Hypermart dan Blue Bird, Bagaimana Strategi Keduanya Menghadapi Gelombang Disrupsi?(1)

Perkembangan teknologi, digitalisasi, dan globaliasi telah mendisrupsi model bisnis konvensional hingga lesu dan terpuruk. Bagaimana nasib Hypermart dan Blue Bird?


0

Dalam satu dekade terakhir, istilah VUCA populer di dunia bisnis. Istilah VUCA yang merupakan akronim dari Volatile (bergejolak), Uncertain (tidak pasti), Complex (kompleks), dan Ambigue (tidak jelas) adalah gambaran situasi dunia bisnis saat ini yakni perubahan sangat cepat di berbagai aspek, tidak terduga atau sulit diprediksi secara akurat, dipengaruhi oleh banyak faktor yang sulit dikontrol, dan membingungkan seperti yang sering dikemukakan oleh Presiden Joko Widodo untuk mengingatkan masyarakat agar mengantisipasi situasi ekonomi global. Proses terjadinya VUCA tidak terlepas dari perkembangan teknologi, revolusi digital, globalisasi, perubahan gaya hidup, dan tersedianya arus pertukaran informasi yang mendorong kreativitas dan inovasi pelaku bisnis untuk menciptakan model bisnis baru berbasis digital seperti e-commerce dan transportasi yang kemudian mendisrupsi model bisnis konvensional hingga lesu dan terpuruk. Dampak seperti ini turut dirasakan sektor industri ritel, tidak terkecuali Hypermart yang penjualannya melambat dan sektor transportasi yang telah lama dirajai oleh blue bird juga sempat menurun.

A. Gelombang Disrupsi Ancam Gulung Hypermart

a. Visi Hypermart menjadi pemimpin ritel modern pada tahun 2014

Hypermart adalah salah satu hypermarket ritel modern Indonesia untuk keluarga kelas menengah yang berkembang secara nasional, dengan banyaknya pilihan produk yang ditawarkan, mulai dari bahan makanan, produk segar, bazaar, softlines, dan barang elektronik. Hypermart merupakan salah satu unit bisnis dari PT Matahari Putra Prima tbk (MPPA) yang merupakan bagian dari Lippo Group. Gerai Hypermart yang pertama diresmikan pada tanggal 22 April 2004 di WTC Serpong. Unit usaha di bawah MPPA ini memiliki tantangan untuk mewujudkan visinya menjadi pemimpin pasar hypermarket pada tahun 2014. Konsep awal Hypermart yaitu menyediakan tempat perbelanjaan yang nyaman dan murah. Barang-barang yang dijual berupa kebutuhan primer dan sekunder konsumen dapat berbelanja berbagai kebutuhan dalam satu tempat saja.

(Sumber: http://fairetail29.blogspot.com/2017/04/profil-Hypermart.html)

b. Positioning dan segmentasi pasar

Hypermart didesain dengan suasana hangat, menyenangkan dan bersahabat. Dengan mengusung “murah bangeet”, Hypermart sukses berekspansi dan menjangkau beberapa kota besar hingga di Indonesia Timur. Konsep baru tersebut mendapat sambutan positif dari para konsumen yang ditunjukkan dengan terus meningkatnya jumlah kunjungan. Hypermart mengambil hati konsumen dengan menjamin harga yang didapatkan konsumen adalah yang paling murah dibandingkan di tempat sejenis lainnya dan jika ada yang lebih murah, mereka akan mengganti dua kali lipat selisihnya. Selain itu Hypermart juga menyediakan layanan antar produk elektronik dalam jarak tertentu. Dalam 9 tahun sejak diresmikan, telah berdiri 104 gerai hingga menempatkan Hypermart sebagai hypermarket yang tercepat dalam pembangunan outlet di Indonesia. Misi Hypermart adalah menciptakan persepsi Hypermart yang modern, berkelas, berkualitas dan ekonomis tanpa harus terlihat murahan, norak dan kampungan sesuai dengan segmen kelas menengah yang disasar oleh Hypermart. Hingga tahun 2018, Hypermart tetap menjadi kunci penggerak bisnis ritel MPPA dengan kontribusi mencapai 77,0% dari total penjualan.

