasional dan bahkan internasional. Tidak banyak dari film-film Indonesia yang dapat bertahan dalam ajang seleksi penghargaan film dunia, maka pastinya bukanlah sebuah hal yang mudah bagi sebuah film Indonesia untuk meraih penghargaan nominasi film dunia. Oleh Karena itu film kali ini yaitu, “Istirahatlah Kata – Kata” pastinya telah mealui Proses yang cukup ketat, mulai dari proses produksi dan proses editing film yang mumpuni untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Film besutan Yosep Anggi Noen berjudul “ Istirahatlah Kata – Kata “ tayang di bioskop Indonesia pada 19 Januari 2017. Film ini mengritik kentalnya budaya militer era Order Baru dengan cara yang amat satir, cenderung lucu, dan cukup berbobot. Keseluruhan nuansanya yang sunyi dan introvert. Berbanding terbalik dengan dunia hari ini yang ultra ekstrovert dan sungguh gegap gempita. Wiji Thukul dulu menyuarakan perlawanan lewat karya-karya puisinya, sebagaimana Pramoedya Ananta Toer melalui tulisannya. Sosok Wiji merupakan seorang penyair sekaligus aktivis yang kritis terhadap ketidakadilan penguasa. Puisi-puisi yang telah ia buat merupakan cara bagaimana ia berontak di masa Orde Baru saat banyak orang-orang bungkam dalam ketakutan. Selama pelarian pun ia enggan berhenti mengutarakan kata demi kata dalam bentuk puisi. Pada era sebelum reformasi itu, kritik lewat puisi saja sudah dianggap subversive. Orang-orang yang vokal dengan gagasan demokrasi substansi sapat dianggap berbahaya bagi ketertiban umum, tembak di tempat karena dianggap preman yang meresahkan warga, dan lain sebagainya.

Film yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen ini ditayangkan perdana pada Locarno International Film Festival ke-69, di Swiss dan juga telah diputar di berbagai festival dunia seperti Locarno, Vladivostok, Hamburg, Manila, Busan, dan terakhir di Nantes. Film tersebut Di Indonesia sendiri film ini menjadi pemenang kategori Film Panjang Non-Bioskop Terbaik di ajang Apresiasi Film Indonesia 2016 dan nominasi Festival Film Indonesia 2016 untuk Sutradara Terbaik dan Penulis Skenario Asli Terbaik. Dalam ajang penghargaan Internasional film ini mendapatkan penghargaan oleh Jogja-NETPAC Asian Film Festival Golden Hanoman Award sebagai pemenang dalam kategori film terbaik. 

Dengan berbagai penghargaan yang telah didapatkan baik nasional maupun internasional dan telah diputar diberbagai belahan dunia seharusnya sangat menarik untuk ditonton, namun mengapa film ini justru mengalami kegagalan di negeri sendiri? Mengapa film ini kurang diminati? Lantas bagaimana perbandingan antara Film Istirahatlah Kata - Kata yang meraih penghargaan dengan Film Box Office Joker? Kami akan mengupasnya lebih dalam di bawah ini.

Trailer Joker

Trailer Istirahatlah Kata-Kata

FILM INDONESIA VS FILM BOX OFFICE


FILM INDONESIA

FILM BOX OFFICE

Product

Istirahatlah Kata-Kata

Joker

Price

< Rp1 miliar

Rp805 miliar

Promotion

Film Festival

Gala Premiere

Talkshow

Instagram Posts

TV Spots dan Billboards

Press Tour

Place

Indonesia

New York

4 FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERILAKU KONSUMEN

1. Cultural Factors

Joker

Apa yang ada di film Joker banyak yang tidak ada di dalam kehidupan nyata di Indonesia, seperti tokoh Joker yang bekerja sebagai badut dan permasalahannya dalam ketenagakerjaan, kultural individualis Amerika yang ada di dalam film Joker juga, hal-hal tersebut memang sulit kita temui di Indonesia. Sedangkan masyarakat Indonesia sering lebih menyukai hal-hal yang berbeda, yang unik, yang sulit mereka ketahui di kehidupan nyata. Sehingga apa yang dibawakan di dalam film Joker, di mata masyarakat Indonesia itu sangatlah berbeda dan unik.

Istirahatlah Kata-Kata

Memang dalam film Istirahatlah Kata-Kata memuat kisah perjuangan yang sangat bernilai dan bermanfaat. Tetapi kenyataannya dalam dunia perfilman, kultural masyarakat Indonesia sebagian besar kurang tertarik dengan film yang mengangkat cerita zaman dahulu yang tidak ditambahi bumbu-bumbu romantisme atau humorisme seperti film ini. Dan disaat film ini keluar pun, saat itu di kehidupan nyata di Indonesia, tidak sedang terjadi pergejolakan perlawanan atau pengkritikan terhadap pemerintah. Sehingga masyarakat kurang bias memaknai apa yang dibawakan oleh dalam film ini.

