Masih Tentang Covid-19 dan Potensinya Terhadap Kenaikan Kredit Bermasalah

Kecenderungan penurunan di sektor rill akan berdampak pada risiko kredit Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) berupa kenaikan Non Performing Loan (NPL)


0

Wabah virus corona akan membayangi bisnis perbankan di tanah air. Virus berbahaya ini semakin melemahkan aktivitas ekonomi. Tekanan kian besar pasca dua pasien pertama terkonfirmasi telah positif terinfeksi corona. Potensi membengkaknya kredit bermasalah di bank kian besar sebagai dampak dari corona itu. 

“Dampak corona ini tidak dapat dipungkiri sudah mengganggu perekonomian baik global maupun di Indonesia. BPS sudah memperkirakan ada perlambatan ekonomi 0,23% akibat virus itu. Sektor yang paling terganggu adalah pariwisata, perdagangan dan investasi,” jelas Haru Koesmahargyo, Direktur Keuangan BRI. 

Bank Woori Saudara juga mengkhawatirkan adanya kenaikan NPL. Jika kondisi wabah corona terus berlanjut maka dampaknya dinilai akan sangat signifikan meningkatkan kredit bermasalah. Menurut Rully Nova Perwakilan manajemen sekaligus Tim Analis Bank Woori Saudara, virus tersebut berdampak pada perseroan terutama di segmen manufaktur. Maklum bank ini memang banyak fokus menyalurkan pembiayaan di sektor tersebut. “

Potensi Non-Performing Loan (NPL) Perbankan Terutama Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) sebagai Imbas dari Penurunan di Sektor Riil

Berbeda dari beberapa tahun sebelumnya, pada awal tahun 2020 sektor kesehatan menjadi sumber utama risiko industri perbankan nasional pada tahun 2020, bukan dari gejolak di pasar keuangan. Tidak ada seorang pun yang dapat memperkirakan sebelumnya bahwa virus Corona “Covid-19” dapat secara masif menyebar ke seluruh dunia.

Penyebaran Covid-19 seluruh dunia per tanggal 21 Maret 2020 menurut worldometers.com yaitu sebanyak 277.031 kasus, meninggal 11.421 orang dan sebanyak 91.981 orang dinyatakan sembuh. Sedangkan di Indonesia, sebanyak 450 orang terinfeksi, 38 orang meninggal dan dinyatakan sembuh sebanyak 20 orang. Tingkat mortalitas Indonesia mencapai 8.44%. Hal ini pula yang membuat IHSG tertekan ke level 4000 dan kurs USD terhadap Rupiah mencapai Rp16.000,-  

Potensi dampak penyerbaran Covid-19 pada pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2020 secara regional dan global menurut Asian Development Bank (ADB)

Sedangkan menurut McKinsey, penurunan PDB dunia diperkirakan antara 2.5% sampai dengan 1%-1.5%

Dampak terhadap ekonomi Indonesia antara lain: 

  • Pertumbuhan ekonomi terkontraksi 

        Bank Indonesia merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 sebesar   4.2% 

  • Sektor pariwisata menurun tajam 

         Perkiraan dampak Covid-19 terhadap pariwisata sebesar Rp54.6 Triliun

  • Ekspor – impor dengan China menurun

        Nilai perdagangan Indonesia – China mencapai USD 72,82 Miliar yang    diperkirakan akan merosot sebesar 4%

  • Investasi China di Indonesia diperkirakan turun

        Total investasi China di Indonesia mencapai Rp66,36 Triliun diperkirakan akan turun di 2020 sebesar 5%. 

