Pustakawan VS Digital Library; Transformasi dalam dunia kepustakaan

Masa 4.0 menyebabkan pustakawan dengan cepat tergantikan oleh perpustakaan digital yang berkembang pesat dan mudah diakses oleh dunia. Akankah pustakawan bertahan?


11
4 shares, 11 points

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa “On Financing Global Opportunity–The Learning Generation” pada Oktober 2016 terjadi percepatan teknologi hingga tahun 2030, ada sekitar 2 miliar pegawai di seluruh dunia akan kehilangan pekerjaan, bahkan pekerjaan yang sudah eksis 20 tahun lalu perlahan-lahan akan pudar, diramalkan setelah petugas pengantar pos, penerjemah dan pustakawan akan menyusul, dan hal tersebut merupakan fenomena disrupsi. Dalam kondisi disrupsi, kita menghadapi lawan-lawan yang tak kelihatan dalam peradaban uber dan bahkan dapat menimbulkan “paranoid” bagi yang menghadapinya. Bagi sebagian orang, disrupsi ini cukup menakutkan dan menimbulkan persaingan ketat, bagi yang tidak siap menghadapi kompetisi pasti akan “tersingkir” secara alamiah dan hanya akan menjadi penonton.

Beberapa pakar menganggap disrupsi sebagai pergantian “pasar lama” menjadi “pasar baru” yang lebih efisien dan menyeluruh, sistem lama diganti sistem baru yang lebih inovatif, pemain lama diganti pemain baru, dan teknologi lama (fisik) diganti teknologi baru (digital). Disrupsi ini terjadi karena perkembangan teknologi internet dan cyberspace dalam kegiatan industri yang memungkinkan terjadinya pergantian tenaga manusia diganti dengan tenaga mesin atau robot. Agar tidak terdisrupsi, maka manusia (human) dalam mengemban profesi apapun harus melakukan empowering innovation dalam segala bidang pekerjaan. Disrupsi sejatinya ”efisiensi” namun menimbulkan berbagai persoalan, terutama bagi pihak yang tidak mampu mengikuti perubahan dan tidak produktif.

Pustakawan dan Perpustakaan

Perpustakaan merupakan suatu lembaga yang bergerak dalam bidang informasi, mulai menghimpun, mengolah sampai pada penyebaran informasi tersebut. Berhasil atau tidaknya dalam menjalankan fungsi dan tugas perpustakaan tergantung kepada kemampuan para pustakawan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002), pengertian pustakawan adalah seseorang yang mengurus perpustakaan dan koleksinya memilih buku-bukunya, bahan-bahan buku dan dokumentasi lainnya serta memberikan informasi dan pelayanan, peminjaman untuk memenuhi keperluan pemakainya.

England dan Shaffer menyebutkan, bahwa pustakawan mempunyai peluang untuk meluncur dari stereotip masa lalu dan menempatkan mereka dalam lingkungan informasi dan pelayanan masa depan. Peran pustakawan akan beralih dari penekanan pada pengadaan, preservasi dan penyimpanan ke penekanan pada pengajaran, konsultasi, penelitian, preservasi akses demokratis terhadap informasi, dan kolaborasi dengan profesional komputer dan informasi dalam perancangan dan pemeliharaan sistem akses informasi.

Lebih jauh lagi England dan Shaffer menyatakan pustakawan sudah seharusnya muncul sebagai pemimpin dalam lingkungan informasi digital di mana format baru informasi dan pengetahuan mulai berpengaruh terhadap proses belajar mengajar dan penelitian. Bahkan pustakawan sudah seharusnya aktif dan terlibat dalam upaya mengubah strategi pembelajaran. Keterlibatan tersebut memberikan peluang kepada pustakawan untuk memfasilitasi keterpaduan informasi digital kedalam kurikulum, menawarkan keahliannya dalam mengajarkan keahlian informasi kepada mahasiswa, membantu dosen menjadi cakap dalam hal format informasi digital, dan menyediakan fasilitas fisik belajar kepada mahasiswa. Fasilitas fisik tersebut termasuk: laboratorium komputer, ruang belajar kelompok, studio belajar kolaboratif, dan studio telekonferens interaktif.

