NET TV, nasibmu tak semulus pendahulumu.

Sudah seharusnya Perusahaan Stasiun Televisi bertransformasi di era disrupsi digital dengan menghadirkan konten-konten yang berkualitas.


7
7 points

Gambar 1. Slogan Net TV

Net TV mulai dihadapkan dengan masalah serius yaitu ancaman bangkrut dan perampingan karyawan.

Akhir-akhir ini, terdapat suatu berita yang sangat mengejutkan sekaligus menggemparkan se-Indonesia.  Beritanya kali ini menimpa salah satu stasiun televisi swasta yang dikenal dengan slogannya “Televisi Masa Kini.”  Siapa lagi kalau bukan Net TV? Stasiun televisi ini dikabarkan akan memutus kontrak para karyawannya secara massal. Hal ini sudah terlihat jelas bahwa stasiun TV ini menjadi trending topic di jagat media sosial Twitter. Dampaknya, gaungan #savenettv yang dicanangkan oleh para netizen menggambarkan bentuk dukungan pada Net TV lalu mereka memohon supaya stasiun TV ini tidak mengucapkan kata “pamit” atau “harus berpisah” dari industri pertelevisian Indonesia.

FYI, kemunculan NET TV saat itu menjadi fenomena baru sejagat pertelevisian Indonesia. Tak Sedikit Penonton Indonesia yang ingin mengetahui secara mendalam mengenai TV ini, baik dari media massa maupun media online. Alasansederhananya adalah, karena NET TV menayangkan siaran Televisi yang berbeda dengan stasiun tv lainnya. Sebagai pembeda, stasiun televisi biasanya menayangkan seputar isu-isu terhangat atau seringkali menayangkan drama sampai kapan selesainya. Maka program NET TV lebih mendekatkan diri kepada pelanggannya (customer). Karena mereka berpendapat bahwa era saat ini Customer lebih menjadi prioritas utama mereka melihat dari berbagai gaya hidup dan keunikan-keunikan di dalamnya. Bisa dibilang Net TV memiliki ciri khas yang sangat berebda dengan stasiun televisi lain, terlepas dari bagusnya konten-konten yang tercakup di dalamnya. 

Gambar 2. Jumlah Pemirsa 10 stasiun TV Indonesia 2018

Berdasarkan data yang dikutip oleh Inrate, per tahun 2018, jumlah penonton Net TV mencapai angka 7.7 Juta. Hal ini menandakan bahwa dengan umur yang masih muda, stasiun TV ini sudah menyalip dan dan berpotensi menjadi stasiun TV nomor 1 dibanding pada pendahulunya. Hal ini tak lepas dari tayangan-tayangan yang cukup menghibur dan sesuai dengan Demand Masyarakat saat ini.

Gambar 3. Pemeringkatan NET TV Menonton Program variety Show

Salah satu contoh yang membuat Net TV dikagumi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia adalah kemunculan Ini Talkshow yang notabennya disebut sebagai program unggulan stasiun TV ini yang kehadirannya mampu menggebrak acara talkshow saat ini, dengan menghadirkan jenis talkshow lebih identic yang tidak membuat penonton “ngantuk massal”. Ini Talkshow tidak sekedar berisi Talkshow belaka melainkan ada improvisasi host, gameshow, dan parodi tokoh terkenal yang tidak kalah serunya. Contoh lainnya adalah ketika Net TV merayakan Ulang Tahun dnegan mengundang artis papan atas seperti Hailee Steinfeld dan Craig David dalam satu konser yang diselenggarakan di Sentul. Sehingga, dengan adanya penampilan kedua artis top appan atas terebut, mampu menaikkan rating Net TV di mata masyarakat kalangan muda. Karena seperti kita ketahui bahwa Net TV menyasarkan kepada pelanggan yang cenderung memiliki usia lebih atau relative muda (Millenial).

Gambar 4. Indeks Kualitas NET TV program infotainment

Kemudian berdasarkan Indeks Kualitas Program Infotainment, menunjukkan bahwa Net TV tidak lah terlalu buruk dalam hal Infotainment. Dengan program yang berjudul Entertainment News Bersama Host yang cukup terkenal, menunjukkan bahwa lagi-lagi Net TV menyasar kepada Golongan Muda denga nisi konten dari Infotainment tersebut lebih ke arah gosip artis-artis top papan atas Internasional.

Gambar 5. Indeks Kualitas NET TV program sinetron

Jika dilihat berdasarkan Program Sinetro yang mereka tayangkan, seperti contoh Cinta dan Rahasia, hal ini cukup memikat hati bagi kalangan muda Indonesia, karena sinetron ini menayangkan kisah cinta 2 sejoli semasa sekolahnya. Hal yang berbeda diantara sinetron-sinetron tv lainnya yaitu, sinetron ini lebih kekinian dengan unsur-unsur dan tayangan yang lebih memukau, berbeda dengan TV sebelumnya yang mostly menayangkan sinetron yang bisa dibilang cukup berlebihan dengan adanya animasi-animasi di dalamnya. Sehingga, grafik tersebut menunjukkan bahwa Net TV memiliki indeks kualitas program yang baik di antara TV lainnya.