  • Sektor manufaktur terpukul 

        Tidak akan mendapatkan pasokan bahan baku yang murah dari China

Dampak Covid-19 terhadap sektor riil sangat terasa, khususnya pada Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM). Sektor pariwisata dan transportasi pun semakin terpukul karena adanya himbauan dari pemerintah untuk menghindari tempat umum, keramaian dan mengurangi aktivitas travelling. Beberapa risiko yang membayangi industri perbankan antara lain perlambatan penyaluran kredit, penurunan kualitas aset, dan pengetatan margin bunga bersih. Sehingga terdapat kecenderungan penurunan beberapa sektor riil pada UMKM akan berdampak pada risiko kredit berupa potensi kenaikan Non-Performing Loan (NPL) atau Rasio Kredit Bermasalah dalam industri perbankan. Apabila tidak diatasi dengan baik, akan berdampak sistemik dan dapat mengakibatkan krisis finansial. 

Economic Cycles 

Expansion and Contraction

Ekonomi selalu berubah. Ekonomi dalam kondisi ekspansi apabila ekonomi tumbuh dan orang berbelanja. Daya beli tersebut akan meningkatkan produksi barang dan jasa. Sebaliknya ekonomi dikatakan mengalami kontraksi jika terdapat penurunan daya beli, pemangkasan produksi, PHK dan secara umum dalam kondisi slowdown. Kontraksi ekonomi akan membawa ke arah resesi. 

Pertumbuhan ekonomi dunia saat ini sedang mengalami tren penurunan kembali/kontraksi. Beberapa analis memperkirakan bahwa AS akan mengalami resesi pada tahun 2020.  Ekonomi Indonesia pada awalnya diprediksi tumbuh sebesar 5,10% – 5,35% di tahun 2020 dengan inflasi yang masih terkendali pada level relatif rendah dan stabil di tengah pelemahan Rupiah yang diproyeksikan masih akan terus berlangsung. 

The Nature of Entrepreneurship and Small Business 

Kewirausahaan (Entrepreneurship) dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain:

1. Microentrepreneurs (wirausaha mikro)

Wirausaha yang mengembangkan bisnis / usahanya dengan jumlah pegawai lima atau lebih sedikit.

2. Social Entrepreneurs

Wirausaha yang menggunakan kewirausahaan untuk menyelesaikan permasalahan social.

Small Business (Usaha Kecil)

Usaha Kecil adalah kegiatan usaha yang dimiliki dan dioperasikan secara mandiri dan tidak mempekerjakan karyawan lebih dari 500 orang.

Peranan Microentrepreneurs dan Pelaku Usaha Kecil bagi Perekonomian Negara antara lain:

  1. Penciptaan Lapangan Pekerjaan
  2. Inovasi

Di Indonesia, Microentrepreneurs dan pelaku Small Business disebut sebagai pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Sektor ini merupakan penggerak perekonomian domestik. Sebagai sektor yang berperan dalam membuka lapangan kerja bagi 96,87% angkatan kerja, UMKM memiliki posisi penting dalam keberlangsungan perekonomian Indonesia. Dalam menjalankan kegiatan usahanya pelaku UMKM membutuhkan pendanaan yang salah satunya didapat dari perbankan (debt financing). 

Pada tahun 1998 dan 2008 sektor UMKM juga merupakan penyangga perekonomian pada saat krisis ekonomi dan keuangan. Namun berbeda pada masa itu, sektor UMKM akan menjadi sektor yang paling rentan terhadap dampak Covid-19. 

Bank merupakan salah satu institusi keuangan penting dalam perekonomian karena memunyai fungsi intermediary yaitu menghimpun dan mengalokasikan dana dalam bentuk kredit, pelayanan jasa keuangan masyarakat, dengan tujuan meningkatkan taraf hidup rakyat banyak di Indonesia. Dalam prakteknya, pada saat penyaluran kredit bank dapat pula meminta tambahan asset sebagai agunan untuk pembayaran pinjaman. Jika pemilik usaha mengalami gagal bayar, maka bank akan melakukan klaim dan menjual agunan untuk mengurangi kerugian.

