Corona Virus (Covid-19) dan Beauty Industry

Ketika artikel ini di terbitkan, terhitung sudah 20 hari semenjak kasus pertama Corona Virus muncul di Indonesia, apa dampaknya terhadap beauty industry Indonesia?


1
1 point

Sekilas Mengenai Corona Virus Disease (Covid-19)

Akhir-akhir ini berbagai Negara di Dunia, termasuk Indonesia sedang digemparkan oleh menyebarnya virus yang dikenal sebagai Corona Virus Disease (atau yang sering disebut sebagai Covid-19). Para penderita Covid-19 dari hari ke hari semakin bertambah dikarenakan cara penyebaran Covid-19 yang tergolong sangat mudah. Menurut WHO dalam website nya, dinyatakan bahwa Covid-19 dapat ditularkan oleh orang yang mengidap virus tersebut hanya melalui cairan tubuh yang dihasilkan dari hidung atau mulut si pengidap. Maka dari itu, apabila penderita Covid-19 mengalami batuk atau bersin, maka penyebaran dapat langsung terjadi.

Jika melihat sedikit ke belakang, kasus Covid-19 pertama kali diidentifikasi terjadi di daerah kota Wuhan, China. Dari tempat tersebut, penyebaran mulai terjadi ke daerah serta Negara-negara lain dikarenakan tingkat perjalanan antar Negara yang lumayan tinggi. Terbukti bahwa tingkat penyebaran Covid-19 ke Negara-negara lain hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 hari.1 Selain itu, gejala awal Covid-19 yang mirip dengan gejala flu biasa seperti demam dan batuk kering seringkali dianggap kebanyakan orang hanyalah gejala flu ringan yang akan sembuh dalam waktu beberapa hari saja.2 Namun nyatanya, Covid-19 ini dapat berpotensi fatal jika tidak dilakukan tindakan langsung untuk dilakukan usaha penyembuhan.

Hingga tanggal 17 Maret 2020, dikutip dari laporan WHO, telah tercatat kasus Covid-19 sebanyak 179.111 yang telah dikonfirmasi di seluruh dunia dan terdapat 7.426 kasus meninggal yang terjadi.3Angka tersebut bukan tergolong angka yang kecil, bahkan WHO dari sumber yang sama, menggolongkan Covid-19 sebagai kasus yang termasuk ke dalam tingkat risiko yang sangat tinggi.

Di Indonesia sendiri, dikutip dari situs Kementerian Kesehatan Republik Indonesia hingga tanggal 18 Maret 2020, tercatat 227 kasus Covid-19 terkonfirmasi dimana angka tersebut naik dari hari-hari sebelumnya.4Bahkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia telah menggolongkan kejadian Covid-19 sebagai kategori bencana nonalam.5 Pemerintah Indonesia pun dalam hal penanggulangan Covid-19 ini telah berusaha semaksimal mungkin agar angka serta potensi penularan Covid-19 dapat diminamilisir. Upaya-upaya tersebut terlihat dari pengeluaran anjuran Pemerintah agar warga dapat mengurangi aktifitas di luar rumah, memanfaatkan fasilitas internet untuk dapat melakukan pekerjaan di rumah, hingga memberikan arahan tata cara penggunaan fasilitas umum.

Selain itu, tempat-tempat publik seperti kawasan perkantoran, pusat perbelanjaan, stasiun dan tempat-tempat lainnya diberikan pengawasan yang cukup ketat seperti pengecekan suhu tubuh menggunakan thermometer tembak sebelum memasuki area-area tersebut, agar jika suhu tubuh seseorang dianggap diatas normal, maka ia tidak diperkenankan masuk ke tempat tersebut. Penyediaan hand sanitizer juga diletakkan diberbagai tempat agar para warga dapat membersihkan tangannya, dimana tangan merupakan media penyebaran yang sangat berpotensi menularkan Covid-19.