2. Social Factors

Joker

Permasalahan sosial yang dialami tokoh Joker, seperti kisahnya yang mengalami permasalahan dalam mencari profesi, mencari uang, bagaimana ia sampai stress dan bingung hingga marah. Hal-hal tersebut tentu dapat dirasakan juga oleh masyarakat Indonesia terutama bagi mereka orang-orang Dewasa. Sebagaimana kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang sangat beragam, penduduknya yang sangat banyak, ketatnya persaingan kerja di Indonesia, membuat masyarakat Indonesia dapat membayangkan dan memiliki perasaan yang sama dengan apa yang tokoh Joker alami. Selain itu, dalam penyebaran populeritas film ini dalam media sosial daring juga sangat merebak, sehingga seakan-akan ada pertanyaan “eh, kamu sudah nonton Joker belum?” membuat sebuah tren challenge bahwa kita harus film Joker sehingga tidak tertinggal di lingkungan pergaulan kita.

Istirahatlah Kata-Kata

Kehidupan sosial pada zaman yang ada di dalam film ini, tentu sangat berbeda dengan sekarang. Seperti nuansa kentalnya budaya militer orde baru, nuansanya yang sunyi dan introvert, sangat berbeda dengan kehidupan sosial yang sekarang. Memang hal ini men jadi hal yang berbeda di masyarakat Indonesia, tetapi  apabila tidak banyak bumbu-bumbu romantisme atau humorisme, maka menjadi kurang diminati masyrakat. Karena pada tren sekarang itu, apabila film-film yang bernuansa zaman dahulu, orang-orang lebih menyukai film-film yang berisi kisah romantisme atau berisi humor. Di dalam jejaring media sosial pun film ini kurang booming sehingga orang tidak tertantang untuk harus menonton film ini.

3. Personal Factors

Joker

Tokoh Joker dalam film ini yang memiliki kelas ekonomi rendah, sesuai juga dengan gambaran secara umum masyarakat Indonesia yang juga banyak orang berekonomi rendah. Beberapa permasalahan yang dialami Joker juga banyak persamaan dengan permasalahan pribadi orang-orang di Indonesia secara umum. Sehingga masyarakat yang menonton film Joker ini dapat merasakan secara personal juga apa yang dialami tokoh Joker, sehingga dapat menimbulkan empati bagi penonton film ini.

Istirahatlah Kata-Kata

Apa yang dialami tokoh penyair Wiji Thukul di masa itu, pada zaman sekarang sudah tidak sejalan dengan kehidupan sekarang. Sehingga masyarakat sulit untuk berempati terhadap apa yang dialami tokoh Wiji Thukul dalam film ini, sehingga secara personal masing-masing kurang dapat merasakan perasaan si tokoh Wiji Thukul.

4. Psychological Factors

Joker

Karena tokoh Joker ini sudah lama dikenal masyarakat di berbagai serial film-film sebelumnya dari DC, yaitu dari serial film Batman, tetapi di film Joker ini, mengambil sisi dari tokoh Joker itu sendiri, sehingga yang menjadi tokoh utama atau pahlawan dalam film kali ini adalah Joker. Hal ini tentu membuat para penontonnya penasaran, bagaimana sih sudut pandang kalo dari si Joker ini yang biasanya digambarkan sebagai tokoh jahat di film-film Batman. Dan sifat Joker yang memiliki gangguan mental juga membuat penontonnya penasaran, bagaimana perasaan sesorang yang memiliki gangguan mental seperti itu apabila dihadapkan berbagai permasalahan yang kurang adil baginya (tokoh Joker).

Istirahatlah Kata-Kata

Kembali lagi dikarenakan permasalahan perjuangan yang dialami tokoh Wiji Thukul pada masa itu sudah tidak relevan dengan kehidupan sekarang, terutama dikarenakan pada saat film ini dikeluarkan, tidak ada pergejolakan politik sehingga masyarakat secara psikologis kurang termotivasi untuk penasaran terhadap film ini dan menonton film ini. Hanya beberapa golongan masyarakat saja seperti orang-orang yang menyukai atau bergulat dalam dunia sejarah saja yang memiliki rasa penasaran dan ketertarikan terhadap film Istirahatlah Kata-Kata.

