Ketika Cetak Foto Tak Mampu Lagi Cetak Laba

Strategi transformasi jasa layanan fotografi di tengah badai disrupsi dengan melakukan komparasi Fuji Image Plaza dengan XL Axiata


2
2 points

Bisnis Cetak Foto Semakin Terpuruk untuk Mencetak Laba

Beberapa orang terlihat tengah mengantri di depan sebuah etalase kaca yang berisikan album – album dan bingkai – bingkai foto. Mereka membawa sebuah benda kecil berbentuk tabung untuk diserahkan kepada pegawai penerima konsumen di gerai layanan fotografi. Benda berbentuk tabung tersebut adalah roll film kamera analog. Setelah itu, pegawai gerai tersebut akan memproses roll film tersebut dan menjanjikan waktu tunggu untuk mencetak foto hanya dalam 45 menit.  Situasi tersebut banyak terjadi pada kurun waktu tahun ’70-an sampai dengan awal tahun 2000-an. Pada kurun waktu tersebut banyak orang ingin mengabadikan momen terindah dalam hidupnya dengan mencetak fotonya ke gerai cetak foto. Salah satu gerai yang menyediakan perlengkapan dan jasa fotografi yang paling terkenal adalah Fuji Image Plaza yang dimiliki oleh PT Modern Photo International atau Modern Group.

Seiring dengan kemajuan teknologi di awal tahun 2000-an, dimana mulai banyak bermunculan kamera digital dan ponsel yang dilengkapi dengan fitur kamera, trend penggunaan kamera analog pun semakin menurun. Bahkan perusahaan raja fotografi kelas dunia seperti Kodak pun harus mengalami fase yang paling buruk dalam suatu bisnis yaitu kebangkrutan, dikarenakan gagal fokus dalam mengambil kebijakan bisnis. Alih – alih fokus pada pengembangan bisnis kamera digital, Kodak merasa nyaman untuk tetap bertahan pada bisnis kamera analog dan perlengkapannya hingga pada suatu titik para kompetitornya sudah mengambil alih pasar kamera digital.

           Gambar 1. Global Market Share Kamera Digital pada Tahun 2009 dan 2010


Kembali lagi ke dalam negeri, di era berjayanya kamera analog, Fuji Image Plaza menjadi tempat rujukan utama jika ingin melakukan cetak foto, foto studio ataupun membeli perlengkapan fotografi. Namun dikarenakan telah terjadi technology shifting, orang – orang lebih senang menggunakan kamera digital ataupun ponsel untuk mengambil foto karena selain lebih praktis juga dapat menyimpan hasil foto lebih banyak. Selain itu, hasil foto dapat dengan mudah dipindahkan dari satu media digital ke media digital yang lainnya, seperti dari ponsel ke laptop, PC atau bingkai foto digital tanpa perlu lagi mencetak foto tersebut. Secara regulasi, juga tidak ada peraturan perundangan yang mengatur atau membatasi bisnis layanan fotografi. Regulasi yang ada terkait fotografi adalah tentang pengaturan hak cipta dari sebuah karya fotografi dimana apabila suatu karya fotografi digunakan secara komersial tanpa hak dan/atau izin pencipta atau pemegang hak cipta dalam melaksanakan hak ekonomi yang tercantum pada ketentuan Pasal 9 ayat (1) baik huruf b (penggandaan ciptaan dalam segala bentuknya) dan/atau huruf g (pengumuman ciptaan) UU Hak Cipta untuk penggunaan secara komersial dapat dikenakan sanksi pidana berdasarkan Pasal 113 ayat (3) UU Hak Cipta.

          Gambar 2. Grafik Penjualan Kamera Analog dan Kamera Digital secara Global

Pergeseran teknologi dan trend tersebut tentu saja tidak hanya memukul industri kamera dan roll film analog, tetapi juga ke bisnis layanan fotografi pada umumnya. Sebelum munculnya kamera digital ada sekitar 4000 gerai cetak foto di Indonesia, namun saat ini hanya tersisa sekitar 1000 gerai cetak foto. Fuji Image Plaza yang dulunya sangat ramai dikunjungi orang yang ingin mencetak foto atau mencari perlengkapan kamera untuk mengabadikan momen terbaiknya, sekarang menjadi relatif lebih sepi.