Covid-19 dan Gundah Gulana Perkekonomian

Namun dengan semakin maraknya penyebaran Covid-19 ini ditambah pemberitaan media massa, membuat warga semakin panik. Para warga berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjangkit Covid-19. Hal itu terbukti dengan semakin melonjaknya permintaan barang kesehatan, terutama masker dan hand sanitizer. Kenaikan harga masker kesehatan dan hand sanitizer melonjak melebihi angka 100% dari harga normal. Selain barang tersebut, harga rempah-rempah yang diyakini dapat membantu meningkatkan imunitas tubuh seperti jahe, kunyit, dan temulawak tidak luput dari kenaikan harga. Namun sayangnya, kondisi seperti ini dimanfaatkan oleh para oknum untuk memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia melakukan penindakan bagi oknum yang terbukti memanfaatkan kondisi kepanikan seperti saat ini bagi keuntungannya sendiri.

Selain berdampak kepada harga barang, Covid-19 juga mengakibatkan ketidakstabilan ekonomi. Hal itu disebabkan keengganan masyarakat untuk melakukan mobilitas keluar rumah untuk menghindari Covid-19 dimana akhirnya berdampak kepada siklus supply dan demand ekonomi. Banyak sekali bidang usaha yang akhirnya tidak mencapai target penjualan tahunan mereka dikarenakan Covid-19 ini.

Lesunya kondisi perekonomian di Indonesia saat ini pada akhirnya juga mengakibatkan performa saham di Indonesia menurun. Mengutip dari berita yang disusun oleh Tim Riset CNBC Indonesia pada tanggal 19 Maret 2020, tercatat kondisi IHSG terburuk ketiga setelah Filipina dan Korea Selatan pada bursa saham Asia pada penutupan pasar tanggal 19 maret 2020.6 Selain itu nilai tukar rupiah pun tidak luput dari dampak Covid-19 ini. Para stakeholder dituntut untuk dapat melahirkan kebijakan yang tepat, tidak hanya untuk menangani isu Covid-19 ini, namun juga kegaduhan ekonomi dampak dari Covid-19 ini. 

Apa kabar Local Beauty Industry di Indonesia?

Per tanggal 15 Maret 2020, di Indonesia diumumkan kebijakan untuk melakukan Social Distancing kepada seluruh masyarakat, yang mengakibatkan sebagian besar sekolah dan perkantoran di tutup operasional sementara diikuti dengan adanya instruksi untuk melakukan kegiatan Work From Home dan mengurangi bepergian keluar rumah untuk memutus rantai persebaran virus tersebut. Akibat kebijakan ini, masyarakat melakukan pembelian stok bahan pangan serta kesehatan jauh lebih banyak dari kebutuhan biasa, karena ada efek panik atau ketakutan kondisi ini akan berlangsung cukup lama sehingga dirasa perlu melakukan penambahan cadangan stok bahan pangan dirumah, seperti air galon, beras, mie, telur maupun makanan beku (frozen food). Selain itu juga karena seluruh kegiatan dilakukan di dalam rumah, maka secara otomatis kebutuhan konsumsi rumah tangga pun naik. Sebagai contoh, dikutip dari Kontan.co.id, Transmart Retail mencatat adanya lonjakan pembelian sembako dan alat kebersihan hingga 50% semenjak tgl 15-16 Maret 2020 dan kenaikan sekitar 30% dari 18-20 Maret 2020, jika dibandingakan dengan data penjualan year to year.7

Dengan adanya himbauan untuk beraktifitas dalam tempat tinggal dan menghindari kerumunan orang ini, tentu berdampak terhadap kondisi pusat-pusat perbelanjaan. Kondisi pusat perbelanjaan, baik modern maupun tradisional di seluruh Indonesia menjadi sepi. Beberapa mall atau gerai perbelanjaan memilih untuk mengurangi jam operasional atau menutup toko sementara waktu untuk efisiensi biaya.8 Hal ini juga ditunjang dengan alokasi biaya kebutuhan rumah tangga akan lebih difokuskan ke kebutuhan pokok, seperti stok bahan makanan, obat-obatan, serta alat kebersihan. Sehingga daya beli masyarakat terhadap barang-barang kebutuhan sekunder bahkan tersier berkurang drastis, salah satunya yaitu produk kecantikan.