Namun berita terbaru saat ini, sepertinya cerita memilukan tentang stasiun tv ini hanya soal waktu untuk melengkapi kisah inovasi disrupsi yang memakan korban di media entertainment yaitu perkembangan internet dan transformasi digital yang pakemnya memanjakan penonton dengan konsep yang harus tetap menarik, variatif,  penuh kejutan dan yang terpenting murah dan mudah diakses

Net TV sebagai stasiun televisi yang baru beroperasi enam atau tujuh tahun lalu ini sangat inovatif dalam mengemas program dengan pendekatan yang sangat menarik, kreatif, gres dan “look urban”.

Dan ini sebenarnya modal utama untuk mendapatkan perhatian penonton dan terlihat cukup sukses seperti terlihat dari banyaknya tayangan non drama, documentary, sit-com, variety show, news dan talk show yang cukup menjanjikan.

Gambar 6. Indeks Kualitas NET TV Program Talkshow

Namun nampaknya, Data yang ditampilkan pada tahun 2018 tidak sebanding dengan data yg didapat pada tahun 2019. Hal ini dapat dilihat dari Indeks Kualitas Program Talkshow dari Net TV cenderung memiliki nilai yang rendah disbanding kompetitornya. Lantas apakah faktor yang membuat Net TV memiliki penuruna indeks Kualitas ?

1. Channel Share yang didapatkan cenderung menurun disbanding kompetitornya. Pada dasarnya, Net Tv merupakan salah satu stasiun TV yang tidak mengutamakan rating, melainkan kualitas. Namun, bukan lah hal yg lumrah bahwa saat ini rating menjadi patokan bagi stasiun TV dalam emnentukan kinerja dan usia dari acara yang ditayangkan oleh stasiun TV. Tak hanya rating, dalam dunia per TV ada juga yg disebut dengan share. Rating adalah presentase dari penonton suatu acara dibandingkan dengan total atau spesifik populasi pada waktu tertentu. Sedangkan Share adalah persentase jumlah pemirsa atau target pemirsa pada ukuran satuan waktu tertentu pada suatu channel tertentu terhadap total pemirsa di semua channel. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya acara Net yang berhenti bahkan acar unggulan mereka seperti cinta dan rahaisa, sarah seehan, dll juga berhenti. Hal ini dikarenakan mereka ingin menampilkan acara yang zero cost produksinya, sehingga tak heran bahwa banyak sekali kartun-kartun bermunculan di Net saat ini.

Gambar 7. Channel Share NET TV

Selain itu, dari hasil rekapitulasi data kepemirsaan Nielsen yang dikumpulkan mulai 12 Februari 2017 sampai 25 Januari 2019, rata-rata perolehan channel share NET sebesar 3,2%. Angka tersebut di bawah RTV yang memperoleh 3,6% dan di atas KompasTV yang berada di kisaran 1,5%. Angka-angka di atas tidak sepenuhnya tepat dalam menggambarkan pemirsa TV Indonesia. dikutip dari CNN Indonesia,  Nielsen TAM (Television Audience Measurement) mengukur rating dengan memasang alat khusus bernama people meter pada setiap televisi di 2.273 rumah tangga akan mendapatkan hasil yang lebih akurat, namun, dalam hal ini Net tidak lah menggunakan rating tersebut sebagai acuan, melainkan lebih mengedepankan ideologinya yaitu dengan menggunakan data yang mereka peroleh sendiri. Sehingga dalam hal ini, jika kita memiliki idealism yang tinggi, haruslah dikombinasikan juga dengan profit yang akan dihasilkan dan market demandnya karena perlu diingat juga bahwa sebuah Perusahaan itu perlu source of revenue/cashflow to survive and sustainable, sehingga harus balance portion between sustaining revenue & innovation.

2. Pendapatan naik biaya produksi meningkat

NET berhasil meraih pendapatan sebesar Rp 573,67 miliar pada kuartal III 2018. Angka tersebut naik 26,14% dari pendapatan kuartal III 2017 sebesar Rp 454,80 miliar. Jika pendapatan pada kuartal II 2018 mendekati nilai rata-rata sebesar Rp 514,235 miliar, maka pendapatan NET pada kuartal II ditambah III, atau satu semester, mencapai Rp 1,087 triliun. 

Sekilas, angka tersebut terlihat lebih besar ketimbang pendapatan pada 3 tahun yang lalu. Namun, melihat faktor eksternal yang menimpa pertelevisian Indonesia saat ini, salah satunya kenaikan kurs Dolar Amerika Serikat, membuat beban biaya produksi semakin meningkat. Itu pula yang membuat akhir-akhir ini ragam acara di stasiun TV di Indonesia kebanyakan adalah buatan dalam negeri dan diproduksi oleh internal stasiun TV (in-house).

Hal ini sangat berbeda dnegan pesaingnya yaitu Youtube dan Netflix yang notabennya mereka tak harus menggunakan produksi sendiri, melainkan konten yang disediakan di Youtube tergantung dari Youtubernya itu sendiri, mereka ingin membuat konten seperti apa. Seperti contoh, seorang youtuber yang membuat konten nya selama 5-10 menit dengan biaya produksi yang sangat rendah membuat mereka mampu mendapatkan pengahsilan sebesar ratusan juta rupiah per Bulan.