Berubah atau Bangkrut!

Berkaca dari pengalaman transformasi salah satu provider jaringan ponsel terkemuka, XL Axiata, maka ada banyak hal menarik yang bisa dijadikan lesson learnt dalam strategi bisnis perusahaan di tengah badai disrupsi yang bisa juga diterapkan ke bisnis layanan fotografi. Pada suatu kesempatan, CEO XL Axiata periode 2006 – 2015, Hasnul Suhaimi, pernah membagikan pengalamannya tentang bagaimana proses transformasi yang berlangsung di XL Axiata sekitar tahun 2011. Di awal – awal fase transformasi XL Axiata menggulirkan strategi dengan memberikan paket telpon, SMS dan internet murah. Salah satu paket yang cukup terkenal yaitu “Nelpon Semua Operator Tanpa Paket Rp 1/ detik”. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan jumlah konsumen pengguna layanan jaringan ponsel XL. Strategi ini cukup berhasil untuk mendongkrak konsumen yang bahkan hingga kini masih tetap setia menggunakan jasa layanan XL.

                                                         Gambar 3. Salah Satu Iklan XL 

Di sisi internal perusahaan, dibangunlah koalisi hubungan baik antara para pemegang saham, direksi, vice president, general manager serta karyawan terpilih (change agents). Karyawan terpilih tersebut dipilih dari kalangan milenial yang memilki ide – ide menarik serta semangat bekerja yang tinggi. Dari para karyawan terpilih tersebut akhirnya muncul terobosan – terobosan bagi XL Axiata untuk mendapatkan sumber – sumber pendapatan baru di luar bisnis eksisting XL Axiata. Dan dari hasil brainstorming para pemangku kepentingan di XL Axiata disepakati bahwa kunci utama yang akan dilakukan oleh XL Axiata untuk mendongkrak pendapatan pada saat itu adalah dengan melakukan transformasi digital.


Transformasi Digital XL Axiata

Proses digitalisasi yang dilakukan di XL Axiata yang dimulai pada tahun 2011 dengan cara melakukan perubahan – perubahan digital baik pada operasional bisnis utama XL Axiata maupun untuk dengan cara mengembangkan bisnis – bisnis baru berbasis digital. Proses transformasi digital yang dilakukan adalah dengan meningkatkan digital leadership kepada semua leader di semua bagian serta meningkatkan digital capability kepada semua pekerja di semua level sehingga terbentuk perusahaan dengan tingkat budaya digital masters.

Gambar 4 Matriks Digital Mastery Berdasarkan  Hasil Riset Massachusetts Institute of Technology

Proses digitalisasi operasional bisnis eksisting dilakukan dengan cara melakukan program – program peningkatan digital capability melalui digital marketing, digital product innovation, digital commerce, digital technologies dan customer analytics. Contoh implementasi program digitalisasi pada bisnis eksisting sebagai penyedia layanan ponsel yaitu dengan melakukan program penjualan berbasiskan Information Technology (IT) yang dikenal dengan program sales force monitoring system. Setiap sales force di XL Axiata dibekali dengan ponsel pintar yang telah di-install aplikasi khusus untuk melaporkan status progress penjualan di suatu lokasi secara akurat dan real time. Program digitalisasi operasional yang lain yang dilakukan antara lain online procurement, digital marketing, digital registration, real time billing & monitoring, digital customer care dan big data analytic. Sedangkan untuk bisnis – bisnis baru XL Axiata yang berbasiskan digital antara lain machine to machine PLN Kwh meter reading, data center, child monitoring, mobile advertising, XL tunai dan E-comerce : Elevenia. Dan kini XL Axiata sedang bersiap untuk melakukan ekspansi bisnis ke pengelolaan big data, untuk mengebangkan smart home maupun smart city berbasiskan internet of things (IoT).


