Menelusuri Penyebab Sepinya Minat Film Lokal

Jika tidak ada peraturan yang mengharuskan menayangkan film lokal, mungkin bioskop kita hanya akan berisi film internasional.


0
1 share

Film merupakan salah satu bagian dari industri hiburan. Di Indonesia pun dianggap seperti itu. Industri ini memiliki pangsa pasar yang amat luas di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia. Di Indonesia sendiri, pasar untuk industri perfilman tidak bisa dibilang kecil. Terutama di kalangan muda-mudi Indonesia, film bukan hanya sekedar objek hiburan. Bagi sebagian orang, film adalah passion, hobi, rutinitas, pekerjaan, hiburan, bahkan sumber uang.

Keberadaan film di Indonesia bukan lagi hal yang eksklusif, mengingat studio bioskop sudah menjamur di mana-mana. Dari kota besar yang memiliki lebih dari satu bioskop, dan bahkan di beberapa kota kecil pun kita dapat menjumpai bioskop sekarang ini. Indonesia juga memiliki banyak produser, sutradara, dan pemain film yang bertalenta dan tersohor. Nama-nama seperti Mira Lesmana, Joko Anwar, Reza Rahardian, dan Ernest Prakarsa sudah tidak asing lagi. Bahkan, banyak orang yang justru menunggu karya mereka selanjutnya.

Film yang tayang di Indonesia bukan hanya film yang asli produksi Indonesia, tetapi juga film-film lain dari luar negeri seperti film-film Hollywood, Bollywood, Jepang, dan Korea. Adanya film-film impor ini menciptakan suatu kompetisi antara film lokal dengan film asing dalam pasar industri film di Indonesia. Tidak jarang film lokal kalah pamor dengan film asing. Tapi, tetap ada film lokal yang dikemas dengan sangat keren, unik, relatable dengan kehidupan, dan mampu bersaing dengan film dari luar. Meski demikian, bukan berarti film-film domestik yang kalah pamor dengan film mancanegara itu memiliki kualitas rendah, lho! Bahkan kualitasnya bisa diadu dengan film luar.

Misalnya saja film berjudul The Forbidden Door atau yang memiliki judul Indonesia “Pintu Terlarang” ini. Film asli Indonesia bergenre thriller ini memenangkan dua penghargaan di luar negeri, yaitu: International Film Festival Rotterdam ke-38 dan Puchon International Fantastic Film Festival dengan kategori Best of Puchon.

Hal ini membuktikan bahwa film lokal pun memiliki daya saing hingga mampu menembus kancah internasional. Analisis di bawah menjabarkan alasan mengapa film lokal yang berkualitas bisa kalah pamor dengan film luar meski kualitasnya bisa diadu. Sebagai contoh, kami memilih film Beauty and the Beast sebagai pembanding.


Lalu, bagaimana unsur-unsur pemasaran dari kedua film tersebut?

Product

The Forbidden Door (nama lain: Pintu Terlarang) adalah film garapan sutradara tersohor, Joko Anwar, yang dirilis tahun 2009. Film ini merupakan hasil adaptasi dari novel karya Sekar Ayu Asmara dengan judul yang sama. Pintu Terlarang menceritakan tentang kehidupan seorang pematung bernama Gambir dan istrinya, Talyda. Film ini mengandung adegan yang brutal dan berdarah-darah. Ending dari film ini merupakan sebuah plot twist yang keren.

Beauty and the Beast adalah film musikal Amerika tahun 2017 yang disutradarai oleh Bill Condon. Film ini merupakan adaptasi live action dari film animasi Disney tahun 1991 dengan judul yang sama. Genre film Beauty and the Beast adalah fantasi dan romansa. Film ini menceritakan pertemuan dan konflik yang terjadi antara seorang gadis, ayahnya, dan seorang pangeran yang dikutuk.

Price

Baik film Pintu Terlarang maupun Beauty and the Beast, keduanya ditayangkan di bioskop di Indonesia. Kisaran harga untuk membeli tiket menonton pun sama seperti harga tiket pada umumnya, yakni Rp30.000 – Rp75.000 tergantung hari dan kota di mana penonton membelinya. Umumnya range harga tertinggi adalah Rp60.000-Rp65.000 untuk jadwal penayangan weekend. Harga Rp75.000 adalah harga wilayah Jayapura.

Place

Meski Joko Anwar sempat diminta oleh Lembaga Sensor Film untuk memotong beberapa adegan brutal yang menunjukkan pembunuhan, pada akhirnya Pintu Terlarang tayang di bioskop Indonesia mulai tanggal 22 Januari 2009.

Sedangkan Beauty and the Beast memang tidak langsung tayang di Indonesia bersamaan dengan hari pertama rilisnya. Beauty and the Beast tayang pertama kali di London pada 23 Februari 2017 dan baru tayang perdana di Indonesia pada 17 Maret 2017.