Sekarang, sepertinya NET harus menanggung akibat dari besarnya pengeluaran produksi seperti biaya yang dikeluarkan untuk investasi teknologi High Definition TV yang cukup mahal yang konon bisa mencapai 2 miliar per hari dan keterlambatan NET dalam menjangkau kota-kota acuan Nielsen, selaku pengukur rating TV di Indonesia. Bahkan parahnya lagi, hal ini berimbas pada layanan TV unggulan Net yang berhenti tayang dan PHK beberapa karyawannya untuk me-reduce cost yang ditimbulkan akibat beban operasional ini.

3. Salah membidik target market

Dalam hal ini, Net TV didesain untuk kalangan menengat atas yang tinggal di kota-kota besar. Hal ini tentu membidik kaum profesionalitas dan milenial pada umumnya dan juga menjadi pembeda diantara stasiun TV lainnya. Namun, target market yang dibidik oleh Net TV sudah habis dimakan oleh Youtube, Instagram, Netflix, Iflix, Hooq, dll. Dengan kata lain target market Net TV sudah lenyap atau kecils ekali populasinya. Itulah petaka menjadi seorang pebisnis, ingin menjual produk tapi tidak ada pasarnya. Meskipun konten-konten yang dihasilkan oleh Net TV sangat bagus dan kreatif, tetapi sekali lagi ketika mereka ingin menjual produknya, pasar yang dituju pun sudah kosong atau sedikit sekali pelangganya. Poin nya adalah Net TV dalam hal ini, salah menentukan segmen pasar dan target market yang condong ke arah kelas premium yang notabennya enggan sekali untuk menonton Televisi ditambah jam sibuk kantor yang sangat hectic. Ada pepatah mengatakan “Listening to the customer demand is a must.”

4. Terlambat menjangkau kota-kota Nielsen

saat itu NET hanya menjangkau 5 dari 11 kota yang menjadi obyek survei Nielsen, atau kita sebut saja “kota Nielsen” agar simpel. Sedangkan, RTV (masih bernama B Channel), sudah mengudara di 6 kota Nielsen dari 26 kota jangkauannya. KompasTV, yang sudah bersiaran sejak September 2011, malah sudah ada di 9 kota Nielsen dari 12 kota jangkauannya. Data tersebut saya peroleh dari rekaman situs resmi mereka yang disimpan oleh layanan Web Archive.

Gambar 8. Pencapaian Kota Nielsen dan jumlah Pemancar NET TV

Oleh karena itu, sejak 2014, NET mulai memperluas jangkauannya ke beberapa daerah di Indonesia, termasuk di beberapa kota Nielsen lainnya, seperti Banjarmasin, Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Palembang. Pada rekaman Web Archive 1 Februari 2016, hal tersebut sudah terwujud.

Tetapi, ada kemungkinan NET sudah menjangkau semua kota Nielsen sejak akhir 2015. Alasannya, daftar lengkap frekuensi NET di situs resminya terbit ketika penghelatan Piala Jenderal Sudirman 2015, yang dimulai pada 10 November 2015 hingga 24 Januari 2016. Kala itu, NET menjadi official broadcaster bersama TVRI.

Keterlambatan NET untuk bisa mengudara di seluruh kota Nielsen dipengaruhi oleh beberapa hal. Faktor eksternal lebih banyak berperan, mulai dari pembatasan alokasi frekuensi analog di beberapa daerah hingga proses akuisisi TV lokal yang memakan waktu. Meski begitu, faktor internal bisa saja ikut berpengaruh, salah satunya dari kebijakan NET itu sendiri. Meskipun pada tahun 2015 jumlah pemancar NET sudah bertambah pesat, keterlambatannya dalam menjangkau kota obyek survei Nielsen, ditambah pengembangan konten acara yang kurang membuatn masyarakat enggan untuk menonton layanan TV tersebut.

5. Kompetisi digital yang semakin kompleks

Salah satu yang membuat Net babak belur yaitu, segmen pasar yang mereka gunakan berbeda. Karena pada dasarnya, pesaing yang menghantam Net Tv adalah pesaing yang dating dari Smartphone dengan konten-konten yang sangat variative dan fleksibel dibawa kemana saja. Ambil lah contoh Youtube, Netflix, Iflix, Hooq, IG Stories, dll adalah disruptip yang menghancurkan potensi bisnis Net TV.

