Pokemon : Tetap Dapat Keuntungan Meski Salah Sasaran

Meskipun awalnya ditujukan untuk anak-anak, saat ini fanbase Pokemon didominasi oleh orang dewasa. Apa yang dilakukan Nintendo dan mengapa itu bisa terjadi?


0

Pada era ini, di mana metode pemasaran berupa customer driven marketing mulai banyak digunakan oleh perusahaan, banyak sekali market researcher yang mengulik habis tentang pasar yang dapat mereka layani dan penuhi kebutuhannya sebelum menciptakan sebuah produk. Hal ini dilakukan karena kemampuan dan sumber daya yang mereka miliki terbatas. Mereka tidak mampu memuaskan seluruh permintaan pasar, sehingga mereka harus mengelompokkan konsumen menjadi segmen-segmen tertentu. Lalu, memilih kelompok mana yang akan mereka layani.

Tujuan dari pengelompokan ini adalah agar sebuah produk dapat memuaskan konsumen dan menciptakan sebuah value, di mana hal ini secara masif akan mendatangkan profit bagi perusahaan. Market segmentation dan market targeting menjadi sangat penting untuk dilakukan seorang market researcher. Hal ini untuk mencegah gagalnya suatu produk dalam persaingan di pasar. Juga untuk mencegah produk tersebut salah sasaran yang dapat berakibat pada profit yang tidak optimal.

Namun, keadaan dalam suatu pasar tidak selalu sama seperti dengan teorinya. Faktanya, hal-hal yang terjadi di pasar tidak selalu seperti pada textbook. Banyak variabel-variabel lain yang muncul diluar kuasa perusahaan dan bahkan tidak bisa dikontrol. Salah satunya adalah unintended customers atau pelanggan yang tidak diinginkan. Bukan berarti perusahaan ingin mengenyahkan customer ini, namun sekelompok customer ini tidak termasuk dalam target pasar perusahaan. 

Photo by Kamil S on Unsplash

Salah satu produk yang memiliki banyak unintended customers ini yaitu Pokemon atau Pocket Monsters. Pokemon adalah sebuah franchise Jepang ciptaan The Pokemon Company, yang dimiliki oleh Nintendo, Game Freak, dan Creatures. Pokemon di tahun 1996 pada mulanya adalah sebuah seri video game. Seiring dengan berkembangnya pasar Pokemon, franchise inipun merilis versi animenya. Namun bukan berarti Pokemon versi video game hilang dari pasar. 

Video Game Pokemon ini tadinya diperuntukkan kepada anak-anak. Hal itu pun sepertinya sudah terlihat bahkan dari desain karakter-karakter Pokemon, dan huruf hiragana serta katakana di dalam gamenya saja. Namun pada kenyataannya, banyak sekali orang dewasa yang turut memainkan dan menyukai game Pokemon. Bahkan orang-orang dewasa ini mengadakan world tournament untuk game pokemon dan otomatis turut mendatangkan profit bagi perusahaan.

Di sisi lain, kami membandingkan Game Pokemon dengan permainan lain yang juga merupakan permainan strategi, namun menargetkan segmen dewasa dan berhasil mendapatkan konsumen sesuai target segmentasi yang dirumuskannya. Game yang kami maksud adalah Defense of the Ancients 2 atau biasa disingkat Dota 2 yang dirilis Valve Corporation pada tahun 2013 sebagai sekuel seri sebelumnya.

Dota 2 merupakan permainan komputer multiplayer yang dimainkan secara online dengan kompleksitas strategi yang tinggi. Sehingga bisa kita simpulkan bahwa Dota 2 adalah kebalikan Pokemon dimana hanya bisa dimainkan melalui konsol secara single-player dan offline dengan kompleksitas strategi yang rendah. Pada kenyataannya memang segmen pasar Dota 2, yakni pemain dewasa, juga merupakan kebalikan dari segmen pasar Pokemon, yakni pemain anak-anak. Namun dapat kita lihat saat ini, pemain Pokemon dan pemain Dota 2 sama sama didominasi oleh pemain dewasa.

Mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Analisis Segmentasi dan Penargetan Pasar

Pokemon

Seri game Pokemon adalah permainan eksklusif konsol nintendo sejak rilisnya generasi pertama pada konsol Game Boy, yang kemudian dilanjutkan generasi kedua pada Game Boy Color, generasi ketiga pada Game Boy Advance, generasi keempat dan kelima pada Nintendo DS, generasi keenam dan ketujuh pada Nintendo 3DS, hingga generasi kedelapan atau generasi terbaru yang kini juga hanya dirilis pada konsol Nintendo Switch.

Pada awal masa pemasarannya game ini belum terlalu populer karena memang konsol Game Boy sendiri memiliki pengguna yang lebih sedikit dibanding penerusnya. Pada puncak popularitasnya sekitar generasi keempat pada konsol Nintendo DS, game pokemon berhasil mendapatkan segmen pasar permainan anak di usia TK dan SD.

Selanjutnya, seiring berjalannya waktu, Pokemon gagal menarik minat konsumen baru dan justru lebih banyak memiliki konsumen lama yang sudah bertambah tua, dimana sebenarnya mereka bukan target pasar utama Pokemon. Namun tentu saja tidak semua konsumen lama Pokemon setia memainkan game ini mengingat berbagai aspek permainan yang sebenarnya sudah kurang cocok dengan usia mereka.

siliconera.com

siliconera.com

siliconera.com

Fenomena ini dapat kita amati dengan jelas melalui data pemain tiga seri pokemon di atas. Game Pokemon di atas merupakan generasi keempat dan kelima yang dirilis pada 2006-2013. Hanya dalam jangka waktu 7 tahun, kita dapat melihat menurunnya pemain pada jenjang TK dan SD dan justru meningkat tajamnya pemain diatas usia SMP yang sangat terlihat pada jenjang usia 19-24 tahun. Masa ini merupakan masa transisi konsumen Pokemon yang awalnya didominasi pemain anak-anak menuju dominasi konsumen dewasa.

Jika kita lihat secara demografis dalam hal gender lelaki dan perempuan, sama seperti kebanyakan game lainnya, gender lelaki lebih memiliki minat terhadap Game Pokemon. Tetapi dalam segi usia, saat ini Game Pokemon justru didominasi oleh masyarakat yang berusia 20-30 tahun, yang masih bermain permainan ini dikarenakan aspek nostalgia. padahal sebenarnya game ini ditujukan untuk anak-anak yang kurang lebih usianya dibawah 15 tahun terbukti melalui berbagai aspek permainan seperti tema yang dibahas, cara bermain, hingga visual kartun yang didesain dekat dengan anak-anak.

Dota 2

Game Dota 2 membidik segmen pasar dewasa yang menyukai strategi real time kompleks dengan sistem bermain online masif yang biasa disebut Multiplayer Online Battle Arena (MOBA). Permainan berbasis MOBA ini menarik banyak 

gamehubs.com

Melalui data diatas, kita dapat menyimpulkan Dota 2 cukup sukses di kalangan masyarakat yang membuat game ini melejit yang menjadi salah satu dari 8 game online pc dengan pengguna terbanyak pada tahun 2014 menurut gamehubs.com dan hanya memiliki sedikit selisih dengan posisi nomor satu, dan meskipun waktu sudah berlalu, Dota 2 tetap diminati banyak pemain karena basis permainan MOBA yang memungkinkan pengalaman bermain yang tidak tertinggal zaman karena interaksi antar pemain didukung pembaharuan serta penyesuaian keseimbangan permainan yang masih cukup sering dilakukan hingga saat ini. Dengan mekanisme permainan, fitur, karakter, komunitas, dan turnamen besar seperti The International (TI) membuat Dota 2 mampu bersaing dan bisa diterima di segmen pasar sesuai dengan target yang perusahaan tentukan.