Task Environment Bisnis Layanan Fotografi dan Telekomunikasi 

Dilihat dari rantai supply dan proses bisnis jasa layanan fotografi saat ini dapat dilakukan analisa terhadap 5 aspek utama yang dapat dilihat pada gambar berikut ini.

                              Gambar 5 Task Environment Bisnis Jasa Layanan Fotografi           

Untuk membandingkan task environment antara bisnis layanan fotografi dengan bisnis telekomunikasi dari kelima aspek tersebut di atas, maka dibuatlah matriks perbandingan sebagai berikut.


Fuji Image Plaza

XL Axiata

Competitors

Kompetitor dari Fuji Image Plaza sebagian besar adalah perusahaan – perusahaan cetak atau layanan fotografi perorangan. Secara korporasi competitor layanan fotografi yang cukup punya nama adalah Jonas Photo

Kompetitor yang masuk dalam kategori tiga besar penyedia layanan jaringan ponsel adalah Telkomsel dan Indosat Ooredoo. Ketiga provider tersebut mengalami pasang surut kinerja di beberapa unit bisnisnya.

Customer

Konsumen saat ini cenderung menyimpan file foto di media digital daripada harus mencetak ke dalam bentuk hard file, tetapi tetap masih ada konsumen yang ingin mencetak foto khususnya untuk dicetak ke ukuran besar. Konsumen yang masih setia adalah keluarga mapan yang ingin mencetak foto keluarga, anak sekolah, remaja ataupun mahasiswa untuk foto wisuda.

Pasca munculnya kebijakan registrasi kartu SIM (Subsciber Identity Module) tahun 2018 maka laju pertumbuhan konsumen baru menjadi berkurang. Kini yang optimal bisa dilakukan adalah dengan memberikan layanan yang lebih baik dari pos data dan internet kepada konsumen loyal.

Supplier

Jalannya bisnis didukung oleh supplier kertas foto, bingkai foto dan utamanya perlengkapan/ peralatan fotografi yaitu kamera 

Didukung oleh supplier kartu, penyedia layanan tower BTS, IT provider, distributor pulsa.

Strategic Partner

Meskipun layanan jasa cetak foto bersifat umum, tetapi ada mitra – mitra strategis yang bisa digandeng untuk menjamin keberlangsungan bisnis seperti sekolah, kampus, perkantoran, kedutaan besar dll.

Perusahaan atau distributor ponsel untuk memberikan paket – paket bundling nomor HP dengan ponsel.

Regulators

Tidak ada peraturan yang secara spesifik mengatur bisnis cetak foto atau layan  fotografi. Badan yang menaungi industri kreatif adalah Badan Ekonomi Kreatif.

Regulator utama yaitu Kementerian Komunikasi dan Informasi.


Peluang Kerjasama Bisnis pada Bisnis Layanan Fotografi

Untuk mendongkrak pendapatan dalam jasa layanan fotografi Fuji Image Plaza harus merubah model bisnisnya tidak melulu pada bisnis cetak foto. Tetapi juga memberikan layanan komplit one stop solution untuk jasa layanan fotografi. Perubahan skema bisnis yang bisa dilakukan adalah dengan skema kerjasama atau partnership dengan PT Fujifilm Indonesia. Dalam gerai foto Fuji Image Plaza juga memberikan layanan penjualan dan purna jual kamera digital khususnya merk Fujifilm. 

                   Gambar 6 Skema Kerjasama Bisnis Jasa Layanan Fotografi

Selain itu bisnis layanan foto studio juga tidak bisa dipandang sebelah mata terutama untuk memenuhi keinginan konsumen untuk mendapatkan hasil foto keluarga, foto acara formal, foto wisuda dengan kualitas foto yang baik. Jasa foto studio ini bisa juga dikombinasikan dengan jasa photbooth baik photobooth digital maupun manual. Tidak hanya itu, para fotografer di jasa layanan foto studio Fuji Image Plaza dapat juga difasilitasi untuk bekerjasama dengan perusahaan platform atau startup unicorn seperti gojek atau traveloka untuk menyediakan layanan fotografer resmi Fuji Image Plaza. Para fotografer yang bekerja di jaringan Fuji Image Plaza akan dibekali tambahan softskill fotografi dan juga standard perlengkapan fotografi dengan kualitas wahid yang siap mengabadikan momen – momen terbaik dalam hidup.