Gambar 9. Data sebaran keaktifak social media tahun 2019

Dalam hal ini, jika dilihat berdasarkan grafik bahwasanya pengguna social media di Indonesia masih didominasi oleh Youtube, Whatsapp, Facebook dan Instagram. Melihat fenomena ini, sudah banyak sekali fitur-fitur yang mereka tawarkan untuk membuat konten-konten yang pada dasarnya sesuai dengan keinginan Pelanggan. Terlebih lagi, para OTT ini memiliki para pengembang RnD Team dibidang Data Analytics, Artificial Intelligence, Machine Learning, sehingga mereka bisa mengetahui apa yang Pelanggan saya inginkan disbanding menyediakan konten yang tidak ada pasar atau pelanggannya. Sehingga, dalam hal ini digital players merupakan lawan yang terlalu tanguh untuk dikalahkan. Artinya, kita bisa menentukan target pasar, namun musti diingat bahwa pesaing bisa dating darimana saja, bukan hanya dating dari pesaing Tradisional atau pelaku bisnis yang sama, tetapi juga bisa datang dari arah yang tak terduga.

Belajar dari Gojek

Siapa yang tidak mengenal dengan salah satu Perusahaan Jasa Transportasi bernama Go-Jek ini? Yappp, Perusahaan ini merupakan suatu Perusahaan yang ebrgerak di bidang Jasa Transportasi yang ada di Jakarta dan sudah beroperasi sejak tahun 2011. Gojek ini merupakan sebuah pionir dalam penyediaan jasa layanan ojek professional. Layanan ini tumbuh besar dengan mengutamakan kecepatan, keamanan dan kenyamanan bagi pelangganya. Untuk mengurangi permasalahan uang tunai yang menjadi salah satu objek utama Start-Up ini berdiri yaitu dengan menawarkan solusi e-wallet Gojek credit. Dalam hal menarik konsumen, Go-Jek melakukan berbagai macam strategi marketing. Salah satunya dengan menentukan tarif. 

Kegiatan dalam penentuan tarif ini ternyata memainkan peran penting dalam proses bauran pemasaran. Penentuan harga juga memberikan persepsi tertentu dalam hal kualitas. Dalam hal ini Gojek menetapkan tarif yang sangat murah bagi pengguna jasa sehingga konsumen yang awalnya menggunakan Ojek biasa sebagai media transportasinya mulai beralih ke Go-Jek.

Tak hanya itu, strategi Go-Jek yang menyebabkan bisnis mereka tetap terus eksis adalah memastikan pertumbuhan serta kelanjuta bisnis. Dalam hal ini, gojek melakukan promosi menggunakan diskon. Namun, jika tetap terus mengandalkan cara seperti ini tentu Go-Jek susah sekali untuk keluar dari Zona Nyamannya yaitu strategi “bakar duit” sehingga, ke depannya mereka akan memberikan layanan dan fitur-fitur terbaik melalui aplikasi yang mereka deliver. Oleh karenanya, Go-Jek akan memfokuskan pada peningkatan pengalaman pengguna. Karena, layanan yang baik akan menjadi ujung tombak Gojek, ketika mereka memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan, maka pelanggan pun akan menjadi lebih loyal terhadapnya. Terlebih lagi, Go-Jek sudah memiliki ekosistem yang terintegrasi dengan super app nya baik untuk pengguna, mitra pengemudi dan penyedia layanan, dan untuk mitra penjual mengembangkan bisnis.

Go-Jek pada dasarnya merupakan suatu layanan yang mengandalkan Teknologi untuk memberikan solusi atas tantangan sehari-hari yang dihadapi masyarakat Indonesia. Dengan adanya tim RnD yang berfokus pada Customer Centric seperti penggunaan Data Analytics, Artificial Intelligence, Machine Learning, dan UI/UX memudahkan Go-Jek dalam menentukan target pasar serta Demand apa yang sedang dibutuhkan oleh Masyarakat saat itu. Gojek juga melakukan suatu benchmarking terhadap customer experience sebagai contoh agar bisnis Gojek sustain, GoFood menerapkan suatu system yang dikembangkan dengan Artificial Intelligence seperti memberikan rekomendasi makanan bagi pelangannya sehingga harapannya sesuai dengan target pelanggan yang mereka inginkan. Tak hanya itu, GoFood juga bekerja sama dengan para influencer wisata kuliner makanan untuk dapat mempromosikan makanan di GoFood. Maka tak heran, bahwa pada kuartal IV 2019 GoFood berhasil mencatatkan jumlah transaksi sebanyak 20 juta pelanggan.

Alhasil, dalam waktu 2 tahun, Gojek mencatatkan pertumbuhan Gross Transaction Value sebesar 13.5 kali lipat, yang jika dihitung mencapai US$ 9 juta dolar pada akhir tahun 2018. Pencapaian ini tak lepas dari brand impression, nilai, kualitas, kepuasan dan rekomendasi di sector on-demand termasuk transportasi dan jasa antar makanan.

Gambar 10. Valuasi Gojek sebagai Decacorn

Dengan adanya nilai pendapatan yang didapat oleh Go-Jek grafik tersebut memperlihatkan, di tahun 2019 Gojek sudah memiliki nilai valuasi sebesar US$ 10 miliar atau dalam kata lain menjadi Perusahaan Start-Up decacorn pertama di Indonesia. 