c. Bisnis ritel modern ukuran besar lesu

(Sumber: https://palembang.tribunnews.com/2019/12/30/tenant-Hypermart -lippo-plaza-jakabaring-resmi-tutup)

Kabar mengenai lesunya penjualan sektor ritel kerap kali menghiasi halaman utama portal berita bisnis online selama tiga tahun terakhir. Kondisi sulit yang tidak diinginkan ini juga terjadi pada PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) sebagai pemilik Hypermart. MPPA terpaksa harus mengambil tindakan downsizing yaitu perampingan dengan mengurangi jumlah gerai karena beberapa diantaranya dinilai tidak efisien dengan kontribusi margin penjualan yang lebih kecil dibanding gerai jenis lain milik perusahaan. Hypermart mengalami penurunan jumlah gerai dari angka 115 pada tahun 2016 menjadi 113 pada tahun 2017 lalu menjadi 107 pada 2018. Pengurangan angka gerai tersebut membuat pengurangan jumlah karyawan atau PHK menjadi tidak terhindarkan. Pada tahun 2014, perusahaan tercatat memiliki 13.689 karyawan kemudian turun menjadi 9.495 pada tahun 2018. Ini artinya selama empat tahun ada 4.194 karyawan yang di-PHK dan mendapatkan hak seperti hak pesangon sesuai dengan Undang-undang Kementerian Tenaga Kerja RI No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.

(sumber: http://ir.hypermart.co.id/financial_highlights.html)

https://ekonomi.kompas.com/read/2017/08/25/103045526/situasi-sulit-Hypermart%20-terlambat-bayar-ke-pemasok?page=all

d. Analisis penyebab penjualan hypermart lesu

Fenomena penutupan gerai ritel modern dewasa ini memantik analisis dari beberapa pengamat dan praktisi sektor ritel untuk menjelaskan situasi yang terjadi. Adapun faktor-faktor penyebab berdasarkan analisis tersebut antara lain:

  1. Persaingan antar ritel modern

Dikutip dari merdeka.com, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution menjelaskan akhir-akhir ini semakin banyak ritel yang membuka usaha dekat dengan masyarakat dengan penyediaan kebutuhan lengkap. Menjamurnya ritel ukuran kecil seperti Indomaret dan Alfamart tidak dapat dipungkiri telah mengancam posisi ritel ukuran besar seperti Hypermart. Ritel ukuran kecil memiliki keunggulan yaitu langsung menempatkan toko dekat dengan target, produk yang dijual sesuai dengan kebutuhan rumah tangga sehingga perputarannya cepat, dan akses yang lebih mudah. Hal ini terlihat dari pertumbuhan pendapatan dan laba Alfamart dan Indomaret seperti yang terlihat pada grafik. Pada tahun 2018, Alfamart mencetak laba sebesar Rp 638 miliar dan naik cukup tinggi daripada tahun sebelumnya sebesar Rp 352 miliar sedangkan Indomaret meraih laba Rp 765 miliar pada tahun 2018 setelah di tahun sebelumnya mencatatkan Rp 437 miliar. Dari data tersebut dapat disimpulkan adanya peralihan konsumen dari ritel ukuran besar ke ritel ukuran kecil.

(Sumber: https://katadata.co.id/analisisdata/2019/07/03/perubahan-peta-persaingan-bisnis-retail-di-indonesia)

2. Perubahan pola belanja

Menurut Ketua umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Mandey, seperti yang dilansir finance detik, salah satu faktor yang mempengaruhi lesunya sektor ritel yaitu perubahan pola belanja masyarakat dari yang sebelumnya berbelanja dengan sistem stocking atau dalam jumlah besar kemudian menjadi membeli untuk keperluan jangka pendek yang dapat dilakukan di minimarket atau warung.