Bank diuji ketahanannya ketika dalam kondisi gejolak ekonomi atau krisis. Dengan demikian penerapan Manajemen Risiko yang baik, mutlak diterapkan oleh bank. Kondisi outbreak Covid-19 membawa bank dalam kondisi yang penuh tantangan. Ancaman kenaikan kredit macet (NPL) dari UMKM terutama di sektor rill sangat terasa. 

Berikut data NPL Perbankan berdasarkan lapangan usaha selama 5 tahun terakhir

                                                                                                                                  Rp Triliun 

Sumber : Statistik Perbankan Indonesia OJK, 2019

Dalam 5 (lima) tahun terakhir, NPL tertinggi terjadi pada tahun 2016 yaitu mencapai 3.5% (NPL Lapangan Usaha). Peningkatan NPL tersebut terutama disebabkan adanya perlambatan ekonomi domestik sebagai akibat dari dari perekonomian global, turunnya harga minyak mentah dan komoditas lainnya, serta pelarangan ekspor barang tambang. 

Penyaluran kredit UMKM di Indonesia sampai dengan Desember 2019 mencapai Rp1.044 Triliun atau sebesar 18.4% dari total penyaluran kredit, dengan tingkat NPL sebesar 3.47%. 

                                                                                                                      Rp Triliun

                                                   Sumber : Statistik Perbankan Indonesia OJK, 2019

Dari total kredit UMKM yang disalurkan oleh perbankan pada tahun 2015 sampai dengan 2019, sebanyak rata-rata 52,34% merupakan sektor perdagangan; 4,75% merupakan sektor pariwisata; sebesar 3,64% dari sektor penyediaan akomodasi makanan dan minuman serta 3,70% dari sektor transportasi. Keempat sektor riil tersebut merupakan sektor yang paling terdampak wabah Covid-19. Dengan menggunakan posisi data pada Desember 2019, potensi ketidakmampuan pembayaran pinjaman oleh debitur pada pada sektor tersebut akan meningkatkan risiko kenaikan tingkat NPL perbankan pada outstanding kredit lebih dari Rp500 triliun. 

Kondisi ini menyebabkan outlook industri perbankan pada tahun ini turun drastis. Hal tersebut tercermin dari menurunnya harga saham perbankan pada tanggal 16 -20 Maret 2020.  Industri perbankan nasional dihadapkan pada potensi kinerja yang menurun. Di satu sisi bank harus menjadi penggerak perekonomian, namun dengan adanya wabah Covid-19, mengakibatkan bank harus menerima risiko peningkatan tingkat NPL, yang mungkin baru terasa sekitar 6 (enam) bulan dari sekarang. 

NPL yang membengkak akan berpengaruh pada permodalan bank. Pada kondisi ini bank benar-benar diuji ketahanannya terhadap kondisi ekonomi yang terburuk. Hal ini diperparah dengan penerapan PSAK 71 yang mana bank harus menambahkan pencadangan kerugian kredit di masa mendatang dan mengakibatkan penurunan Rasio Kecukupan Modal Minimum (KPMM) atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar kurang lebih 1%. 

Penyaluran kredit di Indonesia didominasi oleh bank yang termasuk dalam kategori bank BUKU 4, yaitu bank yang mempunyai permodalan di atas Rp30 Triliun. Bank BUKU 4 di Indonesia yaitu Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BCA, Bank CIMB Niaga, Bank Panin dan Bank Danamon. Bank-bank tersebut mulai mengambil langkah yang konservatif dalam upaya ekspansi kredit terutama pada sektor yang terdampak langsung Covid-19 dengan merevisi target kreditnya, seperti BCA yang memasang target pertumbuhan kredit sebesar 5%-7%.  Sementara itu, potensi kenaikan NPL perbankan akibat Covid-19 pada Bank Mandiri memprediksi sekitar 0,2% sampai dengan 0,3%.Kondisi ini menyebabkan bank dalam kondisi sulit, apalagi bank-bank kecil dengan permodalan yang terbatas. 