Sama seperti dengan kondisi kebutuhan tersier lainnya. Pusat-pusat perbelanjaan kosmetik dan perawatan tubuh, mengalami penurunan pengunjung secara drastis. Toko kosmetik hingga akun Health and Beauty seperti Guardian, Watson hanya diramaikan oleh tenaga pemasar dari setiap merek saja.

Kondisi Watson Pondok Indah Mall Senin 16 Maret 2020
(sumber : Data pribadi, Maret 2020)

Kondisi Guardian Grand Indonesia Senin 16 Maret 2020
(sumber : Data pribadi, Maret 2020)

Kondisi Toko Monita Suppiler Salon dan Kosmetik-Solo, Senin 16 Maret 2020
(sumber: Data pribadi, Maret 2020)

Kondisi lorong depan Make Over Independent Store Beachwalk-Bali, Senin 16 Maret 2020
(sumber : Data pribadi, Maret 2020)

Dengan adanya penurunan jumlah pengunjung yang drastis tentu berpengaruh pada angka penjualan. Sebagai acuan, data penjualan merek kosmetik Wardah, sebagai Market Leader kosmetik lokal di Indonesia berdasarkan data Nielsen Retail Index Service MAT Maret 2019, area DKI Jakarta terjadi penurunan penjualan sekitar 50%, area Solo terjadi penurunan traffic dan penjualan hingga 70%, area Bali sebagai pusat tempat wisata terjadi penurunan penjualan hingga 90% per tanggal Selasa 17 Maret 20209

Meskipun secara umum penjualan kosmetik menurun, namun ada satu produk yang mengalami kenaikan penjualan secara drastis hingga terjadi kehabisan stok untuk semua merek, yaitu produk Aloe Vera Gel. Akibat kelangkaan produk hand sanitizer dan munculnya informasi yang beredar melalui jejaring sosial bahwa hand sanitizer dapan dibuat sendiri dengan mencampurkan Aloe Vera Gel dan Alkohol 70%, maka masyarakat membeli produk Aloe Vera Gel sebagai alternatif kelangkaan hand sanitizer.

Pembeli memborong sejumlah stok Aloe Vera Gel merek Herborist di sebuah toko kosmetik di Kota Malang, Minggu 15 Maret 2020
(sumber : Data Pribadi, Maret 2020)

Dari peristiwa kenaikan penjualan Aloe Vera Gel sebagai alternatif kelangkaan hand sanitizer, beberapa produk kosmetik lokal terinspirasi untuk memproduksi produk Hand Sanitizer dengan label merek sendiri, yang kemudian digunakan sebagai bagian dari Social Responsibility adanya wabah Covid-19 di Indonesia ini. Ada yang digunakan sebagai free gift dari pembelian produk, maupun dibagikan secara gratis ke masyarakat ataupun tenaga medis yang membutuhkan.

Produk Hand Sanitizer Non-jual merek Inez yang beredar di pasar sekitar hari Senin 16 Maret 2020
(Sumber: Data Pribadi, Maret 2020)


Case study : Inovasi Abon Nabati di Balik Gempa Bumi

Bencana gempa Yogyakarta yang terjadi pada tahun 2006 dahulu telah mengakibatkan beberapa kerugian yang khususnya melanda para warga Yogyakarta dan sekitarnya. Salah satu hal vital yang terkena dampaknya adalah kurang optimalnya support logistik makanan karena terkendala fasilitas yang rusak. Akhirnya para warga terpaksa memanfaatkan bahan pangan yang tersedia untuk tetap dapat bertahan hidup.

Salah satu bahan pangan yang dimanfaatkan warga adalah buah kluwih. Buah yang berbentuk mirip seperti buah sukun ini biasanya dimanfaatkan warga untuk menjadi bahan sayuran. Tanaman buah kluwih ini banyak tumbuh disepanjang bantaran sungai Gajahwong, Yogyakarta. Dengan alasan kemudahan akses serta ketersediaannya yang cukup banyak tersebut, akhirnya warga memanfaatkan buah kluwih ini sebagai alternatif bahan makanan sehari-hari.