Di sisi lain ada pendapat yang mengatakan adanya pergeseran cara belanja dari offline menjadi online juga turut berkontribusi. Dunia berubah dan perilaku konsumen pun ikut berubah. Dulu orang menginginkan belanja sambil jalan-jalan ke mall bersama keluarga namun sekarang berubah. Konsumen menginginkan tindakan yang cepat, praktis, dan efisien sehingga tidak perlu repot berputar mencari tempat parkir, mendorong troli, mengantri di kasir, dan memindahkan barang ke mobil. Di toko online, konsumen bebas menentukan membeli barang di satu toko atau di beberapa toko dalam satu waktu belanja, kemudian konsumen dapat melakukan perbandingan harga sebelum melakukan transaksi dan memangkas jalur perdagangan dari produsen ke distributor ke konsumen menjadi produsen langsung ke konsumen. Belanja di toko online juga seringkali memberikan diskon dan gratis ongkos kirim yang semakin memanjakan pembeli.


3. Pergeseran gaya hidup

Gaya hidup konvensional seperti masak sendiri dan belanja sendiri sekarang telah digeser menjadi gaya hidup praktis yaitu konsumen lebih memilih makan diluar karena memesan online mendapatkan diskon dibandingkan harus belanja dan memasak, konsumen lebih memilih belanja untuk gaya hidup seperti kuliner, entertainment demi mendapatkan momen foto untuk media sosial mereka daripada berbelanja kebutuhan sehari-hari bulanan.

4. Faktor internal perusahaan

Perusahaan PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) yang memegang kendali atas Hypermart dan Foodmart, akan terkena dampak dari kerugian investasi atas Mataharimall.com di laporan keuangan perusahaan tahun 2018. Dalam keterangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Sekretaris Perusahaan MPPA Danny Kojongian mengatakan perseroan akan mengalami pengurangan laba bersih cukup besar pada total laba bersih perusahaan. Akibat kejadian ini laba bersih Hypermart akan berkurang Rp 311 miliar akibat kerugian dari investasi tersebut.

e. Strategi Hypermart hadapi disrupsi

Kondisi pasar yang menantang dan perubahan perilaku berbelanja konsumen di tahun 2018 mengakibatkan Perseroan harus mengambil beberapa langkah adaptasi sekaligus peningkatan agar Hypermart mampu meraih kembali daya saingnya dalam industri ini dan menjadi pilihan konsumen. Oleh karena itu MPPA mengambil langkah-langkah strategis diantaranya yaitu mengurangi keterlibatan Perseroan dari bisnis B2B yang tidak menguntungkan dan berfokus pada konsumen, mentransformasi Hypermart menjadi hyfresh, menciptakan kembali strategi penetapan harga yang kompetitif, pemilihan mayoritas produk kebutuhan dasar rumah tangga dengan perputaran cepat, dan meluncurkan Hypermart online.

  1. Transformasi Hypermart menjadi format baru “Hyfresh”

Format Hyfresh ini merupakan interpretasi terbaru Perseroan atas konsep gerai masa mendatang yang berukuran lebih kecil sekitar 1000 meter persegi yang mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi pasar yang ditargetkan diluncurkan pada awal tahun 2019. Format baru ini fokus melayani rumah tangga kelas menengah dalam komunitas dan menyediakan berbagai macam produk fresh berkualitas dan produk Groseri dengan harga kompetitif. Hyfresh pertamia resmi beroperasi di Citimall Prabumulih. Dengan strategi barunya ini Hypermart menyasar golongan menengah atas yang kini terdapat perubahan gaya hidup menjadi gaya hidup sehat tetapi hingga saat ini tahun 2020 belum ada perubahan positif yang didengar.