Masalah yang dihadapi Pustakawan

Salah satu isu yang terkait disrupsi dalam dunia kepustakawanan yaitu munculnya kebijakan Kemenristekdikti terhadap implementasi Permenristekdikti No.49/2015 tentang kelas jabatan di lingkungan Kemenristekdikti. Menurut Rumani (2018), kebijakan dan implementasi peraturan tersebut menimbulkan “korban” khususnya bagi pustakawan madya yang akan naik pangkatnya menjadi pustakawan utama di lingkungan perguruan tinggi se Indonesia, dan hal tersebut tentunya akan mematikan kreativitas pustakawan dan bahkan dapat “membunuh profesi pustakawan”. 

Agar pustakawan tidak terdisrupsi maka pustakawan harus berjuang keras dan melakukan transformasi dengan pikiran dan tindakan cerdas menuju perpustakaan 4.0, pustakawan 4.0, atau web 4.0. Era digital menuntut Pustakawan menjadi profesi yang bersentuhan langsung dengan dunia digital, banyak hal baru yang terjadi dan harus dikuasai. Pada era ini, peran pustakawan tidak hanya sebagai penjaga perpustakaan tetapi harus dapat berperan sebagai pemberi informasi yang mampu mengidentifikasi, mengatur dan mengolah informasi untuk dapat diakses secara elektronik yang dapat berhubungan langsung dengan sumber informasi digital.

Berikut bentuk perubahan kultur akses informasi dalam perpustakaan yang sudah berubah dengan adanya revolusi industri 4.0 adalah :

  1. Pemustaka

  • Pemustaka melakukan pencarian buku melalui katalog online, saat ini perpustakaan di indonesia sudah banyak mengadopsi Online Public Access Catalog yang biasa disebut oleh beberapa perpustakaan sebagai katalog online, katalog akses online, katalog akses daring perpustakaan, atau katalog akses umum.

  • Pemustaka digital natives adalah generasi digital yang menginginkan segala sesuatunya serba instan sehingga menuntut perpustakaan untuk melakukan inovasi secara terus-menerus. Inovasi berhubungan dengan kreativitas yang dilakukan

  • Pemustaka bisa mengakses koleksi perpustakaan jarak jauh, kapan dan dimana saja tanpa perlu datang ke perpustakaan

  1. Pustakawan

  • Dulu pustakawan sudah cukup puas sebagai penyampai informasi, namun pada era revolusi industri 4.0 harus bisa menjadi pemberi informasi dan pemberi solusi.

  • Pustakawan harus bisa cepat tanggap dan mahir dalam memanfaatkan segala perangkat otomasi perpustakaan, memiliki konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dan konektivitas internet yang tersambung secara terus menerus.

  1. Perpustakaan

  • Digital collection. Pemustaka di Indonesia saat ini tidak asing lagi dengan digitall collection yang ada di perpustakaan. Mulai dari ebook, emagazine, epaper, dll.

  • Library application on smartphone. Untuk penerapannya meliputi segala bentuk informasi, notifikasi, maupun reminder dari perpustakaan yang disampaikan ke pemustaka melalui smartphone.

  • Dari segi manajemen, perpustakaan kini memiliki kemampuan penuh untuk menemukan kembali, merancang ulang, menyelaraskan kembali merekayasa ulang dengan cepat dan fleksibel, baik secara fisik dan virtual untuk berkolaborasi dengan komunitas tertentu.

Menjawab isu digitalisasi tersebut karyawan perpustakaan harus dapat menghadapi tantangan global ini dengan bijak dengan cara melakukan perubahan ke arah yang positif dan menyiapkan strategi bersaing dalam menghadapi era digitalisasi ini karena jika tidak mereka yang tidak siap akan terpinggirkan. Menurut Penelitian Diao Ai Lien (dalam Naibaho, 2014) ada perubahan fungsi dari karyawan perpustakaan sebelum dan sesudah adanya isu digitalisasi.