Case Study : Non-Performing Asset (NPA) di India

Non-Performing Asset (NPA) perbankan India mencapai lebih dari 11%. Pada tahun 1969, terjadi perubahan dalam system perbankan di India dengan adanya nasionalisasi Public Sector Bank (PSB). PSB ini menguasai 90% dari total share perbankan India, sisanya 10% dijalankan oleh Private Sector Bank dan Foreign Bank. PSB digunakan oleh pemerintah India untuk program-program pemerintah, namun penyalurannya tidak menggunakan prinsip prudential banking. Ekspansi kredit sangat tinggi mencapai CAGR 18,69% dan tidak selaras dengan PDB India dan memicu tingginya tingkat NPA. Masalah NPA dialami oleh seluruh bank di India baik Public Sector Bank, Private Sector Bank, small bank maupun big bank. Sektor telekomunikasi, infrastruktur dan konstruksi menjadi sektor dengan tingkat NPA tertinggi. Faktor utama penyebab NPA adalah kurangnya kapabilitas bankir dalam menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit dan kurangnya monitoring paska penyaluran kredit. Factor lain yang menyebabkan NPA di India sulit turun adalah tidak adanya bankruptcy system yang jelas yang mengakibatkan bank sulit untuk melakukan eksekusi agunan. Selain itu penerapan Risk Manajemen dan Good Corporate Governance yang tidak memadai membuat perbankan di India terus berkutat dengan masalah.

Beberapa hal yang disarankan oleh para ahli untuk memperbaiki masalah perbankan di India antara lain: 

  • Memisahkan antara politis dan komersial 
  • Improvement dari sisi penerapan Manajemen Risiko yang baik 
  • Membuat Bank Holding Company yang diisi oleh bankir senior professional yang mempunyai integritas dan tidak korup.

Indonesia vs India 

Deskripsi

Indonesia

India

Penyaluran kredit dengan pertumbuhan ekonomi 

Penyaluran kredit masih terukur dan selaras dengan pertumbuhan PDB nasional

Penyaluran kredit cenderung tidak terkendali dan melebihi pertumbuhan PDB India.

Kualitas SDM dalam penyaluran kredit 

  • Kapabilitas petugas dalam melakukan assessment kredit dirasa telah memadai
  • Penyalurkan kredit didasarkan pada prinsip kehati-hatian 
  • Terdapat system monitoring yang dilakukan secara efektif dan efisien 
  • Kapabilitas petugas dalam melakukan assessment kredit tidak memadai
  • Penyaluran kredit tidak prudent
  • Terdapat inefisiensi pada monitoring penyaluran kredit

Risk Management

Penerapan Risk Management perbankan dirasa memadai 

Perlu improvement penerapan Risk Management di semua level dan penerapan Credit Rating harus kuat

Regulasi tentang Agunan

Terdapat regulasi yang mengatur tentang bankruptcy system dan hak preferens terhadap barang agunan. Sehingga apabila diperlukan, bank dapat melakukan penjualan barang agunan untuk mengurangi kerugian.

Tidak terdapat regulasi yang mengatur tentang bankruptcy system dan hak preferens terhadap barang agunan, sehingga bank tidak dapat melakukan eksekusi bantang agunan dan berakibat pada kerugian bank. 

Situasi politik 

Meskipun secara tidak langsung dipengaruhi, namun iklim bisnis perbankan di Indonesia masih kondusif

Situasi politik sangat mempengaruhi kondisi perbankan India 

Insolvensi

Indonesia menempati urutan ke 77 Global Ranking Resolving Insolvency

India menempati urutan ke 136 Global Ranking Resolving Insolvency

Good Corporate Governance

Level GCG yang semakin baik

GCG yang tidak memadai 

Peranan pemerintah dan regulator 

Pemerintah RI dan regulator (BI & OJK) meluncurkan beberapa stimulus ekonomi dan perbankan sehingga diharapkan dapat mengurangi peningkatan NPL. 