(sumber: https://www.facebook.com/hyfreshid/)

2. Peluncuran Hypermart Online

Tak mau ketinggalan MPPA menciptakan kembali bisnis berbasis online, dengan meluncurkan Hypermart Mobile, yakni sebuah aplikasi ponsel pintar untuk pembelian online, di 4 gerai di wilayah Jabodetabek hingga akhir tahun 2018 dan juga membangun Hypermart online dengan website https://shop.Hypermart.co.id. Bisnis online ini berkolaborasi dengan OVO dan Grab (Grab Delivery), yang masing-masing adalah sebuah perusahaan fintech terdepan dan penyedia jasa layanan antar berbasis komunitas di Indonesia, untuk mewujudkan pembayaran dan belanja online yang aman dan nyaman serta mampu diantar dalam waktu 30 menit di sekitar radius 5 kilometer Namun animo masyarakat belum terlihat positif dari peluncuran ini apabila dibandingkan dengan aplikasi e-commerce lainnya yang telah berjaya seperti tokopedia, shopee, JD.Id ataupun aplikasi khusus belanja keperluan dapur seperti tukangsyaur.co dan sayurbox. Basis online Hypermart pun belum memperoleh perhatian publik sehingga Hypermart harus pandai dalam mengatur keuangan agar tetap bertahan misalnya dengan efisiensi.

f. Laporan keuangan dan penunggakan utang

Kinerja PT Matahari Putra Prima Tbk sepanjang tahun 2017 kurang menggembirakan. Perusahaan berkode emiten MPPA ini mencatatkan penurunan penjualan serta menorehkan rugi bersih sebesar 1,24 triliun pada 2017, padahal tahun sebelumnya MPPA terpantau masih mencatatkan laba sebesar Rp 38,48 miliar. Pada tahun yang sama, Hypermart dibawah MPPA dikabarkan menunggak pembayaran kepada tiga puluh pemasok karena situasi ekonomi yang sulit yang dialami serta penjualan yang diluar ekspektasi sehingga manajemen mengharapkan kelonggaran pembayaran. Selama tahun 2018, MPPA membukukan penjualan bersih sebesar Rp 10,7 triliun, menurun 14,9% dibandingkan penjualan bersih di tahun sebelumnya sebesar Rp12,6 triliun. Penurunan penjualan ini terutama karena kebijakan MPPA mengurangi bisnis B2B dan fokus pada konsumen. Pada tahun yang sama, MPPA masih mengalami kerugian sebesar Rp 950 miliar. Dan pada tahun 2020, Hypermart lebih memilih untuk tidak membuka gerai baru setelah mempertimbangkan kondisi sektor ritel yang masih melambat.

(sumber: http://ir.hypermart.co.id/financial_highlights.html)

(Sumber: https://katadata.co.id/analisisdata/2019/07/03/perubahan-peta-persaingan-bisnis-retail-di-indonesia)


g. Fluktuasi harga saham MPPA

Periode keemasan MPPA dicapai pada periode 2013 sampai 2015 seperti terlihat pada grafik. Dari hasil kinerja yang baik tahun 2013 dan 2014, saham MPPA pun naik pesat hingga mencapai level tertinggi di Rp 4.710 pada awal Februari 2015. Setelah itu nilai saham pun langsung turun drastis hingga di bulan Mei 2016, harga saham MPPA hanya Rp 1.461/lembar atau turun 68.9%. Setelah itu harga saham sempat naik Rp.2.288/lembar pada Agustus 2016 kemudian melandai. Secara umum, harga saham MPPA terus turun hingga saat ini menyentuh angka Rp 75/lembar.

H. Saran dan solusi untuk bangkit

(sumber: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2017/06/06/berapa-nilai-penjualan-ritel-indonesia)

Indonesia masih bertahan di 10 besar dalam Global Retail Development Index (GRDI) 2017 yang dirilis oleh lembaga konsultan A.T Kearney. Pada 2017, pasar ritel Indonesia berada di posisi 8 dari 30 negara berkembang di seluruh dunia. Dengan data tersebut Indonesia sudah menjadi incaran para peritel asing untuk untuk masuk ke pasar ritel domestik karena Indonesia adalah pangsa pasar yang besar dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia. GRDI juga menyatakan penjualan ritel Indonesia mencapai US$ 350 miliar atau sekitar Rp 4,6 kuadriliun artinya jauh di atas nilai penjualan ritel negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) lainnya. Potensi yang besar ini merupakan peluang bagi Hypermart untuk bisa mengambil peluang di tengah disrupsi dengan strategi yang lebih efektif dan efisien. Adapun saran atau solusi agar Hypermart terus tumbuh dan berkembang antara lain:

  1. Merealisasikan format baru Hypermart yaitu Hyfresh

Salah satu yang faktor yang turut merongrong bisnis ritel yaitu biaya sewa tempat di pusat perbelanjaan terus naik. Dilansir dari merdeka.com, Ketua Umum DPP HIPPINDO, Budihardjo Iduansjah, menjelaskan salah satu kontribusi biaya yang terbesar dan membebani peritel adalah beban biaya sewa yang bisa naik puluhan persen bahkan bisa lebih dari 100 persen dan kenaikan biaya service charge yang bisa mencapai 30 persen. Oleh karena itu, mengurangi keterlibatan Perseroan dari bisnis B2B yang tidak menguntungkan dan berfokus pada konsumen serta merealisasikan Hyfresh segera merupakan sebuah solusi untuk bangkit dari masa sulit. Tempat yang kecil juga berimbas pada biaya yang efisien dan akan menjadi pesaing serius ritel ukuran kecil. Selain itu, harus ditentukan produk rumah tangga yang perputarannya cepat yang akan dijual dan memastikan pemasok dapat memberikan harga yang kompetitif.

  1. Konsep adapting to change (inovasi dan transformasi) melalui Hypermart mobile dan online

Melihat keadaan Hypermart yang tidak kunjung menunjukkan perbaikan yang signifikan, strategi yang disarankan yaitu konsep Adapting to Change (inovasi dan transformasi) artinya Hypermart perlu beradaptasi dengan perubahan dengan mengadopsi inovasi teknologi dalam melakukan penjualan seperti yang sudah dimulai namun belum optimal. Sebagai pemain baru dalam bisnis online, Hypermart perlu memberikan gebrakan baru untuk mampu bersaing dengan pemain sudah ada dan juga mendapat perhatian konsumen. Oleh karena itu, merealisasikan peluncuran ritel fisik Hyfresh sebagai transformasi dari Hypermart dan mengaplikasikan konsep Amazon Go sebagai inovasi dapat menjadi salah satu solusi. Amazon Go itu sendiri adalah supermarket yang terintegrasi dengan aplikasi smartphone dan mengusung konsep “no lines, no checkout” atau “tanpa antri, tanpa bayar dikasir”. Proses di Amazon Go ini mengandalkan ratusan sensor, kamera, dan machine learning yang tersebar di seluruh penjuru toko. Sensor dan kamera inilah yang menyaksikan kegiatan pembeli di dalam toko. Mesin Amazon tahu ketika suatu barang diambil dari raknya dan mengidentifikasikannya sebagai barang yang akan dibeli. Sebaliknya, ketika barang tersebut dikembalikan ke rak, mesin bakal menyadarinya sebagai barang yang tak jadi dibeli. Semua proses terjadi begitu saja tanpa intervensi manusia. Dimana semua dilakukan mandiri oleh konsumen melalui proses scan barcode otomatis dapat mengurangi saldo otomatis untuk keluar dari gate supermarket tersebut. Hal ini bisa diterapkan dengan berkolaborasi dengan perusahaan yang berbasis teknologi.

(sumber: https://www.businessinsider.sg/amazon-opens-small-amazon-go-store-reveals-broad-strategy-2018-12?r=US&IR=T

Selain itu, improvement pada Hypermart mobile dan Hypermart online juga diperlukan terutama dalam menghadirkan aplikasi atau website yang user friendly.  Hal lain yang perlu dilakukan yaitu berkolaborasi dengan beberapa perusahaan fintech seperti OVO, Go pay, link, dan Dana  juga harus diperkuat untuk mengedepankan pelayanan. Kemudian MPPA harus memperhatikan regulasi pemerintah antara lain:

  • Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 80 Tahun 2019 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (e-commerce) atau PMSE

  • Undang-Undang no. 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan

  • Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

  • Peraturan Pemerintah No.82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP PSTE)

  • Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 210/PMK.010/2018 tentang Perlakuan Pajak Atas Transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik E-Commerce

3. Konsep segmentasi pasar melalui promosi dan periklanan 

Konsep online yang dipilih oleh Hypermart tidak berjalan mulus karena banyak konsumen yang tidak mengetahuinya. Oleh karena itu promosi merupakan ide brilian untuk menembus pasar promosi melalui media kekinian untuk menjadi magnet konsumen seperti melalui media youtube dan instagram dengan menggunakan jasa youtuber dan selebgram yang sangat berpengaruh. Salah satu manfaat menggunakan influencer dalam kegiatan pemasaran adalah dapat membangun kepercayaan konsumen mengenai kualitas yang ditawarkan. Adanya konten yang dibagikan oleh influencer membuat bisnis terlihat memiliki kredibilitas dan nilai yang baik melalui testimoninya. Hal ini juga bisa mengubah pandangan konsumen yang sebelumnya tidak tertarik menjadi tertarik ingin mencoba merasakan pengalaman berbelanja seperti influencer yang diidolakan sehingga secara tidak langsung sebenarnya influencer juga ikut membangun kepercayaan masyarakat terhadap unit usaha baru yang dikembangkan seperti Hyfresh. Selain itu, penerapan penetration price dan diskon juga perlu diterapkan untuk penetrasi pasar meskipun di awal akan berdarah-darah. Mendorong publicity dan experiential seperti dengan mengundang para konsumen atau jemput bola untuk melakukan berbelanja di Hypermart dengan promosi langsung sehingga mereka akan memiliki kesan pertama pada saat berbelanja pertama dengan konsep baru di Hypermart kesan tersebut akan terekam di memori, panca indra dan pengalaman konsumen.

B. Blue Bird, si “Burung Biru” Yang Tetap Mengaspal Di Saat Era Disrupsi Menghadang

a. Blue Bird adalah raja taksi konvensional sebelum taksi online berjaya.

Sejak awal pendiriannya taksi Blue Bird berkembang pesat di beberapa kota besar. Pada era 1970-an armadanya sejumlah 200 taksi dan pada 1978 sudah mencapai 500 taksi. Pada 1985 jumlah armada berada di angka 2000 taksi. Kepopuleran Blue Bird kemudian masuk juga ke layar putih di era akhir 1970-an dan 1980-an. Dalam film Warkop DKI Mana Tahan (1979), Indro Warkop berperan sebagai supir taksi Blue Bird. Kemudian semakin berkembang hingga puncak kejayaannya di tahun 1990-an hingga tahun 2000-an kemudian seiring berjalannya waktu pada tahun 2011 blue bird merupakan taksi pertama di indonesia yang memberikan layanan mobile melalui Blackberry dan berkembang menjadi perusahaan selain bisnis passenger juga menjadi perusahaan dibidang logistik, properti, industri dan alat-alat berat juga menyediakan konsultasi IT. dan di tahun 2014 resmi go public di Bursa Efek Indonesia. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, kemajuan hawa baru di bidang technology dunia berefek kepada taksi konvensional ini dimana di indonesia bermunculan perusahaan transportasi berbasis online seperti Gojek, Uber dan Grab yang mulai menggerus keberadaan Raja Aspal indonesia ini.

(sumber: https://m.otosia.com/tag/taksi-blue-bird/index3.html)

b. Blue Bird sempat terpukul taksi online, kini bangkit lagi

Pendapatan taksi yang semakin menurun membuat gonjang ganjing diperusahaan ini berimbas kepada Para supir taksi konvensional, termasuk Blue Bird, bahkan puncaknya Para supir burung biru ini berdemonstrasi besar-besaran pada Maret 2016 dengan membawa Tagline Panas yaitu Taksi online dianggap mengganggu hajat hidup para supir. "Uber dan Grab berkeliaran sengsarakan kami," tulisan pada sebuah poster yang dibawa demonstran. Demo para supir taksi konvensional diwarnai rusuh. Ada penumpang yang terlantar, ada juga supir taksi konvensional yang bentrok dengan ojek online.