Namun tentunya buah kluwih ini jika hanya diolah menjadi sayuran seperti pengolahan pada umumnya, maka dikhawatirkan olahan sayur buah kluwih tersebut tidak dapat bertahan lama. Hal itu tentunya memberikan kekhawatiran lain bagi warga mengingat tidak menentunya kapan kondisi yang diakibatkan oleh gempa akan memulih. Oleh karena itu, muncullah ide dari warga Mrican, Yogyakarta, untuk mengolah buah kluwih menjadi makanan yang dapat bertahan lama, seperti diolah dalam bentuk abon.

Diluar perkiraan, yang pada awalnya abon nabati dari bahan buah kluwih ini hanya dijadikan sebagai makanan alternatif saat bencana, pada akhirnya menjadi inovasi makanan yang dapat dikonsumsi secara luas. Saat ini di tangan Purbudi Wahyuni, sebagai salah satu penggagas ide abon nabati buah kluwih, mulai memberikan inovasi dengan cara mengembangkan berbagai macam rasa layaknya abon pada umumnya seperti rasa pedas, gurih, serta rasa lainnya. Buah kluwih yang pada awalnya belum memiliki nilai ekonomis yang tinggi, saat ini telah berubah menjadi barang yang bernilai ekonomis. Bahkan pada tahun 2016, produk abon nabati buah kluwih ini diberikan penghargaan sebagai Makanan Inovasi Nasional tahun 2016.


Analisis

Dari kedua contoh diatas, secara umum kondisi yang dihadapi keduanya sama, yaitu adanya kondisi bencana, baik bencana alam (gempa bumi) ataupun bencana non-alam (pandemi wabah Covid-19). Dari kondisi tersebut hadirlah inspirasi tidak terduga sebagai opportunity sebuah produk bisa tercipta guna untuk memenuhi kebutuhan primer yang mengalami kelangkaan.

Brand kosmetik lokal, dengan kemampuannya dalam memproduksi sendiri produk kimiawi, tanpa harus mendapat lisensi merek dagang dari Head Quarter, dapat langsung melakukan manuver untuk melakukan manufaktur produk secara cepat dan massal sebagai bentuk social responsibility terhadap kondisi darurat yang ada. Sehingga hal ini sebagi bentuk kontribusi usaha dan dapat semakin meringankan beban pemerintah dalam menanggulangi bencana.
Sedangkan pada kasus Abon Nabati, produk diciptakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri (swadaya) yang pada akhirnya ketika bencana telah dinyatakan berakhir, produk dapat dijual secara luas, sehingga menambah nilai ekonomis dari suatu bahan pangan, menyerap tenaga kerja lokal hingga meningkatkan perekonomian suatu daerah.


Jika dilihat dari sisi bentuk usaha, Brand kosmetik lokal secara umum bentuk usahanya Corporation, dengan cakupan Domestic Corporation. Bentuk usaha seperti ini membuat mereka dapat berbuat lebih banyak karena modal serta asset yang dimiliki cukup banyak. Namun akibat ukuran bentuk usaha yang besar ini dan melibatkan banyak stakeholder di dalamnya, membuat pergerakan bentuk usaha perusahaan (corporate) relatif lebih lambat. Pengambilan keputusan untuk produksi massal hand sanitizer baru bermunculan sekitar pertengahan Maret 2020, padahal isu kelangkaan Hand Sanitizer sudah ada semenjak Februari 2020. 

Sedangkan pada kasus Abon Nabati, bentuk usahanya berupa perseorangan (sole proprietorships). Bentuk usaha perseorangan memiliki keunggulan di kecepatan eksekusi, karena pengambilan keputusan hanya pada satu orang. Dapat dilihat pada contoh kasus, eksekusi ide Abon Nabati seketika dilakukan ketika ada kelangkaan bahan pangan. Namun sebagai kekurangannya, dalam pengembangan produk menjadi barang jual bahkan mendapat penghargaan membutuhkan waktu beberapa tahun dari proses eksekusi pertamanya. Eksekusi pertama pembuatan produk tahun 2006 ketika terjadi bencana gempa bumi, baru dikomersilkan menjadi produk jual di 2010, dengan perbaikan terus menerus akhirnya mendapat penghargaan di 2016. Lamanya waktu yang dibutuhkan ini diakibatkan pada bentuk usaha perseorangan, hanya memiliki sedikit tenaga karyawan, bahkan seluruh proses usaha biasanya hanya dilakukan oleh satu orang saja.