Pemerintah India dan Regulator (Sentral Bank of India) mengeluarkan beberapa regulasi, namun hasil dari kebijakan tersebut tetap lambat 

Sektor ekonomi penyumbang NPL

Sektor perdagangan besar dan eceran dengan tingkat NPL pada sektor tersebut sebesar 3.5% (SPI OJK, 2019)

Sektor telekomunikasi (23% share) dan infraskturktur&konstruksi (18% share) 

Regulasi tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan

Dalam hal NPL dapat berakibat pada ketidakstabilan system keuangan, Indonesia mempunyai Undang-Undang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (UU No.9 Tahun 2016) 

Sentral Bank India dan pemerintah dinilai lambat memberikan stimulus pada saat kondisi perbankan tertekan, namun lain dengan Indonesia dimana pemerintah dan regulator cukup responsif dalam mengeluarkan kebijakan terkait potensi gejolak dalam industri keuangan. Lebih lanjut mengenai peran regulator dalam mengatasi kondisi sulit, Bank Indonesia dan OJK mengeluarkan beberapa relaksasi atau kebijakan countercyclical khusus untuk mengantisipasi dampak Covid-19 terhadap industri perbankan. Kebijakan ini diharapkan dapat membantau perbankan dan UMKM dalam menghadapi tekanan dan mencegah terjadinya situasi yang mengarah kepada krisis finansial antara lain:

A. Bank Indonesia 

  1. Menurunkan GWM Rupiah sebesar 50 bps
  2. Menurunkan GWM Valas dari sebelumnya 8% menjadi  4% dari Dana Pihak Ketiga
  3. Menurunkan suku Bungan acuan BI 7-days Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4,5%
  4. Merevisi PDB Indonesia menjadi 4,2% – 4,6% pada tahun 2020

B. Otoritas Jasa Keuangan melalui POJK No.11/POJK.03/2020 tanggal 13 Maret 2020 Bank dapat menerapkan kebijakan yang mendukung stimulus pertumbuhan ekonomi untuk debitur yang terkena dampak penyebaran COVID-19, termasuk dalam hal ini adalah debitur UMKM

  1. Kebijakan stimulus dimaksud terdiri dari:
  2. Penilaian kualitas kredit/pembiayaan/penyediaan dana lain hanya berdasarkan ketepatan pembayaran pokok dan/atau bunga untuk kredit s.d Rp10 miliar; dan
  3. Bank dapat melakukan restrukturisasi untuk seluruh kredit/pembiayaan tanpa melihat batasan plafon kredit atau jenis debitur, termasuk debitur UMKM. Kualitas kredit/pembiayaan yang dilakukan restrukturisasi ditetapkan lancar setelah direstrukturisasi
  1. Untuk debitur UMKM, Bank juga dapat menerapkan 2 (dua) kebijakan stimulus tersebut, yaitu: 
  • Penilaian kualitas kredit/pembiayaan/penyediaan dana lain berdasarkan ketepatan membayar pokok dan/atau bunga; dan
  • Melakukan restrukturisasi kredit/pembiayaan UMKM tersebut, dengan kualitas yang dapat langsung menjadi Lancar setelah dilakukan restrukturisasi kredit

Relaksasi tersebut bertujuan supaya sektor UMKM tidak jatuh dan menimbulkan PHK bagi karyawannya. Meskipun demikian, stimulus ini diharapkan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian disertai mekanisme pemantauan untuk mencegah  moral hazard.

Sebagai benchmark, di Australia, untuk mengatasi dampak virus corona di sektor bisnis, Asosiasi Perbankan Australia (ABA) memberikan keringanan bagi usaha kecil dan menengah (UMKM) untuk tidak membayar utang selama enam bulan.