Sebelum digitalisasi
Sesudah digitalisasi
Memberikan multi-entry service atau pelayanan  yang  terpisah  untuk pengadaan, pengolahan, transaksi peminjaman, referensi, dsb
Menyediakan one-stop service: multi-functional librarians serving  multitasking customers
Memberikan pelayanan di tempat (on site) dan sebatas jam pelayanan
Memberikan pelayanan on-line 24 jam
Manajemen informasi: memberikan pelayanan sebatas akses informasi dan pengetahuan
Manajemen pengetahuan: memberikan pelayanan bervariasi dan dinamis meliputi seluruh siklus pengetahuan (mulai dari penciptaan, perekaman dan publikasi, penyebaran, penggunaan, dan penciptaan kembali, pengetahuan)

Gambaran ideal pustakawan dalam era informasi sebagaimana digambarkan oleh Jane Campbell bahwa pustakawan adalah seorang “Cybrarian”. Pustakawan harus memiliki kualitas sebagai information manager serta mampu menjadi information specialist. Pustakawan juga harus memiliki skill sebagai Information coordinator dan berperan sebagai access engineer. Seorang pustakawan dituntut agar mempunyai naluri sebagai knowledge navigator dan wawasan yang luas sebagai information linking agent.

Kualitas serta peran pustakawan tersebut sudah mulai diproyeksikan pada akhir dekade 1980an dimana pendidikan perpustakaan sudah mulai beralih visi dari penekanan kepada traditional document processing ke information processing technology. Tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan di bidang teknologi informasi serta berkurangnya bobot pelajaran bidang pengelolaan dokumen secara tradisional merupakan usaha mempersiapkan sumber daya pengelola informasi di masa yang akan datang. Oleh karena itu, kesiapan pustakawan dalam berkarir di era informasi ini ditentukan oleh seberapa banyak paket keahlian yang telah dimiliki oleh pustakawan tersebut. Paket-paket keahlian dimaksud antara lain: 

  1. Teknologi informasi Pustakawan tidak mutlak menguasai komputer akan tetapi setidak-tidaknya tahu menggunakan komputer dan perangkat teknologi seperti teknologi Audio-Visual. 

  2. Spesialis subjek Pustakawan tidak hanya mampu menelusur informasi tapi juga mengumpulkan, menganalisa kemudian mengubahnya kedalam media elektronik. 

  3. Bidang pelatihan pustakawan tidak hanya mampu menelusur sumber-sumber elektronik tetapi juga bertanggung jawab melatih pengguna menelusuri data sendiri, dan memilih database yang sesuai 

  4. Manajemen pustakawan paham tentang jaminan mutu, perencanaan strategis dan manajemen lainnya.

Pustakawan
Perpustakaan Digital
Job Description
Melakukan kegiatan perpustakaan dengan membantu orang-orang menemukan buku, majalah, dan informasi lainnya
Membantu orang-orang menemukan buku dan informasi dengan cepat dan efisien
Job Spesification
Memiliki background pendidikan ilmu perpustakaan, paham dengan kegiatan perpustakaan, pelayanan, good communication.
Memiliki kemampuan untuk memberikan buku-buku dan informasi dengan big data yang dapat mengakses e-book dari buku yang diterbitkan oleh para penulis
Selection and Recruitment
Merekrut calon pustakawan yang memiliki gelar sarjana ilmu perpustakaan, kemudian melakukan tahapan recruitment seperti Psikotes, interview, forum group discussion, cek kesehatan, dan lain-lain.
Merekrut beberapa pegawai dengan gelar sarjana terlebih di bidang ilmu perpustakaan dan memiliki pemahaman lebih terkait perkembangan teknologi yang dapat menunjang proses pengembangan perpustakaan digital
Legal Issue
Pekerjaan pustakawan mendapatkan gaji dan tunjangan yang relatif tinggi. dengan adanya banyak pustakawan dalam sebuah perpustakaan dan hanya mengerjakan beberapa pekerjaan yang seharusnya sudah dapat dilakukan menggunakan media online itu yang dapat menimbulkan semakin sedikitnya lapangan kerja pustakawan dan semakin terkikis pekerjaan sebagai pustakawan.