BERDASARKAN PADA PERILAKU KONSUMEN DALAM PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN

Joker:

(Need recognition) berdasarkan proses keputusan pembeli, konsumen terlebih dahulu mengenali masalah atau kebutuhannya akan rasa penasaran tentang awal mula series suatu film. Terlebih, film ini menceritakan kisah joker yang merupakan musuh dari Batman (serial yang sudah tayang dan banyak diminati oleh masyarakat Indonesia)

(Information reseach) konsumen termotivasi untuk mencari informasi lebih lanjut melalui informasi yang update dari channel-channel yang disediakan, platform instagram, atau youtube, dan lain-lain.

(Evaluation of alternatives) konsumen menggunakan informasi yang sudah didapatkan untuk mengevaluasi film alternatif lain, tapi masih tetap lebih unggul film ini dengan alasan film ini merupakan film yang sudah lama ditunggu, sehingga banyak yang menantikan film ini tayang.

(Purchase decision)berdasarkan evaluasi, konsumen memutuskan untuk membeli tiket penayangan film ini.

(Postpurhase behavior) setelah mengambil tindakan lanjut dari pembelian tiket tersebut, konsumen dapat memberikan komentar berdasarkan pada tingkat kepuasan mereka.


Istirahatlah Kata-Kata:

(Need recognition) konsumen mengidentifikasi kebutuhannya, film ini menjadi minat tersendiri bagi pecinta film sejarah terutama sejarah Indonesia pada zaman orde baru. Selain itu film ini juga menarik bagi orang yang suka film bertema politik, militer, atau orang yang ingin bernostalgia. Namun bagi kebanyakan masyarakat Indonesia kurang berminat terhadap film seperti ini, mempertimbangkan trauma yang di alami, masa kelam yang ada di orde baru, dan hal lainnya, film ini menjadi kalah pamor di negaranya sendiri.

(Information reseach) konsumen yang sudah tidak asing dengan pemeran utama dalam film ini yaitu Widji Tukul mulai mencari informasi dengan mengakses melalui Youtube, instagram, atau media lainnya. 

(Evaluation of alternatives) berdasarkan pencarian informasi yang sudah dilakukan, calon konsumen mengevaluasi film-film mana yang akan ditonton, dengan pertimbangan yang mantap, berdasarkan pada ketertarikan dan minat pada film ini, maka konsumen memutuskan untuk menonton film ini.

(Purchase decision) konsumen memutuskan untuk menonton film ini.

(Postpurhase behavior) konsumen yang telah melihat film ini, berdasar pada buku-buku yang telah dibaca, informasi yang telah didapatkan, mereka menilai film ini, memberikan komentar (review) yang bisa dilakukan di web-web review film

Saran agar Film Indonesia mendapat perhatian dari masyarakat Indonesia?

Ketertarikan akan menonton salah satu film yang sedang ditayangkan dalam Bioskop memang berdasarkan pada minat masing-masing individu. Tetapi ada baiknya bahwa masyarakat Indonesia mengetahui tentang sejarah Indonesia sendiri yang bisa didapatkan melalui film dokumenter. Selain itu, pemerintah juga harus ikut serta dalam promosi film Indonesia yang mengandung pendidikan dan bermanfaat bagi warga negaranya. Film-film yang mengandung nilai-norma masyarakat sangat patut untuk ditonton oleh masyarakat Indonesia di tengah bobroknya dekadensi moral. Media informasi juga harus mendukung dunia perfilman Indonesia, ikut menyebarkan informasi tentang film-film yang sedang tayang maupun akan tayang. Karena pada saat ini menonton film tidak harus di Bioskop, pemerintah/lembaga dapat membuat website khusus bagi masyarakat Indonesia untuk menonton film-film Indonesia yang mudah diakses.

Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Istirahatlah_Kata-kata

https://www.brilio.net/film/10-alasan-kamu-wajib-nonton-film-wiji-thukul-istirahatlah-kata-kata-170107h.html#

https://id.bookmyshow.com/blog-hiburan/review-film-istirahatlah-kata-kata-2/

https://id.wikipedia.org/wiki/Istirahatlah_Kata-kata

https://id.wikipedia.org/wiki/Widji_Thukul

https://tirto.id/istirahatlah-kata-kata-film-penting-belum-tentu-bagus-chKf

https://www.tribunnews.com/kesehatan/2019/10/10/film-joker-tak-layak-ditonton-anak-anak-ini-penjelasan-psikolog?page=3

Alpha Squad :

  1. Faqih Ahmad M.
  2. Lawita Wanda Sasmita
  3. Afifah Della S
  4. Hilmi 'Afif Kautsar

Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
AlphaSquad

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format