Transformasi pada Gerai Foto

Dalam rangka menjaga keberlangsungan bisnis cetak foto seperti yang sudah disampaikan pada bagian sebelumnya bahwa bisnis cetak foto harus melakukan perubahan model bisnis agar tetap bertahan di dalam badai disrupsi. Selain itu, pada kegiatan operasional layanan cetak foto juga perlu dilakukan transformasi. Tiga aspek utama yang perlu untuk dilakukan proses transformasi yaitu aspek model bisnis, SDM dan teknologi.

Jasa layanan fotografi harus merubah skema bisnisnya yang selama ini hanya berdiri sendiri diubah menjadi skema kerjasama (partnership) dengan beberpa potential strategic partner. Mindset gerai layanan fotografi konvensional yang hanya fokus pada layanan cetak foto dan studio foto yang sifatnya formal harus dilakukan re-branding ke konsep yang lebih modern dan fresh, didukung dengan kemampuan SDM yang lebih ramah dan paham trend yang sedang terjadi, dari kalangan milenial atau gen Z.Teknologi peralatan fotografi baik untuk jasa cetak foto maupun foto studio juga perlu dilakukan update technology berbasiskan software komputer bukan hanya melalui ketelitian mata manusia saja. 


Kesimpulan Analisa dan Alternatif Solusi

Kesimpulan Analisa

Alternatif Solusi

  • Jasa cetak foto dan layanan fotografi Fuji Image Plaza perlu melakukan perubahan skema bisnis agar tetap mampu bertahan di era disrupsi.
  • Re-branding Fuji Image Plaza baik dari brand nama ataupun logo menjadi lebih fresh.
  • Skema kerjasama dengan sole agent peralatan atau perlengkapan kamera digital merk Fujifilm di gerai yang sama.
  • Mengembangkan bisnis marketplace para fotografer professional yang dididik oleh Fuji Image Plaza melalui kerjasama dengan platform bisnis unicorn seperti gojek atau traveloka.
  • Memberikan paket – paket layanan jasa fotografi seperti cetak foto dan paket foto studio yang fleksibel sehingga konsumen dapat mengatur sesuai keinginannya.
  • Menyediakan photobooth swalayan di gerai foto.
  • Memperbaiki tata letak atau desain interior gerai foto dengan konsep yang dinamis, modern dan colorful, sehingga memberikan kesan tempat yang unik dan instagramable.
  • Jika lokasi memungkinkan dapat bekerjasama juga dengan coffee shop, kafe atau restoran.  
  • Jasa cetak foto dan layanan fotografi Fuji Image Plaza harus melakukan seleksi karyawan atau pegawai dengan kriteria yang lebih modern.
  • Pegawai adalah anak – anak muda milenial atau gen Z yang memahami trend teknologi, sosial media dan fashion.
  • Pegawai yang ramah.
  • Sebagai industri kreatif, Fuji Image Plaza perlu melakukan transformasi digital secara menyeluruh.
  • Digitalisasi mesin – mesin cetak yang compact dan editing foto dengan menggunakan software aplikasi computer yang mempercepat jalannya proses.
  • Digital marketing yang lebih menarik dengan memanfaatkan sosial media secara optimal.


Best Practices Jasa Layanan Fotografi

Sebagai pesaing kuat Fuji Image Plaza, Jonas Photo telah menunjukkan eksistensinya untuk tetap mampu bertahan pada bisnis jasa layanan fotografi. Tidak hanya menggandeng toko penyedia perlengkapan dan aksesoris kamera, tetapi juga menggandeng kafe atau restoran pada gerai jasa layanan fotografi. Konsumen tidak hanya dimanjakan dengan konsep foto studio yang lebih modern tetapi juga bisa menikmati sajian kuliner yang dapat memanjakan lidah. 

                                                                   Gambar 6 Jonas Photo


Ditulis Oleh

Raditya Primayudha 


Referensi


Like it? Share with your friends!

2
2 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
Primayudha

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format