Hanya memerlukan beberapa pustakawan untuk membantu perkembangan dan validasi dari perpustakaan digital, sehingga dapat mengefektifkan kinerja perpustakaan dengan mudah dan cepat.
Pengembangan Tenaga Kerja
Diperlukan training dan pengembangan ilmu untuk para pustakawan untuk dapat mengembangkan strategi, metoda kerja dan mendapatkan kemampuan dalam inovasi pelayanan perpustakaan.
Mengembangkan tenaga kerja untuk dapat mengikuti perkembangan perpustakaan digital dan pengembangan teknologi untuk menunjang perpustakaan digital.
Lalu, bagaimana Pustakawan menghadapi digitalisasi? 

Disatukan-nya pendidikan komputer dengan pendidikan kepustakawanan merupakan usaha untuk mengantisipasi kemajuan teknologi di bidang perpustakaan. Kesiapan pustakawan dalam berkarir di era informasi ini ditentukan oleh keahlian yang harus ditingkatkan untuk menjawab tantangan dari era digitalisasi saat ini. Peningkatan berbagai keahlian pustakawan dapat dilakukan melalui pendidikan formal maupun non formal agar pustakawan lebih percaya diri. Bekerja dengan menggunakan sarana teknologi informasi patut dibudidayakan di kalangan pustakawan agar percaya diri. Selain itu, perlu adanya peningkatan lain melalui kualitas sumber daya manusia (SDM) perpustakaan, sehingga mereka mampu menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi.

Mengacu pada pendapat di atas, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pustakawan untuk menghadapi disrupsi profesi di masa mendatang, yakni sebagai berikut:

  • Meningkatkan kompetensi literasi digital dan literasi ilmiah pustakawan

Kompetensi literasi digital ini dapat mengacu pada rekomendasi IFLA tahun 2017 tentang Statement on Digital Literacy yang menyatakan bahwa literasi digital menekankan pada kemampuan individu untuk mengeksploitasi peralatan digital dengan potensial, berkontribusi penuh dalam keadilan dan pengembangan, serta menjadikan peralatan digital tersebut untuk kesejahteraan masyarakat. Inti dari kegiatan literasi informasi ilmiah yaitu: (1) menjelaskan fenomena secara ilmiah; (2) mengevaluasi dan mendesain pertanyaan ilmiah; dan (3) menginterpretasikan data dan bukti secara handal.

  • Mampu memanfaatkan sumber-sumber informasi untuk penelitian di era open science

Pustakawan sebagai key players perlu mempropagandakan open science di perpustakaan. Dalam hal ini, pustakawan perlu meningkatkan kompetensi literasi informasi research 4.0, yaitu mampu: (1) meningkatkan aksesibilitas dan diseminasi hasil penelitian dan data ilmiah ke masyarakat; (2) menggunakan infrastruktur teknologi digital dalam kehidupan masyarakat; (3) menguatkan inovasi penelitian; dan (4) mengkombinasikan kemampuan manusia dan komputer untuk melaksanakan inovasi melalui kegiatan penelitian.

  • Memahami sistem electronic resource management (ERM)

Pustakawan dituntut memiliki tiga kemampuan, yaitu: (1) melakukan komunikasi digital, seperti membangun social networking sites, online tutorials, emails, message boards, blogs, online classroom instruction sites; (2) mengelola koleksi digital, seperti online audio and video collections, websites, online image collections, online periodicals dan book collections serta online documents; (3) membantu menemukan sumber-sumber online, seperti indexes,search engines, dan databases. 

  • Membangun kolaborasi riset dengan peneliti

Di perpustakaan, pustakawan adalah mitra atau partner bagi peneliti dan sebaliknya. Sedangkan dalam kegiatan penelitian kepustakawanan, peneliti adalah kolaborator strategis bagi pustakawan. Hal tersebut diharapkan mampu meningkatkan kolaborasi pustakawan dengan para peneliti di berbagai kegiatan penelitian. Peran pustakawan sebagai kolaborator peneliti akan mampu meningkatkan pondasi keilmiahan ilmu perpustakaan dan informasi di masa mendatang. Adanya pengembangan dan penelitian terhadap ilmu ini akan melahirkan pengetahuan baru dan memberikan kontribusi pada pengembangan profesi pustakawan.