Pentingnya Peran Management dalam Mengelola Kondisi Sulit 

Belajar dari kondisi perbankan India yang terlalu dicampuri oleh unsur politis dan tata kelola yang tidak baik, manajemen perbankan di Indonesia dinilai cukup baik dalam tata kelola perusahaan. Manajemen adalah proses yang didesain untuk mencapai tujuan organisasi menggunakan sumber daya secara efisien dan efektif. Dalam kasus ini, managemen bank dituntut untuk dapat mengatasi kondisi sulit yang mengancam pada pemburukan kinerja bank. Saat ini, dalam jangka pendek, yang terpenting adalah mencari cara supaya potensi kenaikan NPL dari kredit UMKM dapat dimitigasi secara cermat dan tidak menimbulkan kerugian besar sehingga akan berdampak pada risiko sistemik dalam stabilitas keuangan.

Langkah-langkah yang dilakukan yaitu : 

1. Planning 

  • Menyusun protocol survival strategy
  • Melakukan mapping terhadap potensi kredit UMKM yang terdampak di area Indonesia bagian Barat, Tengah dan Timur. Mapping tersebut diikuti dengan penyusunan rencana restrukturisasi kredit. 
  • Melakukan penyusunan crisis management atau contingency plan 

Penyusunan contingency plan dapat berupa stress testing akan potensi kenaikan NPL terhadap kinerja bank dengan menggunakan skenario dasar, moderat dan optimis. Penyusunan rencana menggunakan 3 (tiga) pendekatan waktu yaitu jangka pendek, menengah dan panjang. Sehingga dalam penyusunan skenario ini dapat diketahui berapa dampak kerugian dan skenario apa yang akan dipilih oleh manajemen untuk mengatasinya. Sedangkan untuk meminimalisir potensi kerugian, perlu dibentuk suatu unit Banking Crisis Center, yang berfungsi sebagai dashboard atas semua informasi terkait   dampak Covid-19.

2. Organizing

Membuat struktur yang efektif dan efisien supaya pelaksanaan contingency plan dapat berjalan dengan lancar. Salah satu cara adalah pembentukan Task Force yang akan mengawal proses mitigasi risiko dengan baik. 

3. Directing

Management memberikan instruksi kepada karyawan akan hal-hal yang perlu dan tidak perlu dilakukan. Misalnya, terhadap rencana restrukturisasi kredit harus dilaksanakan secara selektif dan memperhatikan prinsip kehati-hatian sehingga tidak menimbulkan moral hazard baik dari petugas bank maupun debitur. 

4. Controlling 

Rencana yang telah disusun agar pelaksanaannya dapat terukur dan terarah membutuhkan kontrol yang kuat dari manajemen, sehingga tidak meleset dari tujuan dan dapat mencapai objective bank. Salah satu cara adalah memonitor pencapaian secara berkala dan membandingkan dengan rencana yang telah disusun. Apakah terdapat hal-hal yang belum tercapai atau telah lewat dari tujuan awal. Hal tersebut berguna sebagai evaluasi

Decision Making 

Pada kondisi ini bank diharapkan dapat mengambil keputusan yang didasarkan pada Risk Management yang ketat. Pengambilan keputusan juga sebaiknya dilakukan dengan cermat dan cepat. 

1. Recognizing and defining the decision situation

Menentukan keputusan apa yang akan diambil berdasarkan kondisi internal dan eksternal karena situasi ini merupakan force majeur.

2. Develop options 

Melakukan diskusi dengan level manajerial untuk mengetahui kondisi di lapangan dan selalu berdiskusi dengan regulator atas kemungkinan pengambilan keputusan 

3. Analyze options

Melakukan analisis terhadap berbagai opsi. Misalnya membagi opsi tersebut dalam beberapa kategori yaitu opsi jangka pendek, menengah dan panjang dan disesuaikan dengan Rencana Bisnis  dan Contingency Plan yang telah disusun. 