Ekspansi bisnis Internasional dan SuperApp nya

Gojek mengumumkan untuk melakukan ekspansi di beberapa Negara Asia Tenggara yaitu Thailand dan Vietnam, lantas strategi seperti apa yang Gojek tempuh dalam melakukan ekspansi Internasional ini? Berdasarkan data yang diperoleh Go-Jek bergandeng dengan mitra local. Menurut CEO Nadiem Makarim, keberadaan tim local diharapkan dapat menerjemahkan konsep yang sudah dijalankan Gojek dalam koneteks local. Oleh karena nya, Perusahaan melakukan bimbingan kepada mitra tersebut tentang apa saja yang telah dipelajari Gojek agar sukses dan yang tidak berhasil dijalankan di Indonesia. Sehingga, ketika Gojek melakukan ekspansi besar-besaran mereka tetap menggunakan nama yang hamper sama dengan Gojek seperti GET di Thailand dan Go-Viet di Vietnam. Mereka berpendapat bahwa Gojek nama yang sangat baik dan memiliki esensi merek yang baik pula. Tak hanya seputar strategi, ekspansi yang dilakukan oleh Perusahaan ini jatuh pada saat momen yang tepat, yaotu ketika Uber selaku pesaingnya mengumumkan penutupan bisnis nya di Asia Tenggara. 

Tak hanya ekspansi bisnis Internasional, Gojek rupanya juga melakukan improvement pada Aplikasinya, dengan menghadirkan beberapa fitur seperti GoFood, GoClean, GoPlay, GoGamers, GoRide, Gocar, Gosend, GoPulsa, GoPoints, dll. Hal ini menandakan bahwa GoJek sekali lagi benar-benar menjadi superApp karena hanya dengan satu genggaman HandPhone kita sebagai Customer bisa merasakan kebutuhan apa yang kita inginkan. Speerti Contoh ketika ingin pesan makanan yang notabennya saat ini di Era Milenial banyak sekali kaum muda yang malas untuk berpergian, mereka lebih condong menghabiskan waktu dengan smartphone nya. Dengan Fitur GoFood pelanggan dapat memesan makanan sesuai dengan yang diinginkan dan mendapat rekomendasi dari gojeknya. Dengan GoPlay, pelanggan dapat menonton film streaming yang sesuai dengan kriterianya. Dalam hal ini, GoJek benar-benar menargetkan Customer Oriented, dan melakukan improvement ketika mendapatkan Bad Experience dari pelanggannya.

Kemudian, Gojek juga bekerja sama dengan beberapa Perusahaan BUMN dan Swasta. Seperti metode pembayaran yang saat ini sudah support LinkAja. Hal ini menandakan bahwa meskipun LinkAja merupakan saingan dari GoPay, mereka melihat bahwa potensi dengan bekerja sama dengan salah satu fintech BUMN akan mendapatkan valuasi yang lebih besar, terlebih lagi memudahkan para pengguna untuk memilih metode pembayaran dengan LinkAja ketika memesan GoRide. Lalu, Gojek juga bekerja sama dengan Perusahaan Taksi terbesar di Indonesia yaitu Bluebird. Bahkan tanpa ragu, Gojek sudah membeli saham Bluebird senilai 4.3%. ketika suatu Perusahaan dapat menjalankan strategi pemesanan dan pembayaran lewat banyak saluran hal ini akan memperkuat posisi Perusahaan tersebut. Hal ini dilakukan Gojek untuk mendorong efesiensi operasional, seperti contoh Gojek mengincar segmen generasi muda dan Bluebird menggaet kelas menengah ke atas, maka dengan adanya kolaborasi kedua Perusahaan ini akan semakin memperkuat pasar dan meningkatkan penetrasi pasar, terlebih lagi dengan adanya perkembangan Teknologi saat ini seperti Big Data dan Internet of Things yang dapat mengumpulkan banyak data dan membantu mereka menjadi lebih efisien.

Berikut adalah hasil Analisa berdasarkan beberapa Chapter yang telah ditempuh selama masa Perkuliahan Business Management.

  • Business Ethics and Social Responsibility (FHF Ch.2) 

Dalam berbisnis, tak lupa juga kita harus mengutamakan etika dalam membuat suatu usaha. Karena dnegan kita ber-etika, kita dapat mengetahui basic dan standarisasi dalam melakukan suatu bisnis yang bisa diterima oleh masyarakat berdasarkan Organisasi, Regulatory, Kompetitor, dll.