Promotion

Peminat dan penggemar cerita Beauty and the Beast sudah sangat banyak sejak Disney merilis versi animasinya. Disney sendiri merupakan perusahaan yang pamornya sangat tinggi, sehingga ketika Beauty and the Beast rilis pun tidak sulit mengumpulkan antusias pasar. Justru, penonton lah yang menunggu-nunggu kehadiran live action selanjutnya dari cerita Disney setelah Cinderella live action dirilis tahun 2015.


Influencing Factors

Dalam memutuskan keputusan pembeliannya, konsumen akan terpengaruhi faktor faktor yang ada di lingkungannya baik secara sadar maupun tidak. Mari kita tilik beberapa faktor diantaranya.

Cultural Factors

Dalam masa modern ini, masyarakat indonesia semakin mengikuti perkembangan zaman, dalam perkembangan zaman ini masyakarat dipengaruhi oleh budaya barat antara lain seperti baju,makanan,pergaulan dan maupun film. Dengan adanya film-film barat yang masuk di indonesia, maka masyarakat cenderung untuk menonton karena film barat ini menarik dan film indonesia pun dilupakan.

Environmental Factors

Faktor lingkungan juga mempengaruhi, jika kita dikelilingi teman atau lingkungan yang menyukai film luar negeri maka kita juga akan terpengaruh untuk menonton dan orang-orang pun seperti memberikan rekomendasi ke kita untuk menonton film tersebut dan akhirnya kita pun ikut menonton.

The Popularity of Film Actors and Actresses

Aktor-aktor terbaik di dunia juga mempengaruhi karena dalam film seperti, The Avengers, Fast and Furious, Wonder Woman, Spiderman dan lain-lain dimainkan oleh aktor terkenal di dunia seperti Robert Downey, Chris Evans, Chris Hemsworth, Gal Gadot ini mendorong kita untuk menonton apalagi jika kita memang salah satu fans mereka sebelum mereka membuat film tersebut.

Personal Factors

Faktor ini sebenarnya tergantung pada diri kita sendiri, misalkan kita lebih suka menonton film luar negeri karena menarik dan tidak suka film indonesia karena membosankan dan suka untuk mengetahui bahasa asing, film luar negeri tentu paling menonjol untuk ditonton.

Technological Factors

Film seperti Now You See Me, Terminator, Hacker dan lain-lain itu sudah menggunakan teknologi yang super canggih yang membuat film tersebut lebih bernilai dan menarik minat masyarakat untuk menonton.


Customer Behavior Analysis

Kedua film tersebut mendapatkan penerimaan dari konsumen dengan sangat berbeda. Untuk mengetahui penyebab yang begitu besar tersebut, kita harus menganalisis tindakan konsumen. Dalam menentukan pilihan, konsumen akan melalui lima tahap untuk memenuhi kebutuhannya. Meskipun pada kenyataannya tidak selalu setiap konsumen melaluinya, analisis dengan kelima tahapan proses penentuan pilihan bisa menjadi tolak ukur yang cukup baik dalam mencari tahu penyebab kecenderungan konsumen untuk memilih tidak menonton film Joko Anwar atau bahkan tidak mengetahui keberadaannya jika dibandingkan dengan film Live Action Disney.

Need Recognition

Tahapan pertama yang dilalui konsumen dalam memenuhi kebutuhannya adalah menyadari kebutuhan itu sendiri. Kebutuhan menonton film sendiri pada umumnya adalah rekreasi. Di era yang serba cepat dan tuntutan serba tinggi ini, keberadaan film makin lama makin menjamur atas respon dari permintaan pasar yang memang terus meningkat. Semakin banyak nya jumlah film juga beriringan dengan semakin beragam nya jenis (genre) film yang beredar.

Pintu Terlarang dapat dikategorikan ke dalam film horor sedangkan Beauty and the Beast dapat dikategorikan ke dalam film fantasi. Menurut Google Trends, justru minat akan film horor jauh lebih tinggi dibandingkan film fantasi. Meski kebutuhan konsumen akan film horor lebih banyak, hal ini tentu saja bukan menjadi satu satunya dalam menentukan pilihan untuk memenuhi kebutuhan umum menonton film, yakni rekreasi. Konsumen tentu lebih ingin memilih hal yang lebih pasti dalam memenuhi kebutuhannya maka hal lain seperti popularitas film itu sendiri dan penilaian orang lain tentu menjadi faktor yang lebih signifikan. Dalam hal ini Beauty and the Beast jauh lebih diunggulkan daripada Pintu Terlarang.

Information Search

Setelah konsumen menyadari adanya kebutuhan rekreasi kemudian memutuskan untuk menonton film, pencarian informasi merupakan tahapan selanjutnya. Lagi lagi popularitas Beauty and the Beast yang mendorong banyaknya penonton yang membagikan pengalamannya di internet serta promosi yang lebih masif memberikannya keunggulan dibanding Pintu Terlarang.