Namun tentu saja seperti produk apapun di pasar yang memiliki siklus hidup terbatas, Dota 2 sudah mengalami penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan puncak popularitasnya pada 2015-2016. Berikut dapat kita amati data pemain rata rata pada Bulan Januari sejak rilisnya Dota 2 hingga tahun 2020. Melalui data tersebut dapat kita lihat bahwa Dota 2 sudah mulai menuruni kurva popularitasnya.

vpesports.com

Analisis Diferensiasi dan Posisi Produk

Meskipun sama-sama bisa dikategorikan ke dalam game dengan genre strategi, Pokemon dan Dota 2 menggunakan sub-genre dan daya tarik utama yang berbeda karena memang menarget segmen pasar yang berbeda pula. Dalam merumuskannya, kami membandingkan kedua game tersebut dengan beberapa game strategi lain ke dalam positioning maps, sebuah peta yang dapat membandingkan beberapa produk yang cukup sejenis berdasarkan atribut yang dimilikinya. Berikut adalah Positioning Maps yang kami rumuskan dalam membandingkan kedua game tersebut bersama dengan beberapa game lain yang serupa.

Kami menggunakan 2 variabel dalam merumuskan positioning maps ini. Yang pertama adalah kompleksitas strategi yang dibutuhkan dalam memainkan permainan yang kami bandingkan. Kompleksitas strategi ini tidak berarti menjadi satu satunya penentu sulit atau tidaknya suatu permainan, karena ada aspek lain seperti bagaimana akurasi pemain untuk mengenali kondisi pertarungan atau kecepatan pemain dalam mengambil keputusan yang sebenarnya merupakan skillset diluar strategi itu sendiri, namun sangat menentukan jalannya permainan.

Secara umum, terdapat dua tipe permainan strategi. Kedua tipe itu adalah Turn-Based Strategy (TBS) seperti Pokemon dan Real-Time Strategy (RTS) seperti Dota 2. Permainan TBS adalah permainan strategi yang menggunakan sistem waktu giliran untuk mengambil keputusan langkah apa yang dilakukan oleh karakter pemain, bisa disamakan dengan permainan catur. Sedangkan pada permainan RTS, waktu terus berjalan tanpa henti dan para pemain harus terus bergerak dan mengambil keputusan pada pertarungan tanpa dibatasi giliran, sehingga bisa disamakan dengan perang sesungguhnya, dimana musuh tidak akan menunggu kita berfikir.

RTS tidak hanya relatif lebih sulit karena membutuhkan skillset yang dilatih, tapi memang secara kompleksitas strategi cenderung lebih kompleks. Hal ini dikarenakan kombinasi dimensi waktu yang lebih luas menimbulkan kemungkinan strategi yang lebih banyak. Pada RTS, keputusan yang sama akan menimbulkan hasil yang berbeda dengan timing yang berbeda meskipun hanya berbeda 1 detik. Namun bukan berarti RTS selalu lebih kompleks daripada TBS secara strategi.

Variabel kedua yang kami bandingkan adalah orientasi produk. Orientasi produk yang kami maksud disini sama sekali bukanlah seberapa sulit suatu permainan berdasarkan mekanismenya, melainkan target produk itu sendiri. Hal ini akan tercermin dari banyak komponen permainan yang terintegrasi seperti tema cerita permainan, audio pendamping, visual keseluruhan, hingga karakter dalam permainan. Semua komponen tersebut akan mencerminkan target pasar yang dituju suatu permainan berdasarkan asosiasi yang ada pada masyarakat saat ini.

Pokemon

pokecommunity.com

Sebenarnya permainan Pokemon lebih mengunggulkan aspek Role-Playing Game (RPG) jika dibandingkan dengan aspek strateginya, sama seperti Digimon World, serial Persona, dan serial Final Fantasy, Itulah sebabnya keempat game ini hanya mengimplementasikan pertarungan dengan strategi yang sederhana. 