Gambar 11. Alasan Gojek memberhentikan drivernya

Seperti Contoh perusahaan Go-Jek, Perusahaan jenis transportasi ini memiliki etika bisnis yang cukup buruk bagi driver nya namun baik untuk keberlangsungan bisnis. Seperti kita ketahui, bahwasanya Go-Jek dengan adanya aplikasi ride-sharing, mereka berkesempatan untuk dapat memberikan rating kepada Driver yang menurut mereka layak untuk mendapatkannya. Baik Go-Jek maupun Uber sama-sama menerapkan hal ini, ketika Driver tersebut mendapatkan nilai rata-rata rating < 3 maka secara otomatis, Go-Jek akan menonaktifkan akun driver tersebut. Nampaknya, jika dilihat dari sisi kemanusiaan, hal ini tidak manusiawi mengingat seseorang butuh sekali yang Namanya penghasilan. Namun, di sisi lain dengan adanya kondisi seperti ini, Go-Jek akan tetap terus tumbuh. Mengapa? Karena Go-jek melakukan hal yg benar yaitu mengutamakan kondisi Pelanggan. Pada dasarnya, ketika bisnis ingin sustain, maka harus Customer Oriented yang artinya apapun kondisinya, Pelanggan is a King.Berbeda dengan Net TV, ketika kita berbicara mengenai etika bisnis dalam dunia pertelevisian tak luput kita pasti akan bertemu dengan yang namanya rating, share dan tidak melanggar UU Penyiaran. Karena dengan adanya konsep seperti itu, maka jumlah pengiklan akan menjadi banyak dan program hiburan akan dipertahankan bahkan jika perlu siaran live. Kita ambil contoh kasus program Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB) yang dibawakan oleh Cak Lontong. Acara ini pada dasarnya bertema tentang teka-teki dalam bentuk kuis yang jawabannya tidak masuk akal sehingga, banyak penonton yang geleng-geleng dengan jawaban yg diutarakan oleh Pembawa Acara. Net TV memiliki visi yang kuat bahwa ia ingin memberikan layanan berkualitas di Indonesia dengan memberikan sesuatu yang berbeda. Kekonsistensian Net TV dapat dilihat bahwa rating adalah urusan belakang, yang terpenting adalah kualitas programnya. Dengan menyajikan tontonan yang sehat, itu merupakan salah satu nilai jualnya. Jadi, dengan menonton NET TV, penonton akan terhibur dan orang tua tidak perlu khawatir bila anaknya akan disuguhi tontonan yang tidak layak. Sepertinya, harapan seperti itu berbanding terbalik dengan realita yang dialami oleh acara WIB. Ternyata, dalam acara tersebut terdapat sedikit pelanggaran yang membawa fisik dalam candaan para pembawa acara maupun Bintang tamu. Sehingga, banyak penonton yang merasa tersindir atas adanya pembicaraan tersebut. Sekali lagi, Net TV lebih mengutamakan kualitas daripada rating, ketika mereka anggap kualitas ini sangat baik mereka seakan-akan mengabaikan rating yang telah Pelanggan berikan untuknya. Alhasil dengan kondisi seperti itu banyak penonton yang memberikan rating rendah untuk acara ini. Selain ketidak etisan dalam membawakan acara, Net TV dianggap juga kurang melakukan improvement terhadap acara ini yang terlihat seperti monoton.

Gambar 12. Beberapa acara NET TV berhenti tayang

Sesuai dengan tagline, bahwa banyak sekali acara unggulan Net yang berhenti tayang. Sebagai informasi, acara-acara tersebut berhenti tayang dikarenakan banyak mendapatkan rating rendah. Sehingga, tak heran bahwa banyak sekali acara-acara kartun di pagi hari dan sore hari menghiasi Net TV. Alas an utamanya adalah untuk mendapatkan zero-cost

Pesan moralnya adalah sebisa mungkin utamakan Pelanggan, karena saat ini bukan Perusahaan yang besar yang akan mengalahkan yang kecil. Melainkan, Perusahaan yang cepat lah yang akan mengalahkan si lambat. Kecepatan dalam hal ini adalah cepat beradaptasi di lingkungan Digital seperti ini, yang mampu meng-grab pelanggannya dan selalu berinovasi di dalamnya.

  • Managing Service and Manufacturing Operations (FHF Ch. 8)

Planning Product 

Sebagai Operations Planner dalam merencanakan sebuah produk, harus memmpertimbangkan poin-poin di bawah ini:

  • What will we produce?
  • Who are our customers?
  • Where will we make our products? Basicly, Marketing will help to determine the product and features customers want

Net TV

Ketika berbicara mengenai Planning Product, maka sudah seharusnya seorang operations planner melakukan benchmarking mengenai produk apa yang akan benar-benar mereka hasilkan. Dalam hal ini, Net TV merupakan sebuah stasiun TV yang memproduksi layanan Televisi berupa konten-konten yang sesuai dengan target yang mereka tentukan. Target yang ditujukan oleh Net TV sebenernya adalah para generasi muda (milenial) dengan harapan mampu mendapatkan market share yang lebih berdasarkan konten-konten yang ia ciptakan. Di sisi lain, nampaknya Net Tv tidak menyadari bahwasanya target yang telah ia tentukan pasarnya sudah banyak direbut oleh beberapa pemain besar OTT seperti Instagram, Youtube, Netflix, Iflix, bahkan TikTok. Disini dapat diketahui bahwa jika kita ingin membuat produk, kita harus mengetahui pasar dan competitor yang akan kita lawan. Di era revolusi industry 4.0 saat ini, banyak sekali generasi muda yang sudah beralih dari stasiun TV ke social media. Terlebih lagi dengan adanya perkembangan teknologi smartphone, membuat para generasi muda dengan mudahnya menonton layanan streaming seperti Netflix, Iflix, dll. Jika dilihat trend saat ini, layanan TV yang sifatnya linear akan kalah dengan layanan media streaming dan UGC (User Generated Content). Seperti kita ketahui saat ini sudah banyak pemain OTT yang menawarkan layanan streaming (Netflix, Iflix, dll) dan UGC (TikTok, Youtube, IG Stories). Sehingga, akan sangat sulit sekali Net TV untuk mengambil pasar generasi muda yang sepenuhnya sudah diambil oleh pemain besar OTT.