Tentu membandingkan film yang dipublikasikan secara internasional dengan film yang hanya dipublikasikan secara domestik tidak akan menimbulkan hasil yang seimbang. Terlebih lagi dilansir dari imdb.com, biaya produksi Beauty and the Beast diestimasikan sebesar Rp 2.34 Triliun dan biaya produksi Pintu Terlarang diestimasikan “hanya” sebesar Rp 2 Miliar (yang berarti seratus kali lebih murah) benar benar menimbulkan massa penonton yang jauh berbeda. Meski begitu, tetap saja akan ada orang yang tidak cocok dengan Beauty and the Beast dan memilih menonton Pintu Terlarang berdasarkan kebutuhannya akan film horor atau film lokal.

Evaluation of Alternatives

Dalam memenuhi kebutuhannya konsumen akan menimbang alternatif yang ada untuk mendapatkan kepuasan yang maksimal. Hal ini juga berlaku di dunia perfilman dimana seseorang cenderung akan menonton film dalam jumlah yang terbatas sehingga dalam jumlah yang terbatas tersebut akan ada perebutan pangsa pasar. Pada umumnya, kompetitor dalam dunia perfilman tidak lain adalah karya film lain dalam satu waktu yang sama dan dalam satu genre yang sama.

Meskipun pada tahun 2009 belum terlalu banyak film horor yang beredar, permintaan pasar pun juga belum begitu berkembang. Hal ini menyebabkan Pintu Terlarang tetap kesulitan mendapatkan pangsa pasar karena berkompetisi dengan film lain dengan genre yang lebih populer.

Di sisi lain, kompetitor Beauty and the Beast dalam genre fantasi pada tahun 2017 tidak banyak. Selain itu, Walt Disney yang juga sudah memiliki popularitas sangat tinggi pada film fantasi mengangkat nilai film ini di mata konsumen. Hal ini bisa terjadi karena Walt Disney memang memiliki spesialisasi di film fantasi dan juga sejarah yang panjang dalam perjalanannya. Dengan begitu, Beauty and the Beast menjadi pilihan yang sangat menarik bagi konsumen yang menginginkan film fantasi dan akan lebih memilihnya daripada alternatif film fantasi yang lain.

Purchase Decision

Pada tahap ini konsumen mengambil keputusan terhadap pilihan yang tersedia. Dengan pertimbangan pertimbangan yang sudah dibuat sebelumnya, tahap ini hanyalah tahap eksekusi untuk merealisasikan pemenuhan kebutuhannya. Dalam dunia perfilman, konsumen akan menyumbang pemasukan kepada perusahaan pembuat film melalui berbagai cara.

Yang pertama adalah menonton di bioskop. Pilihan pertama ini cenderung menjadi sumber keuntungan yang paling besar dalam industri film. Pintu Terlarang yang hanya ditayangkan di bioskop dengan sangat terbatas tentu tidak akan menghasilkan keuntungan yang bisa dibandingkan dengan Beauty and The Beast.

Yang kedua adalah pembelian kaset film. Pilihan ini kurang populer di Indonesia karena memang belum menjadi budaya pada masyarakat untuk membeli kaset film original. Hal ini mengakibatkan keuntungan Pintu Terlarang yang hanya ditayangkan di Indonesia melalui pembelian kaset film sangat minimal.

Yang terakhir adalah pembelian merchandise film. Meski keuntungan melalui pilihan ini kurang menguntungkan bagi perusahaan, bagi Pintu Terlarang dengan genre horor nya dan segmentasi pasarnya yang memang kurang tertarik dengan merchandise film, pilihan ini kurang bisa diimplementasikan.

Post-Purchase Behavior

Setelah konsumen memenuhi kebutuhannya, mereka akan mengambil tindakan yang sesuai dengan pengalaman mereka dalam menggunakan produk. Dalam kasus menonton film, konsumen bisa membuat ulasan mengenai film yang baru saja mereka tonton baik secara lisan maupun tertulis dan dengan kemungkinan memberi ulasan positif maupun negatif. Pengaruh pendapat para konsumen ini kemudian dapat menggaet konsumen baru. Beauty and the Beast dengan popularitasnya yang memang sudah tinggi dari awal semakin memisahkan diri dengan film film yang kurang populer seperti Pintu Terlarang.

Tidak dapat dipungkiri, film yang sudah memiliki pamor tinggi lebih dahulu memang cenderung memenangkan pasar film di tanah air. Misalnya film adaptasi atau rangkaian series dari suatu franschise film. Selain itu, perilaku dan selera masyarakat Indonesia dalam memilih tontonan juga sangat berpengaruh. Film yang sangat cocok dengan selera masyarakat Indonesia akan meraih angka penonton yang tinggi di Indonesia. Ditambah lagi dengan kebiasaan bandwagon yang melekat pada perilaku konsumen Indonesia. Di mana jika ada sesuatu yang viral (atau istilah slanknya, ngehype) maka masyarakat akan berbondong-bondong turut melakukan trend tersebut.

Bukan berarti film domestik yang sepi penonton pasti berkualitas buruk. Hanya saja, banyak aspek dari film domestik tersebut yang tidak sesuai dengan perilaku dan selera masyrakat Indonesia.


Penulis:

Sandika Sasmito

Muhammad Rizqi Maulana

Salsabila Inaya Wibowo


Like it? Share with your friends!

0
1 share

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format