Karena kedua produk ini diciptakan akibat adanya kelangkaan suatu benda pokok, maka dapat dikatakan Market segmentation approach untuk kedua produk ini yaitu Multisegment approach jika dalam keadaan bencana, karena pada dasarnya siapapun yang membutuhkan dapat menggunakan atau mengonsumsi kedua barang tersebut. Namun jika kedua produk tersebut di komersilkan setelah berakhir bencana, Hand sanitizer tetap memiliki market segmentation yang sama, namun konsumen dapat memilih sesuai dengan brand kosmetik yang mereka sudah biasa mereka gunakan dari segi pendekatan value. Untuk abon nabati, berubah dari multisegment approach menjadi concentration approach, merujuk pada segmen konsumen vegan atau vegetarian.


Untuk brand kosmetik sendiri, selain memproduksi hand sanitizer sebagai bentuk social responsibility, dengan modal kapita yang dimiliki, sebagai contoh Wardah, dalam naungan PT Paragon Technology Innovation melakukan donasi sejumlah uang dan barang APD kebutuhan medis dalam penanganan bencana wabah Covid-19, tidak ada pemberitahuan secara resmi di website atau jejaring sosial resmi perusahaan untuk kegiatan CSR ini, namun berita ini menjadi viral dengan sendirinya atau mendapatkan publicity tidak terduga di jejaring sosial secara umum, sehingga secara tidak langsung meningkatkan exposure value perusahaan dan merek.

Komentar salah satu netizen di jejaring sosial Twitter, Rabu 18 Maret 2020
(sumber : Data pribadi, Maret 2020)

Top 3 trending topic di jejaring sosial Twitter, Rabu 18 Maret 2020
(sumber : twitter.com)

Solusi yang dapat dilakukan

1. Membuat produk hand sanitizer yang aman digunakan

Produk hand sanitizer karena mudah dibuat sendiri, banyak oknum yang menggunakan kesempatan ini untuk mengkomersialkan hand sanitizer buatan sendiri yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan fungsi dan efek sampingnya. Jika beberapa brand perawatan diri ternama di Indonesia mengeluarkan produk hand sanitizer , apalagi yang disertai dengan izin edar oleh BPOM, akan menghilangkan kekhawatiran konsumen dalam menggunakan nya. Produk dijadikan produk non-jual yang dapat secara massal di donasikan bagi yang membutuhkan atau dibagikan menjadi free gift pembelian produk reguler lainnya.


2. Mengalihkan kapasitas produksi ke produk yang sedang banyak dibutuhkan seperti Aloe Vera Gel, bagi merek yang telah memiliki profil produk tersebut secara reguler

Adanya pengaruh penurunan daya beli masyarakat serta himbauan kebijakan pemerintah terhadap penurunan penjualan kosmetik secara umum, akan lebih baik jika operasional produksi diarahkan ke produk yang sudah terlihat memiliki angka permintaan yang tinggi. Sehingga, proses efisiensi biaya akibat penurunan sales masih dapat dikendalikan dan dikelola dengan baik.


3. Memberlakukan kebijakan interaksi dengan konsumen

Perusahaan kosmetik dan perawatan diri, memiliki tanggung jawab untuk melindungi kesehatan tenaga pemasarnya dan terutama konsumennya. Untuk itu sebagai garda terdepan representatif sebuah merek, perlu dibuat aturan mengenai interaksi tenaga pemasar (SPG) dengan konsumen. Seperti pembatasan jarak interaksi, selalu menggunakan hand sanitizer setelah melakukan transaksi jual beli, dan pelarangan pemberian pelayanan skin care atau make up kepada konsumen



4. Memberlakukan aturan pemakaian tester dengan aman

Tester adalah elemen penting bagi penjualan produk kosmetik, karena unsur sensory feel diperlukan konsumen saat menentukan pilihan produk. Bahkan tidak jarang konsumen memilih untuk berbelanja kosmetik secara langsung di toko daripada melalui online, meskipun harga lebih murah, yaitu karena pengalaman sensory feel yang didapat ini.