Melalui aspek RPG dalam Pokemon, permainan ini dapat jelas terlihat bahwa orientasinya lebih kepada pemain anak-anak. Karakter tokoh utamanya di semua seri Pokemon selalu anak-anak. Cerita yang diusung juga banyak membahas persahabatan dan kepedulian terhadap pokemon yang akan terlalu naif untuk dinikmati orang dewasa. Dalam petualangan karakter utama menjadi pelatih pokemon terkuat pun tidak ada kekerasan berlebihan maupun unsur dewasa yang meresap kedalam ceritanya. Aspek RPG dalam Pokemon juga sangat tercermin pada kompetitor ketatnya, Digimon World.

Berbeda halnya dengan serial Persona dan Final Fantasy yang sangat memperhatikan konten ceritanya, seakan akan pemain game ini sedang menjelajahi film yang dirancang keunggulan cerita. Kedua permainan ini hanya menggunakan pertarungan dengan strategi untuk mengantarkan cerita. Meski begitu, tetap banyak pemain yang menyukai kedua game ini karena mekanisme permainannya, bukan ceritanya. Sama seperti kebanyakan pemain dewasa Pokemon, mereka masih setia dengan serial Pokemon karena mekanisme permainannya dan cenderung kurang tertarik dengan cerita yang memang tidak sesuai dengan jenjang usia mereka.

Nintendo juga menyadari adanya peningkatan persentase konsumen berusia diluar target utamanya dengan ketertarikan mereka terhadap mekanisme permainan Pokemon. Maka seiring berjalannya waktu, Nintendo selalu berusaha memperdalam aspek strategi dalam pokemon dengan mengimplementasikan fitur-fitur baru ke dalam Pokemon. Meskipun banyak fitur yang terkesan gimmick dan kemudian kurang diminati seperti Mega Evolutions, Z-Moves, dan Gigantamax Form, ada juga fitur yang berhasil diterima dengan baik.

Fitur lain yang bersifat menarik bagi pemain dewasa maupun anak anak adalah penerapan Individual Values, Effort Values, dan Nature yang kemudian menentukan seberapa kuat monster yang dimiliki pemain Pokemon. Fitur ini memungkinkan 100 monster yang sama dengan level yang sama memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Para pemain kompetitif di turnamen tentu saja harus memaksimalkannya untuk mendapatkan keunggulan.

Dota 2

moddota.com

Dota 2 kami kategorikan ke dalam permainan dengan kompleksitas strategi yang sangat tinggi karena memang merupakan permainan yang sulit untuk dipelajari bagi pemula. Dibandingkan dengan kompetitor ketatnya, League of Legends (LoL), banyak pemain juga menyetujui bahwa Dota 2 masih memiliki kompleksitas yang tinggi.

Basis karakter hero pada Dota 2 adalah counter-mechanic, seperti batu gunting kertas, seberapapun kuat seorang hero, pasti memiliki lawan yang dapat mengalahkannya sepenuhnya. Hero dalam Dota 2 juga dapat menggunakan peralatan khusus dan memiliki kemampuan aktif dengan kompatibilitas yang berbeda beda. Karena itu, pemain Dota 2 harus benar benar memahami seluruh hero yang ada dengan baik serta strategi dalam menggunakannya. Peta Dota 2 juga memiliki banyak tipe bangunan yang harus dimaksimalkan pemain dengan baik. Dota 2 mengharuskan pemainnya untuk berkoperasi tingkat tinggi dalam menjalankan strategi karena batasan yang bisa dilakukan seorang pemain akan menghambatnya memenangkan permainan melawan musuh yang kompatibilitasnya buruk, kombinasi hero musuh yang kuat, dan sebagainya.