  • Membangun komunitas dan konektivitas berbasis pengetahuan

Komunitas dan konektivitas merupakan modal penting bagi pustakawan untuk personal branding dan membangun image ke masyarakat. Komunitas pustakawan merupakan media interaksi yang efektif untuk berbagi pengetahuan terkait isu-isu kepustakawanan yang muncul saat ini. Melalui diskusi dan transfer pengetahuan, kelompok komunitas akan mendapatkan pengetahuan baru. Sementara konektivitas merupakan cara pustakawan untuk membangun jejaring mitra atau kerjasama serta untuk upaya berbagi dan transfer pengetahuan ke orang lain. Hal yang perlu diperhatikan ketika pustakawan berjejaring dengan anggota komunitas dan menjalin interaksi dengan mereka adalah membangun kepercayaan (trust building), dan kepercayaan ini harus selalu dipegang kuat oleh pustakawan.

Best Practice

Pergeseran peran perpustakaan dari tempat atau sumber menjadi sistem sangat menekankan pentingnya perpustakaan untuk dapat bertindak lebih atraktif kepada pengguna dalam diseminasi informasi. Perpustakaan pun mulai berinovasi membangun dan memperkuat pelayanan berbasis digitalisasi dengan memanfaatkan konsep artificial intellegence, internet of things dan big data. Perbedaan yang mendasar antara perpustakaan manual dan digital adalah keberadaan koleksinya dimana koleksi digital tidak harus ada di perpustakaan tapi cukup tersimpan didalam sebuah server atau storage digital. Maka mulailah kita mengenal pelayanan perpustakaan seperti e-Library, e-Books, e-Journal, e-bibliografi (OPAC) segala macam informasi bisa kita dapatkan hanya dengan sekali ”klik” Halaman demi halaman kertas akan berubah wajah ke format digital. Melalui kemasan informasi berbasis web terciptalah apa yang disebut sebagai perpustakaan elektronik, perpustakaan digital, perpustakaan virtual, perpustakaan maya yang mana pada intinya di sini pengguna bisa mendapatkan informasi melalui web, wujud bangunan tidak lagi penting dengan hadirnya aplikasi i-Jakarta, i-Jateng, i-Pusnas, dan sejenisnya anda tidak perlu lagi datang ke perpustakaan untuk meminjam buku dengan mendowload aplikasi tersebut membuat anda merasa dimanjakan dalam peminjaman buku ataupun pengembalian secara otomatis ketika masa waktu peminjaman sudah usai. Perpustakaan haruslah bisa menjembatani kebutuhan bacaan yang bagus dan berkualitas dengan target memberikan kepuasan membaca bagi para professional, mahasiswa dan masyarakat umum secara gratis. Koleksi pustaka digital juga harus dikembangkan tidak sematamata buku, majalah, ataupun jurnal tetapi konten lain yang dapat memuaskan dahaga pengetahuan bagi pemustaka. Keberadaan perangkat Virtual Reality memungkinkan perpustakaan untuk mempunyai koleksi pustaka yang lebih menarik dan tampak nyata bagi masyarakat.

Disusun Oleh:

1. Annisa Ayuditya

2. Mayindra Wijaya

3. Muhadarsa Meidiano Sase

Referensi:

Ferrel, Geoffrey A, dan Linda Ferrell. (2020). Business Foundation A Changing World Edisi 12. New York: McGraw-Hill Education.

http://repository.unair.ac.id/58961/1/PERAN%20PUSTAKAWAN%20DI%20ERA%20INFORMASI.pdf

https://media.neliti.com/media/publications/103807-ID-none.pdf

https://library.stiesia.ac.id/assets/lib-doc/b4c693e2c92a6e49a45d5a98ede03808.pdf

http://repository.ut.ac.id/7953/1/ocs-2018-3.pdf

https://pustakapusdokinfo.wordpress.com/2019/01/04/upaya-pustakawan-menghadapi-era-disrupsi-profesi/

https://perpustakaan.uma.ac.id/library-4-0-peran-perpustakaan-memaksimalkan-pelayanan-berbasis-digitalisasi/


Like it? Share with your friends!

11
4 shares, 11 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
9
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
1
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format