Namun dengan adanya wabah Covid-19 ini, maka perlu adanya usaha dari sektor kosmetika untuk mencegah penularan virus semakin cepat, dengan menerapkan aturan pemakaian tester produk secara aman, seperti produk tester harus dalam keadaan tertutup dan dibersihkan setelah disentuh oleh konsumen, pelarangan penggunaan tester yang diaplikasikan secara langsung ke wajah (maskara, bedak, blush on), untuk tester lipstik hanya diperbolehkan diaplikasikan di punggung tangan dan sebelum pengaplikasian tester meminta izin untuk tangan konsumen dibersihkan terlebih dahulu menggunakan hand sanitizer, produk dengan tipe jar tidak diperkenankan dicolek langsung menggunakan tangan melainkan menggunakan spatula kecil


5. Meningkatakan exposure online dan pelayanan e-commerce

Dengan adanya kebijakan untuk beraktifitas dalam tempat tinggal. Maka sebagai imbasnya, traffic pengunjung online meningkat. Ini kesempatan yang bagus untuk perusahaan kosmetik dan perawatan diri semakin meningkatkan exposure merek di jejaring sosial maupun website resmi. Inovasi semacam virtual make-up atau online consultation akan sangat membantu memudahkan dalam menggantikan fungsi berbelanja secara langsung ke toko. Pemberian promo pada official store di website e-commerce atau marketplace, juga akan menarik konsumen untuk membeli melalui online tanpa harus meninggalkan rumah, serta menghindarkan dari resiko akan peredaran barang palsu.




Daftar referensi :

1Zunyou Wu dan Jennifer M. McGoogan, “Characteristics of and Important Lessons From the Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Outbreak in China” diakses 18 Maret 2020, https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2762130 (online)

2World Health Organization, “Corona Virus Disease (Covid-19), Situation Report 45Maret 2020, diakses 18 Maret 2020,https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/331356/nCoVsitrep05Mar2020-eng.pdf (online)

3World Health Organization, “Corona Virus Disease (Covid-19), Situation Report 57Maret 2020, diakses 18 Maret 2020,https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200317-sitrep-57-covid-19.pdf?sfvrsn=a26922f2_4 (online)

4Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Halaman Awal”, diakses 18 Maret 2020, https://www.kemkes.go.id/, (online)

5Badan Nasional Penanggulangan Bencana, “Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia”, diakses 18 Maret 2020https://bnpb.go.id/berita/status-keadaan-tertentu-darurat-bencana-wabah-penyakit-akibat-virus-corona-di-indonesia- (online)

6Haryanto, CNBC Indonesia, “Bursa Saham Asia Keok Lagi, IHSG Terburuk ke-3 di Asia” diakses tanggal 20 Maret 2020,https://www.cnbcindonesia.com/market/20200319164007-17-146209/bursa-saham-asia-keok-lagi-ihsg-terburuk-ke-3-di-asia (online)

7Amalia Fitri, Kontan News, “Terjadi lonjakan pembelian sampai 50%, Trans Retail pastikan stok Ramadan mencukupi” diakses tanggal 21 Maret 2020. “https://industri.kontan.co.id/news/terjadi-lonjakan-pembelian-sampai-50-trans-retail-pastikan-stok-ramadaan-mencukupi” (online)

8Safir Makki, CNN Indonesia, “FOTO: Pusat Perbelanjaan Bekasi Sepi 'Terserang' Corona ” diakses tanggal 21 Maret 2020. “https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200318160119-94-484611/foto-pusat-perbelanjaan-bekasi-sepi-terserang-corona” (online) 

9Data pribadi, Maret 2020


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format