Pada Maret 2016, citra Blue Bird pun remuk, saham Blue Bird turun dari Rp 6.400,8 menjadi Rp 6.300 dan harus merogoh kocek Rp 66 miliar untuk memulihkan citra. Setelah kerusuhan itu, Komisaris Blue Bird Noni Sri Ayati Purnomo, akhirnya turun tangan dan mengumumkan bahwa pada 23 Maret 2016, “mulai pukul 00.00 WIB sampai dengan 23.59 WIB, pelanggan khusus se-Jabodetabek bisa menikmati layanan gratis Blue Bird reguler”. Blue bird melalui tahun-tahun yang sulit laba perusahaan semakin terjun bebas Bahkan di tahun 2018, nama pemilik Blue Bird tak muncul lagi di majalah forbes sebagai jajaran orang terkaya. Kekayaan pemilik blue bird sempat bermasalah dengan turunnya harga saham Blue Bird yang berada di angka Rp3.000 saja.

Tahun 2016 menjadi tahun yang berat bagi perusahaan-perusahaan taksi konvensional, tak terkecuali PT Blue Bird Tbk (BIRD). Pada sisi lain, tahun itu menjadi awal mula yang fenomenal bagi pertumbuhan transportasi online di tanah air, terutama bagi GoJek dan Grab. Betapa tidak, pada 2016 laba bersih Blue Bird merosot menjadi Rp 507 miliar. Lalu tergerus lagi di 2017, menjadi Rp 424 miliar. Padahal di 2015, atau tahun di mana transportasi online belum berkembang sedemikian besar, Blue Bird sanggup meraup laba bersih Rp 824 miliar. Direktur Utama Blue Bird, Noni Purnomo menceritakan, laba perusahaan mulai tergerus di 2016 karena aplikator transportasi online menebar promo besar yang menyebabkan harga begitu murah. Hal itu membuat banyak masyarakat beralih menggunakan transportasi online.

c. Analisis penyebab taksi konvensional lesu

Bagi Blue Bird sebenarnya fenomena ini bukan technology disruption, tapi price disruption. impact-nya sangat besar karena transportasi online baru sehingga banyak orang yang ingin mencoba. Harga taksi online bisa begitu murah karena aplikator memberikan subsidi tarif untuk penumpang. Di samping itu, aplikator juga tidak menanggung biaya perawatan armada taksi online, tak juga melakukan uji KIR. Sebenarnya Blue Bird telah meluncurkan aplikasi pemesanan taksi melalui handphone di 2011. Namun karena pada waktu itu infrastruktur telekomunikasi belum berkembang pesat, aplikasi yang diluncurkan itu belum diterima masyarakat. Ketika itu masyarakat Indonesia tak menyukai pemesanan taksi melalui aplikasi handphone. Oleh karena itu pada rentang waktu 2011-2016, Blue Bird hanya mengembangkan layanan pemesanan taksi secara konvensional, yakni dengan mencegat di jalan, menelpon call center, atau mendatangi pool taksi.

Selain Jabodetabek, Blue Bird telah beroperasi di 18 kota. Untuk wilayah Jabodetabek, saat ini perang harga sudah tak terlalu mempengaruhi bisnis. Namun untuk beberapa daerah, tarif transportasi online yang begitu murah masih mempengaruhi keputusan masyarakat menggunakan armada taksi. Beberapa daerah masih disubsidi agar tetap beroperasi karena daerah sangat sensitif terhadap harga. Dan melakukan motivasi bagi para driver agar mentalnya tidak down, alasan Blue Bird tetap mempertahankan layanan di daerah yang merugi, yakni karena tak ingin kehilangan pelanggan setia Blue Bird. Terlebih saat ini masih terdapat korporasi yang mewajibkan memakai Blue Bird ketika kunjungan ke daerah.

(sumber: https://tirto.id/blue-bird-tersungkur-bosnya-tersingkir-db1m


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
rifkiadrianda

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format