GO-JEK

Jika Net TV bisa dibilang kurang cermat dalam membidik target pasar, lain hal nya dengan Perusahaan Transportasi ini, target pasar untuk Go-Jek sebenernya cukup luas dan tidak jauh berbeda dnegan Net TV seperti generasi muda, seseorang professional, sampai generasi menengah ke bawah. Lalu, yang membedakan dengan Net TV adalah, Go-Jek memfokuskan pada pelanggan (Customer Oriented) sehingga lebih peka terhadap kebutuhan pasar dan notabennya jika dilihat pasarnya di Indonesia transportasi yang cepat, mudah, fleksibel dan dengan harga terjangkau belum teraplikasikan. Sehingga, dengan mudah Go-Jek meraup pelanggan-pelanggan nya. Terlebih lagi masyarakat Indonesia yang masih ketergantungan dengan ojek tradisional atau transportasi umum yang cukup memakan waktu, maka dengan hadirnya Go-Jek hal tersebut dapat diminimalisir dengan adanya Super App yang berstandar Industri High Tech yang telah mereka kembangkan. Seperti kita ketahui bahwa masyarakat Indonesia menginginkan ojek, ia tanpa harus mendatangkan atau mencari pangkalan-pangkalan ojek yang tersedia melainkan Go-Jek lah yang akan menghampiri pelanggan tersebut. Tak hanya mengandalkan bisnis antar-jemput, tim RnD Go-Jek terlihat sudah benar-benar mengetahui demand dan analytics dari pelanggan-pelanggan Indonesia. Alhasil, Go-Jek mengembangkan bisnis Go-Food, Go-Massage, Go-send, dll. Hal ini menandakan bahwa tim Marketing Gojek sudah paham betul karakteristik dari masyarakat Indonesia yang hanya ingin simple, cepat dan fleksibel.

Pesan Moral nya adalah sebagai seorang Operations Planning, kita harus mengetahui demand customer,target pasar, serta adaptif dalam berinovasi supaya produk yang kita kembangkan sesuai dengan ekspektasi dan menghasilkan value besar bagi pelanggan.

  • Customer-Driver Marketing (FHF Ch.11)

Creating Value With Marketing

Pada dasarnya Value merupakan sebuah nilai subjektif dari pelanggan terhadap manfaat-manfaat yang didapat terhadap biaya yang dikeluarkan in terms of kelayakan dari produk tersebut.

Dengan rumus 

Berdasarkan persamaan di atas, baik Gojek maupun Net TV masing-masing mendapatkan Customer Value dengan nilai bervariasi. Jika melihat dari sisi Gojek, maka manfaat yang akan didapatkan pelanggan adalah kecepatan sampai area tujuan, kemudahan dalam memesan jasa transportasi, dan tingkat fleksibilitas memesan. Sedangkan, biaya yang harus dikeluarkan oleh pelanggan dengan adanya manfaat yang didapatkan tersebut masih terbilang masuk akal karena Gojek menetapkan harga yang cukup rendah disbanding jasa transportasi online maupun ojek tradisional lainnya. Maka, nilai yang didapat akan bernilai Positif. Sedangkan, jika melihat dari sisi Net TV, yang didapatkan oleh pelanggan yaitu, kejernihan serta kualitas gambar dalam layanan Televisi tersebut, akan tetapi konten yang didapatkan tidak sesuai dengan ekspektasi dari pelanggan yang artinya Net TV doesn’t meet the Customer Demands.” Karena jika dilihat trend sekarang pelanggan lebih cenderung menggunakan media social serta layanan streaming lainnya daripada layanan TV linear. Akan tetapi, biaya yang dikeluarkan oleh pelanggan untuk menonton layanan Net TV bisa dibilang gratis. Maka, Value atau nilai yang didapat dari Pelanggan cenderung bernilai negative. Karena Net TV tidak mampu menyasar ke trend golongan muda saat ini. 

Sebagai seorang Marketing, harus memiliki strategy yang kompeten yang mampu menembus target pasar dan sesuai dengan kebutuhan pelangganGambar 13. Bagan Marketing Strategy

Jika mengacu pada bagan di atas, 2 komponen terbesar yaitu :

  1. Memilih target pasar
  2. Mengembangkan system pemasaran yang tepatGambar 14. Gojek kolaborasi dengan Bluebird

B2B and B2C Markets

Jika berbicara mengenai poin B2B dan B2C nampaknya Perusahaan Go-Jek telah melakukan nya terlebih dahulu, dapat diperlihatkan dengan adanya kerja sama dengan beberapa Perusahaan seperti Bluebird dan Telkomsel. Kerja sama tersebut diperuntukkan agar memudahkan seorang Pelanggan dalam memilih jenis pembayaran yang ingin digunakan serta memudahkan pelanggan jika ingin memesan layanan blue-bird cukup melalui aplikasi Go-Jek. Sehingga, hal tersebut akan berpotensi menjadi Raja dalam menguasai pasarnya.