Selain LoL, Dota 2 juga memiliki game dengan mekanisme MOBA serupa, yakni Mobile Legends dan Arena of Valor. Meskipun mekanismenya serupa, namun karena Mobile Legends dan Arena of Valor merupakan game smartphone, strategi yang dibutuhkan kedua game ini jauh lebih sederhana jika dibandingkan dengan LoL dan Dota 2 yang merupakan game komputer desktop atau laptop. Karena merupakan game smartphone yang notabene aksesnya lebih mudah, kedua game ini juga lebih banyak dimainkan oleh anak-anak sehingga memiliki segmen pasar yang berbeda pula.

Dota 2 memiliki tema dalam yang lebih ditargetkan kepada pemain dewasa. Hal ini tercermin dalam latar belakang cerita Dota 2 yang lebih gelap dan kurang cocok dengan anak-anak. Namun jika membandingkan soal latar belakang cerita permainan, Dota 2 kurang memiliki orientasi dewasa jika dibandingkan dengan serial Final Fantasy yang memiliki cerita yang jauh lebih kompleks sehingga sulit dipahami anak anak.



Kesimpulan

Pokemon telah menjadi sebuah produk yang memiliki nama dan image yang besar. Penggemar Pokemon pun jumlahnya masif dan tidak hanya terdiri dari anak-anak.

Memang sejak awal, target pasar Pokemon adalah anak-anak. Perusahaan penciptanya pun sudah melakukan hal yang tepat, sesuai, dan relevan dengan target pasar pada produk mereka. Para unintended customers yang datang dan menggemari Pokemon merupakan variabel tak terduga. Variabel seperti ini tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan, namun perusahaan dapat mengendalikan apa yang akan mereka lakukan pada produk mereka yang sudah terlanjur dipasarkan, agar sesuai dengan market segmentation dan target pasar mereka. Bila perusahaan menginginkannya, mereka dapat menggunakan metode repositioning untuk membuat produk mereka dikonsumsi oleh target pasar yang sesuai. Selain itu, metode “let 100 flowers bloom” seperti yang dilakukan oleh Guy Kawasaki juga dapat dilakukan sebagai alternatif. Perusahaan tinggal mengidentifikasi mana yang lebih menguntungkan bagi perusahaan.

Berdasarkan analisis di atas, metode let 100 flowers bloom lebih tepat untuk dilakukan oleh perusahaan produsen Pokemon. Meski banyak unintended customers pada produk mereka, hal itu justru mendatangkan profit bagi perusahaan. Terutama dari kalangan para orang dewasa yang turut memainkan games Pokemon. Adanya unintended customers ini juga tidak berbahaya dan merugikan bagi perusahaan maupun bagi target pasar Pokemon yang asli.

Justru dengan adanya unintended customers ini, Pokemon menjadi sangat melekat pada masyarakat sebagai karakter yang universal, tidak lekat pada suatu label dan stigma tertentu seperti umur dan gender. Konsumen Pokemon pun menjadi beragam. Oleh karena hal inilah pasar Pokemon menjadi semakin berkembang dan meluas. Eksistensi Pokemon yang semakin besar selaras dengan aliran profitnya untuk perusahaan. Dengan keadaan seperti ini, rasanya Pokemon tetap akan profitable bagi perusahaannya.

Pada awalnya, perusahaan pun mungkin tidak menduga adanya potensi besar di balik produk mereka. Potensi itu ternyata jauh lebih besar dari yang mereka rencanakan. Sehingga perusahaan hanya harus membiarkan pasar pokemon tetap seperti saat ini, tanpa memaksa Pokemon untuk masuk ke pasar yang lebih sempit seperti rencana awal. Itulah esensi dari “let 100 flowers bloom”.

“You may be surprised how people use your product.”
–Guy Kawasaki

Penulis:

Sandika Sasmito

Muhammad Rizqi Maulana

Salsabila Inaya Wibowo


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Confused Confused
0
Confused
Sad Sad
0
Sad
Fun Fun
0
Fun
Genius Genius
0
Genius
Love Love
0
Love
OMG OMG
0
OMG
Win Win
0
Win

0 Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format