4. Select the best options 

Mengambil keputusan terbaik dalam dari beberapa opsi dengan mempertimbangkan dampak yang paling minimal terhadap shareholder dan stakeholder 

5. Implement The Decisions 

 Melakukan implementasi keputusan secara cepat dan tetap mempertimbangkan kemungkinan terburuk. Misalnya atas keputusan untuk melakukan restrukturisasi akan terdapat konsekuensi penurunan pendapatan dan peningkatan cadangan kerugian. 

6. Monitor the consequences 

Developing The Workforce 

Training & Development

Supaya proses restrukturisasi kredit berjalan dengan lancar dan tidak seperti perbankan di India, pekerja harus dibekali dengan pengetahuan Riks Management yang kuat. Bank wajib memberikan pembekalan kepada pekerja agar tujuan restrukturisasi tercapai. Kondisi pemburukan akibat Covid-19 pada bank diperkirakan akan terasa dalam 3 bulan ke depan, sehingga bank masih punya waktu untuk melakukan training & development kepada pekerjanya. Di era digital, training & development dapat disajikan dalam bentuk e-learning, tanpa perlu bertatap muka. Hasilnya tentu lebih efektif.

Assessing Performance 

Penilaian kinerja pada kondisi penyebaran Covid-19 tentunya akan terdapat sedikit penyesuian. Revisi target perusahaan akan berdampak pada penyesuaian Key Performance Indicator (KPI). Pencapaian perusahaan sudah tidak didasarkan lagi pada kondisi normal, namun lebih kepada survival mode. Penentuan KPI yang jelas akan membantu pekerja dalam menjalankan tugasnya dengan baik. 

Kesimpulan dan Saran 

Peran pemerintah dan regulator untuk mengatasi dampak penyebaran Covid-19 sudah cukup baik dan saat tinggal menunggu hasil implementasi di lapangan. Perbankan Indonesia harus siap menghadapi potensi NPL dari kredit UMKM yang ditimbulkan oleh pelemahan di sektor riil. Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan oleh bank dalam meminimalisir dampak Covid-19 antara lain: 

  1. Membuat stress testing untuk mengetahui skenario terburuk dampak Covid-19
  2. Melakukan mapping debitur terdampak dan simulasi dampak Covid-19 terhadap kinerja internal disertai dengan action plan.
  3. Memonitor pelaksanaan relaksasi action plan secara berkala dan tetap dalam koordinasi.

Selain perbankan yang harus bersiap, pelaku UMKM juga perlu mengantisipasi dampak Covid-19 dengan melakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Meningkatkan inovasi produk dan jasa supaya daya beli masyarakat tetap stabil. 
  2. Melakukan efisiensi dan efektivitas input sumber daya yang diperlukan untuk mendapatkan output yang optimal 
  3. Melakukan manajemen operasi dan pengaturan supply chain yang sustainable

Referensi

Ferrel.O.C., et all 2019. Business Foundation : A Changing World 12th edition. McGraw Hill Edution

https://keuangan.kontan.co.id/news/virus-corona-berpotensi-angkat-kredit-bermasalah-bank?page=all

https://www.wartaekonomi.co.id/read239503/umkm-punya-peran-penting-keberlangsungan-perekonomian-indonesia.html

https://www.worldometers.info/coronavirus/

https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5e6bd744c6f55/ini-rangkaian-stimulus-ekonomi-kedua-untuk-menangani-dampak-virus-corona/

https://news.detik.com/abc-australia/d-4948393/umkm-australia-dapat-keringanan-tidak-bayar-utang-selama-6-bulan

  1. What is solution of hidden side of banks in India / NPA crises of banks in india / NPA crises?

    1. Credit
      1. Memisahkan antara politis dan komersial 2. Improvement dari sisi penerapan Manajemen Risiko yang baik 3. Membuat Bank Holding Company yang diisi oleh bankir senior professional yang mempunyai integritas dan tidak korup.
    1 votes
    Share Your Result

Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
atikadetty

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format