                                                 Gambar 15. NET TV bekerja sama dengan MOLA TV

Begitupun untuk Net TV, mereka telah melakukan kerja sama dengan layanan streaming Mola TV dalam menayangkan Final Carabao Cup 2020. Hal ini jelas akan memberikan dampak positif terhadap Net TV sebab, traffic mereka akan meningkat dengan adanya pertandingan bola. Terlebih lagi ini adalah pertama kalinya Net TV menayangkan pertandingan bola luar negeri. Namun, alangkah lebih baiknya jika Net TV melakukan kerja sama dengan layanan streaming lainnya seperti Netflix, Iflix atau layanan streaming lainnya agar mampu mendapatkan pasar yang mereka butuhkan dan sesuai dengan segmentasi pelanggan nya.Secara garis besar baik Net TV maupun Go-Jek sudah menerapkan kerjasama dengan beberapa Perusahaan guna memperbesar peluang merkea dalam menguasai pasar baik Transportasi maupun layanan Televisi.

Saran untuk Net TV

Jika Net TV ingin tetap terus eksis dan diminati pelanggan, khususnya generasi muda (milenial) maka Net TV dapat melakukan hal ini sebagai baseline atau benchmarking terhadap layanan TV lainnya seperti :

1. Melakukan kerja sama atau akuisisi dengan beberapa pemain besar OTT seperti Netflix, Iflix, Mola TV, dll

NET dapat mengadopsi atau melakukan akuisisi terhadap startup-startup dan pemain besar OTT agar mampu merebut pasarnya kembali serta melahirkan konten-konten yang fresh dalam jumlah banyak di dunia digital seperti ini. Seperti diketahui saat ini, pasar yang hendak ditargetkan oleh Net TV sudah habis diambil oleh layanan besar OTT seperti Youtube, Instagram, Netflix, dll. Sehingga, dengan adanya konten-konten yang terupdate maka akan memunculkan core bisnis baru bagi NET di masa yang akan datang. Karena di era seperti ini saingan NET TV tidak hanya berupa televisi saja melainkan beberapa pemain besar OTT. Dan yang pasti ketika ingin menghadirkan konten-konten yang fresh maka dibutuhkan konten creator yang handal yang mampu memprouksi tayangan audiovisual yang sesuai dnegan kebutuhan NET.

2. Mengubah bisnis model. 

Dengan memperkuat social media, Net TV bisa melakukan mobilisasi tayangan-tayangan khas Youtube agar viral karena iklan didapat dari besarnya jumlah Viewers. Perbanyak tim RnD dibidang Big Data dan Artificial Intelligence guna mendapatkan/men-grab Customer yang diinginkan yang pastinya konten yang ditampilkan sesuai dengan kebutuhan pelanggan. 

3. Net TV menyediakan satu slot free to air & platform digital untuk program-program Pilot.

Dengan cara seperti itu Net dapat mengukur tingkat ketertarikan pemirsa atau pelanggan terhadap program-program baru NET yang belum ditayangkan secara regular. Alhasil, dari tingkat kegagalan tersebut, mampu membuat program baru berdasarkan saran-saran dan rating yang telah diberikan oleh pemirsa kepada NET. Indicator ketertarikan tersebut bisa dilakukan dengan cara survey independent dengan Lembaga yang kredibel, atau melakukan poling di media social serta platform NET TV. Sehingga, hal ini akan memudahkan para marketing atau pengiklan untuk menetukan strategi sedini mungkin apakah produk mereka akan dijual atau tidak. Untuk program Pilot tersebut bisa dilakukan on top of Channel Youtube NET atau media platform NET lainnya yang pastinya sudah familiar dan mudah dijangkau oleh pemirsa.

Berikut merupakan contoh Best Practices dari salah satu stasiun TV yang bertrasnformasi diera disrupsi digital saat ini :

https://youtu.be/Cl1q0DkRvF0

-KurniantoJoy-

Referensi : 

Ferrell, O.C, Hirt, G. dan Ferrel, L. (2020). Business: A Changing World. 12th Edition, McGraw-Hill, New York.

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4660063/belajar-dari-net-tv-juragan-stasiun-televisi-perlu-waspadai-ini

https://kabar24.bisnis.com/read/20190814/15/1136270/rhenald-kasali-beberkan-penyebab-net-tv-bakal-phk-massal-karyawannya

https://www.kompasiana.com/gigih98582/5d4d2cc70d8230018b6e7bf3/benarkah-net-tv-bangkrut

https://current.org/2017/02/beyond-broadcast-strategies-key-to-survival-of-local-public-tv-stations/

https://www.strategy-business.com/article/Transforming-TV-by-going-back-to-the-future?gko=49461

https://www.liputan6.com/tekno/read/4101521/4-strategi-jangka-panjang-gojek

https://asia.nikkei.com/Opinion/Grab-and-Gojek-must-show-flexibility-to-survive



Like it? Share with your friends!

7
7 points

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win
KurniantoJoy

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format